Surah Al A'raaf (Tempat Tinggi) سورة الأعراف adalah surat ke-7 dalam Al Qur'an. Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surat Makkiyyah. Surah ini diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Dinamakan Al A'raaf karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A'raaf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Kandungannya:
Keimanan:
Mentauhidkan Allah dalam berdoa dan beribadat; hanya Allah sendiri yang mengatur dan menjaga alam; menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat; Allah bersemayam di 'Arasy; bantahan terhadap kepalsuan syirik; ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manusia; Musa berbicara dengan Allah; tentang melihat Allah; perintah beribadat sambil merendahkan diri kepada Allah; Allah mempunyai al asmaaul husnaa.
Hukum-hukum:
Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk; kewajiban mengikuti Allah dan rasul; perintah berhias waktu akan shalat; bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah; perintah memakan makanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya.
Kisah-kisah: Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis; kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya; kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya; kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya; kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.
Dan lain-lain:
Al Quran diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya; Nabi Muhammad s.a.w. diutus untuk seluruh manusia; adab orang mukmin, adab mendengar pembacaan Al Quran dan berzikir; rasul bertanggung jawab menyampaikan seruan Allah; balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan mengingkari rasul; da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah; tentang ashhaabul A'raaf yang berada antara syurga dan neraka; Allah pencipta makhluk; manusia adalah makhluk yang terbaik dijadikan Allah serta mempunyai kesediaan untuk baik dan untuk buruk; permusuhan syaitan terhadap Bani Adam; manusia khalifah Allah di muka bumi; kehancuran sesuatu kaum adalah karena perbuatan mereka sendiri; tiap-tiap bangsa mempunyai masa jaya dan masa kehancuran; Allah mencoba manusia dengan kakayaan dan kemiskinan; istidraj azab Allah terhadap orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
Selasa, Mei 05, 2009
Asal-Usul Surah Dalam Al-Quran: Al-An'aam
Surat Al An'aam - (Binatang Ternakan) سورة الأنعام - yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyah, karena hampur seluruh ayat-ayat-Nya diturunkan di Makkah dekat sebelum hijrah. Dinamakan Al-An'aam karena di dalamnya disebut kata An'aam dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka. Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.
Kandungannya
Keimanan:
Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempurnaan sifat-sifatNya; kebenaran kenabian Nabi Muhammad s.a.w.; penyaksian Alla atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, 'Isa, Ilayas, Alyasa', Yunus dan Luth; penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan, kepalsuan kepercayaan orang-orang musyrik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.
Hukum-hukum:
Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah; makanan yang halal dan yang haram; wasiat yang sepuluh dari Al Quran, tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum; larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.
Kisah-kisah:
Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul; kisah pengalaman Nabi Muhammad s.a.w. dan para nabi pada umumnya; cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaumnya kepada tauhid.
Dan lain-lain:
Sikap kepala batu kaum musyrikin, cara seorang nabi memimpin umatnya; bidang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul; tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul; kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat; beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan; nilai hidup duniawi.
Kandungannya
Keimanan:
Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempurnaan sifat-sifatNya; kebenaran kenabian Nabi Muhammad s.a.w.; penyaksian Alla atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, 'Isa, Ilayas, Alyasa', Yunus dan Luth; penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan, kepalsuan kepercayaan orang-orang musyrik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.
Hukum-hukum:
Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah; makanan yang halal dan yang haram; wasiat yang sepuluh dari Al Quran, tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum; larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.
Kisah-kisah:
Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul; kisah pengalaman Nabi Muhammad s.a.w. dan para nabi pada umumnya; cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaumnya kepada tauhid.
Dan lain-lain:
Sikap kepala batu kaum musyrikin, cara seorang nabi memimpin umatnya; bidang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul; tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul; kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat; beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan; nilai hidup duniawi.
Asal-Usul Surah Dalam Al-Quran: Al-Maa'idah
Surah Al-Maa’idah - (Hidangan) سورة المائدة - terdiri dari 120 ayat; termasuk golongan surat Madaniyyah. Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa'. Surat ini dinamakan Al Maa'idah (hidangan) kerana memuatkan kisah pengikut-pengikut setia Nabi Isa a.s. meminta kepada Nabi Isa a.s. agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112). Dan dinamakan Al Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, dimana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya. Dinamakan juga Al Munqidz (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi Isa a.s. penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.
Kandungannya
Keimanan:
Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi Isa a.s.
Hukum-hukum:
Keharusan memenuhi perjanjian; hukum melanggar syi'ar Allah; makanan yang dihalalkan dan diharamkan; hukum mengawini ahli kitab; wudhu'; tayammum; mandi; hukum membunuh orang; hukum mengacau dan mengganggu keamanan; hukum qishaas; hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya; hukum binatang waktu ihram; hukum persaksian dalam berwasiat.
Kisah-kisah:
Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestin; kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi Isa a.s.
Dan lain-lain:
Keharusan bersifat lemah lembut terhadap sesama mukmin bersikap keras terhadap orang-orang kafir; penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad s.a.w.; keharusan jujur dan berlaku adil; sikap dalam menghadapi berita-berita bohong; akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim; kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi, kewajiban rasul hanya menyampaikan agama; sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam; Ka'bah sokoguru kehidupan manusia; peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab jahiliyah; larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.
Kandungannya
Keimanan:
Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi Isa a.s.
Hukum-hukum:
Keharusan memenuhi perjanjian; hukum melanggar syi'ar Allah; makanan yang dihalalkan dan diharamkan; hukum mengawini ahli kitab; wudhu'; tayammum; mandi; hukum membunuh orang; hukum mengacau dan mengganggu keamanan; hukum qishaas; hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya; hukum binatang waktu ihram; hukum persaksian dalam berwasiat.
Kisah-kisah:
Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestin; kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi Isa a.s.
Dan lain-lain:
Keharusan bersifat lemah lembut terhadap sesama mukmin bersikap keras terhadap orang-orang kafir; penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad s.a.w.; keharusan jujur dan berlaku adil; sikap dalam menghadapi berita-berita bohong; akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim; kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi, kewajiban rasul hanya menyampaikan agama; sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam; Ka'bah sokoguru kehidupan manusia; peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab jahiliyah; larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.
