Khamis, Julai 05, 2012

Homoseksual Dalam Pandangan Islam


Liwath (homo seksual) adalah hubungan antara sesama jenis (laki-laki dengan laki-laki), sedangkan hubungan antara wanita dengan wanita disebut lesbian. Homo seksual adalah salah satu penyelewengan seksual, karena menyalahi sunnah Allah, dan menyalahi fitrah makhluk ciptaanNya.

Lebih kurang empat belas abad yang lalu, Al Qur’an telah memperingatkan umat manusia ini, supaya tidak mengulangi peristiwa kaum Nabi Luth. Allah berfirman:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (Hud: 82-83)
Pada ayat lain Allah berfirman:

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. (Asy Syu’ara: 165-166)
Selanjutnya pada ayat lain Allah berfirman:

“Dan telah kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (Al Anbiya: 74)
Setelah Rasulullah menerima wahyu tentang berita kaum Luth yang mendapat kutukan dari Allah dan merasakan azab yang diturunkanNya, maka beliau merasa khawatir sekiranya peristiwa itu terulang kembali kepada ummat di masa beliau dan sesudahnya.

Sihir dan Setan


Sihir adalah perbuatan yang telah tercampur syirik. Setan sangat berperan dalam sihir perbuatan yang terlarang ini. Memang setan meminta wewenang kepada Allah untuk menggoda manusia, anak keturunan Adam, lalu wewenang itu diberikan Allah SWT.

Allah memberi kebebasan kepada yang menggoda (iblis) dan yang digoda (manusia), apakah manusia ini mau mengikuti jalan Allah atau jalan syetan. Kalau mengikuti jalan Allah jelas keuntungannya dan kalau mengikuti jalan setan, jelas pula kerugiannya.

Orang yang melakukan sihir, cepat atau lambat pasti terjerumus ke jurang kekufuran. Sebab segala daya upaya yang dilakukan oleh syetan itu adalah membujuk manusia untuk menyekutukan Allah (syirik). Allah berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al Baqarah: 102)

Asal Usul Iblis Laknatullah


Alkisah, beribu-ribu tahun sebelum ada manusia, dunia ini sudah dihuni oleh sejenis makhluk dari golongan jin, mereka dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Di antara mereka ada yang beribadah dan ada yang tidak, walaupun Allah mewajibkan mereka beribadah menyembahNya.

Allah SWT. berfirman, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)


Di antara sekian banyak keturunan jin, Izzazil adalah yang paling taat kepada Allah. Berbeda dengan manusia, jin bisa berumur sampai ribuan, bahkan puluhan ribu tahun. Begitu pula Izzazil. Ia beribadah kepada Allah selama 1000 tahun. Kemudian atas permintaannya ia dipindahkan oleh Allah ke langit pertama.

Di situ ia beribadah kepada Allah selama 1000 tahun juga. Lalu ia dipindahkan ke langit seterusnya, sampai langit ke tujuh. Di masing-masing tingkatan langit, ia beribadah kepada Allah SWT selama 1000 tahun. Jadi Izzazil beribadah kepada Allah selama 8000 tahun.

Karena ketaatan dan pengabdiannya, Allah mengangkatnya ke derajat Al-Muqarrabun, yaitu derajat tertinggi di sisi Allah. Lebih dari itu, Allah menobatkan Izzazil sebagai imam para malaikat yang berkedudukan di langit.

Merasa berada dalam derajat yang mulia, maka ketika Allah memerintahkan dirinya dan para malaikat bersujud kepada Adam, Izzazil dengan berbagai dalih menolak. Penolakan itu disebabkan karena ia merasa lebih mulia dan lebih baik dibandingkan Nabi Adam as.

