Khamis, Julai 13, 2017

Panduan Wudhuk

Rukun rukun wudhu ada 6 : 1. Niat نَوَيْتُ الْوُضُوْءَلِرَفْعِ الْحَدَثِ الْاَصْغَرِفَرْضًالِلّٰهِ تَعَالٰى Niat adalah bertujuan sesuatu yang bersamaan dengan pekerjaannya dan tempatnya dihati dan melafadkannya sunnah. dan waktunya niat didalam melaksanakan wudhu yaitu ketika membasuh bagian pertama dari wajah. adapun bacaan niatnya seperti lafadz diatas. 2. Membasuh Muka Adapun membasuh muka didalam wudhu batas batasnya adalah secara vertikal dari tempat tumbuhnya rambut secara normal sampai ke dagu. dan secara horizontal dari telinga ke telinga. 3. Membasuh Kedua tangan Batasnya yaitu dari ujung jari hingga ke siku lebih sedikit. lebih baiknya lebih 4 atau 5 jari diatas siku. 4. Membasuh sebagian kepala Yaitu membasuh sebagian dari pada area kepala atau rambut. 5. Membasuh kedua kaki Batasnya yaitu dari jari jari kaki hingga kedua mata kaki lebih sedikit, untuk lebih baiknya hingga ke betis. 6. Tertib Yaitu tidak mendahulukan bagian satu dengan bagian yang lain atau sesuai urutan fardhu wudhu diatas.

Source: http://www.fiqihmuslim.com/2014/09/rukun-wudhu.html
Rukun rukun wudhuk ada 6 :

1. Niat

Niat adalah bertujuan sesuatu yang bersamaan dengan pekerjaannya dan tempatnya dihati dan melafadkannya sunnah. dan waktunya niat didalam melaksanakan wudhu yaitu ketika membasuh bagian pertama dari wajah. adapun bacaan niatnya seperti lafadz diatas.

2. Membasuh Muka

Adapun membasuh muka didalam wudhu batas batasnya adalah secara vertikal dari tempat tumbuhnya rambut secara normal sampai ke dagu. dan secara horizontal dari telinga ke telinga.

3. Membasuh Kedua tangan

Batasnya yaitu dari ujung jari hingga ke siku lebih sedikit. lebih baiknya lebih 4 atau 5 jari diatas siku.

4. Membasuh sebagian kepala

Yaitu membasuh sebagian dari pada area kepala atau rambut.

5. Membasuh kedua kaki

Batasnya yaitu dari jari jari kaki hingga kedua mata kaki lebih sedikit, untuk lebih baiknya hingga ke betis.

6. Tertib
  
Yaitu tidak mendahulukan bagian satu dengan bagian yang lain atau sesuai urutan fardhu wudhu diatas.




Wudhuk

Jika kita membuka hadits-hadits yang terkait dengan jumlah hitungan dalam membasuh anggota-anggota wudhu, maka di sana kita akan dapatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berwudhu dengan sekali basuh, dua kali basuh, dan tiga kali basuh. Sedang sikap yang terbaik dalam menyikapi ragam sunnah ini adalah dengan melakukan variasi saat melakukannya. Sesekali dengan satu kali basuh dan di waktu lain dengan 2/3 kali basuh, dengan demikian sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dapat teramalkan tanpa mengabaikan salah satunya.

Dalil Ragamnya Basuhan
 
Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bolehnya berwudhu satu kali, dua kali, dan tiga kali basuh adalah sebagai berikut:
1. Diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, ‘Ketika berwudhu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam terkadang membasuh satu kali anggota wudhunya, terkadang dua kali, terkadang pula tiga kali.’ [Shahih. HR. ath-Thahawi, Syarh al-Atsar 1/36].
2. Diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam bab Wudhu, dari ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berwudhu sekali-sekali, ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu satu kali-satu kali.’ [HR. al-Bukhari 157].
3. Dan dalam riwayat Abdullah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dua kali-dua kali.’
4. Adapun keterangan tentang kebiasaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam membasuh anggota wudhunya tiga kali adalah hadits dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, ‘Dari Humran, bahwa Utsman pernah meminta air untuk berwudhu. Ia lalu mencuci tangannya tiga kali. Kemudian berkumur, menghisap air melalui hidung dan mengeluarkannya. Kemudian membasuh tangan kanannya hingga siku sebanayk tiga kali. Lalu, tangan kirinya begitu juga. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian membasuh kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali, lalu kaki kirinya begitu juga. Kemudian ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini ”.’ [Muttafaq ‘Alaihi. Shahih Bukhari 158 dan Muslim 226].

Ayat Al-Quran dan Hadis berkaitan dengan Anjing

Al-Quran

Dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami tinggikan pangkatnya dengan (sebab mengamalkan) ayat-ayat itu. Tetapi ia bermati-mati cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingannya adalah seperti anjing, jika engkau menghalaunya: ia menghulurkan lidahnya termengah-mengah, dan jika engkau membiarkannya: ia juga menghulurkan lidahnya termengah-mengah. Demikianlah bandingan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berfikir.
   

Dan engkau sangka mereka sedar, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri; sedang anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua; jika engkau melihat mereka, tentulah engkau akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah engkau akan merasa sepenuh-penuh gerun takut kepada mereka.

(Sebahagian dari) mereka akan berkata: "Bilangan Ashaabul Kahfi itu tiga orang, yang keempatnya ialah anjing mereka "; dan setengahnya pula berkata:"Bilangan mereka lima orang, yang keenamnya ialah anjing mereka" - secara meraba-raba dalam gelap akan sesuatu yang tidak diketahui; dan setengahnya yang lain berkata: "Bilangan mereka tujuh orang, dan yang kedelapannya ialah anjing mereka". Katakanlah (wahai Muhammad): "Tuhanku lebih mengetahui akan bilangan mereka, tiada yang mengetahui bilangannya melainkan sedikit". Oleh itu, janganlah engkau berbahas dengan sesiapapun mengenai mereka melainkan dengan bahasan (secara sederhana) yang nyata (keterangannya di dalam Al-Quran), dan janganlah engkau meminta penjelasan mengenai hal mereka kepada seseorangpun dari golongan (yang membincangkannya).

Khamis, Julai 06, 2017

Hukum Menyentuh Anjing


Para ulama madzhab (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali) sepakat bahwa air liur anjing najis kecuali Maliki yang berpendapat anjing tidak najis sama ada air liur atau bulunya. Bagi kaum muslimin di Indonesia, Malaysia, Singapura, Yaman dan lainnya kebanyakan mengikuti madzhab Syafi’iyyah yang menghukumi najis seluruh bagian tubuh anjing jika disentuhnya dalam keadaan basah.

Asy-Syarbini mengatakan :

(وما نجس ) من جامد ولو بعضا من صيد أو غيره ( بملاقاة شيء من كلب ) سواء في ذلك لعابه وبوله وسائر رطوباته وأجزائه الجافة إذا لاقت رطبا ( غسل سبعا إحداهن ) في غير أرض ترابية ( بتراب )
“– Dan apa yang najis – dari sesuatu yang padat walaupun sebagiannya dari buruan atau lainnya – karena besentuhan dengan bagian anjing – sama ada itu air liurnya atau kencingnya dan semua bagiannya yang basah dan anggota tubuhnya yang yang kering jika menyentuh sesuatu yang basah – maka mensucikannya tujuh kali saah satunya dengan tanah. “[1]

Artinya jika menyentuh anjing salah satunya (anjing atau yang menyentuh) sama ada tubuh, pakaian atau tempat dalam keadaan basah, maka menjadi najis dan mensucikannnya tujuh kali cucian salah satunya dicampur dengan tanah. Mafhumnya jika keduanya tidak basah, maka tidaklah najis.

Imam an-Nawawi berkata :

مذهبنا أن الكلاب كلها نجسة، المُعَلَّم وغيره، الصغير والكبير، وبه قال الأوزاعي وأبو حنيفة وأحمد وإسحاق وأبو ثور وأبو عبيد
“Madzhab kami, mengatakan bahwa anjing seluruh bagiannya adalah najis, sama aja anjing terlatih atau bukan, kecil ataupun besar. Pendapat ini juga dikatakan oleh al-Awza’i, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Tsaur dan Abu Ubaid “.[2]

Selasa, Julai 04, 2017

Beza Makna Sedekah, Infaq dan Zakat

Sedeqah bererti pemberian yang padanya dicari pahala daripada Allah Taala. Rujuk al-Ta`rifat (1/132). Manakala Ibn Manzur memberikan definisi sedekah sebagai apa yang apa yang engkau berikan kerana Allah kepada golongan fakir, yakni yang memerlukan. Rujuk Lisan al-Arab (10/196). Sedekah merangkumi maksud zakat wajib, dan sedekah sunat, seperti yang dimaksudkan dalam
al-Quran:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Maksudnya: Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, dan orang-orang miskin, dan amil-amil yang mengurusnya, dan orang-orang muallaf yang dijinakkan hatinya, dan untuk hamba-hamba yang hendak memerdekakan dirinya, dan orang-orang yang berhutang, dan untuk (dibelanjakan pada) jalan Allah, dan orang-orang musafir (yang keputusan) dalam perjalanan. (Ketetapan hukum yang demikian itu ialah) sebagai satu ketetapan (yang datangnya) dari Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
Surah al-Taubah, (9:60)

Begitu juga keterangan hadis dalam surat yang ditulis oleh Sayyidina Abu Bakar RA:
هَذِهِ فَرِيضَةُ الصَّدَقَةِ الَّتِي فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى المُسْلِمِينَ
Maksudnya: Kefarduan sedekah (yakni zakat) ini ialah seperti mana yang difardukan oleh Rasulullah SAW ke atas kaum Muslimin.
Hadis riwayat Imam Bukhari (1454)

Manakala, Infaq menurut al-Jurjani bererti membelanjakan harta kepada yang berhajat. Rujuk al-Ta`rifat (1/39). Dalam Surah al-Baqarah (2:3), Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Maksudnya: (Orang yang beriman itu adalah) orang-orang yang beriman dengan perkara yang ghaib, menunakan solat dan mereka memberi infaq apa yang kami rezekikan kepada mereka.

