Selasa, Mac 18, 2008

Mengenal Sifat Yahudi dan Nashara

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِيْنَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Ma`idah: 82)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

لَتَجِدَنَّ
“Sesungguhnya kamu dapati”. Huruf lam yang terdapat pada awal kata ini sebagai jawaban dari sumpah, yang memberi faedah penekanan atas kalimat tersebut. Demikian pula nun pada akhir kata yang di-tasydid, memberi penekanan yang sangat kuat akan kebenaran berita yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قِسِّيْسِيْنَ
Bentuk jamak dari qissis, yang berasal dari kata qassa, yang berarti mencari sesuatu dan menelitinya. Al-Qissis maknanya adalah seorang alim. Adapun dalam ayat ini, yang dimaksud adalah orang-orang yang mengikuti para ulama dan ahli ibadah. Adapun bentuk jamak qissis dalam bentuk jamak taksir adalah qasawisah (قَسَاوِسَة). Lafadz ini ada kemungkinan berasal dari bahasa Arab yang asli dan ada kemungkinan pula berasal dari bahasa Romawi di mana kemudian orang Arab menyerapnya sehingga menjadi bahasa mereka. Sebab dalam Al-Qur`an tidak ada bahasa lain kecuali bahasa Arab. (lihat Tafsir Al-Qurthubi)

وَرُهْبَانًا
Bentuk jamak dari rahib, yang berarti ahli ibadah. Tarahhub berarti beribadah di kuil peribadatan. (lihat Tafsir Al-Qurthubi dan Tafsir Al-Alusi)

Penjelasan Makna Ayat

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau –wahai Muhammad– pasti akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang membenarkanmu, mengikutimu, dan membenarkan apa yang engkau bawa kepada pemeluk Islam, adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, para penyembah berhala yang menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai sesembahan yang mereka sembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan engkau mendapati orang yang paling dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman yang membenarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah orang-orang yang mengatakan: ‘Kami adalah Nashara’, sebab di antara mereka ada yang mengikuti para ulama dan ahli ibadah, dan mereka tidak menyombongkan diri dari menerima kebenaran dan mengikutinya, serta tunduk kepadanya”. (Tafsir At-Thabari)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman untuk menjelaskan salah satu dari dua kelompok yang paling dekat dengan kaum muslimin dalam sikap loyal dan kecintaan mereka, dan kelompok yang paling jauh dari mereka: “Engkau pasti mendapati bahwa manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”.

Dua kelompok ini adalah manusia yang paling keras permusuhannya secara mutlak terhadap Islam dan kaum muslimin serta yang paling sering mendatangkan kemudaratan bagi mereka, disebabkan sikap kesombongan, dengki, menentang dan kekufuran mereka.

Dan “Engkau pasti mendapati bahwa manusia yang paling dekat kecintaannya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: ‘Kami adalah Nashara’.” Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa sebab tentang hal itu. Antara lain, adanya para ulama yang zuhud dan para ahli ibadah di kuil-kuil peribadatan mereka.

Ilmu yang dibarengi sifat zuhud dan semangat ibadah merupakan perkara yang melembutkan hati dan meluluhkannya, serta menghilangkan sikap kasar dan keras. Oleh karenanya tidak ditemukan pada mereka sikap keras orang Yahudi dan kekasaran orang-orang musyrikin.
Dan di antaranya pula bahwa mereka tidak menyombongkan diri. Tidak terdapat pada mereka kesombongan dan congkak dari mengikuti kebenaran. Hal tersebut menyebabkan dekatnya mereka kepada kaum muslimin dan menimbulkan rasa cinta. Karena orang yang bersikap tawadhu’ (merendah diri) itu lebih dekat kepada kebaikan daripada orang yang sombong. (Taisir Al-Karimirrahman)

Dan pada ayat yang setelahnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang kelunakan hati mereka untuk menerima kebenaran yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُوْلِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِيْنَ
“Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mengucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur`an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata: “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi) atas kebenaran Al-Qur`an dan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Al-Ma`idah: 83)

Siapakah Nashara yang Dimaksud Ayat Ini?

