Rabu, Julai 02, 2008

Dosa yang Dianggap Biasa: SYIRIK

Syirik atau menyekutukan Allah adalah sesuatu yang amat diharamkan dan secara mutlak ia merupakan dosa yang paling besar. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa yang paling besar (tiga kali) ? mereka menjawab : ya, wahai Rasulullah ! beliau bersabda : menyekutukan Allah“ (muttafaq ‘alaih, Al Bukhari hadits nomer : 2511)

Setiap dosa kemungkinan diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala, kecuali dosa syirik, ia memerlukan taubat secara khusus, Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya (An Nisa : 4 8)

Di antara macam syirik adalah syirik besar. Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan, jika meninggal dalam keadaan demikian, akan kekal di dalam neraka.

Di antara kenyataan syirik yang umum terjadi di sebagian besar negara-negara Islam adalah:

Menyembah Kuburan

Yakni kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia bisa memenuhi hajat, serta bisa membebaskan manusia dari berbagai kesulitan. Karena kepercayaan ini. mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia, padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al Isra’ :23)

Termasuk dalam kategori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para nabi, orang-orang shaleh, atau lainnya untuk mendapatkan syafaat atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An Naml : 62)

Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ketika melakukan sesuatu kesalahan, dalam setiap situasi sulit, ketika di timpa petaka, musibah atau kesukaran hidup.

Di antaranya ada yang menyeru : “ ahai Muhammad.” Ada lagi yang menyebut :“Wahai Ali”. Yang lain lagi menyebut : “Wahai Jailani”. Kemudian ada yang menyebut : “Wahai Syadzali”. Dan yang lain menyebut : “Wahai Rifai. Yang lain lagi : “Al Idrus sayyidah Zainab, ada pula yang menyeru : “Ibnu ‘Ulwan dan masih banyak lagi. Padahal Allah telah menegaskan:

“Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu” (Al A’raaf : 194)

Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (mengelilingi) kuburan tersebut, mencium setiap sudutnya, lalu mengusapkannya ke bagian-bagian tubuhnya. Mereka juga menciumi pintu kuburan tersebut dan melumuri wajahnya dengan tanah dan debu kuburan. Sebagian bahkan ada yang sujud ketika melihatnya, berdiri di depannya dengan penuh khusyu’, merendahkan dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat mereka. Ada yang meminta sembuh dari sakit, mendapatkan keturunan, digampangkan urusannya dan tak jarang di antara mereka yang menyeru : Ya sayyidi aku datang kepadamu dari negeri yang jauh maka janganlah engkau kecewakan aku. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”. (Al Ahqaaf : 5)

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah niscaya akan masuk neraka (HR Bukhari, fathul bari : 8/176)

Sebagian mereka, mencukur rambutnya di pekuburan, sebagian lagi membawa buku yang berjudul : Manasikul hajjil masyahid (tata cara ibadah haji di kuburan keramat). Yang mereka maksudkan dengan masyahid adalah kuburan kuburan para wali. Sebagian mereka mempercayai bahwa para wali itu mempunyai kewenangan mengatur alam semesta, dan mereka bisa memberi madharat dan manfaat. Padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemadharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya” (Yunus : 107)

Bernadzar Untuk Selain Allah

Termasuk syirik adalah bernadzar untuk selain Allah seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang bernadzar memberi lilin dan lampu untuk para ahli kubur.

Menyembelih Binatang Untuk Selain Allah

Termasuk syirik besar adalah menyembelih binatang untuk selain Allah.padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” ( Al Kutsar : 2)

Maksudnya berkurbanlah hanya untuk Allah dan atas namaNya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR Muslim, shahih Muslim No : 197 8)

Pada binatang sembelihan itu terdapat dua hal yang diharamkan.

Pertama : penyembelihannya untuk selain Allah, dan kedua : penyembelihannya dengan atas nama selain Allah. Keduanya menjadikan daging binatang sembelihan itu tidak boleh dimakan. Dan termasuk penyembelihan jahiliyah -yang terkenal di zaman kita saat ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin [lihat Taisirul Azizil Hamid, hal : 158]

Menghalalkan Apa Yang Diharamkan Oleh Allah Atau Sebaliknya

Di antara contoh syirik besar -dan hal ini umum dilakukan– adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau sebaliknya. Atau kepercayaan bahwa seseorang memiliki hak dalam masalah tersebut selain Allah Subhanahuwa ta’ala. Atau berhukum kepada perundang-undangan jahiliyah secara sukarela dan atas kemauannya. Seraya menghalalkannya dan kepercayaan bahwa hal itu dibolehkan . Allah menyebutkan kufur besar ini dalam firmanNya :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. (At Taubah : 31)

Ketika Adi bin hatim mendengar ayat tersebut yang sedang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ia berkata : “ orang-orang itu tidak menyembah mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan tegas bersabda : “Benar, tetapi meraka (orang-orang alim dan para rahib itu) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya halal. Dan mengharamkan atas mereka apa yang dihalalkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya sebagai barang haram, itulah bentuk ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib [Hadits riwayat Al Baihaqi, As sunanul Kubra : 10/ 116, Sunan At Turmudzi no : 3095, Al Albani menggolongkannya dalam hadits hasan. lihat ghayatul muram: 19].

Allah menjelaskan, di antara sifat orang-orang musyrik adalah sebagaimana dalam firmanNya :

“Dan meraka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah)”. (At Taubah : 29).

“Katakanlah : Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah : Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan kedustaan atas Allah? (Yunus : 59).

Sihir, Perdukunan dan Ramalan

Temasuk syirik yang banyak terjadi adalah sihir, perdukunan dan ramalan. Adapun sihir, ia termasuk perbuatan kufur dan di antara tujuh dosa besar yang menyebabkan kebinasaan. Sihir hanya mendatangkan bahaya dan sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat (Al Baqarah : 102).

“Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (Thaha : 69)

Orang yang mengajarkan sihir adalah kafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir) hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu kepada seseorangpun) sebelum mengatakan, “sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al Baqarah : 102).

Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh, pekerjaannya haram dan jahat. Orang-orang bodoh, sesat dan lemah iman pergi kepada para tukang sihir untuk berbuat jahat kepada orang lain atau untuk membalas dendam kepada mereka. Di antara manusia ada yang melakukan perbuatan haram, dengan mendatangi tukang sihir dan memohon pertolongan padanya agar terbebas dari pengaruh sihir yang menimpanya. Padahal seharusnya ia mengadu dan kembali kepada Allah, memohon kesembuhan dengan KalamNya, seperti dengan Mu’awwidzat (surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) dan sebagainya.

Dukun dan tukang ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta pertolongan padanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya. Mereka menggunakan banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di antaranya dengan membuat garis di pasir, memukul rumah siput, membaca (garis) telapak tangan,cangkir, bola kaca, cermin, dsb.

Jika sekali waktu mereka benar, maka sembilan puluh sembilan kalinya hanyalah dusta belaka. Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak mengingat, kecuali waktu yang sekali itu saja. Maka mereka pergi kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui nasib mereka di masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal pernikahan, perdagangan, mencari barang-barang yang hilang atau yang semisalnya.

Hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’ hadits, no : 5939)

Adapun jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu ia menanyakan padanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh malam” (Shahih Muslim : 4 / 1751).

Ini masih pula harus dibarengi dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atasnya.

Kepercayaan adanya pengaruh bintang dan planet terhadap berbagai kejadian dan kehidupan manusia.

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, Ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama kami, shalat subuh di Hudaibiyah – Di mana masih ada bekas hujan yang turun di malam harinya- setelah beranjak beliau menghadap para sahabatnya seraya berkata:

“Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Robb kalian? Mereka menjawab : “ Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Allah berfirman : Pagi ini di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata: kami diberi hujan denagn karunia Allah dan rahmatNya maka dia beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata: (hujan ini turun) karena bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepadaKu dan beriman kepada bintang” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Baari : 2/ 333).

Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai Astrologi (ramalan bintang) seperti yang banyak kita temui di Koran dan majalah. Jika ia mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet tersebut maka dia telah musyrik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan maka ia telah melakukan perbuatan maksiat dan berdosa. Sebab tidak dibolehkan mencari hiburan dengan membaca hal-hal syirik. Di samping syaitan terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada hal-hal syirik tersebut, maka membacanya termasuk sarana dan jalan menuju kemusyrikan.

Termasuk syirik, mempercayai adanya manfaat pada sesuatu yang tidak dijadikan demikian oleh Allah Tabaroka wata’ala. Seperti kepercayaan sebagian orang terhadap jimat, mantera-mantera berbahu syirik, kalung dari tulang, gelang logam dan sebagainya, yang penggunaannya sesuai dengan perintah dukun, tukang sihir, atau memang merupakan kepercayaan turun menurun.

Mereka mengalungkan barang-barang tersebut di leher, atau pada anak-anak mereka untuk menolak ‘ain (pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang dengan pandangan matanya; kena mata). Demikian anggapan mereka. Terkadang mereka mengikatkan barang-barang tersebut pada badan, manggantungkannya di mobil atau rumah, atau mereka mengenakan cincin dengan berbagai macam batu permata, disertai kepercayaan tertentu, seperti untuk tolak bala’ atau untuk menghilangkannya.

Hal semacam ini, tak diragukan lagi sangat bertentangan dengan (perintah) tawakkal kepada Allah. Dan tidaklah hal itu menambah kepada manusia, selain kelemahan. Belum lagi ia termasuk berobat dengan sesuatu yang diharamkan.

Berbagai jimat yang digantungkan, sebagian besar dari padanya termasuk syirik jaly (yang nyata). Demikian pula dengan minta pertolongan kepada sebagian jin atau setan, gambar-gambar yang tak bermakna, tulisan-tulisan yang tak berarti dan sebagainya. Sebagian tukang tenung (sulap) menulis ayat-ayat Al Qur’an dan mencampur-adukkannya dengan hal lain yang termasuk syirik. Bahkan sebagian mereka menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan barang yang najis atau dengan darah haid. Menggantungkan atau mengikatkan segala yang disebutkan di atas adalah haram. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam :

“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik [HR Imam Ahmad :4/ 156 dan dalam silsilah hadits shahihah hadits No : 492].

Orang yang melakukan perbuatan tersebut, jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu bisa mendatangkan manfaat atau madharat (dengan sendirinya) selain Allah maka dia telah masuk dalam golongan pelaku syirik besar. Dan jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu merupakan sebab bagi datangnya manfaat, padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab, maka dia telah terjerumus pada perbutan syirik kecil, dan ini masuk dalam kategori syirkul asbab.

Sumber: http://muslimabipraya.wordpress.com/

Dosa Syirik

Yang dimaksud dengan dosa syirik itu tidak bisa diampuni adalah bila seseorang melakukan perbuatan syirik dan mati bersama dosa itu tanpa pernah bertaubat sebelumnya. Bedanya dengan dosa selain syirik adalah bahwa dosa itu bila terbawa sampai mati tanpa bertaubat sebelumnya, masih ada kemungkian diampuni Allah SWT. Misalnya dengan ditebus dengan amal-amal kebajikan yang dimilikinya. Sebagaimana firman Allah SWT :

“…Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”.(QS. Hud : 114)

Atau orang tersebut di akhirat nanti mendapatkan syafa’at dari Rasulullah SAW, sehingga dosa-dosanya diampuni dan yang bersangkutan tidak perlu diazab di neraka. Semua itu mungkin saja terjadi sehingga dikatakan bahwa dosa selain syirik akan diampuni di akhirat.

Namun bila dosa yang dibawa mati itu adalah dosa syirik, maka dosa itu tidak bisa ditebus atau diampuni di akhirat. Maka yang bersangkutan harus mendapatkan siksa yang nyata-nyata pedih. Itulah maksud bahwa dosa syirik itu tidak bisa diampuni, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. ( QS An Nisa 48 )

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”(QS. An-Nisa : 114)

Karena itu selama hayat masih di kandung badan, bersegeralah untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT, terutama yang terkait dengan dosa-dosa syirik.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran : 133)

Siapa yang Menentukan Nama-nama Surah di Al-Quran?

Siapa yang menentukan nama-nama surah di Al-Qur’an, juga juz-juz-nya dan juga kenapa ada ain-ain-nya di tiap juz ?

Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surah-surah Qur’an. Sebagian mengatakan bahwa urutan itu berdasarkan wahyu semata (tauqifi), sebagian lagi mengatakan ijma’ atau ijtihad para shahabat (taufiqi). Dan pendapat ketiga merupakan perpaduan antara kedua pendapat sebelumnya.

Sedangkan masalah juz-juznya memang ditetapkan kemudian, termasuk masalah ada huruf ‘ainnya. Semua itu ditulis setelah Islam mulai melebarkan sayap ke negeri-negeri yang tidak mengerti bahasa Arab, sehingga dibutuhkan teknik penulisan arab (Al-Qur’an) yang lebih dari apa yang ada sebelumnya.