Perkata ‘ينفقون’ dalam ayat ini, menurut pilihan Imam al-Tabari, merujuk kepada pensyariatan zakat dan pemberian nafkah kepada ahli keluarga yang ditanggung. Rujuk Jami’ al-Bayan (1/244). Justeru, sedeqah dan infaq itu ialah sinonim.

Manakala waqaf dari sudut bahasa membawa maksud menahan sesuatu. Dari sudut istilah, ianya membawa maksud menahan harta yang boleh diambil darinya manfaat beserta mengekalkan ‘ain harta tersebut. Ianya menghilangkan pemilikan dan pengurusan harta tersebut dari pewakaf dan harta tersebut akan digunakan pada jalan yang dibenarkan ataupun keuntungan darinya (harta wakaf tersebut) digunakan untuk jalan kebaikan. Lihat Mughni al-Muhtaj, (2/376). Pahala orang yang berwakaf ini akan berkekalan selagi mana harta wakaf itu masih wujud walaupun selepas kematian pewakaf. Wakaf juga disebut sebagai sedekah jariah.

Sabda Rasulullah SAW:
إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Maksudnya: Jika mati seorang manusia itu akan terputuslah catitan amalannya melainkan pada tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak soleh yang mendoakan baginya kebaikan.

Hadis riwayat Imam Muslim (1631)
Imam Nawawi RAH menjelaskan bahawa sedekah jariah itu bermaksud wakaf. Rujuk Syarh Muslim (11/85).

Justeru, boleh disimpulkan bahawa pengertian infaq dan sedekah memiliki maksud zakat wajib, sedekah sunat, dan wakaf. Manakala wakaf ialah pengertian yang lebih khusus kepada amakan wakaf.

Wallahua’lam.

Isnin, Julai 03, 2017

Hukum Gabung Puasa Qadha dan Puasa Enam Syawal

Persoalan pertama berkaitan niat puasa ganti Ramadan yang tertinggal adakah mendapat pahala puasa sunat Syawal.

Persoalan ini terdapat khilaf (perbezaan pandangan) di kalangan ulama.

Pendapat pertama: Sebahagian ulama berpendapat, tidak boleh mencampurkan niat puasa sunat dengan niat puasa fardhu yang lain atau dengan puasa sunat yang lain. Sekiranya dilakukan, maka puasa itu tidak sah, sama ada bagi yang fardhu ataupun yang sunat. Pendapat ini bertepatan dengan sabda Nabi SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ صَامَ الدَّهْر

Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia berpuasa setahun”. (HR Muslim)

Bagi memenuhi maksud hadis ini, dalam usaha memperolehi pahala yang dijanjikan iaitu pahala berpuasa setahun, maka hendaklah seseorang itu menyempurnakan puasa Ramadan (yang merupakan puasa wajib) kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal (yang merupakan puasa sunat). [Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid – www.islamqa.com]

Pendapat kedua: Di kalangan ulama Syafie ada yang berpendapat bahawa ganjaran puasa enam Syawal tetap akan diperolehi apabila seseorang berpuasa qadha sekalipun dia tidak berniat menggabungkan kedua-duanya. Namun, pahala yang diperolehi itu adalah kurang berbanding seorang yang berpuasa kedua-duanya secara berasingan. [Fatawa al-Azhar 9/261]

Setelah diteliti, dapat disimpulkan bahawa pendapat kedua iaitu pandangan ulama yang membolehkan ‘puasa dua dalam satu’ ini tidak disandarkan kepada mana-mana nas Al-Quran ataupun Al-Sunnah yang sahih. Mereka juga mengatakan bahawa amalan ini hanya mendapat pahala kerana kebetulan berpuasa qadha pada bulan Syawal, sama seperti pahala sunat tahiyyatul masjid dengan solat fardhu (orang yang terus mengerjakan solat fardhu apabila masuk ke dalam masjid akan mendapat juga pahala sunat tahiyyatul masjid)

Timbul persoalan, yang manakah yang lebih afdal untuk dilakukan bagi memperoleh pahala kedua-duanya; mendahulukan puasa sunat enam hari dalam Syawal atau mengqadhakan puasa Ramadan? Dalam persoalan ini terdapat dua pendapat.

Pendapat pertama: Boleh mendahulukan puasa sunat Syawal, berdasarkan hadis Aishah RA yang menyatakan bahawa:

( كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إلَّا فِي شَعْبَانَ. قال يحيى:الشغل من النبي أو بالنبي )

Maksudnya: “Aku berpuasa di bulan Ramadan dan aku tidak mengqadha kecuali dalam bulan Syaaban”. Kerana sibuk melayani Rasulullah SAW.” (HR Bukhari:1950, penjelasan “kerana sibuk melayani Rasulullah SAW” ialah penjelasan salah seorang perawi hadis yang bernama Yahya bin Said.)

Para ulama yang mengemukakan pendapat pertama berhujah bahawa sudah tentu isteri Rasulullah SAW iaitu Aishah RA tidak meninggalkan puasa sunat enam Syawal. Tindakannya yang mengqadhakan puasa Ramadan pada bulan Syaaban menunjukkan bahawa adalah dibolehkan untuk berpuasa sunat Syawal meskipun seseorang itu belum mengqadhakan puasa Ramadan.

Pendapat kedua: Tidak boleh mendahulukannya, berdasarkan hadis yang menyatakan kelebihan puasa sunat Syawal tadi. Rasulullah SAW mensyaratkan puasa Ramadan terlebih dahulu sebelum mengiringinya dengan puasa enam Syawal bagi mendapatkan ganjaran pahala yang dijanjikan.

“Jika seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadan, dia harus berpuasa terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan enam hari puasa Syawal, kerana dia tidak boleh melanjutkan puasa Ramadan dengan enam hari puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadannya terlebih dahulu.” [Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuth wal Ifta’, 10/392]

Sekiranya diteliti dan dihalusi, maka pendapat kedua adalah lebih rajih (kuat) kerana ia bertepatan dengan dalil puasa sunat Syawal itu sendiri. Selain itu, membayar hutang yang wajib hendaklah didahulukan daripada memberi sedekah yang sunat.

Namun, sekiranya seorang itu tidak berkesempatan kerana keuzuran untuk melakukan qadha kemudian berpuasa enam, tetapi dia berkeyakinan bahawa akan sempat mengqadhakannya sebelum Ramadan tahun berikutnya, maka pendapat yang pertama tadi boleh diterima, berdasarkan apa yang dilakukan oleh Aishah RA.

Manakala berkaitan hari-hari yang tertentu pula, dinyatakan bahawa:

“Hari-hari ini (berpuasa dalam bulan Syawal) tidak harus dilakukan langsung setelah Ramadan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah hari raya, dan mereka boleh melakukannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, mana-mana yang lebih mudah bagi seseorang. … dan ini (hukumnya) tidaklah wajib, melainkan sunnah.”

[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuth wal Ifta’, 10/391]

Imam An-Nawawi RH berkata:

“Sahabat-sahabat kami berkata: Adalah dianjurkan untuk berpuasa 6 hari Syawal. Dari hadis ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga dibolehkan, kerana ia masih berada pada makna umum dari hadis tersebut. Kami tidak berbeza pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Daud.” [Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab]

Adalah dianjurkan untuk menyegerakan dan berlumba-lumba dalam melakukan puasa enam Syawal berdasarkan umum firman Allah Taala:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Maksudnya: “Dan bersegeralah kamu kepada (mengerjakan amalan yang baik untuk mendapat) ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” [Surah Ali Imran:133]


Wallahu a’lam.

