Mukadimah

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum dan salam sejahtera. Saya ingin mengucapkan selamat datang dan terima kasih kerana sudi mengunjungi webblog ini.

Tujuan blog ini adalah untuk kita semua berkongsi bermacam-macam maklumat. Artikel-artikel yang dipaparkan diperolehi daripada kiriman email, buku, majalah dan dari blog yang lain. Diharap aktikel-arkitel yang disiarkan dalam blog ini memberi manfaat kepada kita semua.

Jika anda ingin memberi sebarang komen atau pendapat, sila tulis dalam ruangan komen / pesanan yang saya sediakan.

Saya ingin memohon maaf sekiranya terdapat artikel-artikel yang dipaparkan dalam blog ini menyinggung perasaan anda.

Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka bersifat yang demikian ialah orang-orang yang berjaya. ( Surah Ali Imran : 104 )

Isnin, November 15, 2010

Hikmah dan Makna Simbolik Ibadah Haji

IHRAM

Ihram yakni, pakaian yang terdiri dari hanya selembar kain, tanpa sepatu dan
tutup kepala, pakaian ini seperti pakaian pengemis yang menjadi simbol dari
peminta-minta, pengemis tidak pantas menggunakan pakaian yang menggambarkan
kehebatan manusia dari sisi duniawi. Karena itu, pada diri seorang jamaah
haji, tidak boleh lekat tubuhnya simbol kesombingan dan pada saat menunaikan
haji itu, manusia tidak boleh memiliki kesibukan lain kecuali kesibukan
dalam rangka mencari perhatian dari Allah Swt. Dihadapan Allah, semua
manusia sama, kecuali ketaqwaannya, sementara pakaian seringkali bisa
menjadi simbol perbedaan dan menggambarkan status sosial dan pengaruh
kejiwaan. Ini berarti, seorang haji harus menanggalkan segala macam
perbedaan, keangkuhan dan status sosial dalam berinteraksi dengan kebenaran
yang datang dari Allah Swt. Karena itu sebagai seorang muslim kita tidak
boleh mengukur kebenaran dari jabatan status sosial, harta dan sebagainya.

Ihrom dalam simbol persamaan derajat manusia dalam menghadap Allah Swt dan
pakaian seperti itulah yang akan dikenakan setiap muslim dalam menghadap
Allah sesudah kematiannya, dan itu pula sebabnya mengapa ibadah haji disebut
juga dengan latihan untuk mati atau kembali kepada Allah, karena itu seorang
haji semestinya telah memilki kesiapan yang lebih baik dalam bentuk amal
shaleh yang banyak untuk menghadapi kematian, kapanpun, dimanapun dalam
kondisi keadaanpun juga. Allah berfirman : Barangsiapa mengharap perjumpaan
dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal shaleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya (QS. 18:110).

KA'BAH DAN TA'WAF

Ka'bah adalah simbol dari adanya Allah, karena itu shalat yang dilakukan
setiap muslim harus menghadap kiblat, yakni menghadap ka'bah dan bukan menye
mbah ka'bah. Ini berarti seorang muslim yang telah menunaikan ibadah haji
semakin yakin akan adanya Allah yang keyakinan itu bantinya diwujudkan dalam
bentuk semakin tunduk dan patuh kepada Allah Swt dan Rasul-Nya dan tidak
berani menyimpang dari jalan-Nya.

Sementara tawaf atau mengililingi ka'bah memberikan gambaran kepada kita
bahwa manusia dipersilakan bahwa diperintah untuk berkativitas dalam
hidupnya, termasuk aktivitas mencari nafkah, namun sebagai muslim kita tidak
akan keluar dari lingkaran atau garis yang ditentukan Allah. Bagi seorang
yang telah menunaikan, semakin besar tekannya untuk tidak menghalalkan
segala cara dalam mencapai keuntungan yang sifatnya duniawi. Karena apapun
yang hendak diperoleh, pada dasarnya hanyalah batu loncatan untuk
mendapatkan keuntungan ukhrawi, Allah berfirman : Dan carilah apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu
melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan duniawi (QS. 28:77).

SA'I

Sa'i yang secara harfiyah artinya usaha, ini berarti manusia harus berusaha
dalam menjalani kehidupannya. Siti Hajar yang berlari dari Shafa ke Marwa
merupakan usaha untuk mendapatkan air yang merupakan salah satu kebutuhan
utama manusia. Karena itu orang yang sudah menunaikan ibadah haji semestinya
tetap rajin bahkan lebih rajin dalam usaha, bukan malah diam dan berpangku
tangan. Adapun Shafa artinya kesucian dan ketegaran, sedangkan Marwa artinya
ideal. Ini berarti. Seorang haji dalam usaha meraih kenikmatan duniawi harus
dengan jiwa yang tegar dan menjaga kesucian sehingga tidak menghalalkan
segala cara agar idealisme yang dianutnya tetap terjaga.

WUKUF

Istilah ini tidk bisa dipisahkan dari ibadah haji adalah Wukuf di Arafah
yang artinya berdiam diri di Padang Arafah. Arafah itu sendiri artinya
pengenalan. Maka seorang haji, ketika wukuf di Arafah diharapkan dia lebih
menganl kepada Allah Swt dengan segala kekuasaan-Nya dan mengenal jati
dirinya, dari mana, mau apa, harus bagaimana dan mau kemana yang dari sini
setiap jamaah haji harus melakukan instropeksi diri atau muhasabah, lalu
menyadari kesalahan dirinya, bertaubat dan bertekad untuk menjalankan
kehidupan yang lebih Islami lagi.

Para jamaah haji juga seharusnya dapat membayangkan bagaimana keadaan di
Padang Mahsyar nanti, karena berkumpulnya jamaah haji di Arafah juga sebagai
simbol dari padang Mahsyar kelak disitu manusia menunggu keputusan Allah Swt
apakah akan dimasukkan ke Syurga atau Neraka.

MELONTAR

Yang merupakan istilah penting dalam ibadah haji adalah melontar yang
dismbolkan sebagai perlawanan terhadap syaitan. Karena itu, seorang haji
semestinya menjadi manusia yang tidak mau tunduk pada syaitan dengan segala
ajakan, godaan dan rayuannya, bahkan syaitan selalu dijadikan sebagai musuh
yang paling berbahaya, Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman,
masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu
mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu (QS. 2:208).

TAHALUL

Tahalul artinya halal. Bagi jamaah haji, setelah tahalul dengan menggunting
atau mencukur rambut, berarti apa-apa yang semula tidak diperbolehkan untuk
dilakukan, sekarang menjadi boleh, ini berarti, seorang haji hanya malakukan
hal-hal yang dibolehkan oleh Allah dan Rasul-Nya, hal-hal yang diharamkan,
baik itu yang menyenangkan atau menguntungkan, maka dia tidak akan
melakukannya.

Dengan demikian, setelah seorang muslim menunaikan ibadah haji, dia mata
dituntut membuktikan kemabruran hajinya itu dengan sikap dan perilaku yang
sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Tiada ulasan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...