Khamis, Julai 12, 2012

6 Orang yang Didoakan Malaikat


Berikut adalah senarai orang – orang yang mendapat doa oleh para malaikat:

1. ORANG YANG TIDUR DALAM KEADAAN BERSUCI

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa "Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan kerana tidur dalam keadaan suci"

*(Hadith ini disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Sahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. ORANG YANG MENUNGGU SOLAT.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang di antara kamu yang duduk menunggu solat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia”

* (Sahih Muslim no. 469)

Tiga Tanda-Tanda

Tanda-tanda orang kafir ada tiga :
Ragu terhadap eksistensi (keberadaan) Allah, enggan menyembah Allah dan lengah berbuat taat kepada Allah.

Tanda-tanda orang munafik ada tiga :
Apabila berbicara ia dusta (berbohong), apabila berjanji ia ingkar dan apabila dipercaya ia khianat.

Tanda-tanda orang ingkar ada tiga :
lSuka bersikap riya’ (menyempurnakan ruku’ dan sujudnya) apabila shalat berjamaah/ bersama orang lain dan menguranginya jika shalat sendirian, bersemangat jika ada orang yang memperhatikannya (memujinya) dan memuji Allah dalam keadaan sepi dan ramai (mengada-ada).

Tanda-tanda orang bodoh ada tiga :
Lengah menjalankan kewajiban-kewajibannya kepada Allah, banyak bicara dan suka menghujat Allah.

Tanda-tanda orang yang tidak mendapat pertolongan ada tiga :
Sering bohong, sering bersumpah palsu dan sering berbuat kesalahan kepada sesama.

Tanda-tanda sengsara ada tiga :
Suka makan barang haram, menjauhi orang alim dan suka shalat sendirian (tidak berjama’ah). Sengsara yang dimaksud disini adalah tidak memiliki ketentraman bathin dan ketenangan jiwa.

Kisah Malaikat Penjaga 7 Pintu Langit


Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu

Ibn Mubarak mengatakan bahwa Khalid bin Ma'dan berkata kepada sahabat Mu'adz bin Jabal RA, "Ceritakanlah satu hadits yang kau dengar dari Rasulullah SAW, yang kau menghafalnya dan setiap hari kau mengingatnya lantaran saking keras, halus, dan dalamnya makna hadits tersebut. Hadits manakah yang menurut pendapatmu paling penting ?"

Mu'adz menjawab, "Baiklah, akan kuceritakan." Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur, "hmm, sungguh kangennya hati ini kepada Rasulullah SAW, ingin rasanya segera bersua dengan beliau.."

Ia melanjutkan, "Suatu saat aku menghadap Rasulullah SAW. Beliau menunggangi seekor unta dan menyuruhku naik dibelakangnya, maka berangkatlah kami dengan unta tersebut. Kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, dan berdoa, "Puji syukur kehadirat Allah, Yang Maha Berkehendak kepada makhluq-Nya menurut kehendak-Nya."

Kemudian beliau SAW berkata, "sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu yang apabila engkau hafalkan, akan berguna bagimu, tapi kalau engkau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah SWT.

"Hai, Mu'adz! Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Pada setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu, dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh malaikat penjaga pintu sesuai kadar pintu dan keagungannya.

Sedekah Menunda Kematian


Suatu hari Nabi Ibrahim didatangi oleh salah satu muridnya, dan ia menceritakan bahwa ia akan segera menikah besok pagi. Setelah berbincang sejenak, anak muda tersebut meninggalkan Nabi Ibrahim.

Beberapa saat kemudian, Malaikat Maut mendatangi Nabi Ibrahim dan bertanya, "Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?" tanya Malaikat Maut.

"Yang anak muda tadi adalah sahabat sekaligus muriduk," jawab Nabi Ibrahim.
"Ada apa dia datang menemuimu?" tanya Malaikat Maut lagi.
"Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahan besok pagi," jawab Nabi Ibrahim.
"Wahai Ibrahim, sayang sekali umur anak itu tidak akan sampai besok pagi," jelas Malaikat Maut.

Setelah berkata demikian, Malaikat Maut pergi meninggalkan Nabi Ibrahim.

Keesokan harinya Nabi Ibrahim berjalan menuju rumah pemuda tersebut, dan alangkah terkejutnya Nabi Ibrahim melihat pemuda itu masih dalam keadaan hidup. Dan pemuda itu akhirnya melangsungkan pernikahan dengan lancar. Nabi Ibrahim turut bahagia melihat muridnya menikah.