Hukum Tidak Mahu Berkahwin


Islam adalah agama yang menggalakkan seseorang yang mampu kahwin dan bersedia menjalankan tanggungjawab sebagai suami dan ketua keluarga supaya berkahwin dan membina rumah tangga. Rasulullah s.a.w. tidak menyukai orang yang membujang seumur hidup, kecuali dia mempunyai masalah yang tidak mengizinkannya untuk berkahwin. Mungkin anda termasuk dalam golongan yang dikecualikan.

Nabi Muhammad s.a.w. dan rasul-rasul terdahulu terdiri daripada golongan orang yang berkahwin dan mempunyai zuriat keturunan. Kebanyakannya beristeri lebih daripada satu. Hakikat ini dinyatakan dalam firman Allah yang bermaksud: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul sebelummu dan Kami jadikan untuk mereka isteri-isteri dan zuriat keturunan (al-Ra'd: 38).
Dalam hadis pula, nabi s.a.w. mengecam segolongan sahabat yang pernah menyatakan hasrat mereka untuk berkasi dan terus membujang sepanjang hayat bagi menumpukan sepenuh usia mereka kepada ibadat dan solat malam. Baginda menasihati mereka: ``Kahwinlah kamu dengan wanita yang penyayang dan ramai anak. Sesungguhnya aku berbangga dengan ramai bilangan umatku pada hari kiamat.''

Meskipun rangsangan kahwin begitu jelas, namun hukumnya berbeza antara seorang individu dengan yang lain, mengikut keperluan dan keadaan. Bagi mereka yang mampu berkahwin, berkemahuan tinggi serta menaruh kebimbangan terjebak dalam maksiat, maka hukumnya wajib kahwin dan berdosa jika ditangguhkan.

Isnin, Mei 29, 2017

Kisah Asal Usul Nafsu

Dalam sebuah kitab karangan 'Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahawa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : "Wahai akal mengadaplah engkau." Maka akal pun mengadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal berbaliklah engkau!", lalu akal pun berbalik.

Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : "Wahai akal! Siapakah aku?". Lalu akal pun berkata, "Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah." 

Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau." 

Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : "Wahai nafsu, mengadaplah kamu!". Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau." 

Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau." 

Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, " Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku." 

Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahawa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa. 

Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahawa nafsu itu adalah sangat jahat oleh itu hendaklah kita mengawal nafsu itu, jangan biarkan nafsu itu mengawal kita, sebab kalau dia yang mengawal kita maka kita akan menjadi musnah.

Mengapa Al Quran dibahagikan kepada Juzuk? Pelajari cara pembahagian Al Quran.

Allah S.W.T memerintahkan manusia untuk mengkaji dan memahami isi Al Quran, seperti dijelaskan pada Surah Al-Qomar [54 : 17 ] ;
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AI-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mahu mengambil pelajaran?”.
Jom, kita kaji Al Quran. Pernah tak tertanya kenapa Al Quran dibahagi kepada 30 Juzuk dan apa tanda tanda di sisi muka surat?

PEMBAHAGIAN AL QURAN

Kenapa Al Quran dibahagikan kepada beberapa pecahan seperti juz dan apa maksud tanda 1/4 di sisi muka surat?
Ulama membahagikan kepada bahagian kecil dan juzuk untuk memudahkan proses penghafalan dan khatam Al Quran. Mereka membahagikan kepada 30 juzuk bersamaan dengan 30 hari di bulan Ramadhan untuk mereka mudah bertadarus setiap hari dan khatam Al Quran dalam masa sebulan.
Al Quran dibahagi kepada 30 Juz  dan 60 hizb yang mengandungi 114 surat atau surah yang diberi nama.

114 Surah dibahagi kepada 4 iaitu :

★Assab’uththiwaal iaitu 7 surah yang panjang  :
(1) Al Baqarah – 286 ayat dan 47 muka surat,
(2) Ali Imran – 200 ayat dan 29 muka surat
(3) An Nisaa’ – 120 ayat dan 29 muka surah
(4) Al Maaidah – 120 ayat dan 11 muka surat
(5) Al An’aam – 165 ayat dan 22 muka surat
(6) Al A’raaf – 206 ayat  dan 26 muka surat dan
(7) Yunus – 109 ayat dan 12 muka surat.

Surat-surat yang panjang terbahagi lagi kepada sub bahagian kecil yang disebut ruku' yang membahas tema atau topik tertentu.

Istilah ruku'  digunakan dalam pembahagian halaman Al-Qur'an, selain di akhir surah dan atau Juz. Ruku' umumnya membatasi ayat-ayat yang berada pada satu tema dengan tema yang selanjutnya. Ia juga digunakan sebagai panduan tempat untuk berhenti membaca, agar tidak berhenti dipertengahan tema atau di tempat terlarang.

★Al Miuun iaitu surat yang mempunyai 100 lebih ayat.
★Al Matsaani iaitu surah yang mempunyai ayat kurang dari 100.
★Al Mufashshal iaitu surah pendek.
seperti Al Ikhlas , An Nas dan Al Falaq.
1 hizb dibahagi pula kepada 4 yang bertanda di sisi muka surat seperti ¼ hizb, ½ hizb dan ¾ hizb.
Setiap hizb dibahagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub (satu perempat), an-nisf (seperdua), dan as-salsalah (tiga suku).
2 Hizb (8 bahagian Maqra' ) bersamaan dengan 1 Juzuk Al Quran.
Pembahagian juz adalah berdasarkan jumlah bilangan muka surat.
Pembahagian Hizb bersandarkan bilangan huruf.
Pembahagian ruku' bersandarkan pada tema dan topik ayat.
♥1 Al-Quran = 30 juzuk
♥1 Juzuk = 2 Hizb
♥1 Hizb = 4 Maqra'
♥1 Juzuk = 10 helai = 20 mukasurat
♥1 mukasurat = 15 baris ayat.
==> 30 Juzuk = 60 Hizb = 240 Maqra'

Cara / Teknik Khatam Al Quran

Program bacaan Al -Quran secara istiqamah:
1 hari baca 1 maqra'
==> Khatam dalam 8 bulan
1 hari baca 2 maqra'
==>  Khatam dalam 4 bulan
1 hari baca 1 hizb = 4 maqra'
==> Khatam dalam 2 bulan.
1 hari baca 1 juzuk= 2 hizb = 8 maqra' ==> Khatam dalam 1 bulan/ 30 hari.
30 JUZUK AL QURAN


Berapakah jumlah muka surat untuk setiap juzuk?  ( Baru je tadi kita bagi tahu..ingat tak? Hehe)
Jawapannya  : 20 muka surat bersamaan 10 helai. (1 mukasurat ada 15 baris ayat)
Apakah surah surah yang terkandung dalam setiap juzuk?

Berikut merupakan surah -surah mengikut pembahagian 30 Juzuk Al Quran :

Juz’ 1 :
Al Fatiha 1 – Al Baqarah 141 (1:1-2:141)
Juz’ 2 :
Al Baqarah 142 – Al Baqarah 252 (2:142-2:252)
Juz’ 3 :
Al Baqarah 253 – Al Imran 92 (2:253-3:92)
Juz’ 4 :
Al Imran 93 – An Nisaa 23 (3:93-4:23)
Juz’ 5 :
An Nisaa 24 – An Nisaa 147 (4:24-4:147)
Juz’ 6 :
An Nisaa 148 – Al Ma’idah 81 (4:148-5:81)
Juz’ 7 :
Al Ma’idah 82 – Al An’am 110 (5:82-6:110)
Juz’ 8 :
Al An’am 111 – Al A’raf 87 (6:111-7:87)
Juz’ 9 ;
Al A’raf 88 – Al Anfal 40 (7:88-8:40)
Juz’ 10 :
Al Anfal 41 – At Tauba 92 (8:41-9:92)
Juz’ 11 :
At Tauba 93 – Hud 5 (9:93-11:5)
Juz’ 12 :
Hud 6 – Yusuf 52 (11:6-12:52)
Juz’ 13 :
Yusuf 53 – Ibrahim 52 (12:53-14:52)
Juz’ 14 :
Al Hijr 1 – An Nahl 128 (15:1-16:128)
Juz’ 15 :
Al Isra (or Bani Isra’il) 1 – Al Kahf 74 (17:1-18:74)
Juz’ 16 :
Al Kahf 75 – Ta Ha 135 (18:75-20:135)
Juz’ 17 : 
Al Anbiyaa 1 – Al Hajj 78 (21:1-22:78)
Juz’ 18 :
Al Muminum 1 – Al Furqan 20 (23:1-25:20)
Juz’ 19 :
Al Furqan 21 – An Naml 55 (25:21-27:55)
Juz’ 20 :
An Naml 56 – Al Ankabut 45 (27:56-29:45)
Juz’ 21 :
Al Ankabut 46 – Al Azhab 30 (29:46-33:30)
Juz’ 22 :
Al Azhab 31 – Ya Sin 27 (33:31-36:27)
Juz’ 23 :
Ya Sin 28 – Az Zumar 31 (36:28-39:31)
Juz’ 24 :
Az Zumar 32 – Fussilat 46 (39:32-41:46)
Juz’ 25 :
Fussilat 47 – Al Jathiya 37 (41:47-45:37)
Juz’ 26 :
Al Ahqaf 1 – Az Zariyat 30 (46:1-51:30)
Juz’ 27 :
Az Zariyat 31 – Al Hadid 29 (51:31-57:29)
Juz’ 28 :
Al Mujadila 1 – At Tahrim 12 (58:1-66:12)
Juz’ 29 :
Al Mulk 1 – Al Mursalat 50 (67:1-77:50)
Juz’ 30 :
An Nabaa 1 – An Nas 6 (78:1-114:6)