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang siapa yang dimaksud dengan kaum Nashara yang tersebut di dalam ayat ini.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa mereka adalah Raja Najasyi dan para sahabatnya yang telah masuk Islam, tatkala kaum muslimin berhijrah pertama kali ke Habasyah dalam rangka menghindari gangguan kaum musyrikin. Ini merupakan pendapat Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ibnu ‘Abbas, As-Suddi, dan yang lainnya.

Ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang beriman kepada syariat Nabi Isa ‘alaihissalam, yang setelah diutusnya Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka lalu beriman dan mengikuti beliau. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Qatadah. Ia berkata: “Mereka adalah beberapa orang dari kalangan ahli kitab yang dahulu berada di atas syariat yang benar yang dibawa oleh Isa ‘alaihissalam. Mereka beriman dan merujuk kepadanya. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi-nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka membenarkan dan mengimaninya, serta meyakini bahwa apa yang beliau bawa adalah kebenaran, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memuji mereka.” (Tafsir Ath-Thabari)

Namun At-Thabari rahimahullahu menguatkan bahwa ayat ini bersifat umum, meliputi setiap kaum Nashara yang luluh hatinya setelah sampai kebenaran kepadanya. Beliau mengatakan:
“Pendapat yang benar menurutku dalam hal ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat satu kaum yang mereka mengatakan: ‘Kami adalah Nashara, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati mereka sebagai manusia yang paling dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dan Allah tidak menyebut nama-nama mereka. Sehingga ada kemungkinan yang dimaksud adalah para pengikut Najasyi, dan ada kemungkinan pula yang dimaksud adalah satu kaum yang mereka dahulu di atas syariat ‘Isa, lalu mereka menemukan Islam (yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen.). Mereka kemudian masuk Islam tatkala mendengar Al-Qur`an dan meyakini bahwa itu adalah kebenaran, dan mereka tidak menyombongkan diri”.
Dan pendapat ini juga dikuatkan oleh Al-Alusi rahimahullahu dalam tafsirnya. (Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Alusi)

Antara Kesombongan Yahudi dan Kebodohan Nashara

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan tentang sifat sombong yang menyebabkan kaum Yahudi melampaui batas dalam menolak kebenaran:
“Telah diketahui bahwa Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam adalah pemimpin ahli tauhid kaum muslimin setelahnya, sebagaimana (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menjadikannya sebagai pemimpin dan imam. serta para rasul dari keturunan beliau datang setelahnya. Maka orang Yahudi dan Nashara pun membuat berbagai macam bid’ah yang menyebabkan mereka keluar dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mereka diperintahkan untuk mengikutinya, yaitu Islam dalam arti umum (yakni agama para rasul). Oleh karenanya kita diperintahkan untuk mengatakan:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)

Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

الْيَهُوْدُ مَغْضُوْبٌ عَلَيْهِمْ وَالنَّصَارَى ضَالُّوْنَ
“Yahudi itu dimurkai dan kaum Nashara adalah orang-orang yang sesat”. (HR. Tirmidzi dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no 8202)

Masing-masing dari dua umat ini (Yahudi dan Nashara) telah keluar dari Islam. Dan salah satu dari dua lawan Islam (yaitu kesombongan dan kesyirikan) lebih mendominasi mereka. Orang Yahudi lebih didominasi sifat sombong dan sedikit kesyirikan pada mereka, sedangkan orang-orang Nashara didominasi perbuatan kesyirikan dan sedikit kesombongan pada mereka. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan hal itu dalam kitab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Yahudi:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِي إسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إلاَّ اللهَ
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah.” (Al-Baqarah: 83)

Dan ini merupakan pokok keislaman. Hingga firman-Nya:

وَآتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقًا تَقْتُلُوْنَ

“Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepada kalian seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian lalu kalian angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?” (Al-Baqarah: 87)

Lafadz yang berbentuk pertanyaan ini adalah sikap mengingkari perbuatan mereka dan celaan atas mereka, dan mereka dicela atas apa yang telah mereka lakukan. Setiap kali datang seorang rasul kepada mereka yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya, mereka pun menyombongkan diri. Bahkan mereka membunuh sebagian nabi dan mendustakan sebagian yang lain, Inilah keadaan orang yang sombong yang tidak mau menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menafsirkan sombong dalam hadits yang shahih dengan makna menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Dalam Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ وَلاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidaklah masuk neraka orang yang terdapat dalam hatinya seberat semut dari keimanan, dan tidaklah masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat semut dari kesombongan.”