Sedangkan tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah urutan surat itu berdarkan wahyu atau bukan, silahkan simak rincian berikut ini :

1. Pendapat yang Mengatakan bahwa Urutan Surat Berdasarkan Ketetapan Rasulullah SAW

Dikatakan bahwa tertib surah itu tauqifi dan ditangani langsung oleh Nabi SAW sebagaimana diberitahukan Jibril kepadanya atas perintah Tuhan. Dengan demikian, Al-Qur’an pada masa Nabi SAW telah tersusun surah-surahnya secara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya. Seperti yang ada di tangan kita sekarang ini. Yaitu tertib mushaf Usman yang tak ada seorang sahabat pun menentangnya. Ini menunjukkan telah terjadi kesepakatan (ijma’) atas tertib surah, tanpa suatu perselisihan apa pun.

Yang mendukung pendapat ini ialah, bahwa Rasulullah telah membaca beberapa surah secara tertib di dalam salatnya. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi pernah membaca beberapa surah aufassal (surah-surah pendek) dalam satu rakaat. Bukhari meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, bahwa ia mengatakan tentang surah Bani Isra’il, Kahfi, Maryam, Taha dan Anbiya’, “Surah-surah itu termasuk yang diturunkan di Mekkah dan yang pertama-tama aku pelajari.” Kemudian ia menyebutkan surah-surah itu secara berurutan sebagaimana tertib susunan seperti sekarang ini.

Telah diriwayatkan melalui Ibn wahhab, dari Sulaiman bin Bilal, ia berkata, “Aku mendengar Rabbi’ah ditanya orang,” Mengapa surah Al-Baqarah dan Ali Imran didahulukan, padahal sebelum kedua surah itu telah diturunkan delapan puluh sekian surah makki, sedang keduanya di turunkan di Madinah?’. Dia menjawab, ‘Kedua surah itu memang didahulukan dan Al-Qur’an dikumpulkan menurut pengetahuan dari orang yang mengumpulkannya.’ Kemudian katanya, ‘Ini adalah sesatu yang mesti terjadi dan tidak perlu dipertanyakan.”

Ibn Hisyar mengatakan, ‘”Tertib surah dan letak ayat-ayat pada tempat-tampatnya itu berdasarkan wahyu. Rasulullah mengatakan, “Letakkanlah ayat ini ditempat ini.” Hal tersebut telah diperkuat oleh nukilan atau riwayat yang mutawatir dengan tertib seperti ini, dari bacaan Rasulullah dan ijma’ para sahabat untuk meletakkan atau menyusunnya seperti ini didalam mushaf.”

2. Pendapat yang Mengatakab bahwa Urutan Surat Berdasarkan Ijma’ Shahabat

Dikatakan bahwa tertib surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat. Dasar dari pendapat itu adalah kenyataan bahwa para shahabat punya koleksi mushaf yang awalnya berbeda-beda urutan.

Misalnya mushaf Ali disusun menurut tertib nuzul, yakni dimulai dengan Iqra’, kemudian Muddassir, lalu Nun, Qalam, kemudian Muzammil, dan seterusnya hingga akhir surah makki dan madani. Dalam mushaf Ibn Masu’d yang pertama ditulis adalah surah Al-Baqarah, Nisa’ dan Ali-’Imran. Dalam mushaf Ubai yang pertama ditulis ialah Fatihah, Baqarah, Nisa’ dan Ali-Imran.

Diriwayatkan Ibn Abbas berkata, “Aku bertanya kepada Usman, “Apakah yang mendorongmu mengambil Anfal yang termasuk kategori masani dan Al-Bar’ah yang termasuk Mi’in untuk kamu gabungkan keduanya menjadi satu tanpa kamu tuliskan di antara keduanya Bismillahirrahmanirrahim, dan kamu pun meletakkannnya pada as-Sab’ut Tiwal (tujuh surah panjang)? Usman menjawab, ‘Telah turun kepada Rasulullah surah-surah yang mempunyai bilangan ayat. Apabila ada ayat turun kepadanya, ia panggil beberapa orang penulis wahyu dan mengatakan, ‘ Letakkanlah ayat ini pada surah yang di dalamnya terdapat ayat anu dan anu.” Surah Anfal termasuk surah pertama yang turun di madinah. Sedang surah Bara’ah termasuk yang terakhir diturunkan. Surah Anfal serupa dengan surah yang turun dalam surah Bara’ah, sehingga aku mengira bahwa surah bara’ah adalah bagian dari surah Anfal. Dan sampai wafatnya Rasulullah tidak menjelaskan kepada kami bahwa surah Bara’ah adalah sebagian dari surah Anfal. Oleh karena itu, kedua surah tersebut aku gabungkan dan diantara keduanya tidak aku tuliskan Bismillahirrahmanirrahim serta aku meletakkannya pula pada as-Sab’ut Tiwal.”

3. Pendapat yang Memadukan bahwa Sebagian Ayat Ditetapkan dan Sebagian lagi Ijtihad

Pendapat lain adalah perpaduan antara keduanya. Mereka mengatakan bahwa sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat, hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surah pada masa Nabi. Misalnya keterangan yang menunjukkan tertib as-’abut Tiwal, al hawamin dan al mufassal pada masa hidup Rasulullah.

Diriwayatkan, “Bahwa Rasulullah berkata: bacalah olehmu dua surah yang bercahaya, baqarah dan ali Imran”. Diriwayatkan pula, bahwa jika hendak pergi ketempat tidur, Rasululah mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya lalu membaca Qul huwallahu ahad dan mu’awwizatain.”

Ibn Hajar mengatakan, “Tertib sebagain surah-surah atau sebagian besarnya itu tidak dapat ditolak sebagai bersifat Tauqifi.” Untuk mendukung pendapatnya ia kemukakan hadis Huzaifah as-Saqafi yang didalamnya antara lain termuat: Rasulullah berkata kepada kami, “Telah datang kepadaku waktu untuk membaca hizb (bagian) dari Qur’an, maka aku tidak ingin keluar sebelum selesai.’ Lalu kami tanyakan kepada sahabat-sahabat Rasulullah, “Bagaimana kalian membuat pembagian Qur’an? Mereka menjawab, “Kami membaginya menjadi tiga surah, lima surah, tujuh surah, sembilan, sebelas, tiga belas surah dan bagian al Mufassal dari Qaf sampai kami khatam.”

Kata Ibn Hajaar, ” Ini menunjukkan bahwa tertib surah-surah seperti terdapat dalam mushaf sekarang adalah tertib surah pada masa Rasulullah.” Dan katanya, “Namun mungkin juga bahwa yang telah tertib pada waktu itu hanyalah bagian mufassal, bukan yang lain.”

Apabila membicarakan ketiga pendapat ini, jelaslah bagi kita bahwa pendapat kedua, yang menyatakan tertib surah-surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat, tidak bersandar dan berdasar pada suatu dalil. Sebab, ijtihad sebagian sahabat mengenai tertib mushaf mereka yang khusus, merupakan ihtiyar mereka sebelum Qur’an dikumpulkan secara terib. Ketika pada masa Usman Qur’an dikumpulkan, ditertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya pada suatu huruf (logat) dan umatpun menyepakatinya, maka mushaf-mushaf yang ada pada mereka ditinggalkan. Seandainya tertib itu merupakan hasil ijtihad, tentu mereka tetap berpegang pada mushafnya masing-masing.

Mengenai hadis tentang surah al-Anfal dan Taubah yang diriwayatkan dari Ibn Abbas di atas, isnadnya dalam setiap riwayat berkisar pada Yazid al Farsi yang oleh Bukhari dikategorikan dalam kelompok du’afa’. Di samping itu dalam hadis inipun tedapat kerancuan mengenai penempatan basmalah pada permulaan surah, yang mengesankan seakan-akan Usman menetapkannya menurut pendapatnya sendiri dan meniadakannya juga menurut pendapatnya sendiri. Oleh karena itu dalam komentarnya terdapat hadis tersebut dalam musnad Imam Ahmad. Syaikh Ahmad Syakir, menyebutkan, “Hadis itu tak ada asal mulanya” paling jauh hadis itu hanya menunjukan ketidaktertiban kedua surah tersebut.

Sementara itu, pendapat ketiga yang menyatakan sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya bersifat ijtihadi, dalil-dalilnya hanya berpusat pada nas-nas yang menunjukkan tertib tauqifi. Adapun bagian yang ijtihadi tidak bersandar pada dalil yang menunjukkan tertib ijtihadi. Sebab, ketetapan yang tauqifi dengan dalil-dalilnya tidak berarti bahwa selain itu adalah hasil ijtihad. Disamping itu pula yang bersifat demikian hanya sedikit sekali.

Dengan demikian bahwa tertib surah itu bersifat tauqifi seperti halnya tertib ayat-ayat. Abu Bakar Ibnul Anbari menyebutkan, “Alah telah menurunkan Qur’an seluruhnya ke langit dunia. Kemudian ia menurunkannya secara berangsur-angsur selama dua puluh sekian tahun. Sebuah surah turun karena suatu urusan yang terjadi dan ayatpun turun sebagai jawaban bagi orang yang bertanya, sedangkan Jibril senantiasa memberitahukan kepada Nabi di mana surah dan ayat tersebut harus ditempatkan. Dengan demikian susunan surah-surah, seperti halnya susunan ayat-ayat dan logat-logat Al-Qur’an, seluruhnya berasal dari Nabi. Oleh karena itu, barang siapa mendahulukan sesuatu surah atau mengakhirinya, ia telah merusak tatanan Al-Qur’an.”

Al-Kirmani dalam al-Burhan mengatakan, “Tertib surah seperti kita kenal sekarang ini adalah menurut Allah pada lauh mahfuz, Qur’an sudah menurut tertib ini. Dan menurut tertib ini pula Nabi membacakan di hadapan Jibril setiap tahun apa yang dikumpulkannya dari Jibril itu. Nabi membacakan dihadapan Jibril menurut tertib ini pada tahun kewafatannya sebanyak dua kali. Dan ayat yang terakhir kali turun ialah, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (Al-Baqarah: 28). Lalu jibril memerintahkan kepadanya untuk meletakkan ayat ini diantara ayat riba dan ayat tentang utang piutang.

As-Suyuti cenderung pada pendapat Baihaqi yang mengatakan, “Al-Qur’an pada masa Nabi surah dan ayat-ayatnya telah tersusun menurut tertib ini kecuali anfal dan bara’ah, karena hadis Usman.”

Jihad

Apabila kita membicarakan tentang jihad, ramai orang beranggapan bahawa jihad ini adalah dengan mengangkat senjata atau sebagainya dan berjuang di medan perang. Memang tidak dapat di nafikan, perkataan jihad itu sendiri telah membawa pengertian yang melambangkan perjuangan seseorang muslim dalam menentang musuh Allah.

Namun jika dilihat di dalam konteks yang lebih luas, musuh Allah bukan sahaja berada di medan perang dan musuh Allah bukan sahaja dapat ditewaskan melalui pennggunaan senjata. Sebagai seorang muslim yang mencintakan kedamaian dan hidup di dalam negara yang aman makmur, perkataan berjuang di medan perang amatlah jauh daripada keinginan kita. Namun, sebagai muslim, haruslah kita ketahui dan yakin yang musuh Allah ada dimana-mana termasuk di dalam diri kita sendiri. Berjihad beerti kita berjuang dengan cara mengorbankan apa yang ada pada diri kita tanpa mengharapkan apa-apa balasan daripada makhluk, hanya mengharapkan balasan dari Allah.

Jihad yang paling utama yang dituntut di dalam Islam adalah jihad mementang hawa nafsu. Di dalam Islam, jihad menentang nafsu disebut Jihad Akhbar iaitu jihad yang paling besar. Nafsu merupakan musuh nombor satu manusia. Sekiranya kita berjaya di dalam pertarungan nafsu maka kita beroleh kemenangan mutlak di sisi Allah.

Sebagai manusia biasa, kita dikurniakan dengan hawa nafsu seperti yang telah kita sedia maklum bersahabat baik dengan hasutan syaitan. Sekiranya kita tidak berjihad untuk menentang nafsu ini maka akan terjerumuslah manusia kelembah dosa dan kehinaan. Setiap hari manusia akan dikelilingai oleh berbagai-bagai perasaan. Ada yang baik dan ada yang buruk. Perkara yang melibatkan keburukan adalah bermula daripada bisikan nafsu terhadap diri kita. Sebagai contoh, nafsu amarah, nafsu makan,nafsu seks dan sebagainya, sekiranya semua perasaan ini tidak dikawal, nescaya kita akan menjadi manusia yang menuruti nafsu tanpa berfikir. Perkara ini amatlah ditakuti. Sepertimana Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud “makanlah kamu sebelum kamu lapar dan berhentilah sebelum kenyang”, menerusi hadis ini, nyatalah Rasulullah s.a.w telah mengajak umatnya memerangi nafsu iaitu nafsu makan. Nafsu makan ini hanya dapat ditundukan melalui berpuasa. Dengan barpuasa, nescaya nafsu manusia yang sentiasa mengajak kepada keburukan akan dapat ditewaskan. Oleh itu kita hendaklah sentiasa mengawal diri dari kengkangan hawa nafsu dalam kehidupan seharian agar diberkati oleh Allah S.W.T.