Jumaat, April 28, 2017

Isu Valet Doa


Alhamdulillah, kami merafa’kan setinggi kesyukuran kepada-Nya. Selawat dan salam ke atas Junjungan Nabi SAW begitu juga kepada keluarga, Sahabat dan yang mengikut jejak langkahnya hingga ke hari akhirat. Kami menerima persoalan berhubung Valet Doa yang sedang tular di media sosial beberapa hari ini. Justeru, kami merasakan isu ini perlu dijawab dengan segera agar ia tidak membarah dan menjadi perkara yang boleh mengundang pelbagai persoalan dan kekeliruan kepada masyarakat. Maka, atas dasar inilah kami namakan Bayan Linnas Siri Ke-85 ini dengan tajuk “Valet Doa: Penjelasannya”. Semoga penjelasan ini memberi kefahaman yang baik kepada kita semua, Amin.

Definisi Valet

Parkir valet adalah khidmat untuk meletakkan kenderaan oleh petugas valet. Pemandu tidak mencari tempat parkir yang kerana ia dilakukan oleh petugas valet parkir. Pemandu kendaraan hanya perlu turun dari mobil di depan lobi sesebuah hotel, pusat beli belah atau sebagainya, dan menyerahkan kenderaan kepada petugas valet.

Definisi Doa

Kami tertarik dengan definisi doa yang dikemukakan oleh Imam al-Khattabi. Antara lain beliau mendefinisikan dengan:

“Doa adalah permohonan untuk pertolongan dan bantuan oleh seorang hamba kepada Tuhannya. Hakikat doa itu adalah menzahirkan kefakiran, kelemahan dan kehinaan diri kepada Allah yang di dalamnya terpateri pengagungan terhadap Allah SWT dan mengiktiraf sifat kemuliaan dan pemurah-Nya.” (Lihat Sya’n al-Dua’, hal. 4)

Beberapa Isu Yang Timbul Dalam Perniagaan Valet Doa

Sebelum menyatakan pandangan kami berhubung isu ini, kami sempat meneliti copywriting yang diletakkan di Facebook Valet_Doa. Kami dapat mengesan beberapa masalah yang timbul pada bentuk perniagaan Valet Doa ini.

Pertama: Etika Pengiklanan Dalam Islam

Kami melihat, individu berkenaan kurang memerhatikan aspek etika pengiklanan dalam Islam. Antaranya:
  • Seni pengiklanan yang berlebih-lebihan.
  • Terdapat beberapa keraguan di dalam perniagaannya iaitu
  • Memberikan jaminan 100% pemakbulan doa, sedangkan ianya tidaklah sesuatu yang pasti dan pemakbulan Allah adalah hak mutlak Allah. 

Berhubung ‘servis doa’, barang yang diniagakan dan diupahkan adalah kemakbulan doa sedangkan makbul atau tidaknya doa itu adalah hak Allah secara mutlak serta ianya bersifat tidak jelas kerana kemakbulan adalah mutlak bergantung kepada-Nya. Ia tetap tidak boleh dilakukan sekalipun ada jaminan wang dikembalikan. Ia juga tidak boleh diqiyaskan dengan badal haji kerana bukan haji mabrur yang diupahkan tetapi amalan badal haji itu sendiri yang boleh menerima upah. 

Servis berkaitan dengan ibadah amat perlu kepada nas kerana asal ibadah itu adalah tawaqquf dan ta’abbudi. Kaedah menyebut الأصل في العبادة التوقف (Asal bagi ibadah adalah terhenti kepada al-Qur'an dan al-Sunnah.) 

Mengkomersialkan doa dibimbangi termasuk dalam firman Allah SWT:
وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ
Maksudnya: Jangan kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga benda yang murah
(Surah al-Baqarah: 41)

Imam Ibn Jarir al-Tabari berkata: “Jangan kamu ambil secara tamak untuk sedikit harta benda sehingga kamu menyembunyikan nama Allah. Maka yang termasuk dalam harga itu adalah ketamakan.” Lihat Tafsir al-Tabari, 1/565.

Al-Alusi berkata: “Jangan kamu tukar iman dengan ayat-ayat-Ku atau ikut untuk mendapatkan habuan dunia yang sedikit lagi binasa dengan ganjaran akhirat.” Lihat Ruh al-Ma’ani, 1/389.
Dr. Wahbah al-Zuhaily: “Jangan kamu jual ayat-ayat Allah yang menunjukkan atas kebenaran Muhammad pada kenabiannya dan dakwahnya dengan sedikit harta benda dunia.” Lihat Tafsir al-Munir 1/150.

Berdasarkan kenyataan di atas, jelas menunjukkan unsur perniagaan serta menjaja dan menggunakan acara ibadah dan doa untuk tujuan perniagaan yang tidak dibenarkan oleh Islam.

Kedua: Hak Mutlak Allah Sebagai al-Mujib

Kami tidak menafikan, terdapat pelbagai hadis berkenaan tempat-tempat makbul di Tanah Haram seperti doa di Multazam dan Hajar al-Aswad. Antara hadis berkenaan kemustajaban doa di Multazam. Daripada ‘Amru bin Syu’aib daripada bapanya, berkata:
طُفْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ فَلَمَّا جِئْنَا دُبُرَ الْكَعْبَةِ قُلْتُ: أَلَا تَتَعَوَّذُ؟ قَالَ: «نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ»، ثُمَّ مَضَى حَتَّى اسْتَلَمَ الْحَجَرَ وَأَقَامَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ، فَوَضَعَ صَدْرَهُ وَوَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَكَفَّيْهِ هَكَذَا وَبَسَطَهُمَا بَسْطًا، ثُمَّ قَالَ: «هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ»
Maksudnya: “Aku sedang bertawaf bersama Abdullah (Abdullah bin Umar). Ketika kami berada dibelakang Baitullah, aku bertanya, “Tidakah kamu memohon perlindungan?”Abdullah pun berkata: ‘Kami berlindung kepada Allah dari panasnya siksaan api neraka.” Setelah selesai, Abdullah menyentuh Hajar al-Aswad dan berdiri antaranya dan pintu Ka’bah, lalu merapatkan dada, muka, kedua siku, dan kedua telapak tangan nya dan berkata: “Seperti inilah aku melihat Rasulullah SAW melakukannya.”
(Riwayat Abu Daud, no. 1899)

Kata Ibn ‘Abbas R.Anhuma:
مَا بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ يُدْعَى الْمُلْتَزَمَ لَا يَلْزَمُ مَا بَيْنَهُمَا أَحَدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
Maksudnya: “Antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah terdapat Multazam. Tidak seorang pun hamba Allah SWT yang berdoa di tempat ini, kecuali dikabulkan doanya.”
(Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, no. 3769)

Kami tidak nafikan betapa mulianya Mekah terutamanya Masjidil Haram yang terdapat banyak-banyak mulia seperti hadith di atas. Justeru, Rasulullah SAW pernah mengirim doa melalui Saidina Umar ketika beliau mahu menuju ke Mekah. Antaranya sabda Nabi SAW:
أَيْ أُخَيَّ أَشْرِكْنَا فِي دُعَائِكَ وَلَا تَنْسَنَا
Maksudnya: “Hai saudara yang kukasihi, sertakan kami dalam doa kamu dan jangan lupa kami.”
(Riwayat al-Turmuzi, no. 3562) dan beliau berkata, hadis ini hasan sahih.

Untuk mendapat kepastian dan lebih luas lagi pengetahuan berkenaan dengan isu ini, maka sewajarnya kita melihat kitab-kitab berkaitan adab doa dan juga kitab khusus seperti al-Azkar oleh Imam al-Nawawi dan juga al-Idhah fi Manasik al-Hajj wa al-'Umrah oleh Imam al-Nawawi juga yang menyebut tempat-tempat yang mustajab doa. Tetapi, semuanya didoakan dengan penuh keikhlasan daripada seseorang tanpa sebarang bentuk perniagaan doa. Ini kerana, Allah sahaja yang bersifat penerima doa yang yang memakbulkannya.