Asal-Usul Surah Dalam Al-Quran: An-Nisaa'
Surah An-Nisaa' - (Perempuan) سورة النساء - yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah. Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain. Surat yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaq. Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan: Surat An Nisaa' Al Kubraa (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaq disebut dengan sebutan: Surat An Nisaa' Ash Shughraa (surat An Nisaa' yang kecil).
Kandungannya
Keimanan:
Syirik (dosa yang paling besar); akibat kekafiran di hari kemudian.
Hukum-hukum:
Kewajiban para washi dan para wali; hukum poligami; mas kawin; memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tak dapat mengurus hartanya; pokok-pokok hukum warisan; perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya, wanita-wanita yang haram dikawini; hukum-hukum mengawini budak wanita; larangan memakan harta secara bathil; hukum syiqaq dan nusyuq; kesucian lahir batin dalam sembahyang; hukum suaka; hukum membunuh seorang Islam; solat khauf; larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk; masalah pusaka kalalah.
Kisah-kisah:
Kisah-kisah tentang Nabi Musa a.s. dan pengikut-pengikutnya.
Dan lain-lain:
Asal manusia adalah satu; keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita; norma-norma bergaul dengan isteri; hak seseorang sesuai dengan kewajibannya; perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepadanya; dasar-dasar pemerintahan; cara mengadili perkara; keharusan siap-siaga terhadap musuh; sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan; berperang di jalan Alllah adalah kewajiban tiap-tiap mukallaf; norma dan adab dalam peperangan; cara menghadapi orang-orang munafik; derajat orang-orang yang berjihad.
Kandungannya
Keimanan:
Syirik (dosa yang paling besar); akibat kekafiran di hari kemudian.
Hukum-hukum:
Kewajiban para washi dan para wali; hukum poligami; mas kawin; memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tak dapat mengurus hartanya; pokok-pokok hukum warisan; perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya, wanita-wanita yang haram dikawini; hukum-hukum mengawini budak wanita; larangan memakan harta secara bathil; hukum syiqaq dan nusyuq; kesucian lahir batin dalam sembahyang; hukum suaka; hukum membunuh seorang Islam; solat khauf; larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk; masalah pusaka kalalah.
Kisah-kisah:
Kisah-kisah tentang Nabi Musa a.s. dan pengikut-pengikutnya.
Dan lain-lain:
Asal manusia adalah satu; keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita; norma-norma bergaul dengan isteri; hak seseorang sesuai dengan kewajibannya; perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepadanya; dasar-dasar pemerintahan; cara mengadili perkara; keharusan siap-siaga terhadap musuh; sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan; berperang di jalan Alllah adalah kewajiban tiap-tiap mukallaf; norma dan adab dalam peperangan; cara menghadapi orang-orang munafik; derajat orang-orang yang berjihad.
Asal-Usul Surah Dalam Al-Quran: Ali 'Imran
Surah Ali ‘Imran (Keluarga Imran) - آل عمران ini terdiri dari 200 ayat, merupakan surah Madaniyyah. Dinamakan Ali Imran kerana memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisahnya disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri Imran, ibunda daripada Nabi Isa.
Surat Ali Imran ini dan surat Al Baqarah dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa, kedatangan Nabi Muhammad dan sebagainya.
Surat Ali Imran ini dan surat Al Baqarah dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa, kedatangan Nabi Muhammad dan sebagainya.
Asal-Usul Surah Dalam Al-Quran: Al-Baqarah
Surah Al Baqarah (Arab: سورة البقرة "Lembu") merupakan ayat kedua dan terpanjang yang mengandungi 286 ayat. Surah itu turun di Madinah yang sebahagian besar diturunkan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Haji wada' (haji Nabi Muhammad s.a.w. yang terakhir). Seluruh ayat dari surat ini merupakan ayat Madaniyyah yang di dalamnya juga mempunyai ayat yang terpanjang (ayat 282). Surat ini dinamai Al Baqarah kerana terdapat kisah di dalamnya yang berkaitan perbalahan kaum Bani Israil dengan Nabi Musa a.s. tentang penyembelihan lembu betina untuk mengetahui siapa yang kemudiannya menjelaskan sifat kaum Yahudi yang keras hatinya. Surah ini juga dinamakan Fusthaatul-Quran (puncak Al Quran) kerana memuatkan beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain. Ia juga digelar juga surah alif-laam-miim kerana surah ini dimulai dengan Alif-laam-miim.
Isi
Surah ini banyak mengisahkan hukum-hakam dan syariat seperti perintah mengerjakan solat; menunaikan zakat; hukum puasa; hukum haji dan umrah; hukum qisas; hal-hal yang halal dan yang haram; bernafkah di jalan Allah; hukum arak dan judi; cara menyantuni anak yatim, larangan riba; hutang piutang; nafkah dan yang berhak menerimanya; wasiat kepada dua orang ibu-bapa dan kaum kerabat; hukum sumpah; kewajiban menyampaikan amanat; sihir; hukum merosakkan masjid; hukum meubah kitab-kitab Allah; hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa' dan hukum susuan; hukum melamar, mahar, larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya; hukum perang.
Surah ini juga ada menceritakan kisah Nabi Adam a.s., Nabi Musa a.s. dan Nabi Ibrahim a.s. serta larangan akan bulan haram. Perkara utamanya adalah berdakwah kepada kaum musyrik dan Yahudi Madinahserta memberi amaran kepada mereka serta kepada kaum munafik akan ketentuan Allah kepada mereka yang tidak beriman kepada-Nya.
Surah ini juga mengandungi ayat kursi iaitu ayat yang teragung dan sering dihafal oleh masyarakat Muslim. Malah, ayat ini dijadikan bacaan untuk mendapat perlindungan dan keredhaan Allah SWT.
Isi
Surah ini banyak mengisahkan hukum-hakam dan syariat seperti perintah mengerjakan solat; menunaikan zakat; hukum puasa; hukum haji dan umrah; hukum qisas; hal-hal yang halal dan yang haram; bernafkah di jalan Allah; hukum arak dan judi; cara menyantuni anak yatim, larangan riba; hutang piutang; nafkah dan yang berhak menerimanya; wasiat kepada dua orang ibu-bapa dan kaum kerabat; hukum sumpah; kewajiban menyampaikan amanat; sihir; hukum merosakkan masjid; hukum meubah kitab-kitab Allah; hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa' dan hukum susuan; hukum melamar, mahar, larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya; hukum perang.
Surah ini juga ada menceritakan kisah Nabi Adam a.s., Nabi Musa a.s. dan Nabi Ibrahim a.s. serta larangan akan bulan haram. Perkara utamanya adalah berdakwah kepada kaum musyrik dan Yahudi Madinahserta memberi amaran kepada mereka serta kepada kaum munafik akan ketentuan Allah kepada mereka yang tidak beriman kepada-Nya.
Surah ini juga mengandungi ayat kursi iaitu ayat yang teragung dan sering dihafal oleh masyarakat Muslim. Malah, ayat ini dijadikan bacaan untuk mendapat perlindungan dan keredhaan Allah SWT.
Asal-Usul Surah dalam Al-Quran: Al-Fatihah
Surah Al-Fatihah (سورة الفاتحة) - Pembukaan - surah yang diturunkan di Makkah dan diturunkan selepas Surah Al-Muddathir. Surah ini mempunyai 7 ayat dan inilah surah pertama yang diturunkan lengkap keseluruhan ayat bagi sebuah surah dan termasuk dalam golongan surah Makkiyyah.
Surah ini dinamakan Al-Fatihah (Pembukaan) kerana ianya dijadikan sebagai pembuka dan permulaan Al-Quran.
Surah ini juga dinamakan Ummul Quran (ام القــرآن - Ibu Quran) atau Ummul Kitaab (ام الكتاب - Ibu Kitab) kerana ianya merupakan ibu atau induk kepada semua isi Al-Quran dan menjadi inti sari dari kandungan Al-Quran itu sendiri.
Surah ini turut dinamakan As-Sab'ul Matsaani yang bermaksud tujuh yang berulang-ulang kerana ayat ini diulang-ulang bagi setiap solat.
Kandungannya
Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Quran, yaitu :
Keimanan
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah : nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rab dalam kalimat Rabbul-'aalamiin tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.
Yang dimaksud dengan Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ibadat yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah.
Hukum-hukum
Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.
Kisah-kisah
Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quran memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al Quran pada surat-surat yang lain.
Penutup
Surat Al Fatihaah ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Quran yang 113 surat berikutnya.
Persesuaian surat ini dengan surat Al Baqarah dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.
Dibahagian akhir surat Al Faatihah disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan kejalan yang lurus, sedang surat Al Baqarah dimulai dengan penunjukan al Kitaab (Al Quran) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.
Nama Lain
Selain dinamai Al-Fatihah (Pembuka), surat pertama Al-Quran ini dinamai juga Ummul Kitab (induk al-Kitab), Ummul Qur'an (induk Al-Qur'an), As-Sabu'ul Matsani (Tujuh yang Diulang), Ash-Shalah (Solat), al-Hamd (Pujian), Al-Wafiyah (yang Sempurna), al-Kanzu (simpanan yang Tebal), asy-Syafiyah (yang Menyembuhkan), Asy-Syifa (Obat), al-Kafiyah (yang Mencukupi), dan al-Asas (Pokok).
Surah ini dinamakan Al-Fatihah (Pembukaan) kerana ianya dijadikan sebagai pembuka dan permulaan Al-Quran.
Surah ini juga dinamakan Ummul Quran (ام القــرآن - Ibu Quran) atau Ummul Kitaab (ام الكتاب - Ibu Kitab) kerana ianya merupakan ibu atau induk kepada semua isi Al-Quran dan menjadi inti sari dari kandungan Al-Quran itu sendiri.
Surah ini turut dinamakan As-Sab'ul Matsaani yang bermaksud tujuh yang berulang-ulang kerana ayat ini diulang-ulang bagi setiap solat.
Kandungannya
Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Quran, yaitu :
Keimanan
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah : nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rab dalam kalimat Rabbul-'aalamiin tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.
Yang dimaksud dengan Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ibadat yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah.
Hukum-hukum
Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.
Kisah-kisah
Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quran memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al Quran pada surat-surat yang lain.
Penutup
Surat Al Fatihaah ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Quran yang 113 surat berikutnya.
Persesuaian surat ini dengan surat Al Baqarah dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.
Dibahagian akhir surat Al Faatihah disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan kejalan yang lurus, sedang surat Al Baqarah dimulai dengan penunjukan al Kitaab (Al Quran) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.
Nama Lain
Selain dinamai Al-Fatihah (Pembuka), surat pertama Al-Quran ini dinamai juga Ummul Kitab (induk al-Kitab), Ummul Qur'an (induk Al-Qur'an), As-Sabu'ul Matsani (Tujuh yang Diulang), Ash-Shalah (Solat), al-Hamd (Pujian), Al-Wafiyah (yang Sempurna), al-Kanzu (simpanan yang Tebal), asy-Syafiyah (yang Menyembuhkan), Asy-Syifa (Obat), al-Kafiyah (yang Mencukupi), dan al-Asas (Pokok).
Sifat 20 Bagi ALLAH S.W.T
Sifat-sifat Allah yang wajib diketahui oleh orang-orang Islam yang terkandung di dalam al-Quran berjumlah 20 sifat. Termasuk juga sifat-sifat Mustahil yang wajib diketahui.
BIL : 1
SIFAT WAJIB : WUJUD
MAKNA : Ada
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu ada. Mustahil Allah itu tiada.
BIL : 2
SIFAT WAJIB :QIDAM
MAKNA : Sedia
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu sedia ada. Mustahil didahului oleh Adam (tiada)
BIL : 3
SIFAT WAJIB : BAQA
MAKNA : Kekal
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu bersifat kekal. Mustahil ia dikatakan fana (binasa)
BIL : 4
SIFAT WAJIB : MUKHALAFATUHU LILHAWADIS
MAKNA : Tidak sama dengan yang baharu
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu tidak mempunyai sifat-sifat yang baharu yakni dijadikan dan dihancurkan. Mustahil bersamaan dengan yang baharu.
BIL : 5
SIFAT WAJIB : QIYAMUHUU BINAFSIH
MAKNA : Berdiri dengan dirinya sendiri
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu bersendiri. Mustahil tidak berdiri dengan dirinya sendiri atau berdiri pada lainnya.
BIL : 6
SIFAT WAJIB : WAHADAANIYAT
MAKNA : Esa
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu Maha Esa Dzat-Nya, Esa sifat-Nya dan esa juga perangai-Nya. Mustahil ia mempunyai Dzat, sifat dan perangai yang berbilang-bilang.
BIL : 7
SIFAT WAJIB : QUDRAT
MAKNA : Kuasa
SIFAT MUSTAHIL : Alah Taala itu Maha Berkuasa. Mustahil Allah itu lemah atau tidak berkuasa.
BIL : 8
SIFAT WAJIB : IRADAT
MAKNA : Menentukan
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu Menentukan segala-galanya. Mustahil Allah Taala itu terpaksa dan dipaksa.
BIL : 9
SIFAT WAJIB : ILMU
MAKNA : Mengetahui
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu amat mengetahui segala-galanya. Mustahil Allah tidak mengetahui.
BIL : 10
SIFAT WAJIB : HAYAT
MAKNA : Hidup
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu sentiasa hidup yakni sentiasa ada. Mustahil Allah Taala itu tiada atau mati.
BIL : 11
SIFAT WAJIB : SAMA
MAKNA : Mendengar
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu tidak tuli (pekak). Mustahil Allah tuli atau tidak mendengar.
BIL : 12
SIFAT WAJIB : BASAR
MAKNA : Melihat
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu sentiasa melihat. Mustahil Allah Taala itu buta.
BIL : 13
SIFAT WAJIB : KALAM
MAKNA : Berkata-kata
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu berkata-kata. Mustahil Allah Taala itu tidak bercakap atau bisu.
BIL : 14
SIFAT WAJIB : QOODIRUN
MAKNA : Maha Kuasa
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu amat berkuasa sifatnya. Mustahil bagi Allah memiliki sifat lemah atau tidak berkuasa.
BIL : 15
SIFAT WAJIB : MURIIDUN
MAKNA : Menentukan
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu berkuasa menentukan apa yang dikehendakinya. Mustahil sifatnya terpaksa atau dipaksa.
BIL : 16
SIFAT WAJIB : AALIMUN
MAKNA : Maha Mengetahui
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu maha mengetahui. Mustahil Allah Taala itu jahil atau tidak mengetahui.
BIL : 17
SIFAT WAJIB : HAYUUN
MAKNA : Hidup
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu Maha Hidup dan menghidupkan alam ini. Mustahil pula Allah itu mati.
BIL : 18
SIFAT WAJIB : SAMI'UN
MAKNA : Mendengar
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu maha mendengar. Mustahil jika Allah Taala tidak mendengar atau tuli.
BIL : 19
SIFAT WAJIB : BASIIRUN
MAKNA : Melihat
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu melihat semua kejadian di muka bumi. Mustahil jika sifat Allah itu tidak melihat atau buta.
BIL : 20
SIFAT WAJIB : MUTAKALLIMUN
MAKNA : Maha Berkata-kata
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu berkata-kata. Mustahil jika Allah Taala bisu atau tidak boleh berkata-kata.
BIL : 1
SIFAT WAJIB : WUJUD
MAKNA : Ada
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu ada. Mustahil Allah itu tiada.
BIL : 2
SIFAT WAJIB :QIDAM
MAKNA : Sedia
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu sedia ada. Mustahil didahului oleh Adam (tiada)
BIL : 3
SIFAT WAJIB : BAQA
MAKNA : Kekal
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu bersifat kekal. Mustahil ia dikatakan fana (binasa)
BIL : 4
SIFAT WAJIB : MUKHALAFATUHU LILHAWADIS
MAKNA : Tidak sama dengan yang baharu
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu tidak mempunyai sifat-sifat yang baharu yakni dijadikan dan dihancurkan. Mustahil bersamaan dengan yang baharu.
BIL : 5
SIFAT WAJIB : QIYAMUHUU BINAFSIH
MAKNA : Berdiri dengan dirinya sendiri
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu bersendiri. Mustahil tidak berdiri dengan dirinya sendiri atau berdiri pada lainnya.
BIL : 6
SIFAT WAJIB : WAHADAANIYAT
MAKNA : Esa
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu Maha Esa Dzat-Nya, Esa sifat-Nya dan esa juga perangai-Nya. Mustahil ia mempunyai Dzat, sifat dan perangai yang berbilang-bilang.
BIL : 7
SIFAT WAJIB : QUDRAT
MAKNA : Kuasa
SIFAT MUSTAHIL : Alah Taala itu Maha Berkuasa. Mustahil Allah itu lemah atau tidak berkuasa.
BIL : 8
SIFAT WAJIB : IRADAT
MAKNA : Menentukan
SIFAT MUSTAHIL : Allah itu Menentukan segala-galanya. Mustahil Allah Taala itu terpaksa dan dipaksa.
BIL : 9
SIFAT WAJIB : ILMU
MAKNA : Mengetahui
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu amat mengetahui segala-galanya. Mustahil Allah tidak mengetahui.
BIL : 10
SIFAT WAJIB : HAYAT
MAKNA : Hidup
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu sentiasa hidup yakni sentiasa ada. Mustahil Allah Taala itu tiada atau mati.
BIL : 11
SIFAT WAJIB : SAMA
MAKNA : Mendengar
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu tidak tuli (pekak). Mustahil Allah tuli atau tidak mendengar.
BIL : 12
SIFAT WAJIB : BASAR
MAKNA : Melihat
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu sentiasa melihat. Mustahil Allah Taala itu buta.
BIL : 13
SIFAT WAJIB : KALAM
MAKNA : Berkata-kata
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu berkata-kata. Mustahil Allah Taala itu tidak bercakap atau bisu.
BIL : 14
SIFAT WAJIB : QOODIRUN
MAKNA : Maha Kuasa
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu amat berkuasa sifatnya. Mustahil bagi Allah memiliki sifat lemah atau tidak berkuasa.
BIL : 15
SIFAT WAJIB : MURIIDUN
MAKNA : Menentukan
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu berkuasa menentukan apa yang dikehendakinya. Mustahil sifatnya terpaksa atau dipaksa.
BIL : 16
SIFAT WAJIB : AALIMUN
MAKNA : Maha Mengetahui
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu maha mengetahui. Mustahil Allah Taala itu jahil atau tidak mengetahui.
BIL : 17
SIFAT WAJIB : HAYUUN
MAKNA : Hidup
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu Maha Hidup dan menghidupkan alam ini. Mustahil pula Allah itu mati.
BIL : 18
SIFAT WAJIB : SAMI'UN
MAKNA : Mendengar
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu maha mendengar. Mustahil jika Allah Taala tidak mendengar atau tuli.
BIL : 19
SIFAT WAJIB : BASIIRUN
MAKNA : Melihat
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu melihat semua kejadian di muka bumi. Mustahil jika sifat Allah itu tidak melihat atau buta.
BIL : 20
SIFAT WAJIB : MUTAKALLIMUN
MAKNA : Maha Berkata-kata
SIFAT MUSTAHIL : Allah Taala itu berkata-kata. Mustahil jika Allah Taala bisu atau tidak boleh berkata-kata.
Khamis, April 30, 2009
Ketibaan Nabi Muhammad dalam Kitab-kitab Agama Lama
PENDAHULUAN
Kelahiran Nabi Muhammad sebagai Nabi Akhir Zaman telah terlebih dahulu diramalkan oleh banyak kitab-kitab agama orang-orang lama zaman itu. Kitab-kitab agama itu termasuklah kitab-kitab Vida, Dasatir dan Injil (Bible). Kenyataan-kenyataan tentang ramalan-ramalan di dalam kitab-kitab agama itu lazimnya disebut sebagai "Khabar Gembira . Orang-orang Islam adalah memegang teguh keterangan-keterangan ini. Kenyataan-kenyataan ramalan yang dimaksudkan tersebut adalah sebagai berikut:
KITAB VIDA DAN DASATIR
Salah sebuah kitab agama Hindu yang terkenal ialah kitab Sama Vida. Dalam perenggan 6 dan 8 penggal 11 kitab tersebut ada menyatakan keterangan deinikian.
"Ahmad (Muhammad) menerima syariat daripada Tuhannya, sedang syariat itu penuh hikmat dan ia (syariat) mengambil cahaya daripada Tuhan sebahagian ia (cahaya) diambil daripada matahari.
Sementara itu pula di dalam kitab Dasatir salah sebuah kitab suci agama Zoroaster (Zoroastrianism) iaitu kitab agama orang-orang Parsi purba ada menyebut seperti berikut:
"Bahawa umat Zoroaster ketika mereka membuang agama mereka, mereka menjadi hina dan lemah, kemudian bangkitlah seorang di Tanah Arab menewaskan pengikutnya (pengikut-pengikut Zoroaster) dan orang-orang Parsi dan menundukkan pula orang-orang Parsi yang sombong. Selepas daripada api dalam kuil-kuil mereka, mereka mengarahkan pula muka mereka ke arah Kaabah Ibrahim yang telah dibersihkan daripada berhala-berhala, ketika itu mereka menjadi pengikut-pengikut bagi Nabi (Muhammad) yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan menguasai orang-orang Parsi, menakluki Madain, Tus dan Balk iaitu tempat suci bagi orang-orang Zoroaster dan yang berjiran dengan mere ka. Dan Nabi mereka sesungguhnya adalah bijak bercakap, ia bercakap dengan mukjizat-mukjizat.
Kitab-kitab tersebut adalah merupakan kitab-kitab yang sangat dihormati dan disanjung tinggi oleh penganut-penganutnya. Ramalan-ramalan dalam kitab-kitab tersebut kemudiannya telah menjadi kenyataan. Nabi Muhammad sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab-kitab itu kemudiannya telah lahir, membuka fikiran manusia ke sinaran yang terang benderang.
KITAB TAURAT
Dalani kitab Taurat Ulangan iaitu kitab suci agama Yahudi fasal 18 Tuhan telah berIirman kepada Nabi
Musa, katanya:
"Bahawa aku (tuhan) akan bangkitkan bagi mereka itu (dan seluruh insan di dunia ini) seorang Nabi dari kalangan saudara mereka (orang-orang Arab) yang seperti engkau (Musa) dan aku akan menjadikan segala flrmanku dalam mulutnya, dan ia pun akan menyatakan kepada mereka segala yang aku pesankan.
Teranglah dalam ayat ini Tuhan telah menyuruh Nabi Musa supaya beliau menyatakan kepada kaumnya Bani Israel bahawa kelak Tuhan akan mengutuskan seorang Rasul kepada mereka dan seluruh manusia yang bukan daripada keturunan Bani Israel, tetapi daripada bangsa yang bersaudara dengan mereka, iaitu keturunan Nabi Ismail putera Nabi Ibrahim atau ketuninan Arab Muda (al-Arab ul-Musta'ribah). Dan Rasul yang dimaksudkan itu tidak lain tidak bukan ialah Nabi Muhammad. Bagi mencari asal-usul keturunan Arab Muda itu yang dikatakan bersaudara dengan Bani Israel, kajian tentang susur-galur keturunan Nabi Ibrahim perlu sekali dibuat. Mengikut sejarah Nabi Ibrahim mempunyai dua orang putera, selain Nabi Ismail iaitu Nabi Ishak yang mempunyai seorang putera bernama Nabi Yaakub atau Israel. Inilah sebabnya mereka itu dikatakan bersaudara.
KITAB INJIL YAHYA LAMA
Dalam kitab Injil Yahya yang digunakan oleh orang-orang Kristian dahulu atau boleh juga disebut kitab Injil Yahya Lama, fasal 18 ada menyatakan berikut:
"Tetapi aku (Isa) ini mengatakan yang benar kepadamu (pengikut-pengikut Isa) bahawa berfaedahlah bagi kamu jika aku ini pergi, kerana jika aku tiada pergi tiadalah Paraclete itu akan datang kepadamu, tetapi jika aku pergi aku akan men yuruh dia kepadamu.
Perkataan Paraclete' ini berasal daripada bahasa Greek Tua iaitu Parakletos' yang bermakna Penolong' atau Wakil' yang boleh juga diertikan sebagai Utusan' atau Rasul'. Tetapi perkataan ini kemudiannya ditafsirkan oleh padri-padri Kristian sebagai Roh alQudus (The Holy Ghost). Dalam bahasa Greek Tua itu juga terdapat satu perkataan yang hampir sama dengan perkataan itu iaitu Paraklutos' ertinya Yang Sangat Terpuji' atau dalam bahasa Arab disebut Ahmad atau Muhammad. Perkataan Paraklutos ini yang sebenamya dicatatkan dalam kitab Injil bahasa Greek Tua, tetapi kemudiannya telah berubah menjadi Paraclete, kerana mungkin kecuaian penyalin-penyalinnya, sebab penyalin-penyalmn itu kebanyakannya terdiri daripada penuntut-penuntut padri yang kurang mahir dalam bahasa itu. Atau mungkmn juga perkataan itu sengaja diubah oleh padri-padn untuk memberi keyakinan kepada penganut-penganut Kristian.
KITAB INJIL YAHYA SEKARANG
Kitab Injil Yahya yang digunakan oleh gereja-gereja Kristian pada masa ini juga membayangkan tentang kedatangan Nabi Akhir Zaman itu. Dalam fasal 16 ayat 12, 13, 14, 15, 16 dan 17 kitab tersebut Nabi Isa telah menegaskan kepada murid-muridnya, katanya:
"Dart hal hukuman sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan. Maka ada lagi banyak perkara-perkara yang hendak kukatakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada boleh kamu menanggung dia. Melainkan apabila ia pun datang, iaitu Roh Kebenaran, maka ia akan membawa kamu pada jalan segala kebenaran, kerana tiada dengar kelak iaitu akan dikatakannya, dan dikhabarkannya kelak kepadamu perkara-perkara yang akan datang. Maka ia akan memuliakan aku kerana dtambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepada kamu (manusia kemudian). Barang sesuatu yang ada kepada Bapa (Tuhan Bapa) iaitu semuanya aku punya, itulah sebabnya aku sudah berkata bahawa diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu (manusia kemudian). Lagi seketika maka tiada kamu akan memandang aku lagi, kemudian seketika lagi kamu akan memandang aku pula.
(Injil Yahya 16: 12-17)
Kesimpulan ayat-ayat di atas bolehlah seperti berikut:
"Darihal hukuman sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan. Maka ada lagi banyak perkara yang hendak kukatakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada boleh kamu menanggung dia. Melainkan apabila ia pun datang, iaitu Roh Kebenaran, maka ia akan membawa kamu (manusia kemudian) pada jalan segala kebenaran. Ayat ini menghuraikan bahawa Roh Kebenaran yang dikatakan datang tadi akan melanjutkan kerja-kerja Nabi Isa.
2. "Kerana tiada Ia akan berkata-kata daripada kuasa dirlnya sendiri melainkan barang yang didengrnya kelak iaitu akan dikatakannya, dan dikhabarkannya kelak kepadamu (manusia kemudian) perkara-perkara yang akan datang . Umumnya ayat ini menyatakan yang Roh Kebenaran yang akan muncul itu akan menerangkan kepada seluruh manusia perkara-perkara yang diwahyukan oleh Tuhan terhadapnya (barang yang didengarkan kelak), dan akan menerangkan perkara-perkara yang akan datang seumpamanya tentang Hari Qiamat dan sebagamnya.
3. "Maka Ia akan memuliakan aku kerana diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu (manusIa kemudian) . Ayat ini membayangkan bahawa Roh Kebenaran itu akan memberI kemuliaan kepada Nabi Isa kerana ia akan menerima keterangan-keterangan tentangnya daripada Tuhan untuk umatnya sebagai contoh tauladan dan ajaran-aj arannya. Mengikut ajaran-ajaran Kristian sekarang, Nabi Isa adalah penjelmaan Tuhan di muka bumi ini atau Nabi Isa itu adalah Tuhan Anak (The Son of God), sebab itulah ayat Injil di atas menyatakan, "Barang yang ada kepada Bapa (Tuhan Bapa) iaitu semuanya aku punya, itulah sebabnya aku sudah berkata bahawa diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu (manusia kemudian) . Ayat ini boleh ditafsirkan bahawa apa yang ada pada Tuhan Bapa (Allah) terdapat juga Tuhan Anak (Isa), dan ini bermakna bahawa ajaran-ajaran Tuhan Bapa (Allah) juga.
4. Lagi seketika maka tiada kamu akan memandang aku lagi, kemudian seketika lagi kamu akan memandang aku pula. Ayat ini membayangkan bahawa Nabi Isa selepas daripada menyatakan kenyataan-kenyataan itu akan lenyap, tetapi kemudian akan menjelma di dunia ini.
Dan kenyataan-kenyataan dan tafsiran-tafsiran di atas menunjukkan dengan jelas bahawa Roh Kebenaran yang dikatakan akan menyambung usaha-usaha Nabi Isa tersebut, tidak salah kalau dikatakan seorang Pesuruh Allah atau Rasulullah, kerana tugas-tugas yang dibayangkannya adalah tugas seorang Rasul. Roh Kebenaran itu tidaklah menyeleweng kalau dikatakan Nabi Muhammad, kerana bayangan-bayangan yang tersebut di dalam ayat tersebut kemudiannya telah menjadi kenyataan apabila Nabi Muhammad lahir. Cuma yang agak berbeza yang juga mungkin boleh menimbulkan salah faham ialah ayat, "Barang sesuatu yang ada kepada Bapa (Tuhan Bapa) iaitu semuanya aku punya, itulah sebabnya aku sudah berkata bahawa diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu. Ayat ini harus telah menenima perubahan bagi menyesuaikan dengan konsep tritung gal (trinity) agama Knistian. Huraian ayat ini telah pun dijelaskan di atas.
KITAB INJIL BARNABA
Kitab Injil Barnaba ini ialah salah sebuah kitab Injil yang telah dibatalkan pengesahannya oleh padri-padri Kristian dalam satu persidangan tidak lama dahulu, kerana isi kitab Injil tersebut tidak jauh perbezaannya dengan kitab suci al-Quran, banyak menyebut atau sekurang-kurangnya membayangkan tentang ketibaan Nabi Muhammad sebagai Nabi Akhir Zaman di antaranya kenyataan-kenyataan dan bayangan-bayangan (Khabar Gembira) tentang ketibaan Nabi Muhammad itu adalah seperti yang disenaraikan di bawah ini:
"Sesungguhnya telah datang Nabi-Nabi semuanya melainkan seorang Rasul yang akan datang sesudahku (Isa) nanti.
2. "Jesus Christ (Isa) berkata, Janganlah bergoncang hati kamu (murid-murid Isa) dan janganlah kamu takut, kerana bukan aku menjadikan kamu, tetapi Tuhan (Allah) yang men] adikan kamu. Adapun tentang diriku sesungguhnya aku datang untuk menyediakan jalan bagi Utusan Tuhan (Rasulullah) yang akan datang membawa kelepasan bagi dunia. Tetapi awas kamu ditipu orang kerana akan datang beberapa banyak Nabi dusta, mereka mengambil perkataanku dan mengaturkan Injilku.
Ketika itu berkata Andraus, "Wahai Guruku, sebutkanlah bagi kami satu tanda supaya kami (manusia kemudian) kenal akan dia. Maka jawab Isa, "Sesungguhnya dia tidak datang pada masa kamu ini tetapi ia akan datang kelak berbilang tahun selepas masa kamu, iaitu di waktu dirosakkan orang Injilku dan hampir tidak didapati lagi tiga puluh orang mukmin (pengikut-pengikut Isa yang tulen). Di waktu itulah Tuhan (Allah) merahmati dunia ini, maka diutus-Nya-lah Rasul-Nya yang tetap, awan putih di atas kepalanya mengenal akan dia salah seorang pilihan Tuhan (Allah) dan dialah yang akan menzahirkan kepada dunia. Dan ia akan datang dengan kekuatan yang besar untuk menewaskan orang-orang jahat dan ia akan menghapuskan penyembahan berhala dari dunia ini.
Sesungguhnya aku menyukai yang demikian, kerana dengan perantaraannya akan diterangkan dan dimuliakan orang akan Tuhan (Allah) dan Ia menyatakan kebenaranku. Dan ia akan menghukum sekalian orang yang berkata bahawa aku orang yang lebih besar daripada manusia (sama dengan Tuhan).
3. Satu rombongan Yahudi telah datang menemui Isa mereka bertanya tentang Nabi yang akan dibangkitkan di akhir zaman nanti. Maka Isa berkata, "Tuhan (Allah) telah menjadikan Nabi di akhir zaman dan telah meletakkan dalam sebuah qandil' daripada cahaya dan menamakannya Muhammad'. Berkata ia, Wahai Muhammad, sabarlah. Lantaran engkaulah aku jadikan makhluk yang banyak dan aku anugerahkan untuk engkau semuanya. Barangsiapa yang rela kepada engkau maka rela pula kepadanya dan barangsiapa yang marahkan engkau maka aku terlepas daripadanya.
(Injil Barnaba, 97).
4. Bertanya murid-murid (murid-murid Isa), "Wahai Guru. Siapakah gerangannya laki-laki itu yang engkau (Isa) katakan yang akan datang ke alam ini? Menjawab Isa dengan perasaan gembiranya, "Sebenamya itulah "Muhammad Rasulullah . Dia datang ke alam ini untuk berbuat balk di kalangan manusia dengan membawa rahmat yang banyak, seperti mana hujan mencurah bumi yang mengeluarkan buah-buahan sesudah menempuh kemarau panjang. Maka dia merupakan awan putih yang dipenuhi rahmat Tuhan, iaitu rahmat yang dicurahkan Tuhan (Allah) terhadap orang mukmin laksana huj an.
(Injil Bamaba, 163)
5. Nabi Isa berkata kepada murid-muridnya, tatkala manusia memanggil aku Tuhan (Allah) dan Tuhan Anak (Anak Allah) aku tidak ada lagi di dalam alam mi. Tuhan (Allah) mengolok-olokkan manusia di alam ini dengan kematian Yahuda. Mereka beriktikad bahawa akulah yang mati tersalib itu, supaya tidak lagi syaitan mengolok-lokkan aku di hari Qiamat nanti. Aku tetapkan begini selamanya hingga datang "Muhammad Rasulullah . Apabila Muhammad datang terbukalah rahsia tipuan ini bagi mereka yang beriman dengan agama Tuhan (Allah).
(Injil Bamaba, 220: 19 - 20)
6. Dalam Injil Barnaba itu juga Nabi Isa pemah berkata, "Nabi Adam pemah melihat di udara satu tulisan La ilaha illallah wa Muhammad darRasulullah,' Maka Adam berkata kepada Tuhan (Allah); Aku bersyukur kepada Engkau wahai Tuhanku kerana Engkau telah jadikan aku, dan berilah kepada aku apakah maknanya, "Muhammad dar Rasulullah itu? Tuhan (Allah) menjawab, "Selamat datang engkau wahai hamba-Ku Adam. Sesungguhnya aku katakan kepada engkau adalah mula pertamanya manusia yang aku jadikan dan tulisan yang engkau lihat ini sebenamya itulah anak engkau yang akan datang ke alam ini sesudah beberapa tahun nanti. Dia akan menjadi UtusanKu (Rasul-Ku). Kerananyalah Aku jadikan segalanya. Apabila dia datang kepada alam. Adalah dirinya itu terletak di dalam satu tempat yang indah, kira-kira 60,000 tahun sebelum aku jadikan engkau.
