Selasa, Mac 18, 2008

Kisah Dzulqarnain dalam Al-Quran


Kisah Dzulqarnain telah diterangkan Al-Qur`an secara panjang lebar dalam Surat Al-Kahfi ayat 83-99. Berikut adalah penjelasannya.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا. إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي اْلأَرْضِ وَءَاتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا. فَأَتْبَعَ سَبَبًا. حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا قُلْنَا يَاذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا. قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا. وَأَمَّا مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’ Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’ Berkata Dzulqarnain: ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’.” (Al-Kahfi: 83-88)

Dahulu, ahli kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kisah Dzulqarnain. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengatakan:

سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا
“Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.”

Cerita yang mengandung berita yang memberi kecukupan dan pembicaraan yang mengagumkan. Maksudnya, aku akan bacakan kepada kalian tentang Dzulqarnain, yang bisa menjadi ibrah (pelajaran). Adapun hal-hal lain yang tidak menjadi pelajaran, beliau tidak membacakannya kepada mereka.

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي اْلأَرْضِ
“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi.”

Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kekuasaan dan memantapkan pengaruhnya di segenap penjuru bumi, dan ketundukan mereka kepadanya.

وَءَاتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا. فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan.”

Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebab-sebab (sarana) yang menyampaikan kepada kedudukan yang dicapainya itu. Sarana-sarana itu membantunya untuk menaklukkan berbagai negeri, memudahkannya mencapai tempat-tempat yang paling jauh yang dihuni manusia. Dia menggunakan sarana-sarana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan itu, sesuai dengan fungsinya. Karena tidak setiap orang yang mempunyai sebuah sarana, kemudian dia (mau) menjalaninya. Dan tidak setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjalani sebab itu. Sehingga, ketika terkumpul antara kemampuan untuk menjalani sebab yang hakiki dan (kemauan) menjalaninya, tercapailah tujuan. Dan bila keduanya (kemampuan dan kemauan) atau salah satunya tidak ada, maka tujuan tidak akan tercapai.

Sarana-sarana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Dzulqarnain tidak diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Tidak pula berita-berita itu dinukilkan para ahli sejarah kepada kita dengan penukilan yang meyakinkan. Maka, tidak ada yang pantas bagi kita kecuali diam serta tidak melihat pada apa yang disebutkan para penukil kisah Israiliyat dan yang semacamnya. Hanya saja kita tahu secara global bahwa sebab-sebab tersebut kuat dan banyak, baik sebab internal maupun eksternal. Dengan sebab-sebab itu, dia mempunyai pasukan yang besar, banyak personil dan perlengkapannya, serta diatur dengan baik. Dengan pasukan tersebut, dia mampu mengalahkan musuh-musuh, memudahkannya untuk sampai ke belahan timur, barat maupun segenap penjuru bumi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebab kepadanya yang mengantarkannya sampai ke tempat terbenamnya matahari, hingga dia melihat matahari dengan mata kepala seakan-akan matahari itu tenggelam di lautan yang hitam. Dan ini biasa bagi orang yang hanya ada air (lautan) antara dia dan ufuk terbenamnya matahari. Dia melihat bahwa matahari tenggelam ke dalam laut itu, meskipun dia berada pada puncak ketinggian.

Di sana, yakni di tempat terbenamnya matahari tersebut, Dzulqarnain menemukan sekelompok manusia.

قُلْنَا يَاذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا
“Kami berkata: ‘Hai Dulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’”

Yakni, engkau bisa mengadzab mereka dengan pembunuhan, pukulan, atau menawan mereka dan semacamnya. Atau engkau berbuat baik kepada mereka. Dzulqarnain diberi dua pilihan, karena –yang nampak– kaum itu adalah orang kafir atau fasik, atau mereka memiliki sebagian sifat-sifat tersebut. Karena bila mereka adalah kaum yang beriman bukan orang fasik, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan keringanan bagi Dzulqarnain untuk mengadzab mereka. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain memiliki as-siyasah asy-syar’iyyah yang menjadikannya berhak dipuji dan disanjung, karena taufiq yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya. Dia lalu berkata: “Aku akan menjadikan mereka dua bagian:

أَمَّا مَنْ ظَلَمَ
“Adapun orang yang aniaya.” Yakni kafir.

فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا
“Maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya.” Yakni, orang yang aniaya akan mendapatkan dua hukuman, hukuman di dunia dan di akhirat.

وَأَمَّا مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى
“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan.” Yakni sebagai balasannya, dia akan mendapatkan surga kedudukan yang baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.

وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا
“Dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”
Yakni, kami akan berbuat baik kepadanya, berlemah lembut dalam tutur kata, dan kami permudah muamalah baginya. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain termasuk raja yang shalih, wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang adil lagi berilmu, di mana dia menepati keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukannya.

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا. حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا. كَذَلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا. ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا. حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لاَ يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلاً. قَالُوا يَاذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي اْلأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا. قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا. آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا. فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا. قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
“Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila telah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar’.” (Al-Kahfi: 89-98)

Maksudnya, Dzulqarnain mendapati matahari terbit di atas komunitas manusia yang tidak memiliki pelindung dari sinar matahari. Bisa jadi karena mereka tidak menyiapkan tempat tinggal, karena mereka masih liar, tidak beradab, dan nomaden. Atau bisa juga karena matahari selalu berada di atas mereka, tidak pernah tenggelam. Sebagaimana hal ini terjadi di wilayah Afrika Timur bagian selatan. Dzulqarnain telah sampai kepada suatu tempat yang belum pernah diketahui penduduk bumi, terlebih pernah mereka datangi (secara fisik) dengan tubuh mereka. Namun demikian, ini semua terjadi dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala atas Dzulqarnain dan pengetahuannya terhadap hal itu. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَذَلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا
“Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.” (Al-Kahfi: 91)

Maksudnya, Kami mengetahui kebaikan dan sebab-sebab agung yang ada padanya, dan ilmu Kami bersamanya, kemanapun ia menuju dan berjalan.