Benarlah firman Allah SWT:
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Maksudnya: “Dan kepada kaum Thamud, kami utuskan saudara mereka: Nabi Soleh. Ia berkata: "Wahai kaumku! Sembahlah kamu akan Allah! Sebenarnya tiada Tuhan bagi kamu selain daripadaNya. Dia lah yang menjadikan kamu dari bahan-bahan bumi, serta menghendaki kamu memakmurkannya. Oleh itu mintalah ampun kepada Allah dari perbuatan syirik, kemudian kembalilah kepadaNya dengan taat dan tauhid. Sesungguhnya Tuhanku sentiasa dekat, lagi sentiasa memperkenankan permohonan hamba-Nya.”
(Surah al-A'raf: 73)

Maka, jelas di sini bahawa hak memakbulkan doa itu hanya milik mutlak Allah SWT. Tidak wajar mana-mana individu menjamin doanya akan dimakbulkan Allah SWT dalam keadaan hak tersebut bukan hak dirinya. Apatah lagi jika menetapkan tempoh masa tertentu untuk kemakbulan doa, seolah-olah individu terbabit memaksa Allah SWT untuk mengabulkan doa pada tempoh yang ditetapkan. Sedangkan, tempoh untuk memakbulkan doa terpulang mutlak kepada-Nya tanpa boleh dipaksa mana-mana hamba-Nya.

Perlu kami nyatakan di sini beberapa adab doa untuk panduan bersama. Antaranya:
  • Seseorang yang berdoa itu perlu mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.
  • Ikhlas kepada-Nya dalam doa.
  • Memohon kepada-Nya dengan nama-nama Allah yang mulia.
  • Memuji Allah sebelum berdoa
  • Berselawat ke atas Nabi SAW.
  • Mengadap kiblat.
  • Mengangkat kedua tangan.
  • Yakin kepada Allah akan kemakbulannya.
  • Memperbanyakkan memohon kepada-Nya.
  • Khusyuk dalam berdoa.
  • Mengulang-ulangi permohonan doa.
  • Mengelokkan makanan dan minuman.
  • Merendahkan suara ketika berdoa.
Ketiga: Akhlak Dengan Allah SWT

Oleh kerana acara doa merupakan ibadah yang sewajarnya dilakukan dengan syarat yang benar lagi tepat, maka sewajarnya kita mempunyai akhlak kepada Allah. Antara bentuk akhlak yang sesuai adalah, selayak dan seafdhalnya orang yang mempunyai hajat itu sendiri yang berdoa. Ini berdasarkan kepada perintah Allah dan suruhan-Nya kepada kita. Mohon pertolongan kepada Allah dapat difahami dengan konsep:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Maksudnya: “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami minta pertolongan.”
(Surah al-Fatihah: 5)

Ibn Kathir berkata: “Allah memerintahkan kamu supaya mengikhlaskan dalam ibadah dan hanya meminta tolong kepada-Nya dalam urusan kamu.” Lihat Tafsir Ibn Kathir, 1/39.
Dalam kisah Nabi Zakaria yang melihat karamah dan kemuliaan Maryam dengan rezeki yang luarbiasa, maka Allah rakamkan kisah yang menarik ini:
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ. هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
Maksudnya: “Tiap-tiap kali Nabi Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati rezeki (buah-buahanan yang luar biasa) di sisinya. Nabi Zakaria bertanya:" Wahai Maryam dari mana engkau dapati (buah-buahan) ini?" Maryam menjawab; "Ialah dari Allah, sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada sesiapa yang dikehendakiNya dengan tidak dikira". Ketika itu Nabi Zakaria berdoa kepada Tuhannya, katanya:" Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku dari sisiMu zuriat keturunan yang baik; sesungguhnya Engkau sentiasa Mendengar (menerima) doa permohonan.”
(Surah Ali Imran: 37-38)

Ayat ini menunjukkan adab yang diajar kepada kita iaitu apabila berhajatkan sesuatu, masing-masing bertawajjuh, munajat dan berdoa kepada Allah SWT. Itulah petunjuk Ilahi dan itu lebih menampakkan kesungguhan seseorang yang berhajat.

Keempat: Salahfaham Konsep Doa

Dalam al-Qur’an bagaimana Allah mengajar Rasul-Nya SAW yang beliau sendiri tidak mempunyai kuasa untuk memberi manfaat dan mudarat kecuali Allah SWT.
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
Maksudnya: “Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak dapat menolak mudarat kecuali apa yang dikehendaki Allah.”
(Surah al-A’raf: 188)

Ayat ini diturunkan kepada Rasulullah SAW dan sangat bertepatan dan kekeliruan yang timbul di sebabkan isu Valet Doa ini. Sekiranya Rasulullah SAW sendiri menafikan dirinya berkuasa untuk mendatangkan mudarat dan manfaat kecuali Allah SWT, bagaimana pula seorang individu lain mampu menjamin kemakbulan doa secara yakin, dengan bersandarkan beberapa buah hadis yang disalahfahami? Justeru, semua doa yang kita pohon kepada-Nya yang memakbulkan hanyalah Dia yakni Allah SWT. Kerana itulah berkali-kali Allah menamakan diri-Nya dengan sami' al-dua' (yang mendengar doa).

Kenyataan Mufti Wilayah Persekutuan

Setelah kami meneliti isu Valet Doa yang disertakan pula dengan pakej-pakej dengan harga yang berbeza seolah-olah mengikut tahap kemustajaban doa, dengan ini kami berpendapat, ia adalah sama sekali tidak menepati Islam yang sebenarnya, dan tidak mengikut syariat. Ini kerana, tiada dalam sejarah dan juga adab di kalangan salafussoleh berbuat demikian. Hatta bila Nabi SAW mahu menyertakan doa Saidina Umar RA dengannya, tiada sebarang syarat kewangan, upah atau bayaran yang dikenakan oleh Saidina Umar RA. 

Kami juga melihat, penamaan pakej-pakej seperti Pakej Raja Salman dan Pakej VIP adalah sangat tidak berakhlak dan mengelirukan. Sementelahan lagi, ia jelas menunjukkan sifat komersialnya dan manipulasi doa.

Berkenaan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abi Said RA, sabda Rasulullah SAW:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا ، قَالُوا : إِذًا نُكْثِرُ ؟ قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ
Maksudnya: “Tiada seorang Islam berdoa dengan satu doa yang tiada padanya unsur dosa dan putus silaturrahim kecuali Allah kurniakan kepadanya salah satu daripada tiga iaitu samada disegerakan doanya, ditangguhkannya untuk hari akhirat atau dihilangkan daripadanya kejahatan seumpamanya. Kemudian sahabat berkata: ‘Kalau begitu, kami akan membanyakkannya. Sabda Baginda: ‘Ya, perbanyakkannlah.”
(Riwayat Ahmad, no. 10749)

Hadis ini menunjukkan bahawa doa yang dipohon oleh seseorang akan diterima, tetapi bentuk penerimaannya itu pelbagai berdasarkan nas di atas. Samada dimakbulkan segera, ditangguhkan ke hari Akhirat atau dihilangkan keburukan seumpamanya. Inilah yang ditafsirkan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (11/95). Justeru, penggunaan kalimah mustajab atau jaminan makbul yang difahami itu akan mengelirukan lebih-lebih lagi jaminan dan had masa tertentu untuk mendapatkannya. Ini menyalahi nas yang sahih lagi jelas.

Kami sarankan anjuran dan perniagaan seperti ini hendaklah DIBATALKAN agar Islam dilihat sebagai agama yang benar-benar mengikut neraca syariatnya dan terhindar daripada fitnah-fitnah dan eksploitasi ibadah. Semoga Allah mengampunkan dosa kita semua dan menjadikan kita golongan yang benar-benar mengikut syariat-Nya, Amin.
Akhukum fillah,

Datuk Dr. Zulkifli Mohamad al-Bakri
Mufti Wilayah Persekutuan
15 Februari bersamaan 18 Jamadil Awal 1438

Ditulis oleh Mohamad Razif Mohamad Fuad
Diterbitkan: 15 Februari 2017

Isnin, April 17, 2017

AWAS ULAMA SUU’

Di akhir zaman, akan muncul ulama suu’ (jahat) dimana Rosulullah SAW lebih takut kepada ulama suu’ ketimbang terhadap dajjal. Mengapa bisa demikian?

Siapakah Ulama Suu’ ?

Ulama’ suu’ adalah ulama jahat.Dikatakan jahat, karena mereka bukannya menunjukkan jalan yang benar kepada umat, namun justru rakus kepada kehidupan dunia, dimana akhirnya mereka menjual agamanya untuk kemaslahatan dunianya.

Tentang mereka ini, Rasululloh SAW bersabda ;
,يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتَلُونَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ جُلُودَ الضَّأْنِ مِنْ اللِّينِ أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنْ السُّكَّرِ وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبِي يَغْتَرُّونَ أَمْ عَلَيَّ يَجْتَرِئُونَ فَبِي حَلَفْتُ لَأَبْعَثَنَّ عَلَى أُولَئِكَ مِنْهُمْ فِتْنَةً تَدَعُ الْحَلِيمَ مِنْهُمْ حَيْرَانًا “
Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Alloh berfirman, “Apakah dengan-Ku kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR: Tirmidzi)

Ulama suu’ akan menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan. Mereka sanggup membungkus kebatilan dengan cover sebuah kebenaran. Ada kalanya, karena menjilat para penguasa dan orang-orang dzalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, penghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka.