Walau senang, terbesit rasa sedih, rasa kasihan karena Nabi Ibrahim tahu bahwa kebahagiaannya tak akan lama. Namun keadaan berkata lain.

Jenis-Jenis Marah


Marah adalah salah satu sifat mazmumah yang tidak sepatutnya ada pada seorang muslim mukmin. Justeru usaha untuk mengelakkan diri dari sifat marah menjadi satu kewajipan. Sifat marah yang wajib dibuang dari diri seseorang ialah sifat marah yang dilarang. Tidak semua sifat marah dilarang ada kalanya wajib kita marah dan terkadang diharuskan kita marah. Kemampuan kita mengurus kemarahan akan membawa kita kepada situasi yang tenang dan membahagiakan.

Sifat marah dari sudut hukum boleh dibahagikan kepada tiga bahagian

1. Marah yang dipuji ( al-ghadhab al-mahmud )
Perasaan marah dituntut apabila berlakunya pencabulan dan perlanggaran terhadap larangan-larangan Allah s.w.t. Sifat ini adalah hasil dari keimanan yang kuat terhadap Allah swt kerana orang yang tidak marah terhadap pencabulan dan pelanggaran larangan Allah dianggap sebagai orang yang lemah iman.
Suatu ketika Rasulullah s.a.w melihat para sahabat bertelagah berkaitan keimanan dengan qadr lalu berubah air muka Rasulullah s.a.w kerana marah lalu berkata;
بهذا أمرتم ؟ أو لهذا خلقتم ؟ تضربون القرآن بعضه ببعض بهذا هلكت الأمم قبلكم )
Maksudnya; Inikah yang kamu disuruh? Atau untuk inikah kamu dijadikan memperdebatkan al-quran dengan al-quran, ingatlah dengan sebabini umat terdahulu dibinasakan.

Sabda Rasulullah s.a.w;
من رأى منكم منكراً فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان.

Maksudnya; Sesiapa yang melihat kemungkaran hendaklah ia ubah dengan tangan (kekuasaan) sekiranya tidak mampu ubah dengan lidahnya, sekiranya tidak mampu juga maka ubah dengan hati, itulah selemah-lemah iman.
Sikap untuk mengubah, menegur atau rasa tidak suka tidak akan timbul pada diri seseorang sekiranya tidak ada perasaan marah terhadap sesutau perkara. Kecantikan Islam dalam marah ialah apabila kira dapat mengurus sifat marah dengan cara hikmah dan bijaksana bukan dengan cara mengikut perasaan dan nafsu seperti memaki hamun, mencerca, memukul atau tidakan-tindakan yang negatif.

Rabu, Julai 11, 2012

Hukum Belajar Tajwid Al Quran


Hukum belajar ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Kalau ada dalam suatu tempat ada seseorang yang menguasai ilmu ini maka bagi yang lainnya tidak menanggung dosa, kalau sampai tidak ada maka seluruh kaum muslimin menanggung dosa.
Sedangkan membaca Al Qur’an dengan tajwid adalah wajib ‘ain artinya bagi seorang yang mukalaf baik laki-laki atau perempuan harus membaca Al Qur’an dengan tajwid, kalau tidak maka dia berdosa, hal ini berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dan ucapan para ulama.

1. Dalil-dalil dari Al Qur’an

1. Firman Allah Azza wa Jalla:
“…dan bacalah Al Qur’an itu dengan tartil.” (Al Muzzammil: 4)
Maksud tartil itu adalah membaguskan huruf dan mengetahui tempat berhenti, keduanya ini tidak akan bisa dicapai kecuali harus belajar dari ulama atau orang yang ahli dalam bidang ini, dan perintah ini menunjukkan suatu kewajiban sampai datang dalil yang bisa merubah arti tersebut.

2. Firman Allah Azza wa Jalla:
“Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al Baqarah: 121)

Dan mereka tidak akan membaca dengan sebenarnya kecuali harus dengan tajwid, kalau meninggalkan tajwid tersebut maka bacaan itu menjadi bacaan yang sangat jelek bahkan kadang-kadang bisa berubah arti. Ayat ini menunjukkan sanjungan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang membaca Al Qur’an dengan bacaan sebenarnya.

3. Firman Allah Azza wa Jalla:
“Dan kami membacanya dengan tartil (teratur dengan benar).” (Al Furqan: 32)
Ini adalah sifat Kalamullah, maka wajib bagi kita untuk membacanya dengan apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Tadarus Al Quran Penghias Ramadhan


Islam menggalakkan umatnya untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat. Oleh itu Allah telah menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad s.a.w supaya dapat memimpin umatnya ke arah hidup yang sempurna.