Di samping itu, jihad yang dituntut daqlam kehidupan seharian seorang muslim adalah jihad menentang maksiat. Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud “ Sekiranya kamu melihat kemungkaran di hadapan kamu, hendaklah menegahnya dengan tangan, jika tidak mampu tegahlah ia dengan lidah, sekiranya tidak mampu tegahlah ia dengan hati,kerana itulah selemah-lemah iman.” Sebagai contohnya jika kita melihat sesuatu kemungkaran seperti perlakuan sumbang dan sebagainya, hendaklah kita menghalang kemungkaran itu dengan cara seperti yang disebutkan dalam hadis tadi.

Tujuan kita berjihad membanteras maksiat ini adalah untuk mengelakkan masalah sosial yang akan menyebabkan keruntuhan akhlak atau moral dalam sesebuah masyarakat. Sudah jelas bahawa berjihad menentang hawa nafsu ini merupakan jihad yang paling utama dan penting dalam kehidupan dalam kehidupan seorang muslim. Sebenarnya berjihad ini memerlukan pengorbanan kerana terpaksa bersusah payah dalam mencapai cita-cita dan menegakkan kebenaran seperti yang diperintahkan oleh Allah S.W.T.

Seterusnya kita lihat dari segi jihad yang lain iaitu Jihad Asghar.Jihad Asghar ini ialah jihad yang kecil iaitu menentang musuh yang nyata seperti peperangan menentang orang kafir yang menceroboh agama Islam dan memerangi orang-orang yang murtad. Dalam konteks ini, jihad Asghar dilakukan apabila kedudukan agama Islam itu berada dalam keadaan terancam. Contohnya pada zaman Rasulullah S.A.W, apabila kaum kafir Quraisy mengancam keselamatan agama Islam dan baginda Rasulullah sendiri, barulah langkah berjihad dilakukan.

Peperangan pada zaman Rasulullah seperti perang Badar, perang Tabuk, perang Ahzab dan sebagainya sebenarnya untuk mempertahankan kesucian dan keselamatan agama Islam,bukannya tradisi peperangan seperti yang digembar-gemburkan oleh orientalis barat. Sebagai orang muslim kita semestinya mengetahui, memahami, dan menghayati maksud sebenar jihad itu. Bukan hanya sekadar pandai berkata atau melaungkan perkataan jihad itu.

Jihad ini sebenarnya tidak tertumpu kepada menentang hawa nafsu dan musuh yang nyata sahaja. Jihad dari segi harta, pendidikan ,kewangan serta pembangunan Islam merupakan jihad-jihad yang dituntut dalam Islam. Contohnya jihad dari segi harta seperti bersedekah dengan mengorbankan harta sendiri yang menyumbang kearah pendidikan, pertahanan dan sebagainya. Seorang sahabat Rasulullah iaitu Rahman bin Auf yang merupakan hartawan pada masa itu sanggup mengorbankan sebahagian besar hartanya termasuk perniagaan dan ladang ternakannya semata-mata untuk membantu Rasulullah dalam mempertahankan agama Islam. Apabila kita bersedekah, hendaklah dengan rela dan ikhlas hati serta mengorbankan sesuatu yang kita sayang. Firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 92 bermaksud : “ Kamu tidak akan mencapai kebaikan kecuali kamu belanjakan apa yang kamu sayang”.

Dalam memperkatakan tentang jihad ini, kita juga mesti mengetahui tentang sift-sifat yang perlu ada pada orang berjihad. Antara sift-sifat tersebut ialah ikhlas kepada Alah S.W.T., tawakal kepada Allah S.W.T, sabar menempuhi ujian pengorbanan dan tekun serta bersungguh-sungguh melakukan jihad. Oleh itu marilah kita mendidik diri kita supaya mempunyai ciri-ciri seperti ini. Berjihad ini merupakan suatu perbuatan yang sangat mulia di sisi Islam. Ibni Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah ;” Apakah amal yang paling dikasihi oleh Allah?.Jawab baginda :” Solat dalam waktunya.Kemudian ?.Kemudian jihad di jalan Allah.”.

Kesimpulannya,untuk mencapai darjat jihad yang sebenarnya adalah dengan pengorbanan yang membawa kepada hilangnya kepentingan dan hak untuk diri sendiri. Semangat jihad sepatutnya dipupuk dalam diri setiap individu muslim kerana mencapai kejayaan bukanlah mudah tetapi memerlukan pengorbanan. Besar kejayaan yang hendak dicapai, besar jugalah pengorbanan yang perlu dibuat. Sabar dan tabah itu sendiri memerlukan semangat jihad dan orang yang paling disukai oleh Allah S.W.T ialah orang yang paling tinggi jihadnya.

Hukum Seorang Muslim Menikahi Orang Kafir yang Tidak Memiliki Kitab

DEFENISI KAFIR

[1]. Secara Bahasa
Kafir (secara bahasa) artinya menutup, menghalangi dan menolak. Malam hari juga disebut “kafir”, karena ia menutupi segala sesuatu. Setiap sesuatu yang menutupi yang lain, berarti ia telah kafarahu (menutupinya). Al-Kafir (orang kafir) adalah az-zari’ (penanam), sebab ia menutup benih dengan tanah. Jadi al-kuffar (orang-orang kafir) adalah az-zurra’ (orang-orang yang menanam benih) [1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani” [Al-Hadid : 20]

Makna Al-Kuffar di sini, yaitu para penanam (petani), sebab mereka menimbun benih, yakni mereka menutupnya dengan tanah. [2]

[2]. Secara Istilah
Ar-Razi mengatakan dalam tafsirnya setelah ia mengakui sangat sulit bagi kalangan ahli kalam (teolog) memberikan batasan makna kafir (orang kafir). Kafir adalah tidak mempercayai sedikitpun apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal hal itu telah diketahui secara nyata. [3]

Defenisi yang lain : Kafir adalah lawan kata iman yaitu mengingkari salah satu dari apa yang dibawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah sampai kepada kita dengan riwayat yang meyakinkan lagi pasti. [4]

HUKUM MENIKAHI WANITA MUSYRIK
Seorang muslim dilarang menikahi wanita-wanita musyrik [5]. Pendapat ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman”[Al-Baqarah : 221]

Juga dengan ijma ulama.

Dalil tersebut sangat jelas menerangkan larangan menikahi atau mengawini wanita-wanita musyrik, baik wanita tersebut merdeka atau budak.

HUKUM MENIKAHI WANITA MAJUSI [6]
Seorang muslim dilarang menikahi wanita Majusi. Sebab, orang Majusi bukan dari golongan Ahli Kitab. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Ahli Kitab adalah mereka yang beragama Yahudi maupun Nasrani. Kitab Taurat diturunkan kepada kaum Yahudi dan Nabi mereka adalah Musa Alaihissalam. Sedangkan kitab Injil diturunkan kepada kaum Nasrani, dan Nabi mereka adalah Isa bin Maryam Alaihissalam. Namun madzhab Zhahiriah membolehkan seorang muslim menikah dengan wanita Majusi dengan hujjah mereka termasuk golongan Ahli kitab. [7]

Abu Tsaur mengatakan : “Boleh menikahi wanita Majusi berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Berbuatlah kalian kepada mereka (orang-orang Majusi,-pent) sebagaimana berbuat kepada golongan Ahli Kitab” [8]

Alasan lain, karena diriwayatkan dalam sebuah riwayat bahwa Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu pernah menikahi wanita Majusi, dan karena mereka masih ditetapkan terkena jizyah (pajak), sehingga setatus mereka mirip dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani” [9]

Yang benar adalah pendapat mayoritas ulama. Pasalnya, orang-orang Majusi bukan termasuk golongan Ahli Kitab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : (Kami turunkan Al-Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan : Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami” [Al-An’am : 156]

Seandainya orang-orang Majusi termasuk golongan Ahli Kitab, pasti akan disebutkan bahwa Ahli kitab terdiri dari tiga kelompok.

Adapun sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Berbuatlah kalian kepada mereka (orang-orang Majusi,-pent) sebagaimana berbuat kepada golongan Ahli Kitab” [10]

Ini adalah sebuah bukti bahwa mereka tidak memiliki kitab. Sesungguhnya yang dimaksudkan dari hadits tersebut adalah dalam rangka melindungi darah mereka dan masih ditetapkan terkena jizyah, bukan yang lainnya. Sedangkan mengenai riwayat bahwa Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu pernah menikahi wanita Majusi, maka riwayat ini tidak shahih dan Imam Ahmad telah mendha’ifkan (melemahkan) orang yang meriwayatkan dari Hudzaifah bahwa beliau pernah menikahi wanita Majusi. Abu Wa’il menyatakan : “(Orang yang meriwayatkan bahwa) beliau pernah menikahi wanita Yahudi itu lebih kuat daripada orang yang meriwayatkan dari beliau bahwa beliau pernah menikahi wanita Majusi”. Sementara Ibnu Sirin mengatakan : “Konon, istri Hudzaifah beragama Nasrani” [11]

Dengan diskusi (munaqasah) ini, maka jelaslah bagi kita bahwa yang lebih rajih (unggul) adalah pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa seorang muslim haram menikahi wanita Majusi.

HUKUM MENIKAHI WANITA SHABI’AH [12]
Para ulama –rahimahumullah- masih berbeda pendapat tentang hukum menikahi wanita Shabi’ah.

Letak perbedaan ini berdasarkan perbedaan madzhab mereka masing-masing. Di kalangan ulama ada yang mengkategorikan mereka termasuk golongan Ahli Kitab, sehingga dibolehkan menikahi mereka. Ini adalah pendapat Abu Hanifah rahimahullah, sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad bin Yusuf Asy-Syaibani (keduanya adalah sahabat Abu Hanifah, pent), berpendapat tidak boleh menikahi wanita Shabi’ah. Sebab, mereka adalah para penyembah berhala. Mereka menyembah bintang-bintang [13]. Pendapat ini juga dipegang oleh pengkiut madzhab Malikiyah. [14]

Adapun madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah (Hanbali), mereka memberikan perincian dalam masalah tersebut. Jika mereka sesuai dengan kaum Nasrani atau Yahudi (Ahli Kitab) dalam masalah pokok-pokok agama (usul), namun menyelisihi dalam masalah yang bersifat cabang (furu’ bukan masalah ushul), maka mereka termasuk golongan Ahli Kitab, sehingga boleh dinikahi. Sebaliknya, jika mereka menyelisihi Ahli Kitab dalam masalah pokok-pokok agama, maka mereka bukan termasuk golongan Ahli Kitab, sehingga mereka tidak boleh dinikahi” [15]

HUKUM MENIKAHI WANITA-WANITA PENYEMBAH BERHALA DAN YANG SERUPA
Para ulama telah sepakat bahwa seorang muslim tidak boleh menikahi para penyembah berhala dan yang serupa dengan mereka dari golongan orang-orang kafir yang tidak memiliki kitab. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir” [Al-Mumtahanan : 10]

Juga firman-Nya.

“Artinya : Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman” [Al-Baqarah : 221]

Di kalangan para ulama tidak ada perbedaan pendapat mengenai haramnya menikahi wanita-wanita mereka … Ketentuan tersebut berdasarkan dalil-dalil yang menyatakan secara jelas (sharih) tentang keharamannya. [16]

[Disalin dari kitab Akhkaamu Nikaakhu Al-Kuffaar Alaa Al-Madzhabi Al-Arba’ah, Penulis Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi, edisi Indonesia Bolehkah Rumah Tangga Beda Agama?, Penerbit At-Tibyan, Penerjemah Mutsana Abdul Qahhar]
__________
Foote Note
[1]. Lihat Mukhtashar Ash-Shihah : 572-573, terbitan Maktabah Al-Hilal, Beirut. Lihat pula Al-Mu’jam Al-Wasith II/791-792, Daar Ihya-u At-Turats Al-Arabi.
[2]. Lihat Fathu Al-Qadir oleh Asy-Syaukani V/175
[3]. Lihat At-Tafsir Al-Kabir oleh Ar-Razi II/39, terbitan Daaru Al-Kutub Al-Alamiin.
[4]. Al-Kufru wa Al-Mukaffarat, Ahmad Izzuddin Al-Bayanunii 6, terbitan Maktabah Al-Huda.
[5]. Badaai’ Ash-Shanaai’ oleh Al-Kasani II/271, Darul Kitab Al-Arabi. Al-Kafi oleh Ibnu Abdil Barr II/543. Takmilah Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab XVI/232. Mughni Al-Muhtaj Syarh Al-Minhaj III/187, Daar Ihya-u At-Turats Al-Arabi, Libanon. Syarh Muntaha Al-Iradaat III/36, Daar Al-Ifta Al-Mamlakah Al-Arabiyyah As-Su’udiyyah. Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah VI/472, Maktabah Ar-Riyadh Al-Haditsah.
[6]. Majusi adalah orang-orang yang menyembah api.
[7]. Badaai’ Ash-Shanaai’ II/272, Syarh Fath Al-Qadir oleh Ibnul Hammam III/230, terbitan Al-Halabi, Al-Kafi oleh Ibnu Abdil Barr II/543, Takmilah Al-Mjmu XVI/233, Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah VI/591
[8]. Tanwiru Al-Hawalik Syarh Ala Muwaththa’ Malik. Kitab Az-Zakat I/264 terbitan Daar An-Nadwah Al-Jadidah, Beirut.
[9]. Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah VI/591
[10]. Tanwiru Al-Hawalik Syarh Ala Muwaththa’ Malik. Kitab Az-Zakat I/264 terbitan Daar An-Nadwah Al-Jadidah, Beirut.
[11]. Al-Mughni VI/592
[12]. Shabi’ah adalah sekelompok dari orang-orang Nasrani yang memang disebut demikian. Ada ulama yang berpendapat karena mereka dinisbatkan kepada Shabi’, paman Nabi Nuh Alaihissalam. Pendapat lain, karena mereka keluar dari agama yang satu dan masuk ke agama yang lain. Dahulu orang-orang kafir biasa menyebut para sahabat Radhiyallahu ‘anhum sebagai shabi’ah, karena mereka keluar dari agamanya dan masuk ke agama Islam. (Lihat Mughni Al-Muhtaj Syarhu Asy-Syaibani III/18). Ibnul Hammam berkata : “Mereka adalah sebuah kaum yang menentang agama Yahudi dan Nasrani, lalu menyembah bintang-bintang”. Dan disebutkan dalam Ash-Shihah : “Sesungguhnya mereka termasuk golongan Ahli Kitab” [Syarh Fath Al-Qadir III/223]

Ibnu Qudamah berkata : “Para ulama masih berbeda pendapat mengenai orang-orang shabi’ah. Diriwayatkan dari Ahmad bahwa mereka masih termasuk golongan Nasrani. Pada kesempatan yang lain beliau berkata : “saya telah mendengar kabar bahwa mereka adalah orang-orang yag memuliakan kesucian hari Sabtu, maka mereka termasuk orang-orang Yahudi”. Diriwayatkan dari Umar bahwa beliau pernah berkata : “Mereka adalah orang-orang yang memuliakan hari Sabtu”. Mujahid berkata : “Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani”. Sedangkan Imam Syafi’i lebih cenderung diam dalam menentukan status mereka.

Pendapat yang benar adalah justru keluar dari semua pendapat di atas. Jika mereka sesuai dengan salah satu Ahli Kitab dalam hal siapa nabi mereka dan apa kitabnya, maka mereka masih satu golongan. Namun jika mereka menyelisihi dalam masalah tersebut, maka mereka bukan lagi termasuk Ahli Kitab. [Lihat Al-Mughni VIII/496-497]
[13]. Lihat Syarh Fath Al-Qadir III/232
[14]. Lihat Al-Fawakih Ad-Diwani II/42, terbitan Daar Al-Baaz
[15]. Lihat Raudhah Ath-Thalibi wa Umdah Al-Muftin oleh An-Nawawi VII/139 dan Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah VI/591
[16]. Lihat Syarh Fath Al-Qadir III/231, Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rusyd II/44 terbitan Daar Al-Ma’rifah, Takmilah Al-Majmu XVI/232 dan Hasyiyah Ar-Raudh Al-Murbi oleh Al-Anqari III/84 terbitan Maktabah Ar-Riyadh Al-Haditsah.

Sumber: http://kumpay87.blogspot.com/

Sidratul Muntaha

Antara kelebihan Lailatul Qadar ialah malaikat yang berada di Sidratul Muntaha turun ke bumi dengan izin Allah. Sidratul bererti pokok bidara manakala Muntaha ialah sempadan iaitu sempadan sebelah atas langit, selepas langit yang ke tujuh. Semasa peristiwa Isra’ Mikraj, malaikat Jibril hanya boleh menghantar Rasulullah s.a.w. hingga setakat pokok bidara ini sahaja.

An-Najm [13] Dan demi sesungguhnya! (Nabi Muhammad) telah melihat (malaikat Jibril, dalam bentuk rupanya yang asal) sekali lagi, [14] Di sisi “Sidratul-Muntaha”; [15] Yang di sisinya terletak Syurga “Jannatul-Makwa”.

Sebelah atas langit (selepas langit ke tujuh) didiami oleh Malaikat khas, yang lebih kuat dan hanya turun di hari Kiamat. Mereka membawa neraca timbangan dan memagari serta mengepung manusia, binatang, jin. Sepertimana Allah berfirman:

Ar-Rahman [33] Wahai sekalian jin dan manusia! Kalau kamu dapat menembus keluar dari kawasan-kawasan langit dan bumi (untuk melarikan diri dari kekuasaan dan balasan Kami), maka cubalah kamu menembus keluar. Kamu tidak akan menembus keluar melainkan dengan satu kekuasaan (yang mengatasi kekuasaan Kami; masakan dapat)!

Asas-Asas Mazhab Syafie

Pertama: Mengikut Al-Qur'an dan As-Sunnah

Tidak syak lagi bahawasanya Imam As-Syafi'e terlalu kuat dalam berpegang dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Kedua: Mengikut Kebenaran dan Dalil

Ini merupakan antara ciri-ciri keistimewaan mazhab Imam As-Syafi'e di mana tiada apa yang dapat memisahkannya daripada berusaha untuk berpegang dengan kebenaran. Beliau tidak mengikut amalan mana-mana penduduk sesuatu tempat dan sebagainya. Didapati bahawasanya ada sebahagian imam yang menjadikan amalan sesuatu penduduk sesuatu tempat adalah sebagai hujah sepertimana yang dilakukan oleh Imam Malik r.a. yang menjadikan amalan penduduk Madinah sebagai hujah dan tidak mengambil riwayat-riwayat daripada penduduk negeri lain.

Imam Abu Hanifah r.a. pula mengambil riwayat daripada ahli Iraq sahaja, dan tidak akan bercanggah pendapat dengan mereka. Tetapi,keterbukaan Imam As-Syafi'e dengan mengambil ilmu dari pelbagai sumber, dari mana-mana ulama' di serata dunia.

Ketiga: Mengambil Berat Tentang Perkataan Para Sahabat

Imam As-Syafi'e r.a. menganggap bahawasanya perkataan para sahabat r.a. yang bersepakat dalam sesuatu perkara sebagai hujah dalam mengambil hukum. Adapun jika para sahabat r.a. berselisih dalam sesuatu perkara, maka Imam As-Syafi'e mencari dalil-dalil untuk mentarjihkan (menguatkan) antara pendapat-pendapat para sahabat r.a. tersebut.

Imam As-Syafi'e berpendapat bahawasanya jika seorang sahabat r.a. memberi fatwa dalam sesuatu masalah dan fatwanya adalah satu-satunya perkataan yang wujud dalam masalah tersebut, tanpa ada nas-nas lain daripada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka perkataan sahabat tersebut lebih utama dijadikan hujah daripada qiyas.

Adapun jika perkataan sahabat r.a. tersebut dalam masalah-masalah yang diberi keluasan untuk berijtihad padanya (masalah ijtihadiyah), maka perkataan sahabat r.a. tidaklah dianggap lebih utama daripada para mujtahidin yang lain, menurut Imam As-Syafi'e r.a..

Keempat: Berpegang dengan Kaedah Qiyas

Imam As-Syafi'e berpegang dengan manhaj yang sederhana berkenaan penggunaan kaedah qiyas. Beliau tidak terlalu bersikap keras sepertimana Imam Malik r.a. dan tidak juga bersikap terlalu terbuka dalam penggunaan qiyas seperti keterbukaan Imam Abu Hanifah r.a. dalam penggunaannya. Imam As-Syafi'e r.a. menganggap bahawasanya qiyas juga mempunyai kepentingan yang besar dalam perkembangan ilmu fiqh dan usul fiqh, lalu menjadikan qiyas dan ijtihad itu sendiri adalah satu makna yang sama.

Kelima: Mengambil kira Terhadap Asal bagi Sesuatu Perkara

Sesungguhnya, mazhab Imam As-Syafi'e dibina di atas asas-asas yang kukuh antaranya adalah asas yang kelima ini. Maka, asal bagi sesuatu perkara yang memberi manfaat, namun tidak ada nas mengenainya, maka hukumnya adalah mubah (boleh dilakukan dan boleh juga ditinggalkan: harus).

Keenam: Al-Istishab

Istishab ialah: Menetapkan sesuatu perkara di zaman kedua sepertimana ianya ditetapkan pada zaman yang pertama. Iaitu, jika kita mengetahui suatu hukum terhadap sesuatu pada zaman pertama, lalu tidak terzahir sesuatu petunjuk yang menunjukkan hukum tersebut dihilangkan pada zaman kedua, maka pada zaman kedua itu juga turut kita hukumkan dengan hukum asal pada zaman pertama tersebut.

Contohnya: Asal hukum itu ialah, seseorang itu “terlepas (bara’ah) daripada sebarang tanggungan terhadap manusia lain” sehingga ada dalil yang menunjukkan bahawasanya dia sudah memikul tanggungjawab terhadap orang lain. Maka, asal "keterlepasan"nya daripada tanggungan terhadap manusia lain itu digunakan secara istishab dalam kes seperti contohnya: seseorang itu (si A) dituduh mempunyai hutang dengan seseorang yang lain (si B), namun tidak ada bukti menunjukkan bahawasanya dia (si A) pernah berhutang dengan orang (si B) tersebut.

Maka, dengan kaedah istishab ini, kita mengembalikan orang (si A) tersebut kepada hukum asalnya sebelum tuduhan tersebut dilakukan iaitu "keterlepasan daripada tanggungan terhadap manusia lain", maka dia (si A) tidak perlu membayar hutang tersebut kepada si B.

Ketujuh: Al-Istiqra'

Istiqra' ialah: Mengkaji atau meneliti (tatabbu’) perkara-perkara yang cabang (furu') dan hukum perkara-perkara cabang yang saling berkaitan tersebut kepada suatu perkara yang turut berkait rapat dengan perkara-perkara tersebut. Ia merupakan suatu proses meneliti pelbagai perkara cabang yang mempunyai persamaan dari sudut-sudut tertentu, yang membawa kepada hukum yang sama, lalu menjadikan hukum tersebut sebagai hukum yang menyeluruh terhadap cabang-cabang yang termasuk dalam masalah tersebut.

Contohnya: Hukum solat witir.

Kalau kita mengkaji (tatabbu’) keadaan Nabi s.a.w. khususnya dalam masalah solat, kita dapati suatu kaedah umum daripada perbuatan-perbuatan Nabi s.a.w. secara menyeluruh tersebut bahawasanya, Nabi s.a.w. tidak pernah menunaikan solat fardhu di atas kenderaan sewaktu bermusafir sama sekali.

Jika Rasulullah s.a.w. menunaikan sesuatu solat di atas kenderaan, maka daripada kaedah umum yang kita fahami sebelum tadi, menunjukkan bahawasanya solat yang ditunaikan oleh Nabi s.a.w. di atas kenderaan tersebut adalah solat sunat.

Oleh yang demikian, bilamana kita ingin mencari hukum tentang solat witir, lalu kita menemui bahawasanya Rasulullah s.a.w. pernah menunaikan solat witir di atas kenderaan, maka kita meletakkan hukum sunat bagi solat witir hasil daripada kita mengaitkannya dengan hukum menyeluruh yang kita sebut sebelum tadi dalam kaedah "Rasulullah s.a.w. hanya menunaikan solat sunat sahaja di atas kenderaan". Maka, kaedah umum yang membawa hukum menyeluruh ini memberi petunjuk kepada hukum solat witir yang dicari, dengan menjadikan solat witir sebagai satu cabang daripada kaedah tersebut, dalam masa yang sama berkongsi hukum yang sama dengan yang lain iaitu: hukum solat witir adalah sunat. Jadi, dapat difahami juga, sebarang nas-nas yang mana zahirnya seolah-oleh mewajibkan solat witir sebenarnya adalah sekadar suatu bentuk "menguatkan lagi galakan terhadap menunaikan solat witir itu sendiri.