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا. حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لاَ يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلاً
“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan keduanya suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.” (Al-Kahfi: 92-93)

Para ahli tafsir berkata: Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju ke utara. Sampailah dia di antara dua dinding penghalang. Kedua dinding penghalang itu adalah rantai pegunungan yang dikenal pada masa itu, yang menjadi penghalang antara Ya`juj dan Ma`juj dengan manusia. Di hadapan kedua gunung itu, dia menemukan suatu kaum yang hampir-hampir tidak bisa memahami pembicaraan, karena asingnya bahasa mereka dan tidak cakapnya akal dan hati mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah yang dengannya bahasa kaum itu menjadi bisa dipahami dan dia memahamkan mereka. Dia bisa berbicara kepada mereka dan mereka bisa berbicara kepadanya. Mereka kemudian mengeluhkan kejahatan Ya`juj dan Ma`juj kepada Dzulqarnain. Mereka merupakan dua umat yang besar dari keturunan Adam ‘alaihissalam.

Kaum itu berkata:

إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي اْلأَرْضِ
“Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Kahfi: 94)

yaitu dengan melakukan pembunuhan, perampokan, dan lain-lain.

فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا
“Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu....” (Al-Kahfi: 94)
maksudnya upah.

عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
“Supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al-Kahfi: 94)

Hal ini menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk membangun dinding penghalang, dan mereka mengetahui kemampuan Dzulqarnain untuk membangunnya. Mereka pun memberikan upah kepadanya untuk melakukannya. Mereka menyebutkan sebab yang mendorong hal itu, yaitu perusakan Ya`juj dan Ma`juj di bumi. Dzulqarnain bukanlah orang yang tamak, dia tidak memiliki keinginan terhadap harta dunia. Namun dia juga tidak meninggalkan perbaikan keadaan rakyat. Bahkan tujuannya adalah perbaikan. Sehingga dia memenuhi permintaan mereka karena kemaslahatan yang terkandung di dalamnya. Dia tidak mengambil upah dari mereka. Dia bersyukur kepada Rabbnya atas kekokohan dan kemampuannya. Dzulqarnain berkata kepada mereka:

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ
“Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku adalah lebih baik.” (Al-Kahfi: 95)
Maksudnya, lebih baik daripada apa yang kalian berikan kepadaku. Aku hanyalah meminta kalian untuk membantuku dengan kekuatan tangan-tangan kalian.

أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
“Agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi: 95)
Yakni sebagai penghalang agar mereka tidak melintasi kalian.

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ
“Berilah aku potongan-potongan besi.” (Al-Kahfi: 96)
Merekapun memberinya.

حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ
“Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu.” (Al-Kahfi: 96)
yaitu dua gunung yang antara keduanya dibangun penghalang.

قَالَ انْفُخُوا
“Berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu)’.” (Al-Kahfi: 96)

Maksudnya, nyalakanlah dengan nyala yang besar. Gunakanlah alat tiup agar nyalanya membesar, sehingga tembaga itu meleleh. Tatkala tembaga itu meleleh, yang hendak dia tuangkan di antara potongan-potongan besi,

آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا
“Berilah aku tembaga agar kutuangkan ke atas besi panas itu.” (Al-Kahfi: 96)

Maksudnya, tembaga yang mendidih. Aku tuangkan tembaga yang meleleh ke atasnya. Maka dinding penghalang itu menjadi luar biasa kokoh. Terhalangilah manusia yang berada di belakangnya dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj.

فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا
“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.” (Al-Kahfi: 97)

Maksudnya, mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mendakinya karena tingginya penghalang itu. Tidak pula mereka bisa melubanginya karena kekokohan dan kekuatannya. Setelah melakukan perbuatan baik dan pengaruh yang mulia, Dzulqarnain menyandarkan nikmat itu kepada Pemiliknya. Dia berkata:

هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي
“Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku.” (Al-Kahfi: 98)

Maksudnya, merupakan karunia dan kebaikan-Nya terhadapku. Inilah keadaan para khalifah yang shalih. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat-nikmat yang mulia kepada mereka, bertambahlah syukur, penetapan, dan pengakuan mereka akan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana ucapan Sulaiman ‘alaihissalam ketika singgasana Ratu Saba` tiba di hadapannya dari jarak yang sedemikian jauh:

قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya.” (An-Naml: 40)

Ini berbeda dengan orang yang congkak, sombong, dan merasa tinggi di muka bumi. Nikmat-nikmat yang besar menjadikan mereka bertambah congkak dan sombong. Sebagaimana ucapan Qarun ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya perbendaharaan yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Dia berkata:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78)

Ucapan Dzulqarnain:

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
“Maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.” (Al-Kahfi: 98)
Maksudnya, waktu keluarnya Ya`juj dan Ma`juj.
جَعَلَهُ
“Dia akan menjadikannya....” (Al-Kahfi: 98)
Maksudnya, menjadikan dinding penghalang yang kuat dan kokoh itu ﭜﭝ (hancur luluh), dan runtuh. Ratalah dinding itu dengan tanah.

وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
“Dan janji Rabbku itu adalah benar.” (Al-Kahfi: 98)

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ
“Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain.” (Al-Kahfi: 99)
Bisa jadi dhamir (kata ganti mereka) kembali kepada Ya`juj dan Ma`juj –ketika mereka keluar kepada manusia– karena banyaknya jumlah mereka dan meliputi seluruh permukaan bumi, sehingga mereka berbaur satu sama lain. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al-Anbiya`: 96)

Bisa juga kata ganti tersebut kembali kepada seluruh makhluk pada hari kiamat. Mereka berkumpul pada hari itu dalam keadaan banyak sehingga bercampur-aduk antara satu dengan yang lain....”
(Diambil dari Taisir Al-Karimirrahman karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah, hal. 486-487)

Dzulqarnain (Iskandar Zulkarnain) bukan Alexander The Great

Selama ini banyak disalahpahami bahwa Dzulqarnain adalah Alexander Agung atau Alexander The Great, seorang penakluk asal Macedonia. Padahal yang dimaksud Al-Qur’an, Dzulqarnain adalah seorang shalih yang hidup di masa Nabi Ibrahim q, bukan seorang kafir yang merupakan anak didik filosof Yunani, Aristoteles. Berikut ini kami nukilkan penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Fathul Bari tentang Dzulqarnain.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu membawakan kisah Dzulqarnain dalam Kitabul Fitan bab Qishshatu Ya`juj wa Ma`juj dalam Shahih-nya, sebelum bab Qaulullah ta’ala Wattakhadza Ibrahima Khalilan. Hal ini merupakan isyarat untuk melemahkan pendapat yang mengatakan bahwa Dzulqarnain yang disebut dalam Al-Qur`an adalah Iskandar Al-Yunani (Alexander Agung1). Karena Iskandar2 Al-Yunani hidup pada masa yang berdekatan dengan zaman Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Padahal perbedaan masa antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi ‘Isa lebih dari 2.000 tahun. Dan yang nampak, Iskandar yang akhir ini dijuluki Dzulqarnain juga untuk menyamakannya dengan Iskandar yang pertama, dari sisi luasnya kerajaan dan kekuasaannya atas banyak negeri. Atau, ketika Iskandar yang kedua ini menaklukkan Persia serta membunuh raja mereka, maka dua kerajaan yang luas –Persia dan Romawi– berada di bawah kekuasaannya, sehingga dia dijuluki dengan Dzulqarnain (yang memiliki dua tanduk).

Dan yang benar, Dzulqarnain yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan kisahnya dalam Al-Qur`an adalah yang pertama. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari beberapa sisi:

1. Hal yang telah saya sebutkan di atas (yaitu perbedaan masa).
Yang menunjukkan bahwa Dzulqarnain lebih dahulu masanya (daripada Alexander) adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Fakihi dari jalan ‘Ubaid bin ‘Umair –seorang tabi’in kibar (senior)– bahwa Dzulqarnain menunaikan haji dengan berjalan kaki. Hal ini kemudian didengar oleh Ibrahim ‘alaihissalam, sehingga beliau menemuinya.

Juga yang diriwayatkan dari jalan ‘Atha` dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Dzulqarnain masuk ke Masjidil Haram lalu mengucapkan salam kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan menjabat tangan beliau. Dan dikatakan bahwa dialah orang yang pertama kali melakukan jabat tangan.

Juga dari jalan ‘Utsman bin Saj bahwasanya Dzulqarnain meminta kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk mendoakannya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lalu menjawab: “Bagaimana mungkin, sedangkan kalian telah merusak sumurku?” Dzulqarnain berkata: “Itu terjadi di luar perintahku.” Maksudnya, sebagian pasukannya melakukannya tanpa sepengetahuannya.
Ibnu Hisyam menyebutkan dalam At-Tijan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berhukum kepada Dzulqarnain pada suatu perkara, maka dia pun menghukumi perkara itu.

Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari jalan Ali bin Ahmad bahwa Dzulqarnain datang ke Makkah serta mendapati Ibrahim dan Ismail ‘alaihissalam sedang membangun Ka’bah. Dia kemudian bertanya kepada mereka berdua. (Nabi Ibrahim menjawab): “Kami adalah dua orang hamba yang diperintah.” Dzulqarnain bertanya: “Siapa yang menjadi saksi bagi kalian?” Maka berdirilah lima akbasy dan bersaksi. Dzulqarnain lalu berkata: “Kalian telah benar.” Dia (Ali bin Ahmad) berkata: “Aku kira, akbasy yang disebutkan itu adalah bebatuan, dan mungkin saja berupa kambing.”

Riwayat-riwayat ini saling menguatkan satu sama lain.

2. Al-Fakhrurrazi dalam tafsirnya berkata: “Dzulqarnain adalah seorang nabi, sedangkan Iskandar (yang kedua) adalah seorang kafir. Gurunya adalah Aristoteles, dan Iskandar memerintah (negerinya) dengan perintah Aristoteles, yang tidak diragukan lagi merupakan orang kafir.”

Dan akan saya sebutkan pembahasan apakah dia seorang nabi atau bukan.

3. Dzulqarnain adalah orang Arab, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Adapun Iskandar adalah orang Yunani. Bangsa Arab seluruhnya merupakan keturunan Sam bin Nuh, menurut kesepakatan (ulama), meskipun terjadi perbedaan pendapat apakah mereka semua dari keturunan Ismail atau bukan. Adapun bangsa Yunani adalah keturunan Yafits bin Nuh menurut pendapat yang kuat. Sehingga keduanya adalah orang yang berbeda.

Syubhat bagi yang mengatakan bahwa Dzulqarnain adalah Iskandar, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan Muhammad bin Rabi’ Al-Jaizi dalam kitab Ash-Shahabah Alladzina Nazalu Mishr, dengan sanad yang di dalamnya ada Ibnu Lahi’ah, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dzulqarnain. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Dia dari Romawi, lalu dia diberi anugerah kerajaan hingga ke Mesir. Dialah yang membangun kota Iskandariyah (Alexandria). Setelah selesai, seorang malaikat mendatanginya dan mengangkatnya ke langit dan berkata: ‘Lihat apa yang ada di bawahmu.’ Dia menjawab: ‘Aku hanya melihat sebuah kota.’ Malaikat itu berkata: ‘Itu adalah bumi seluruhnya. Hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin memperlihatkan kepadamu. Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kekuasaan untukmu di bumi. Maka lakukanlah perjalanan dan ajarilah orang yang tidak tahu, perkokohlah orang yang berilmu’.”

Bila saja riwayat ini shahih, akan hilanglah perselisihan dalam hal ini. Namun riwayat ini lemah, wallahu a’lam.

Dzulqarnain Seorang Nabi?

Ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang nabi sebagaimana yang telah lalu. Hal ini diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dan ini merupakan hal yang zhahir dari Al-Qur`an.

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tidak tahu, Dzulqarnain itu nabi atau bukan.”

Wahb menyebutkan dalam Al-Mubtada` bahwa Dzulqarnain adalah seorang hamba yang shalih yang diutus kepada empat umat, dua umat terletak di antara panjang bumi, sedangkan dua umat yang lain terletak di antara lebar bumi. Umat tersebut adalah Nasik dan Munsik serta Ta`wil dan Hawil. Kemudian Wahb menyebutkan kisah yang panjang yang dibawakan Ats-Tsa’labi dalam tafsirnya.

Az-Zubair menyebutkan pada permulaan kitab An-Nasab: Ibrahim ibnul Mundzir menceritakan kepada kami, dari Abdul Aziz bin ‘Imran, dari Hisyam bin Sa’d, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Al-Qasim bin Abi Bazzah dari Abu Thufail, dia berkata: Aku mendengar Ibnul Kawwa berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Kabarkan kepadaku, siapakah Dzulqarnain itu?” ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Dia adalah seorang yang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mencintainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya kepada kaumnya, lalu mereka memukul qarn (tanduk) nya sekali pukul yang menyebabkan kematiannya. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya kembali kepada mereka, namun mereka kembali memukul qarn (tanduk) nya sekali pukul yang menyebabkan kematiannya. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bangkitkan dia, sehingga dia dinamakan Dzulqarnain (yang memiliki dua tanduk).”

Namun Abdul ‘Aziz (salah seorang periwayat) dha’if, tetapi periwayatannya dari Abu Thufail ini ada mutaba’ah (pendukung)-nya. Diriwayatkan yang semisal ini oleh Sufyan bin Uyainah dalam Jami’-nya dari Ibnu Abi Husain, dari Abu Thufail, dengan tambahan: “Dia tulus kepada Allah l, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun tulus kepadanya.” Di dalamnya juga disebutkan: “Dia bukanlah seorang nabi ataupun malaikat.” Sanad riwayat ini shahih, kami mendengarnya dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarah karya Al-Hafizh Adh-Dhiya`.

Dalam riwayat di atas terdapat kejanggalan, di mana disebutkan: “Dia bukanlah seorang nabi”, yang berlainan dengan ucapan beliau, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya kepada kaumnya.” Kecuali bila pengutusan yang dimaksud bukanlah sebagai nabi.

Dikatakan juga bahwa dia adalah seorang raja, dan ini pendapat kebanyakan ulama. Dan telah berlalu hadits Ali yang mengisyaratkan hal ini.

Nama Dzulqarnain

Para ulama berbeda pendapat tentang namanya.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, juga diriwayatkan Az-Zubair dalam Kitabun Nasab, dari Ibrahim ibnul Mundzir dari Abdul ‘Aziz bin ‘Imran dari Ibrahim bin Ismail bin Abi Habibah dari Dawud ibnul Hushain dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Dzulqarnain adalah Abdullah bin Adh-Dhahhak bin Ma’d bin ‘Adnan.” Namun sanad riwayat ini lemah sekali, karena Abdul ‘Aziz dan gurunya (yakni Ibrahim bin Isma’il) dhaif. Riwayat ini juga berbeda dengan apa yang telah lewat bahwasanya Dzulqarnain hidup pada zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bagaimana mungkin dia menjadi keturunannya? Terlebih lagi bila menurut pendapat yang menyatakan bahwa antara ‘Adnan dan Ibrahim ada 40 generasi atau lebih.

Dikatakan juga bahwa namanya adalah Ash-Sha’b, dan ini yang dipastikan oleh Ka’b Al-Ahbar. Pendapat ini juga disebutkan Ibnu Hisyam dalam At-Tijan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Abu Ja’far bin Habib rahimahullahu berkata dalam kitab Al-Muhbar: “Namanya adalah Al-Mundzir bin Abil Qais, salah seorang raja Al-Hairah. Ibunya adalah Ma`u As-Sama`, Mawiyah bintu ‘Auf bin Jusyam. Beliau berkata juga: “Dikatakan juga bahwa namanya adalah Ash-Sha’b bin Qarn bin Hammal, salah seorang raja Himyar.”

Ath-Thabari rahimahullahu menyatakan: “Namanya Iskandarus bin Philipus. Ada juga yang mengatakan Philipus. Dan Al-Mas’udi memastikan nama yang kedua.”

Al-Hamdani menyebutkan dalam kitab-kitab nasab bahwa namanya Hamyasa’, dan kunyahnya adalah Abu Ash-Sha’b. Dia adalah (Hamyasa’) bin ‘Amr bin ‘Uraib bin Zaid bin Kahlan bin Saba`. Dikatakan juga dia adalah (Hamyasa’) bin Abdullah bin Qarin bin Manshur bin Abdullah ibnul Azd.

Adapun pendapat Ibnu Ishaq yang dibawakan Ibnu Hisyam, namanya adalah Marzaban bin Mardiyah atau Marziyah. Ibnu Ishaq menyatakan dengan jelas bahwa Dzulqarnain adalah Iskandar. Oleh karena itulah pendapat ini masyhur di antara lisan manusia, karena kemasyhuran kitab As-Sirah karya Ibnu Ishaq.

Namun As-Suhaili menyatakan: “Yang nampak dari ilmu periwayatan bahwa keduanya (Dzulqarnain dan Iskandar) adalah dua orang yang berbeda. Salah seorang (yakni Dzulqarnain) hidup sezaman dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan disebutkan bahwa Ibrahim berhukum kepadanya dalam masalah sumur As-Sab’u di Syam, yang kemudian Dzulqarnain menghukuminya sebagai milik Ibrahim. Adapun yang lain (yakni Iskandar) hidup berdekatan dengan zaman Nabi Isa ‘alaihissalam.”