Mereka senantiasa berada di pintu-pintu penguasa tiran, sebagaimana perkataan Sahabat Hudaifah ra :
:إِذَا رَأَيْتُمُ الْعَالِمَ بِبَابِ الْسُلْطَانِ فَاتَّهَمُوْا دِيْنَهُ، فَإِنَّهُمْ لاَ يَأْخُذُوْنَ مِنْ دُنْيَاهُمْ شَيْئاً أَخَذُوا مِنْ دِيْنِهِمْ ضِعْف
َ
Jika kalian melihat seorang alim berada di pintu penguasa, maka tertuduhlah dinnya. Maka tidaklah mereka [para ulama’] mengambil sebagian dari dunia mereka [penguasa], kecuali pera penguasa tersebut akan mengambil dari din mereka [ ulama’] secara sebanding.

Rosulullah SAW lebih mengkhawatiri (takut) kepada ulama suu’ daripada kepada dajjal.
Dari Sahabat Abu dzar ra, dia berkata:
” Aku bersama Nabi suatu hari dan aku mendengar beliau bersabda : ” Ada hal yang aku takutkan pada ummatku melebihi dajjal “. Kemudian aku merasa takut, sehingga aku berkata, Yaa Rasululloh apa itu…? Beliau bersabda : Ulama yang sesat lagi menyesatkan.

Dalam berdakwah, islam memang sejuk..tapi dalam menilai salah dan benar menurut ajaran islam, yang ada hanya ketegasan. katakan salah dengan tegas apabila memang itu salah. Jangan lagi  kau cerminkan kesejukkan yang terkesan menjilat atas sebuah kesalahan. Karena ingin dipuji, kau bewarna laksana kotoran anjing yang tertutup debu. 

Islam itu memang sejuk dan akan selalu membawa kesejukan. Tapi, jika kau jadikan sejuknya islam sebagai topeng atas nafsu-mu atas dunia dan menutupi kesalahan yang ada didepanmu...ingatlah, kau telah membawa umat ke pintu jahanam.

Jumaat, Mac 31, 2017

"Kecelakaan" Tatkala Lahirnya Pemimpin yang Menyesatkan

"Kecelakaan" Tatkala Lahirnya Pemimpin yang Menyesatkan ( Al-Aimmah Al-Mudhillin / أئمة مضلين )
Mendengar dua ucapan dlm clips Presiden Pas di bawah (klik di sini), saya merujuk satu hadith panjang akan betapa bahayanya kecelakaan yg akan berlaku pada ummah (yg dinisbahkan seperti kerosakan Dajjal) tatkala datangnya pemimpin-pemimpin yg berbohong dan menyesatkan pengikut, atau anak buah mereka, apabila demi matlamat politik dan kekuasaan mereka tealah sanggup lakukan pelbagai pembohongan, seperti amaran Rasulullah ini;
عن أبي ذر رضي الله عنه قال " كنت أمشي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال لغير الدجال أخوفني على أمتي ( قالها ثلاثًا ) " قال قلت : يا رسول الله ! ما هذا الذي غير الدجال أخوفك على أمتك ؟ قال أئمة مضلين [ Hadith Riwayat Imam Ahmad ]
Maksud jelas hadith ini; Rasulullah memberi amaran bahawa selain kecelakaan yg bakal dibawa Dajjal, perkara yg turut baginda takuti terjadinya pada ummat baginda ini adalah tatkala wujudnya dalam masyarakat segolongan pemimpin-pemimpin yg terus melakukan kesesatan pada pengikut atau masyarakat itu sendiri.

Bahkan terdapat juga beberapa hadith lain yg sama maksudnya "pemimpin yg menyesatkan" diistilahkan oleh Rasulullah sbg satu kerosakan yg amat ditakuti pada satu masa kelak.
Apa pula kaitannya "pemimpin yg menyesatkan" dan gerakan Islam?

Ikhwah yg dirahmati;
Tulisan ini merujuk juga pada pelbagai kupasan terdahulu yg lebih terperinci pada persoalan yg hampir sama, ie: salah laku pada gerakan Islam. 

[1]. Satu wabak yg sgt jelas berlaku pada sesetengah gerakan Islam adalah, bermulanya dari tujuan dakwah sbg sebab penubuhan mereka, akhirnya apabila wujudnya elemen "kuasa dan pengaruh (politik)" tatkala kepelbagaian pendapat berlaku, maka ia akhirnya membawa kepada persaingan sesama gerakan Islam pula. Yg tinggal selepas itu adalah survival utk mengekalkan pengaruh dan pengikut kumpulan masing-masing, bukan lagi mencapai natijah dakwah semata.
[2]. Bahkan ada kalangan gerakan Islam itu merasakan tidak boleh lagi kekal wujud tanpa gerakan mereka itu dikuatkan dgn memilih sesuatu fahaman indoktrinasi pengikut utk mereka terus kekal "intimak" bersama kumpulan mereka. Maka disitulah bagi gerakan Islam itu mula mengadaptasikan kaedah paling mudah iaitu dgn melaksanakan "indoktrinasi melalui sistem tarbiyyah", yg dijadikan premise pembentukan minda dan sikap pengikut kumpulan terhadap kumpulan (atau jamaah) lain.
[3]. Bahayanya adalah kerana, tatkala indoktrinasi telah mengambil-alih peranan sebenar tarbiyyah, maka perlaksanaan indoktrinasi itu TIDAK SESEKALI berjaya tanpa wujudnya ciri plg asas indoktrinasi, iaitu "pembohongan" dlm mencapai matlamat sesebuah gerakan itu. Dan jelas disebut melalui pelbagai literature dan kajian sikap, bahawa kejayaan indoktrinasi adalah sgt berkait pada betapa tingginya perlakuan "deception" (disebut pembohongan atau lakonan bohong) yg disuburkan di dalam sesebuah gerakan atau organisasi itu.
[4]. Dan jika kita soroti juga contoh yg lebih extremme berkaitan indoktrinasi agama, maka kita akan faham bahawa ajaran Syiah itu sendiri adalah process indoktrinasi agama yg sgt hebat yg asalnya hanyalah bermula dari perbezaan pandangan pada perlantikan Khalifah Islam pengganti Rasulullah sahaja, namun diangkat sehingga menjadi isu aqidah sehingga berleluasanya pembunuhan sesama muslim dlm sejarah Islam.
[5]. Ini kerana satu ciri plg utama Syiah yg diakui ulamak adalah terbinanya sikap wajib "taqiyyah" / deception sbg asas pada pegangan ajaran Syiah tersebut. Bahkan ada sesetengah ajaran Syiah itu sendiri yg telah dikategorikan ulamak sudah tergelincir dari aqidah Islam itu sendiri.
[6]. Namun dalam kes perbezaan politik Malaysia yg kecil ini, pun sama kita dapati wujudnya kalangan organisasi (NGO, persatuan, atau pun parti) yg berlabelkan Islam yg turut menjadikan "perbuatan atau percakapan bohong" (deception) mereka itu sbg keperluan dlm mereka berorganisasi, atas beberapa perkiraan berikut, antaranya;
(a) Berbohong (secara sengaja atau tidak) adalah satu kaedah "marketing" / kempen utk menarik dan meyakinkan pengikut menyertai mereka, atau utk terus kekal bersama mereka menolak kumpulan lain. Tanpa pembohongan dilakukan, pasti ahli kumpulan akan mudah teruja atau terpesona pada kumpulan lain, yg akan menjadikan mereka semakin hilang pengaruh dan dipinggirkan.
(b) "Deception" / pembohongan turut berlaku tatkala kepimpinan hanya mendiamkan diri sahaja apabila fitnah terkena pada ahli atau kumpulan lain yg mereka musuhi, sekali pun mereka tahu ianya satu yg tidak benar. Kerana bagi mereka, berdiam pada satu kesalahan (atau kezaliman) yg kena pada pihak musuh itu adalah kekuatan untuk mereka mara ke depan.
(c) Dan ketiga, berbohong juga terpaksa dilakukan demi membangkitkan rasa "izzah" (rasa mulia dan berbangga) ahli atau pengikut utk kagum pada Ketua / Presiden atau kumpulan yg mereka anggotai itu. Maka selaku kepimpinan, pelbagai khayalan, pencapaian, rekaan kejayaan, atau jumlah sokongan pertambahan ahli (inflation), dan lain-lain perkara yg boleh membanggakan ahli dicanangkan semaksimanya, sekalipun ianya salah, agar terbina "feel good factors" pemikiran ahli atau masyarakat luar yg mehu menyokong mereka tersebut.

