Ketika anda tergelincir pada perbuatan zina, maka bagaimana jika seandainya hal itu diketahui oleh bapakmu, ibumu, saudara-saudaramu, kerabatmu atau suamimu/istrirmu? Dalam pandangan dan buah bibir mereka ketika Anda meninggal, mereka akan menganggap Anda sebagai seorang pezina, na'udzu billahi min dzalik.
ORANG BIJAK bilang zaman sudah tua, kemaksiatan sudah merajalela di mana-mana. Tidak pandang bulu, tidak memandang usia, status bahkan sudah menggerogoti seorang yang menggunakan atribut orang baik-baik. Apaguna atribut baik bila kelakuannya sama seperti mereka yang dicibir dan direndahkan yang bertempat tinggal di lokalisasi. Inilah sekelumit keluhan peserta Majelis Taklim Arroyan di Pangkalpinang beberapa waktu lalu.
Mendengar keluhan itu, tentunya tidak salah bila direnungkan bagi siapa pun, khususnya keluarga, baik orangtua, anak-anak atau pun saudara seiman. Sudah sedemikian parahkah perilaku anak Adam saat ini.
Para ulama selalu mengingatkan kepada umatnya khususnya orangtua, agar selalu menjaga anak-anaknya dari godaan dunia yang luar biasa derasnya. Godaan yang paling dahsyat adalah cobaan hubungan laki-laki dengan perempuan. Bila dilakukan tidak sesuai aturan yang digariskan agama bisa menjerumuskan ke perbuatan zina.
Zina merupakan kotoran hitam yang bisa menimpa keluarga. Meski sebelumnya kehidupan keluarga itu diliputi lembaran-lembaran putih berubah seketika. Mata pun enggan untuk memandangnya kecuali yang tampak adalah sesuatu yang hitam dan jelek.
Allah dan Nabi Muhamad SAW secara jelas telah mengharamkan zina karena kejinya perbuatan ini dan jeleknya sarana pengantarnya. Maka Allah melarang mendekati sarana dan penyebab zina karena itu adalah langkah awal sebelum terperosok ke dalamnya. Allah berfirman dalam Al Isra':32 yaitu "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."
Karena perbuatan zina termasuk dosa besar setelah syirik dan pembunuhan, dan termasuk perbuatan jijik yang membinasakan, dan kejahatan yang mematikan. Rasullullah SAW bersabda, "Tidak ada suatu setelah syirik yang lebih besar di sisi Allah daripada setetes air mani yang diletakkan seorang lelaki pada rahim yang tidak dihalakan bagiannya."
Keharaman zina ditegaskan Allah pada Surat Al-Furqan 68-70. "Dan orang-orang yang tidak menyembah Allah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapatkan (pembalasan) dosa(nya), yakni akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat. Dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina. Kecuali
orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh. Maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Dalam ayat ini, Allah menyatukan perbuatan zina dengan sirik dan pembunuhan serta menjadikan hukuman semua itu akan kekal dalam adzab yang berlipat-lipat. Selama hamba itu belum membuang penyebab azab itu dengan tobat, iman dan amal
shaleh.
Maka Allah telah memberikan panduan agar hambanya bisa selamat pada Surat Al-Mu'minun: 1-6). "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusuk dalam shalatnya, orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang menjaga kemaluannya, kecuali pada istri-istrinya, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.
Maka Ulama LDII KH Aceng Karimullah BE, SE mengajak pada manusia yang mengaku dirinya muslim untuk menuju jalan keselamatan dari perbuatan keji. Dengan menjauhi perbuatan yang dapat menggiring manusia kepada kehancuran dan membawa kita kepada kehinaan. Ingatlah bahwa sebenarnya meninggalkan maksiat lebih ringan daripada melaksanakan taubat dan menunaikan kafarohnya. Dirinya memberikan sepeluh tips menuju jalan keselamatan untuk menghindari zina.
[1] Tidak berdua-duaan (nyepi) antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahrom, baik di rumah, di mobil, di mana saja. Mengikuti Sabda Rasulullah, "Tidaklah seorang laki-laki yang berdua-duaan dengan seorang wanita, kecuali
yang ketiganya adalah setan.
[2] Bagi para wanita muslimah, hindarilah Tabarruj (berhias diri) dan Sufur (tidak menutup aurat) ketika keluar rumah, karena itu-menyebabkan fitnah dan menarik perhatian. Rasulullah bersabda, "Ada dua golongan penghuni neraka dan disebutkan salah satu diantaranya- wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berjalan miring berlenggak-lenggok. Dan pakaian yang paling dianjurkan adalah abaya yang sederhana (pakaian berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuh),
menutup kedua tangan dan kaki, serta tidak menggunakan wangi-wangian. Hendaklah mencontoh Ummahatul Mu'minun dan Shahabiyat, bila keluar rumah mereka itu bagaikan burung gagak yang memakai pakaian hitam, tidak sesuatupun dari tubuh mereka yang terlihat.
[3] Hindari membaca majalah-majalah yang merusak dan menonton film-film yang terdapat adegan porno, karena itu akan membangkitkan nafsu seks dan Anda akan meremehkan perbuatan keji dengan menamakannya sebagai cinta dan persahabatan,
dan menampakkan perbuatan zina dengan menamakan hubungan kasih sayang yang matang antara seorang laki-laki dan wanita. Janganlah merusak rumahmu, hatimu dan akalmrnu dengan hubungan-hubungan yang diharamkan.
[4] Allah berfirman, "Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan." (Lukman:6).
Maka hindarilah (minimal kurangi) mendengarkan lagu-lagu dan musik, hiasilah pendemgaranmu dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran, rutinlah membaca dzikir dan istighfar, perbanyaklah dzikrul maut (mengingat mati) dan Muhasabatun Nafs
(evaluasi diri).
[5] Takutlah kepada Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi. Ini adalah rasa takut yang paling tinggi yang menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat. Anggaplah bahwa ketika anda tergelincir pada perbuatan zina, maka bagamana jika seandainya hal itu diketahui oleh bapakmu, ibumu, saudara-saudaramu, kerabatmu atau suamimu/istrirmu? Dalam pandangan dan buah bibir mereka ketika Anda meninggal, mereka akan menganggap Anda sebagai seorang pezina, na'udzu billahi min dzalik.
[6] Mencari teman yang shaleh atau sholehah yang selalu siap menolong dan membantu Anda, karena manusia itu lemah sementara setan siap menerkam di mana saja dan kapan saja. Hindarilah teman jelek, karena ia akan datang kepada Anda
bagaikan seorang pencuri yang masuk secara sembunyi-sembunyi mencuri kesempatan hingga ia menggelincirkanmu pada sesuatu yang diharamkan.
[7] Perbanyak berdoa, karena Nabi umat ini termasuk orang yang senantiasa membaca doa dan banyak istighfar.
[8] Tidak membiarkan waktu senggang berlalu kecuali dengan membaca Alquran. Berusaha menghafal apa yang mudah dari Alquran. Kalau Anda memiliki semangat yang tinggi, bergabunglah dengan kelompok Tahfidzul Quran. Karena jika diri
Anda tidak disibukkan dengan ketaatan dan ibadah, maka Anda akan disibukkan oleh kebathilan.
[9] Ingatlah bahwa Anda akan meninggalkan dunia ini dengan lembaran-lembaran yang Anda tulis sepanjang hari-hari kehidupan Anda. Bila lernbaran-lembaran itu penuh dengan ketaatan dan ibadah, maka bergernbiralah. Dan bila sebaliknya, segeralah bertaubat sebelum meninggal. Karena hari kiamat itu adalah hari penyesalan. Allah berfirman, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan." (Maiyam: 39). Yaitu hari dibukanya segala hal yang tersembunyi) dan lembaran-lembaran yang beterbangan. Hari dimana seorang ibu yang menyusui melupakan anaknya yang sedang ia susui.
[10] Hati-hati menggunakan telepon, jangan sampai menjerumuskan banyak manusia, laki-laki maupun wanita, dalam perbuatan zina. Maka janganlah Anda menjadi salah satu dari mereka yang menjadi korban. Dan ketahuilah bahwa Allah
akan memberikan anda jalan keluar, dan keselamatan dari padanya.
Oleh: Dodod Almansyurin Almadiuni
Jumaat, April 23, 2010
Perkara-Perkara yang Menyebabkan Menjadi Murtad
Seseoranng Islam yang mukallaf boleh menjadi murtad disebabkan I'tiqad atau disebabkan perbuatan atau disebabkan perkataan.
Seseorang Islam boleh menjadi murtad (keluar dari agama Islam) disebabkan I'tiqad (kepercayaan) yang bercanggah dengan aqidah Islam.
Diantaranya :
1. Tidak mengakui bahawa Allah taala ialah Tuhan yang berhak disembah.
2. Tidak mengakui atau ragu-ragu bahawa Nabi Muhammad saw itu adalah utusan Allah atau mengingkari salah seorang rasul-rasul yang telah terdahulu dari Nabi Muhammad saw.
3. Tidak mengakui bahawa Al-Quran itu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantaraan malaikat Jibril.
4. Tidak mempercayai dan meragui hukum-hukum Allah yang disebutkan di dalam Al-Quran dan Hadith Rasulullah saw.
5. Tidak mengakui adanya malaikat-malaikat dan segala urusan yang diserahkan oleh Allah kepada malaikat-malaikat itu.
6. Tidak mengakui atau ragu-ragu bahawa hari qiamat itu akan dating dan yang berkaitan dengan hari qiamat seperti syurga, neraka dan lain-lainnya.
7. Tidak mempercayai qadha dan qadar iaitu buruk atau baiknya semuanya ditentukan dan datang dari Allah swt.
8. Tidak mengakui dan ragu-ragu menerima ijma' sahabat-sahabat Nabi saw dalm perkara-perkara agama.
9. Menghalalkan perkara-perkara yang telah diharamkan oleh Allah dengan dalil-dalil qat'ie seperti menghalalkan zina, minum arak, makan riba dan sebagainya.
10. Mengharamkan perkara-perkara yang telah dihalalkan oleh Allah dengan dalil-dalil yang qat'ie seperti jualbeli, berkahwin, sewa-menyewa dan sebagainya.
11. Mengingkari perkara-perkara yang telah diketahui oleh semua orang Islam suatu perkara yang telah ditentukan dan ditetapkan dalam agama seperti mengingkari bilangan waktu sembahyang atau bilangan rakaatnya.
12. Tidak mengakui kewajipan yang telah disabitkan dengan dalil-dalil qat'ie seperti sembahyang lima waktu sehari semalam, puasa bulan Ramadhan, zakat, haji dan sebagainya.
Sumber: http://www.mymasjid.net.my/
Seseorang Islam boleh menjadi murtad (keluar dari agama Islam) disebabkan I'tiqad (kepercayaan) yang bercanggah dengan aqidah Islam.
Diantaranya :
1. Tidak mengakui bahawa Allah taala ialah Tuhan yang berhak disembah.
2. Tidak mengakui atau ragu-ragu bahawa Nabi Muhammad saw itu adalah utusan Allah atau mengingkari salah seorang rasul-rasul yang telah terdahulu dari Nabi Muhammad saw.
3. Tidak mengakui bahawa Al-Quran itu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantaraan malaikat Jibril.
4. Tidak mempercayai dan meragui hukum-hukum Allah yang disebutkan di dalam Al-Quran dan Hadith Rasulullah saw.
5. Tidak mengakui adanya malaikat-malaikat dan segala urusan yang diserahkan oleh Allah kepada malaikat-malaikat itu.
6. Tidak mengakui atau ragu-ragu bahawa hari qiamat itu akan dating dan yang berkaitan dengan hari qiamat seperti syurga, neraka dan lain-lainnya.
7. Tidak mempercayai qadha dan qadar iaitu buruk atau baiknya semuanya ditentukan dan datang dari Allah swt.
8. Tidak mengakui dan ragu-ragu menerima ijma' sahabat-sahabat Nabi saw dalm perkara-perkara agama.
9. Menghalalkan perkara-perkara yang telah diharamkan oleh Allah dengan dalil-dalil qat'ie seperti menghalalkan zina, minum arak, makan riba dan sebagainya.
10. Mengharamkan perkara-perkara yang telah dihalalkan oleh Allah dengan dalil-dalil yang qat'ie seperti jualbeli, berkahwin, sewa-menyewa dan sebagainya.
11. Mengingkari perkara-perkara yang telah diketahui oleh semua orang Islam suatu perkara yang telah ditentukan dan ditetapkan dalam agama seperti mengingkari bilangan waktu sembahyang atau bilangan rakaatnya.
12. Tidak mengakui kewajipan yang telah disabitkan dengan dalil-dalil qat'ie seperti sembahyang lima waktu sehari semalam, puasa bulan Ramadhan, zakat, haji dan sebagainya.
Sumber: http://www.mymasjid.net.my/
Kenapa Suka Buat Perkara yang Dilarang oleh Islam?
Soalan:"Kenapa suka pilih jalan tak elok macam ini??"
Jawapannya : “ Nak buat macamana , dah memang Allah letakkan kami macam ni. Kami nak buat macamana? Takdir bang..”
Inilah jawapan dan perkataan yang sering kita dengar terpacul keluar daripada mulut sesetengah masyarakat bilamana jalan hidup yang mereka pilih ternyata bertentangan dengan jalan yang Islam letakkan.
Mudah dan padat bagi mereka menggunakan jawapan sebegini. Tak perlu salahkan diri sendiri.Sebaliknya salahkan taqdir Allah taala kepada mereka.
Iblis pernah bertanya kepada Allah SWT.
“Ya Allah Ya Tuhanku, bukankah Engkau telah mengetahui bahawa aku akan diciptakan dan aku akan menderhakai perintahMu?”
Allah SWT menjawab : “Tentu sekali Aku mengetahui bahawa engkau akan diciptakan dan akan menderhakai perintahKu”
Iblis menyambung bicara : “Jika engkau telah mengetahui bahawa aku akan menjadi hamba yang derhaka, mengapa engkau menciptakan aku dan akhirnya memasukkan aku ke dalam nerakaMu??”
Allah SWT menjawab : “Adakah kamu mengetahui bahawa kamu akhirnya akan menderhakai Aku? Kamu mengetahuinya setelah kamu menderhakai aku atau sebelum kamu menderhakai Aku??”
Iblis menjawab : “Tentu sekali aku mengetahui bahawa aku menderhakaiMu setelah aku melakukan penderhakaan tersebut”
Allah SWT menjawab “Maka aku meletakkan hukuman ke atasMu setelahnya bukan sebelumnya”
Nah, kalau kita bicara dengan masyarakat awam dan sesetengah golongan terpelajar kononnya terkadang terkeluar juga perkataan seperti iblis ini tanpa mereka sedari.
Bila kita jumpa orang tengah berdua-duaan di taman bunga, bila ditanya kenapa suka berdua-duaan sebegini? Haram hukumnya kalau bukan suami isteri.
Terkadang jawapan yang diberikan “Nak buat macamana , di dalam Lauh Mahfuz lagi Allah dah tulis bahawa kami berdua pada tarikh dan waktu ini akan berdua-duaan. Maka kami mengikut perintah Allah hakikatnya”
Orang sebegini perlu ditumbuk sahaja. Bila ditanya kepada kita, kenapa kamu tumbuk saya?? Maka berikan semula jawapannya “Nak buat macamana, dah Allah dah letakkan dalam Lauh Mahfuz lagi bahawa saya memang akan tumbuk kamu pada hari dan waktu ini di Taman Bunga ini"
Ramai sangat yang suka sebut jawapan sebegitu. Tanpa sedar mereka hakikatnya telah mengikut sebahagian daripada ajaran Jabariah. Ajaran yang meletakkan bahawa Allah SWT memaksa kita melakukan segalanya. Kita hanya diibaratkan seperti bulu burung yang berterbangan di udara yang hanya mengikut gerakan angin.Kalau ditiup ke kiri maka kita akan bergerak ke kiri. Kalau ditiup ke kanan maka kita akan bergerak ke kanan tanpa kehendak dan pilihan.
Golongan Jabariah jika mereka berzina maka mereka akan mengatakan bahawa kami hakikatnya telah diletakkan oleh Allah SWT akan berzina pada hari ini. Maka kami Cuma mengikutinya dan menurut perintah Tuhan Kami. Kami hanya diibaratkan sebagai seorang pelakon yang hanya mendapat arahan daripada pengarah.
Jawapan kepada golongan sebegini sangat mudah. Tanyakan semula kepada mereka seperti yang ditanyakan oleh Allah taala kepada Iblis laknatullah.
Golongan sebegini hakikatnya ingin mempertikaikan Allah SWT. Menyalahkan taqdir dan mempersoalkan kenapa kami perlu diseksa sedangkan Tuhan sendiri yang menjadikan perbuatan kami ini??.
Tanyakan semula kepada mereka “Adakah kamu mengetahui sebelum ini bahawa kamu akan menjadi makhluk yang melakukan kejahatan?? Kamu mengetahuinya setelah kamu melakukan kejahatan atau sebelum melakukannya kamu telah melihat di Lauh Mahfuz bahawa pada tarikh dan waktu sekian-sekian kamu akan menjadi seorang yang jahat???”
Hakikatnya kamu hanya mengetahui bahawa kamu akan menjadi Mat Rempit setelah kamu terlibat dalam rempit. Kamu mengetahui bahawa kamu akan berzina dan melacur dengan seseorang setelah kamu melakukan perbuatan tersebut. Setelah kamu melakukan barulah kamu mengetahui bahawa Allah SWT telah letakkan bahawa kamu akan melakukan perkara ini pada tarikh dan waktu tertentu. Kenapa tidak menjauhkan perkara sebegini sebelum kamu terlibat??
Kamu banyak buruk sangka dengan Allah SWT. Oleh kerana itulah kamu dipersoalkan hasil buruk sangka dengan Tuhanmu sendiri.
Kalau kamu boleh menilik apa yang ada di Lauh Mahfuz, dan di dalamnya tertulis bahawa esok hari tepat jam 3 petang kamu akan berzina. Maka pada keesokkan harinya kamu melakukan perkara tersebut pada waktunya yang ditetapkan. Maka perbuatan zina tersebut bukan lagi dianggap maksiat. Malah dianggap ibadah kepada kamu kerana mentaati apa yang ditulis di Lauh Mahfuz.
Tapi persoalannya “Kamu tahu ke apa yang ditulis kepada kamu di Lauh Mahfuz?? Kamu tahu ke esok apa yang akan kamu lakukan??” Kalau tak tahu, amalkan apa yang Allah SWT dan RasulNya suruh dan tinggalkan apa yang dilarang.
Jangan buruk sangka lagi dengan Allah. Benarlah Firman Allah SWT di dalam sebuah Hadis Qudsi :
Maksudnya : Aku bersama dengan sangkaan hambaKu kepadaKu (jika baik sangkaannya kepadaKu maka aku akan letakkannya di dalam kebaikan, tapi jika sebaliknya maka dia akan memperolehi apa yang dia sangkakan).
Sumber: http://www.haluantarbawi.com
Jawapannya : “ Nak buat macamana , dah memang Allah letakkan kami macam ni. Kami nak buat macamana? Takdir bang..”
Inilah jawapan dan perkataan yang sering kita dengar terpacul keluar daripada mulut sesetengah masyarakat bilamana jalan hidup yang mereka pilih ternyata bertentangan dengan jalan yang Islam letakkan.
Mudah dan padat bagi mereka menggunakan jawapan sebegini. Tak perlu salahkan diri sendiri.Sebaliknya salahkan taqdir Allah taala kepada mereka.
Iblis pernah bertanya kepada Allah SWT.
“Ya Allah Ya Tuhanku, bukankah Engkau telah mengetahui bahawa aku akan diciptakan dan aku akan menderhakai perintahMu?”
Allah SWT menjawab : “Tentu sekali Aku mengetahui bahawa engkau akan diciptakan dan akan menderhakai perintahKu”
Iblis menyambung bicara : “Jika engkau telah mengetahui bahawa aku akan menjadi hamba yang derhaka, mengapa engkau menciptakan aku dan akhirnya memasukkan aku ke dalam nerakaMu??”
Allah SWT menjawab : “Adakah kamu mengetahui bahawa kamu akhirnya akan menderhakai Aku? Kamu mengetahuinya setelah kamu menderhakai aku atau sebelum kamu menderhakai Aku??”
Iblis menjawab : “Tentu sekali aku mengetahui bahawa aku menderhakaiMu setelah aku melakukan penderhakaan tersebut”
Allah SWT menjawab “Maka aku meletakkan hukuman ke atasMu setelahnya bukan sebelumnya”
Nah, kalau kita bicara dengan masyarakat awam dan sesetengah golongan terpelajar kononnya terkadang terkeluar juga perkataan seperti iblis ini tanpa mereka sedari.
Bila kita jumpa orang tengah berdua-duaan di taman bunga, bila ditanya kenapa suka berdua-duaan sebegini? Haram hukumnya kalau bukan suami isteri.
Terkadang jawapan yang diberikan “Nak buat macamana , di dalam Lauh Mahfuz lagi Allah dah tulis bahawa kami berdua pada tarikh dan waktu ini akan berdua-duaan. Maka kami mengikut perintah Allah hakikatnya”
Orang sebegini perlu ditumbuk sahaja. Bila ditanya kepada kita, kenapa kamu tumbuk saya?? Maka berikan semula jawapannya “Nak buat macamana, dah Allah dah letakkan dalam Lauh Mahfuz lagi bahawa saya memang akan tumbuk kamu pada hari dan waktu ini di Taman Bunga ini"
Ramai sangat yang suka sebut jawapan sebegitu. Tanpa sedar mereka hakikatnya telah mengikut sebahagian daripada ajaran Jabariah. Ajaran yang meletakkan bahawa Allah SWT memaksa kita melakukan segalanya. Kita hanya diibaratkan seperti bulu burung yang berterbangan di udara yang hanya mengikut gerakan angin.Kalau ditiup ke kiri maka kita akan bergerak ke kiri. Kalau ditiup ke kanan maka kita akan bergerak ke kanan tanpa kehendak dan pilihan.
Golongan Jabariah jika mereka berzina maka mereka akan mengatakan bahawa kami hakikatnya telah diletakkan oleh Allah SWT akan berzina pada hari ini. Maka kami Cuma mengikutinya dan menurut perintah Tuhan Kami. Kami hanya diibaratkan sebagai seorang pelakon yang hanya mendapat arahan daripada pengarah.
Jawapan kepada golongan sebegini sangat mudah. Tanyakan semula kepada mereka seperti yang ditanyakan oleh Allah taala kepada Iblis laknatullah.
Golongan sebegini hakikatnya ingin mempertikaikan Allah SWT. Menyalahkan taqdir dan mempersoalkan kenapa kami perlu diseksa sedangkan Tuhan sendiri yang menjadikan perbuatan kami ini??.
Tanyakan semula kepada mereka “Adakah kamu mengetahui sebelum ini bahawa kamu akan menjadi makhluk yang melakukan kejahatan?? Kamu mengetahuinya setelah kamu melakukan kejahatan atau sebelum melakukannya kamu telah melihat di Lauh Mahfuz bahawa pada tarikh dan waktu sekian-sekian kamu akan menjadi seorang yang jahat???”
Hakikatnya kamu hanya mengetahui bahawa kamu akan menjadi Mat Rempit setelah kamu terlibat dalam rempit. Kamu mengetahui bahawa kamu akan berzina dan melacur dengan seseorang setelah kamu melakukan perbuatan tersebut. Setelah kamu melakukan barulah kamu mengetahui bahawa Allah SWT telah letakkan bahawa kamu akan melakukan perkara ini pada tarikh dan waktu tertentu. Kenapa tidak menjauhkan perkara sebegini sebelum kamu terlibat??
Kamu banyak buruk sangka dengan Allah SWT. Oleh kerana itulah kamu dipersoalkan hasil buruk sangka dengan Tuhanmu sendiri.
Kalau kamu boleh menilik apa yang ada di Lauh Mahfuz, dan di dalamnya tertulis bahawa esok hari tepat jam 3 petang kamu akan berzina. Maka pada keesokkan harinya kamu melakukan perkara tersebut pada waktunya yang ditetapkan. Maka perbuatan zina tersebut bukan lagi dianggap maksiat. Malah dianggap ibadah kepada kamu kerana mentaati apa yang ditulis di Lauh Mahfuz.
Tapi persoalannya “Kamu tahu ke apa yang ditulis kepada kamu di Lauh Mahfuz?? Kamu tahu ke esok apa yang akan kamu lakukan??” Kalau tak tahu, amalkan apa yang Allah SWT dan RasulNya suruh dan tinggalkan apa yang dilarang.
Jangan buruk sangka lagi dengan Allah. Benarlah Firman Allah SWT di dalam sebuah Hadis Qudsi :
Maksudnya : Aku bersama dengan sangkaan hambaKu kepadaKu (jika baik sangkaannya kepadaKu maka aku akan letakkannya di dalam kebaikan, tapi jika sebaliknya maka dia akan memperolehi apa yang dia sangkakan).
Sumber: http://www.haluantarbawi.com
Kesederhanaan dalam Hidup
Agama Islam menganjurkan agar umatnya sentiasa hidup sederhana dalam semua tindakan, sikap dan amal. Islam adalah agama yang berteraskan nilai kesederhanaan yang tinggi. Kesederhanaan adalah satu ciri yang umum bagi Islam dan salah satu perwatakan utama yang membedakan dari umat yang lain. Ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 143:
"Dan demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia."
Atas prinsip inilah, maka umat Islam yang sejati merupakan umat yang adil dan sederhana. Merekalah yang akan menjadi saksi di dunia dan di akhirat di atas setiap penyelewengan, penindasan serta penyimpangan ke kanan maupun ke kiri dari jalan pertengahan yang lurus.
Satu perkara yang harus kita sadari sebagai umat Islam yaitu konsep sederhana meliputi aqidah (keyakinan), aspek ibadah dan cara melaksanakannya, akhlak dan cara hidup, berinteraksi antar sesama dan segala sesuatu yang menyentuh persoalan kehidupan dunia.
Rasulullah s.a.w. telah bersabda dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi:
“Sebaik-baik perkara ialah yang paling sederhana”.
Kesederhanaan adalah budaya yang telah diterapkan oleh Rasulullah S.A.W. Budaya sederhana dan sentiasa mendaulatkan prinsip keadilan serta kemanusiaan inilah yang membentuk generasi Islam yang begitu mantap dan berkualitas. Generasi yang dididik oleh Nabi Muhammad S.A.Wdengan ciri kesederhanaan dan penghayatan memahami Islam yang sejati berlandaskan cahaya al-Quran itulah yang akhirnya berhasil mengangkat panji-panji Islam ke seluruh dunia.
Kita telah menyadari akan pentingnya dan manfaat kesederhanaan di dalam kehidupan sehari-hari. Namun permasalahannya ialah bagaimana hendaknya kita memupuk sifat kesederhanaan dan menjalani hidup secara sederhana?
Dua hal di antara cara untuk menerapkan sifat kesederhanaan dalam diri kita. Yang pertama adalah dengan mengawal serta menundukkan hawa nafsu yang bergejolak dalam diri kita.
Allah S.W.T dan Rasulullah S.A.W sering mengingatkan kita agar mengawal hawa nafsu dan tidak berlebihan di dalam melakukan sesuatu. Ini adalah karena hawa nafsulah yang selalu menjeruskan manusia ke kancah kebinasaan. Firman Allah S.W.T di dalam ayat 71 Surah Al-Mukminun:
"Andaikata kebenaran itu menurut hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi beserta isinya."
Disebabkan karena gagal untuk mengawal hawa nafsu ini, Kita sering melakukan pemborosan dan berlebihan. Kita berbelanja lebih daripada keperluan kita yang kita butuhkan, sedangkan masih banyak lagi yang lain yang lebih memerlukan bantuan untuk menopang kehidupan mereka.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya pemborosan itu hanyalah mendekatkan kita kepada syaitan dan menjauhkan kita dari Allah S.W.T. Firman Allah di dalam Surah Al-Isra` ayat 27 :
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.
Yang kedua yaitu menjiwai sifat kesederhanaan. Kita harus bijaksana dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Dengan sikap tersebut kita dapat mengetahui dengan pasti perkara-perkara yang lebih memerlukan perhatian dan tumpuan masa, tenaga ataupun uang. Tanpa mengetahui dengan pasti perkara-perkara yang harus didahulukan maka kita akan lebih cenderung untuk mengikut hawa nafsu sehingga mengakibatkan kita untuk gagal di dalam mengimbangi urusan kehidupan. Rasulullah S.A.W pernah bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
“Tidak akan susah bagi siapapun yang sederhana dalam perbelanjaan”.
Rasulullah S.A.W telah menerangkan bahawa orang yang bersederhana dalam perbelanjaan tidak akan hidup kesusahan. Bagaimana tidak, Mereka membelanjakan harta mereka dalam jalan yang benar. Mereka merancang perbelanjaan mereka. Mereka bukanlah orang yang kikir. Mereka pula bukanlah orang yang suka belanja mengikuti keinginan hati. Inilah sifat hamba-hamba Allah yang sejati. Allah S.W.T telah berfirman di dalam surah Al-Furqan Ayat 76 :
“Dan mereka (Hamba Allah) apabila berbelanja tidak berlebihan dan mereka bukanlah pelit dalam berbelanja. Merekalah yang seimbang di antara dua perkara ini”.
Harta yang ada adalah nikmat Allah S.W.T. Setiap nikmat yang Allah berikan harus digunakan dengan penuh kebijaksanaan dan hikmah. Janganlah kita menjadi golongan yang sombong, kikir dan juga tamak akan harta dunia sehingga lupa bahwa Allah lah yang memberikan kita nikmat ini. Jangan pula kita menjadi golongan yang terlalu berlebihan dalam berbelanja, sehingga kita menjadi orang yang boros. Agar kelak tidak akan mendapat kerugian di dunia dan di akhirat.
Allah S.W. T telah berfirman dalam surah Al Isra’ Ayat 29, yang menerangkan mengenai dua golongan yang rugi ini: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu Pemurah) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”
Mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kejayaan di akhirat adalah merupakan impian setiap orang yang beriman. Sifat kesederhanaan merupakan kunci bagi kejayaan kita nanti di dunia ini dan di akhirat.
Marilah sama-sama kita terapkan sifat kesederhanaan dalam diri kita dan kelaurga. Semoga dengan sifat kesederhanaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita menjadi umat yang seimbang serta bahagia di dunia dan di akhirat kelak.
Sumber: http://sayyidulayyaam.blogspot.com
"Dan demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia."
Atas prinsip inilah, maka umat Islam yang sejati merupakan umat yang adil dan sederhana. Merekalah yang akan menjadi saksi di dunia dan di akhirat di atas setiap penyelewengan, penindasan serta penyimpangan ke kanan maupun ke kiri dari jalan pertengahan yang lurus.
Satu perkara yang harus kita sadari sebagai umat Islam yaitu konsep sederhana meliputi aqidah (keyakinan), aspek ibadah dan cara melaksanakannya, akhlak dan cara hidup, berinteraksi antar sesama dan segala sesuatu yang menyentuh persoalan kehidupan dunia.
Rasulullah s.a.w. telah bersabda dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi:
“Sebaik-baik perkara ialah yang paling sederhana”.
Kesederhanaan adalah budaya yang telah diterapkan oleh Rasulullah S.A.W. Budaya sederhana dan sentiasa mendaulatkan prinsip keadilan serta kemanusiaan inilah yang membentuk generasi Islam yang begitu mantap dan berkualitas. Generasi yang dididik oleh Nabi Muhammad S.A.Wdengan ciri kesederhanaan dan penghayatan memahami Islam yang sejati berlandaskan cahaya al-Quran itulah yang akhirnya berhasil mengangkat panji-panji Islam ke seluruh dunia.
Kita telah menyadari akan pentingnya dan manfaat kesederhanaan di dalam kehidupan sehari-hari. Namun permasalahannya ialah bagaimana hendaknya kita memupuk sifat kesederhanaan dan menjalani hidup secara sederhana?
Dua hal di antara cara untuk menerapkan sifat kesederhanaan dalam diri kita. Yang pertama adalah dengan mengawal serta menundukkan hawa nafsu yang bergejolak dalam diri kita.
Allah S.W.T dan Rasulullah S.A.W sering mengingatkan kita agar mengawal hawa nafsu dan tidak berlebihan di dalam melakukan sesuatu. Ini adalah karena hawa nafsulah yang selalu menjeruskan manusia ke kancah kebinasaan. Firman Allah S.W.T di dalam ayat 71 Surah Al-Mukminun:
"Andaikata kebenaran itu menurut hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi beserta isinya."
Disebabkan karena gagal untuk mengawal hawa nafsu ini, Kita sering melakukan pemborosan dan berlebihan. Kita berbelanja lebih daripada keperluan kita yang kita butuhkan, sedangkan masih banyak lagi yang lain yang lebih memerlukan bantuan untuk menopang kehidupan mereka.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya pemborosan itu hanyalah mendekatkan kita kepada syaitan dan menjauhkan kita dari Allah S.W.T. Firman Allah di dalam Surah Al-Isra` ayat 27 :
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.
Yang kedua yaitu menjiwai sifat kesederhanaan. Kita harus bijaksana dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Dengan sikap tersebut kita dapat mengetahui dengan pasti perkara-perkara yang lebih memerlukan perhatian dan tumpuan masa, tenaga ataupun uang. Tanpa mengetahui dengan pasti perkara-perkara yang harus didahulukan maka kita akan lebih cenderung untuk mengikut hawa nafsu sehingga mengakibatkan kita untuk gagal di dalam mengimbangi urusan kehidupan. Rasulullah S.A.W pernah bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
“Tidak akan susah bagi siapapun yang sederhana dalam perbelanjaan”.
Rasulullah S.A.W telah menerangkan bahawa orang yang bersederhana dalam perbelanjaan tidak akan hidup kesusahan. Bagaimana tidak, Mereka membelanjakan harta mereka dalam jalan yang benar. Mereka merancang perbelanjaan mereka. Mereka bukanlah orang yang kikir. Mereka pula bukanlah orang yang suka belanja mengikuti keinginan hati. Inilah sifat hamba-hamba Allah yang sejati. Allah S.W.T telah berfirman di dalam surah Al-Furqan Ayat 76 :
“Dan mereka (Hamba Allah) apabila berbelanja tidak berlebihan dan mereka bukanlah pelit dalam berbelanja. Merekalah yang seimbang di antara dua perkara ini”.
Harta yang ada adalah nikmat Allah S.W.T. Setiap nikmat yang Allah berikan harus digunakan dengan penuh kebijaksanaan dan hikmah. Janganlah kita menjadi golongan yang sombong, kikir dan juga tamak akan harta dunia sehingga lupa bahwa Allah lah yang memberikan kita nikmat ini. Jangan pula kita menjadi golongan yang terlalu berlebihan dalam berbelanja, sehingga kita menjadi orang yang boros. Agar kelak tidak akan mendapat kerugian di dunia dan di akhirat.
Allah S.W. T telah berfirman dalam surah Al Isra’ Ayat 29, yang menerangkan mengenai dua golongan yang rugi ini: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu Pemurah) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”
Mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kejayaan di akhirat adalah merupakan impian setiap orang yang beriman. Sifat kesederhanaan merupakan kunci bagi kejayaan kita nanti di dunia ini dan di akhirat.
Marilah sama-sama kita terapkan sifat kesederhanaan dalam diri kita dan kelaurga. Semoga dengan sifat kesederhanaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita menjadi umat yang seimbang serta bahagia di dunia dan di akhirat kelak.
Sumber: http://sayyidulayyaam.blogspot.com
Isnin, April 19, 2010
Anjing Bukan Binatang Peliharaan
Orang Islam tidak boleh dan tidak dibenarkan memelihara anjing sebagai binatang peliharaan seperti kucing. Ia jelas boleh dipelihara hanya sebagai:
*Anjing perburuan seperti yang disebut dalam al-Quran, surah al-Maidah, ayat 4: Mereka bertanya kepadamu (Wahai Muhammad): “Apakah (makanan) yang dihalalkan bagi mereka?” bagi menjawabnya katakanlah: “Dihalalkan bagi kamu (makanan) yang lazat-lazat serta baik, dan (buruan yang ditangkap oleh) binatang-binatang pemburu yang telah kamu ajar (untuk berburu) mengikut cara pelatih-pelatih binatang pemburu. Kamu mengajar serta melatihnya (adab peraturan berburu) sebagaimana yang telah diajarkan Allah kepada kamu. Oleh itu makanlah dari apa yang mereka tangkap untuk kamu dan sebutlah nama Allah padanya (ketika kamu melepaskannya berburu); dan bertakwalah kepada Allah (dengan memelihara diri dari memakan apa yang diharamkan oleh Allah); Sesungguhnya Allah Maha segera hitungan hisab-Nya”.
Haiwan buruan yang ditangkap olehnya tidak perlu disamak kerana ia antara yang dimaafkan (ma’fuwwun ‘anhu).
* Untuk menjaga tanaman
* Untuk menjaga binatang ternakan seperti lembu dan kambing seperti yang kita lihat dalam filem-filem koboi.
Nabi Muhammad SAW bersabda: Sesiapa yang memelihara anjing bukan untuk menjaga tanaman atau berburu maka akan berkurangan daripada pahala amalan hariannya sebanyak satu qirat setiap hari. (riwayat Muslim dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar)
Qirat dijelaskan dalam hadis lain riwayat Muslim dari Tsauban: “Qirat itu umpama sebesar bukit Uhud”. Malah dalam hadis lain yang muttafaq ‘alaih (diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim) dari Ibnu Umar: “…sebanyak dua Qirat”.
Jika difikirkan memang logik kerana jika kita memelihara anjing sebagai haiwan peliharaan, sudah pasti tidak dapat mengelakkan diri daripada dijilat oleh anjing tersebut. Sedangkan setiap kali dijilat dikira najis mughallazah (berat).
Jadi, ia akan mengurangkan masa kita untuk melakukan ibadah lain kerana terikat dengan prosedur menyucikan diri dan tempat daripada najis mughallazah khususnya untuk solat lima kali sehari. Atau kita menjadi malas lalu mengabaikan status najis mughallazah yang perlu disucikan dengan tujuh kali air mutlak, yang pertama bercampur tanah yang suci.
Bayangkan rumah-rumah kita pada hari ini – bagaimana untuk mendapatkan tanah yang suci? Akan tetapi jika diabaikan, solat anda tidak sah pula.
Satu hadis yang diriwayatkan oleh Darqutni dan Hakim dinyatakan bahawa Rasulullah SAW pernah menolak jemputan satu kaum yang membela anjing untuk datang ke rumah mereka.
Apabila ditanya, baginda menjawab kerana dalam rumah mereka ada anjing. Sebaliknya baginda menerima jemputan kaum yang membela kucing. Apabila ditanya, baginda menjawab, “kerana kucing itu bukan najis”.
Menolak jemputan
Lalu para sahabat baginda mengambil kesimpulan daripada hadis ini bahawa baginda menolak jemputan mereka yang membela anjing kerana bimbang terkena najis terutamanya air liur daripada jilatannya.
Terdapat juga hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahawa Nabi SAW bersabda: Malaikat tidak akan menemani seseorang yang berada di suatu tempat yang terdapat anjing dan juga loceng.
Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar. (muttafaq ‘alaih- diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim) dari Ali.
Ulama kini pula mengharuskan penggunaan anjing untuk mengesan penjenayah, dadah, bahan letupan seperti bom atau periuk api, mangsa bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami, dan sebagainya.
Ia bagi membantu kerja-kerja mencabar pihak pengawal keselamatan, pegawai penjara, pihak polis, dan imigresen terutamanya untuk pengawasan hatta kepada rumah-rumah persendirian yang memerlukan khidmat anjing daripada masalah kecurian atau rompakan.
Begitu juga untuk menolong orang yang cacat sama ada untuk tujuan pengawasan (contohnya daripada dibuli) atau untuk menunjukkan jalan seperti membantu orang buta.
Larangan membela anjing dan statusnya dikategorikan najis mughallazahnya mungkin menjadi tanda tanya. Mungkin satu kajian saintifik veterinar mempunyai jawapannya.
Dapatan kajian menunjukkan anjing biasanya sentiasa terkena jangkitan pelbagai jenis cecacing parasit yang menjadi perumah di dalam tubuhnya dan juga di bahagian luar seperti kulit dan bulunya.
Contoh cacing yang biasa didapati pada anjing ialah Toxocara canis yang membiak di dalam perutnya dan terdapat pada najisnya. Menyentuh dan membelai-belai anjing boleh menyebabkan perpindahan cacing jenis ini kepada manusia.
Seorang doktor haiwan dari Somerset, Ian Wright, melaporkan di dalam Jurnal New Scientist bahawa ia boleh mengakibatkan ‘toxocariasis’ yang boleh mengancam daya penglihatan manusia. Beliau mendapati purata 180 biji telur cacing pada setiap gram bulu anjing. Satu kuantiti yang lebih tinggi daripada jumlah telur cacing yang didapati dalam satu gram tanah.
Ada pun isu mengaitkan kehadiran anjing belaan dengan penambahan rezeki adalah syirik, (nauzubillah). Oleh itu, ia haram dalam Islam kerana Allah sahaja yang berhak menentukan rezeki makhluk-makhluk-Nya.
Tiada sekutu baginya dalam pembahagian rezeki. Wallahu ‘alam.
*Anjing perburuan seperti yang disebut dalam al-Quran, surah al-Maidah, ayat 4: Mereka bertanya kepadamu (Wahai Muhammad): “Apakah (makanan) yang dihalalkan bagi mereka?” bagi menjawabnya katakanlah: “Dihalalkan bagi kamu (makanan) yang lazat-lazat serta baik, dan (buruan yang ditangkap oleh) binatang-binatang pemburu yang telah kamu ajar (untuk berburu) mengikut cara pelatih-pelatih binatang pemburu. Kamu mengajar serta melatihnya (adab peraturan berburu) sebagaimana yang telah diajarkan Allah kepada kamu. Oleh itu makanlah dari apa yang mereka tangkap untuk kamu dan sebutlah nama Allah padanya (ketika kamu melepaskannya berburu); dan bertakwalah kepada Allah (dengan memelihara diri dari memakan apa yang diharamkan oleh Allah); Sesungguhnya Allah Maha segera hitungan hisab-Nya”.
Haiwan buruan yang ditangkap olehnya tidak perlu disamak kerana ia antara yang dimaafkan (ma’fuwwun ‘anhu).
* Untuk menjaga tanaman
* Untuk menjaga binatang ternakan seperti lembu dan kambing seperti yang kita lihat dalam filem-filem koboi.
Nabi Muhammad SAW bersabda: Sesiapa yang memelihara anjing bukan untuk menjaga tanaman atau berburu maka akan berkurangan daripada pahala amalan hariannya sebanyak satu qirat setiap hari. (riwayat Muslim dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar)
Qirat dijelaskan dalam hadis lain riwayat Muslim dari Tsauban: “Qirat itu umpama sebesar bukit Uhud”. Malah dalam hadis lain yang muttafaq ‘alaih (diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim) dari Ibnu Umar: “…sebanyak dua Qirat”.
Jika difikirkan memang logik kerana jika kita memelihara anjing sebagai haiwan peliharaan, sudah pasti tidak dapat mengelakkan diri daripada dijilat oleh anjing tersebut. Sedangkan setiap kali dijilat dikira najis mughallazah (berat).
Jadi, ia akan mengurangkan masa kita untuk melakukan ibadah lain kerana terikat dengan prosedur menyucikan diri dan tempat daripada najis mughallazah khususnya untuk solat lima kali sehari. Atau kita menjadi malas lalu mengabaikan status najis mughallazah yang perlu disucikan dengan tujuh kali air mutlak, yang pertama bercampur tanah yang suci.
Bayangkan rumah-rumah kita pada hari ini – bagaimana untuk mendapatkan tanah yang suci? Akan tetapi jika diabaikan, solat anda tidak sah pula.
Satu hadis yang diriwayatkan oleh Darqutni dan Hakim dinyatakan bahawa Rasulullah SAW pernah menolak jemputan satu kaum yang membela anjing untuk datang ke rumah mereka.
Apabila ditanya, baginda menjawab kerana dalam rumah mereka ada anjing. Sebaliknya baginda menerima jemputan kaum yang membela kucing. Apabila ditanya, baginda menjawab, “kerana kucing itu bukan najis”.
Menolak jemputan
Lalu para sahabat baginda mengambil kesimpulan daripada hadis ini bahawa baginda menolak jemputan mereka yang membela anjing kerana bimbang terkena najis terutamanya air liur daripada jilatannya.
Terdapat juga hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahawa Nabi SAW bersabda: Malaikat tidak akan menemani seseorang yang berada di suatu tempat yang terdapat anjing dan juga loceng.
Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar. (muttafaq ‘alaih- diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim) dari Ali.
Ulama kini pula mengharuskan penggunaan anjing untuk mengesan penjenayah, dadah, bahan letupan seperti bom atau periuk api, mangsa bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami, dan sebagainya.
Ia bagi membantu kerja-kerja mencabar pihak pengawal keselamatan, pegawai penjara, pihak polis, dan imigresen terutamanya untuk pengawasan hatta kepada rumah-rumah persendirian yang memerlukan khidmat anjing daripada masalah kecurian atau rompakan.
Begitu juga untuk menolong orang yang cacat sama ada untuk tujuan pengawasan (contohnya daripada dibuli) atau untuk menunjukkan jalan seperti membantu orang buta.
Larangan membela anjing dan statusnya dikategorikan najis mughallazahnya mungkin menjadi tanda tanya. Mungkin satu kajian saintifik veterinar mempunyai jawapannya.
Dapatan kajian menunjukkan anjing biasanya sentiasa terkena jangkitan pelbagai jenis cecacing parasit yang menjadi perumah di dalam tubuhnya dan juga di bahagian luar seperti kulit dan bulunya.
Contoh cacing yang biasa didapati pada anjing ialah Toxocara canis yang membiak di dalam perutnya dan terdapat pada najisnya. Menyentuh dan membelai-belai anjing boleh menyebabkan perpindahan cacing jenis ini kepada manusia.
Seorang doktor haiwan dari Somerset, Ian Wright, melaporkan di dalam Jurnal New Scientist bahawa ia boleh mengakibatkan ‘toxocariasis’ yang boleh mengancam daya penglihatan manusia. Beliau mendapati purata 180 biji telur cacing pada setiap gram bulu anjing. Satu kuantiti yang lebih tinggi daripada jumlah telur cacing yang didapati dalam satu gram tanah.
Ada pun isu mengaitkan kehadiran anjing belaan dengan penambahan rezeki adalah syirik, (nauzubillah). Oleh itu, ia haram dalam Islam kerana Allah sahaja yang berhak menentukan rezeki makhluk-makhluk-Nya.
Tiada sekutu baginya dalam pembahagian rezeki. Wallahu ‘alam.
Selasa, April 06, 2010
Sejarah Pertukaran Kiblat
Tafsir Al-Quran
Surah Al-Baqarah 144-145
Firman Allah SWT,
Maksudnya : Kerap kali Kami melihat engkau (wahai Muhammad), berulang-ulang menengadah ke langit, maka Kami benarkan engkau berpaling menghadap ke kiblat yang engkau sukai. Oleh itu palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (tempat letak Kaabah) ; dan di mana sahaja kamu berada, maka hadapkanlah wajah kamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberikan kitab, mereka mengetahui bahawa perkara (berkiblat ke Kaabah) itu adalah perintah yang benar dari Tuhan mereka ; dan Allah tidak sekali-kali lalai akan apa yang mereka lakukan. (144) Dan demi sesungguhnya ! jika engkau bawakan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberikan kitab, akan segala keterangan (yang menunjukkan kebenaran perintah berkiblat ke Kaabah itu), mereka tidak akan menurut kiblatmu, dan engkau pula tidak sekali-kali akan menurut kiblat mereka; dan sebahagian dari mereka juga tidak akan menurut kiblat sebahagian yang lain. Demi sesungguhnya ! kalau engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu pengetahuan (yang telah diwahyukan kepadamu), Sesungguhnya engkau, jika demikian, adalah dari golongan orang-orang yang zalim. (145)
Huraian ayat
Kerap kali Kami melihat engkau (wahai Muhammad), berulang-ulang menengadah ke langit, maka Kami benarkan engkau berpaling menghadap ke kiblat yang engkau sukai. Oleh itu palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (tempat letak Kaabah)
Ada pendapat mengatakan ayat ini turun pada tahun kedua hijrah pada bulan Syaaban. Sebab turun ayat ini sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan daripada Al-Barra’ katanya, ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, baginda bersembahyang menghadap ke arah Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis), sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi-Nabi sebelumnya. Hal ini berterusan selama 16 atau sekitar 17 bulan. Meskipun begitu Nabi saw sangat teringin untuk bersolat mengadap Kaabah. Malahan baginda pernah menggabungkan antara mengadap ke arah Kaabah dan ke arah sakhrah dengan cara baginda saw solat di selatan Kaabah sambil mengadap kearah utara menghala ke arah sakhrah.
Pendapat lain pula mengatakan semasa Nabi saw berada di Mekah baginda dan sahabat menunaikan solat mengadap ke arah Kaabah sebagaimana yang dilakukan oleh moyangnya Nabi Ibrahim a.s. Tetapi apabila baginda saw berhijrah ke Madinah, Allah SWT memerintahkan supaya umat Islam menunaikan solat mengadap ke arah Baitul Maqdis. Tujuannya ialah untuk menarik perhatian orang-orang Yahudi agar memeluk Islam. Namun di hati Nabi saw, baginda tetap mahu supaya kiblat di halakan ke arah Kaabah. Oleh itu Nabi saw sentiasa memandang ke langit berdoa kepada Allah SWT agar permohonan baginda di makbulkan. Akhirnya turunlah Jibril dari langit menyampaikan ayat di atas.
Apabila turun ayat ini, bukanlah bermakna Masjid Al-Aqsa itu tidak penting dalam Islam. Malah Rasulullah saw sendiri pernah menyebut tentang kemuliaan Masjid Al-Aqsa,
"Satu solat yang dikerjakan di masjid (Al-Aqsa) itu lebih afdhal daripada mengerjakan 500 solat di masjid-masjid yang lain kecuali Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah."
Menjelang turunnya ayat ini Rasulullah saw telah keluar dari Madinah untuk menziarahi Ummu Bashar bin al-Barraa’ bin Ma’roor di perkampungan Bani Salimah. Selepas baginda saw menikmati jamuan makan tengahari yang disediakan oleh tuan rumah, baginda kemudian mengerjakan solat Zuhur berjemaah di Masjiid Bani Salamah. Ketika Nabi saw sedang berada di rakaat kedua, ketikaa itulah Jibril a.s telah turun membawa wahyu perintah Allah SWT supaya menukar arah Qiblat dari Masjid Al-Aqsa ke Masjidil Haram.
Jibril a.s memegang tangan Nabi saw dan memusing tubuh Rasulullah saw hampir-hampir tepat ke arah belakang iaitu ke arah Kaabah di Makkah dan perlakuan Nabi saw ini diikuti oleh sahabat-sahabat yang berada di belakang baginda. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka masjid Bani Salamah sangat masyhur dengan nama Masjid Qiblatain yang bererti Majid Dua Kiblat.
Firman Allah SWT seterusnya,
…dan di mana sahaja kamu berada, maka hadapkanlah wajah kamu ke arahnya.
Yakni, di mana sahaja orang-orang beriman berada sama ada di utara, di barat, di timur , di selatan maka hendaklah keseluruhannya menghadapkan kiblat mereka ke arah Masjidil Haram sebagai symbol perpaduan umat Islam. Pengistiharan perubahan kiblat ini sekaligus telah memberi ketenangan kepada umat Islam apatah lagi bila berdepan dengan fitnah yang dilemparkan oleh orang-orang Yahudi yang mendakwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah tiruan dari agama mereka.
Berdasarkan ayat ini, para ulama bersependapat bahawa mengadap kiblat adalah salah satu daripada syarat sah solat, kecuali dalam keadaan takut ketika berada di atas kenderaan. Kiblat ketika berada dalam keadaan takut ialah mengadap ke arah mana sahaja yang aman, manakala kiblat ketika berada di atas kenderaan ialah ke arah mana sahaja kenderaan itu mengadap.
Firman Allah SWT,
Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberikan kitab, mereka mengetahui bahawa perkara (berkiblat ke Kaabah) itu adalah perintah yang benar dari Tuhan mereka ; dan Allah tidak sekali-kali lalai akan apa yang mereka lakukan. (144)
Di sini Allah SWT menyatakan, sekiranya orang-orang Yahudi itu merujuk kembali kitab yang diturunkan kepada mereka iaitu Taurat, sudah tentu mereka tidak merasa hairan apabila orang-orang Islam menukar kiblat mereka dari Palestin ke Mekah. Kerana Mekah sudah tidak asing lagi dalam kitab Taurat yang mereka sebut sebagai Paran.
“ The Lord came from Sinai and dawned from Seir and He shone from Paran ”.(Deotranomy 33: 2)
Paran adalah tempat tinggal Siti Hajar dan Ismail sebagaimana yang di sebut dalam Genesis ayat 21,
“ He was living in the Desert of Paran, his mother got a wife for him, from Egypt ”
Di penghujung ayat 144, SWT menegaskan bahawa Dia sama sekali tidak akan lupa dengan sikap degil dan engkar orang-orang Yahudi menerima kebenaran. Perbuatan mereka pasti akan menerima balasan.
Firman Allah SWT ayat 145,
Dan demi sesungguhnya ! jika engkau bawakan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberikan kitab, akan segala keterangan (yang menunjukkan kebenaran perintah berkiblat ke Kaabah itu), mereka tidak akan menurut kiblatmu,
Maksudnya sekiranya orang Yahudi dan Nasrani itu di ajak mengadap ke kiblat Masjidil Haram (yang terletaknya Kaabah) dan mereka juga sudah tahu sebab-sebab peralihan kiblat itu nescaya mereka tetap berdegil tidak mahu berkiblatkan Kaabah.
Firman Allah SWT,
..dan engkau pula tidak sekali-kali akan menurut kiblat mereka; dan sebahagian dari mereka juga tidak akan menurut kiblat sebahagian yang lain
Sebagaimana kerasnya ahli-ahli kitab untuk menerima kiblat orang-orang Islam, demikianlah orang-orang Islam, janganlah cenderung walau sedikit pun untuk mengadap kiblat mereka. Seterusnya Allah SWT menyatakan bahawa orang-orang Yahudi tidak akan mengadap kiblat orang-orang Nasrani yakni mengadap terbitnya matahari, begitu juga orang-orang Nasrani tidak akan mengadap kiblat orang-orang Yahudi yakni mengadap Baitul Maqdis.
Firman Allah SWT,
Demi sesungguhnya ! kalau engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu pengetahuan (yang telah diwahyukan kepadamu), Sesungguhnya engkau, jika demikian, adalah dari golongan orang-orang yang zalim. (145)
Walaupun ayat ini diturunkan kepada baginda tetapi tidaklah ia ditujukan kepada baginda saw, kerana Rasulullah saw adalah maksum dan terpelihara daripada melakukan kezaliman. Cuma mesej ini ditujukan kepada umat baginda sekiranya mereka berpura-pura bersolat mengadap ke arah Masjid Al-Aqsa dengan tujuan untuk menarik hati orang-orang Yahudi kepada Islam, maka tindakan tersebut akan melayakkan mereka untuk menerima balasan azab di dunia dan di akhirat. Jelasnya, perkara kiblat adalah perkara yang sangat penting dalam Islam, sama sekali tidak boleh dikompromikan. Tegasnya, matlamat tidak menghalalkan cara.
Wallahualam.
Sumber: http://usthjhishamuddinmansor.blogspot.com/

Surah Al-Baqarah 144-145
Firman Allah SWT,
Maksudnya : Kerap kali Kami melihat engkau (wahai Muhammad), berulang-ulang menengadah ke langit, maka Kami benarkan engkau berpaling menghadap ke kiblat yang engkau sukai. Oleh itu palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (tempat letak Kaabah) ; dan di mana sahaja kamu berada, maka hadapkanlah wajah kamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberikan kitab, mereka mengetahui bahawa perkara (berkiblat ke Kaabah) itu adalah perintah yang benar dari Tuhan mereka ; dan Allah tidak sekali-kali lalai akan apa yang mereka lakukan. (144) Dan demi sesungguhnya ! jika engkau bawakan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberikan kitab, akan segala keterangan (yang menunjukkan kebenaran perintah berkiblat ke Kaabah itu), mereka tidak akan menurut kiblatmu, dan engkau pula tidak sekali-kali akan menurut kiblat mereka; dan sebahagian dari mereka juga tidak akan menurut kiblat sebahagian yang lain. Demi sesungguhnya ! kalau engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu pengetahuan (yang telah diwahyukan kepadamu), Sesungguhnya engkau, jika demikian, adalah dari golongan orang-orang yang zalim. (145)
Huraian ayat
Kerap kali Kami melihat engkau (wahai Muhammad), berulang-ulang menengadah ke langit, maka Kami benarkan engkau berpaling menghadap ke kiblat yang engkau sukai. Oleh itu palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (tempat letak Kaabah)
Ada pendapat mengatakan ayat ini turun pada tahun kedua hijrah pada bulan Syaaban. Sebab turun ayat ini sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan daripada Al-Barra’ katanya, ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, baginda bersembahyang menghadap ke arah Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis), sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi-Nabi sebelumnya. Hal ini berterusan selama 16 atau sekitar 17 bulan. Meskipun begitu Nabi saw sangat teringin untuk bersolat mengadap Kaabah. Malahan baginda pernah menggabungkan antara mengadap ke arah Kaabah dan ke arah sakhrah dengan cara baginda saw solat di selatan Kaabah sambil mengadap kearah utara menghala ke arah sakhrah.
Pendapat lain pula mengatakan semasa Nabi saw berada di Mekah baginda dan sahabat menunaikan solat mengadap ke arah Kaabah sebagaimana yang dilakukan oleh moyangnya Nabi Ibrahim a.s. Tetapi apabila baginda saw berhijrah ke Madinah, Allah SWT memerintahkan supaya umat Islam menunaikan solat mengadap ke arah Baitul Maqdis. Tujuannya ialah untuk menarik perhatian orang-orang Yahudi agar memeluk Islam. Namun di hati Nabi saw, baginda tetap mahu supaya kiblat di halakan ke arah Kaabah. Oleh itu Nabi saw sentiasa memandang ke langit berdoa kepada Allah SWT agar permohonan baginda di makbulkan. Akhirnya turunlah Jibril dari langit menyampaikan ayat di atas.
Apabila turun ayat ini, bukanlah bermakna Masjid Al-Aqsa itu tidak penting dalam Islam. Malah Rasulullah saw sendiri pernah menyebut tentang kemuliaan Masjid Al-Aqsa,
"Satu solat yang dikerjakan di masjid (Al-Aqsa) itu lebih afdhal daripada mengerjakan 500 solat di masjid-masjid yang lain kecuali Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah."
Menjelang turunnya ayat ini Rasulullah saw telah keluar dari Madinah untuk menziarahi Ummu Bashar bin al-Barraa’ bin Ma’roor di perkampungan Bani Salimah. Selepas baginda saw menikmati jamuan makan tengahari yang disediakan oleh tuan rumah, baginda kemudian mengerjakan solat Zuhur berjemaah di Masjiid Bani Salamah. Ketika Nabi saw sedang berada di rakaat kedua, ketikaa itulah Jibril a.s telah turun membawa wahyu perintah Allah SWT supaya menukar arah Qiblat dari Masjid Al-Aqsa ke Masjidil Haram.
Jibril a.s memegang tangan Nabi saw dan memusing tubuh Rasulullah saw hampir-hampir tepat ke arah belakang iaitu ke arah Kaabah di Makkah dan perlakuan Nabi saw ini diikuti oleh sahabat-sahabat yang berada di belakang baginda. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka masjid Bani Salamah sangat masyhur dengan nama Masjid Qiblatain yang bererti Majid Dua Kiblat.
Firman Allah SWT seterusnya,
…dan di mana sahaja kamu berada, maka hadapkanlah wajah kamu ke arahnya.
Yakni, di mana sahaja orang-orang beriman berada sama ada di utara, di barat, di timur , di selatan maka hendaklah keseluruhannya menghadapkan kiblat mereka ke arah Masjidil Haram sebagai symbol perpaduan umat Islam. Pengistiharan perubahan kiblat ini sekaligus telah memberi ketenangan kepada umat Islam apatah lagi bila berdepan dengan fitnah yang dilemparkan oleh orang-orang Yahudi yang mendakwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah tiruan dari agama mereka.
Berdasarkan ayat ini, para ulama bersependapat bahawa mengadap kiblat adalah salah satu daripada syarat sah solat, kecuali dalam keadaan takut ketika berada di atas kenderaan. Kiblat ketika berada dalam keadaan takut ialah mengadap ke arah mana sahaja yang aman, manakala kiblat ketika berada di atas kenderaan ialah ke arah mana sahaja kenderaan itu mengadap.
Firman Allah SWT,
Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberikan kitab, mereka mengetahui bahawa perkara (berkiblat ke Kaabah) itu adalah perintah yang benar dari Tuhan mereka ; dan Allah tidak sekali-kali lalai akan apa yang mereka lakukan. (144)
Di sini Allah SWT menyatakan, sekiranya orang-orang Yahudi itu merujuk kembali kitab yang diturunkan kepada mereka iaitu Taurat, sudah tentu mereka tidak merasa hairan apabila orang-orang Islam menukar kiblat mereka dari Palestin ke Mekah. Kerana Mekah sudah tidak asing lagi dalam kitab Taurat yang mereka sebut sebagai Paran.
“ The Lord came from Sinai and dawned from Seir and He shone from Paran ”.(Deotranomy 33: 2)
Paran adalah tempat tinggal Siti Hajar dan Ismail sebagaimana yang di sebut dalam Genesis ayat 21,
“ He was living in the Desert of Paran, his mother got a wife for him, from Egypt ”
Di penghujung ayat 144, SWT menegaskan bahawa Dia sama sekali tidak akan lupa dengan sikap degil dan engkar orang-orang Yahudi menerima kebenaran. Perbuatan mereka pasti akan menerima balasan.
Firman Allah SWT ayat 145,
Dan demi sesungguhnya ! jika engkau bawakan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberikan kitab, akan segala keterangan (yang menunjukkan kebenaran perintah berkiblat ke Kaabah itu), mereka tidak akan menurut kiblatmu,
Maksudnya sekiranya orang Yahudi dan Nasrani itu di ajak mengadap ke kiblat Masjidil Haram (yang terletaknya Kaabah) dan mereka juga sudah tahu sebab-sebab peralihan kiblat itu nescaya mereka tetap berdegil tidak mahu berkiblatkan Kaabah.
Firman Allah SWT,
..dan engkau pula tidak sekali-kali akan menurut kiblat mereka; dan sebahagian dari mereka juga tidak akan menurut kiblat sebahagian yang lain
Sebagaimana kerasnya ahli-ahli kitab untuk menerima kiblat orang-orang Islam, demikianlah orang-orang Islam, janganlah cenderung walau sedikit pun untuk mengadap kiblat mereka. Seterusnya Allah SWT menyatakan bahawa orang-orang Yahudi tidak akan mengadap kiblat orang-orang Nasrani yakni mengadap terbitnya matahari, begitu juga orang-orang Nasrani tidak akan mengadap kiblat orang-orang Yahudi yakni mengadap Baitul Maqdis.
Firman Allah SWT,
Demi sesungguhnya ! kalau engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu pengetahuan (yang telah diwahyukan kepadamu), Sesungguhnya engkau, jika demikian, adalah dari golongan orang-orang yang zalim. (145)
Walaupun ayat ini diturunkan kepada baginda tetapi tidaklah ia ditujukan kepada baginda saw, kerana Rasulullah saw adalah maksum dan terpelihara daripada melakukan kezaliman. Cuma mesej ini ditujukan kepada umat baginda sekiranya mereka berpura-pura bersolat mengadap ke arah Masjid Al-Aqsa dengan tujuan untuk menarik hati orang-orang Yahudi kepada Islam, maka tindakan tersebut akan melayakkan mereka untuk menerima balasan azab di dunia dan di akhirat. Jelasnya, perkara kiblat adalah perkara yang sangat penting dalam Islam, sama sekali tidak boleh dikompromikan. Tegasnya, matlamat tidak menghalalkan cara.
Wallahualam.
Sumber: http://usthjhishamuddinmansor.blogspot.com/
Bolehkah Dipercayai Ramalan Saintis Tentang Tarikh Kiamat?
Oleh Dato' Dr. Haron Din
Saya berpendapat bahawa perkara tarikh kiamat ini, termasuk dalam perkara asas pegangan kita yang perlu diserahkan kepada Allah SWT sepenuhnya, tanpa berpegang atau merujuk kepada mana-mana makhluk.
Kiamat adalah kerja Allah. Tidak patut makhluk hendak campurtangan dalam hal yang besar sebegini. Ia tidak sepatutnya dicampuri.
Dalam al-Quran, Allah berfirman (mafhumnya): "Manusia bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang kedatangan hari kiamat; katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan mengenainya hanyalah ada di sisi Allah.’ Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui? - boleh jadi masa datangnya tidak lama lagi.” (Surah al-Ahzab, ayat 63)
Tarikh berlaku kiamat adalah termasuk dalam perkara-perkara ghaib. Perkara ghaib, Allah sahaja yang mengetahuinya dan tidak diberitahu sesiapapun melainkan kepada Rasul pilihan-Nya sahaja.
Firman Allah (mafhumnya): "Tuhanlah sahaja yang mengetahui segala yang ghaib, maka Dia tidak memberitahu perkara ghaib yang diketahui-Nya itu kepada sesiapapun.
"Melainkan kepada mana-mana Rasul yang di redai-Nya (untuk mengetahui sebahagian daripada perkara ghaib yang berkaitan dengan tugasnya; apabila Tuhan hendak melakukan yang demikian) maka Dia mengadakan di hadapan dan di belakang Rasul itu malaikat-malaikat yang menjaga dan mengawasnya (sehingga perkara ghaib itu selamat sampai kepada yang berkenaan).” (Surah al-Jinn, ayat 26-27)
Namun demikian, Nabi Muhammad s.a.w. pun tidak mengetahui bilakah kiamat. Bukan sahaja Rasulullah, malah malaikat Jibril a.s. pun tidak mengetahuinya.
Dalam Sahih Muslim, diperturunkan hadis riwayat Umar al-Khattab, mengkisahkan perihal Jibril menghadap Nabi Muhammad s.a.w. bertanyakan bilakah kiamat akan berlaku, maka baginda menjawab: "Yang ditanya tidak akan lebih tahu daripada yang bertanya."
Maksud kata baginda ialah, makhluk yang paling amanah daripada kalangan penghuni langit, seperti Jibril yang paling dekat dengan Allah, menjadi utusan Allah kepada para Anbiya, khususnya Muhammad s.a.w. pun tidak mengetahui bila kiamat sehingga bertanya kepada Nabi s.a.w.
Kedua-dua makhluk yang paling rapat dengan Allah, tidak tahu tarikh kiamat, maka apakah logiknya yang boleh diterima akal, orang lain dari mereka berdua, khususnya saintis yang kafir hari ini, boleh mengetahui tarikh kiamat dan disebarkan kepada umum seperti yang anda tanyakan kepada saya sekarang.
Dalam hadis Ibnu Umar yang disahihkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah s.a.w bersabda (mafhumnya): "Anak-anak kunci (rahsia) perkara ghaib ada lima perkara, tiada yang mengetahuinya melainkan Allah SWT sahaja."
Rasulullah membaca ayat al-Quranul karim (mafhumnya): "Sesungguhnya di sisi Allah pengetahuan yang tepat tentang hari kiamat. Dan Dialah jua yang menurunkan hujan, dan yang mengetahui dengan sebenar-benarnya tentang apa yang ada dalam rahim (ibu yang mengandung). Dan tiada seseorang pun yang betul mengetahui apa yang akan diusahakannya esok (sama ada baik atau jahat); dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi negeri manakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Amat Meliputi pengetahuan-Nya.” (Surah Luqman, ayat 34)
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, ketika membuat tafsiran ayat di atas disebutkan:
"Itulah perkara-perkara ghaib yang menjadi anak kunci rahsia yang diketahui oleh Allah SWT sahaja. Maka tidak diberitahu kepada sesiapa pun hatta kepada Rasul yang diutus, atau kepada malaikat yang muqarrab (hampir) kepada Allah SWT."
Jika inilah keadaannya, maka mana mungkin orang kafir boleh meramal atau menetapkan tarikh kiamat. Wallahua'lam.
Saya berpendapat bahawa perkara tarikh kiamat ini, termasuk dalam perkara asas pegangan kita yang perlu diserahkan kepada Allah SWT sepenuhnya, tanpa berpegang atau merujuk kepada mana-mana makhluk.
Kiamat adalah kerja Allah. Tidak patut makhluk hendak campurtangan dalam hal yang besar sebegini. Ia tidak sepatutnya dicampuri.
Dalam al-Quran, Allah berfirman (mafhumnya): "Manusia bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang kedatangan hari kiamat; katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan mengenainya hanyalah ada di sisi Allah.’ Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui? - boleh jadi masa datangnya tidak lama lagi.” (Surah al-Ahzab, ayat 63)
Tarikh berlaku kiamat adalah termasuk dalam perkara-perkara ghaib. Perkara ghaib, Allah sahaja yang mengetahuinya dan tidak diberitahu sesiapapun melainkan kepada Rasul pilihan-Nya sahaja.
Firman Allah (mafhumnya): "Tuhanlah sahaja yang mengetahui segala yang ghaib, maka Dia tidak memberitahu perkara ghaib yang diketahui-Nya itu kepada sesiapapun.
"Melainkan kepada mana-mana Rasul yang di redai-Nya (untuk mengetahui sebahagian daripada perkara ghaib yang berkaitan dengan tugasnya; apabila Tuhan hendak melakukan yang demikian) maka Dia mengadakan di hadapan dan di belakang Rasul itu malaikat-malaikat yang menjaga dan mengawasnya (sehingga perkara ghaib itu selamat sampai kepada yang berkenaan).” (Surah al-Jinn, ayat 26-27)
Namun demikian, Nabi Muhammad s.a.w. pun tidak mengetahui bilakah kiamat. Bukan sahaja Rasulullah, malah malaikat Jibril a.s. pun tidak mengetahuinya.
Dalam Sahih Muslim, diperturunkan hadis riwayat Umar al-Khattab, mengkisahkan perihal Jibril menghadap Nabi Muhammad s.a.w. bertanyakan bilakah kiamat akan berlaku, maka baginda menjawab: "Yang ditanya tidak akan lebih tahu daripada yang bertanya."
Maksud kata baginda ialah, makhluk yang paling amanah daripada kalangan penghuni langit, seperti Jibril yang paling dekat dengan Allah, menjadi utusan Allah kepada para Anbiya, khususnya Muhammad s.a.w. pun tidak mengetahui bila kiamat sehingga bertanya kepada Nabi s.a.w.
Kedua-dua makhluk yang paling rapat dengan Allah, tidak tahu tarikh kiamat, maka apakah logiknya yang boleh diterima akal, orang lain dari mereka berdua, khususnya saintis yang kafir hari ini, boleh mengetahui tarikh kiamat dan disebarkan kepada umum seperti yang anda tanyakan kepada saya sekarang.
Dalam hadis Ibnu Umar yang disahihkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah s.a.w bersabda (mafhumnya): "Anak-anak kunci (rahsia) perkara ghaib ada lima perkara, tiada yang mengetahuinya melainkan Allah SWT sahaja."
Rasulullah membaca ayat al-Quranul karim (mafhumnya): "Sesungguhnya di sisi Allah pengetahuan yang tepat tentang hari kiamat. Dan Dialah jua yang menurunkan hujan, dan yang mengetahui dengan sebenar-benarnya tentang apa yang ada dalam rahim (ibu yang mengandung). Dan tiada seseorang pun yang betul mengetahui apa yang akan diusahakannya esok (sama ada baik atau jahat); dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi negeri manakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Amat Meliputi pengetahuan-Nya.” (Surah Luqman, ayat 34)
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, ketika membuat tafsiran ayat di atas disebutkan:
"Itulah perkara-perkara ghaib yang menjadi anak kunci rahsia yang diketahui oleh Allah SWT sahaja. Maka tidak diberitahu kepada sesiapa pun hatta kepada Rasul yang diutus, atau kepada malaikat yang muqarrab (hampir) kepada Allah SWT."
Jika inilah keadaannya, maka mana mungkin orang kafir boleh meramal atau menetapkan tarikh kiamat. Wallahua'lam.
Jumaat, April 02, 2010
Tip-tip Bagaimana Menjadi Jutawan Daripada Al-Quran
Mahmud Ibn Labid r.a. pernah berkata, bahawa beliau mendengar Rasulullah bersabda, “Dua perkara yang tidak disenangi oleh anak Adam. Mati, padahal mati itu adalah lebih baik dari dugaan (kesesatan). Harta yang sedikit, padahal harta yang sedikit meringankan hisab. [1]
Namun sekiranya anda ingin juga menjadi seorang jutawan, Allah s.w.t telah berfirman di dalam surah An-Nuur ayat 37 hingga 38, “(Ibadat itu dikerjakan oleh) orang-orang yang kuat imannya yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau berjual-beli daripada menyebut serta mengingati Allah, dan mendirikan solat serta memberi zakat; mereka takutkan hari (kiamat) yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan.”
“(Mereka mengerjakan semuanya itu) supaya Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan bagi apa yang mereka kerjakan, dan menambahi mereka lagi dari limpah kurniaNya; dan sememangnya Allah memberi rezeki kepada sesiapa yang dikehendakiNya dengan tidak terhitung.”
Bermaksud, dengan mengingati Allah, mendirikan solat, memberi zakat dan sedekah, takutkan hari kiamat kerana akan diadili, seseorang itu akan mendapat limpah kurnia Allah dan pembalasan yang paling baik. Allah sesungguhnya satu-satunya sumber segala rezeki dan Dia akan menambahkan kurniaNya kepada hamba yang mempunyai ciri-ciri seperti di atas.
Kajilah Al-Quran dengan sebenarnya-benarnya, kerana tips untuk menjadi jutawan banyak terdapat di dalam Al-Quran. Terjemahan Al-Quran bermodalkan RM20 di pasaran. Menurut Abu Said r.a., Allah berfirman di dalam sebuah hadith qudsi, “Sesiapa yang disibukkan oleh Al-Quran daripada berzikir dan meminta kepadaKu, maka Aku akan memberikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada diberikan kepada orang yang meminta kepadaKu” [2]
Sekiranya anda bukan berniat untuk menjadi jutawan, tetapi sekadar ingin hidup sederhana, beribadat kepada Allah. Serta dalam masa yang sama tidak mahu mempunyai bebanan hutang dan dikurniakan kecukupan dalam semua perkara, amalkan membaca Surah Al-Waqiah setiap malam. Menurut Ibnu Mas’ud, Rasulullah s.a.w telah bersabda, “Sesiapa yang membaca surah Al-Waqiah pada setiap malam, ia tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”[3]
Sekiranya anda sekarang berada di dalam keadaan terdesak, ditimpa kesusahan, memerlukan “fast-cash” untuk sesuatu perkara mustahak, maka ikutlah petua Rasulullah s.a.w. Di dalam sebuah hadith yang diriwayat oleh Huzaifah r.a., apabila Rasulullah s.a.w mengalami kesulitan, beliau akan segera mengerjakan solat.[4] Solat yang dimaksudkan adalah solat sunat. Ini adalah selaras dengan firman Allah di dalam surah Al-Baqarah ayat 45, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan solat; dan sesungguhnya solat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk”.
Di dalam riwayat lain diceritakan oleh Abdullah bin Salam r.a., ketika keluarga Rasulullah menghadapi sebarang kesempitan rezeki, beliau akan memerintahkan mereka mendirikan solat dan membaca ayat 132 surah Taha.[5]Firman Allah di dalam ayat berkenaan, “Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mengerjakan sembahyang, dan hendaklah engkau tekun bersabar menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, (bahkan) Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan (ingatlah) kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Kebanyakkan yang mengamalkan tip ini mendapat kemurahan rezeki yang luas dan “low profile”. Mereka tidak terburu-buru dan tergesa-gesa dalam mengejar kesenangan. Kebanyakkan mereka akhirnya menjadi komited dalam beribadat atau melakukan aktiviti dakwah. Mereka hanya melakukan sedikit pekerjaan dunia, namun kurnia yang diperolehi melebihi apa yang mereka kerjakan.
Wallahu’alam.
Namun sekiranya anda ingin juga menjadi seorang jutawan, Allah s.w.t telah berfirman di dalam surah An-Nuur ayat 37 hingga 38, “(Ibadat itu dikerjakan oleh) orang-orang yang kuat imannya yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau berjual-beli daripada menyebut serta mengingati Allah, dan mendirikan solat serta memberi zakat; mereka takutkan hari (kiamat) yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan.”
“(Mereka mengerjakan semuanya itu) supaya Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan bagi apa yang mereka kerjakan, dan menambahi mereka lagi dari limpah kurniaNya; dan sememangnya Allah memberi rezeki kepada sesiapa yang dikehendakiNya dengan tidak terhitung.”
Bermaksud, dengan mengingati Allah, mendirikan solat, memberi zakat dan sedekah, takutkan hari kiamat kerana akan diadili, seseorang itu akan mendapat limpah kurnia Allah dan pembalasan yang paling baik. Allah sesungguhnya satu-satunya sumber segala rezeki dan Dia akan menambahkan kurniaNya kepada hamba yang mempunyai ciri-ciri seperti di atas.
Kajilah Al-Quran dengan sebenarnya-benarnya, kerana tips untuk menjadi jutawan banyak terdapat di dalam Al-Quran. Terjemahan Al-Quran bermodalkan RM20 di pasaran. Menurut Abu Said r.a., Allah berfirman di dalam sebuah hadith qudsi, “Sesiapa yang disibukkan oleh Al-Quran daripada berzikir dan meminta kepadaKu, maka Aku akan memberikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada diberikan kepada orang yang meminta kepadaKu” [2]
Sekiranya anda bukan berniat untuk menjadi jutawan, tetapi sekadar ingin hidup sederhana, beribadat kepada Allah. Serta dalam masa yang sama tidak mahu mempunyai bebanan hutang dan dikurniakan kecukupan dalam semua perkara, amalkan membaca Surah Al-Waqiah setiap malam. Menurut Ibnu Mas’ud, Rasulullah s.a.w telah bersabda, “Sesiapa yang membaca surah Al-Waqiah pada setiap malam, ia tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”[3]
Sekiranya anda sekarang berada di dalam keadaan terdesak, ditimpa kesusahan, memerlukan “fast-cash” untuk sesuatu perkara mustahak, maka ikutlah petua Rasulullah s.a.w. Di dalam sebuah hadith yang diriwayat oleh Huzaifah r.a., apabila Rasulullah s.a.w mengalami kesulitan, beliau akan segera mengerjakan solat.[4] Solat yang dimaksudkan adalah solat sunat. Ini adalah selaras dengan firman Allah di dalam surah Al-Baqarah ayat 45, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan solat; dan sesungguhnya solat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk”.
Di dalam riwayat lain diceritakan oleh Abdullah bin Salam r.a., ketika keluarga Rasulullah menghadapi sebarang kesempitan rezeki, beliau akan memerintahkan mereka mendirikan solat dan membaca ayat 132 surah Taha.[5]Firman Allah di dalam ayat berkenaan, “Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mengerjakan sembahyang, dan hendaklah engkau tekun bersabar menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, (bahkan) Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan (ingatlah) kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Kebanyakkan yang mengamalkan tip ini mendapat kemurahan rezeki yang luas dan “low profile”. Mereka tidak terburu-buru dan tergesa-gesa dalam mengejar kesenangan. Kebanyakkan mereka akhirnya menjadi komited dalam beribadat atau melakukan aktiviti dakwah. Mereka hanya melakukan sedikit pekerjaan dunia, namun kurnia yang diperolehi melebihi apa yang mereka kerjakan.
Wallahu’alam.
Azabnya Seksa Neraka
Allah SWT menyebut lagi tanda-tanda kekuasaannya dan semua penciptaannya menggambarkan betapa hebatnya kudrat Ilahi.
Justeru, dengan menghayati ayat-ayat al-Quran yang membabitkan hari balasan dan keajaiban penciptaannya akan menambahkan lagi keimanan kita.
Firman Allah SWT: Sesungguhnya hari pemutusan hukum itu, adalah satu masa yang ditentukan. Hari Jumaat adalah Hari Pembalasan sama ada baik atau tidak mengikut amalan keimanan seseorang.
Firman Allah SWT: Iaitu masa ditiup sangkakala, lalu kamu (bangkit hidup) serta datang berpuak-puak (ke padang Mahsyar). Ini mengikut ketentuan Ilahi dan wajib kita imani dan yakin.
Firman Allah SWT: Dan (pada masa itu) langit dipecah belahkan sehingga tiap-tiap belahannya menjadi ibarat pintu yang terbuka luas. Dan gunung-ganang setelah dihancurkan diterbangkan ke angkasa, lalu menjadilah ia bayangan semata-mata seperti riak sinaran panas di padang pasir.
Syed Qutb berkata: Itulah keadaan yang amat dahsyat jelas dilihat pada revolusi alam buana seperti keadaan di Mahsyar selepas ditiup sangkakala. Itulah hari pengadilan yang telah ditentukan dengan hikmah dan tadbir Ilahi.
Firman Allah SWT: Sesungguhnya neraka jahanam adalah disediakan. Ibn Jarir dan Ibn Mundhir meriwayatkan hadis daripada al-Hasan berkata: "Seseorang itu tidak dimasukkan ke dalam syurga sebelum melintasi neraka. Jika dia dapat melintasinya, maka dia akan selamat dan jika tidak dia tertahan di neraka.
Firman Allah SWT: Untuk orang-orang yang melampaui batas hukum tuhan, sebagai tempat kembalinya.
Al-Maraghi berkata: Neraka merupakan tempat kembali orang yang melampaui batas, sombong dan tidak mahu mendengar ajakan yang membawa mereka kepada petunjuk Allah SWT dan cahaya kebenaran.
Firman Allah SWT: Mereka tinggal di dalamnya berkurun-kurun lamanya. Ditafsirkan oleh al-Qurtubi: Kinayatun anit ta'bidd, sebagai kata ungkapan daripada kekekalan. Bila telah masuk, payah akan keluar lagi. Ibn Jarir berkata: Dan yang benar bahawa hal itu tidak ada akhirnya.
Firman Allah SWT: Mereka tidak dapat merasai udara yang sejuk di dalamnya, dan tidak pula sebarang minuman. Kecuali air panas yang menggelegak, dan air danur yang mengalir.
Ibn Kathir berkata: Di neraka mereka tidak mendapatkan sesuatu yang dingin bagi mereka dan tidak juga mendapatkan minuman segar yang dapat mereka minum. Abul 'Aliyah berkata: Dikecualikan dari dingin adalah panas dan daripada minuman itu nanah.
Firman Allah SWT: Sebagai balasan yang sesuai (dengan amal mereka yang buruk). Kerana sesungguhnya mereka dahulu tidak menaruh ingatan terhadap hari hitungan amal. Semua yang mereka alami berupa hukuman, sesuai dengan amal perbuatan mereka yang tidak benar yang mereka kerjakan semasa di dunia.
Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Al-Biqa'ie berkata: Untuk lebih menekankan sifat buruk mereka itu kerana biasanya manusia mengharap dan menginginkan sesuatu yang baik, walau kemungkinan terjadinya sangat kecil namun sikap mereka sebaliknya.
Firman Allah SWT: Dan mereka telah mendustakan dengan sesungguh-sungguhnya akan ayat-ayat keterangan kami.
Ibn Kathir berkata: Mereka berdusta semua hujah dan bukti-bukti Allah yang diturunkan kepada Rasul dengan penentangan.
Firman Allah SWT: Dan tiap-tiap sesuatu dari bawaan hidupnya, telah Kami hitung secara bertulis.
Al-Maraghi berkata: Di sebutkan dengan perkataan kitaban (tertulis) bukan ihsa'an (terhitung) kerana menulis itu adalah asas untuk menguatkan sesuatu yang diketahui.
Orang yang ingin menghimpun percakapan seseorang supaya tidak hilang sedikit pun, ia hendaklah dibantu dengan tulisan.
Di sini Allah SWT berfirman: Segala sesuatu telah Kami hitung dengan teliti dan memadai dengan suatu kepastian.
Firman Allah SWT: (setelah mereka masuk ke dalam neraka, dikatakan kepada mereka: "Oleh sebab kamu telah mendustakan ayat-ayat kami) maka rasalah kamu (azab yang disediakan), kerana Kami tidak akan melakukan selain daripada menambah berbagai azab kepada kamu".
Hamka berkata: Setelah dimasukkan ke dalam neraka jahanam, janganlah berharap untuk dikurangkan azab bahkan ia akan terus bertambah dengan berlipat kali ganda secara terus menerus.
Penutup
Ayat-ayat yang dibincangkan ini jelas menunjukkan betapa dahsyatnya hari kiamat dan seterusnya menggambarkan sifat neraka Allah.
Seperti kata al-Maraghi: Disebabkan mereka tidak mahu bersiap sedia menunggu kedatangan hari perhitungan amal, mereka selalu melakukan perbuatan buruk dan maksiat serta mendustakan bukti-bukti yang dikemukakan Allah SWT untuk membenarkan Rasul-Nya.
Semoga kita menjadi golongan yang selamat daripada balasan seksaan. Amin.
Oleh DR. ZULKIFLI MOHAMAD ALBAKRI
Justeru, dengan menghayati ayat-ayat al-Quran yang membabitkan hari balasan dan keajaiban penciptaannya akan menambahkan lagi keimanan kita.
Firman Allah SWT: Sesungguhnya hari pemutusan hukum itu, adalah satu masa yang ditentukan. Hari Jumaat adalah Hari Pembalasan sama ada baik atau tidak mengikut amalan keimanan seseorang.
Firman Allah SWT: Iaitu masa ditiup sangkakala, lalu kamu (bangkit hidup) serta datang berpuak-puak (ke padang Mahsyar). Ini mengikut ketentuan Ilahi dan wajib kita imani dan yakin.
Firman Allah SWT: Dan (pada masa itu) langit dipecah belahkan sehingga tiap-tiap belahannya menjadi ibarat pintu yang terbuka luas. Dan gunung-ganang setelah dihancurkan diterbangkan ke angkasa, lalu menjadilah ia bayangan semata-mata seperti riak sinaran panas di padang pasir.
Syed Qutb berkata: Itulah keadaan yang amat dahsyat jelas dilihat pada revolusi alam buana seperti keadaan di Mahsyar selepas ditiup sangkakala. Itulah hari pengadilan yang telah ditentukan dengan hikmah dan tadbir Ilahi.
Firman Allah SWT: Sesungguhnya neraka jahanam adalah disediakan. Ibn Jarir dan Ibn Mundhir meriwayatkan hadis daripada al-Hasan berkata: "Seseorang itu tidak dimasukkan ke dalam syurga sebelum melintasi neraka. Jika dia dapat melintasinya, maka dia akan selamat dan jika tidak dia tertahan di neraka.
Firman Allah SWT: Untuk orang-orang yang melampaui batas hukum tuhan, sebagai tempat kembalinya.
Al-Maraghi berkata: Neraka merupakan tempat kembali orang yang melampaui batas, sombong dan tidak mahu mendengar ajakan yang membawa mereka kepada petunjuk Allah SWT dan cahaya kebenaran.
Firman Allah SWT: Mereka tinggal di dalamnya berkurun-kurun lamanya. Ditafsirkan oleh al-Qurtubi: Kinayatun anit ta'bidd, sebagai kata ungkapan daripada kekekalan. Bila telah masuk, payah akan keluar lagi. Ibn Jarir berkata: Dan yang benar bahawa hal itu tidak ada akhirnya.
Firman Allah SWT: Mereka tidak dapat merasai udara yang sejuk di dalamnya, dan tidak pula sebarang minuman. Kecuali air panas yang menggelegak, dan air danur yang mengalir.
Ibn Kathir berkata: Di neraka mereka tidak mendapatkan sesuatu yang dingin bagi mereka dan tidak juga mendapatkan minuman segar yang dapat mereka minum. Abul 'Aliyah berkata: Dikecualikan dari dingin adalah panas dan daripada minuman itu nanah.
Firman Allah SWT: Sebagai balasan yang sesuai (dengan amal mereka yang buruk). Kerana sesungguhnya mereka dahulu tidak menaruh ingatan terhadap hari hitungan amal. Semua yang mereka alami berupa hukuman, sesuai dengan amal perbuatan mereka yang tidak benar yang mereka kerjakan semasa di dunia.
Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Al-Biqa'ie berkata: Untuk lebih menekankan sifat buruk mereka itu kerana biasanya manusia mengharap dan menginginkan sesuatu yang baik, walau kemungkinan terjadinya sangat kecil namun sikap mereka sebaliknya.
Firman Allah SWT: Dan mereka telah mendustakan dengan sesungguh-sungguhnya akan ayat-ayat keterangan kami.
Ibn Kathir berkata: Mereka berdusta semua hujah dan bukti-bukti Allah yang diturunkan kepada Rasul dengan penentangan.
Firman Allah SWT: Dan tiap-tiap sesuatu dari bawaan hidupnya, telah Kami hitung secara bertulis.
Al-Maraghi berkata: Di sebutkan dengan perkataan kitaban (tertulis) bukan ihsa'an (terhitung) kerana menulis itu adalah asas untuk menguatkan sesuatu yang diketahui.
Orang yang ingin menghimpun percakapan seseorang supaya tidak hilang sedikit pun, ia hendaklah dibantu dengan tulisan.
Di sini Allah SWT berfirman: Segala sesuatu telah Kami hitung dengan teliti dan memadai dengan suatu kepastian.
Firman Allah SWT: (setelah mereka masuk ke dalam neraka, dikatakan kepada mereka: "Oleh sebab kamu telah mendustakan ayat-ayat kami) maka rasalah kamu (azab yang disediakan), kerana Kami tidak akan melakukan selain daripada menambah berbagai azab kepada kamu".
Hamka berkata: Setelah dimasukkan ke dalam neraka jahanam, janganlah berharap untuk dikurangkan azab bahkan ia akan terus bertambah dengan berlipat kali ganda secara terus menerus.
Penutup
Ayat-ayat yang dibincangkan ini jelas menunjukkan betapa dahsyatnya hari kiamat dan seterusnya menggambarkan sifat neraka Allah.
Seperti kata al-Maraghi: Disebabkan mereka tidak mahu bersiap sedia menunggu kedatangan hari perhitungan amal, mereka selalu melakukan perbuatan buruk dan maksiat serta mendustakan bukti-bukti yang dikemukakan Allah SWT untuk membenarkan Rasul-Nya.
Semoga kita menjadi golongan yang selamat daripada balasan seksaan. Amin.
Oleh DR. ZULKIFLI MOHAMAD ALBAKRI
Dahsyatnya Sakaratul Maut
"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !" Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).
"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).
Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Allah, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.
Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Allah Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Allah Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.
"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail,
"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.
Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.
Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja. Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.
"Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).
"Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s.
"Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut.
"Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram".
Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.
"Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris a.s.
Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.
"Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius.
"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
"Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail.
"Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s
"Apa itu ? katakanlah !". Jawab Malaikat Izrail.
"Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s.
Tanpa seizin Allah, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail.
Pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Allah, Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.
Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Allah mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.
"Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat Izrail.
"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.
"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.
MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?
Bersediakah kita untuk menghadapinya ?
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !" Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).
"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).
Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Allah, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.
Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Allah Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Allah Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.
"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail,
"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.
Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.
Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja. Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.
"Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).
"Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s.
"Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut.
"Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram".
Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.
"Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris a.s.
Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.
"Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius.
"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
"Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail.
"Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s
"Apa itu ? katakanlah !". Jawab Malaikat Izrail.
"Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s.
Tanpa seizin Allah, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail.
Pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Allah, Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.
Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Allah mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.
"Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat Izrail.
"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.
"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.
MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?
Bersediakah kita untuk menghadapinya ?
Hanya Tiga Tidak Terputus
"Apabila mati seseorang manusia maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga punca : sedekah yang berkekalan , atau Ilmu yang dimanfa'atkan oleh orang , anak yang soleh yang mendoakannya. " (diriwayat oleh Muslim).
Huraian.
Salah satu dari dasar pokok didalam Islam ialah balasan seseorang itu adalah mengikut amalan-amalan yang dilakukan semasa hidupnya sahaja dan ia tidak boleh ditolong dengan amalan-amalan orang lain selepas matinya kecuali dari sumber-sumber amalannya sendiri yang menghasilkan kebajikan dan manfa'at yang berkekalan kepada orang lain selepas matinya yakni amalan-amalan dalam bentuk wakwf yang memberi faedah yang berkekalan atau dalam bentuk Ilmu-ilmu pengetahuan keterampilan dan rekaan-rekaan yang dapat diambil manfa'at oleh orang lain, juga dalam bentuk doa-doa dari anak-anaknya yang soleh.
Hadith ini menjelaskan kelebihan amalan-amalan sedekah jariah, ilmu-ilmu yang berguna dan anak yang soleh. Inilah pelaburan-pelaburan yang menjamin keuntungan di akhirat yang berkekalan walaupun selepas mati , kerana ia merupakan hasil usahanya sendiri.
Dalam sebuah Hadis yang lain diperinci lebih banyak lagi jenis-jenis amalan yang mendatangkan pahala yang tidak berkeputusan. Hadis itu bermaksut:
"Sesungguhnya pahala amalan dan kebajikan yang dicapai oleh seseorang mu'min selepas matinya ialah ilmu pengetahuan yang disebarinya atau anak soleh yang ditinggalnya atau naskah Quran yang dipusakakannya atau masjid yang dibinakannya atau rumah tumpangan perantau yang dirikan atau sungai yang dialirkannya atau derma yang dikeluarkan dari hartanya dalam masa sihatnya dan dalam masa hidupnya akan diperolihi pahalanya selepas matinya"
(diriwayat oleh Ibnu Majah)
Sebetulnya hadis yang panjang ini merupakan pentafsir kepada hadis yang pertama kepada pemberian senaskah Al Quran,pembinaan masjid dan rumah tumpangan perantau dan pengaliran sungai termasuk dalam istilah sedekah jariah belaka.
Rasulullah saw. Dan para sahabatnya telah membuat wakaf-wakaf dalam bentuk membina masjid-masjid , pemberian kawasan-kawasan tanah, perigi, kebun-kebun, kuda-kuda, dan amalan wakaf seperti itu telah dilakukan oleh umat Islam dimerata tempat sehingga hari ini.
Dalam hadis pertama disebut "anak yang soleh yang mendoakannya". Sedangkan dalam hadis yang kedua disebut "anak soleh yang ditinggalkannya" sahaja tampa menyebut mendoakannya. Ini menunjukkan bahawa doa itu bukanlah satu-satunya kebajikan yang boleh disampaikan oleh sianak kepada orang tuanya, malah kelahiran anak yang soleh dalam sebuah masyarakat itu sendiri merupakan satu sumber kabajikan yang besar kepada orang ramai yang akan sampai pahalanya kepada orang tuanya kerana dialah yang menjadi pemimpin, penyumbang hidayah, pembela agama, penyaran kebaikan dan pencegah kajahatan dan kerana setiap anak yang soleh itu tidak akan lupa mendoakan orang tuanya yang meninggal kelak. Dalam hadis yang lain terdapat kenyataan bahawa setiap amalan kebajikan yang dilakukan sianak dengan niat disampaikan pahalanya kepada orang tuanya akan disampaikan Allah.
Sekiranya kita mengharapkan doa anak-anak kita satu waktu nanti , sekarang apakah tugas kita sebagai anak kepada kedua ibubapa kita ?. Sekarang adakah kita sudah menjadi anak yang solah seperti yang dikehendaki. Berapa banyak sedekah kita,berapakah banyak kah ilmu yang kita ajarkan kepada orang dan selalukah kita doakan untuk kedua orang tua kita.
Huraian.
Salah satu dari dasar pokok didalam Islam ialah balasan seseorang itu adalah mengikut amalan-amalan yang dilakukan semasa hidupnya sahaja dan ia tidak boleh ditolong dengan amalan-amalan orang lain selepas matinya kecuali dari sumber-sumber amalannya sendiri yang menghasilkan kebajikan dan manfa'at yang berkekalan kepada orang lain selepas matinya yakni amalan-amalan dalam bentuk wakwf yang memberi faedah yang berkekalan atau dalam bentuk Ilmu-ilmu pengetahuan keterampilan dan rekaan-rekaan yang dapat diambil manfa'at oleh orang lain, juga dalam bentuk doa-doa dari anak-anaknya yang soleh.
Hadith ini menjelaskan kelebihan amalan-amalan sedekah jariah, ilmu-ilmu yang berguna dan anak yang soleh. Inilah pelaburan-pelaburan yang menjamin keuntungan di akhirat yang berkekalan walaupun selepas mati , kerana ia merupakan hasil usahanya sendiri.
Dalam sebuah Hadis yang lain diperinci lebih banyak lagi jenis-jenis amalan yang mendatangkan pahala yang tidak berkeputusan. Hadis itu bermaksut:
"Sesungguhnya pahala amalan dan kebajikan yang dicapai oleh seseorang mu'min selepas matinya ialah ilmu pengetahuan yang disebarinya atau anak soleh yang ditinggalnya atau naskah Quran yang dipusakakannya atau masjid yang dibinakannya atau rumah tumpangan perantau yang dirikan atau sungai yang dialirkannya atau derma yang dikeluarkan dari hartanya dalam masa sihatnya dan dalam masa hidupnya akan diperolihi pahalanya selepas matinya"
(diriwayat oleh Ibnu Majah)
Sebetulnya hadis yang panjang ini merupakan pentafsir kepada hadis yang pertama kepada pemberian senaskah Al Quran,pembinaan masjid dan rumah tumpangan perantau dan pengaliran sungai termasuk dalam istilah sedekah jariah belaka.
Rasulullah saw. Dan para sahabatnya telah membuat wakaf-wakaf dalam bentuk membina masjid-masjid , pemberian kawasan-kawasan tanah, perigi, kebun-kebun, kuda-kuda, dan amalan wakaf seperti itu telah dilakukan oleh umat Islam dimerata tempat sehingga hari ini.
Dalam hadis pertama disebut "anak yang soleh yang mendoakannya". Sedangkan dalam hadis yang kedua disebut "anak soleh yang ditinggalkannya" sahaja tampa menyebut mendoakannya. Ini menunjukkan bahawa doa itu bukanlah satu-satunya kebajikan yang boleh disampaikan oleh sianak kepada orang tuanya, malah kelahiran anak yang soleh dalam sebuah masyarakat itu sendiri merupakan satu sumber kabajikan yang besar kepada orang ramai yang akan sampai pahalanya kepada orang tuanya kerana dialah yang menjadi pemimpin, penyumbang hidayah, pembela agama, penyaran kebaikan dan pencegah kajahatan dan kerana setiap anak yang soleh itu tidak akan lupa mendoakan orang tuanya yang meninggal kelak. Dalam hadis yang lain terdapat kenyataan bahawa setiap amalan kebajikan yang dilakukan sianak dengan niat disampaikan pahalanya kepada orang tuanya akan disampaikan Allah.
Sekiranya kita mengharapkan doa anak-anak kita satu waktu nanti , sekarang apakah tugas kita sebagai anak kepada kedua ibubapa kita ?. Sekarang adakah kita sudah menjadi anak yang solah seperti yang dikehendaki. Berapa banyak sedekah kita,berapakah banyak kah ilmu yang kita ajarkan kepada orang dan selalukah kita doakan untuk kedua orang tua kita.
Jumaat, Mac 19, 2010
Jurucakap Tidak Rasmi
Secara tradisi kita diajar – bila hendak mengaji Quran, hendaklah berguru; mestilah berwudhu’, mesti pakai kain pelikat tutup lutut, duduk bersila dan mengadap kiblat, mesti pakai ketayap atau songkok Quran mestilah lebih tinggi dari paras lutut, dan seumpamanya. Ini adalah diantara syarat-syarat ciptaan manusia yang ditkekan dan ditanamkan oleh jurucakap-jurucakap tidak resmi. Quran sendiri tidak menetapkan semua itu.
Ramai orang yang mengaku Islam cuba menjadi jurucakap tidak resmi Allah dalam hal-hal ugama, terutamanya menentukan hukum-hakam, yang ini haram, yang itu harus, halal dan sebagainya. Mereka juga selalunya menambah kepada apa yang Allah tidak menentukan, walau pun Allah telah mengatakan bahawa Quran itu cukup lengkap dan Dia tidak meninggalkan sesuatu pun dalamnya.
Rasul
Bila disebut rasul, pada lazimnya ia dikaitkan dengan rasul Allah dan selalunya dirujukkan kepada Muhammad, sebagai rasul yang terakhir diutuskan Allah. Maka ramailah orang-orang yang melantik diri mereka sendiri sebagai “jurucakap” Allah yang telah mendarjatkan Muhammad lebih tinggi dari rasul-rasul yang lain walaupun Allah dengan jelas menurunkan ayat berikut.
Dan orang-orang yang percaya kepada Allah, dan rasul-rasul-Nya, dan mereka tidak membeza-bezakan antara seorang pun antara mereka, maka mereka itu, pasti Kami akan memberikan mereka upah mereka; Allah adalah Pengampun, Pengasih. (4:152)
dan beberapa lagi ayat yang menyuruh kita supaya tidak membeza-bezakan antara rasul-rasul.
Tugas rasul hanya menyampaikan. Allah yang memberi petunjuk.
Maka jika mereka mendebat kamu, katakanlah, "Aku menundukkan wajahku kepada Allah, dan sesiapa yang mengikuti aku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi al-Kitab, dan orang-orang ummiy (yang tidak diberi Kitab), "Sudahkah kamu tunduk patuh?" Jika mereka tunduk patuh, mereka mendapat petunjuk yang benar, dan jika mereka berpaling, maka bagi kamu hanyalah untuk menyampaikan; dan Allah melihat hamba-hamba-Nya. (3:20)
Wahai rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu kerana, jika kamu tidak buat, tidaklah kamu menyampaikan Mesej-Nya. Allah melindungi kamu daripada manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang tidak percaya (5:67)
Dan taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada rasul, dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahawa atas rasul Kami hanyalah untuk menyampaikan yang jelas (5:92)
Adalah hanya atas rasul untuk menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu menampakkan, dan apa yang kamu menyembunyikan. (5:99)
Sama ada Kami memperlihatkan kepada kamu sebahagian daripada apa yang Kami menjanjikan mereka, atau Kami mematikan kamu, maka bagi kamu hanyalah untuk menyampaikan, dan bagi Kami memperhitungkan (13:40)
Maka, jika mereka berpaling, bagi kamu hanyalah untuk menyampaikan yang jelas (16:82).
Janganlah menggerakkan lidah kamu dengannya untuk menyegerakannya, Atas Kamilah untuk mengumpulkannya, dan untuk membacakannya. Maka, apabila Kami membacanya, kamu ikutlah bacaannya. Kemudian atas Kamilah untuk menjelaskannya. (75:16-19)
Tugas manusia hanya untuk tunduk patuh kepada perintah Allah. Untuk tunduk patuh kepada perintah Allah kita dikehendakki memahami suruhan dan larangan yang termaktub dalam al-Quran. Untuk memahami, kita hendaklah membaca al-Quran di mana kita dapat memahami suruhan dan larangan dan apa jua yang dianjurkan secara terus, bukan dari tafsiran-tafsiran dari ‘jurucakap-jurucakap” yang tidak resmi.
Bacalah dengan nama Pemelihara kamu yang mencipta, (96:1)
Orang-orang yang kepada mereka Kami memberikan al-Kitab membacanya dengan bacaannya yang benar, mereka mempercayainya; dan sesiapa yang tidak percaya kepadanya, merekalah orang-orang yang rugi. (2:121)
JURUCAKAP TIDAK RASMI
Sekarang ini terdapat banyak orang-orang yang melantik diri sendiri sebagai jurucakap Allah dan rasul, malah sejak beratus-ratus tahun dahulu. Mereka ini biasanya diberi gelaran oleh pengikut-pengikut mereka dengan gelaran ustaz, syeikh, kiai, al-fadhil, mursyidul dan sebagainya. Jurucakap-jurucakap ini telah banyak menanamkan kefahaman berlainan dari mesej sebenar yang telah dibawa oleh rasul dalam al-Quran. Apa saja yang dikatakan oleh mereka ini dipercayai dan di ikuti sepenuhnya tanpa soal atau ragu-ragu walaupun Allah berkata
Dan janganlah mengikuti apa yang kamu tiada pengetahuan mengenainya; pendengaran, dan penglihatan, dan hati - semua itu ditanya. (17:36)
Satu perkara yang paling suka dibuat oleh jurucakap-jurucakap (yang tidak resmi) ialah menentukan hukum, pahala dan dosa terhadap sesuatu perbuatan atau amalan. Walaupun sesuatu perkara tidak dijelaskan atau disentuh langsung dalam al-Quran, jurucakap-jurucakap ini masih mahu menambah kepada al-Quran yang Allah kata sudah lengkap dan sempurna. Mereka melantik diri mereka sebagai jurucakap Allah dalam hal-hal ugama.
Tiada makhluk yang merayap di bumi, tiada burung yang terbang dengan sayap-sayapnya, melainkan mereka adalah umat-umat yang serupa dengan kamu. Kami tidak mengalpakan sesuatu di dalam al-Kitab; kemudian kepada Pemelihara mereka, mereka akan dikumpulkan. (6:38)
Telah sempurna kata-kata Pemelihara kamu dalam kebenaran dan keadilan; tiada yang boleh menukar kata-kata-Nya; Dia Yang Mendengar, Yang Mengetahui. (6:115)
Bacaan lanjut: http://www.e-bacaan.com/artikel_antaraHdanQ.htm
Mereka masih lagi mahu menokok-tambah dengan mengatakan ini haram, itu harus, ini sunat, itu halal dan sebagainya atas nama hukum Islam. Hukum-hukum yang ditentukan juru-jurucakap tersebut adalah rekaan semata-semata dan tidak di resmikan oleh Allah. Apa yang resmi ialah apa yang tertulis dalam Quran.
Sedangkan rasul pun tidak dibenarkan oleh Allah untuk menentukan hukum sendiri, selain daripada apa yang diwahyukan kepadanya.
Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagi kamu, untuk mencari kepuasan hati isteri-isteri kamu? Dan Allah Pengampun, Pengasih. (66:1)
Beratus-ratus buku ditulis berkaitan dengan hukum halal haram, sisebarkan dan di ulaskan oleh jurucakap-jurucakap yang tidak resmi di merata-rata mesjid, madrasah dan majlis-majlis syarahan ugama atas nama islam.
Untuk bacaan lanjut: http://www.e-bacaan.com/artikel_islammasjid.htm
Mereka menyentuh perkara-perkara dari sekecil-kecil perkara sehinggalah sebesar-besarnya dan banyak perkara adalah berlawanan dengan apa yang Allah telah tetapkan atau Allah biarkan tanpa ketetapan untuk kemudahan manusia.
Sebagai contoh, mereka mengatakan bahawa “batal air sembahyang sekiranya menyentuh kemaluan dengan tapak tangan”. Ini diajar di sekolah-sekolah dan ditulis dalam beratus-ratus buku yang kononnya menggariskan hukum Islam. Hukum Islam ciptaan manusia dan dikembangkan oleh jurucakap-jurucakap yang tidak resmi. Hukum rekaan ini tidak terdapat dalam al-Quran. Yang anehnya, menyentuh anjing tidak pula di hukumkan membatal air sembahyang, tetapi menyentuh perempuan (yang dibolehkan kahwin) pula batal, dan bermacam-macam lagi.
Berkaitan dengan anjing pula, mereka mengatakan bahawa anjing itu najis. Sekirannya tersentuh, hendaklah dibasuh tujuh kali dan salah satu daripadanya hendaklah dengan air selut (air bercampur tanah). Allah tidak menetapkan demikian. Mereka juga mengutarakan hadith yang mengatakan kononnya malaikat tidak akan memasukki rumah yang ada anjing. Mana mungkin malaikat takut kepada ciptaan Allah. Disebaliknya Allah menceritakan bagaimana anjing adalah kawan kepada sekumpulan pemuda yang percaya kepada Pemelihara mereka.
Kamu menyangka bahawa mereka jaga, sedang mereka tidur, sementara Kami membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, dan anjing mereka menjulurkan lengannya di ambang. Sekiranya kamu melihat mereka, tentu kamu berpaling daripada mereka, melarikan diri, dan dipenuhi dengan ketakutan yang amat sangat terhadap mereka (18:18)
18:22. Mereka akan berkata, "Tiga, dan anjing mereka yang keempat di antara mereka." Dan mereka berkata, " Lima , dan anjing mereka yang keenam di antara mereka", dengan meneka terhadap yang ghaib. Dan mereka berkata, "Tujuh, dan anjing mereka yang kelapan di antara mereka." Katakanlah, "Pemeliharaku sangat mengetahui bilangan mereka, dan tiada yang mengetahuinya, kecuali sedikit." Maka janganlah berdebat dengan mereka melainkan dalam perdebatan yang lahir, dan janganlah menanyakan seseorang pun antara mereka satu keputusan.
Satu lagi contoh : http://www.e-bacaan.com/artikel_sentuhQ.htm
Inilah diantara perkara-perkara yang manusia tertentu cuba memperkemaskan atau membetulkan lagi al-Quran walaupun Allah telah jelas mengatakan al-Quran telah sempurna dan Dia tidak meninggalkan sesuatu pun bagi manusia tunduk patuh kepadaNya. Banyak perkara yang diajar oleh jurucakap-jurucakap tidak resmi itu adalah dipetik dari tulisan orang-orang dahulu kala beratus-ratus tahun dahulu dan tidak di usul kesasihannya.
Ikut Buta
Ramai orang yang mengaku Islam yang menuntut dengan juru-jurucakap tidak resmi ini mengikut bulat-bulat apa yang di ajarkan tanpa usul periksa atau dirujuk kepada Quran. Walaupun kebanyakan perkara jelas bercanggah dengan Quran, mereka masih percaya kepada jurucakap tersebut dan meragui Quran. Mereka takut untuk merujuk sendiri kepada Quran kerana telah diajar bahawa belajar Quran mestilah melalui guru.
Mereka mengambil habr (ulama agama) mereka, dan rahib-rahib mereka, sebagai pemelihara-pemelihara selain daripada Allah, dan al-Masih, putera Mariam; dan mereka diperintah untuk menyembah hanya Tuhan Yang Satu; tidak ada tuhan melainkan Dia; Dia disanjung, di atas apa yang mereka menyekutukan (9:31)
Bacaan lanjut : http://www.e-bacaan.com/artikel_iktibarquran.htm
Sedangkan Allah mengatakan
Yang Pemurah, Mengajar al-Qur'an. Dia mencipta manusia, Dan Dia mengajarnya Penjelasan. (55:1-4)
Tidak boleh Soal
Apa yang di tentukan, dicakap dan diulas oleh jurucakap-jurucakap tidak resmi itu tidak boleh dipersoal usahkan untuk dibahas. Biarpun pendapat mereka itu jelas bercanggah dengan apa yang jelas dibawa oleh al-Quran. Semuanya dendaklah diterima sebulat-bulatnya. Sekiranya dipersoalkan, alasan mereka ialah kita bukan ahli dalam ugama, sedangkan mereka adalah lulusan universiti Islam dari negara Timur Tengah dan telah berguru dengan sheikh-skeikh muktabar bertahun-tahun. Apakah kriteria sheikh-sheikh muktabar tidak diperincikan.
RUMUSAN
Penulis ingin menyarankan pembaca supaya jangan terpengaruh sangat dengan jurucakap-jurucakap tidak resmi dalam menjadi seorang yang Muslim yang benar-benar tunduk patuh kepada Pencipta dan Pemelihara yang satu. Quran adalah untuk semua untuk dibaca, difahami dan diikuti, bukan diberi hak kepada sekumpulan orang-orand tertentu sahaja.
Penutup
Satu ketika dulu, di daerah Tumpat, Kelantan patung Budha tidur terbesar di Malaysia diserang oleh panahan petir dengan sengit sekali untuk beberapa hari. Maka ketua sami Budha di situ pergi jumpa salah seorang alim di kawasan itu untuk pertolongan dan nasihat. Mereka disuruh meletakkan senaskah Quran di atas kepala patung Budha tersebut. Dengan itu petir pun berhenti menyerang patung tersebut.
Tidak heranlah ramai orang-orang yang menggantung tulisan-tulisan Quran di dinding rumah mereka. Bertahun-tahun ayat itu digantung, tetapi tidak mengetahui sedikit pun maksud ayat yang digantung.
Sumber: http://www.e-bacaan.com/

Ramai orang yang mengaku Islam cuba menjadi jurucakap tidak resmi Allah dalam hal-hal ugama, terutamanya menentukan hukum-hakam, yang ini haram, yang itu harus, halal dan sebagainya. Mereka juga selalunya menambah kepada apa yang Allah tidak menentukan, walau pun Allah telah mengatakan bahawa Quran itu cukup lengkap dan Dia tidak meninggalkan sesuatu pun dalamnya.
Rasul
Bila disebut rasul, pada lazimnya ia dikaitkan dengan rasul Allah dan selalunya dirujukkan kepada Muhammad, sebagai rasul yang terakhir diutuskan Allah. Maka ramailah orang-orang yang melantik diri mereka sendiri sebagai “jurucakap” Allah yang telah mendarjatkan Muhammad lebih tinggi dari rasul-rasul yang lain walaupun Allah dengan jelas menurunkan ayat berikut.
Dan orang-orang yang percaya kepada Allah, dan rasul-rasul-Nya, dan mereka tidak membeza-bezakan antara seorang pun antara mereka, maka mereka itu, pasti Kami akan memberikan mereka upah mereka; Allah adalah Pengampun, Pengasih. (4:152)
dan beberapa lagi ayat yang menyuruh kita supaya tidak membeza-bezakan antara rasul-rasul.
Tugas rasul hanya menyampaikan. Allah yang memberi petunjuk.
Maka jika mereka mendebat kamu, katakanlah, "Aku menundukkan wajahku kepada Allah, dan sesiapa yang mengikuti aku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi al-Kitab, dan orang-orang ummiy (yang tidak diberi Kitab), "Sudahkah kamu tunduk patuh?" Jika mereka tunduk patuh, mereka mendapat petunjuk yang benar, dan jika mereka berpaling, maka bagi kamu hanyalah untuk menyampaikan; dan Allah melihat hamba-hamba-Nya. (3:20)
Wahai rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu kerana, jika kamu tidak buat, tidaklah kamu menyampaikan Mesej-Nya. Allah melindungi kamu daripada manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang tidak percaya (5:67)
Dan taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada rasul, dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahawa atas rasul Kami hanyalah untuk menyampaikan yang jelas (5:92)
Adalah hanya atas rasul untuk menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu menampakkan, dan apa yang kamu menyembunyikan. (5:99)
Sama ada Kami memperlihatkan kepada kamu sebahagian daripada apa yang Kami menjanjikan mereka, atau Kami mematikan kamu, maka bagi kamu hanyalah untuk menyampaikan, dan bagi Kami memperhitungkan (13:40)
Maka, jika mereka berpaling, bagi kamu hanyalah untuk menyampaikan yang jelas (16:82).
Janganlah menggerakkan lidah kamu dengannya untuk menyegerakannya, Atas Kamilah untuk mengumpulkannya, dan untuk membacakannya. Maka, apabila Kami membacanya, kamu ikutlah bacaannya. Kemudian atas Kamilah untuk menjelaskannya. (75:16-19)
Tugas manusia hanya untuk tunduk patuh kepada perintah Allah. Untuk tunduk patuh kepada perintah Allah kita dikehendakki memahami suruhan dan larangan yang termaktub dalam al-Quran. Untuk memahami, kita hendaklah membaca al-Quran di mana kita dapat memahami suruhan dan larangan dan apa jua yang dianjurkan secara terus, bukan dari tafsiran-tafsiran dari ‘jurucakap-jurucakap” yang tidak resmi.
Bacalah dengan nama Pemelihara kamu yang mencipta, (96:1)
Orang-orang yang kepada mereka Kami memberikan al-Kitab membacanya dengan bacaannya yang benar, mereka mempercayainya; dan sesiapa yang tidak percaya kepadanya, merekalah orang-orang yang rugi. (2:121)
JURUCAKAP TIDAK RASMI
Sekarang ini terdapat banyak orang-orang yang melantik diri sendiri sebagai jurucakap Allah dan rasul, malah sejak beratus-ratus tahun dahulu. Mereka ini biasanya diberi gelaran oleh pengikut-pengikut mereka dengan gelaran ustaz, syeikh, kiai, al-fadhil, mursyidul dan sebagainya. Jurucakap-jurucakap ini telah banyak menanamkan kefahaman berlainan dari mesej sebenar yang telah dibawa oleh rasul dalam al-Quran. Apa saja yang dikatakan oleh mereka ini dipercayai dan di ikuti sepenuhnya tanpa soal atau ragu-ragu walaupun Allah berkata
Dan janganlah mengikuti apa yang kamu tiada pengetahuan mengenainya; pendengaran, dan penglihatan, dan hati - semua itu ditanya. (17:36)
Satu perkara yang paling suka dibuat oleh jurucakap-jurucakap (yang tidak resmi) ialah menentukan hukum, pahala dan dosa terhadap sesuatu perbuatan atau amalan. Walaupun sesuatu perkara tidak dijelaskan atau disentuh langsung dalam al-Quran, jurucakap-jurucakap ini masih mahu menambah kepada al-Quran yang Allah kata sudah lengkap dan sempurna. Mereka melantik diri mereka sebagai jurucakap Allah dalam hal-hal ugama.
Tiada makhluk yang merayap di bumi, tiada burung yang terbang dengan sayap-sayapnya, melainkan mereka adalah umat-umat yang serupa dengan kamu. Kami tidak mengalpakan sesuatu di dalam al-Kitab; kemudian kepada Pemelihara mereka, mereka akan dikumpulkan. (6:38)
Telah sempurna kata-kata Pemelihara kamu dalam kebenaran dan keadilan; tiada yang boleh menukar kata-kata-Nya; Dia Yang Mendengar, Yang Mengetahui. (6:115)
Bacaan lanjut: http://www.e-bacaan.com/artikel_antaraHdanQ.htm
Mereka masih lagi mahu menokok-tambah dengan mengatakan ini haram, itu harus, ini sunat, itu halal dan sebagainya atas nama hukum Islam. Hukum-hukum yang ditentukan juru-jurucakap tersebut adalah rekaan semata-semata dan tidak di resmikan oleh Allah. Apa yang resmi ialah apa yang tertulis dalam Quran.
Sedangkan rasul pun tidak dibenarkan oleh Allah untuk menentukan hukum sendiri, selain daripada apa yang diwahyukan kepadanya.
Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagi kamu, untuk mencari kepuasan hati isteri-isteri kamu? Dan Allah Pengampun, Pengasih. (66:1)
Beratus-ratus buku ditulis berkaitan dengan hukum halal haram, sisebarkan dan di ulaskan oleh jurucakap-jurucakap yang tidak resmi di merata-rata mesjid, madrasah dan majlis-majlis syarahan ugama atas nama islam.
Untuk bacaan lanjut: http://www.e-bacaan.com/artikel_islammasjid.htm
Mereka menyentuh perkara-perkara dari sekecil-kecil perkara sehinggalah sebesar-besarnya dan banyak perkara adalah berlawanan dengan apa yang Allah telah tetapkan atau Allah biarkan tanpa ketetapan untuk kemudahan manusia.
Sebagai contoh, mereka mengatakan bahawa “batal air sembahyang sekiranya menyentuh kemaluan dengan tapak tangan”. Ini diajar di sekolah-sekolah dan ditulis dalam beratus-ratus buku yang kononnya menggariskan hukum Islam. Hukum Islam ciptaan manusia dan dikembangkan oleh jurucakap-jurucakap yang tidak resmi. Hukum rekaan ini tidak terdapat dalam al-Quran. Yang anehnya, menyentuh anjing tidak pula di hukumkan membatal air sembahyang, tetapi menyentuh perempuan (yang dibolehkan kahwin) pula batal, dan bermacam-macam lagi.
Berkaitan dengan anjing pula, mereka mengatakan bahawa anjing itu najis. Sekirannya tersentuh, hendaklah dibasuh tujuh kali dan salah satu daripadanya hendaklah dengan air selut (air bercampur tanah). Allah tidak menetapkan demikian. Mereka juga mengutarakan hadith yang mengatakan kononnya malaikat tidak akan memasukki rumah yang ada anjing. Mana mungkin malaikat takut kepada ciptaan Allah. Disebaliknya Allah menceritakan bagaimana anjing adalah kawan kepada sekumpulan pemuda yang percaya kepada Pemelihara mereka.
Kamu menyangka bahawa mereka jaga, sedang mereka tidur, sementara Kami membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, dan anjing mereka menjulurkan lengannya di ambang. Sekiranya kamu melihat mereka, tentu kamu berpaling daripada mereka, melarikan diri, dan dipenuhi dengan ketakutan yang amat sangat terhadap mereka (18:18)
18:22. Mereka akan berkata, "Tiga, dan anjing mereka yang keempat di antara mereka." Dan mereka berkata, " Lima , dan anjing mereka yang keenam di antara mereka", dengan meneka terhadap yang ghaib. Dan mereka berkata, "Tujuh, dan anjing mereka yang kelapan di antara mereka." Katakanlah, "Pemeliharaku sangat mengetahui bilangan mereka, dan tiada yang mengetahuinya, kecuali sedikit." Maka janganlah berdebat dengan mereka melainkan dalam perdebatan yang lahir, dan janganlah menanyakan seseorang pun antara mereka satu keputusan.
Satu lagi contoh : http://www.e-bacaan.com/artikel_sentuhQ.htm
Inilah diantara perkara-perkara yang manusia tertentu cuba memperkemaskan atau membetulkan lagi al-Quran walaupun Allah telah jelas mengatakan al-Quran telah sempurna dan Dia tidak meninggalkan sesuatu pun bagi manusia tunduk patuh kepadaNya. Banyak perkara yang diajar oleh jurucakap-jurucakap tidak resmi itu adalah dipetik dari tulisan orang-orang dahulu kala beratus-ratus tahun dahulu dan tidak di usul kesasihannya.
Ikut Buta
Ramai orang yang mengaku Islam yang menuntut dengan juru-jurucakap tidak resmi ini mengikut bulat-bulat apa yang di ajarkan tanpa usul periksa atau dirujuk kepada Quran. Walaupun kebanyakan perkara jelas bercanggah dengan Quran, mereka masih percaya kepada jurucakap tersebut dan meragui Quran. Mereka takut untuk merujuk sendiri kepada Quran kerana telah diajar bahawa belajar Quran mestilah melalui guru.
Mereka mengambil habr (ulama agama) mereka, dan rahib-rahib mereka, sebagai pemelihara-pemelihara selain daripada Allah, dan al-Masih, putera Mariam; dan mereka diperintah untuk menyembah hanya Tuhan Yang Satu; tidak ada tuhan melainkan Dia; Dia disanjung, di atas apa yang mereka menyekutukan (9:31)
Bacaan lanjut : http://www.e-bacaan.com/artikel_iktibarquran.htm
Sedangkan Allah mengatakan
Yang Pemurah, Mengajar al-Qur'an. Dia mencipta manusia, Dan Dia mengajarnya Penjelasan. (55:1-4)
Tidak boleh Soal
Apa yang di tentukan, dicakap dan diulas oleh jurucakap-jurucakap tidak resmi itu tidak boleh dipersoal usahkan untuk dibahas. Biarpun pendapat mereka itu jelas bercanggah dengan apa yang jelas dibawa oleh al-Quran. Semuanya dendaklah diterima sebulat-bulatnya. Sekiranya dipersoalkan, alasan mereka ialah kita bukan ahli dalam ugama, sedangkan mereka adalah lulusan universiti Islam dari negara Timur Tengah dan telah berguru dengan sheikh-skeikh muktabar bertahun-tahun. Apakah kriteria sheikh-sheikh muktabar tidak diperincikan.
RUMUSAN
Penulis ingin menyarankan pembaca supaya jangan terpengaruh sangat dengan jurucakap-jurucakap tidak resmi dalam menjadi seorang yang Muslim yang benar-benar tunduk patuh kepada Pencipta dan Pemelihara yang satu. Quran adalah untuk semua untuk dibaca, difahami dan diikuti, bukan diberi hak kepada sekumpulan orang-orand tertentu sahaja.
Penutup
Satu ketika dulu, di daerah Tumpat, Kelantan patung Budha tidur terbesar di Malaysia diserang oleh panahan petir dengan sengit sekali untuk beberapa hari. Maka ketua sami Budha di situ pergi jumpa salah seorang alim di kawasan itu untuk pertolongan dan nasihat. Mereka disuruh meletakkan senaskah Quran di atas kepala patung Budha tersebut. Dengan itu petir pun berhenti menyerang patung tersebut.
Tidak heranlah ramai orang-orang yang menggantung tulisan-tulisan Quran di dinding rumah mereka. Bertahun-tahun ayat itu digantung, tetapi tidak mengetahui sedikit pun maksud ayat yang digantung.
Sumber: http://www.e-bacaan.com/
Rabu, Mac 10, 2010
Hukum Memakai Kopiah, Songkok dan Serban
Memakai serban dan kopiah adalah sebahagian daripada Sunnah Nabi, ini berdasarkan sabdanya:
Sabda Rasulullah SAW:
دخل النبي صلى الله عليه وسلم مكة يوم الفتح و عليه عمامة سوداء
Maksud: “Nabi SAW memasuki Kota Mekah sewaktu pembebasan Mekah, baginda memakai serban hitam”.
Pemakaian serban dan kopiah sudah sinonim dalam masyarakat Islam di seluruh dunia dan ia juga telah dijadikan amalan seharian masyarakat walaupun di luar urusan ibadah terhadap Allah. Justeru itu, adalah sukar bagi sesetengah individu untuk menukar pemakaian serban dan kopiah kepada pemakaian songkok seperti yang biasa dipakai oleh segelintir masyarakat Melayu.
Telah menjadi budaya masyarakat Islam setempat mengamalkan cara pemakaian songkok atau kopiah mengikut tempat :
a. masyarakat Melayu Islam sebelah Pantai Timur memakai kopiah putih dan serban.
b. masyarakat Melayu Islam sebelah Pantai Barat memakai songkok hitam.
Pada asalnya, kopiah dan songkok itu adalah sama dari segi rupa, bentuk dan warna (berwarna putih atau hitam). Sementara serban pula dipakai bersama dengan kopiah mengikut amalan Rasulullah S.A.W. Setelah perubahan zaman sehingga Zaman Uthmaniyah, bentuk songkok diubahsuai menjadi tarbus. Kini, songkok dalam budaya Melayu difahami dengan rupa hitam dan keras. Manakala, kopiah difahami dengan warna putih dan lembut.
3 PANDANGAN ULAMA’
3.1 PANDANGAN ULAMA’ TERHADAP SERBAN & KOPIAH
Firman Allah Taala dalam Surah Al-A’raf ayat 31
“Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah berhias pada setiap kali kamu ke tempat ibadah ( atau mengerjakan sembahyang ) dan makanlah serta minumlah, dan jangan pula kamu melampau-lampau; sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas”.
Menurut Imam al-Mawardi, maksud berhias di dalam sembahyang ialah memakai secantik-cantik pakaian . Manakala menurut pendapat Imam Abu Hayyan, zahir ayat di atas menunjukkan bahawa berhias dengan secantik-secantik pakaian (termasuklah memakai songkok dan berserban) bukan sahaja dituntut di dalam sembahyang bahkan di luar waktu sembahyang (setiap masa dan ketika) .
Menurut Sheikh Mahmud Syaltut, ketika memberi jawapan kepada soalan berhubung dengan sembahyang tanpa serban, kopiah atau songkok di kepala, beliau berpendapat tidaklah menjadi syarat sah sembahyang dengan menutup kepala atau tidak dan tidak pula disyaratkan jikalau untuk menutup kepala mesti dengan penutup khas. Walaupun begitu, bagi seseorang Islam eloklah dia bersembahyang dengan memakai serban, kopiah atau songkok dengan syarat tidak menutup dahi ketika sujud.
At- Tarmizi dan Muslim meriwayatkan daripada Ja’far bin ‘Amrin bin Huraith, daripada bapanya katanya:
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعليه عمامة سوداء قد أرخى طرفيها بين كتفيه
Maksud: “Aku melihat Rasulullah SAW di yang memakai serban hitam di mana Baginda melabuhkan kedua hujungnya di antara dua bahunya”.
Berkata pengarang kitab Al-Mishbah : Hassan bin Ali dan Ibnu Zubair pernah memakai serban hitam ketika berkhutbah dan begitu juga Anas, Muawiyah, Ammar dan lain-lain lagi. Dan adalah Sa’id bin Musayyib memakai serban hitam pada hari raya puasa dan haji.
Berdasarkan yang demikian, sebahagian ulama berpendapat tidak perlu mengkhususkan dirinya dengan memakai serban hitam sama ada hari Jumaat atau hari-hari yang lain.
Berkata Imam Nawawi : “Memakai warna putih adalah lebih utama. Dan serban putih adalah lebih sesuai sebagai perhiasan para ulama’ pada zaman ini”.
Muslim, At-Tirmizi dan Ibnu Majah meriwayatkan daripada Jabir R.A. katanya :
إن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة وعليه عمامة سوداء
Maksud : “Bahawasanya Nabi S.A.W. memasuki kota Makkah dengan memakai serban hitam.
Dalam hadis Jabir R.A. di atas, Rasulullah SAW memasuki kota Makkah dengan memakai serban hitam dan hadis ini tidak pula menyebutkan adanya ekor serban di antara kedia-dua bahu baginda.
Berkata Ibnu Qayyum : Hadis Jabir ini menunjukkan Baginda SAW tidak selamanya menjuntaikan ekor serban baginda. Selain daripada itu, Baginda juga terkadang melilitkan sebahagian serban itu ke bawah dagu, yang di antara tujuannya ialah menjaga supaya serban itu tidak jatuh dari kepala. Dan tercapailah tujuan memakai serban itu dengan mana-mana cara sekalipun.
Menurut Sheikh Muhammad Rasyid Reda, erti serban sebagaimana yang telah disebutkan oleh sesetengah orang ialah setiap apa yang diikat di kepala sama ada di bawah kopiah, atau di atas songkok, atau yang dililitkan ke atas kopiah, atau sebagainya.
Sheikh Muhammad Rasyid Reda pernah ditanya adakah memakai serban itu sunnah rasulullah SAW dan adakah orang yang memakai serban itu mendapat pahala. Untuk menjawab soalan itu, beliau memberikan jawapan berikut :
”Telah tsabit dalam hadith bahawa Nabi SAW terkadang :
1. memakai serban di atas kopiah, dan inilah sering berlaku
2. memakai serban tanpa kopiah
3. memakai kopiah tanpa serban
Di akhir jawapannya, beliau berkata: Walaupun tidak ada datang perintah atau sumber hukum (yang kuat) supaya mewajibkan memakai serban atas dasar sebagai salah satu hukum agama dan syariat, tetapi barangsiapa yang memakainya dengan niat menyerupai cara Rasulullah SAW berpakaian dan sebagai tanda kasih kepada Baginda SAW, tentulah niat ini mendapat ganjaran pahala.”
Sabda Rasulullah SAW:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يلبس العمامة على القلانس
Maksud : “Sesungguhnya Rasulullah SAW memakai serban bersama kopiah”.
Imam Sayuti Rahimahullah berkata : “Apa yang disebutkan di atas menunjukkan bahawa yang dipakai oleh Nabi SAW dan sahabat RA di bawah serban ialah al-Qalansuah atau kopiah. Kalimat Kopiah yang disebutkan pula menunjukkan bahawa ianya adalah lebih menyerupai sesuatu yang diperbuat dari jenis kain kapas dan bulu.
Al-Baihaqi pernah meriwayatkan daripada Ibnu Umar bahawa Nabi SAW memakai kopiah putih. Ini menjelaskan bahawa pemakaian kopiah juga adalah sunnah Rasulullah SAW.
Kesimpulannya Sesungguhnya menurut kajian para ahli dan pentahqiq hadith, tidak ada satu pun hadith yang sahih mahupun hassan mengenai KEUTAMAAN/KELEBIHAN memakai serban
melainkan disebut di dalam hadith-hadith bahawa Rasulullah memakainya.Dan sifat
hadith-hadith yang disebutkan di atas bertentangan dengan hadith mutawatir yang
lain.
3.2 PANDANGAN ULAMA’ TERHADAP SONGKOK
Songkok harus dipakai kerana tidak bertentangan dengan Islam dan ia merupakan pakaian kebiasaan yang dipakai oleh masyarakat Melayu terutama semasa solat dan dipakaikan bersama Baju Melayu. Asasnya kerana ia berkonsepkan sebagai penutup kepala. Perbuatan menutup kepala bagi lelaki adalah Sunnah Nabi berdasarkan mafhum hujah berikut:
Menurut Imam As-Sayuti yang diringkaskan dari buku ”Al-Hawi”nya (2:111-112) : Berdasarkan keterangan lalu, Nabi Muhammad SAW pernah memakai kopiah putih dan begitu juga Anas bin Malik RA. Dipadankan juga daripadanya bahawa sekiranya serban atau kopiah tidak ada, Nabi SAW tidak akan membiarkan kepala Baginda yang mulia terdedah begitu sahaja, akan tetapi Baginda akan membalutnya sehingga sampai ke dahi”.
Berdasarkan pendapat Imam Sayuti di atas, pemakaian songkok adalah diharuskan sebagai satu konsep menutup kepala sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang tidak akan membiarkan kepala Baginda yang mulia terdedah begitu sahaja tanpa penutup kepala.
Berdasarkan kepada hujah Imam Sayuti sebelum ini berkenaan dengan maksud Qalansuah (bahawa ianya adalah lebih menyerupai sesuatu yang diperbuat dari jenis kain kapas dan bulu), songkok juga boleh dikategorikan sebagai Qalansuah.
RUMUSAN / KESIMPULAN ISU
Berdasarkan kepada hujah-hujah atau dalil-dalil di atas jelaslah bahawa pemakaian serban dan kopiah adalah merupakan sunnah Rasulullah SAW. Ia perlu dihayati setiap masa sama ada di dalam atau di luar solat. Di samping ianya menunjukkan ketaqwaan, kehebatan, kewibawaan, keilmuan si pemakainya.
Berdasarkan fakta di atas juga pemakaian songkok juga diharuskan kerana tidak ada sebarang percanggahan dengan hukum Islam dan ianya berkonsepkan penutup kepala seperti serban dan kopiah. Ia merupakan budaya masyarakat setempat di mana mereka memakai songkok ketika beribadah dan ketika menyambut hari-hari kebesaran Islam.
Merujuk kepada Surat Pekeliling Ikhtisas Bil.7/2001 (Garis Panduan Pakaian Guru Ketika Bertugas di Sekolah bertarikh 7hb Jun 2001), pihak Kementerian Pelajaran Malaysia menggalakkan pemakaian songkok untuk menunjukkan keseragaman dalam berpakaian kepada penjawat awam semasa bertugas atau menjalankan urusan rasmi.
Adalah diharapkan pegawai & kakitangan KPM mematuhi pekeliling dengan menyeragamkan pemakaian songkok kerana ia tidak bercanggah dengan syariat Islam disamping mentaati dan mematuhi Ulil Amri
Walaubagaimanapun sekiranya pegawai & kakitangan KPM ingin memakai serban dan kopiah , bolehlah berbuat demikian di luar tugas rasmi.
Sekiranya individu muslim itu tidak memakai songkok,ianya tidak menjejaskan keimanan, ketaqwaan , kehebatan dan kelimuan individu tersebut. Namun, pemakaiannya adalah lebih baik.
Pemakaian songkok juga diharuskan dengan syarat ia bersih dari sebarang kekotoran dan najis. Ciri-ciri utama pakaian Rasulullah S.A.W ialah menutup aurat, tidak bermegah-megah, tidak tasyabbuh (menyerupai) pakaian agama lain disertai dengan iman, ihsan dan taqwa. Itulah pakaian Islam. Tidak tertakhluk kepada jubah atau serban sahaja.
Mengenai alasan songkok tidak boleh dibasuh apabila terkena najis, itu bergantung kepada penjagaan seseorang. Manakala alasan songkok yang lama tidak dibasuh adalah najis adalah disandarkan kepada syak dan waham semata-mata. Sedangkan kaedah sebenar usul fiqh “keyakinan tidak boleh dihilangkan dengan syak”.
Sumber: http://ustazmelaka.net/
Sabda Rasulullah SAW:
دخل النبي صلى الله عليه وسلم مكة يوم الفتح و عليه عمامة سوداء
Maksud: “Nabi SAW memasuki Kota Mekah sewaktu pembebasan Mekah, baginda memakai serban hitam”.
Pemakaian serban dan kopiah sudah sinonim dalam masyarakat Islam di seluruh dunia dan ia juga telah dijadikan amalan seharian masyarakat walaupun di luar urusan ibadah terhadap Allah. Justeru itu, adalah sukar bagi sesetengah individu untuk menukar pemakaian serban dan kopiah kepada pemakaian songkok seperti yang biasa dipakai oleh segelintir masyarakat Melayu.
Telah menjadi budaya masyarakat Islam setempat mengamalkan cara pemakaian songkok atau kopiah mengikut tempat :
a. masyarakat Melayu Islam sebelah Pantai Timur memakai kopiah putih dan serban.
b. masyarakat Melayu Islam sebelah Pantai Barat memakai songkok hitam.
Pada asalnya, kopiah dan songkok itu adalah sama dari segi rupa, bentuk dan warna (berwarna putih atau hitam). Sementara serban pula dipakai bersama dengan kopiah mengikut amalan Rasulullah S.A.W. Setelah perubahan zaman sehingga Zaman Uthmaniyah, bentuk songkok diubahsuai menjadi tarbus. Kini, songkok dalam budaya Melayu difahami dengan rupa hitam dan keras. Manakala, kopiah difahami dengan warna putih dan lembut.
3 PANDANGAN ULAMA’
3.1 PANDANGAN ULAMA’ TERHADAP SERBAN & KOPIAH
Firman Allah Taala dalam Surah Al-A’raf ayat 31
“Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah berhias pada setiap kali kamu ke tempat ibadah ( atau mengerjakan sembahyang ) dan makanlah serta minumlah, dan jangan pula kamu melampau-lampau; sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas”.
Menurut Imam al-Mawardi, maksud berhias di dalam sembahyang ialah memakai secantik-cantik pakaian . Manakala menurut pendapat Imam Abu Hayyan, zahir ayat di atas menunjukkan bahawa berhias dengan secantik-secantik pakaian (termasuklah memakai songkok dan berserban) bukan sahaja dituntut di dalam sembahyang bahkan di luar waktu sembahyang (setiap masa dan ketika) .
Menurut Sheikh Mahmud Syaltut, ketika memberi jawapan kepada soalan berhubung dengan sembahyang tanpa serban, kopiah atau songkok di kepala, beliau berpendapat tidaklah menjadi syarat sah sembahyang dengan menutup kepala atau tidak dan tidak pula disyaratkan jikalau untuk menutup kepala mesti dengan penutup khas. Walaupun begitu, bagi seseorang Islam eloklah dia bersembahyang dengan memakai serban, kopiah atau songkok dengan syarat tidak menutup dahi ketika sujud.
At- Tarmizi dan Muslim meriwayatkan daripada Ja’far bin ‘Amrin bin Huraith, daripada bapanya katanya:
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعليه عمامة سوداء قد أرخى طرفيها بين كتفيه
Maksud: “Aku melihat Rasulullah SAW di yang memakai serban hitam di mana Baginda melabuhkan kedua hujungnya di antara dua bahunya”.
Berkata pengarang kitab Al-Mishbah : Hassan bin Ali dan Ibnu Zubair pernah memakai serban hitam ketika berkhutbah dan begitu juga Anas, Muawiyah, Ammar dan lain-lain lagi. Dan adalah Sa’id bin Musayyib memakai serban hitam pada hari raya puasa dan haji.
Berdasarkan yang demikian, sebahagian ulama berpendapat tidak perlu mengkhususkan dirinya dengan memakai serban hitam sama ada hari Jumaat atau hari-hari yang lain.
Berkata Imam Nawawi : “Memakai warna putih adalah lebih utama. Dan serban putih adalah lebih sesuai sebagai perhiasan para ulama’ pada zaman ini”.
Muslim, At-Tirmizi dan Ibnu Majah meriwayatkan daripada Jabir R.A. katanya :
إن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة وعليه عمامة سوداء
Maksud : “Bahawasanya Nabi S.A.W. memasuki kota Makkah dengan memakai serban hitam.
Dalam hadis Jabir R.A. di atas, Rasulullah SAW memasuki kota Makkah dengan memakai serban hitam dan hadis ini tidak pula menyebutkan adanya ekor serban di antara kedia-dua bahu baginda.
Berkata Ibnu Qayyum : Hadis Jabir ini menunjukkan Baginda SAW tidak selamanya menjuntaikan ekor serban baginda. Selain daripada itu, Baginda juga terkadang melilitkan sebahagian serban itu ke bawah dagu, yang di antara tujuannya ialah menjaga supaya serban itu tidak jatuh dari kepala. Dan tercapailah tujuan memakai serban itu dengan mana-mana cara sekalipun.
Menurut Sheikh Muhammad Rasyid Reda, erti serban sebagaimana yang telah disebutkan oleh sesetengah orang ialah setiap apa yang diikat di kepala sama ada di bawah kopiah, atau di atas songkok, atau yang dililitkan ke atas kopiah, atau sebagainya.
Sheikh Muhammad Rasyid Reda pernah ditanya adakah memakai serban itu sunnah rasulullah SAW dan adakah orang yang memakai serban itu mendapat pahala. Untuk menjawab soalan itu, beliau memberikan jawapan berikut :
”Telah tsabit dalam hadith bahawa Nabi SAW terkadang :
1. memakai serban di atas kopiah, dan inilah sering berlaku
2. memakai serban tanpa kopiah
3. memakai kopiah tanpa serban
Di akhir jawapannya, beliau berkata: Walaupun tidak ada datang perintah atau sumber hukum (yang kuat) supaya mewajibkan memakai serban atas dasar sebagai salah satu hukum agama dan syariat, tetapi barangsiapa yang memakainya dengan niat menyerupai cara Rasulullah SAW berpakaian dan sebagai tanda kasih kepada Baginda SAW, tentulah niat ini mendapat ganjaran pahala.”
Sabda Rasulullah SAW:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يلبس العمامة على القلانس
Maksud : “Sesungguhnya Rasulullah SAW memakai serban bersama kopiah”.
Imam Sayuti Rahimahullah berkata : “Apa yang disebutkan di atas menunjukkan bahawa yang dipakai oleh Nabi SAW dan sahabat RA di bawah serban ialah al-Qalansuah atau kopiah. Kalimat Kopiah yang disebutkan pula menunjukkan bahawa ianya adalah lebih menyerupai sesuatu yang diperbuat dari jenis kain kapas dan bulu.
Al-Baihaqi pernah meriwayatkan daripada Ibnu Umar bahawa Nabi SAW memakai kopiah putih. Ini menjelaskan bahawa pemakaian kopiah juga adalah sunnah Rasulullah SAW.
Kesimpulannya Sesungguhnya menurut kajian para ahli dan pentahqiq hadith, tidak ada satu pun hadith yang sahih mahupun hassan mengenai KEUTAMAAN/KELEBIHAN memakai serban
melainkan disebut di dalam hadith-hadith bahawa Rasulullah memakainya.Dan sifat
hadith-hadith yang disebutkan di atas bertentangan dengan hadith mutawatir yang
lain.
3.2 PANDANGAN ULAMA’ TERHADAP SONGKOK
Songkok harus dipakai kerana tidak bertentangan dengan Islam dan ia merupakan pakaian kebiasaan yang dipakai oleh masyarakat Melayu terutama semasa solat dan dipakaikan bersama Baju Melayu. Asasnya kerana ia berkonsepkan sebagai penutup kepala. Perbuatan menutup kepala bagi lelaki adalah Sunnah Nabi berdasarkan mafhum hujah berikut:
Menurut Imam As-Sayuti yang diringkaskan dari buku ”Al-Hawi”nya (2:111-112) : Berdasarkan keterangan lalu, Nabi Muhammad SAW pernah memakai kopiah putih dan begitu juga Anas bin Malik RA. Dipadankan juga daripadanya bahawa sekiranya serban atau kopiah tidak ada, Nabi SAW tidak akan membiarkan kepala Baginda yang mulia terdedah begitu sahaja, akan tetapi Baginda akan membalutnya sehingga sampai ke dahi”.
Berdasarkan pendapat Imam Sayuti di atas, pemakaian songkok adalah diharuskan sebagai satu konsep menutup kepala sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang tidak akan membiarkan kepala Baginda yang mulia terdedah begitu sahaja tanpa penutup kepala.
Berdasarkan kepada hujah Imam Sayuti sebelum ini berkenaan dengan maksud Qalansuah (bahawa ianya adalah lebih menyerupai sesuatu yang diperbuat dari jenis kain kapas dan bulu), songkok juga boleh dikategorikan sebagai Qalansuah.
RUMUSAN / KESIMPULAN ISU
Berdasarkan kepada hujah-hujah atau dalil-dalil di atas jelaslah bahawa pemakaian serban dan kopiah adalah merupakan sunnah Rasulullah SAW. Ia perlu dihayati setiap masa sama ada di dalam atau di luar solat. Di samping ianya menunjukkan ketaqwaan, kehebatan, kewibawaan, keilmuan si pemakainya.
Berdasarkan fakta di atas juga pemakaian songkok juga diharuskan kerana tidak ada sebarang percanggahan dengan hukum Islam dan ianya berkonsepkan penutup kepala seperti serban dan kopiah. Ia merupakan budaya masyarakat setempat di mana mereka memakai songkok ketika beribadah dan ketika menyambut hari-hari kebesaran Islam.
Merujuk kepada Surat Pekeliling Ikhtisas Bil.7/2001 (Garis Panduan Pakaian Guru Ketika Bertugas di Sekolah bertarikh 7hb Jun 2001), pihak Kementerian Pelajaran Malaysia menggalakkan pemakaian songkok untuk menunjukkan keseragaman dalam berpakaian kepada penjawat awam semasa bertugas atau menjalankan urusan rasmi.
Adalah diharapkan pegawai & kakitangan KPM mematuhi pekeliling dengan menyeragamkan pemakaian songkok kerana ia tidak bercanggah dengan syariat Islam disamping mentaati dan mematuhi Ulil Amri
Walaubagaimanapun sekiranya pegawai & kakitangan KPM ingin memakai serban dan kopiah , bolehlah berbuat demikian di luar tugas rasmi.
Sekiranya individu muslim itu tidak memakai songkok,ianya tidak menjejaskan keimanan, ketaqwaan , kehebatan dan kelimuan individu tersebut. Namun, pemakaiannya adalah lebih baik.
Pemakaian songkok juga diharuskan dengan syarat ia bersih dari sebarang kekotoran dan najis. Ciri-ciri utama pakaian Rasulullah S.A.W ialah menutup aurat, tidak bermegah-megah, tidak tasyabbuh (menyerupai) pakaian agama lain disertai dengan iman, ihsan dan taqwa. Itulah pakaian Islam. Tidak tertakhluk kepada jubah atau serban sahaja.
Mengenai alasan songkok tidak boleh dibasuh apabila terkena najis, itu bergantung kepada penjagaan seseorang. Manakala alasan songkok yang lama tidak dibasuh adalah najis adalah disandarkan kepada syak dan waham semata-mata. Sedangkan kaedah sebenar usul fiqh “keyakinan tidak boleh dihilangkan dengan syak”.
Sumber: http://ustazmelaka.net/
Langgan:
Catatan (Atom)