Aku (Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu) berkata: “Yang lebih benar, bahwa yang disebutkan kisahnya dalam Al-Qur`an adalah yang pertama (yakni Dzulqarnain). Dalilnya adalah hadits yang disebutkan (Al-Bukhari rahimahullahu) tentang kisah Khidhir yang disebutkan dalam kisah Nabi Musa ‘alaihissalam, bahwa dia berada pada pendahuluan sebelum munculnya Dzulqarnain. Sedangkan kisah Khidhir dengan Musa adalah sesuatu yang pasti, dan Musa ‘alaihissalam –dipastikan– hidup sebelum ‘Isa ‘alaihissalam.”
(Diterjemahkan dengan beberapa perubahan dari Fathul Bari, 6/428-430, cet. Darul Hadits)

1 Kami menggunakan kata Agung bukan dengan maksud mengagungkannya, namun karena nama Alexander (Agung) ini telah kental sebagai istilah sejarah. -red.
2 Nama Dzulqarnain sendiri dalam Al-Qur’an dan hadits, tidak disebutkan sebagai Iskandar Dzulqarnain (dengan tambahan Iskandar). Sehingga tidak ada dasarnya sama sekali, jika kemudian beranggapan bahwa Dzulqarnain=Alexander karena sekedar berdalil bahwa Iskandar merupakan Arabisasi dari kata Alexander. (red.)
3 Tampaknya beliau memang berpendapat bahwa Dzulqarnain yang dimaksud adalah Alexander karena beliau salah satu ulama yang meriwayatkan hadits dhaif tentang Alexander sebagaimana telah disebut sebelumnya. Wallahu a’lam.

Mengenal Sifat Yahudi dan Nashara

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِيْنَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Ma`idah: 82)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

لَتَجِدَنَّ
“Sesungguhnya kamu dapati”. Huruf lam yang terdapat pada awal kata ini sebagai jawaban dari sumpah, yang memberi faedah penekanan atas kalimat tersebut. Demikian pula nun pada akhir kata yang di-tasydid, memberi penekanan yang sangat kuat akan kebenaran berita yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قِسِّيْسِيْنَ
Bentuk jamak dari qissis, yang berasal dari kata qassa, yang berarti mencari sesuatu dan menelitinya. Al-Qissis maknanya adalah seorang alim. Adapun dalam ayat ini, yang dimaksud adalah orang-orang yang mengikuti para ulama dan ahli ibadah. Adapun bentuk jamak qissis dalam bentuk jamak taksir adalah qasawisah (قَسَاوِسَة). Lafadz ini ada kemungkinan berasal dari bahasa Arab yang asli dan ada kemungkinan pula berasal dari bahasa Romawi di mana kemudian orang Arab menyerapnya sehingga menjadi bahasa mereka. Sebab dalam Al-Qur`an tidak ada bahasa lain kecuali bahasa Arab. (lihat Tafsir Al-Qurthubi)

وَرُهْبَانًا
Bentuk jamak dari rahib, yang berarti ahli ibadah. Tarahhub berarti beribadah di kuil peribadatan. (lihat Tafsir Al-Qurthubi dan Tafsir Al-Alusi)

Penjelasan Makna Ayat

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau –wahai Muhammad– pasti akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang membenarkanmu, mengikutimu, dan membenarkan apa yang engkau bawa kepada pemeluk Islam, adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, para penyembah berhala yang menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai sesembahan yang mereka sembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan engkau mendapati orang yang paling dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman yang membenarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah orang-orang yang mengatakan: ‘Kami adalah Nashara’, sebab di antara mereka ada yang mengikuti para ulama dan ahli ibadah, dan mereka tidak menyombongkan diri dari menerima kebenaran dan mengikutinya, serta tunduk kepadanya”. (Tafsir At-Thabari)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman untuk menjelaskan salah satu dari dua kelompok yang paling dekat dengan kaum muslimin dalam sikap loyal dan kecintaan mereka, dan kelompok yang paling jauh dari mereka: “Engkau pasti mendapati bahwa manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”.

Dua kelompok ini adalah manusia yang paling keras permusuhannya secara mutlak terhadap Islam dan kaum muslimin serta yang paling sering mendatangkan kemudaratan bagi mereka, disebabkan sikap kesombongan, dengki, menentang dan kekufuran mereka.

Dan “Engkau pasti mendapati bahwa manusia yang paling dekat kecintaannya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: ‘Kami adalah Nashara’.” Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa sebab tentang hal itu. Antara lain, adanya para ulama yang zuhud dan para ahli ibadah di kuil-kuil peribadatan mereka.

Ilmu yang dibarengi sifat zuhud dan semangat ibadah merupakan perkara yang melembutkan hati dan meluluhkannya, serta menghilangkan sikap kasar dan keras. Oleh karenanya tidak ditemukan pada mereka sikap keras orang Yahudi dan kekasaran orang-orang musyrikin.
Dan di antaranya pula bahwa mereka tidak menyombongkan diri. Tidak terdapat pada mereka kesombongan dan congkak dari mengikuti kebenaran. Hal tersebut menyebabkan dekatnya mereka kepada kaum muslimin dan menimbulkan rasa cinta. Karena orang yang bersikap tawadhu’ (merendah diri) itu lebih dekat kepada kebaikan daripada orang yang sombong. (Taisir Al-Karimirrahman)

Dan pada ayat yang setelahnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang kelunakan hati mereka untuk menerima kebenaran yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُوْلِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِيْنَ
“Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mengucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur`an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata: “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi) atas kebenaran Al-Qur`an dan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Al-Ma`idah: 83)

Siapakah Nashara yang Dimaksud Ayat Ini?

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang siapa yang dimaksud dengan kaum Nashara yang tersebut di dalam ayat ini.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa mereka adalah Raja Najasyi dan para sahabatnya yang telah masuk Islam, tatkala kaum muslimin berhijrah pertama kali ke Habasyah dalam rangka menghindari gangguan kaum musyrikin. Ini merupakan pendapat Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ibnu ‘Abbas, As-Suddi, dan yang lainnya.

Ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang beriman kepada syariat Nabi Isa ‘alaihissalam, yang setelah diutusnya Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka lalu beriman dan mengikuti beliau. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Qatadah. Ia berkata: “Mereka adalah beberapa orang dari kalangan ahli kitab yang dahulu berada di atas syariat yang benar yang dibawa oleh Isa ‘alaihissalam. Mereka beriman dan merujuk kepadanya. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi-nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka membenarkan dan mengimaninya, serta meyakini bahwa apa yang beliau bawa adalah kebenaran, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memuji mereka.” (Tafsir Ath-Thabari)

Namun At-Thabari rahimahullahu menguatkan bahwa ayat ini bersifat umum, meliputi setiap kaum Nashara yang luluh hatinya setelah sampai kebenaran kepadanya. Beliau mengatakan:
“Pendapat yang benar menurutku dalam hal ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat satu kaum yang mereka mengatakan: ‘Kami adalah Nashara, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati mereka sebagai manusia yang paling dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dan Allah tidak menyebut nama-nama mereka. Sehingga ada kemungkinan yang dimaksud adalah para pengikut Najasyi, dan ada kemungkinan pula yang dimaksud adalah satu kaum yang mereka dahulu di atas syariat ‘Isa, lalu mereka menemukan Islam (yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen.). Mereka kemudian masuk Islam tatkala mendengar Al-Qur`an dan meyakini bahwa itu adalah kebenaran, dan mereka tidak menyombongkan diri”.
Dan pendapat ini juga dikuatkan oleh Al-Alusi rahimahullahu dalam tafsirnya. (Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Alusi)

Antara Kesombongan Yahudi dan Kebodohan Nashara

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan tentang sifat sombong yang menyebabkan kaum Yahudi melampaui batas dalam menolak kebenaran:
“Telah diketahui bahwa Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam adalah pemimpin ahli tauhid kaum muslimin setelahnya, sebagaimana (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menjadikannya sebagai pemimpin dan imam. serta para rasul dari keturunan beliau datang setelahnya. Maka orang Yahudi dan Nashara pun membuat berbagai macam bid’ah yang menyebabkan mereka keluar dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mereka diperintahkan untuk mengikutinya, yaitu Islam dalam arti umum (yakni agama para rasul). Oleh karenanya kita diperintahkan untuk mengatakan:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)

Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

الْيَهُوْدُ مَغْضُوْبٌ عَلَيْهِمْ وَالنَّصَارَى ضَالُّوْنَ
“Yahudi itu dimurkai dan kaum Nashara adalah orang-orang yang sesat”. (HR. Tirmidzi dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no 8202)

Masing-masing dari dua umat ini (Yahudi dan Nashara) telah keluar dari Islam. Dan salah satu dari dua lawan Islam (yaitu kesombongan dan kesyirikan) lebih mendominasi mereka. Orang Yahudi lebih didominasi sifat sombong dan sedikit kesyirikan pada mereka, sedangkan orang-orang Nashara didominasi perbuatan kesyirikan dan sedikit kesombongan pada mereka. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan hal itu dalam kitab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Yahudi:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِي إسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إلاَّ اللهَ
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah.” (Al-Baqarah: 83)

Dan ini merupakan pokok keislaman. Hingga firman-Nya:

وَآتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقًا تَقْتُلُوْنَ

“Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepada kalian seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian lalu kalian angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?” (Al-Baqarah: 87)

Lafadz yang berbentuk pertanyaan ini adalah sikap mengingkari perbuatan mereka dan celaan atas mereka, dan mereka dicela atas apa yang telah mereka lakukan. Setiap kali datang seorang rasul kepada mereka yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya, mereka pun menyombongkan diri. Bahkan mereka membunuh sebagian nabi dan mendustakan sebagian yang lain, Inilah keadaan orang yang sombong yang tidak mau menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menafsirkan sombong dalam hadits yang shahih dengan makna menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Dalam Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ وَلاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidaklah masuk neraka orang yang terdapat dalam hatinya seberat semut dari keimanan, dan tidaklah masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat semut dari kesombongan.”

Lalu ada seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, seseorang menyukai pakaiannya indah dan sandalnya bagus, apakah itu termasuk kesombongan?” Maka beliau menjawab: “Bukan. Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan, akan tetapi kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”

Bathar kebenaran artinya mengingkari dan menolaknya; dan ghamt terhadap manusia artinya menghinakan dan merendahkan mereka. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut kesombongan tersebut dalam firman-Nya:

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لاَ يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لاَ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلاً وَإِنْ يَرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلاً
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka, jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya.” (Al-A'raf: 146)

Dan inilah keadaan orang yang tidak mengamalkan ilmunya bahkan mengikuti hawa nafsunya. Dialah orang yang menyimpang, sebagaimana firman-Nya:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah.” (Al-A'raf: 175-176)

Dan ini seperti keadaan para ulama jahat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tatkala Musa ‘alaihissalam kembali kepada mereka:

وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوْسَى الْغَضَبُ أَخَذَ اْلأَلْوَاحَ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِيْنَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُوْنَ
“Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya.” (Al-A'raf: 154)

Maka orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, berbeda keadaannya dengan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, sebagaimana firman-Nya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (An-Nazi’at: 40-41)

Maka orang-orang sombong yang mengikuti hawa nafsunya, dipalingkan dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka tidak mengilmui dan memahaminya. Tatkala mereka meninggalkan pengamalan terhadap apa yang telah mereka ketahui disebabkan kesombongan dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka diberi hukuman dengan dihalangi dari ilmu dan pemahaman. Sebab ilmu akan memerangi orang yang bersikap sombong sebagaimana aliran air meninggalkan tempat yang tinggi.