Selain itu ia juga merasa bahwa dirinya makhluk yang lebih dulu diciptakan, lebih lama dalam beribadah dan lebih tinggi martabatnya dibandingkan Nabi Adam yang baru diciptakan Allah swt. Kesombongan dan rasa iri hati itulah sebenarnya penyebab utama mengapa Izzazil membangkang perintah Allah swt. Karena pembangkangannya itu, akhirnya ia terusir dari surga dan dinamakan iblis. Sebelum meninggalkan surga, iblis sempat bersumpan akan mengganggu dan menggoda anak keturunan Adam sampai hari kiamat.
Kita tengok kembali bagaimana Al Qur’an menggambarkan kisah pasangan Adam dan Hawa di surga. Mereka bebas menikmati dan menggunakan segala keistimewaan surga kecuali makanan buah khuldi.
Ternyata satu-satunya larangan Allah itulah yang dimanfaatkan oleh iblis untuk menyesatkan Adam dan Hawa. Sesuai dengan sumpahnya untuk menyesatkan Adam dan Hawa dan keturunannya, maka iblis sekuat tenaga merayu dan membujuk Adam dan Hawa agar melanggar larangan yang Allah tetapkan bagi mereka. Dengan usaha yang keras dan tidak kenal menyerah, akhirnya Adam dan Hawa tergoda juga mendengar rayuan iblis. Meskipun hanya satu larangan yang ditetapkan Allah bagi mereka, tetapi ternyata satu larangan itu membuat mereka penasaran. Apalagi rayuan iblis yang tidak kenal menyerah. Mereka pun memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah swt. itu. Akibatnya, Allah pun mengeluarkan mereka dari surga dan menurunkan ke dunia.

Isnin, Jun 25, 2012

Haikal Sulaiman

HAIKAL adalah sebuah tempat ibadat yang dibina oleh Nabi Sulaiman AS untuk bermunajat kepada Allah SWT di samping istananya yang hebat pada ketika itu. Buku sejarah Lubnan menyebut mengenai pembinaan itu dengan bantuan masyarakat kaum Kan’an (penduduk Baitulmaqdis ketika itu).
Ada yang mengatakan bahawa ia hanya sebuah mihrab (tempat munajat) yang mempunyai kedalaman sepuluh hasta dan lebar di kiri dan kanan hanya lima hasta. Sejarah tidak dapat memastikan tempat dan bentuk yang tepat bagi haikal itu.
Seorang paderi Kristian (Bost Gorge) di dalam kitabnya menyebut bahawa ia terletak di pintu masuk Bandar Khalil (Baitulmaqdis) yang disebut dengan nama ‘Mihrab Daud’. Apa yang jelas ialah tempat yang menjadi tapak haikal itu, bukan di bawah binaan Masjid Al-Aqsa sekarang seperti dakwaan orang Yahudi.
Dakwaan orang Yahudi adalah palsu berdasarkan fakta di bawah:
  • Sebenarnya tiada satu kesan walaupun sebuah binaan kecil yang menunjukkan bahawa Nabi Sulaiman pernah membina haikal di tapak Masjid Al-Aqsa. Semuanya musnah selepas serangan Raja Babylon (Bokhtansar) pada tahun 589 sebelum kelahiran Nabi Isa AS iaitu 300 tahun selepas kewafatan Nabi Sulaiman AS.
  • Peristiwa Israk dan Mikraj adalah janji Allah SWT yang menunjukkan bahawa Islam sudah sampai ke sana dan al-Quran sendiri menyebut masjid bukannya haikal. (Masjidul Aqsa).
  • Nabi Ibrahim juga beragama Islam seperti yang jelaskan oleh Allah SWT di dalam surah Al-Imran ayat 67 bermaksud: “Tidaklah Ibrahim itu Yahudi atau Nasrani, tetapi adalah seorang Islam”.
  • Al-Quran mula dikumpulkan pada tahun 12 Hijrah ketika pemerintahan Saidina Abu Bakar RA dan Kitab Taurat orang Yahudi hanya ditulis selepas 800 tahun kewafatan Nabi Musa AS. Ini menunjukkan bahawa Taurat amat terdedah kepada penyelewengan dan penipuan.
Kesimpulannya, orang Yahudi tidak boleh mendakwa bahawa bumi Palestin dan Baitulmaqdis sebagai milik mereka kerana Nabi Ibrahim AS sudah datang ke sana sejak 1805 sebelum kelahiran Nabi Isa AS.
Tujuan dakwaan berkenaan hanya untuk menghalalkan pencerobohan mereka terhadap tempat suci umat Islam itu.

Mengapa Perlu Menyebut Insya-Allah?

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (Q.S Al-Kahfi 18: 24)
Beberapa penduduk Makkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, "Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan." Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja "kegagalan" ini menjadi cemoohan kaum kafir.
Saat itulah turun ayat menegur Nabi, "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (Q.S Al-Kahfi 18:24)
Kata "Insya Allah" bererti "jika Allah menghendaki". Ini menunjukkan bahawa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata "insya Allah" menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.
Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi s.a.w pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan Insya Allah.
Sayang, sebahagian daripada kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebahagian di antara kita malah secara keliru mengamalkan kata "insya Allah" sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata "Insya Allah" bukan dengan keyakinan bahawa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata "Insya Allah". Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata "insya Allah" keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.
Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan "insya Allah", lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna "insya Allah".