Fasal: Kaedah Mengambil Bilangan paling Sedikit dalam Perkataan-perkataan Para Mujtahidin

Imam As-Syafi'e r.a. berpendapat bahawasanya kita perlu mengambil pendapat yang menyebutkan bilangan yang paling sedikit dalam sesuatu masalah yang melibatkan bilangan, takkala berlaku perselisihan pendapat dalam kalangan para ulama', kerana bilangan yang paling sedikit juga termasuk dalam bilangan yang paling banyak itu sendiri (contohnya: 1 itu termasuk dalam bilangan 10 itu sendiri).

Kaedah ini digunakan oleh Imam As-Syafi'e r.a. bilamana tiada lagi dalil dijumpai dalam masalah tersebut melainkan perkataan-perkataan ulama' tersebut.

Contohnya:

Hukum diyyah (bayaran pampasan yang melibatkan nyawa) kafir zimmi. Para ulama' berselisih pendapat tentang hukum diyyah kafir zimmi:

Pendapat Pertama: sepertiga daripada diyyah seorang muslim.
Pendapat Kedua: separuh daripada diyyah seorang muslim (mazhab Maliki)
Pendapat Ketiga: sama seperti diyyah seorang muslim (mazhab Hanafi)

Maka, Imam As-Syafi'e mengambil pendapat yang pertama iaitu sepertiga dariapda diyyah seorang muslim kerana ianya merupakan pendapat yang paling sedikit dalam masalah ini. Ini kerana, bilangan yang terrendah ini turut mengandungi perkataan yang mengatakan separuh diyyah muslim dan turut mengandungi perkataan seluruh diyyah muslim.

Sepertiga diyyah muslim terkandung dalam pendapat kedua iaitu separuh diyyah muslim dan terkandug juga dalam pendapat yang ketika iaitu semua bilangan diyyah muslim.

Wallahu a’lam…

(diambil dan diadaptasi daripada buku Al-Madkhal ila dirasah Al-Mazahib Al-Arba'ah karangan Mufti Mesir, Prof. Dr. Ali Jum'ah)

Selasa, Julai 01, 2008

Menyucikan Najis

Apa yang dimaksudkan najis?

Najis bermaksud kekotoran yang menghalang sahnya sembahyang, yakni; tidak sah sembahyang jika terdapat pada pakaian atau badan atau tempat sembahyang. Pada dasarnya, setiap benda yang ada di alam ini adalah suci dan tidak najis kecualilah perkara-perkara yang telah dinyatakan oleh Syara’ sebagai najis. Selagi tidak ada nas atau dalil Syara’ menjelaskan bahawa sesuatu itu najis, maka ia kekal dengan hukum asalnya iaitu suci dan bersih.

Apakah benda-benda yang dianggap najis oleh Syarak?

Menurut Imam Ibnu Rusyd; empat benda disepakati oleh ulamak sebagai najis, iaitu;
1. Bangkai haiwan darat yang berdarah mengalir
2. Daging babi
3. Darah dari haiwan darat jika ia mengalir, yakni banyak.
4. Air kencing manusia dan tahinya.

Selain dari empat di atas (seperti; arak, tahi binatang, muntah dan sebagainya lagi) di kalangan ulamak terdapat beza pandangan; ada yang menganggapnya najis dan ada yang tidak. Menurut Imam asy-Syaukani; perkara-perkara yang ada dalil Syarak menyebutnya sebagai najis ialah;
1. Tahi dan air kencing manusia
2. Air liur anjing
3. Tahi binatang (khusus kepada tahi kuda, baghal dan kaldai sahaja menurut beliau)
4. Darah haid (lain dari darah haid (iaitu darah biasa) tidak najis menurut beliau).
5. Daging babi

Hanya lima di atas sahaja –menurut Imam Syaukani- yang mempunyai dalil yang jelas dari Syarak tentang kenajisannya. Selain darinya adalah khilaf di kalangan ulamak”.

Adapun dalam mazhab Syafi’ie, ada 13 perkara yang diputuskan sebagai najis berdasarkan ijtihad ulamak-ulamak mazhab, iaitu;
1. Anjing; semua juzuk di badan anjing adalah najis.
2. Babi; semua juzuk di badan babi adalah najis.
3. Air kencing; semua jenis air kencing adalah najis sama ada dari manusia atau haiwan.
4. Tahi; semua jenis tahi adalah najis sama ada tahi manusia atau haiwan.
5. Air mazi; iaitu cecair nipis berwarna kekuningan yang keluar dari kemaluan ketika naik syahwat.
6. Air madi; iaitu cecair kental berwarna putih yang keluar dari kemaluan selepas kencing atau selepas keletihan.
7. Arak dan semua minuman yang memabukkan seperti tuak dan seumpamanya.
8. Bangkai/mayat; kecuali mayat manusia, bangkai haiwan laut (ikan dan sebagainya) dan belalang.
9. Darah; semua jenis darah adalah najis sama ada darah manusia atau haiwan.
10. Nanah
11. Anggota yang terpisah dari haiwan ketika masih hidupnya; kecuali bulu binatang yang halal dimakan seperti bulu biri-biri, bulu ayam dan sebagainya.
12. Susu binatang yang tidak halal dimakan dagingnya.
13. Muntah

Apakah kaifiyat bersuci dari najis yang ditetapkan oleh Syarak?

1. Bersuci dengan menggunakan air
2. Bersuci dengan air bercampur tanah
3. Bersuci dengan benda-benda kesat
4. Bersuci dengan menggosok ke tanah

Bagaimana caranya bersuci dengan air?

Menggunakan air adalah cara asal dalam bersuci. Tidak harus berpaling dari menggunakan air dalam bersuci kecuali dengan keizinan dari Syarak. Adapun cara bersuci dengan air ialah;
Pertama; Buang najis terlebih dahulu,
Kedua; Basuh tempat yang terkena najis itu dengan air hingga hilang sifat-sifatnya iaitu warnanya, baunya dan rasanya. Jika sekali basuhan telah dapat menghilangkannya, tidak perlu lagi diulangi basuhan. Jika tidak, wajib diulangi lagi basuhan termasuk dengan menggosok-gosoknya atau melakukan seumpamanya. Setelah dibasuh berulang kali, namun warna najis masih tidak tanggal atau baunya masih tidak hilang, ketika itu dimaafkan, yakni basuhan dianggap sempurna dan tidak perlu diulangi lagi.

Dikecualikan jika najis itu ialah air kencing kanak-kanak lelaki yang belum berumur dua tahun dan belum menikmati sebarang makanan kecuali susu ibunya, maka memadai dengan merenjis air hingga meratai kawasan yang terkena air kencing itu, kemudian dibiarkan kering. Tidak perlu membasuhnya atau mengalirkan air ke atasnya. Ummu Qais binti Mihsan –radhiyallahu ‘anha-. Menceritakan; “Beliau membawa seorang bayi lelaki yang belum memakan sebarang makanan kepada Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wasallam-, tiba-tiba bayi itu kencing di atas pakaian baginda. Baginda meminta air, lalu merenjis pakaiannya dan baginda tidak membasuhnya”. (Riwayat Imam al-Bukhari)

Apakah najis yang perlu dibasuh menggunakan air bercampur tanah? Bagaimana caranya?

Iaitu najis anjing kerana Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Apabila bekas kamu dijilat oleh anjing, hendaklah kamu membasuhnya tujuh kali; kali pertama dengan tanah” (Riwayat Imam Muslim). Caranya ialah;

Pertama; Buang najis terlebih dahulu
Kedua; Basuh tempat yang terkena najis anjing itu dengan air yang bercampur tanah (sekali sahaja).
Ketiga; Bilas dengan air biasa sebanyak enam kali.

Oleh kerana cara membasuh najis anjing di atas lebih berat berbanding cara membasuh najis-najis yang lain, maka kerana itu najis anjing dinamakan ulamak dengan najis mughallazah (najis berat).

Adakah najis babi juga mesti di basuh dengan air bercampur tanah?

Ulamak-ulamak berbeza pandangan tentang babi; adakah ia termasuk dalam najis berat (mughalladzah) sebagaimana anjing di atas, atau ia hanya terdiri dari najis biasa (seperti arak, air kencing, tahi dan sebagainya) yang mencukupi dibasuh dengan air seperti biasa? Ada dua pandangan;

Pertama; Jumhur ulamak berpandangan; babi sama seperti najis-najis yang lain, iaitu mencukupi dibasuh seperti biasa hingga hilang kesan-kesannya. Tidak perlu diulangi basuhan hingga tujuh kali dan tidak perlu menggunakan tanah. Mengikut pandangan jumhur ulamak, najis berat hanya satu sahaja iaitu anjing. Dalil mereka ialah sabda Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-; “Apabila anjing menjilat bekas salah seseorang dari kamu, cara menyucinya ialah dengan ia membasuhnya sebanyak tujuh kali, kali pertamanya dengan tanah” (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-). Di dalam hadis ini, Nabi hanya menyebut anjing sahaja, tidak menyebutkan najis yang lain termasuk babi.

Kedua; mengikut mazhab Syafi’ie; babi sama seperti anjing, oleh itu ia mesti dibasuh sebanyak tujuh kali dan salah satu basuhan mesti dengan air bercampur tanah. Dalil mereka ialah dengan mengkiaskannya kepada anjing kerana babi lebih buruk keadaannya dari anjing di mana pengharaman memakannya adalah sabit dengan nas al-Quran, adapun pengharaman memakan anjing hanya sabit dengan ijtihad.

Adakah harus tanah digantikan dengan sabun atau bahan pencuci lain?

Bagi masalah ini juga ada perbezaan pandangan di kalangan ulamak;

Pandangan pertama; tidak harus kerana cucian dengan tanah itu adalah arahan Syarak. Halnya sama seperti tayammum yang diarahkan oleh Syarak menggunakan tanah, maka tidak harus dialihkan kepada yang lain. Arahan menggunakan tanah itu bersifat ibadah, oleh itu tidak harus dinilai berdasarkan akal atau logik. Ini adalah pandangan yang rajih dalam mazhab Syafi’ie.

Pandangan kedua; harus tanah itu digantikan dengan sabun kerana penggunaan sabun lebih berkesan dari tanah dalam menghilangkan najis. Nabi menyebutkan tanah dalam hadis tadi bukan bertujuan membataskannya kepada tanah, tetapi untuk menegaskan perlunya penyucian najis berat itu dibantu dengan bahan lain di samping air. Masalah ini ada persamaannya dengan istinjak di mana selain dengan air, Nabi juga mengharuskan istinjak dengan batu. Menurut ulamak; walaupun nabi hanya menyebutkan batu, namun dikiaskan kepadanya bahan-bahan lain yang bersifat kesat dan berupaya menanggalkan najis seperti kertas, tisu kesat dan sebagainya. Nabi menyebut batu bukanlah bertujuan membataskannya kepada batu, tetapi untuk menjelaskan keharusan beristinjak dengan batu atau bahan-bahan lain yang mempunyai sifat yang sama. Ini adalah pandangan jumhur ulamak mazhab Hanbali.

Pandangan ketiga; Dalam keadaan terdapat tanah, wajiblah basuhan menggunakan tanah dan tidak harus berpindah kepada bahan yang lain sama ada sabun atau sebagainya. Jika tidak ada tanah, barulah harus menggunakan bahan yang lain menggantikan tanah. Ini adalah pandangan Abu Hamid (salah seorang ulamak mazhab Hanbali).

Apakah yang dimaksudkan dengan benda-benda kesat? Bilakah harus bersuci dengannya?

Benda-benda kesat adalah seperti batu, kertas atau tisu yang kesat, kayu dan sebagainya. Benda-benda kesat ini harus digunakan untuk beristinjak iaitu membersihkan najis di kemaluan setelah kencing atau berak. Telah sabit di dalam hadis bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam- menggunakan batu untuk beristinjak. Maka dikiaskan kepadanya segala benda yang kesat yang dapat menanggalkan najis dari dua saluran tersebut.

Apa syarat beristinjak dengan benda kesat?

Paling baik ialah berinstinjak dengan air kerana ia lebih menyucikan. Diharuskan beristinjak dengan benda-benda kesat sahaja sekalipun terdapat air, tetapi hendaklah dengan memenuhi syarat-syarat di bawah;

1. Hendaklah dengan sekurang-kurangnya tiga kali sapuan. Tidak harus kurang dari tiga kali sapuan sekalipun telah kelihatan bersih dengan sekali atau dua kali sapuan. Ini kerana tiga kali sapuan itu adalah had minima yang ditetapkan Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-. Salman –radhiyallahu ‘anhu- menceritakan; “Nabi menegah kami dari beristinjak kurang dari tiga batu (yakni tiga sapuan batu)” (Riwayat Imam Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud dan Nasai). Jika tiga kali sapuan tidak mencukupi, wajib ditambah dan sunat tambahan itu ganjil (yakni lima, tujuh dan sebagainya).

2. Hendaklah najis tidak melepasi papan punggung atau hasyafah (yakni kepala zakar). Jika najis meleleh melepasi kawasan tersebut, wajib istinjak dengan air.

3. Hendaklah sebelum najis kering. Jika najis telah kering, wajib istinjak dengan air.

4. Bahan yang digunakan hendaklah bersih dan kering. Sifatnya hendaklah boleh menanggalkan najis, iaitu tidak terlalu licin atau terlalu kasar kerana tujuan intinjak ialah untuk menanggalkan najis, maka hendaklah bahan yang digunakan boleh memenuhi tujuan tersebut.

5. Bahan yang digunakan bukan dari makanan manusia atau jin seperti tulang. Sabda Nabi; “Janganlah kamu beristinjak dengan tahi binatang, dan juga dengan tulang kerana ia adalah makanan saudara kamu dari kalangan jin”. (Riwayat Imam at-Tirmizi)

Bagaimana yang dikatakan bersuci dengan menggosok ke tanah?

Iaitu cara bersuci yang disebut oleh Nabi di dalam hadisnya; “Jika seseorang kamu datang ke masjid, hendaklah ia menterbalikkan dua sepatunya dan memerhatikannya; jika ia nampak ada najis, hendaklah ia menggosoknya ke tanah, kemudian tunaikan solat dengan memakai sepatunya itu”. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Abu Said al-Khudri r.a.).

Berdalilkan hadis ini, sebahagian ulamak –antaranya Imam Abu Hanifah- menegaskan; “Kasut atau sepatu yang terkena najis –sama ada kering atau basah- memadai menyucinya dengan menggosoknya ke tanah hingga hilang kesan najis pada kasut tersebut”.

Bagaimana cara menyucikan tanah yang dikenai najis?

Tanah yang terkena najis, cara menyucinya ialah;
Pertama; hendaklah dibuang terlebih dahulu najis jika kelihatan.
Kedua; setelah dibuang najis, curahkan sebaldi air ke atas tanah yang terkena najis itu dan biarkan ia kering. Abu Hurairah r.a. telah menceritakan; “Seorang lelaki dari pedalaman datang ke masjid Nabi s.a.w.. Tiba-tiba ia bangun dan kencing di satu penjuru masjid. Lalu Nabi s.a.w. berkata; “’Curahkan sebaldi air ke atas tempat yang terkena air kencingnya”. (Riwayat Imam al-Bukhari)

Jika seseorang itu selepas mengerjakan solat, ia ternampak najis di pakaiannya; adakah wajib ia mengulangi solatnya?

Para ulamak berbeza pandangan dalam masalah ini;

1. Ulamak-ulamak mazhab Syafi’ie- menegaskan; batal solatnya dan wajib diulangi kerana ia menunaikan solat dalam keadaan tidak memenuhi syarat sahnya iaitu bersuci. Adapun sangkaannya semasa sedang solat –bahawa ia bersih dari najis-, maka sangkaan itu tidak dikira kerana telah terbukti salah. Kaedah Fiqh menyebutkan; “Tidak diambil kira sangkaan yag telah ternyata salahnya”.

2. Menurut mazhab Imam Abu Hanifah; tidak batal solatnya jika najis itu sedikit. Jika najis itu banyak, batallah solat dan wajib diulangi semula.

3. Ada ulamak berpandangan; tidak batal solatnya secara keseluruhannya sama ada najis itu sedikit atau banyak. Mereka berdalilkan hadis dari Abu Sa’id al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu- yang menceritakan; “Suatu hari kami mengerjakan solat bersama Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-. Ditengah solat, Nabi menanggalkan dua kasutnya dan meletaknya di sebelah kirinya. Melihat berbuatan Nabi itu, kami pun turut melakukannya. Selesai solat, Nabi bertanya; “Kenapa kamu semua menanggalkan kasut?”. Kami menjawab; “Kami melihat kamu melakukannya, maka kami pun turut melakukannya”. Nabi berkata; “Di tengah solat tadi, Jibril datang kepadaku dan memberitahu bahawa di kasutku terdapat najis/kekotoran, maka kerana itulah aku menanggalkannya. Jika seseorang kamu datang ke masjid, hendaklah ia menterbalikkan dua kasutnya dan memerhatikannya; jika ia nampak ada najis, hendaklah ia menggosoknya ke tanah, kemudian bolehlah ia menunaikan solat dengan memakai kasutnya itu” (Riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud). Berkata Imam al-Khattabi; hadis ini menjadi dalil bahawa sesiapa menunaikan solat sedang di pakaiannya terdapat najis yang tidak diketahuinya, maka solatnya adalah sah dan tidak perlu ia mengulanginya”. Selain Imam al-Khattabi, ulamak yang berpandangan serupa ialah Imam Ibnu Taimiyyah. Di dalam al-Fatawa al-Kubra, Imam Ibnu Taimiyyah menegaskan; “Sesiapa menunaikan solat dengan ada najis (di pakainnya) kerana lupa atau tidak tahu, tidak perlu ia ulangi solatnya”.

Bersuci

Apakah perkara-perkara yang wajib kita lakukan sebelum solat?

1. Bersuci
2. Memakai pakaian menutup aurat
3. Memastikan arah qiblat
4. Menentukan telah masuk waktu jika solat yang hendak dilakukan merupakan solat fardhu atau solat sunat yang berwaktu.

Apa dalil wajib bersuci?

Firman Allah; “Dan pakaianmu, maka hendaklah engkau bersihkan”. (Surah al-Muddathir, ayat 4)

Sabda Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-; “Tidak diterima solat tanpa bersuci” (Riwayat Imam Muslim, Tirmizi dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu-). Hadis ini menunjukkan bahawa bersuci adalah wajib sebelum menunaikan solat. Sekelian ulamak telah sepakat bahawa bersuci adalah salah satu syarat sahnya solat. Tidak sah solat tanpa bersuci.[1]

Apakah bentuk bersuci yang dituntut oleh Syarak sebelum solat?

1. Bersuci dari najis
2. Bersuci dari hadas
3. Menyucikan batin (Tazkiyah an-Nafs)

Apakah skop bersuci dari najis?

1. Membersihkan badan, pakain dan tempat ibadah dari najis
2. Istinjak; iaitu iaitu menyucikan najis yang ada pada kemaluan (yakni zakar atau dubur) selepas kencing atau berak.
3. Menyucikan kulit binatang

Apakah skop bersuci dari hadas?

1. Mengambil wudhuk
2. Mandi hadas atau mandi wajib
3. Tayammum

Apakah alat atau bahan yang ditetapkan Syarak untuk bersuci?

1. Air; air adalah bahan/alat asal yang ditetapkan Syarak untuk bersuci sama ada membersihkan najis atau menghilangkan hadas. Tidak harus meninggalkan air kecuali dalam kes-kes yang diizinkan oleh Syarak. [2]

2. Tanah; iaitu bahan/alat bersuci yang ditetapkan Syarak untuk tayammum dan untuk membersihkan najis mughallazah (najis anjing dan babi)

3. Benda-benda kesat; seperti batu, kertas, tisu, kayu dan sebagainya. Ia menjadi alat/bahan bersuci untuk beristinjak (iaitu membersihkan kemaluan selepas kencing atau berak).

3. Bahan yang bersifat menghakis; iaitu bahan-bahan seperti kapur, tahi burung merpati, serbuk pencuci atau bahan kimia tertentu yang bersifat tajam dan menghakis. Ia menjadi bahan/alat bersuci untuk menyamak kulit.

Apakah yang dimaksudkan dengan penyucian batin?

Penyucian batin bermaksud menyucikan hati dan akal dari aqidah dan kepercayaan kufur dan sesat yang boleh mengeluarkan seseorang itu dari iman. Selain bersuci zahir sebagaimana di atas, penyucian batin juga amat dititik-beratkan oleh Islam. Ini kerana solat dan ibadah-ibadah yang lain tidak sah melainkan dari orang yang beriman. Allah tidak menerima ibadah orang yang mensyirikkanNya atau mengkufuriNya termasuklah orang yang murtad dari agamaNya.

Selain itu, termasuk juga dalam pengertian penyucian batin yang mesti diperhatikan sebelum menunaikan solat ialah menyucikan hati dari sifat-sifat riyak, ujub dan sebagainya yang menafikan keikhlasan ketika mengerjakan solat. Ibadah yang tidak ikhlas akan ditolak oleh Allah.

AIR

Apakah jenis air yang harus digunakan untuk bersuci?

Iaitulah air mutlak. Air mutlak ialah air yang semata-mata air, yang tidak dikaitkan dengan sebarang nama kecuali pada sebutan sahaja, bukan pada hakikatnya. Dipanggil dengan mutlak kerana apabila diitlakkan air (yakni disebut kalimah ‘air’ dengan tidak dikaitkan dengan sebarang nama yang lain seperti tepung, mawar, tebu, kopi dan sebagainya), maka difahami bahawa yang dimaksudkan ialah air yang semata-mata air, yang tidak dikaitkan dengan sebarang nama yang lain. Air sebegini mungkin dapat kita namakan dalam bahasa Melayu sebagai air murni atau air sejati. Menurut ulama’, air mutlak ini terbahagi kepada dua iaitu;
1. Air yang turun dari langit; merangkumi air hujan, air embun dan salji.
2. Air yang terbit dari bumi; merangkumi air sungai, air mata-air, air telaga dan air laut.

Apakah contoh-contoh air yang tidak harus digunakan untuk bersuci?

1. Air kopi, air tebu, air mawar, air sirap, air gula dan sebagainya. Air-air jenis ini dinamakan air muqayyad iaitu air yang dikaitkan dengan nama-nama tertentu secara hakikatnya, maka ia tidak tergolong dalam air mutlak.

2. Air mutlak yang berubah kerana dimasuki bahan asing hingga tidak dapat dipanggil air mutlak lagi. Contohnya, air yang dimasuki sabun dalam kuatiti yang banyak hingga tidak lagi dipanggil air melainkan “air sabun”. Air jenis ini dinamakan air mutaghaiyyir iaitu air yang berubah.

3. Air najis atau air yang dicemari najis (yakni air mutanajjis).

3. Air Musta’mal; iaitu air yang kurang dari dua kolah yang telah digunakan untuk menghilangkan hadas sama ada hadas besar (iaitu mandi wajib) atau hadas kecil (iaitu wudhuk yang wajib). Mengikut mazhab Syafi’ie, air Musta’mal tidak harus digunakan semula untuk bersuci. Namun ada di kalangan ulamak yang mengharuskannya, antaranya ulamak-ulamak mazhab Imam Malik.

Bagaimana jika air dimasuki najis?

Jika air adalah sedikit (iaitu kurang dua kolah), otomatik ia menjadi mutanajis (iaitu air yang bercampur dengan najis) sebaik sahaja terjatuh najis ke dalamnya sama ada nampak perubahan pada air atau tidak nampak. Tidak harus lagi ia digunakan untuk bersuci sekalipun air itu nampak elok. Namun sekiranya air itu banyak (iaitu lebih dua kolah), hendaklah diperhatikan;
1. Jika nampak perubahan pada air itu (sama ada dari segi bau, warna dan sebagainya), maka air itu menjadi mutanajjis sebagaimana di atas.
2. Jika tidak nampak sebarang perubahan, maka ia tidak menjadi mutanajjis, yakni ia masih dalam hukum asalnya iaitu suci dan harus digunakan untuk bersuci.

Hukum di atas adalah merujuk kepada sabda Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam- (yang bermaksud); “Apabila air sampai dua kolah nescaya ia tidak akan menjadi cemar atau kotor”. Dalam lafaz hadis yang lain disebutkan; “….tidak akan menjadi najis”. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Hibban, ad-Daruqutni, al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu)

Bagaimana caranya untuk menentukan kadar dua kolah mengikut ukuran semasa?

Sukatan air dua kolah jika ditimbang ialah 500 ritl (kati) Baghdad mengikut ukuran lama atau 192.857kg mengikut ukuran baru bersamaan 216 liter (iaitu lebih kurang 11 tin minyak tanah). Dari sudut keluasan tempat, bekas atau kolam, ukurannya ialah 1 ¼ hasta (yakni satu hasta suku) atau 60cm panjang, lebar, dan dalam.

Dasyatnya Sakaratul Maut

"Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri".

(Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan). Datangnya Kematian Menurut Al Qur'an :

1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian. Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:7
Artinya :Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.'

3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS al-Jumu'ah, 62:

4. Kematian datang secara tiba-tiba. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)

5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

Sabda Rasulullah SAW : "Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang" (HR Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW : "Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?" (HR Bukhari)

Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .

Ka'b al-Ahbar berpendapat : "Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa".

Imam Ghozali berpendapat : "Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki".

Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. "Wahai manusia !", kata pria tersebut. "Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami
kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku."

Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a'lam bis shawab.

Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim

Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan
tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An'am 6:93)

(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun". (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan". Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, "Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! " Ketika itulah orang yang
sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka".

Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, "Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka". Naudzu bila min dzalik!

Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)

Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, "Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu".

