Mukadimah

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum dan salam sejahtera. Selamat datang dan terima kasih kerana sudi mengunjungi webblog ini.

Blog ini bertujuan untuk berkongsi bermacam-macam maklumat. Diharap blog ini memberi manfaat kepada kita semua.

Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka bersifat yang demikian ialah orang-orang yang berjaya. ( Surah Ali Imran : 104 )

Khamis, November 15, 2018

Mengisi Saf yang Kosong

Pada asalnya barisan shaf shalat harus sempurna, rapat dan lurus sehingga tidak memulai dengan shaf kedua sebelum shaf pertama penuh demikian juga shaf-shaf berikutnya. Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu pernah berkata:

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :  أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا . فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟ قَالَ : يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ ، وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami dan bersabda, ‘Hendaknya kalian berbaris seperti berbarisnya para Malaikat di sisi Rabb mereka! lalu kami bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Bagaimana para Malaikat berbaris di sisi Rabb mereka?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Mereka menyempurnakan shaf-shaf (barisan) pertama, rapat serta lurus dalam barisannya. [HR. Muslim, no. 430]

Ketika menjelaskan hadits ini, imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini berisi perintah menyempurnakan shaf-shaf (barisan-barisan) bagian depan, lurus dan rapat dalam barisan. Pengertian menyempurnakan barisan terdepan adalah menyempurnakan shaf barisan pertama dan tidak memulai barisan kedua sampai sempurna barisan yang pertama dan tidak memulai barisan ketiga sampai sempurna barisan kedua serta tidak juga pada barisan keempat hingga barisan yang ketiga penuh. Demikianlah terus hingga barisan terakhir. [Syarah Shahîh Muslim, 4/115]

Demikian juga Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ ، فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sempurnakanlah barisan terdepan kemudian yang berikutnya. hendaknya yang kurang adanya di barisan terakhir. [HR Abu Dawûd no. 671. Hadits ini dinilai sebagai hadits shahih oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abi Dawûd].

Demikian juga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً

Sesungguhnya Allâh dan para Malaikat-Nya selalu mendoakan orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaf yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allâh satu tingkat [HR. Ibnu Mâjah no. 995; dishahihkan al-Albâni rahimahullah].

Terkadang barisan terdepan kosong ditinggal makmum yang batal wudhunya atau ada udzur lainnya, sehingga makmum yang lainnya perlu bergerak maju atau geser kekiri atau kekanan untuk mengisi kekosongan tersebut. Seorang makmum, hendaknya maju mengisi shaf yang lowong atau kosong yang ada di depannya (yang mungkin disebabkan makmum yang ada di shaf di depannya batal meninggalkan shaff) ketika shalat berjama’ah sedang berlangsung. Ini berdasarkan hadits Sahl bin Sa’d as-Sâ’idy Radhiyallahu anhu  :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ، فَجَاءَ المُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي لِلنَّاسِ فَأُقِيمَ؟ قَالَ: نَعَمْ فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلاَةِ، فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ، فَصَفَّقَ النَّاسُ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لاَ يَلْتَفِتُ فِي صَلاَتِهِ، فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ التَفَتَ، فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ»، فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَدَيْهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ، وَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّى، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ، مَنْ رَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ التُفِتَ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ»

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pergi ke Bani ‘Amru bin ‘Auf untuk mendamaikan mereka, kemudian waktu shalat tiba. Muadzin datang menemui Abu Bakr Radhiyallahu anhu dan berkata, “Maukah engkau shalat bersama masyarakat (dan menjadi imam) ? Akan aku kumandangkan iqamat sekarang.” Abu Bakr Radhiyallahu anhu menjawab, “Ya.” Lalu Abu Bakr Radhiyallahu anhu shalat (dan menjadi imam bagi mereka). Datanglah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika manusia sedang menunaikan shalatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerobos sampai masuk ke shaf makmum. Para makmum pun bertepuk tangan memberi isyarat, namun Abu Bakr Radhiyallahu anhu tidak menoleh sedikitpun dalam shalatnya. Ketika semakin banyak makmum yang bertepuk tangan, Abu Bakr Radhiyallahu anhu akhirnya menoleh dan melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat kepadanya agar tetap diam di tempatnya (menjadi imam shalat). Abu Bakr Radhiyallahu anhu mengangkat kedua tangannya, bertahmîd kepada Allâh Azza wa Jalla atas perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada dirinya tersebut. Namun ia tetap mundur dan masuk ke dalam shaf makmum (yang ada di belakangnya). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun maju menjadi imam. Ketika selesai, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Wahai Abu Bakr, apa yang menghalangimu untuk tetap berada di tempatmu sebagaimana aku perintahkan ?” Abu Bakr menjawab, ”Tidaklah pantas bagi seorang anak Abu Quhafah shalat di depan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” [HR. Al-Bukhâri, no. 652 dan Muslim no. 421]

Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang imam atau makmum boleh bergerak untuk maju atau mundur dari shaf karena satu sebab atau keperluan dalam shalat, selama tidak berjalan jauh yang bisa menyebabkan dia hukumi keluar dari shalat. Oleh karena itu, Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Para Ulama ahli fikih telah sepakat bahwa berjalan yang banyak (jauh) dalam shalat wajib menyebabkan shalatnya batal. [Fathul Bâri, 3/83].

Wallahu a’lam.