Lalu ada seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, seseorang menyukai pakaiannya indah dan sandalnya bagus, apakah itu termasuk kesombongan?” Maka beliau menjawab: “Bukan. Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan, akan tetapi kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”

Bathar kebenaran artinya mengingkari dan menolaknya; dan ghamt terhadap manusia artinya menghinakan dan merendahkan mereka. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut kesombongan tersebut dalam firman-Nya:

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لاَ يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لاَ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلاً وَإِنْ يَرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلاً
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka, jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya.” (Al-A'raf: 146)

Dan inilah keadaan orang yang tidak mengamalkan ilmunya bahkan mengikuti hawa nafsunya. Dialah orang yang menyimpang, sebagaimana firman-Nya:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah.” (Al-A'raf: 175-176)

Dan ini seperti keadaan para ulama jahat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tatkala Musa ‘alaihissalam kembali kepada mereka:

وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوْسَى الْغَضَبُ أَخَذَ اْلأَلْوَاحَ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِيْنَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُوْنَ
“Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya.” (Al-A'raf: 154)

Maka orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, berbeda keadaannya dengan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, sebagaimana firman-Nya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (An-Nazi’at: 40-41)

Maka orang-orang sombong yang mengikuti hawa nafsunya, dipalingkan dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka tidak mengilmui dan memahaminya. Tatkala mereka meninggalkan pengamalan terhadap apa yang telah mereka ketahui disebabkan kesombongan dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka diberi hukuman dengan dihalangi dari ilmu dan pemahaman. Sebab ilmu akan memerangi orang yang bersikap sombong sebagaimana aliran air meninggalkan tempat yang tinggi.

Adapun orang-orang yang takut kepada Rabbnya, mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka ilmu dan rahmat. Sebab barangsiapa mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mewariskan kepadanya ilmu yang dia tidak ketahui. Oleh karenanya, tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat kaum Nashara bahwa di antara mereka terdapat ahli ibadah dan orang yang berilmu, juga bahwa mereka tidak menyombongkan diri, maka mereka lebih dekat dengan orang-orang yang beriman (lalu beliau menyebutkan ayat di atas).

Tatkala pada mereka terdapat rasa takut dan tidak sombong, maka mereka lebih mendekati hidayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan keadaan orang yang telah menjadi muslim di antara mereka:

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُوْلِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا آمَنَّا
فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِيْنَ
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mengucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur`an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama para saksi (atas kebenaran Al-Qur`an dan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”. (Al-Ma`idah:83)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: “Bersama para saksi” yaitu bersama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. Sebab, kaum Nashara memiliki sikap sederhana dan ibadah, namun mereka tidak punya ilmu dan persaksian. Oleh karenanya, meskipun orang-orang Yahudi lebih jahat dari mereka -disebabkan kesombongan yang lebih besar, rasa takut yang sedikit, serta hati yang lebih keras- namun sesungguhnya kaum Nashara lebih jahat dari mereka, dari sisi bahwa mereka lebih besar kesesatannya dan lebih dominan kesyirikannya, serta lebih jauh dari sikap mengharamkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyifati mereka dengan perbuatan syirik yang mereka ada-adakan sebagaimana (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menyifati kaum Yahudi dengan kesombongan hawa nafsunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (At-Taubah: 31)

Dan firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ اللهُ يَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُوْنُ لِي أَنْ أَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah.’?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara ghaib.” (Al-Ma`idah: 116)

hingga firman-Nya:

أَنِ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
“Yaitu: ‘Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabb kalian’.” (Al-Ma`idah: 117)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan ucapan mereka bahwa Al-Masih bin Maryam itu adalah satu di antara tiga (sesembahan), juga ucapan mereka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat seorang anak: dalam banyak tempat dalam kitab-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan besarnya kedustaan dan cercaan mereka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala serta ucapan mungkar mereka yang hampir saja langit-langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung menjatuhi mereka. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak mereka dalam banyak tempat dalam firman-Nya agar tidak menyembah kecuali hanya kepada sesembahan yang satu. Seperti firman-Nya:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِيْنِكُمْ وَلاَ تَقُوْلُوا عَلَى اللهِ إِلاَّ الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُوْلُوا ثَلاَثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَكَفَى بِاللهِ وَكِيْلاً. لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيْحُ أَنْ يَكُوْنَ عَبْدًا لِلهِ وَلاَ الْمَلاَئِكَةُ الْمُقَرَّبُوْنَ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيْعًا
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah sesembahan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.” (An-Nisa`: 171-172)