Qazaf

Menurut hukum Islam, semua individu Islam perlu berawas dalam mempercayai atau menyebarkan apa jua berita berkaitan zinanya seseorang dan juga liwat. Imam Ibn Qudamah dan lain-lain ulama silam yang berautoriti menyebut dengan jelas bahawa menuduh liwat tanpa saksi termasuk dalam hukum qazf. ( Al-Mughni, 9/72 ; Syarh Muntaha Al-Iradat, 3/599 ; Kasyyaf Al-Qina', 6/433)

Imam Abi Ishak As-Shirazi As-Syafie berkata :

ولا يقبل في اللواط إلا أربعة لانه كالزنا في الحد في الشهادة

Ertinya : Tidak diterima dalam tuduhan liwat kecuali empat saksi kerana ia adalah sama seperti zina dalam (keperluan saksinya) untuk disabitkan hukum" ( Al-Muhazzab, 3/332)

Tanpa berhati-hati, seseorang yang percaya dan menyebarkannya boleh jatuh dalam kesalahan Qazaf yang amat besar dosanya di sisi Islam.

Kesalahan ini dicatat oleh Allah swt :-

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Ertinya : Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik ( An-Nur : 4)

Imam Al-Qurtubi berkata sebab turun ayat ini adalah antara kepada kes fitnah terhadap Sayidatina Aisyah ataupun kes Hilal bin Umaiyah (yang menuduh istreinya berzina) atau lainnya, namun yang terpenting hukumnya berjalan terus.

Walalupun ayat kelihatan menyebut kesalahan menuduh zina dan liwat kepada sang wanita, namun tuduhan kepada lelaki juga termasuk dalam ayat ini secara sepakat ulama dan ijma ulama (Al-Jami Li Ahkam Al-Quran, Al-Qurtubi).

RINGKASAN SYARAT-SYARAT

Qazf mempunyai beberapa syarat :-

1) Syarat kepada penuduh :

Beraqal
Sudah baligh

2) Syarat BENDA YANG DITUDUH untuk dianggap qazaf

Menuduh dengan salah satu antara tiga tuduhan yang mewajibkan dihukum, iaitu ZINA dan LIWAT atau menafikan nasab anak sendiri ( ertinya menuduh isteri berzina). ( Al-Fawakih Al-Dawani, 2/211)

3) Syarat orang yang dituduh

Beraqal
Baligh
Islam
Merdeka diri
BERSIH DARI tuduhan yang dilemparkan kepadanya.

Justeru, saya nasihatkan agar semua yang membaca berita hangat terkini dalam arena politik Malaysia hari ini agar menahan diri dan menyerahkannya kepada pihak hakim untuk meneliti bukti-bukti kedua-dua pihak, sebagaimana disebutkan oleh Allah swt :-

ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء

Para ulama sepakat bahawa ayat ini menunjukkan wajibnya si penuduh membawakan saksi seramai empat orang. Perbincangan terperinci berkenaan hal ini terlalu panjang. Namun saksi inilah kuncinya, tanpanya, kita tidak atau belum boleh mempercayai satu apa pun berkenaan tududan zina dan liwat atau kita mencari nahas di akhirat. (Al-Mughni, 9/72 ; Syarh Muntaha Al-Iradat, 3/599 ; Kasyyaf Al-Qina', 6/433)

Imam Malik berkata :

قول مالك، وإن اضطرب واحد منهم جلد الثلاثة، كما فعل عمر في أمر المغيرة بن شعبة،

Ertinya : Jika salah seorang dari empat saksi goyah dan tidak kukuh penyaksiannya, ketiga-ketiga saksi yang lain akan dihukum sebat (80 kali kerana qazaf), sebagaimana yang dilakukan oleh Umar dalam kes AL-Mughirah Bin Syu'bah, (iaitu apabila seorang saksi bernama Ziyad tidak bersaksi maka semua tiga orang saksi sebelum itu disebat kerana menuduh Al-Mughirah.) ( Al-Jami Li Ahkam Al-Quran, Al-Qurtubi)

Selain dari mesti dihukum sebat 80 kali bagi mereka yang menududh zina dan liwat tanpa 4 saksi, si penuduh juga dihukum dengan penyaksiannya akan tertolak selama-lamanya selain dianggap Fasiq. Namun majority ulama berkata, dikecualikan bagi mereka yang bertaubat bersungguh-sungguh.

Namun Al-Qadhi Suraih, Ibrahim An-Nakh'ie, Hasan Al-Basri, Sufyan At-Thawry dan Imam Abu Hanifah tidak sependapat apabila mereka berkata penolakan hak boleh beri saksi kekal walalupun taubat, hanya gelaran fasiq sahaja yang dihapuskan di sisi Allah.

Sekadar itu sahaja bagi memperingatkan umat Islam di Malaysia agar jangan tersilap langkah dalam menerima berita-berita hal zina dan liwat ini. Mungkin si penuduh dan mereka yang menyebarkannya TIDAK AKAN dihukum qazaf di dunia, namun hukuman pasti menunggu di AKHIRAT, bermula dari alam barzakh. Kecualilah jika individu tersebut bukanlah seorang manusia yang akan menemui kematian, namun semua akan menemui kematian.

Oleh: Ustaz Zaharudin Abd Rahman

Hukuman Murtad

Jenayah Riddah atau Jenayah Murtad mesti ditangani dan dibendung dengan sewajarnya. Janganlah dibiarkan berlaku tanpa sebarang tindakan, jika dibiarkan begitu saja, jawablah nanti depan Allah. Murtad adalah termasuk dalam jenis kekufuran yang terdahsyat dan merupakan jenayah besar terhadap Islam dan penganutnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam an-Nawawi rhm. dalam "Raudhatuth Thoolibin", jilid 7, halaman 283, di mana beliau menulis:-

هي من أفحش أنواع الكفر و أغلظها حكما

Ianya adalah dari sekeji-keji kekufuran dan yang paling berat hukumannya.

Islam mengajar bahawa tiada paksaan dalam beragama, yakni dalam menjadikan Islam sebagai agama anutan. Oleh itu, kita tidak memaksa orang yang bukan Islam untuk menukar agama mereka tanpa kerelaan hati mereka. Jika paksaan menjadi amalan umat Islam, maka tiadalah lagi penganut agama Hindu di India atau penganut Kristian di Sepanyol. Kewujudan penganut-penganut agama Hindu dan Kristian tersebut menjadi bukti nyata bahawa umat Islam tidak pernah menukar agama seseorang secara paksa walaupun umat Islam beratus-ratus tahun menguasai negeri-negeri tersebut.

Seseorang yang berada di luar Islam, tidaklah dipaksa memeluk Islam. Tetapi apabila dia masuk Islam, maka dia terpaksalah tunduk dan patut dengan segala ajaran Islam termasuklah kepada hukum riddah atau murtad. Seseorang itu tidak dibenarkan untuk murtad dengan sewenang-wenangnya kerana tindakannya untuk murtad akan mengakibatkan hukum hadd dijalankan ke atasnya. Haddnya tidak lain melainkan dibunuh dengan dipancung kerana tindakannya menjadikan agama sebagai persendaan dan permainan. Sungguh kita umat yang beragama, kita tidak akan membiarkan ghirah kita kepada agama dipermain-mainkan.

Pada halaman 296, Imam an-Nawawi rhm. menyebut:-

"... Dan orang yang murtad itu hukumannya adalah dibunuh dengan dipancung lehernya, dan bukannya dibakar atau lain-lain. Hukuman tersebut hendaklah dilaksanakan oleh pemerintah atau orang yang diberinya kuasa. Jika hukuman tersebut dilaksanakan oleh selain pemerintah (yakni tanpa kebenaran pemerintah) maka orang yang melaksanakan hukuman tersebut hendaklah dihukum ta'zir.

Orang yang murtad itu hendaklah disuruh bertaubat sebelum dibunuh. Adakah suruhan bertaubat ini hukumnya wajib atau mustahab? Dalam perkara ini terdapat dua qawl atau wajah; Yang adzharnya suruhan bertaubat ini adalah wajib. Berhubung kadar tempoh yang diberi untuk orang yang murtad itu bertaubat sebelum hukuman bunuh dilaksanakan terdapat dua qawl; Qawl yang pertama menyatakan bahawa tempoh penangguhan tersebut adalah tiga (3) hari, manakala qawl yang adzharnya ianya adalah ketika itu juga, jika orang murtad itu enggan bertaubat setelah disuruh, maka dia dibunuh ketika itu juga (yakni tidak diberi penangguhan 3 hari atau lainnya kerana dia enggan bertaubat dan tetap dengan keputusannya untuk murtad). Menurut pendapat yang lemah (qil) penangguhan tiga (3) hari tersebut adalah tidak wajib sekali-kali....."

Inilah pegangan para ulama kita, asy-Syafi'iyyah, terhadap hukuman ke atas orang murtad. Yakni hukumannya adalah dibunuh dengan dipancung, tetapi sebelum hukuman dilaksanakan wajib kita suruh orang yang murtad itu bertaubat dan kembali kepada Islam. Jika dia enggan, maka tidaklah ditangguh hukuman tersebut 3 hari, bahkan bolehlah dilaksanakan hukuman pancung itu pada ketika itu juga.

Hukuman bunuh bagi orang lelaki yang murtad telah disepakati oleh para ulama kita dari kalangan mazhab 4. Adapun jika yang murtad itu perempuan, maka terdapat khilaf di mana Hanafiyyah berpendapat dia tidak dibunuh tetapi hendaklah disuruh bertaubat dan jika dia enggan maka dia hendaklah dipenjarakan sehingga dia mau bertaubat dan kembali kepada Islam atau dia mati dalam penjara. Manakala ulama mazhab Syafi'iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah menyatakan hukuman bagi jenayah murtad adalah bunuh, tanpa mengira jantina.

Qadhi Abu 'Abdullah Shadruddin Muhammad bin 'Abdur Rahman bin al-Husain ad-Dimasqi al-Utsmani asy-Syafi'i (w. 780) pengarang kitab "Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf al-Aimmah" pada halaman 228 menulis:-

" ... Telah ittifaq (sepakat) para Imam bahawa sesiapa yang murtad dari Islam dia wajib (mesti) dibunuh. Yang menjadi pertikaian ialah:-

1. sama ada hukuman bunuh tersebut dilaksanakan serta-merta atau ditangguh untuk orang murtad yang disuruh bertaubat itu bertaubat?
2. sama ada suruhan bertaubat itu wajib atau mustahab?
3. sama ada orang murtad yang enggan bertaubat setelah disuruh diberi penangguhan hukuman?

Imam Abu Hanifah rhm. berpendapat:- Tidak wajib disuruh bertaubat, orang murtad boleh dibunuh serta-merta melainkan jika dia memohon penangguhan, maka diberi penangguhan selama 3 hari. Di kalangan sebahagian sahabat beliau (yakni para ulama Hanafiyyah) berpendapat bahawa memberi penangguhan itu dihukumkan sunnat walaupun si murtad tidak memohon penangguhan.

Imam Malik rhm. berpendapat: Wajib menyuruhnya bertaubat, dan jika dia bertaubat ketika itu maka diterima taubatnya. Jika dia enggan bertaubat pada ketika disuruh untuk bertaubat, maka dia diberi penangguhan 3 hari agar dia bertaubat, dan jika dia enggan bertaubat setelah tempoh penangguhan tersebut, barulah dia dibunuh.

Imam Syafi'i rhm. mempunyai dua pendapat berhubung menyuruh orang murtad untuk bertaubat dan yang adzhar ianya adalah wajib. Begitu pula dengan memberi penangguhan, beliau juga mempunyai dua pendapat dan yang adzhar ianya adalah wajib. Jika penangguhan tidak memberi apa-apa faedah yakni si murtad memang telah nekad untuk keluar Islam walaupun sudah disuruh bertaubat, maka Imam Syafi'i mempunyai dua pendapat berhubung penangguhan ketika itu, dan yang adzharnya adalah tidak wajib diberi penangguhan walaupun diminta oleh orang yang murtad itu dan dia dibunuh ketika itu juga (yakni jika disuruh bertaubat, si murtad enggan, maka dia dibunuh tanpa diberi penangguhan kerana keengganan untuk bertaubat itu).

Imam Ahmad rhm. mempunyai dua riwayat berhubung suruhan bertaubat bagi orang yang murtad. Pendapat yang pertama adalah sama seperti pendapat mazhab Maliki, manakala pendapatnya yang kedua menyatakan yang suruhan bertaubat itu bukanlah satu kewajipan (yakni tidak wajib). Berhubung hukum memberi penangguhan, maka berlaku perbezaan pendapat dalam mazhabnya kepada 3 pendapat yang berbeza.

Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahawa hukuman bagi orang yang murtad adalah sama, tanpa mengira jantina. Imam Abu Hanifah pula berpendapat bahawa orang perempuan yang murtad hendaklah dipenjarakan dan tidak dihukum bunuh.

Syaikh 'Abdul Qaadir 'Awdah dalam "at-Tasyrii' al-Jinaa-i al-Islamiy" halaman 720 memperjelaskan lagi pendapat Abu Hanifah tersebut dengan menyatakan bahawa menurut Imam Abu Hanifah perempuan tersebut hendaklah dikembalikan kepada Islam dengan setiap hari disuruh bertaubat dan diajarkan dia ajaran Islam sehingga dia mau bertaubat atau dia mati dalam penjara tersebut. Jadi bukanlah ertinya dia dipenjarakan semata-mata sehingga ajalnya tiba.

Allahu ... Allah, berat - berat hukuman terhadap pelaku jenayah murtad ini. Dalam Kes Mal No. 07100-043-0191-2006 kes murtad Siti Fatimah bt. Abdullah @ Tan Ean Hung (ini adalah kes murtad kerana Siti ni telah memeluk Islam pada 25/7/1998, jadi tak timbul isu "menentukan status agama", tok sahlah nak kelentong, ini adalah kes murtad), Y.A. Tuan Haji Othman bin Ibrahim, Hakim Mahkamah Tinggi Syariah Pulau Pinang dalam alasan penghakimannya menyatakan bahawa "riddah" itu adalah sekeji-keji kekufuran dan mendapat seberat-berat hukuman. Y.A. Tuan Hakim juga menyatakan kesepakatan ulama mengenai hukuman bunuh terhadap orang murtad dan beliau turut menukilkan beberapa nash mengenainya antaranya hadits:

من بدل دينه فاقتلوه

"Sesiapa yang menukar keIslamannya, bunuhlah dia. (Terjemahan beliau)

Juga beliau nukilkan keterangan kitab "Kifayatul Akhyar" yang menyatakan:-

"Barangsiapa yang keluar daripada Islam, ia diminta bertaubat tiga kali. Jika bertaubat (diterima taubatnya dan ia kembali kepada Islam) dan jika tidak, dia dibunuh, dan tidak boleh dimandikan, tidak boleh disembahyangkan dan tidak boleh dikuburkan di perkuburan orang Islam." (Terjemahan beliau)

Maka di sini, aku ingin bertanya:- Adakah Siti Fatimah Tan bt. Abdullah ini telah disuruh atau diperintahkan untuk bertaubat dan kembali kepada Islam? Pertanyaanku ini adalah kerana dalam alasan penghakiman yang ada padaku tak nampak pulak suruhan tersebut yang merupakan satu kewajipan menurut mazhab jumhur termasuk asy-Syafi'iyyah dilaksanakan. Ni bukan nak pertikai, sekadar mendapatkan kepastian. Pihak kami yang jahil ini sentiasa mengharapkan tunjuk ajar daripada Mahkamah yang mulia.

Sumber: http://bahrusshofa.blogspot.com/

Hudud

Definisi.

Hudud dari sudut bahasa Arab: Merupakan plural (jama') kepada kalimah had yang bermaksud "penghalang". Dari sudut syara', ia digunapakai untuk hukuman-hukuman yang dikenakan terhadap perbuatan-perbuatan maksiat tertentu. Oleh itu, para ulama' mendefinisikan hudud sebagai: Hukuman yang ditentukan syara' terhadap kesalahan-kesalahan melanggar hak Allah Ta'ala serta disandarkan kepada sebab-sebabnya. Hukuman ini dinamakan hudud kerana ia boleh menghalang manusia daripada berterusan melakukan jenayah tersebut.

Perbuatan maksiat yang dikenakan hudud.

Perbuatan maksiat yang dikenakan hudud adalah tujuh:

1) Murtad.

Apabila seseorang Muslim murtad daripada Islam dengan ucapan atau perbuatan, maka dia akan diberi tempoh tiga hari untuk bertaubat tanpa sebarang paksaan mahupun seksaan dikenakan. Sekiranya dia enggan juga bertaubat selepas tempoh tersebut, maka dia dijatuhkan hukuman bunuh. Ini adalah berdasarkan hadith yang menyebut mafhumnya:

Sesiapa yang menukar agamanya (murtad daripada Islam), maka bunuhlah dia.

2) Membunuh.

Seorang Muslim yang membunuh seorang Muslim lain dengan sengaja, maka hukumannya adalah bunuh. Ia juga disebut sebagai Qisas. Ini adalah berdasarkan firman Allah Ta'ala mafhumnya:

Wahai orang-orang yang beriman! Qisas itu diwajibkan ke atas kamu dalam kes pembunuhan. [al Baqarah: 178]

3) Zina.

Seorang Muslim yang berzina, sedangkan dia belum berkahwin maka hukumannya adalah sebat seratus kali berdasarkan firman Allah Ta'ala mafhumnya:

Wanita dan lelaki yang berzina, maka hendaklah kamu sebat mereka berdua sebanyak seratus kali sebatan. [al Nur: 2]

Kemudian dibuang negeri selama setahun berdasarkan hadith mafhumnya:

Pemuda pemudi yang berzina hendaklah disebat seratus kali dan dibuang negeri selama setahun.

Manakala bagi penzina yang telah berkahwin, maka hukumannya adalah rejam sehingga mati berdasarkan hadith yang diriwayatkan daripada Sayyiduna Jabir radhiyallahu 'anhu bahawa seorang lelaki telah berzina dengan seorang perempuan. Lalu Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar dia disebat. Kemudian lelaki tersebut mengaku bahawa dia telah berkahwin. Lantas Baginda memerintahkan agar dia direjam.

4) Liwat.

Seorang Muslim yang meliwat, maka hukumannya adalah dibunuh. Begitu juga yang diliwat sekiranya dia baligh. Tidak kira yang melakukan perbuatan liwat ini telah berkahwin ataupun belum. Ini adalah berdasarkan hadith yang menyebut mafhumnya:

Sesiapa yang kamu dapati melakukan perbuatan kaum Lut (iaitu liwat) maka bunuhlah orang yang meliwat dan yang diliwat.

5) Qazaf (menuduh orang lain berzina).

Sesiapa yang menuduh seorang Muslim atau Muslimah berzina, kemudian dia tidak mendatangkan empat saksi yang menyokong tuduhannya itu maka dia dikenakan hukuman sebat sebanyak 80 kali, dihukumkan sebagai fasiq serta tidak diterima lagi kesaksiannya. Ini adalah berdasarkan firman Allah Ta'ala mafhumnya:

Orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang suci (dengan tuduhan zina) kemudian mereka tidak mendatangkan empat saksi (yang menyokong tuduhan itu), maka sebatlah mereka sebanyak 80 sebatan dan janganlah kamu menerima kesaksian mereka buat selama-lamanya dan mereka itu adalah golongan yang fasiq. Kecuali orang-orang yang bertaubat selepas itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al Nur: 5]

6) Meminum arak.

Seorang Muslim yang meminum arak atau sebarang minuman yang memabukkan, maka hukumannya adalah sebat sebanyak 80 kali.

7) Mencuri.

Seorang Muslim yang mencuri, maka hukumannya adalah dipotong tangan berdasarkan firman Allah Ta'ala mafhumnya:

Lelaki dan wanita yang mencuri, maka potonglah tangan mereka berdua sebagai balasan terhadap perbuatan mereka dan juga pencegahan daripada Allah. Dan Allah Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana. [al Maidah: 38]

Sunnah menjelaskan bahawa sekiranya barangan yang dicuri memiliki nilai sebanyak 1/4 dinar emas tulen (lebih kurang 1.0625 gram emas) atau lebih atau barangan yang seumpama dengannya, maka jika dia mencuri buat kali pertama hukumannya adalah dipotong tangan kanan pada pergelangannya. Sekiranya dia mencuri buat kali kedua, dipotong pula kaki kiri pada pergelangannya. Jika dia masih lagi mencuri, dipotong tangan kirinya. Jika masih mencuri, dipotong pula kaki kanannya. Namun sekiranya dia masih lagi mencuri, maka hukumannya adalah ta'zir dan ia bergantung kepada ijtihad pemerintah ketika itu.

Hukuman buat kesalahan-kesalahan selain di atas.

Adapun bagi kesalahan-kesalahan selain yang dinyatakan di atas, maka hukumannya adalah berbentuk ta'zir. Ia bergantung kepada ijtihad pemerintah berdasarkan kemaslahatan. Hukuman tersebut boleh jadi pukulan, sebatan, buang negeri dan sebagainya.

Hikmah disyariatkan hudud.

Hudud disyariatkan bagi kesalahan-kesalahan yang dinyatakan di atas adalah kerana hikmah-hikmah yang berkait rapat dengan perkara-perkara asasi yang disebut sebagai al Maqosid al Syar'iyyah iaitu:

1) Agama.

Agama adalah suatu keperluan bagi individu bahkan ia adalah keperluan masyarakat. Bagi mengekalkan kelangsungan agama Islam, maka kita diwajibkan untuk berjihad memerangi golongan kuffar dan membunuh golongan murtad.

2) Nyawa.

Nyawa adalah asas kehidupan. Maka wajib dijatuhkan hukuman qisas ke atas orang yang mencabutnya tanpa alasan yang benar. Dengan qisas, keselamatan nyawa akan terjamin dan ia menghalang berlaku pertumpahan darah tanpa sebab yang kukuh lagi benar. Kerana itu Allah Ta'ala berfirman mafhumnya:

Dan pada Qisas itu, terdapat kehidupan bagi kamu wahai orang-orang yang memiliki akal fikiran agar (dengan qisas itu) kamu memelihara (nyawa-nyawa yang tidak berdosa). [al Baqarah: 179]

3) Keturunan.

Keturunan adalah aspek yang membezakan manusia dengan hidupan lain. Kerana itu, Islam sangat menitik beratkan keturunan dengan memelihara kesuciannya. Melalui keturunan, manusia meneruskan kelangsungan kewujudannya di muka bumi ini. Disebabkan zina membawa kepada pencemaran nasab dan kekeliruannya, maka dijatuhkan hukuman sebat dan rejam. Begitu juga dengan liwat. Selain menjijikkan, ia juga adalah perbuatan songsang yang menyumbang kepada kekurangan kewujudan manusiawi. Kerana itu, hukuman bunuh dijatuhkan terhadap orang yang melakukan perbuatan songsang ini.

4) Maruah.

Sudah menjadi fitrah, manusia sangat mementingkan maruah. Islam sangat mengambil berat tentang maruah kerana manusia itu hidup terhormat jika maruahnya terpelihara. Disebabkan qazaf adalah tuduhan yang melibatkan maruah, maka dijatuhkan hukuman sebat bagi sesiapa yang mencemarkan maruah orang lain tanpa bukti.

5) Akal.

Akal adalah anugerah terbesar buat umat manusia. Dengannya, manusia menilai buruk dan baiknya sesuatu perkara. Dengan akal jua, kita ditaklifkan oleh Allah Ta'ala dengan taklifan-taklifan tertentu. Maka ia adalah anugerah yang sangat besar nilainya serta perlu dijaga keutuhannya. Oleh kerana meminum minuman yang memabukkan boleh menyebabkan kehilangan akal seterusnya membawa kepada perbuatan-perbuatan yang menjatuhkan martabat kemanusiaan, maka Islam menjatuhkan hukuman sebat buat mereka yang sengaja meminumnya.

6) Harta.

Harta adalah pendokong kehidupan. Islam menggalakkan umatnya untuk berkerja mengumpul harta yang halal dengan tujuan untuk menyara kehidupan serta menyumbang kepada jalan Allah Ta'ala. Untuk memelihara harta, dikenakan hukuman potong tangan bagi pencuri.

Benarkah hudud tiada di dalam al Quran?

Sebagaimana yang telah saya nyatakan di atas, sidang pembaca jelas mendapati bahawa hukuman hudud disebut secara terang nyata di dalam al Quran dan Sunnah. Saya sengaja menimbulkan pertanyaan ini kerana saya pernah mendengar suara-suara sumbang (di kalangan mereka ada yang belajar di al Azhar!) menyatakan bahawa hudud tidak disebut di dalam al Quran. Saya tidak pasti bagaimana mereka boleh berfikiran begitu. Sama ada mereka tidak pernah membaca al Quran atau buta huruf. Boleh jadi juga mereka buat-buat bodoh. Mungkin juga mereka ada kepentingan peribadi yang menjadikan akal mereka bingung seketika. Cuma persoalan yang timbul adalah mengenai perlaksanaannya. Hudud disebut di dalam al Quran dan Sunnah. Adapun perlaksanaannya, bergantung kepada suasana. Wallahu 'alam.

Penutup.

Konklusinya, jika hukuman hudud dilaksanakan ia akan membawa kepada kesejahteraan hidup. Islam adalah agama kesejahteraan. Kerana itu, Islam mensyariatkan hudud bagi menjamin kesejahteraan hidup sebagaimana yang telah disebut menerusi hikmah-hikmahnya di atas. Segala puji bagi Allah, pengatur hukuman buat sekelian alam.

Sumber: http://wwwhumair-humair.blogspot.com/