Contoh yg pernah saya bawakan adalah kenyataan; (Contoh pembohongan pimpinan yg sengaja dibiarkan)
"... kita hendaklah yakin bahawa hanya Pas sahajalah sebuah jamaah Islam yg diredhoi Allah yg pertama di Malaysia yg hukumnya adalah wajib semua bersama dengannya, dan haram para pelajar menyertai mana-mana jamaah atau gerakan Islam bathil yg lain disebabkan jamaah lain itu ditubuhkan selepas tertubuhnya Pas...".
Kenyataan spt di atas adalah "analogi paling mudah" yg suka digunakan oleh sbhgn kepimpinan party berlabel Islam itu demi memastikan ahli dan penyokong mereka setia bersama mereka..., walau mungkin ada kalangan mereka itu pada anggapan saya tidak pun terfikir untuk berbohong atau menyesatkan ahli-ahli bawahan mereka. adalah perlakuan secara langsung disebabkan kejahilan atau naifnya kefahaman politik mereka atau "kefahaman jamaah Islam" itu sendiri.
Itu hanyalah contoh yg biasa berlaku, di mana keperluan deception itu sangat mendesak bagi sesetengah kepimpinan parti itu sbg modal pentarbiyyahan kalangan ahli mereka.
[7]. Dan seperti biasa pula, setiap kali sesuatu pembohongan itu ditegur atau dibawakan hujjah benar yg lain, apa yg pasti berlaku adalah "tukang bohong" itu cuba menutup pula dgn pembohongan baru lain demi memastikan matlamat asal indoktrinasi itu terus tercapai. Dan process itulah akan berterusan sehingga seolahnya mereka tidak boleh lagi wujud (tidak boleh survive) tanpa terlaksananya "pembohongan demi pembohongan" dlm setiap program atau perbincanganmencari pengaruh kumpulan itu.
Dan itulah definisi sebenar "indoktrinasi" & deception dlm kajian kamus modern kini.
[8]. Cuma bagi ahli atau penyokong bawahan pula, penghalang utama utk mereka dan pengikut pengikut bawahan bagi menerima kebenaran adalah kerana perasaan "yakin yg keterlaluan" (tsiqah sgt tinggi) yg terbina pada susuk seseorg ketua atau pemimpin kumpulan tersebut, yg akhirnya menjadikan apa pun jua teguran atau bantahan terhadap ketua itu akan langsung diabai atau tidak diendahkan. Bahkan dianggap sbg serangan atau fitnah pula!
[9]. Begitulah pada Syiah, apabila susuk Ayatullah atau keputusan 12 Imam mereka itu sudah dianggap menghampiri maksum yg haram dibantah atau dipertikaikan, melainkan hanya wajib ditaati secara total oleh semua.
Dan sekarang;
Apa yg berlaku di hadapan kita, indoktrinasi atas nama agama inilah terjadi pada Pas dan kepimpinannya kini, termasuklah contoh terbaru pada dua ucapan Presiden Pas tersebut!
[10]. Bagi ahli bawahan, setiap kali ucapan Dato' Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang (dipanggil mereka sbg Ayah Cik, atau Tok Guru etc), mereka hanya dilatih hanya utk dengar dan patuh sahaja. Tak patut wujudnya elemen bertanya, pertikai, atau cubaan menegur sekalipun tahu ianya salah dan melanggar perjanjian dan hukum-hakam agama. Kerana tindakan menegur atau mempertikaikan itu akan membawa kepada tuduhan khianat atau menderhaka pada jamaah Islam, atau lebih tragis disebut sbg "munafiq haraki"!
[11]. Dan disitulah lahir salah guna istilah yg paling mudah dan gemar oleh kepimpinan Pas iaitu "mesti walak" (daripada perkataan mulia "wali" dlm Al-Quran) yg disalahertikan sbg kepatuhan total dan totok hanya pada Presiden party semata. Hatta kini terbinalah pula terma balas "walaun" (atau kumpulan walak total) yg merujuk sikap kepimpinan atau ahli Pas yg sanggup berlaku apa pun sahaja demi pertahankan ketua dan pemimpin tanpa berani pun berhujjah balas dgn baik. Ikhwah, sahabat seperjuangan yg dirahmati;
[12]. Dan jika kita rujuk pada awal video yg dikongsikan di bawah, saya yakin bahawa kenyataan dlm ceramah Presiden Pas pada petugas pilhanraya Pas itu hanyalah bertujuan mengajak ahli terus bekerja kuat utk PAS atas alasan pembahagian kerusi antara Umno dan Pas telah berjaya dilakukan dan sgt menguntungkan Pas apabila 5 negeri dipersetujui kepunyaan Pas, tanpa Umno mengganggu lagi Pas! Pastinya ia kejayaan sgt besar buat Pas. Dan dibanggakan pendengar apabila Pas bakal menjadi Menteri Besar bukan sahaja di Kelantan, tetapi di 4 buah lagi negeri dlm PRU14 kelak!
[13]. Natijahnya ahli yg "percayakan total" pada Presiden Pas dan walak buta itu akan teruja dan bersemangat utk terus bekerja keras, kerana selama ini belum pernah pun Pas berjaya memerintah 5 negeri secara serentak. Barangkali akan ada yg sebut pula sesama mereka "...inilah karamah nya apabila ulamak memimpin, kerana keberkatan Allah turun dan digeruni musuh....". Presiden Pas pula menyebut itu adalah sandaran pada "politik Matang dan Sejahtera" yg dilakukan terhadap Umno kini demi keuntungan Melayu dan Islam...
[14]. Tapi sekali kenyataan itu tersebar, dan ditanyakan langsung oleh media pada Presiden Pas, Hj Hadi Awang hanya memilih untuk berbohong secara terbuka daripada mengiyakan persepsi umum bahawa Pas sedang membuat komplot politik bersama Umno yg cukup dibenci oleh rakyat pada masa ini. Ini kerana bagi Pas, adalah tidak baik pada perkiraan politik mereka utk persekongkolan dgn Umno itu terbocor umum dlm bentuk pengakuan Presiden, kerana kebencian pada Najib Umno/BN itu akan turut memberikan kerugian pada mereka juga, jika kesepakatan 5 negeri itu diakui benar.
Ikhwah yg dirahmati Allah;
Saya / kita memandang sgt serious kejadian "pembohongan atas nama agama" oleh mana-mana pun kepimpinan kumpulan / organisasi berlabel Islam sebegini. Kita cukup takut pelbagai kenangan pahit indoktrinasi agama sesama gerakan Islam yg pernah berlaku di Malaysia zaman 1980/1990an itu berulang kembali.
Saya bawakan kembali beberapa kisah pahit yg saya sendiri lalui sebelum dlm berhadapan dan menegur segelintir sikap pembohongan agama yg, antaranya;
(a) Selepas tertubuhnya Pakatan Rakyat, pada hujung 2009, saya terpaksa mengambil keputusan membuat "laporan tatatertib" pada Pas Pusat terhadap usaha Pas di Selangor pada masa itu yg cuba meruntuhkan perjanjian PR atas pelbagai alasan dan fitnah ditujukan pada PKR / Dap "sebagai anti Islam", dan juga usaha dalaman utk menjatuhkan Menteri Besar pada masa itu. Gambaran dilontarkan bahawa tak salah utk Pas berbuat sedemikian pada Pkr/Dap kerana "kita parti Islam" sedangkan Pkr/Dap itu bukan perjuangkan Islam. Pas katanhya perlu memimpin dan menjadi Menteri Besar di Selangor, kerana itu kehendak Sultan dan rakyat (walau hanya menangi 8 kerusi sahaja!)
Pahitnya, luka dari tindakan itu cukup mendalam. Walau sekalipun Hasan Ali dan Nasharuddin Mad Isa tidak lagi bersama Pas, namun doktrin "parti Islam" vs parti bukan Islam itu terus dimainkan pula oleh ustaz-ustaz muda dan mentah Pas yg cuba bertindak menolak keputusan syura utk Pas terus kekal bersama PR sehinggalah terbubarnya PR pada 6 Jun 2015.
(b) Kedua, bermula 2010 juga, saya pernah menulis berkaitan Mufti Perak yg berkali-kali melontarkan pelbagai pembohongan dalam syarahannya dalam dan luar negara demi menunjukkan betapa bahayanya Dap / PKR dan beliau berkempen utk memastikan bahawa Umno/BN wajib terus dikekalkan dlm PRU13 lepas. Dahshyar sekali cerfcaan ada Tuan Guru Nik Aziz pada masa itu oleh beliau!
(c) Masa polemik itu juga (hingga kini), kami terpaksa berhadapan dgn sebahagian besar kepimpinan utama Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) termasuklah Kepimpinan Pusat mereka, Ust Abdullah Zaik, Ketua Wanita dan Ketua Majlis Syura ISMA yg dihantar ke pelbagai pgm luar dan dalam negeri utk menyebarkan pelbagai pembohongan politik demi memastikan pelajar tidak memberikan sokongan pada Pas/PR dlm PRU13 lepas. Ahli-ahli ISMA dan penyokong perjuangan Melayu Islam dibentangkan dgn bahan fitnah dan tohmahan terhadap Pas/PR demi menunjukkan betapa bahayanya Dap/Pkr jika menguasai Malaysia dlm PRU13 lepas.
Pernah satu ketika, saya bersemuka langsung dgn Ketua / YDP Majlis Syura ISMA (Ustaz Sharipuddin Ab. Kadir) selepas beliau berbohong hadapan pelajar "... sebenarnya ISMA telah dua tahun menulis utk berjumpa kepimpinan Pas bagi menegur kesalahan tahaaluf Pas dgn Dap/Pkr, tapi Pas tidak menolak dan tidak mahu bertemu dgn kami...".
Saya berhubung dgn kepimpinan Pas, kesemua SU Pas pada masa itu yg kesemua mereka membuat penafian langsung bahawa tidak pernah menerima apa-apa pertanyaan dari ISMA utk berjumpa. Dan akhirnya penafian dibuat sendiri oleh Ustaz Nik Ab Rahim Nik Abdul Aziz (anak TGNA yg juga pimpinan ISMA Kelantan) yg menegaskan bahawa kenyatan Ketua Majlis Syura ISMA itu adalah palsu kerana hakikatnya ISMA tidak pernah pun menulis surat untuk berjumpa Pas, atau berjumpa arwah ayahnya. ISMA katanya hanya bersuara di media utk tidak bersetuju dgn Pas tetapi tidak sanggup berhujjah balas secara berhadapan dgn pimpinan Pas pada masa itu!
Selain itu, saya dan beberapa ikhwah dari JIM/IKRAM pada masa itu terpaksa berhadapan dgn berbelas lagi kes pembohongan yg dibuat atas nama NGO Islam itu demi usaha menarik pelajar kepada NGO mereka demi melonjakkan nama NGO tersebut di dalam dan luar negeri pada masa itu.
(c) Yang ketiga, dlm PRU13, saya lihat tindakan yg jelas pembohongan atau pengkhianatan atas nama agama yg begitu ketara adalah apabila dengan sengaja Presiden Pas sendiri melakukan pertembungan 3 penjaru di Kota Damansara (dan beberap kerusi lain) sehingga PKR kalah satu kerusi DUN di situ.
(d) Dan segala teguran-teguran oleh kepimpin dalaman Pas, Dap/PKR pada masa itu sehinggalah 2015 terus dibalas oleh Presiden Pas dgn pelbagai lagi pembohongan dan pengkhianatan pada janji-janji PR termasuklah dlm kemelut pertukaran MB Selangor oleh PR. Presiden Pas dilihat seolahnya langsung tak berasa salah utk berbohong dlm ucapan dan tindakan sepanjang peristiwa itu, hinggalah PR terbubar pada 2015 atas keputusan yg dilakukan oleh Presiden Pas sendiri!.
Dan itulah sebenarnya cabaran yg kami lalui dalam berhadapan pelbagai kemelut bohong dan indoktrinasi agama yg berlaku tersebut!
Dan itulah juga nilainya yg terpaksa dilalui oleh sebahagian kepimpinan Pas pada masa dulu utk bertindak meninggalkan parti yg lama mereka dokongi itu tidak sanggup lagi bergelumang dgn doktrin pembohongan dan pengkhianatan Presiden parti sendiri pada masa tersebut.
Kesimpulannya;
Berdasarkan video di bawah, antara kupasan yg dapat dilakukan adalah;
(1) Dalam video ucapan Hj Hadi yg pertama, ianya sudah sangat jelas dan terang pembohongan Hj Hadi pada ahlinya adalah bahawa Umno dan Pas telah bersetuju pada pembahagian kerusi untuk saling menguasai hanya beberapa negeri sahaja, tanpa Umno mengganggu 5 Negeri lain yg ditandingi oleh Pas.
(2) Dan dalam video kedua pula, apabila ucapan pertama Hj Hadi itu telah terbongkar, atau mungkin Hj Hadi langsung tidak sedari ia telah menjadi viral, beliau memilih utk berbohong di hadapan media, kerana jika pengakuan dilakukan, ianya pastinya bakal disanggah oleh ahli dan kepimpinan Umno sendiri,
(3) Dan ketiga, sikap "walak buta" yg paling jelas berlaku adalah, tiada siapa pun yg berani menegur pembohongan Presiden Pas atau dikenali sbg ulamak dunia yg sgt mereka yakini itu. Termasuklah Setiausaha Politik (Dr Samsuri) dan Nik Abduh yg berada disebelahnya hanya tunduk membiarkan sahaja perlakuan bohong itu berlalu tanpa rasa bersalah atau atau cuba diperbetulkan.
Dan kesemua itulah conoh jelas pada ciri-ciri positif "kejayaan sesebuah indoktrinasi agama" yg sedang berlaku dlm gerakan berlabel Islam pada masa ini.
Bersaksilah Allah aku telah berkata kebenaran ini, walau ianya pahit.
W'alam
Ahmad Sayuti Bashiron | Shah Alam 19 Mac 2017

