Darurat adalah suatu istilah yang seringkali digunapakai di dalam Islam bagi mengharuskan sesuatu hukum disebabkan berlakunya kemudharatan. Namun ramai yang mempermudahkan penggunaan ini sehingga menyebabkan berlakunya perbezaan yang ketara di kalangan masyarakat di dalam menggunakan suatu hukum. Di sana terdapat batas-batas yang telah ditetapkan syarak berkenaan darurat di dalam Islam, bukanlah semudah yang di sangka oleh sebahagian masyarakat. Oleh itu, di sini saya akan menjelaskan secara ringkas apakah yang dimaksudkan dengan darurat, dan piawaiannya secara umum mudah-mudahan dapat difahami oleh pembaca. Untuk penjelasan lanjut perlulah dirujuk di dalam kitab-kitab para ulama yang muktabar.
Rabu, Februari 02, 2011
Tiga Buah Mahkamah di Padang Masyar
Menurut riwayat, ada tiga buah Mahkamah di padang Masyar.
Mahkamah 1
Satu Mahkamah untuk orang kafir.Di sini di hitung segala kesalahan dan di bincangkan jenis jenis azab untuk orang kafir, yang paling ringan di siksa dengan di pakai terompah neraka, lalu kepala pun mendidih..
Mahkamah 1
Satu Mahkamah untuk orang kafir.Di sini di hitung segala kesalahan dan di bincangkan jenis jenis azab untuk orang kafir, yang paling ringan di siksa dengan di pakai terompah neraka, lalu kepala pun mendidih..
Neraka
Neraka adalah tempat penyiksaan di akhirat yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk orang-orang kafir dan orang-orang yang berbuat maksiat.
Nama-Nama Neraka
a. An-Naar (QS. An-Nisa: 14)
b. Jahannam (QS. An-Nisa: 140)
c. Al-Jahiim (QS. Al-Maidah: 10)
d. As-Sa’ir (QS. Al-Ahzab: 64)
e. Saqar (QS. Al-Qamar: 48)
f. Al-Huthamah (QS. Al-Humazah: 4-6)
g. Lazha (QS. Al-Ma’arij: 15-17)
h. Darul Bawar (QS. Ibrahim: 28-29)
Nama-Nama Neraka
a. An-Naar (QS. An-Nisa: 14)
b. Jahannam (QS. An-Nisa: 140)
c. Al-Jahiim (QS. Al-Maidah: 10)
d. As-Sa’ir (QS. Al-Ahzab: 64)
e. Saqar (QS. Al-Qamar: 48)
f. Al-Huthamah (QS. Al-Humazah: 4-6)
g. Lazha (QS. Al-Ma’arij: 15-17)
h. Darul Bawar (QS. Ibrahim: 28-29)
Tatacara Menjalin Hubungan dengan Bukan Islam
Hubungan antara Ummat Islam dengan Ghairul Islam
KALAU kita hendak menyimpulkan ajaran-ajaran Islam dalam masalah hubungan dengan golongan ghairul Islam --tentang soal halal dan haram-- cukup kiranya kita berpangkal kepada dua ayat al-Quran yang tepat untuk dijadikan konstitusi (dustur) yang menyeluruh dalam permasalahan ini.
Kedua ayat itu ialah:
"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak mengusir kamu dari kampung-kampungmu sebab Allah senang kepada orang-orang yang adil. Allah hanya melarang kamu bersahabat dengan orang-orang yang memerangi kamu dalam agama dan mengusir kamu dari kampung-kampungmu dan saling bantu-membantu untuk mengusir kamu; barangsiapa bersahabat dengan mereka, maka mereka itu adalah orang-orang zalim." (al-Mumtahinah: 8-9)
KALAU kita hendak menyimpulkan ajaran-ajaran Islam dalam masalah hubungan dengan golongan ghairul Islam --tentang soal halal dan haram-- cukup kiranya kita berpangkal kepada dua ayat al-Quran yang tepat untuk dijadikan konstitusi (dustur) yang menyeluruh dalam permasalahan ini.
Kedua ayat itu ialah:
"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak mengusir kamu dari kampung-kampungmu sebab Allah senang kepada orang-orang yang adil. Allah hanya melarang kamu bersahabat dengan orang-orang yang memerangi kamu dalam agama dan mengusir kamu dari kampung-kampungmu dan saling bantu-membantu untuk mengusir kamu; barangsiapa bersahabat dengan mereka, maka mereka itu adalah orang-orang zalim." (al-Mumtahinah: 8-9)
Hukum Membuka Aib Orang Lain
Menurut penceramah kajian tafsir Al Qur'an Masjid Raudhatul Jannah Bengkong Baru, Ustad Muhith Marzuqi SPDi menjelaskan membuka aib orang lain merupakan perbuatan yang sangat keji. Selain tercela, perbuatan itu merupakan dosa besar. Rasulullah bersabda: Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan ditutupi aibnya di dunia dan di akhirat (HR Ibnu Majah Juz II/79, shahih).
"Siapa yang mengajak kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan siapa yang mengajak kesesatan maka baginya dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun, HR Muslim 2674," papar Ustad Muhith Marzuqi menyebutkan hadis dari shahih Muslim.
"Siapa yang mengajak kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan siapa yang mengajak kesesatan maka baginya dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun, HR Muslim 2674," papar Ustad Muhith Marzuqi menyebutkan hadis dari shahih Muslim.
Langgan:
Catatan (Atom)