Adapun orang-orang yang takut kepada Rabbnya, mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka ilmu dan rahmat. Sebab barangsiapa mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mewariskan kepadanya ilmu yang dia tidak ketahui. Oleh karenanya, tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat kaum Nashara bahwa di antara mereka terdapat ahli ibadah dan orang yang berilmu, juga bahwa mereka tidak menyombongkan diri, maka mereka lebih dekat dengan orang-orang yang beriman (lalu beliau menyebutkan ayat di atas).

Tatkala pada mereka terdapat rasa takut dan tidak sombong, maka mereka lebih mendekati hidayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan keadaan orang yang telah menjadi muslim di antara mereka:

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُوْلِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا آمَنَّا
فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِيْنَ
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mengucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur`an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama para saksi (atas kebenaran Al-Qur`an dan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”. (Al-Ma`idah:83)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: “Bersama para saksi” yaitu bersama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. Sebab, kaum Nashara memiliki sikap sederhana dan ibadah, namun mereka tidak punya ilmu dan persaksian. Oleh karenanya, meskipun orang-orang Yahudi lebih jahat dari mereka -disebabkan kesombongan yang lebih besar, rasa takut yang sedikit, serta hati yang lebih keras- namun sesungguhnya kaum Nashara lebih jahat dari mereka, dari sisi bahwa mereka lebih besar kesesatannya dan lebih dominan kesyirikannya, serta lebih jauh dari sikap mengharamkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyifati mereka dengan perbuatan syirik yang mereka ada-adakan sebagaimana (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menyifati kaum Yahudi dengan kesombongan hawa nafsunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (At-Taubah: 31)

Dan firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ اللهُ يَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُوْنُ لِي أَنْ أَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah.’?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara ghaib.” (Al-Ma`idah: 116)

hingga firman-Nya:

أَنِ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
“Yaitu: ‘Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabb kalian’.” (Al-Ma`idah: 117)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan ucapan mereka bahwa Al-Masih bin Maryam itu adalah satu di antara tiga (sesembahan), juga ucapan mereka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat seorang anak: dalam banyak tempat dalam kitab-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan besarnya kedustaan dan cercaan mereka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala serta ucapan mungkar mereka yang hampir saja langit-langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung menjatuhi mereka. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak mereka dalam banyak tempat dalam firman-Nya agar tidak menyembah kecuali hanya kepada sesembahan yang satu. Seperti firman-Nya:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِيْنِكُمْ وَلاَ تَقُوْلُوا عَلَى اللهِ إِلاَّ الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُوْلُوا ثَلاَثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَكَفَى بِاللهِ وَكِيْلاً. لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيْحُ أَنْ يَكُوْنَ عَبْدًا لِلهِ وَلاَ الْمَلاَئِكَةُ الْمُقَرَّبُوْنَ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيْعًا
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah sesembahan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.” (An-Nisa`: 171-172)

Hal ini karena orang-orang yang menyekutukan-Nya dengan makhluk baik berupa manusia atau selainnya, maka mereka (yang disembah) menjadi musyrikin. Dan jadi sombonglah orang-orang yang mereka jadikan sekutu bagi-Nya dari kalangan jin dan manusia. Sebagaimana firman-Nya:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ اْلإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jin: 6)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa hamba-hamba-Nya tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya, walaupun kaum musyrikin menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan diri mereka.

Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَلاَ يَتُوْبُوْنَ إِلَى اللهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيْقَةٌ كَانَا يَأْكُلاَنِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ اْلآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُوْنَ
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memerhatikan ayat-ayat Kami itu).” (Al-Ma`idah: 74-75)

dan firman-Nya:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيْحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيْلَ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putera Maryam’, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, niscaya Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Ma`idah:72)

Diterangkan oleh-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada mereka dengan tauhid dan mencegah mereka dari menyekutukan-Nya, seperti apa yang mereka (Nashara) lakukan. Karena asal dari agama Yahudi adalah kesombongan maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum mereka dengan kehinaan. Dicampakkan kepada mereka kehinaan di manapun mereka berada.

Dan karena asal dari agama Nashara kesyirikan disebabkan mereka menempuh banyak jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyesatkan mereka. Masing-masing dari kedua umat itu pun mendapatkan hukuman atas dosa yang mereka lakukan, berupa lawan dari tujuan mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah berbuat zalim terhadap hamba-hamba-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits:

يُحْشَرُ الْجَبَّارُوْنَ وَالْمُتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي صُوَرِ الذَّرِّ يَطَؤُهُمُ النَّاسُ بِأَرْجُلِهِمْ
“Orang-orang yang congkak dan sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam bentuk semut-semut kecil, yang diinjak-injak oleh manusia dengan kaki mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma, dihasankan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 8040)

Demikian pula terdapat dalam hadits dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu secara mauquf dan marfu’:

مَا مِنْ أَحَدٍ إلاَّ فِي رَأْسِهِ حِكْمَةٌ فَإِنْ تَوَاضَعَ قِيْلَ لَهُ: انْتَعِشْ نَعَشَكَ اللهُ؛ وَإِنْ رَفَعَ رَأْسَهُ قِيْلَ لَهُ: انْتَكِسْ نَكَسَكَ اللهُ
“Tidak seorang pun melainkan di kepalanya terdapat hikmah. Jika dia merendahkan diri (tawadhu’), maka dikatakan kepadanya: ‘Terangkatlah engkau, Allah telah mengangkat (derajatmu)’. Dan jika dia mengangkat kepalanya (sombong), maka dikatakan kepadanya: ‘Merugilah engkau, Allah telah merendahkan kamu’.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Dan firman-Nya:

بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ. وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِيْنَ كَذَبُوا عَلَى اللهِ وُجُوْهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِيْنَ. وَيُنَجِّي اللهُ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لاَ يَمَسُّهُمُ السُّوْءُ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ
‘(Bukan demikian) sebenarnya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepada kamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri? Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.” (Az-Zumar: 59-61)