Firman Allah S.W.T dalam surah al-Baqarah ayat 1-5:

﴿اۤلۤمۤ ` ذٰلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ ` الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ` وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَاۤ أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالأَخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ ` أُوْلَـۤئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ وَأُوْلَـۤئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ`

“Alif Laam Mim. Demikianlah kitab al-Quran tidak ada ragu-ragu lagi di dalamnya, ia memberi petunjuk kepada orang-orang yang bertaqwa (berbakti kepada Allah). Iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib (tidak dapat diketahui atau tidak dapat dilihat) dan mereka mendirikan sembahyang (solat) dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami kurniakan kepada mereka. Dan mereka beriman pada apa yang diturunkan kepada kamu (Injil, Zabur, Taurat) dan di akhirat nanti Allah akan meletakkan mereka di tempat yang sempurna. Mereka itulah yang menerima petunjuk dari Tuhan mereka, mereka itulah daripada golongan orang yang berjaya”.

Daripada ayat ini jelaslah bahawa membaca al-Quran dan beramal dengan isi kandungannya mempunyai banyak kelebihan dan dimuliakan di sisi Allah S.W.T. Kelebihan ini dilipat gandakan lagi apabila ianya diamalkan pada bulan yang penuh keberkatan iaitu bulan Ramadhan dengan bertadarus. Tadarus ialah membaca al-Quran secara berdua, bertiga atau berkumpulan, di mana caranya ialah seseorang membaca manakala yang lain mendengar sambil memperbetul kesilapan bacaan jika ada dan seterusnya dengan bergilir-gilir.

Khamis, Julai 05, 2012

Homoseksual Dalam Pandangan Islam


Liwath (homo seksual) adalah hubungan antara sesama jenis (laki-laki dengan laki-laki), sedangkan hubungan antara wanita dengan wanita disebut lesbian. Homo seksual adalah salah satu penyelewengan seksual, karena menyalahi sunnah Allah, dan menyalahi fitrah makhluk ciptaanNya.

Lebih kurang empat belas abad yang lalu, Al Qur’an telah memperingatkan umat manusia ini, supaya tidak mengulangi peristiwa kaum Nabi Luth. Allah berfirman:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (Hud: 82-83)
Pada ayat lain Allah berfirman:

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. (Asy Syu’ara: 165-166)
Selanjutnya pada ayat lain Allah berfirman:

“Dan telah kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (Al Anbiya: 74)
Setelah Rasulullah menerima wahyu tentang berita kaum Luth yang mendapat kutukan dari Allah dan merasakan azab yang diturunkanNya, maka beliau merasa khawatir sekiranya peristiwa itu terulang kembali kepada ummat di masa beliau dan sesudahnya.

Sihir dan Setan


Sihir adalah perbuatan yang telah tercampur syirik. Setan sangat berperan dalam sihir perbuatan yang terlarang ini. Memang setan meminta wewenang kepada Allah untuk menggoda manusia, anak keturunan Adam, lalu wewenang itu diberikan Allah SWT.

Allah memberi kebebasan kepada yang menggoda (iblis) dan yang digoda (manusia), apakah manusia ini mau mengikuti jalan Allah atau jalan syetan. Kalau mengikuti jalan Allah jelas keuntungannya dan kalau mengikuti jalan setan, jelas pula kerugiannya.

Orang yang melakukan sihir, cepat atau lambat pasti terjerumus ke jurang kekufuran. Sebab segala daya upaya yang dilakukan oleh syetan itu adalah membujuk manusia untuk menyekutukan Allah (syirik). Allah berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al Baqarah: 102)

Asal Usul Iblis Laknatullah


Alkisah, beribu-ribu tahun sebelum ada manusia, dunia ini sudah dihuni oleh sejenis makhluk dari golongan jin, mereka dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Di antara mereka ada yang beribadah dan ada yang tidak, walaupun Allah mewajibkan mereka beribadah menyembahNya.

Allah SWT. berfirman, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)


Di antara sekian banyak keturunan jin, Izzazil adalah yang paling taat kepada Allah. Berbeda dengan manusia, jin bisa berumur sampai ribuan, bahkan puluhan ribu tahun. Begitu pula Izzazil. Ia beribadah kepada Allah selama 1000 tahun. Kemudian atas permintaannya ia dipindahkan oleh Allah ke langit pertama.