MENGISI SHAF YANG KOSONG?
Pertanyaan
Mohon penjelasan tentang dalil yang mengisyaratkan bahwa ketika kita sedang berdiri shalat berjamaah lalu ada shaf depan kita yang kosong karena ditinggal oleh orangnya karena batal, kemudian kita yang berada di shaf belakangnya boleh maju untuk mengisi shaf yang kosong itu? Kalau ada di buku, buku apa? Jazâkumullâhu khairun (Abu Jannah PMLNG) +6282324018363
Jawaban.
Pada asalnya barisan shaf shalat harus sempurna, rapat dan lurus sehingga tidak memulai dengan shaf kedua sebelum shaf pertama penuh demikian juga shaf-shaf berikutnya. Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu pernah berkata:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :  أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا . فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟ قَالَ : يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ ، وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ 
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami dan bersabda, ‘Hendaknya kalian berbaris seperti berbarisnya para Malaikat di sisi Rabb mereka! lalu kami bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Bagaimana para Malaikat berbaris di sisi Rabb mereka?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Mereka menyempurnakan shaf-shaf (barisan) pertama, rapat serta lurus dalam barisannya. [HR. Muslim, no. 430]
Ketika menjelaskan hadits ini, imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini berisi perintah menyempurnakan shaf-shaf (barisan-barisan) bagian depan, lurus dan rapat dalam barisan. Pengertian menyempurnakan barisan terdepan adalah menyempurnakan shaf barisan pertama dan tidak memulai barisan kedua sampai sempurna barisan yang pertama dan tidak memulai barisan ketiga sampai sempurna barisan kedua serta tidak juga pada barisan keempat hingga barisan yang ketiga penuh. Demikianlah terus hingga barisan terakhir. [Syarah Shahîh Muslim, 4/115]
Demikian juga Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ ، فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sempurnakanlah barisan terdepan kemudian yang berikutnya. hendaknya yang kurang adanya di barisan terakhir. [HR Abu Dawûd no. 671. Hadits ini dinilai sebagai hadits shahih oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abi Dawûd].
Demikian juga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً
Sesungguhnya Allâh dan para Malaikat-Nya selalu mendoakan orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaf yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allâh satu tingkat [HR. Ibnu Mâjah no. 995; dishahihkan al-Albâni rahimahullah].
Terkadang barisan terdepan kosong ditinggal makmum yang batal wudhunya atau ada udzur lainnya, sehingga makmum yang lainnya perlu bergerak maju atau geser kekiri atau kekanan untuk mengisi kekosongan tersebut. Seorang makmum, hendaknya maju mengisi shaf yang lowong atau kosong yang ada di depannya (yang mungkin disebabkan makmum yang ada di shaf di depannya batal meninggalkan shaff) ketika shalat berjama’ah sedang berlangsung. Ini berdasarkan hadits Sahl bin Sa’d as-Sâ’idy Radhiyallahu anhu  :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ، فَجَاءَ المُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي لِلنَّاسِ فَأُقِيمَ؟ قَالَ: نَعَمْ فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلاَةِ، فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ، فَصَفَّقَ النَّاسُ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لاَ يَلْتَفِتُ فِي صَلاَتِهِ، فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ التَفَتَ، فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ»، فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَدَيْهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ، وَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّى، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ، مَنْ رَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ التُفِتَ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ»
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pergi ke Bani ‘Amru bin ‘Auf untuk mendamaikan mereka, kemudian waktu shalat tiba. Muadzin datang menemui Abu Bakr Radhiyallahu anhu dan berkata, “Maukah engkau shalat bersama masyarakat (dan menjadi imam) ? Akan aku kumandangkan iqamat sekarang.” Abu Bakr Radhiyallahu anhu menjawab, “Ya.” Lalu Abu Bakr Radhiyallahu anhu shalat (dan menjadi imam bagi mereka). Datanglah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika manusia sedang menunaikan shalatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerobos sampai masuk ke shaf makmum. Para makmum pun bertepuk tangan memberi isyarat, namun Abu Bakr Radhiyallahu anhu tidak menoleh sedikitpun dalam shalatnya. Ketika semakin banyak makmum yang bertepuk tangan, Abu Bakr Radhiyallahu anhu akhirnya menoleh dan melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat kepadanya agar tetap diam di tempatnya (menjadi imam shalat). Abu Bakr Radhiyallahu anhu mengangkat kedua tangannya, bertahmîd kepada Allâh Azza wa Jalla atas perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada dirinya tersebut. Namun ia tetap mundur dan masuk ke dalam shaf makmum (yang ada di belakangnya). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun maju menjadi imam. Ketika selesai, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Wahai Abu Bakr, apa yang menghalangimu untuk tetap berada di tempatmu sebagaimana aku perintahkan ?” Abu Bakr menjawab, ”Tidaklah pantas bagi seorang anak Abu Quhafah shalat di depan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . [HR. Al-Bukhâri, no. 652 dan Muslim no. 421]
Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang imam atau makmum boleh bergerak untuk maju atau mundur dari shaf karena satu sebab atau keperluan dalam shalat, selama tidak berjalan jauh yang bisa menyebabkan dia hukumi keluar dari shalat. Oleh karena itu, Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Para Ulama ahli fikih telah sepakat bahwa berjalan yang banyak (jauh) dalam shalat wajib menyebabkan shalatnya batal. [Fathul Bâri, 3/83].
Wallahu a’lam.