Kurma


Kurma merupakan tumbuhan yang tidak asing dalam kalangan penduduk negara kita terutamanya apabila menjelang Ramadan. Kurma merupakan hidangan wajib ketika berbuka puasa. Kurma atau tamar atau istilah saintifi knya, phoenix dactyloferal merupakan sejenis tumbuhan yang mempunyai khasiat yang begitu banyak kepada umat manusia.
Disebabkan kepentingannya juga, Allah SWT telah menyebut kalimah kurma sebanyak 21 kali dalam al-Quran. Firman Allah SWT dalam surah Maryam ayat 25-26 yang maksudnya:
Dan gegarlah ke arahmu batang pohon tamar itu, supaya gugur kepadamu buah tamar yang masak. Maka, makanlah dan minumlah serta bertenanglah hati daripada segala yang merunsingkan. (Maryam : 25)
Maka daripada ayat ini, kita dapati dengan jelas Allah SWT mengarahkan Mariam a.s supaya memakan buah kurma untuk mengurangkan kesakitan bersalin dan menenangkan hati beliau ketika hendak melahirkan Isa a.s. Sekiranya ada buah yang lebih baik daripada kurma untuk menahan kesakitan bersalin nescaya Allah SWT akan mengurniakan buah tersebut kepada Mariam, tetapi ternyata tidak ada buah yang lebih baik daripada kurma di dunia ini untuk memudahkan proses bersalin.
Selain ini, diriwayatkan juga kurma terutamanya kurma Madinah sangat digemari oleh Rasulullah SAW. Antaranya terdapat hadis daripada Sa'ad r.a. yang bermaksud:
Rasulullah SAW pernah bersabda: "Sesiapa yang memakan tujuh biji kurma antara La Bataiha (dua tanah tidak berpasir di Madinah) pada waktu pagi, maka racun tidak akan dapat memudaratkannya sampai petang." (Sahih Muslim: no 3813)
Terdapat pelbagai jenis kategori kurma. Ketika muda kurma dipanggil balah, manakala ketika mekar kurma dipanggil ruthob, ketika masak, kurma dipanggil tamar dan kurma kering yang keras pula dipanggil labanah. Semua jenis kurma ini mempunyai khasiat yang tersendiri.

Kandungan Nutrien

Ramai yang tidak mengetahui bahawa kurma sangat kaya dengan zat galian dan vitamin. Antara zat galian dan vitamin yang terdapat dalam kurma ialah kalsium, zat besi, kalium, vitamin A, B, B1, B2, B3, vitamin C dan E. selain itu, kurma juga mengandungi unsur bebas lemak dan bebas kolesterol, asid amino triptofan, glukosa dan sukrosa.

Malaikat Pencacat Amalan Manusia

Setelah Allah SWT menerangkan bahawa antara tanda-tanda kurnia-Nya kepada manusia adalah penciptaannya dalam bentuk yang terbaik. Perkara itu menunjukkan bahawa manusia akan menempuh kehidupan lain selain kehidupan sekarang.
Di sana nanti mereka akan diberi balasan atas segala yang pernah dikerjakan sama ada baik atau buruk. Selanjutnya Allah SWT menjelaskan seseorang tidak akan menolak kebenaran melainkan kerana adanya sikap menentang dan mendustakannya. Perasaan hati membisikkan kebenaran itu dan dalil agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW menguatkannya.
Allah SWT tidak akan membiarkan satu amalan pun daripada amalan hamba-Nya, melainkan Dia akan menghitung dan memelihara untuk diberi balasan. Tugas mencatat segala amalan manusia ini telah diserahkan oleh Allah kepada para malaikat yang dilantik khusus.
Firman Allah SWT: Sebenarnya tidak ada yang memperdayakan kamu (hai golongan yang ingkar)! bahkan kamu sendiri tidak percayakan adanya hari pembalasan. Syed Qutb berkata: “Kamu tidak percaya kepada hisab dan balasan. Inilah punca kekeliruan dan kecuaian kamu terhadap Allah. Apabila hati mendustakan hisab dan balasan, maka ia tidak akan berdiri tegak di atas hidayah, kebaikan dan ketaatan. Kadang-kadang hati itu meningkat ke darjat yang tinggi dan luhur lalu ia taatkan Tuhannya dan beribadat kepada-Nya semata-mata kerana cintakan-Nya bukan kerana gentar kepada balasan seksa-Nya dan bukan tamakkan pahala dari-Nya tetapi tetap percaya kepada Hari Balasan dan menaruh perasaan takut kepadanya. Ia menunggu kedatangan hari itu untuk menemui Tuhan yang amat dicintainya. Tetapi apabila manusia tidak mempercayai hari Balasan, ia tidak taat kepada Tuhan-Nya dan hatinya tidak akan tenang selagi tidak mendapat hidayah.”
Firman Allah SWT: Padahal sesungguhnya, ada malaikat-malaikat yang menjaga dan mengawas segala bawaan kamu. (Mereka adalah makhluk) yang mulia (di sisi Allah), lagi ditugaskan menulis (amal-amal kamu). Mereka mengetahui apa yang kamu lakukan.

Anak Abu Jahal yang Syahid

"Dahulu aku berperang untuk al-Latta dan al-Uzza. Sekarang, aku serahkan jiwaku dengan ikhlas kepada Allah"
Itulah kata-kata Ikramah iaitu anak lelaki Abu Jahal juga sepupu Rasulullah yang pada zaman kebatilannya begitu memusuhi Islam dan Rasulullah S.A.W.
Sifatnya yang sangat bencikan Rasulullah sama seperti bapanya, Abu Jahal sehingga para pengikutnya selalu memberi perumpamaan ‘ke mana kuah kalau bukan ke nasi’ untuk menggambarkan sifatnya saling tidak tumpah seperti Abu Jahal sebelum keislamannya. Ikrimah pernah membantu ayahnya melempar najis kepada Rasulullah S.A.W yang sedang solat di depan Kaabah.
Dia juga pernah membantu bapanya mencekik leher Rasulullah S.A.W. Malah dalam satu mesyuarat yang dihadiri oleh pembesar Quraisy, Ikramah mencadangkan supaya Rasulullah S.A.W dibunuh.
Setelah menjadi salah seorang pahlawan Quraisy, Ikramah menentang pahlawan Islam dalam peperangan Uhud dan Badar namun gagal membunuh Rasulullah S.A.W dalam kedua-dua peperangan tersebut. Dia akhirnya lari ke Yaman sebelum ke Habsyah. Di Yaman kehadirannya tidak diterima oleh Raja Yaman.
Semasa dalam pelayaran ke Habsyah, kapal yang tumpanginya dilanda ribut dan hampir karam. Semua penumpang dalam kapal itu berdoa termasuk Ikramah. Pada mulanya, dia berdoa kepada al-Latta dan al-Uzza namun doanya tidak berhasil meredakan ribut.
Akhirnya dia cuba berdoa kepada Allah, andainya selamat daripada bencana itu dia akan kembali ke Mekah untuk menemui Nabi Muhamad. Dengan izin Allah, ribut yang menggila akhirnya reda.
Apabila kembali ke Mekah, isterinya yang bernama Atikah tidak berjaya ditemui. Anak Ikramah, Omar mengatakan ibunya telah pergi mencari Ikramah bersama seorang hamba abdi bernama Laila. Ikramah yang mendengar kata-kata anaknya itu berasa risau akan keselamatan isterinya. Dia keluar semula dari Mekah untuk mencari Atikah.

15 Pintu Syaitan

15 pintu syaitan yang ada di dalam diri kita:

  1. pintu marah
  2. cinta dunia
  3. kebodohan (keengganan menghadiri majlis ilmu)
  4. panjang angan-angan
  5. rakus
  6. bakhil
  7. suka pada pujian
  8. riak
  9. ujub (merasa kagum)
  10. takut dan gelisah
  11. buruk sangka
  12. memandang rendah pada orang lain
  13. merasa suka pada dosa
  14. merasa aman daripada pembalasan "ALLAH"
  15. putus asa daripada rahmat "ALLAH"