Di situ ia beribadah kepada Allah selama 1000 tahun juga. Lalu ia dipindahkan ke langit seterusnya, sampai langit ke tujuh. Di masing-masing tingkatan langit, ia beribadah kepada Allah SWT selama 1000 tahun. Jadi Izzazil beribadah kepada Allah selama 8000 tahun.

Karena ketaatan dan pengabdiannya, Allah mengangkatnya ke derajat Al-Muqarrabun, yaitu derajat tertinggi di sisi Allah. Lebih dari itu, Allah menobatkan Izzazil sebagai imam para malaikat yang berkedudukan di langit.

Merasa berada dalam derajat yang mulia, maka ketika Allah memerintahkan dirinya dan para malaikat bersujud kepada Adam, Izzazil dengan berbagai dalih menolak. Penolakan itu disebabkan karena ia merasa lebih mulia dan lebih baik dibandingkan Nabi Adam as.

Selain itu ia juga merasa bahwa dirinya makhluk yang lebih dulu diciptakan, lebih lama dalam beribadah dan lebih tinggi martabatnya dibandingkan Nabi Adam yang baru diciptakan Allah swt. Kesombongan dan rasa iri hati itulah sebenarnya penyebab utama mengapa Izzazil membangkang perintah Allah swt. Karena pembangkangannya itu, akhirnya ia terusir dari surga dan dinamakan iblis. Sebelum meninggalkan surga, iblis sempat bersumpan akan mengganggu dan menggoda anak keturunan Adam sampai hari kiamat.
Kita tengok kembali bagaimana Al Qur’an menggambarkan kisah pasangan Adam dan Hawa di surga. Mereka bebas menikmati dan menggunakan segala keistimewaan surga kecuali makanan buah khuldi.
Ternyata satu-satunya larangan Allah itulah yang dimanfaatkan oleh iblis untuk menyesatkan Adam dan Hawa. Sesuai dengan sumpahnya untuk menyesatkan Adam dan Hawa dan keturunannya, maka iblis sekuat tenaga merayu dan membujuk Adam dan Hawa agar melanggar larangan yang Allah tetapkan bagi mereka. Dengan usaha yang keras dan tidak kenal menyerah, akhirnya Adam dan Hawa tergoda juga mendengar rayuan iblis. Meskipun hanya satu larangan yang ditetapkan Allah bagi mereka, tetapi ternyata satu larangan itu membuat mereka penasaran. Apalagi rayuan iblis yang tidak kenal menyerah. Mereka pun memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah swt. itu. Akibatnya, Allah pun mengeluarkan mereka dari surga dan menurunkan ke dunia.

Isnin, Jun 25, 2012

Haikal Sulaiman

HAIKAL adalah sebuah tempat ibadat yang dibina oleh Nabi Sulaiman AS untuk bermunajat kepada Allah SWT di samping istananya yang hebat pada ketika itu. Buku sejarah Lubnan menyebut mengenai pembinaan itu dengan bantuan masyarakat kaum Kan’an (penduduk Baitulmaqdis ketika itu).
Ada yang mengatakan bahawa ia hanya sebuah mihrab (tempat munajat) yang mempunyai kedalaman sepuluh hasta dan lebar di kiri dan kanan hanya lima hasta. Sejarah tidak dapat memastikan tempat dan bentuk yang tepat bagi haikal itu.
Seorang paderi Kristian (Bost Gorge) di dalam kitabnya menyebut bahawa ia terletak di pintu masuk Bandar Khalil (Baitulmaqdis) yang disebut dengan nama ‘Mihrab Daud’. Apa yang jelas ialah tempat yang menjadi tapak haikal itu, bukan di bawah binaan Masjid Al-Aqsa sekarang seperti dakwaan orang Yahudi.
Dakwaan orang Yahudi adalah palsu berdasarkan fakta di bawah:
  • Sebenarnya tiada satu kesan walaupun sebuah binaan kecil yang menunjukkan bahawa Nabi Sulaiman pernah membina haikal di tapak Masjid Al-Aqsa. Semuanya musnah selepas serangan Raja Babylon (Bokhtansar) pada tahun 589 sebelum kelahiran Nabi Isa AS iaitu 300 tahun selepas kewafatan Nabi Sulaiman AS.
  • Peristiwa Israk dan Mikraj adalah janji Allah SWT yang menunjukkan bahawa Islam sudah sampai ke sana dan al-Quran sendiri menyebut masjid bukannya haikal. (Masjidul Aqsa).
  • Nabi Ibrahim juga beragama Islam seperti yang jelaskan oleh Allah SWT di dalam surah Al-Imran ayat 67 bermaksud: “Tidaklah Ibrahim itu Yahudi atau Nasrani, tetapi adalah seorang Islam”.
  • Al-Quran mula dikumpulkan pada tahun 12 Hijrah ketika pemerintahan Saidina Abu Bakar RA dan Kitab Taurat orang Yahudi hanya ditulis selepas 800 tahun kewafatan Nabi Musa AS. Ini menunjukkan bahawa Taurat amat terdedah kepada penyelewengan dan penipuan.
Kesimpulannya, orang Yahudi tidak boleh mendakwa bahawa bumi Palestin dan Baitulmaqdis sebagai milik mereka kerana Nabi Ibrahim AS sudah datang ke sana sejak 1805 sebelum kelahiran Nabi Isa AS.
Tujuan dakwaan berkenaan hanya untuk menghalalkan pencerobohan mereka terhadap tempat suci umat Islam itu.

Mengapa Perlu Menyebut Insya-Allah?

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (Q.S Al-Kahfi 18: 24)
Beberapa penduduk Makkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, "Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan." Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja "kegagalan" ini menjadi cemoohan kaum kafir.
Saat itulah turun ayat menegur Nabi, "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (Q.S Al-Kahfi 18:24)
Kata "Insya Allah" bererti "jika Allah menghendaki". Ini menunjukkan bahawa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata "insya Allah" menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.
Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi s.a.w pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan Insya Allah.
Sayang, sebahagian daripada kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebahagian di antara kita malah secara keliru mengamalkan kata "insya Allah" sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata "Insya Allah" bukan dengan keyakinan bahawa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata "Insya Allah". Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata "insya Allah" keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.
Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan "insya Allah", lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna "insya Allah".

Kurma


Kurma merupakan tumbuhan yang tidak asing dalam kalangan penduduk negara kita terutamanya apabila menjelang Ramadan. Kurma merupakan hidangan wajib ketika berbuka puasa. Kurma atau tamar atau istilah saintifi knya, phoenix dactyloferal merupakan sejenis tumbuhan yang mempunyai khasiat yang begitu banyak kepada umat manusia.
Disebabkan kepentingannya juga, Allah SWT telah menyebut kalimah kurma sebanyak 21 kali dalam al-Quran. Firman Allah SWT dalam surah Maryam ayat 25-26 yang maksudnya:
Dan gegarlah ke arahmu batang pohon tamar itu, supaya gugur kepadamu buah tamar yang masak. Maka, makanlah dan minumlah serta bertenanglah hati daripada segala yang merunsingkan. (Maryam : 25)
Maka daripada ayat ini, kita dapati dengan jelas Allah SWT mengarahkan Mariam a.s supaya memakan buah kurma untuk mengurangkan kesakitan bersalin dan menenangkan hati beliau ketika hendak melahirkan Isa a.s. Sekiranya ada buah yang lebih baik daripada kurma untuk menahan kesakitan bersalin nescaya Allah SWT akan mengurniakan buah tersebut kepada Mariam, tetapi ternyata tidak ada buah yang lebih baik daripada kurma di dunia ini untuk memudahkan proses bersalin.
Selain ini, diriwayatkan juga kurma terutamanya kurma Madinah sangat digemari oleh Rasulullah SAW. Antaranya terdapat hadis daripada Sa'ad r.a. yang bermaksud:
Rasulullah SAW pernah bersabda: "Sesiapa yang memakan tujuh biji kurma antara La Bataiha (dua tanah tidak berpasir di Madinah) pada waktu pagi, maka racun tidak akan dapat memudaratkannya sampai petang." (Sahih Muslim: no 3813)
Terdapat pelbagai jenis kategori kurma. Ketika muda kurma dipanggil balah, manakala ketika mekar kurma dipanggil ruthob, ketika masak, kurma dipanggil tamar dan kurma kering yang keras pula dipanggil labanah. Semua jenis kurma ini mempunyai khasiat yang tersendiri.

Kandungan Nutrien

Ramai yang tidak mengetahui bahawa kurma sangat kaya dengan zat galian dan vitamin. Antara zat galian dan vitamin yang terdapat dalam kurma ialah kalsium, zat besi, kalium, vitamin A, B, B1, B2, B3, vitamin C dan E. selain itu, kurma juga mengandungi unsur bebas lemak dan bebas kolesterol, asid amino triptofan, glukosa dan sukrosa.