Read more https://almanhaj.or.id/7657-adakah-dalil-berjalan-mengisi-shaf-yang-kosong.html
MENGISI SHAF YANG KOSONG?
Pertanyaan
Mohon penjelasan tentang dalil yang mengisyaratkan bahwa ketika kita sedang berdiri shalat berjamaah lalu ada shaf depan kita yang kosong karena ditinggal oleh orangnya karena batal, kemudian kita yang berada di shaf belakangnya boleh maju untuk mengisi shaf yang kosong itu? Kalau ada di buku, buku apa? Jazâkumullâhu khairun (Abu Jannah PMLNG) +6282324018363
Jawaban.
Pada asalnya barisan shaf shalat harus sempurna, rapat dan lurus sehingga tidak memulai dengan shaf kedua sebelum shaf pertama penuh demikian juga shaf-shaf berikutnya. Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu pernah berkata:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :  أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا . فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟ قَالَ : يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ ، وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ 
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami dan bersabda, ‘Hendaknya kalian berbaris seperti berbarisnya para Malaikat di sisi Rabb mereka! lalu kami bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Bagaimana para Malaikat berbaris di sisi Rabb mereka?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Mereka menyempurnakan shaf-shaf (barisan) pertama, rapat serta lurus dalam barisannya. [HR. Muslim, no. 430]
Ketika menjelaskan hadits ini, imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini berisi perintah menyempurnakan shaf-shaf (barisan-barisan) bagian depan, lurus dan rapat dalam barisan. Pengertian menyempurnakan barisan terdepan adalah menyempurnakan shaf barisan pertama dan tidak memulai barisan kedua sampai sempurna barisan yang pertama dan tidak memulai barisan ketiga sampai sempurna barisan kedua serta tidak juga pada barisan keempat hingga barisan yang ketiga penuh. Demikianlah terus hingga barisan terakhir. [Syarah Shahîh Muslim, 4/115]
Demikian juga Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ ، فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sempurnakanlah barisan terdepan kemudian yang berikutnya. hendaknya yang kurang adanya di barisan terakhir. [HR Abu Dawûd no. 671. Hadits ini dinilai sebagai hadits shahih oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abi Dawûd].
Demikian juga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً
Sesungguhnya Allâh dan para Malaikat-Nya selalu mendoakan orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaf yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allâh satu tingkat [HR. Ibnu Mâjah no. 995; dishahihkan al-Albâni rahimahullah].
Terkadang barisan terdepan kosong ditinggal makmum yang batal wudhunya atau ada udzur lainnya, sehingga makmum yang lainnya perlu bergerak maju atau geser kekiri atau kekanan untuk mengisi kekosongan tersebut. Seorang makmum, hendaknya maju mengisi shaf yang lowong atau kosong yang ada di depannya (yang mungkin disebabkan makmum yang ada di shaf di depannya batal meninggalkan shaff) ketika shalat berjama’ah sedang berlangsung. Ini berdasarkan hadits Sahl bin Sa’d as-Sâ’idy Radhiyallahu anhu  :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ، فَجَاءَ المُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي لِلنَّاسِ فَأُقِيمَ؟ قَالَ: نَعَمْ فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلاَةِ، فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ، فَصَفَّقَ النَّاسُ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لاَ يَلْتَفِتُ فِي صَلاَتِهِ، فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ التَفَتَ، فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ»، فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَدَيْهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ، وَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّى، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ، مَنْ رَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ التُفِتَ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ»
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pergi ke Bani ‘Amru bin ‘Auf untuk mendamaikan mereka, kemudian waktu shalat tiba. Muadzin datang menemui Abu Bakr Radhiyallahu anhu dan berkata, “Maukah engkau shalat bersama masyarakat (dan menjadi imam) ? Akan aku kumandangkan iqamat sekarang.” Abu Bakr Radhiyallahu anhu menjawab, “Ya.” Lalu Abu Bakr Radhiyallahu anhu shalat (dan menjadi imam bagi mereka). Datanglah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika manusia sedang menunaikan shalatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerobos sampai masuk ke shaf makmum. Para makmum pun bertepuk tangan memberi isyarat, namun Abu Bakr Radhiyallahu anhu tidak menoleh sedikitpun dalam shalatnya. Ketika semakin banyak makmum yang bertepuk tangan, Abu Bakr Radhiyallahu anhu akhirnya menoleh dan melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat kepadanya agar tetap diam di tempatnya (menjadi imam shalat). Abu Bakr Radhiyallahu anhu mengangkat kedua tangannya, bertahmîd kepada Allâh Azza wa Jalla atas perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada dirinya tersebut. Namun ia tetap mundur dan masuk ke dalam shaf makmum (yang ada di belakangnya). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun maju menjadi imam. Ketika selesai, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Wahai Abu Bakr, apa yang menghalangimu untuk tetap berada di tempatmu sebagaimana aku perintahkan ?” Abu Bakr menjawab, ”Tidaklah pantas bagi seorang anak Abu Quhafah shalat di depan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . [HR. Al-Bukhâri, no. 652 dan Muslim no. 421]
Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang imam atau makmum boleh bergerak untuk maju atau mundur dari shaf karena satu sebab atau keperluan dalam shalat, selama tidak berjalan jauh yang bisa menyebabkan dia hukumi keluar dari shalat. Oleh karena itu, Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Para Ulama ahli fikih telah sepakat bahwa berjalan yang banyak (jauh) dalam shalat wajib menyebabkan shalatnya batal. [Fathul Bâri, 3/83].
Wallahu a’lam.


Read more https://almanhaj.or.id/7657-adakah-dalil-berjalan-mengisi-shaf-yang-kosong.html
MENGISI SHAF YANG KOSONG?
Pertanyaan
Mohon penjelasan tentang dalil yang mengisyaratkan bahwa ketika kita sedang berdiri shalat berjamaah lalu ada shaf depan kita yang kosong karena ditinggal oleh orangnya karena batal, kemudian kita yang berada di shaf belakangnya boleh maju untuk mengisi shaf yang kosong itu? Kalau ada di buku, buku apa? Jazâkumullâhu khairun (Abu Jannah PMLNG) +6282324018363
Jawaban.
Pada asalnya barisan shaf shalat harus sempurna, rapat dan lurus sehingga tidak memulai dengan shaf kedua sebelum shaf pertama penuh demikian juga shaf-shaf berikutnya. Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu pernah berkata:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :  أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا . فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟ قَالَ : يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ ، وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ 
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami dan bersabda, ‘Hendaknya kalian berbaris seperti berbarisnya para Malaikat di sisi Rabb mereka! lalu kami bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Bagaimana para Malaikat berbaris di sisi Rabb mereka?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Mereka menyempurnakan shaf-shaf (barisan) pertama, rapat serta lurus dalam barisannya. [HR. Muslim, no. 430]
Ketika menjelaskan hadits ini, imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini berisi perintah menyempurnakan shaf-shaf (barisan-barisan) bagian depan, lurus dan rapat dalam barisan. Pengertian menyempurnakan barisan terdepan adalah menyempurnakan shaf barisan pertama dan tidak memulai barisan kedua sampai sempurna barisan yang pertama dan tidak memulai barisan ketiga sampai sempurna barisan kedua serta tidak juga pada barisan keempat hingga barisan yang ketiga penuh. Demikianlah terus hingga barisan terakhir. [Syarah Shahîh Muslim, 4/115]
Demikian juga Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ ، فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sempurnakanlah barisan terdepan kemudian yang berikutnya. hendaknya yang kurang adanya di barisan terakhir. [HR Abu Dawûd no. 671. Hadits ini dinilai sebagai hadits shahih oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abi Dawûd].
Demikian juga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً
Sesungguhnya Allâh dan para Malaikat-Nya selalu mendoakan orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaf yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allâh satu tingkat [HR. Ibnu Mâjah no. 995; dishahihkan al-Albâni rahimahullah].
Terkadang barisan terdepan kosong ditinggal makmum yang batal wudhunya atau ada udzur lainnya, sehingga makmum yang lainnya perlu bergerak maju atau geser kekiri atau kekanan untuk mengisi kekosongan tersebut. Seorang makmum, hendaknya maju mengisi shaf yang lowong atau kosong yang ada di depannya (yang mungkin disebabkan makmum yang ada di shaf di depannya batal meninggalkan shaff) ketika shalat berjama’ah sedang berlangsung. Ini berdasarkan hadits Sahl bin Sa’d as-Sâ’idy Radhiyallahu anhu  :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ، فَجَاءَ المُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي لِلنَّاسِ فَأُقِيمَ؟ قَالَ: نَعَمْ فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلاَةِ، فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ، فَصَفَّقَ النَّاسُ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لاَ يَلْتَفِتُ فِي صَلاَتِهِ، فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ التَفَتَ، فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ»، فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَدَيْهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ، وَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّى، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ، مَنْ رَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ التُفِتَ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ»
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pergi ke Bani ‘Amru bin ‘Auf untuk mendamaikan mereka, kemudian waktu shalat tiba. Muadzin datang menemui Abu Bakr Radhiyallahu anhu dan berkata, “Maukah engkau shalat bersama masyarakat (dan menjadi imam) ? Akan aku kumandangkan iqamat sekarang.” Abu Bakr Radhiyallahu anhu menjawab, “Ya.” Lalu Abu Bakr Radhiyallahu anhu shalat (dan menjadi imam bagi mereka). Datanglah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika manusia sedang menunaikan shalatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerobos sampai masuk ke shaf makmum. Para makmum pun bertepuk tangan memberi isyarat, namun Abu Bakr Radhiyallahu anhu tidak menoleh sedikitpun dalam shalatnya. Ketika semakin banyak makmum yang bertepuk tangan, Abu Bakr Radhiyallahu anhu akhirnya menoleh dan melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat kepadanya agar tetap diam di tempatnya (menjadi imam shalat). Abu Bakr Radhiyallahu anhu mengangkat kedua tangannya, bertahmîd kepada Allâh Azza wa Jalla atas perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada dirinya tersebut. Namun ia tetap mundur dan masuk ke dalam shaf makmum (yang ada di belakangnya). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun maju menjadi imam. Ketika selesai, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Wahai Abu Bakr, apa yang menghalangimu untuk tetap berada di tempatmu sebagaimana aku perintahkan ?” Abu Bakr menjawab, ”Tidaklah pantas bagi seorang anak Abu Quhafah shalat di depan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . [HR. Al-Bukhâri, no. 652 dan Muslim no. 421]
Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang imam atau makmum boleh bergerak untuk maju atau mundur dari shaf karena satu sebab atau keperluan dalam shalat, selama tidak berjalan jauh yang bisa menyebabkan dia hukumi keluar dari shalat. Oleh karena itu, Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Para Ulama ahli fikih telah sepakat bahwa berjalan yang banyak (jauh) dalam shalat wajib menyebabkan shalatnya batal. [Fathul Bâri, 3/83].
Wallahu a’lam.


Read more https://almanhaj.or.id/7657-adakah-dalil-berjalan-mengisi-shaf-yang-kosong.html

Selasa, Julai 03, 2018

Tanggungjawab Menentang Khawarij

Dalam sejarah pertelingkahan umat Islam kelompok yang paling kuat dan awal menggunakan isu agama untuk mengkafirkan orang Islam yang lain ialah Puak Khawarij.

Kelompok ini Nabi s.a.w sifatkan seperti berikut:

“..Seseorang kamu akan merasa lekeh solatnya dibandingkan solat mereka, merasa lekeh puasanya dibandingkan puasa mereka. Mereka membaca al-Quran, namun al-Quran itu tidak melebih halkum mereka. Mereka tersasar keluar dari agama seperti anak panah tersasar dari sasarannya..” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Inilah Khawarij yang kelihatan hebat dalam ibadah dan pidato agama mereka dengan menggunakan nas-nas al-Quran. Mereka mengkafirkan orang Islam yang melakukan maksiat, juga mengkafirkan orang Islam yang tidak mengikut kumpulan mereka.

Puak Khawarij ini mengangkat slogan: “Tidak ada hukum melainkan hukum Allah”. Slogan yang kelihatannya berteraskan al-Quran, tetapi dengan tujuan yang buruk. Kata Saidina Saidina ‘Ali bin Abi Talib kepada mereka: “Satu slogan yang benar, tetapi dengan tujuan yang batil”. (Al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 304/10, Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah).

Dengan slogan al-Quran “Sesiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu orang-orang yang kafir” (Surah al-Maidah, ayat 44), maka mereka melancarkan kempen mengkafirkan dan memerangi orang Islam. Atas andaian yang tipis maka dengan mudah seseorang dijatuhkan hukuman murtad dan kafir.

Hasilnya, pertumpahan yang dahsyat berlaku pada zaman pemerintahan Saidiyyida ‘Ali bin ‘Abi Talib. Selepas zaman ‘Ali pun, pemikiran Khawarij meresap ke dalam berbagai kumpulan dan organisasi. Hasilnya, kita mendengar isu kafir mengkafir muncul di pelbagai zaman dan tempat di seluruh pelusuk dunia Islam.

Pada zahirnya puak ini berwajah agama, namun pada hakikatnya Nabi s.a.w menyebut tentang mereka:

“Mereka itu berucap dengan ucapan sebaik-baik makhluk. Mereka tersasar keluar dari Islam seperti anak panah tersasar dari sasarannya. Iman mereka tidak melebihi halkum mereka. Di mana sahaja kamu temui mereka maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya membunuh mereka itu ada pahala pada Hari Kiamat” (Riwayat al-Bukhari).

Demikian getirnya kelompok ini. Sekalipun dengan ungkapan dan nas agama di mulut mereka, namun Nabi s.a.w memerintahkan agar pemerintah Islam membunuh mereka kerana mereka mengkafirkan bahkan sesetengah kelompok mereka seperti al-Azraqiyah membunuh orang Islam, anak kecil dan wanita yang tidak mengikut kumpulan atau jamaah mereka.

Dengan ini menyedarkan kita semua, di samping kita bersangka baik kepada golongan yang menzahirkan ciri-ciri agama, kita sayangkan mereka dan menghormati mereka, namun kita juga mestilah berhati-hati dengan tindakan setiap individu dan kumpulan.

Janganlah penampilan zahir menyebabkan kita membuta mata atau memandulkan akal dari membuat penilaian yang matang dan seimbang. Apa yang baik kita kata baik, apa yang salah tetap dinilai salah tanpa mengira dari mana dan siapa kesalahan itu datang. Namun jika golongan tertentu menzahirkan ciri-ciri agama dan memegang prinsip agama dalam seluruh perjalanan mereka, maka merekalah golongan yang kita cinta dan kita bela dengan sepenuhnya.

Kumpulan yang menggunakan slogan Islam tetapi pengikut mereka dijangkiti penyakit maki-hamun, laknat, cerca, menganggap hanya mereka mewakili Islam dan sesiapa yang menentang mereka bererti memusuhi Islam merupakan jelmaan Khawarij di zaman ini . Menentang mereka yang seperti merupakan titah agama kita.
Melihat gelagat pengikut mereka yang suka memaki, melaknat, mencerca, menuduh orang yang tidak sependapat dengan mereka sebagai kafir, munafiq,  ataupun musuh Islam, ataupun anti Islam,  meyakinkan kita bahawa menentang mereka itu satu tanggungjawab agama.

MENIKAHKAN ANAK PEREMPUAN TANPA RELA

Prof Madya Dato Dr Mohd Asri bin Zainul Abidin
(Mufti Negeri Perlis, Malaysia)

Dalam Mazhab al-Syafi’i secara khususnya, bapa dan datuk merupakan wali mujbir yang bermaksud wali (pelindung) yang boleh memaksa anak perempuan berkahwin sekalipun tanpa kerelaan anak perempuan berkenaan. Dalam kata lain, sekalipun anak perempuan tidak mengenali siapakah suami itu dan tidak tahu apakah risiko atas perkahwinan tersebut. Atas pegangan Mazhab Syafii, kita mendapati banyak kes-kes paksaan kahwin dalam masyarakat Nusantara terutama pada zaman dahulu yang mana wanita tidak banyak mempunyai pilihan. Filem P. Ramlee, ‘Penarik Baca’ merupakan satu kritik social atas amalan tersebut yang berleluasa pada zaman itu. Di Indonesia, filem ‘Perempuan Berkalong Serban’ juga menceritakan bagaimana seorang kiyai menikahkan anak perempuannya walau tanpa kerelaan. Ini semua dianggap boleh dan sah, atas pegangan di sisi Mazhab Syafi’i. Bahkan beberapa pandangan dalam mazhab yang lain juga menganggap sah pernikahan tanpa rela anak perempuan itu. Hal ini juga membawa kepada kalangan bapa menikahkan anaknya yang masih kecil dan mereka hanya tahu mereka dikahwinkan apabila tiba masanya. Untuk menjawab hal ini, saya ingin menyebut beberapa hal di sini;

1. Kita menghormati ketokohan al-Imam al-Syafii r.h (meninggal 204H) sebagai tokoh ilmuwan yang agung. Kita juga menghormati Mazhab Syafii sebagai mazhab yang diamalkan oleh majoriti penduduk di negara ini, NAMUN seperti yang selalu saya tegaskan, kita tidak boleh fanatik tanpa menilai semula pandangan-pandangan yang diberikan oleh mana-mana mazhab. Masyarakat moden khususnya, tidak boleh terikat dengan hanya satu mazhab, sebaliknya hendaklah melihat Islam dalam kerangka yang lebih luas. Dunia yang global ini, bagaikan satu kampong sahaja. Manusia terdedah kepada realiti yang baharu dan pelbagai. Maka, pendapat dan kesimpulan dari mazhab dan tokoh yang pelbagai hendaklah dilihat dan disemak secara seimbang dalam mencari pendapat yang lebih kukuh dari segi dalilnya. Demikian hukum-hakam dalam Islam itu semestinya zahir padanya keadilan, hikmah dan tidak membawa kepada keadaan yang lebih buruk. Itulah sifat Islam yang termaktub dalam al-Quran dan al-Sunnah. Pandangan-pandangan yang diberikan oleh mana-mana tokoh terdedah kepada penilaian dari segi hujah nas dan konteks semasa ataupun realiti yang ada.

2. Dr Yusuf al-Qaradawi ketika menolak pendapat yang memboleh bapa memaksa anak perempun berkahwin mengulas: “Siapa tahu, jika al-Syafi’i r.a. hidup di zaman kita dan melihat kemajuan pengetahuan dan ilmu yang dicapai oleh anak gadis hari ini, sehingga mereka mampu menilai lelaki yang datang meminang mereka, atau jika mereka kahwin tanpa kerelaan akan menyebabkan kehidupan rumah tangga menjadi neraka, barangkali jika (ai-Imam) al-Syafi’i melihat hal ini dia akan mengubah pendapatnya seperti mana dia telah mengubah banyak pendapatnya”. (al-Qaradawi, Al-Fatawa al-Mu’asarah, 337-338, Beirut: Dar Ulil al-Nuha).

3. Kita lihat kepada hadis-hadis Nabi s.a.w, baginda tidak membenarkan paksaan dalam perkahwinan. Sekalipun pada zaman itu, paksaan ke atas wanita dalam pelbagai keadaan berlaku dalam masyarakat Arab, Parsi dan selain mereka, namun Islam datang memansukhkan paksaan ke atas wanita dalam menentukan pilihan hidup mereka. Dalam hadis dararipada Ibn ‘Abbas,
أَنَّ جَارِيَةً بِكْرًا أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Seorang gadis dara datang kepada Nabi s.a.w memberitahu bahawa bapanya mengahwinkannya sedangkan dia tidak suka, maka Nabi s.a.w memberikan pilihan kepadanya (sama ada untuk meneruskan atau menolaknya) (Riwayat Abu Daud dan Ibn Majah , dinilai sahih oleh al-Albani).

Maka dalam Sahih al-Bukhari yang merupakan kitab rujukan hadis yang terpenting ada Bab Iza Zauwaja Ibnatahu wahiya karihah fanikahu mardud (Apabila bapa mengahwinkan anak perempuannya, sedangkan anak perempuan itu tidak suka maka nikah itu ditolak).

4. Dalam hadis yang lain riwayat al-Bukhari dan Muslim, Nabi s.a.w bersabda:
لاَ تُنْكَحُ الأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ ، وَلاَ تُنْكَحُ البِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ
“Jangan dikahwinkan janda sehingga mendapat arahannya (dia meminta) dan jangan dikahwinkan anak dara sehingga diminta keizinannya”.
Al-Bukhari dalam kitab sahihnya meletakkan hadis ini dengan tajuk: باب لا ينكح الأب وغيره البكر والثيب إلا برضاها  iaitu bermaksud “bab; bapa dan selainnya tidak boleh menikahkan anak dara ataupun janda tanpa kerelaan”.

5. Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah r.h (meninggal 728H) ketika mengulas tentang paksaan anak perempuan berkahwin dengan kuasa wali mujbir, beliau menyebut: “Adapun menikahkan wanita dalam keadaan dia benci maka ini menyanggahi prinsip Islam dan akal yang waras. Allah tidak mengizinkan wali (bapa/datuk) memaksa anak perempuan atas sesuatu pembelian atau sewaan tanpa keizinannya, tidak juga boleh memaksa makanan, minuman dan pakaian yang dia tidak mahu. Bagaimana pula boleh memaksanya atas persetubuhan dan pergaulan dengan orang yang dia benci?! Memaksa pergaulan dengan orang yang dia benci bergaul dengannya?! Allah menjadikan hubungan antara suami isteri itu cinta dan kasih. Jika perkahwinan itu tidak menghasilkan kecuali kebencian dan berpaling daripada suaminya, mana di manakah cinta dan kasih dalam perkahwinan itu?” [Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, 16/239. Riyadh: maktab al-‘Abikan].

6. Jelas dalil-dalil mensyaratkan kerelaan wanita dalam perkahwinan. Kerelaan itu hendaklah dilihat dalam konteks yang sebenar pada tempat dan waktunya. Anak perempuan yang bawah umur, yang tidak memahami realiti apa yang dia persetujui, tidak boleh dianggap rela. Realiti dan cabaran kehidupan zaman ini dan dahulu juga tidak sama. Untuk hidup di zaman moden, di negara kita, anak perempuan perlukan pendidikan dan pelajaran yang secukupnya. Jika dia masih lagi di sekolah rendah, bagaimanakah dia akan meneruskan dunia pelajarannya jika dia berkahwin di peringkat itu. Wali yang menikahkan anak kerana kemiskinan yang mana dia mahu perolehi keuntungan tertentu, tidak layak menjadi wali. Wali itu bermaksud pelindung. Dia sudah tidak menjadi pelindung. Bahkan dia sudah menjadi pemangsa.

7. Ingin diulangi di sini apa yang sarjana besar Islam al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (meninggal 751H) sebut: "Sesungguhnya syariah Islam itu binaan dan asasnya adalah atas segala hikmah dan kebaikan untuk manusia di dunia dan akhirat. Syariah Islam itu segalanya keadilan, kebaikan dan hikmat. Maka setiap perkara yang terkeluar dari keadilan kepada kezaliman, dari rahmat kepada yang berlawanan dengannya, dari kebaikan kepada kerosakan, dari hikmat kepada sia-sia maka ianya bukan syariah Islam sekalipun diberikan takwilan untuknya". (Ibn Qayyim al-Jauziyyah, I'lam al-Muwaqqi'in, 3/3, Beirut: Dar al-Jail).

8. Sekali lagi ditegaskan, betapa perlu kita bersifat terbuka dalam menilai pandangan-pandangan agama sekalipun dari mazhab yang kita terbiasa dengannya. Islam itu hujah. Islam diutuskan untuk kebaikan manusia bukan untuk sebaliknya. Maka, segala nas, tafsiran nas dan pendapat dari apa aliran sekalipun, hendaklah dilihat dalam konteksnya yang betul. Jangan kita letakkan teks pada konteks yang salah. Kita tidak wajar terlalu terikat dengan sesuatu mazhab tetapi yang mesti kita lakukan berusaha memahami hujah-hujah para sarjana dari apa mazhab sekalipun selagi tidak menyanggahi al-Quran dan al-Sunnah.

Khamis, Julai 13, 2017

Panduan Wudhuk

Rukun rukun wudhu ada 6 : 1. Niat نَوَيْتُ الْوُضُوْءَلِرَفْعِ الْحَدَثِ الْاَصْغَرِفَرْضًالِلّٰهِ تَعَالٰى Niat adalah bertujuan sesuatu yang bersamaan dengan pekerjaannya dan tempatnya dihati dan melafadkannya sunnah. dan waktunya niat didalam melaksanakan wudhu yaitu ketika membasuh bagian pertama dari wajah. adapun bacaan niatnya seperti lafadz diatas. 2. Membasuh Muka Adapun membasuh muka didalam wudhu batas batasnya adalah secara vertikal dari tempat tumbuhnya rambut secara normal sampai ke dagu. dan secara horizontal dari telinga ke telinga. 3. Membasuh Kedua tangan Batasnya yaitu dari ujung jari hingga ke siku lebih sedikit. lebih baiknya lebih 4 atau 5 jari diatas siku. 4. Membasuh sebagian kepala Yaitu membasuh sebagian dari pada area kepala atau rambut. 5. Membasuh kedua kaki Batasnya yaitu dari jari jari kaki hingga kedua mata kaki lebih sedikit, untuk lebih baiknya hingga ke betis. 6. Tertib Yaitu tidak mendahulukan bagian satu dengan bagian yang lain atau sesuai urutan fardhu wudhu diatas.

Source: http://www.fiqihmuslim.com/2014/09/rukun-wudhu.html
Rukun rukun wudhuk ada 6 :

1. Niat

Niat adalah bertujuan sesuatu yang bersamaan dengan pekerjaannya dan tempatnya dihati dan melafadkannya sunnah. dan waktunya niat didalam melaksanakan wudhu yaitu ketika membasuh bagian pertama dari wajah. adapun bacaan niatnya seperti lafadz diatas.

2. Membasuh Muka

Adapun membasuh muka didalam wudhu batas batasnya adalah secara vertikal dari tempat tumbuhnya rambut secara normal sampai ke dagu. dan secara horizontal dari telinga ke telinga.

3. Membasuh Kedua tangan

Batasnya yaitu dari ujung jari hingga ke siku lebih sedikit. lebih baiknya lebih 4 atau 5 jari diatas siku.

4. Membasuh sebagian kepala

Yaitu membasuh sebagian dari pada area kepala atau rambut.

5. Membasuh kedua kaki

Batasnya yaitu dari jari jari kaki hingga kedua mata kaki lebih sedikit, untuk lebih baiknya hingga ke betis.

6. Tertib
  
Yaitu tidak mendahulukan bagian satu dengan bagian yang lain atau sesuai urutan fardhu wudhu diatas.




Wudhuk

Jika kita membuka hadits-hadits yang terkait dengan jumlah hitungan dalam membasuh anggota-anggota wudhu, maka di sana kita akan dapatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berwudhu dengan sekali basuh, dua kali basuh, dan tiga kali basuh. Sedang sikap yang terbaik dalam menyikapi ragam sunnah ini adalah dengan melakukan variasi saat melakukannya. Sesekali dengan satu kali basuh dan di waktu lain dengan 2/3 kali basuh, dengan demikian sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dapat teramalkan tanpa mengabaikan salah satunya.

Dalil Ragamnya Basuhan
 
Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bolehnya berwudhu satu kali, dua kali, dan tiga kali basuh adalah sebagai berikut:
1. Diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, ‘Ketika berwudhu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam terkadang membasuh satu kali anggota wudhunya, terkadang dua kali, terkadang pula tiga kali.’ [Shahih. HR. ath-Thahawi, Syarh al-Atsar 1/36].
2. Diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam bab Wudhu, dari ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berwudhu sekali-sekali, ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu satu kali-satu kali.’ [HR. al-Bukhari 157].
3. Dan dalam riwayat Abdullah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dua kali-dua kali.’
4. Adapun keterangan tentang kebiasaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam membasuh anggota wudhunya tiga kali adalah hadits dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, ‘Dari Humran, bahwa Utsman pernah meminta air untuk berwudhu. Ia lalu mencuci tangannya tiga kali. Kemudian berkumur, menghisap air melalui hidung dan mengeluarkannya. Kemudian membasuh tangan kanannya hingga siku sebanayk tiga kali. Lalu, tangan kirinya begitu juga. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian membasuh kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali, lalu kaki kirinya begitu juga. Kemudian ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini ”.’ [Muttafaq ‘Alaihi. Shahih Bukhari 158 dan Muslim 226].

Ayat Al-Quran dan Hadis berkaitan dengan Anjing

Al-Quran

Dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami tinggikan pangkatnya dengan (sebab mengamalkan) ayat-ayat itu. Tetapi ia bermati-mati cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingannya adalah seperti anjing, jika engkau menghalaunya: ia menghulurkan lidahnya termengah-mengah, dan jika engkau membiarkannya: ia juga menghulurkan lidahnya termengah-mengah. Demikianlah bandingan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berfikir.
   

Dan engkau sangka mereka sedar, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri; sedang anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua; jika engkau melihat mereka, tentulah engkau akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah engkau akan merasa sepenuh-penuh gerun takut kepada mereka.

(Sebahagian dari) mereka akan berkata: "Bilangan Ashaabul Kahfi itu tiga orang, yang keempatnya ialah anjing mereka "; dan setengahnya pula berkata:"Bilangan mereka lima orang, yang keenamnya ialah anjing mereka" - secara meraba-raba dalam gelap akan sesuatu yang tidak diketahui; dan setengahnya yang lain berkata: "Bilangan mereka tujuh orang, dan yang kedelapannya ialah anjing mereka". Katakanlah (wahai Muhammad): "Tuhanku lebih mengetahui akan bilangan mereka, tiada yang mengetahui bilangannya melainkan sedikit". Oleh itu, janganlah engkau berbahas dengan sesiapapun mengenai mereka melainkan dengan bahasan (secara sederhana) yang nyata (keterangannya di dalam Al-Quran), dan janganlah engkau meminta penjelasan mengenai hal mereka kepada seseorangpun dari golongan (yang membincangkannya).

Khamis, Julai 06, 2017

Hukum Menyentuh Anjing


Para ulama madzhab (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali) sepakat bahwa air liur anjing najis kecuali Maliki yang berpendapat anjing tidak najis sama ada air liur atau bulunya. Bagi kaum muslimin di Indonesia, Malaysia, Singapura, Yaman dan lainnya kebanyakan mengikuti madzhab Syafi’iyyah yang menghukumi najis seluruh bagian tubuh anjing jika disentuhnya dalam keadaan basah.

Asy-Syarbini mengatakan :

(وما نجس ) من جامد ولو بعضا من صيد أو غيره ( بملاقاة شيء من كلب ) سواء في ذلك لعابه وبوله وسائر رطوباته وأجزائه الجافة إذا لاقت رطبا ( غسل سبعا إحداهن ) في غير أرض ترابية ( بتراب )
“– Dan apa yang najis – dari sesuatu yang padat walaupun sebagiannya dari buruan atau lainnya – karena besentuhan dengan bagian anjing – sama ada itu air liurnya atau kencingnya dan semua bagiannya yang basah dan anggota tubuhnya yang yang kering jika menyentuh sesuatu yang basah – maka mensucikannya tujuh kali saah satunya dengan tanah. “[1]

Artinya jika menyentuh anjing salah satunya (anjing atau yang menyentuh) sama ada tubuh, pakaian atau tempat dalam keadaan basah, maka menjadi najis dan mensucikannnya tujuh kali cucian salah satunya dicampur dengan tanah. Mafhumnya jika keduanya tidak basah, maka tidaklah najis.

Imam an-Nawawi berkata :

مذهبنا أن الكلاب كلها نجسة، المُعَلَّم وغيره، الصغير والكبير، وبه قال الأوزاعي وأبو حنيفة وأحمد وإسحاق وأبو ثور وأبو عبيد
“Madzhab kami, mengatakan bahwa anjing seluruh bagiannya adalah najis, sama aja anjing terlatih atau bukan, kecil ataupun besar. Pendapat ini juga dikatakan oleh al-Awza’i, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Tsaur dan Abu Ubaid “.[2]

Selasa, Julai 04, 2017

Beza Makna Sedekah, Infaq dan Zakat

Sedeqah bererti pemberian yang padanya dicari pahala daripada Allah Taala. Rujuk al-Ta`rifat (1/132). Manakala Ibn Manzur memberikan definisi sedekah sebagai apa yang apa yang engkau berikan kerana Allah kepada golongan fakir, yakni yang memerlukan. Rujuk Lisan al-Arab (10/196). Sedekah merangkumi maksud zakat wajib, dan sedekah sunat, seperti yang dimaksudkan dalam
al-Quran:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Maksudnya: Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, dan orang-orang miskin, dan amil-amil yang mengurusnya, dan orang-orang muallaf yang dijinakkan hatinya, dan untuk hamba-hamba yang hendak memerdekakan dirinya, dan orang-orang yang berhutang, dan untuk (dibelanjakan pada) jalan Allah, dan orang-orang musafir (yang keputusan) dalam perjalanan. (Ketetapan hukum yang demikian itu ialah) sebagai satu ketetapan (yang datangnya) dari Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
Surah al-Taubah, (9:60)

Begitu juga keterangan hadis dalam surat yang ditulis oleh Sayyidina Abu Bakar RA:
هَذِهِ فَرِيضَةُ الصَّدَقَةِ الَّتِي فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى المُسْلِمِينَ
Maksudnya: Kefarduan sedekah (yakni zakat) ini ialah seperti mana yang difardukan oleh Rasulullah SAW ke atas kaum Muslimin.
Hadis riwayat Imam Bukhari (1454)

Manakala, Infaq menurut al-Jurjani bererti membelanjakan harta kepada yang berhajat. Rujuk al-Ta`rifat (1/39). Dalam Surah al-Baqarah (2:3), Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Maksudnya: (Orang yang beriman itu adalah) orang-orang yang beriman dengan perkara yang ghaib, menunakan solat dan mereka memberi infaq apa yang kami rezekikan kepada mereka.

Perkata ‘ينفقون’ dalam ayat ini, menurut pilihan Imam al-Tabari, merujuk kepada pensyariatan zakat dan pemberian nafkah kepada ahli keluarga yang ditanggung. Rujuk Jami’ al-Bayan (1/244). Justeru, sedeqah dan infaq itu ialah sinonim.

Manakala waqaf dari sudut bahasa membawa maksud menahan sesuatu. Dari sudut istilah, ianya membawa maksud menahan harta yang boleh diambil darinya manfaat beserta mengekalkan ‘ain harta tersebut. Ianya menghilangkan pemilikan dan pengurusan harta tersebut dari pewakaf dan harta tersebut akan digunakan pada jalan yang dibenarkan ataupun keuntungan darinya (harta wakaf tersebut) digunakan untuk jalan kebaikan. Lihat Mughni al-Muhtaj, (2/376). Pahala orang yang berwakaf ini akan berkekalan selagi mana harta wakaf itu masih wujud walaupun selepas kematian pewakaf. Wakaf juga disebut sebagai sedekah jariah.

Sabda Rasulullah SAW:
إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Maksudnya: Jika mati seorang manusia itu akan terputuslah catitan amalannya melainkan pada tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak soleh yang mendoakan baginya kebaikan.

Hadis riwayat Imam Muslim (1631)
Imam Nawawi RAH menjelaskan bahawa sedekah jariah itu bermaksud wakaf. Rujuk Syarh Muslim (11/85).

Justeru, boleh disimpulkan bahawa pengertian infaq dan sedekah memiliki maksud zakat wajib, sedekah sunat, dan wakaf. Manakala wakaf ialah pengertian yang lebih khusus kepada amakan wakaf.

Wallahua’lam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...