Isnin, Mac 06, 2017

Adakah RUU355 itu HUDUD?

Akta 355 adalah suatu akta untuk memberi bidang kuasa jenayah kepada mahkamah yang ditubuhkan bawah mana-mana undang-undang negeri bagi maksud membicarakan kesalahan jenayah bawah Enakmen Kesalahan Jenayah Syariah.
Akta ini mula-mula dikanunkan pada tahun 1965 dan waktu itu, ia dikenali sebagai Akta Mahkamah Syariah (Bidang Kuasa Jenayah) 1965.

Hukuman yang tersenarai dalam akta ini ialah denda RM1,000 dan penjara 6 bulan.
Pindaan yang pertama dilaksanakan pada tahun 1984 [yang dinamakan Akta Mahkamah Syariah (Bidang Kuasa Jenayah) (Pindaan) 1984], untuk meluaskan lagi kuasa menghukum Mahkamah Syariah kepada tiga tahun penjara, RM5,000 denda dan enam kali sebatan.
Selepas itu, akta ini dipinda lagi pada tahun 1989 untuk diluaskan ke Sabah dan Sarawak [dinamakan sebagai Akta Mahkamah Syariah (Bidang Kuasa Jenayah (Pindaan dan Perluasan) 1989].
Pindaan terakhir berlaku pada tahun 1997, tetapi pada tafsiran sahaja, dan ia digelar Akta Tafsiran (Pindaan) 1997.
Kesemua pindaan bermula tahun 1984, 1989 dan 1997 diusulkan oleh pihak kerajaan.
Manakala, buat kali pertama pindaan pada tahun 2016 baru-baru ini dibawa secara usul persendirian oleh yang berhormat anggota parlimen Marang yang bertujuan untuk meluaskan lagi bidang kuasa hukuman yang dibenarkan oleh Mahkamah Syariah, kecuali hukuman mati.

9 Perbezaan antara Undang-undang Jenayah Islam dan Undang-undang Jenayah Sivil




Undang-undang jenayah Islam mempunyai kelebihan tersendiri berbanding undang-undang jenayah sivil yang kebanyakannya datang dari negara Barat. Di Malaysia umpamanya undang-undang jenayah kebanyakannya diperuntukkan di dalam Kanun Keseksaan (Akta 574) yang diceduk dari Kanun Keseksaan India. Kanun Keseksaan India ini adalah sebenarnya berasal dari kaedah-kaedah perundangan Common Law England yang dikumpulkan dan ditulis dalam bentuk akta atau Kanun. Selain Kanun Keseksaan, undang-undang jenayah juga terdapat dalam akta-akta tertentu seperti Akta Dadah Berbahaya, Akta Kastam 1967, Akta Pencegahan Rasuah 1997, Akta Keselamatan Dalam Negeri 1957, Akta Rahsia Rasmi 1983 dan lain-lain. Sementara prosedur jenayah pula diperuntukkan dalam Kanun Prosedur Jenayah (NMB. Bab 6), Akta Keterangan dan akta-akta berkaitan mahkamah.


Oleh kerana sumber kedua-dua undang-undang ini adalah berbeza maka terdapat beberapa perbezaan di antara undang-undang jenayah Islam dan undang-undang jenayah sivil. Antara perbezaan di antara undang-undang jenayah Islam dan undang-undang jenayah sivil adalah:

  1. Undang-undang Islam adalah dari Allah sedangkan undang-undang sivil adalah ciptaan manusia. Allah yang memiliki segala sifat kesempurnaan tentunya membuat undang-undang yang terbaik dan paling sesuai untuk manusia. Bahkan manusia ini adalah ciptaan Allah, maka Allah tentu Maha Mengetahui apakah undang-undang jenayah yang sesuai dengan fitrah manusia. Undang-undang ciptaan manusia terdedah dengan seribu satu kelemahan kerana ilmu dan kebolehan manusia adalah terhad. Tambahan pula manusia sentiasa terpengaruh dengan keadaan persekitaran, latar belakang keluarga, pendidikan, dorongan nafsu dan hasutan syaitan. Kerana itulah undang-undang manusia sentasa berubah umpamanya dahulu homoseksual dianggap sebagai satu jenayah, tetapi hari ini ia tidak lagi dianggap satu kesalahan, bahkan ia diangkat sebagai satu amalan yang sah melalui perkahwinan seperti yang diamalkan di negara-negara tertentu.