15 Senjata Menghalang Syaitan:

  1. Membaca Bismillah (menjadi kunci pada perbuatan baik)
  2. Banyakkan berzikir
  3. Banyakkan Beristigfar
  4. Baca "la i' la ha illa anta subha naka inni kuntu minaz zoli min"
  5. Jangan tidur berseorangan
  6. Baca doa pagi dan petang
  7. Bersugi
  8. Melaksanakan solat jemaah
  9. Berwudhuk sebelum tidur
  10. menutup aurat
  11. Membaca doa masuk tandas
  12. Banyak berselawat pada hati
  13. Bertaubat, beristighfar
  14. Banyakan baca Al-Quran
  15. Membaca surah Yassin setiap pagi
     

Jumaat, Jun 15, 2012

Hudud Dalam Islam Tidak Kejam Tetapi Adil


Mengapa Islam memperkenalkan undang-undang yang cukup zalim seperti membunuh orang murtad, memotong tangan pencuri, rejam lelaki atau perempuan berzina yang sudah berkahwin sampai mati, dan sebatan 100 bagi lelaki dan perempuan yang berzina dan belum berkahwin.
Katanya : Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kedamaian kepada seluruh alam. Kalau membawa rahmat, kenapa Islam benarkan semua hukuman tersebut? Bukankah hukuman tersebut akan mendatang kezaliman dan kesengsaraan.
Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (Al-Anbiyaa’ 21;107).
Dalam ayat di atas jelas menerangkan bahawa kedatangan Muhammad yang membawa Islam adalah rahmat atau berita gembira kepada seluruh alam. Maksud alam di sini bukan hanya manusia sahaja bahkan kebaikan kepada seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Ayat ini membuktikan Islam adalah agama rahmat dan kedamaian. Memang benar Qur’an membenarkan pelaksanaan undang-undang tersebut dengan tujuan untuk mencegah dan sekaligus menjaga manusia serta harta benda mereka daripada dicerobohi..

Isnin, Jun 04, 2012

Kisah Nabi Muhammad s.a.w.

Pada waktu umat manusia dalam kegelapan dan suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah. Bayi yang dilahirkan bakal membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Bapa bayi tersebut bernama Abdullah bin Abdul Mutallib yang telah wafat sebelum baginda dilahirkan iaitu sewaktu baginda 7 bulan dalam kandungan ibu. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kehadiran bayi itu disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa ke ka'abah, kemudian diberikan nama Muhammad, nama yang belum pernah wujud sebelumnya.

Selepas itu Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab sementara menunggu kedatangan wanita dari Banu Sa'ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan Arab di Makkah. Akhir tiba juga wanita dari Banu Sa'ad yang bernama Halimah bin Abi-Dhuaib yang pada mulanya tidak mahu menerima baginda kerana Muhammad seorang anak yatim. Namun begitu, Halimah membawa pulang juga Muhammad ke pedalaman dengan harapan Tuhan akan memberkati keluarganya. Sejak diambilnya Muhammad sebagai anak susuan, kambing ternakan dan susu kambing-kambing tersebut semakin bertambah. Baginda telah tinggal selama 2 tahun di Sahara dan sesudah itu Halimah membawa baginda kembali kepada Aminah dan membawa pulang semula ke pedalaman.


Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad

Pada usia dua tahun, baginda didatangi oleh dua orang malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggungjawab untuk membedah Muhammad. Pada ketika itu, Halimah dan suaminya tidak menyedari akan kejadian tersebut. Hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan kedua malaikat tersebut lalu mengkhabarkan kepada Halimah. Halimah lantas memeriksa keadaan Muhammad, namun tiada kesan yang aneh ditemui.

Muhammad tinggal di pedalaman bersama keluarga Halimah selama lima tahun. Selama itu baginda mendapat kasih sayang, kebebasan jiwa dan penjagaan yang baik daripada Halimah dan keluarganya. Selepas itu baginda dibawa pulang kepada datuknya Abdul Mutallib di Makkah.

Kisah Nabi Isa a.s.

Seorang lagi Nabi Allah yang diceritakan dari kecil di dalam al-Qur'an ialah Isa. Baginda diutus kepada kaum Bani Israil dengan kitab Injil yang diturunkan sebelum al-Qur'an.
Di dalam al-Qur'an, Nabi Isa disebut dengan empat panggilan iaitu Isa, Isa putera Mariam, putera Mariam, dan al-Masih.

Ibunya seorang yang sangat dimuliakan Allah. Dia memilihnya di atas semua perempuan di semua alam. Firman-Nya, "Dan ketika malaikat-malaikat berkata, 'Wahai Mariam, Allah memilih kamu, dan membersihkan kamu, dan Dia memilih kamu di atas semua perempuan di semua alam'" (3:42).