Hal ini karena orang-orang yang menyekutukan-Nya dengan makhluk baik berupa manusia atau selainnya, maka mereka (yang disembah) menjadi musyrikin. Dan jadi sombonglah orang-orang yang mereka jadikan sekutu bagi-Nya dari kalangan jin dan manusia. Sebagaimana firman-Nya:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ اْلإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jin: 6)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa hamba-hamba-Nya tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya, walaupun kaum musyrikin menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan diri mereka.

Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَلاَ يَتُوْبُوْنَ إِلَى اللهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيْقَةٌ كَانَا يَأْكُلاَنِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ اْلآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُوْنَ
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memerhatikan ayat-ayat Kami itu).” (Al-Ma`idah: 74-75)

dan firman-Nya:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيْحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيْلَ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putera Maryam’, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, niscaya Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Ma`idah:72)

Diterangkan oleh-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada mereka dengan tauhid dan mencegah mereka dari menyekutukan-Nya, seperti apa yang mereka (Nashara) lakukan. Karena asal dari agama Yahudi adalah kesombongan maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum mereka dengan kehinaan. Dicampakkan kepada mereka kehinaan di manapun mereka berada.

Dan karena asal dari agama Nashara kesyirikan disebabkan mereka menempuh banyak jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyesatkan mereka. Masing-masing dari kedua umat itu pun mendapatkan hukuman atas dosa yang mereka lakukan, berupa lawan dari tujuan mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah berbuat zalim terhadap hamba-hamba-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits:

يُحْشَرُ الْجَبَّارُوْنَ وَالْمُتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي صُوَرِ الذَّرِّ يَطَؤُهُمُ النَّاسُ بِأَرْجُلِهِمْ
“Orang-orang yang congkak dan sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam bentuk semut-semut kecil, yang diinjak-injak oleh manusia dengan kaki mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma, dihasankan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 8040)

Demikian pula terdapat dalam hadits dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu secara mauquf dan marfu’:

مَا مِنْ أَحَدٍ إلاَّ فِي رَأْسِهِ حِكْمَةٌ فَإِنْ تَوَاضَعَ قِيْلَ لَهُ: انْتَعِشْ نَعَشَكَ اللهُ؛ وَإِنْ رَفَعَ رَأْسَهُ قِيْلَ لَهُ: انْتَكِسْ نَكَسَكَ اللهُ
“Tidak seorang pun melainkan di kepalanya terdapat hikmah. Jika dia merendahkan diri (tawadhu’), maka dikatakan kepadanya: ‘Terangkatlah engkau, Allah telah mengangkat (derajatmu)’. Dan jika dia mengangkat kepalanya (sombong), maka dikatakan kepadanya: ‘Merugilah engkau, Allah telah merendahkan kamu’.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Dan firman-Nya:

بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ. وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِيْنَ كَذَبُوا عَلَى اللهِ وُجُوْهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِيْنَ. وَيُنَجِّي اللهُ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لاَ يَمَسُّهُمُ السُّوْءُ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ
‘(Bukan demikian) sebenarnya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepada kamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri? Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.” (Az-Zumar: 59-61)

Oleh karenanya, mereka berhak mendapatkan kemarahan dan murka-Nya. Sedangkan kaum Nashara tatkala mereka memasuki pintu bid’ah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sesatkan mereka dari jalan-Nya. Sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang banyak, serta mereka semakin tersesat dari jalan yang lurus. Dan sesungguhnya mereka melakukan bid’ah tersebut dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya dan menyembah-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan mereka dari-Nya dan menyesatkan mereka, sehingga mereka menyembah selain-Nya. Maka camkanlah ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus. Jalan orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa li Syaikhil Islam, 7/628)

Tiada ulasan: