Selasa, November 03, 2009

Hikmah Ibadah Haji

Diantara Asmaul Husna yang dimiliki Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Al-Hakim yang bermakna : "Yang menetapkan Hukum, atau Yang mempunyai sifat Hikmah, di mana Allah tidak berkata dan bertindak dengan sia-sia. Oleh karena itulah semua syari'at Allah Subhanahu wa Ta'ala mempunyai kebaikan yang besar dan manfaat yang banyak bagi hamba-Nya di dunia seperti kebagusan hati, ketenangan jiwa dan kebaikan keadaan. Juga akibat yang baik dan kemenangan yang besar di kampung kenikmatan (akhirat) dengan melihat wajah-Nya dan mendapatkan ridha-Nya.

Demikian pula haji, sebuah ibadah tahunan yang besar yang Allah syari'atkan bagi para hamba-Nya, mempunyai berbagai manfaat yang besar dan tujuan yang besar pula, yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat. Dan diantara hikmah ibadah haji ini adalah.

Mengikhlaskan Seluruh Ibadah

Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menghadapkan hati kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang diibadahi dengan haq, kecuali Dia dan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada tandingan-Nya.

Dan hal ini telah diisyaratkan dalam firman-Nya.

"Artinya : Dan ingatlah ketika Kami menempatkan tempat Baitullah untuk Ibrahim dengan menyatakan ; "Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apapun dan sucikan rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, beribadah, ruku dan sujud" [Al-Hajj : 26]

Mensucikan rumah-Nya di dalam hal ini adalah dengan cara beribadah semata-mata kepada Allah di dekat rumah-Nya (Ka'bah) yang mulia, mebersihkan sekitar Ka'bah dari berhala-berhala, patung-patung, najis-najis yang Allah Subhanahu wa Ta'ala haramkan serta dari segala hal yang mengganggu orang-orang yang sedang menjalankan haji atau umrah atau hal-hal lain yang menyibukkan (melalaikan, -pent) dari tujuan mereka.

Mendapat Ampunan Dosa-Dosa Dan Balasan Jannah

"Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Satu umrah sampai umrah yang lain adalah sebagai penghapus dosa antara keduanya dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali jannah" [HR Bukhari dan Muslim, Bahjatun Nanzhirin no. 1275]

"Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata : "Aku mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa berhaji ke Baitullah ini karena Allah, tidak melakukan rafats dan fusuuq, niscaya ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya" [HR Bukhari]

Rafats : jima' ; pendahuluannya dan ucapan kotor, Fusuuq : kemaksiatan

Sesungguhnya barangsiapa mendatangi Ka'bah, kemudian menunaikan haji atau umrah dengan baik, tanpa rafats dan fusuuq serta dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosa-dosanya dan menuliskan jannah baginya. Dan hal inilah yang didambakan oleh setiap mu'min dan mu'minah yaitu meraih keberuntungan berupa jannah dan selamat dari neraka.

Menyambut Seruan Nabi Ibrahima Alaihissalam

"Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh"[Al-Hajj : 27]

Nabi Ibrahim Alaihissalam telah menyerukan (agar berhaji) kepada manusia. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki (untuk bisa) mendengar seruan Nabi Ibrahim Alaihissalam tersebut dan menyambutnya. Hal itu berlangsung semenjak zaman Nabi Ibrahim hingga sekarang.

Menyaksikan Berbagai Manfaat Bagi Kaum Muslimin

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : "Agar supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka" [Al-Hajj : 28]

Alah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan manfaat-manfaat dengan muthlaq (secara umum tanpa ikatan) dan mubham (tanpa penjelasan) karena banyaknya dan besarnya menafaat-manfaat yang segera terjadi dan nanti akan terjadi baik duniawi maupun ukhrawi.

Dan diantara yang terbesar adalah menyaksikan tauhid-Nya, yakni mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata-mata. Mereka datang dengan niat mencari wajah-Nya yang mulia bukan karena riya' (dilihat orang lain) dan juga bukan karena sum'ah (dibicarakan orang lain). Bahkan mereka betauhid dan ikhlas kepada-Nya, serta mengikrarkan (tauhid) di antara hamba-hamba- Nya, dan saling menasehati di antara orang-orang yang datang (berhaji dan sebagainya,- pent) tentangnya (tauhid).

Mereka thawaaf mengelilingi Ka'bah, mengagungkan- Nya, menjalankan shalat di rumah-Nya, memohon karunia-Nya, berdo'a supaya ibadah haji mereka diterima, dosa-dosa mereka diampuni, dikembalikan dengan selamat ke negara masing-masing dan diberi anugerah kembali lagi untuk berdo'a dan merendah diri kepda-Nya.

Mereka mengucapkan talbiyah dengan keras sehingga di dengar oleh orang yang dekat ataupun yang jauh, dan yang lain bisa mempelajarinya agar mengetahui maknanya, merasakannya, mewujudkan di dalam hati, lisan dan amalan mereka. Dan bahwa maknanya adalah : Mengikhlaskan ibadah semata-mata untuk Allah dan beriman bahwa Dia adalah 'ilah mereka yang haq, Pencipta mereka, Pemberi rizki mereka, Yang diibadahi sewaktu haji dan lainnya.

Saling Mengenal Dan Saling Menasehati

Dan diantara hikmah haji adalah bahwa kaum muslimin bisa saling mengenal dan saling berwasiat dan menasehati dengan al-haq. Mereka datang dari segala penjuru, dari barat, timur, selatan dan utara Makkah, berkumpul di rumah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tua, di Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di Makkah. Mereka saling mengenal, saling menasehati, sebagian mengajari yang lain, membimbing, menolong, membantu untuk maslahat-maslahat dunia akhirat, maslahat taklim tata cara haji, shalat, zakat, maslahat bimbingan, pengarahan dan dakwah ke jala Allah.

Mereka bisa mendengar dari para ulama, apa yang bermanfaat bagi mereka yang di sana terdapat petunjuk dan bimbingan menuju jalan yang lurus, jalan kebahagiaan menuju tauhidullah dan ikhlas kepada-Nya, menuju ketaatan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengetahui kemaksiatan untuk dijauhi, dan supaya mereka mengetahui batas-batas Allah dan mereka bisa saling menolong di dalam kebaikan dan taqwa.

Mempelajari Agama Allah Subhanahu wa Ta'ala

Dan diantara manfaat haji yang besar adalah bahwa mereka bisa mempelajari agama Allah dilingkungan rumah Allah yang tua, dan di lingkungann masjid Nabawi dari para ulama dan pembimbing serta memberi peringatan tentang apa yang mereka tidak ketahui mengenai hukum-hukum agama, haji, umrah dan lainnya. Sehingga mereka bisa menunaikan kewajiban mereka dengan ilmu.

Dari Makkah inilah tertib ilmu itu, yaitu ilmu tauhid dan agama. Kemudian (berkembang) dari Madinah, dari seluruh jazirah ini dan dari seluruh negeri-negeri Allah Subhanahu wa Ta'ala yang ada ilmu dan ahli ilmu. Namun semua asalnya adalah dari sini, dari lingkungan rumah Allah yang tua.

Maka wajib bagi para ulama dan da'i, dimana saja mereka berada, terlebih lagi di lingkungan rumah Allah Subhanahu wa Ta'ala ini, untuk mengajari manusia, orang-orang yang menunaikan haji dan umrah, orang-orang asli dan pendatang serta para penziarah, tentang agama dan manasik haji mereka.

Seorang muslim diperintahkan untuk belajar, bagaimanapun (keadaannya) ia, dimana saja dan kapan saja ; tetapi di lingkungan rumah Allah yang tua, urusan ini (belajar agama) lebih penting dan mendesak.

Dan di antara tanda-tanda kebaikan dan kebahagian seseorang adalah belajar tentang agama Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi bersabda : "Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala memperoleh kebaikan, niscaya Dia menjadikan faqih terhadap agama" [HR Bukhari, Kitab Al-Ilmi 3 bab : 14]

Di sini, di negeri Allah, di negerimu dan di negeri mana saja, jika engkau dapati seorang alim ahli syari'at Allah, maka pergunakanlah kesempatan. Janganlah engkau takabur dan malas. Karena ilmu itu tidak bisa diraih oleh orang-orang yang takabur, pemalas, lemah serta pemalu. Ilmu itu membutuhkan kesigapan dan kemauan yang tinggi.

Mundur dari menuntut ilmu, itu bukanlah sifat malu, tetapi suatu kelemahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan Allah tidak malu dari kebenaran" [Al-Ahzab : 53]

Karenanya seorang mukmin dan mukminah yang berpandangan luas, tidak akan malu dalam bab ini ; bahkan ia maju, bertanya, menyelidiki dan menampakkan kemusykilan yang ia miliki, sehingga hilanglah kemusykilan tersebut.

Menyebarkan Ilmu

Di antara manfaat haji adalah menyebarkan ilmu kepada saudara-saudaranya yang melaksanakan ibadah haji dan teman-temannya seperjalanan, yang di mobil, di pesawat terbang, di tenda, di Mekkah dan di segala tempat. Ini adalah kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala anugerahkan. Engkau bisa menyebarkan ilmu-mu dan menjelaskan apa yang engkau miliki, akan tetapi haruslah dengan apa yang engkau ketahui berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan istimbath ahli ilmu dari keduanya. Bukan dari kebodohan dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Memperbanyak Ketaatan

Di antara manfaat haji adalah memperbanyak shalat dan thawaf, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka ; hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka berthawaf sekeliling rumah yang tua itu (Ka'bah)" [Al-Hajj : 29]

Maka disyariatkan bagi orang yang menjalankan haji dan umrah untuk memperbanyak thawaf semampunya dan memperbanyak shalat di tanah haram. Oleh karena itu perbanyaklah shalat, qira'atul qur'an, tasbih, tahlil, dzikir. Juga perbanyaklah amar ma'ruf nahi mungkar dan da'wah kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala di mana banyak orang berkumpul dari Afrika, Eropa, Amerika, Asia dan lainnya. Maka wajib bagi mereka untuk mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Menunaikan Nadzar

Walaupun nadzar itu sebaiknya tidak dilakukan, akan tetapi seandainya seseorang telah bernadzar untuk melakukan ketaatan, maka wajib baginya untuk memenuhinya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Barangsiapa bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaati-Nya" [HR Bukhari]

Maka apabila seseorang bernadzar di tanah haram ini berupa shalat, thawaf ataupun ibadah lainnya, maka wajib baginya untuk menunaikannya di tanah haram ini.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar" [Al-Hajj : 29]

Menolong Dan Berbuat Baik Kepada Orang Miskin

Di antara manfaat haji adalah bisa menolong dan berbuat baik kepada orang miskin baik yang sedang menjalankan haji atau tidak di negeri yang aman ini.

Seseorang dapat mengobati orang sakit, menjenguknya, menunjukkan ke rumah sakit dan menolongnya dengan harta serta obat.

Ini semua termasuk manfaat-manfaat haji.

"Artinya : ….agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka" [Al-Hajj
: 28]

Memperbanyak Dzikir Kepada Allah

Di negeri yang aman ini hendaklah memperbanyak dzikir kepada Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk dan bebaring, dengan tasbih (ucapan Subhanallah) , hamdalah (ucapan Alhamdulillah) , tahlil (ucapan Laa ilaaha ilallah), takbir (ucapan Allahu Akbar) dan hauqallah (ucapan Laa haula wa laa quwata illa billah).

"Artinya : Dari Abu Musa Al-As'ari Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dan yang tidak mengingat-Nya adalah sebagai orang hidup dan yang mati". [HR Bukhari, Bahjatun Nadzirin no. 1434]

Berdo'a Kepada-Nya

Di antara manfaat haji, hendaknya bersungguh-sungguh merendahkan diri dan terus menerus berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, agar Dia menerima amal, membereskan hati dan perbuatan ; agar Dia menolong untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan memperbagus ibadah kepada-Nya ; agar Dia menolong untuk menunaikan kewajiban dengan sifat yang Dia ridhai serta agar Dia menolong untuk berbuat baik kepada hamba-hamba- Nya.

Menunaikan Manasik Dengan Sebaik-Baiknya

Di antara manfaat haji, hendaknya melaksanakannya dengan sesempurna mungkin, dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin baik sewaktu melakukan thawaf, sa'i, wukuf di Arafah, berada di Muzdalifah, melempar jumrah, maupun sewaktu shalat, qira'atul qur'an, berdzikir, berdo'a dan lainnya. Juga hendaknya mengupayakannya dengan kosentrasi dan ikhlas.

Menyembelih Kurban

Di antara manfaat haji adalah menyembelih (binatang) kurban, baik yang wajib tatkala berihram tammatu dan qiran, maupun tidak wajib yaitu untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sewaktu haji wada' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berkurban 100 ekor binatang. Para sahabat juga menyembelih kurban. Kurban itu adalah suatu ibadah, karena daging kurban dibagikan kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan di hari-hari Mina dan lainnya.

Demikianlah sebagian hikmah dari ibadah haji (rukun Islam yang ke lima) mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaatnya, dan senantiasa diberi petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta'ala serta diberi kemudahan untuk menunaikannya.

Amin

Sumber: http://aqilaalya.multiply.com/

Jumaat, Oktober 23, 2009

Iman

Kisah 1

Di zaman Nabi Allah Sulaiman berlaku satu peristiwa, apabila Nabi Allah Sulaiman nampak seekor semut melata di atas batu; lantas Nabi Allah Sulaiman merasa hairan bagaimana semut ini hendak hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir yang tandus. Nabi Allah Sulaiman pun bertanya kepada semut: " Wahai semut apakah engkau yakin ada makanan cukup untuk kamu".

Semut pun menjawab: "Rezeki di tangan ALLAH, aku percaya rezeki di tangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di padang pasir yang tandus ini ada rezeki untuk ku". Lantas Nabi Allah Sulaiman pun bertanya: " Wahai semut, berapa banyakkah engkau makan? Apakah yang engkau gemar makan? Dan banyak mana engkau makan dalam sebulan?"

Jawab semut: "Aku makan hanya sekadar sebiji gandum sebulan".
Nabi Allah Sulaiman pun mencadangkan: "Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tak payah kamu melata di atas batu, aku boleh tolong".
Nabi Allah Sulaiman pun mengambil satu bekas, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalam bekas; kemudian Nabi ambil gandum sebiji, dibubuh dalam bekas dan tutup bekas itu. Kemudian Nabi tinggal semut didalam bekas dengan sebiji gandum selama satu bulan.

Bila cukup satu bulan Nabi Allah Sulaiman lihat gandum sebiji tadi hanya dimakan setengah sahaja oleh semut, lantas Nabi Allah Sulaiman menemplak semut: "Kamu rupanya berbohong pada aku!. Bulan lalu kamu kata kamu makan sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan tapi kamu makan setengah".

Jawab semut: "Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum sebulan, kerana makanan itu aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya daripada Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku. Tetapi bila kamu masukkan aku dalam bekas yang tertutup, rezeki aku bergantung pada kamu dan aku tak percaya kepada kamu, sebab itulah aku makan setengah sahaja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa". Itulah Iman Semut!!

Kisah 2

Di zaman Imam Suffian, ada seorang hamba Allah yang kerjanya mengorek kubur orang mati. Kerja korek kubur orang mati bukan kerja orang ganjil. Bila ada orang mati, mayat terpaksa ditanam, oleh itu kubur perlu digali dulu. Tetapi yang ganjil mengenai hamba Allah ini ialah dia tidak gali kubur untuk tanam mayat.

Sebaliknya apabila orang mati sudah ditanam, waris sudah lama balik kerumah dan Munkar Nakir sudah menyoal, barulah penggali ini datang ke kubur untuk korek balik.

Dia nak tengok macam mana rupa mayat setelah di INTERVIEW oleh Munkar Nakir. Dia korek 1 kubur, 2 kubur, 3 kubur, 10 kubur, 50 kubur sampai 100 kubur. Lepas itu, penggali pergi kepada Imam Suffian dan bertanya kepadanya: "Ya Imam, kenapakah daripada 100kubur orang Islam yang aku gali, dua sahaja yang mana mayat di dalamnya masih berhadap kiblat. Yang 98 lagi sudah beralih ke belakang?".

Jawab Imam Suffian:" Diakhir zaman hanya 2 dari 100 umat Islam yang percaya rezeki itu di tangan Allah. 98 orang lagi tidak percaya bahawa rezeki di tangan Tuhan". Itulah sebabnya apabila umat Islam tertekan dengan SOGOKAN duit yang banyak, biasanya, iman dia akan beralih. Nyatalah iman semut lebih kuat dari iman manusia.

Salam antara Lelaki dengan Perempuan

Salam lelaki kepada perempuan dan sebaliknya:

1. Salam seorang laki-laki kepada seorang perempuan dan sebaliknya yang tidak mempunyai hubungan mahram adalah tidak disunatkan kecuali dalam keadaan yg aman dari fitnah.

2. Harus memberi dan menjawab salam perempuan untuk tujuan pendidikan seperti pelajar kepada guru.

3. Jika seorang lelaki memberi salam kepada gadis remaja, maka tidak harus dia menjawabnya.

4. jika seorang gadis memberi salam kepada seorang lelaki, maka makruh lelaki tersebut menjawab salamnya.


Hukum Salam Bukan Muhrim

Fatwa al-Qardhawi menjelaskan: (kesimpulan dari fatwa beliau yg panjang dalam isu berjabat salam dgn perempuan, sila rujuk fatwa muasirat beliau, terbitan pustaka salam Jld 5/6)

1. Harus berjabat salam bila bebas dari fitnah. Jika ada fitnah dan unsur berahi, maka ia haram. (maka bersalaman antara lelaki muda dgn perempuan tua yang sudah menopaus kemungkinan bebas dari fitnah dan tiada rangsangan seksualiti)

2. Berjabat salam hendaklah terhad pada keadaan dan keperluan. Contoh sesama keluarga dan menasabah yang diperlukan seperti ketika berlakunya musibah atau kecelakaan yang menimpa.

3. (Tidak memulai terlebih dahulu, maksudnya salam itu dicetuskan oleh orang lain, kita sekadar menyambut utk menjaga maruahnya.)

4. Sentiasa ingat bahawa budaya bersalaman ini bukanlah amalan kaum salaf.

5. Hukum bersalaman antara gender ini bukan hukum umum terbuka utk semua orang, ia hanya kepada sesiapa yang terdesak dan memerlukan hukum ini. Ia hendaklah diamalkan dengan waspada. Sekian.

Rabu, Oktober 14, 2009

Pesanan Roh Kepada Manusia

Apabila roh keluar dari jasad, ia akan berkata-kata dan seluruh isi alam sama ada di langit atau bumi akan mendengarnya kecuali jin dan manusia. Apabila mayat dimandikan, lalu roh berkata : "Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah untuk melepaskan pakaianku dengan perlahan-lahan sebab pada saat ini aku beristirahat daripada seretan malaikat maut". Selepas itu, mayat pula bersuara sambil merayu : "Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas. Begitu juga jangan menuangnya dengan air yang dingin kerana tubuhku terbakar apabila terlepasnya roh dari tubuh".

Apabila dimandikan, roh sekali lagi merayu :"Demi Allah, wahai orang yang memandikan jangan engkau menggosok aku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya roh". Setelah dimandi dan dikafankan, telapak kaki mayat diikat dan ia pun memanggil-manggil dan berpesan lagi supaya jangan diikat terlalu kuat serta mengafani kepalanya kerana ingin melihat wajahnya sendiri, anak-anak, isteri atau suami buat kali terakhir kerana tidak dapat melihat lagi sampai Hari Kiamat.

Sebaik keluar dari rumah lalu ia berpesan : "Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meniggalkan isteriku menjadi Balu. Maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim dan janganlah kalian menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari itu aku telah keluar dari rumahku dan aku tidak akan dapat kembali kepada mereka buat selama-lamanya". Sesudah mayat diletakkan pada pengusung, sekali lagi diserunya kepada jemaah supaya jangan mempercepa tkan mayatnya ke kubur selagi belum mendengar suara anak-anak dan sanak saudara buat kali terakhir.

Sesudah dibawa dan melangkah sebanyak tiga langkah dari rumah, roh pula berpesan: "Wahai Kekasihku, wahai saudaraku dan wahai anak-anakku, jangan kamu diperdaya dunia sebagaimana ia memperdayakan aku dan janganlah kamu lalai ketika ini sebagaimana ia melalaikan aku". "Sesungguhnya aku tinggalkan apayang aku telah aku kumpulkan untuk warisku dan sedikitpun mereka tidak mahu menanggung kesalahanku". "Adapun didunia, Allah menghisab aku, padahal kamu berasa senang dengan keduniaan. Dan mereka juga tidak mahu mendoakan aku".

Ada satu riwayat drp Abi Qalabah mengenai mimpi beliau yang melihat kubur pecah. Lalu mayat-mayat itu keluar dari duduk di tepi kubur masing-masing. Bagaimanapun tidak seorang pun ada tanda-tanda memperolehi nur di muka mereka. Dalam mimpi itu, Abi Qalabah dapat melihat jirannya juga dalam keadaan yang sama. Lalu diabertanya kepada mayat jirannya mengenai ketiadaan nur itu. Maka mayat itu menjawab: "Sesungguhnya bagi mereka yang memperolehi nur adalah kerana petunjuk drpd anak-anak dan teman-teman. Sebaliknya aku mempunyai anak-anak yang tidak soleh dan tidak pernah mendoakan aku".

Setelah mendengar jawapan mayat itu, Abi Qalabah pun terjaga. Pada malam itu juga dia memanggil anak jirannya dan menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi mengenai bapa mereka. Mendengar keadaan itu, anak-anak jiran itu berjanji di hadapan Abi Qalabah akan mendoa dan bersedekah untuk bapanya. Seterusnya tidak lama selepas itu, Abi Qalabah sekali lagi bermimpi melihat jirannya. Bagaimanapun kali ini jirannya sudah ada nur dimukanya dan kelihatan lebih terang daripada matahari.

Baginda Rasullullah S.A.W berkata: Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai kelutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar.Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu."

Sambung Rasullullah S.A.W. lagi: "Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang di sebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya . Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S. "Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A..S. akan menebarkan sayap di sebelah kiri. Maka orang yang nazak tudapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang di sekelilinginya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.

D ari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itudicabut nyawanya maka datanglah malaika t maut. Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata: "Tidak ada jalan bagimu mencabut rohorang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadik an lidahnya berzikir kepadaAllah S.W.T." Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia punkembali kepada AllahS.W.T.dan me njelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu.

Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain." Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapikeluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu. Maka berkata tangan: Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dariarah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah,tangan in i mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan. "Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki.Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata: Tidak ada jalan bagimu dari arah ini Kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan enghadir i majlis-majlis ilmu."Apabila gagal malaikat maut,mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata: "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendenga r bacaan Al-Quran dan zikir."

Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata: "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah."

Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah S.W .T. berfirman yang bermaksud:"W ahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu." Sebaik saja mendapat perintah AllahS.W.T. maka malaikat maut menghampiri roh orang itu danmenunjukkan AsmaAllah S.W.T. Sebaik saja melihat Asma Allah dan cintanya kepada AllahS.W.T maka keluarl! ah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang.

Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang ke mana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A: "Roh itu menuju ketujuh tempat:-

1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para shuhada berterbangan sepe rti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5.Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7.Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin,mereka diseksa berserta jasadnya hingga sampai hari Kiamat."

Telah bersabda Rasullullah S.A.W, Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:-

1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
3. Orang berpuasa di hari Arafah.

Pahala Yang Dapat Dinikmatinya Selepas Matinya

Dari Anas r.a. berkata bahwa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang itu selepas matinya.

1. Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat di dalamnya.

2. Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya.

3. Sesiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang membacanya.

4. Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.

5. Sesiapa yang menanam tanam-tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung.

6. Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.

7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya

8. yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Qur'an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda : "Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :

1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)

2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.

3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.

Mencuri Dalam Solat

Kenapa ramai di antara kita mencuri di dalam solat. Perkara ini sering berlaku pada empat ketika iaitu ketika ruku’, i’tidal, sujud dan ketika duduk antara dua sujud.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:

“Pencuri yang paling jahat ialah yang mencuri di dalam solat; tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya.”– Hadith dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Al-Tabarani dan Al-Hakim.

Suatu ketika Rasulullah melihat seorang yang tidak sempurna ruku dan sujudnya. Baginda bersabda yang bermaksud:

“Kalau dia mati dalam keadaan begini, matinya tidak di dalam agama Muhammad. Dia solat mematuk-matuk seperti burung gagak mematuk darah. Perumpamaan orang yang tidak sempurna ruku dan sujudnya mematuk-matuk adalah seperti orang lapar yang makan satu atau dua butir tamar yang tidak akan mengenyangkannya.”– Riwayat dari Abu Ya’la, Al-Ajiri, Al-Baihaqi, Al-Tabarani, Al-Diya’ dan Ibnu Asakir.

Mati tidak dalam agama Muhammad, maksudnya apa…? Ini kes berat ni…!

Lagi sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:

“Allah tidak akan memerhati solat hamba yang tidak meluruskan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujud” – Riwayat Ahmad dan Al-Tabarani.

Maknanya; Bagi orang yang tidak melakukan i’tidal dengan sempurna, Allah tidak mengambil kira solatnya.

Masjid PutrajayaUntuk menjelaskan lagi, agar kita tidak termasuk dalam golongan yang telah disebutkan tadi, marilah kita perhatikan beberapa lagi maksud potongan hadith yang berkaitan.

“Apabila kamu ruku’, letakkan telapak tanganmu di atas lutut dan luruskan belakangmu dan tetapkan ruku’mu.” – Riwayat Ahmad dan Abu Daud.

Tetapkan ruku’mu; bermakna bertenang seketika (thoma’ninah).

“Solat seseorang tidak mendapat pahala sehinggalah dia meluruskan tulang belakangnya di dalam ruku’ dan sujudnya.” – Abu Awanah, Abu Daud dan Al-Sahmi.

“Tidak sempurna solat seseorang sehinggalah ia membaca takbir, lalu ruku’, kemudian membaca sami’Allahulimanhamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya), sampai dia berdiri lurus.”– Abu Daud dan Al-Hakim.

Ramai orang tidak sempat berdiri lurus ketika bangun dari ruku’. Mereka cuma angkat badan sedikit dan terus sujud. Maknanya tidak ada i’tidal (berdiri lurus setelah ruku’) dalam solat mereka; sedangkan i’tidal adalah rukun.

“Apabila bangkit, tegakkan tulang belakangmu dan angkat kepala sehingga tulang-tulang kembali ke sendinya.” – Al-Bukhari, Muslim, Al-Darimi, Al-Hakim, Al-Syafi’e dan Ahmad.

“Apabila sujud maka mantapkan muka dan tanganmu sehingga tulang-tulangmu kembali kepada kedudukannya.” – Ibnu Khuzaimah.

“Tidak sah solat orang yang tidak menyentuh hidungnya ke lantai sepertimana dahinya menyentuh lantai.”– Al-Darqutni, Al-Tabarani, Abu Naim.

“Tidak sempurna solat seseorang itu sehinggah dia sujud sampai tenang persendiannya, lalu mengucap Allahu Akbar, mengangkat kepalanya sampai duduk dengan tetap.”– Abu Daud.

Begitu juga pada keadaan sujud dan duduk di antara dua sujud, memerlukan thoma’ninah (bertenang seketika).

Marilah kita perbaiki solat kita supaya segala rukun-rukun dilakukan dengan sempurna, terutama pada rukun-rukun yang pendek, iaitu ruku’, i’tidal, sujud dan duduk antara dua sujud.

Tentukan adanya thoma’ninah dalam setiap rukun setelah memperbetulkan kedudukan.

Semuga dengan panduan ini kita dapat memperbaiki amalan solat kita.Mudah-mudahan solat kita diterima Allah.

Rujuklah kepada guru-guru atau para imam bagi mendapat kefahaman yang lebih baik.

Sekian, semoga Allah mengurniakan kita taufiq serta hidayah.

Rabu, September 30, 2009

Terawih Terpantas

Mencuri dalam Solat

Kenapa ramai di antara kita mencuri di dalam solat. Perkara ini sering berlaku pada empat ketika iaitu ketika ruku’, i’tidal, sujud dan ketika duduk antara dua sujud.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:

“Pencuri yang paling jahat ialah yang mencuri di dalam solat; tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya.”– Hadith dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Al-Tabarani dan Al-Hakim.

Suatu ketika Rasulullah melihat seorang yang tidak sempurna ruku dan sujudnya. Baginda bersabda yang bermaksud:

“Kalau dia mati dalam keadaan begini, matinya tidak di dalam agama Muhammad. Dia solat mematuk-matuk seperti burung gagak mematuk darah. Perumpamaan orang yang tidak sempurna ruku dan sujudnya mematuk-matuk adalah seperti orang lapar yang makan satu atau dua butir tamar yang tidak akan mengenyangkannya.”– Riwayat dari Abu Ya’la, Al-Ajiri, Al-Baihaqi, Al-Tabarani, Al-Diya’ dan Ibnu Asakir.

Mati tidak dalam agama Muhammad, maksudnya apa…? Ini kes berat ni…!

Lagi sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:

“Allah tidak akan memerhati solat hamba yang tidak meluruskan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujud” – Riwayat Ahmad dan Al-Tabarani.

Maknanya; Bagi orang yang tidak melakukan i’tidal dengan sempurna, Allah tidak mengambil kira solatnya.

Masjid PutrajayaUntuk menjelaskan lagi, agar kita tidak termasuk dalam golongan yang telah disebutkan tadi, marilah kita perhatikan beberapa lagi maksud potongan hadith yang berkaitan.

“Apabila kamu ruku’, letakkan telapak tanganmu di atas lutut dan luruskan belakangmu dan tetapkan ruku’mu.” – Riwayat Ahmad dan Abu Daud.

Tetapkan ruku’mu; bermakna bertenang seketika (thoma’ninah).

“Solat seseorang tidak mendapat pahala sehinggalah dia meluruskan tulang belakangnya di dalam ruku’ dan sujudnya.” – Abu Awanah, Abu Daud dan Al-Sahmi.

“Tidak sempurna solat seseorang sehinggalah ia membaca takbir, lalu ruku’, kemudian membaca sami’Allahulimanhamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya), sampai dia berdiri lurus.”– Abu Daud dan Al-Hakim.

Ramai orang tidak sempat berdiri lurus ketika bangun dari ruku’. Mereka cuma angkat badan sedikit dan terus sujud. Maknanya tidak ada i’tidal (berdiri lurus setelah ruku’) dalam solat mereka; sedangkan i’tidal adalah rukun.

“Apabila bangkit, tegakkan tulang belakangmu dan angkat kepala sehingga tulang-tulang kembali ke sendinya.” – Al-Bukhari, Muslim, Al-Darimi, Al-Hakim, Al-Syafi’e dan Ahmad.

“Apabila sujud maka mantapkan muka dan tanganmu sehingga tulang-tulangmu kembali kepada kedudukannya.” – Ibnu Khuzaimah.

“Tidak sah solat orang yang tidak menyentuh hidungnya ke lantai sepertimana dahinya menyentuh lantai.”– Al-Darqutni, Al-Tabarani, Abu Naim.

“Tidak sempurna solat seseorang itu sehinggah dia sujud sampai tenang persendiannya, lalu mengucap Allahu Akbar, mengangkat kepalanya sampai duduk dengan tetap.”– Abu Daud.

Begitu juga pada keadaan sujud dan duduk di antara dua sujud, memerlukan thoma’ninah (bertenang seketika).

Marilah kita perbaiki solat kita supaya segala rukun-rukun dilakukan dengan sempurna, terutama pada rukun-rukun yang pendek, iaitu ruku’, i’tidal, sujud dan duduk antara dua sujud.

Tentukan adanya thoma’ninah dalam setiap rukun setelah memperbetulkan kedudukan.

Semuga dengan panduan ini kita dapat memperbaiki amalan solat kita.Mudah-mudahan solat kita diterima Allah.

Rujuklah kepada guru-guru atau para imam bagi mendapat kefahaman yang lebih baik.

Sekian, semoga Allah mengurniakan kita taufiq serta hidayah.

Selasa, September 29, 2009

Hikmah Puasa di Bulan Syawal

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda:
“Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. ” (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: “Salah satu sanad yang beliau miliki adalah shahih.”)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :

1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.
Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ‘ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.
Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali “(An-Nahl: 92)
5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.

Sumber: http://oaseadwan.info/

Rabu, September 16, 2009

Panduan Menyambut Hari Raya

PENGENALAN

Hari raya sama ada Aidil Fitri atau Aidil Adha ialah anugerah dan nikmat Allah
kepada hamba-hambaNya supaya bergembira, bersuka ria dan bersyukur kepadaNya. Justeru, konsep dan falsafah sambutan hari raya tersebut akan dicapai jika ianya dibuat mengikut cara-cara yang disyariatkan agar tidak mengundang kemurkaanNya.

CARA-CARA SAMBUTAN HARI RAYA YANG DISYARIATKAN

1. Bertakbir

Bertakbir ialah perkara yang mula-mula dituntut kepada umat Islam sebaik sahaja menjelangnya hari raya dan hukumnya sunat. Takbir bertujuan memuji dan menyatakan kesyukuran kepada Allah SWT di atas nikmat yang dikurniakan khususnya nikmat hari raya. Ia boleh dilakukan di mana-mana sahaja seperti di masjid, di rumah, di jalan, di dalam kenderaan dan sebagainya sama ada secara berseorangan atau berjemaah. Hukum bertakbir secara berjemaah ialah sunat muakkad. Waktu akhir takbir hari raya fitrah ialah apabila imam atau individu (bagi yang solat seorang diri) bertakbiratul ihram untuk Solat Aidil Fitri. Waktu akhir takbir hari raya korban pula ialah masuknya waktu subuh hari ke 13 Zulhijjah bagi orang yang mengerjakan haji dan bagi yang tidak mengerjakan haji ialah waktu asar hari ke 13 Zulhijjah iaitu hari tasyrik yang terakhir.

2. Mandi dan berhias diri.

Setiap Muslim disunatkan mandi pada hari raya fitrah atau hari raya korban. Asas kepada hukum sunat tersebut ialah Qias kepada mandi hari jumaat dan bertujuan menyerlahkan keindahan, kecantikan, keselesaan dan keserasian dengan orang lain. Selain itu, disunatkan juga menghias diri dengan mengenakan wangi-wangian untuk menghilangkan bau-bauan yang busuk, memotong kuku dan memakai pakaian yang paling bersih dan cantik serta terbaik. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Hasan bin Ali r.a yang bermaksud:

“ Rasulullah telah menyuruh kami memakai pakaian yang paling baik yang kami miliki pada hari raya fitrah dan hari raya korban”.
(Riwayat At Tabrani dan Al-Hakim)

3. Bersarapan sebelum solat hari raya di masjid

Disunatkan bersarapan sebelum ke masjid untuk Solat Hari Raya Aidil Fitri bertujuan sebagai simbolik kepada berakhirnya puasa ramadhan. Manakala disunatkan sarapan setelah pulang dari solat aidil adha bagi hari raya korban.

4. Membayar Zakat Fitrah

Membayar zakat fitrah untuk diri dan tanggungan dan menjadi wajib sebelum Solat Aidil Fitri. Pembayaran zakat masih sah jika dibayar selagi imam tidak bertakbiratul ihram memulakan Solat Aidil Fitri.

5. Berjalan kaki ke masjid

Digalakkan berjalan kaki ke masjid untuk menunaikan Solat Aidil Fitri bertujuan bertemu dengan ramai orang yang turut berjalan kaki dan menggambarkan suasana kegembiraan dan keriangan. Namun ianya diharuskan untuk menaiki kenderaan. Selain itu, digalakkan berjalan sambil bertakbir bertujuan meningkatkan syiar Islam dan mengagungkan kebesaran Ilahi.

6. Pulang dari masjid

Pergi ke masjid mengikut jalan lain dan pulang dari masjid mengikut jalan lain sangat digalakkan oleh Islam kecuali jika ianya menyulitkan dan memberatkan.

7. Pergi awal ke masjid

Disunatkan kepada makmum untuk pergi awal ke masjid menunaikan solat hari raya tetapi tidak kepada imam kerana imam perlu melewatkan kehadirannya di masjid dan solat hari raya aidil fitri dimulakan setelah imam tiba.

8. Bermaaf-maafan

Bermaaf-maafan di antara satu sama lain ialah amalan mulia dan dituntut oleh agama. Sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan memohon maaf kepada orang yang dilakukan kepadanya kesalahan dan orang yang dipohon kepadanya kemaafan hendaklah memberikan kemaafan. Perasaan marah dan dendam sewajarnya dihindari . Sesungguhnya Allah Jua Maha Pengampun dan Penerima Taubat.

9. Mengucap Tahniah

Umat Islam digalakkan untuk saling mengucapkan tahniah di antara satu sama lain apabila bertemu dan berziarah walau di mana sahaja kerana hari raya adalah hari mulia dan hari untuk bergembira lantaran berjaya melaksanakan puasa Ramadhan. Pelbagai bentuk dan susunan bahasa ucapan tahniah yang menggambarkan maksudnya boleh diucapkan. Apa yang penting, ucapan itu sendiri menggambarkan suasana gembira dan ceria meraikan hari raya.

10. Berhibur mengikut batasan syarak

Suasana gembira dan ceria boleh dijelmakan dengan aktiviti hiburan tetapi keharusannya terhad kepada batasan syarak yang ditetapkan. Hiburan yang melalaikan, merosakkan akhlak dan yang menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan adalah dilarang.

PERKARA-PERKARA DILARANG KETIKA SAMBUTAN HARI RAYA

1. Berpuasa

Haram hukumnya berpuasa pada hari raya sama ada puasa sunat, puasa qada dan puasa nazar. Ianya hendaklah ditangguh pada hari lain.

2. Membazir

Dalam keghairahan dan kegembiraan menyambut hari raya, umat Islam diingatkan supaya tidak membazir dan berbelanja secara sederhana sahaja mengikut keperluan dan kemampuan diri. Firman Allah SWT di dalam surah al-Furqan, ayat 67 yang bermaksud:

“ Dan juga mereka ( yang diredhai oleh Allah ialah) yang apabila membelanjakan hartanya, tiadalah melampau batas dan tiada bakhil kedekut dan (sebaliknya) perbelanjaan mereka adalah betul sederhana di antara kedua-dua cara (boros dan bakhil) itu”.

Larangan untuk pembaziran ini bukan sahaja pada hari raya tetapi juga pada bila-bila masa kerana Allah SWT di dalam surah al-Isra’, ayat 26 dan 27 telah memperingatkan bahawa orang-orang yang membazir adalah saudara-saudara syaitan, sedangkan syaitan pula ialah makhluk yang sangat kufur kepada TuhanNya.

3. Pergaulan Bebas di antara lelaki dan wanita

Kemuliaan dan keberkatan hari raya tidak boleh dicemari dengan perbuatan maksiat termasuklah pergaulan bebas di antara lelaki dan wanita yang tiada ikatan mahram atau perkahwinan. Pergaulan bebas tanpa batasan ini adalah dilarang kerana boleh menimbulkan fitnah dan ianya boleh berlaku walaupun dalam jumlah yang ramai jika bertujuan maksiat. Justeru, sudah tentu lebih dilarang jika ianya melibatkan perbuatan berdua-duaan di tempat sunyi. Larangan pergaulan bebas tanpa batasan ini juga dilarang pada bila-bila masa tanpa dihadkan kepada hari raya sahaja.

4. Hiburan yang melampaui batas.

Islam mengakui naluri fitrah manusia yang sukakan hiburan dan dengan itu, hariraya boleh diceriakan dengan hiburan sebagai tanda kegembiraan dan keriangan. Namun, hiburan yang dibenarkan ini tidak bersifat mutlak kerana ada batasan dan syarat bertujuan untuk mengawal umat Islam daripada lalai dan leka sehingga lupa kepada objektif meraikan hari raya yang sebenarnya serta menyimpang daripada matlamat manusia dijadikan adalah untuk beribadah kepada Allah.

5. Bermusuh-musuhan

Allah SWT berfirman di dalam surah al-Hujurat, ayat 10 yang bermaksud:

“Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara. Maka damaikanlah di antara dua orang saudara kamu (yang bertelingkah) itu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat”

Ayat ini menuntut kita supaya mendamaikan kembali permusuhan yang berlaku seperti kata pepatah “ buang yang keruh ambil yang jernih ”. Bermaaf-maafanlah di hari raya.

Sumber: http://jaipp.penang.gov.my/

Selasa, September 08, 2009

RON95 dan RON97

Ada orang menyatakan petrol A lebih baik daripada petrol B atau minyak B lebih bagus daripada bahan api C. Adakah itu benar?

DI Eropah, klasifikasi keseragaman kelas bahan bakar petrol dibahagikan kepada tiga kelas utama. RON91, RON95 dan RON98. Pembahagian itu dibuat berdasarkan jenis keperluan bahan bakar yang diperlukan pada setiap jenis enjin berlainan pengeluar.

RON91 dicipta untuk enjin yang mampu menerima petrol berplumbum, RON95 untuk petrol tanpa plumbum yang juga disebut petrol premium dan RON98 atau disebut juga sebagai Super Plus atau Super Premium.

Bermula 1 September ini, klasifikasi penjualan minyak petrol di negara ini akan diselaraskan kepada dua jenis RON (Research Octane Number) iaitu RON95 dan RON97.

Dalam jangka masa kurang dua bulan dari sekarang, RON95 akan menggantikan RON92 yang berharga RM1.75 seliter, manakala RON97 akan menjadi petrol premium pada harga RM2.

Apakah kesannya kepada pengguna? Sebenarnya, banyak yang perlu diketahui tentang asas RON itu sendiri.

Di seluruh dunia, pencemaran bahan api fosil telah meningkatkan kesedaran umum. Justeru itu, kualiti bahan bakar ditingkatkan. Jurutera bertungkus lumus memikirkan idea untuk mencipta enjin dengan sistem pembakaran moden yang mampu beroperasi menggunakan petrol spesifikasi RON yang dibangunkan. Kandungan sulfur juga diminimumkan.
Adakah semua petrol RON95 sesuai dengan kereta anda? Bagaimana mengetahui kesesuaian tersebut? Langkah paling mudah adalah melihat pada penutup petrol.

Jika ia tidak dinyatakan, rujuk buku panduan kenderaan. Biarpun begitu, tidak semua pengeluar kereta menulisnya dalam bentuk angka. Sebahagiannya ditulis dalam istilah leaded dan unleaded.

Jangan khuatir, majoriti petrol yang dijual di Malaysia (termasuk RON92) adalah petrol jenis tanpa plumbum (unleaded). Adakah RON97 lebih baik daripada RON95? Secara teorinya, ya tetapi secara paraktiknya, tidak. Petrol RON95 di stesen A mungkin lebih baik daripada petrol RON97 di stesen B.

Perlu diingatkan bahawa setiap petrol yang dijual oleh Petronas, Shell, BHP, Esso, Caltex dan Mobil adalah tidak sama. Setiap syarikat mempunyai ramuan tersendiri untuk meningkatkan keupayaan kualiti petrol masing-masing.

Techron, Primax dan Infiniti merupakan antara petrol yang dihasilkan menerusi kajian dan pembangunan yang serius. Anda mungkin biasa menonton iklan bagaimana petrol di stesen A berupaya membersihkan enapan karbon pada injap dan omboh. Adakah ia sekadar gimik?

Adakah petrol RON95 berkualiti rendah? Ini adalah pandangan yang salah. RON berkaitan dengan campuran dua unsur asas iaitu oktana dan pentana yang melengkapkan sifatnya menjadi bahan bakar petrol.

RON95 bermaksud 95 peratus kandungannya adalah oktana dan selebihnya pentana. Begitu juga dengan RON97 iaitu hanya tiga peratus pentana dan selebihnya oktana.

Gandingan itu akan memutlakkan tahap pembakaran enjin yang bakal digunakan. Sekiranya enjin anda cukup sekadar dengan pembakaran RON95, kenapa perlu membazir membeli petrol RON97? Adakah jam Breitling memberi maklumat waktu yang lebih tepat berbanding jam Casio?

Sebaliknya, jika enjin anda dicipta untuk membakar dengan RON97, adalah tidak memadai menggunakan RON95 kerana omboh akan mengalami masalah ketukan (knocking).

Ini kerana enjin silinder bergerak dengan membakar petrol menjadi gas. Asasnya, enjin yang dicipta untuk RON95 adalah kebuk pembakaran yang berupaya membakar sejumlah 95 peratus oktana.
Perlu diingat bahawa sifat oktana adalah kemampuannya untuk menahan tekanan dalam kebuk pembakaran. Jadi, dengan enjin yang dicipta untuk pembakaran 95 peratus oktana, memadai kita menggunakan petrol RON95.

Namun, jika enjin tersebut dicipta untuk tekanan 97 peratus oktana, maka penggunaan RON95 tidak sesuai. Oktana mempunyai keupayaan mengembangkan tekanan dengan baik, tetapi bukan pentana. Pentana hanya akan melambatkan proses timbal-balik dan di sinilah masalah ketukan berlaku.

Petrol yang baik bergantung kepada pengeluar petrol itu sendiri. Seperti yang diterangkan pada awal nota ini tadi, setiap petrol tidak sama.

Dakwaan mengatakan semakin tinggi RON adalah lebih baik dan mampu menghasilkan enjin yang lebih berkuasa juga tidak benar. Petrol yang baik adalah petrol yang sesuai dengan RON yang diperlukan oleh enjin.

Mukjizat Al-Quran

AL-QURAN hanya helaian kertas, tetapi mempunyai nilai yang tinggi dan mendapat kedudukan istimewa dalam Islam.

Malah, dikatakan tidak sempurna sesebuah rumah itu jika tidak mempunyai kitab suci berkenaan walaupun peng huninya jarang membaca dan menelaahnya.


Meskipun nampak mudah, tetapi manusia tidak mampu menghasilkan kitab yang sehebat al-Quran.

Justeru, sesiapa membacanya diberi ganjaran berlipat ganda dan ia menjadi panduan dalam kehidupan insan.

Bagaimanapun, senario masa kini menyaksikan pelbagai pandangan masyarakat terhadap al-Quran.

Kitab itu tidak dijadikan panduan hidup, malah ada membacanya dengan tajwid dan gaya bacaan yang janggal dan tidak tahu makna.

Sesetengah pula gemar membaca surah tertentu, mengikut musim dan adat bahkan tidak kurang hanya membeli sebagai koleksi sehingga ia dibiarkan berdebu ditelan waktu.

Apapun sikap masyarakat Islam terhadap al-Quran, kitab suci yang diturunkan pada bulan Ramadan mempunyai hikmah dan mukjizat yang tidak digambarkan dengan kata-kata kepada manusia.

Nabi Muhammad s.a.w bersabda yang bermaksud: “Bacalah al-Quran, sesungguhnya ia (al-Quran) akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada tuannya.” (Hadis Riwayat Muslim)

Al-Quran yang mengandungi lebih 6,000 ayat dikenali juga dengan beberapa nama lain seperti al-Kitab, bermaksud sebuah kitab sebagaimana dijelaskan di awal surah al-Ba qarah, al-Furqaan iaitu pemisah hak dan batil, az-Dzikr dengan makna peringatan dan at-Tanzil bermaksud penurunan.

Masyarakat Islam wajib mempercayai kitab terbabit ke seluruhan dan berpegang teguh dengannya, malah beriman kepadanya satu daripada enam rukun keimanan, sekali gus tertutup rapat pintu keraguan terhadapnya.

“Kitab al-Quran ini, tiada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (al-Quran, surah al-Baqarah, ayat 2).

Bagi bukan Islam, sesetengahnya masih sukar mempercayai kitab terbabit, bahkan ditambah dengan kekeliruan ditimbulkan segolongan pihak, melebarkan kesangsian mereka terhadap kandungan kitab itu.

Tetapi yang nyata kitab itu tiada sebarang keraguan padanya, dianugerahkan kepada manusia melalui Nabi Muhammad s.a.w, malah ia manual yang sesuai diaplikasikan setiap zaman walaupun generasi dan tamadun manusia sentiasa berubah-ubah.

“Katakanlah: Sesungguhnya jika sekalian manusia dan jin berhimpun dengan tujuan hendak membuat dan mendatangkan sebanding dengan al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat dan mendatangkan yang sebanding dengannya walaupun mereka saling bantu-membantu.” (al-Quran, surah al-Isra:88)

Pensyarah al-Quran, hafazan dan taranum di Kolej Islam Antarabangsa Sultan Ismail Petra (Kias), Nilam Puri, Kelantan, Muhammad Lukman Ibrahim, berkata kehebatan, kelebihan dan mukjizat al-Quran menandingi yang lain.

Beliau berkata, kitab Taurat dan Injil yang memang dijaga paderi sepanjang waktu boleh berubah, tetapi al-Quran tetap terpelihara daripada perubahan, menjadikannya asli, dahulu, kini dan selamanya.

“Pada zaman Nabi dahulu, seorang bernama Musailamah al-Kazzab cuba menandingi al-Quran, mereka-reka ayat al-Quran seperti surah al-Fiil iaitu mengenai gajah.

“Antara katanya, gajah...apa itu gajah...ada belalai yang panjang." Orang ramai bukannya takjub dengan kepandaiannya itu, tetapi gelak ketawa, sekali gus gagal membawakan ayat seumpama al-Quran,” katanya.

Mukjizat al-Quran jugalah memberikan ketenangan, malah melembutkan hati kepada sesiapa yang membaca dan mendengar alunannya.

Bahkan Saidina Umar al-Khattab yang terkenal dengan sifat bengisnya menjadi lembut hati dengan al-Quran.

Dalam satu riwayat, Saidina Umar (sebelum menjadi Muslim) bersama pedangnya menuju ke tempat Nabi s.a.w dan sahabat yang lain, mencari untuk membunuh baginda. Dalam perjalanan itu, beliau disapa Nu’aim bin Abdullah.

Nu’aim berkata: “Demi Allah, kamu tertipu oleh dirimu sendiri, hai Umar! Apakah kamu mengira Bani Abdi Manaf akan membiarkanmu berjalan bebas di muka bumi selepas kamu berjaya membunuh Muhammad! Sebaiknya kamu pulang ke rumahmu dulu, selesaikanlah dulu urusan keluargamu.”

Umar bertanya kehairanan: “Siapa yang kamu maksudkan dengan keluargaku dan apa maksudmu?”

Nu’aim menjawab dengan senyum sinis: “Iparmu dan anak saudaramu sendiri, Said bin Zaid, bahkan adikmu sendiri, Fatimah binti Khattab, masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad. Hal merekalah yang harus kamu selesaikan.”

Mendengar jawapan Nu'aim, kemarahan Umar meluap-luap bagai disengat jengking.

Beliau menukar haluan bergegas ke rumah kedua-dua ahli keluarganya itu.

Ketika itu, di rumah Said ada seorang sahabatnya, Khabbab Ibnul Aratt yang membacakan ayat al-Quran kepada mereka.

Apabila Umar datang, Fatimah segera mengambil lembaran berisi ayat suci itu dan menyembunyikannya di bawah pahanya sedangkan sebaik mendekati rumah terbabit Umar sempat mendengar bacaan Khabbab, sehingga beliau bertanya kepada mereka: “Syair apa yang aku dengar tadi...Aku diberitahu kamu berdua mengikuti agama Muhammad!”

Selepas itu, Umar menyerang Said. Fatimah pula melompat dan berusaha menghalang tindakan Umar, namun terkena tamparan hingga kepalanya berdarah.

Kemudian, Fatimah berkata kepada abangnya itu: “Ya, benar! Demi Allah, kami berdua memang sudah masuk Islam dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, Muhammad. Kini kamu sudah mengetahuinya. Perbuatlah sesuka hatimu terhadap kami. Kami tidak gentar sedikit pun.”

Selepas Umar melihat darah pada kepala adiknya, beliau menyesal lalu menahan marahnya dan berkata kepada adik nya: “Kalau begitu, berikan padaku lembaran syair yang aku dengar tadi supaya aku dapat mempertimbangkan apa yang diajarkan Muhammad kepadamu.”

Fatimah memberikan lembaran ayat suci itu kepada abangnya, Umar.

Dalam lembaran itu tertulis surah Taha. Selepas selesai membaca lembaran itu, Umar berkata: “Alangkah indahnya kata-kata ini dan alangkah mulianya.”

Bermula detik itulah Umar memeluk Islam. Hatinya yang keras menjadi lembut selepas menatap ayat suci al-Quran.

Lukman berkata, ayat al-Quran tidak seperti teks lain kerana gaya bahasanya tinggi dan hal ini diperakui sendiri kalangan orang Arab yang mahir dalam ilmu bahasa.

“Orang kita, bahkan bangsa lain yang tidak begitu tahu mengenai ilmu bahasa terbabit tidak mampu menilai dan merasai kehebatan gaya bahasa terbabit, sebagaimana orang Arab.

“Tetapi bagi orang Arab, walaupun mereka menilai ketinggian gaya bahasa dan keindahannya, mereka gagal mengadakan ayat seumpama itu,” katanya.

Beliau juga menyangkal sekeras-kerasnya, jika ada orang yang mengatakan ayat al-Quran seperti bentuk nyanyian, puisi atau syair.

“Saya sendiri ada melakukan kajian terhadapnya dan memang terbukti ayat-ayatnya tidak boleh dilagukan seperti nyanyian, syair atau qasidah.

“Ia mempunyai tajwid dan membacanya mesti mengikut hukum terbabit. Inilah keistimewaan al-Quran,” katanya.

“Dan ini ialah kitab yang Kami turunkannya yang diberkati...” (al-Quran, surah al-An’anm:155)

Kenapa Perlu Berusaha Sedangkan Semuanya Telah Ditentukan?

Kenapa perlu susah-payah jika semuanya telah pun ditakdirkan? Kenapa harus kecewa sebelum bertemu gembira? Kenapa si dia tidak datang begitu sahaja?

Begitu juga para sahabat nabi, mereka pernah bertanyakan soalan yang hampir sama lebih 1400 tahun yang lalu.

Menurut Ali Abi Talib, pada suatu hari ketika para sahabat sedang menghadiri satu pengkebumian, Rasulullah datang dan duduk berhampiran. Para sahabat kemudian duduk mengelilinginya. Beliau menggenggam sebatang kayu kecil sambil menggores-gores tanah. Rasulullah kemudian bersabda, “Setiap daripada kamu yang diciptakan telah pun ditentukan neraka atau syurganya.” Bertanya salah seorang sahabat, “Kalau demikian, apa perlunya kita beramal ya Rasulullah?”

Mendengar sedemikan, Rasulullah bersabda lagi, “Beramallah, setiap orang akan dipermudahkan oleh Allah kepada jalan yang telah ditetapkan oleh-Nya.” Kemudian beliau membaca surah Al-Lail ayat 5 hingga 10” [1]

Di dalam surah Al-Lail ayat 5 hingga 10, Allah telah berfirman, “Adapun orang yang memberikan (menafkahkan hartanya) apa yang ada padanya ke jalan kebaikkan dan bertakwa (mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan segala laranganNya). Dan dia mengakui dengan yakin akan perkara yang baik. Maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesenangan (syurga). Sebaliknya orang yang bakhil (daripada berbuat kebaikkan) dan berasa cukup dengan kekayaan dan kemewahannya. Dan dia mendustakan perkara yang baik. Maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesusahan dan kesengsaraan. ”

Begitulah penjelasan nabi ke atas pengertian takdir dan amalan manusia. Beliau tidak menyuruh para sahabat mempersoalkan ketentuan tuhan, sebaliknya menyuruh mereka memberi fokus kepada usaha dan amalan semata-mata.

Firman Allah di dalam Surah Al-Mulk ayat 2, “Dia lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya;”

Hidup ini adalah untuk berusaha dan beramal, bukan untuk mempersoalkan takdir. Jangan ditanya, “kenapa perlu mencari si dia sedangkan si dia telah pun ditentukan” sebaliknya tanyalah diri sendiri “apakah usaha yang telah dicurahkan di dalam perjalanan mencari si dia.”

Wallahu’alam.