Mariam, ibu Nabi Isa, telah menempuh satu ujian yang amat berat daripada Allah. Dia dipilih untuk melahirkan seorang Nabi dengan tanpa disentuh oleh seseorang lelaki. Dia adalah seorang perempuan yang suci.

Kelahiran

Kelahiran Nabi Isa merupakan suatu mukjizat kerana dilahirkan tanpa bapa. Kisahnya diceritakan di dalam al-Qur'an. Di sini, ceritanya bermula dari kunjungan malaikat kepada Mariam atas perintah Allah. Ketika itu, malaikat menyerupai manusia dengan tanpa cacat. Kemunculan malaikat membuat Mariam menjadi takut lalu berkata,
"Aku berlindung pada Yang Pemurah daripada kamu, jika kamu bertakwa (takut kepada Tuhan)!'
Dia (malaikat) berkata, 'Aku hanyalah seorang rasul yang datang daripada Pemelihara kamu, untuk memberi kamu seorang anak lelaki yang suci.'" (19:18-19)

Kisah Nabi Zakaria a.s. dan Nabi Yahya a.s.

Nabi Zakaria, ayahnya Nabi Yahya sedar dan mengetahui bahawa anggota-anggota keluarganya, saudara-saudaranya, sepupu-sepupunya dan anak-anak saudaranya adalah orang-orang jahat Bani Israil yang tidak segan-segan melanggar hukum-hukum agama dan berbuat maksiat, disebabkan iman dan rasa keagamaan mereka belum meresap betul didalam hati mereka, sehingga dengan mudah mereka tergoda dan terjerumus ke dalam lembah kemungkaran dan kemaksiatan. Ia khuatir bila ajalnya tiba dan meninggalkan mereka tanpa seorang waris yang dapat melanjutkan pimpinannya atas kaumnya, bahawa mereka akan makin rusak dan makin berani melakukan kejahatan dan kemaksiatan bahkan ada kemungkinan mereka mengadakan perubahan-perubahan di dalam kitab suci Taurat dan menyalah-gunakan hukum-hukum agama.

Kekhuatiran itu selalu mengganggu fikiran Zakaria disamping rasa sedih hatinya bahawa ia sejak kahwin hingga mencapai usia sembilan puluh tahun, Tuhan belum mengurniakannya dengan seorang anak yang ia idam-idamkan untuk menjadi penggantinya memimpin dan mengimami Bani Isra'il. Ia agak terhibur dari rasa sedih dan kekhuatirannya semasa ia bertugas memelihara dan mengawasi Maryam yang dapat dianggap sebagai anak kandungnya sendiri. Akan tetapi rasa sedihnya dan keinginanya yang kuat untuk memperolhi keturunan tergugah kembali ketika ia menyaksikan mukjizat hidangan makanan dimihrabnya Maryam. Ia berfikir didalam hatinya bahawa tiada sesuatu yang mustahil di dalam kekuasaan Allah. Allah yang telah memberi rezeki kepada Maryam dalam keadaan seorang diri tidak berdaya dan berusaha, Dia pula berkuasa memberinya keturunan bila Dia kehendaki walaupun usianya sudah lanjut dan rambutnya sudah penuh uban.

Pada suatu malam yang sudah larut duduklah Zakaria di mihramnya menghiningkan cipta memusatkan fikiran kepada kebesaran Allah seraya bermunajat dan berdoa dengan khusyuk dan keyakinan yang bulat. Dengan suara yang lemah lembut berucaplah ia dalam doanya: "Ya Tuhanku berikanlah aku seorang putera yang akan mewarisiku dan mewarisi sebahagian dari keluarga Ya'qub, yang akan meneruskan pimpinan dan tuntunanku kepada Bani Isra'il. Aku khuatir bahawa sepeninggalanku nanti anggota-anggota keluargaku akan rusak kembali aqidah dan imannya bila aku tinggalkan mati tanpa seorang pemimpin yang akan menggantikan aku. Ya Tuhanku, tulangku telah menjadi lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban sedang isteriku adalah seorang perempuan yang mandul namun kekuasaan-Mu adalah diatas segala kekuasaan dan aku tidak jemu-jemunya berdoa kepadamu memohon rahmat-Mu mengurniai kau seorang putera yang soleh yang engkau redhai."