Mukadimah

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum dan salam sejahtera. Saya ingin mengucapkan selamat datang dan terima kasih kerana sudi mengunjungi webblog ini.

Tujuan blog ini adalah untuk kita semua berkongsi bermacam-macam maklumat. Artikel-artikel yang dipaparkan diperolehi daripada kiriman email, buku, majalah dan dari blog yang lain. Diharap aktikel-arkitel yang disiarkan dalam blog ini memberi manfaat kepada kita semua.

Jika anda ingin memberi sebarang komen atau pendapat, sila tulis dalam ruangan komen / pesanan yang saya sediakan.

Saya ingin memohon maaf sekiranya terdapat artikel-artikel yang dipaparkan dalam blog ini menyinggung perasaan anda.

Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka bersifat yang demikian ialah orang-orang yang berjaya. ( Surah Ali Imran : 104 )

Al-Quran dan Hadith Muslim

Al-Quran
Hadith Muslim

Khamis, Julai 05, 2012

Homoseksual Dalam Pandangan Islam


Liwath (homo seksual) adalah hubungan antara sesama jenis (laki-laki dengan laki-laki), sedangkan hubungan antara wanita dengan wanita disebut lesbian. Homo seksual adalah salah satu penyelewengan seksual, karena menyalahi sunnah Allah, dan menyalahi fitrah makhluk ciptaanNya.

Lebih kurang empat belas abad yang lalu, Al Qur’an telah memperingatkan umat manusia ini, supaya tidak mengulangi peristiwa kaum Nabi Luth. Allah berfirman:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (Hud: 82-83)
Pada ayat lain Allah berfirman:

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. (Asy Syu’ara: 165-166)
Selanjutnya pada ayat lain Allah berfirman:

“Dan telah kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (Al Anbiya: 74)
Setelah Rasulullah menerima wahyu tentang berita kaum Luth yang mendapat kutukan dari Allah dan merasakan azab yang diturunkanNya, maka beliau merasa khawatir sekiranya peristiwa itu terulang kembali kepada ummat di masa beliau dan sesudahnya.

Sihir dan Setan


Sihir adalah perbuatan yang telah tercampur syirik. Setan sangat berperan dalam sihir perbuatan yang terlarang ini. Memang setan meminta wewenang kepada Allah untuk menggoda manusia, anak keturunan Adam, lalu wewenang itu diberikan Allah SWT.

Allah memberi kebebasan kepada yang menggoda (iblis) dan yang digoda (manusia), apakah manusia ini mau mengikuti jalan Allah atau jalan syetan. Kalau mengikuti jalan Allah jelas keuntungannya dan kalau mengikuti jalan setan, jelas pula kerugiannya.

Orang yang melakukan sihir, cepat atau lambat pasti terjerumus ke jurang kekufuran. Sebab segala daya upaya yang dilakukan oleh syetan itu adalah membujuk manusia untuk menyekutukan Allah (syirik). Allah berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al Baqarah: 102)

Asal Usul Iblis Laknatullah


Alkisah, beribu-ribu tahun sebelum ada manusia, dunia ini sudah dihuni oleh sejenis makhluk dari golongan jin, mereka dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Di antara mereka ada yang beribadah dan ada yang tidak, walaupun Allah mewajibkan mereka beribadah menyembahNya.

Allah SWT. berfirman, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)


Di antara sekian banyak keturunan jin, Izzazil adalah yang paling taat kepada Allah. Berbeda dengan manusia, jin bisa berumur sampai ribuan, bahkan puluhan ribu tahun. Begitu pula Izzazil. Ia beribadah kepada Allah selama 1000 tahun. Kemudian atas permintaannya ia dipindahkan oleh Allah ke langit pertama.

Di situ ia beribadah kepada Allah selama 1000 tahun juga. Lalu ia dipindahkan ke langit seterusnya, sampai langit ke tujuh. Di masing-masing tingkatan langit, ia beribadah kepada Allah SWT selama 1000 tahun. Jadi Izzazil beribadah kepada Allah selama 8000 tahun.

Karena ketaatan dan pengabdiannya, Allah mengangkatnya ke derajat Al-Muqarrabun, yaitu derajat tertinggi di sisi Allah. Lebih dari itu, Allah menobatkan Izzazil sebagai imam para malaikat yang berkedudukan di langit.

Merasa berada dalam derajat yang mulia, maka ketika Allah memerintahkan dirinya dan para malaikat bersujud kepada Adam, Izzazil dengan berbagai dalih menolak. Penolakan itu disebabkan karena ia merasa lebih mulia dan lebih baik dibandingkan Nabi Adam as.

Selain itu ia juga merasa bahwa dirinya makhluk yang lebih dulu diciptakan, lebih lama dalam beribadah dan lebih tinggi martabatnya dibandingkan Nabi Adam yang baru diciptakan Allah swt. Kesombongan dan rasa iri hati itulah sebenarnya penyebab utama mengapa Izzazil membangkang perintah Allah swt. Karena pembangkangannya itu, akhirnya ia terusir dari surga dan dinamakan iblis. Sebelum meninggalkan surga, iblis sempat bersumpan akan mengganggu dan menggoda anak keturunan Adam sampai hari kiamat.
Kita tengok kembali bagaimana Al Qur’an menggambarkan kisah pasangan Adam dan Hawa di surga. Mereka bebas menikmati dan menggunakan segala keistimewaan surga kecuali makanan buah khuldi.
Ternyata satu-satunya larangan Allah itulah yang dimanfaatkan oleh iblis untuk menyesatkan Adam dan Hawa. Sesuai dengan sumpahnya untuk menyesatkan Adam dan Hawa dan keturunannya, maka iblis sekuat tenaga merayu dan membujuk Adam dan Hawa agar melanggar larangan yang Allah tetapkan bagi mereka. Dengan usaha yang keras dan tidak kenal menyerah, akhirnya Adam dan Hawa tergoda juga mendengar rayuan iblis. Meskipun hanya satu larangan yang ditetapkan Allah bagi mereka, tetapi ternyata satu larangan itu membuat mereka penasaran. Apalagi rayuan iblis yang tidak kenal menyerah. Mereka pun memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah swt. itu. Akibatnya, Allah pun mengeluarkan mereka dari surga dan menurunkan ke dunia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...