Oleh karenanya, mereka berhak mendapatkan kemarahan dan murka-Nya. Sedangkan kaum Nashara tatkala mereka memasuki pintu bid’ah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sesatkan mereka dari jalan-Nya. Sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang banyak, serta mereka semakin tersesat dari jalan yang lurus. Dan sesungguhnya mereka melakukan bid’ah tersebut dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya dan menyembah-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan mereka dari-Nya dan menyesatkan mereka, sehingga mereka menyembah selain-Nya. Maka camkanlah ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus. Jalan orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa li Syaikhil Islam, 7/628)

Boikot LEGO


Boikot, jangan tak boikot demi kesucian Agama Islam dan Nabi kita Muhamad S.A.W.
Bgai sesiapa yang ada connection dengan Kementerian Perdangangan, minta usakan untuk menyekat Barangan Lego diimport dan dijualdi negara kita Malaysia . Kalau boleh sebarkan ke negara Islam seluruh dunia untuk menyekat sikap biadab ini.

Potong Zaka

Apek : itu potong zaka ada bagut ka ?
Ali : manyak bagut..bila lu potong haa lu punya barang manyak bersih loo ....
Apek: ?!! err..saya kawan ada cakap,potong zaka aaahh.. manyak ploblem..
Ali : apa probrem ?
Apek: manyak buang lui..lagi aahh..dia punya performance tatak bagut.. manyak cinang semputloh..
Ali : cehh.. apek, lu apa celita.. saya suda lama potong.. tada apa problem.. bini saya manyak puas woo..
Apek: lu mini puas sama itu potong zaka ka?
Ali : ya la.. bila lu potong aahh.. lagi sedap maen woo.. lu lagi lambat pancut..
Apek : ???!!! err..lu punya 1.3 atau 1.5 ??
Ali : ??!! woi apek cakap baik2 sikit ha... saya punya 6 incila.
Apek : ??! tiu nia ma.. lu jgn maen2 haa.. mana ada potong zaka 6 inci..
Ali : cilaka apek ni..nah tengok (bukak sluar tunjuk ...)
Apek : chee sin punya olang...gua tanya baik2 lu tunjuk lu punya lancau..
Ali : abis.. lu tarak percaya..saya tunjuk la..
Apek : saya tatak tanya sama lu punya lancau.. saya tanya lu pasal itu nasional car.. potong zaka.. molo punya olang..
Ali : aiya.. apek.. lain kali lu sebut betul2 la..kasi susa saja.. bukan potong zaka la.. proton saga.. cinabeng betul la....

(iklan TV / RADIO proton yg diharamkan..)

Ditimpa bala akibat 15 jenis maksiat

DARIPADA Saidina Ali bin Abi Thalib ra Rasulullah bersabda:

"Apabila umatku membuat 15 perkara, maka bala pasti akan turun kepada mereka iaitu:

1. Apabila harta negara hanya beredar pada orang tertentu
2. Apabila amanah dijadikan suatu sumber keuntungan
3. Zakat dijadikan hutang
4. Suami memperuntukkan kehendak isteri
5. Anak derhaka terhadap ibunya
6. Sedangkan ia berbaik-baik dengan kawannya
7. Anak suka menjauhkan diri daripada ayahnya
8. Suara ditinggikan di dalam masjid
9. Orang menjadi ketua bagi satu kaum adalah orang yang terhina di antara mereka
10. Seseorang dimuliakan kerana ditakuti kejahatannya
11. Khamar (arak) sudah diminum di merata tempat
12. Kain sutera banyak dipakai (oleh kaum lelaki)
13. Artis disanjung-sanjung
14. Muzik banyak dimainkan
15. Generasi akhir umat melaknat (menyalahkan) generasi pertama (sahabat).

Maka pada ketika itu hendaklah mereka menanti angin merah atau gempa bumi ataupun mereka akan diubah menjadi makhluk lain".

Zakat Pendapatan

Zakat ke atas pendapatan adalah wajib dikeluarkan sebagaimana yang telah di fatwakan oleh kebanyakan ulama muta'akhirin termasuk Prof. Dr. Yusof Qardhawi, demikian juga oleh Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan yang dihadiri oleh mufti-mufti seluruh Malaysia.

Yang dimaksudkan dengan pendapatan yang wajib dizakatkan itu ialah imbuhan atau perolehan yang didapati oleh individu daripada majikan atau individu sama ada pemberian dalam bentuk tenaga atau perkhidmatan profesional atau fizikal dalam tempoh harian, bulanan atau tahunan yang boleh dikenakan zakat.

Nas/Dalil yang mewajibkannya adalah:

1. Maksud firman Allah:
"Wahai orang-orang yang beriman keluarkanlah sebahagian dari usaha kamu yang baik-baik dan sebahgian daripada apa yang telah Kami keluarkan dari bumi untuk kamu" (Al-Baqarah : 267)

2. Sabda Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam yang bermaksud:
'jika kamu memiliki 200 dirham dan genap haulnya maka di dalamnya (zakat) 5 dirham, dan tidak taqwa ke atas kamu sesuatu iaitu di dalam emas, sehingga kamu memiliki 20 dinar. Apabila kamu memiliki 20 dinar dan genap haulnya, maka di dalamnya (zakat) setengah dinar' (Riwayat Abu Daud)

Pengiraan Zakat Pendapatan

Zakat Pendapatan: gaji kasar setahun (termasuk bonus dan elaun)
TOLAK
1.perbelanjaan-perbelanjaan yang dibenarkan (contoh: diri -RM8000, isteri -RM3000,
2.tiap anak -RM1000,
3.KWSP -11%,
4.ibubapa -jumlah yang diberi,
5.potongan untuk Tabung Haji) dan; jawapan tersebut didarab 2.5 % jika baki menyamai atau melebihi nisab (~3000).

Contoh: kalau gaji dan bonus setahun ialah RM 40,000 dan perbelanjaan yang dibenarkan RM 24,000 maka zakat ialah 2.5% x RM 16,000 = RM400

Kalkulator Zakat Pendapatan