7. Di lembaran laIn kitab Injil Barnaba itu Nabi Isa pemah berkata, "Di waktu Nabi Adam keluar daripada syurga (bersama-sama Hawa) ia nampak tulisan di atas pintu syurga. "La ilaha illalLah wa Muhamma dar Rasulullah. Sebagaimana yang telah dinyatakan di atas tadi ketibaan Nabi Muhammad adalah sebagai mentaksid atau untuk membaiki penyelewengan yang terdapat di dalam agama Nasrani (Knistian) dan juga agama Yahudi, di samping untuk mempenlengkapkan lagi ajaran-ajaran yang diwahyukan kepada Rasul-Rasul yang terdahulu danipadanya sesuai bagi seluruh manusia dan sepanjang zaman. Nabi Muhammad telah membawa agama Islam sebagai agama yang benar, agama yang diredai oleh Allah dan agama yang menyelamatkan manusia daripada ajaran-ajanan agama yang telah menyeleweng daripada asal.
oleh Mohd Jamil Mukmin
Kelahiran Nabi Muhammad sebagai Nabi Akhir Zaman telah terlebih dahulu diramalkan oleh banyak kitab-kitab agama orang-orang lama zaman itu. Kitab-kitab agama itu termasuklah kitab-kitab Vida, Dasatir dan Injil (Bible). Kenyataan-kenyataan tentang ramalan-ramalan di dalam kitab-kitab agama itu lazimnya disebut sebagai "Khabar Gembira . Orang-orang Islam adalah memegang teguh keterangan-keterangan ini. Kenyataan-kenyataan ramalan yang dimaksudkan tersebut adalah sebagai berikut:
KITAB VIDA DAN DASATIR
Salah sebuah kitab agama Hindu yang terkenal ialah kitab Sama Vida. Dalam perenggan 6 dan 8 penggal 11 kitab tersebut ada menyatakan keterangan deinikian.
"Ahmad (Muhammad) menerima syariat daripada Tuhannya, sedang syariat itu penuh hikmat dan ia (syariat) mengambil cahaya daripada Tuhan sebahagian ia (cahaya) diambil daripada matahari.
Sementara itu pula di dalam kitab Dasatir salah sebuah kitab suci agama Zoroaster (Zoroastrianism) iaitu kitab agama orang-orang Parsi purba ada menyebut seperti berikut:
"Bahawa umat Zoroaster ketika mereka membuang agama mereka, mereka menjadi hina dan lemah, kemudian bangkitlah seorang di Tanah Arab menewaskan pengikutnya (pengikut-pengikut Zoroaster) dan orang-orang Parsi dan menundukkan pula orang-orang Parsi yang sombong. Selepas daripada api dalam kuil-kuil mereka, mereka mengarahkan pula muka mereka ke arah Kaabah Ibrahim yang telah dibersihkan daripada berhala-berhala, ketika itu mereka menjadi pengikut-pengikut bagi Nabi (Muhammad) yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan menguasai orang-orang Parsi, menakluki Madain, Tus dan Balk iaitu tempat suci bagi orang-orang Zoroaster dan yang berjiran dengan mere ka. Dan Nabi mereka sesungguhnya adalah bijak bercakap, ia bercakap dengan mukjizat-mukjizat.
Kitab-kitab tersebut adalah merupakan kitab-kitab yang sangat dihormati dan disanjung tinggi oleh penganut-penganutnya. Ramalan-ramalan dalam kitab-kitab tersebut kemudiannya telah menjadi kenyataan. Nabi Muhammad sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab-kitab itu kemudiannya telah lahir, membuka fikiran manusia ke sinaran yang terang benderang.
KITAB TAURAT
Dalani kitab Taurat Ulangan iaitu kitab suci agama Yahudi fasal 18 Tuhan telah berIirman kepada Nabi
Musa, katanya:
"Bahawa aku (tuhan) akan bangkitkan bagi mereka itu (dan seluruh insan di dunia ini) seorang Nabi dari kalangan saudara mereka (orang-orang Arab) yang seperti engkau (Musa) dan aku akan menjadikan segala flrmanku dalam mulutnya, dan ia pun akan menyatakan kepada mereka segala yang aku pesankan.
Teranglah dalam ayat ini Tuhan telah menyuruh Nabi Musa supaya beliau menyatakan kepada kaumnya Bani Israel bahawa kelak Tuhan akan mengutuskan seorang Rasul kepada mereka dan seluruh manusia yang bukan daripada keturunan Bani Israel, tetapi daripada bangsa yang bersaudara dengan mereka, iaitu keturunan Nabi Ismail putera Nabi Ibrahim atau ketuninan Arab Muda (al-Arab ul-Musta'ribah). Dan Rasul yang dimaksudkan itu tidak lain tidak bukan ialah Nabi Muhammad. Bagi mencari asal-usul keturunan Arab Muda itu yang dikatakan bersaudara dengan Bani Israel, kajian tentang susur-galur keturunan Nabi Ibrahim perlu sekali dibuat. Mengikut sejarah Nabi Ibrahim mempunyai dua orang putera, selain Nabi Ismail iaitu Nabi Ishak yang mempunyai seorang putera bernama Nabi Yaakub atau Israel. Inilah sebabnya mereka itu dikatakan bersaudara.
KITAB INJIL YAHYA LAMA
Dalam kitab Injil Yahya yang digunakan oleh orang-orang Kristian dahulu atau boleh juga disebut kitab Injil Yahya Lama, fasal 18 ada menyatakan berikut:
"Tetapi aku (Isa) ini mengatakan yang benar kepadamu (pengikut-pengikut Isa) bahawa berfaedahlah bagi kamu jika aku ini pergi, kerana jika aku tiada pergi tiadalah Paraclete itu akan datang kepadamu, tetapi jika aku pergi aku akan men yuruh dia kepadamu.
Perkataan Paraclete' ini berasal daripada bahasa Greek Tua iaitu Parakletos' yang bermakna Penolong' atau Wakil' yang boleh juga diertikan sebagai Utusan' atau Rasul'. Tetapi perkataan ini kemudiannya ditafsirkan oleh padri-padri Kristian sebagai Roh alQudus (The Holy Ghost). Dalam bahasa Greek Tua itu juga terdapat satu perkataan yang hampir sama dengan perkataan itu iaitu Paraklutos' ertinya Yang Sangat Terpuji' atau dalam bahasa Arab disebut Ahmad atau Muhammad. Perkataan Paraklutos ini yang sebenamya dicatatkan dalam kitab Injil bahasa Greek Tua, tetapi kemudiannya telah berubah menjadi Paraclete, kerana mungkin kecuaian penyalin-penyalinnya, sebab penyalin-penyalmn itu kebanyakannya terdiri daripada penuntut-penuntut padri yang kurang mahir dalam bahasa itu. Atau mungkmn juga perkataan itu sengaja diubah oleh padri-padn untuk memberi keyakinan kepada penganut-penganut Kristian.
KITAB INJIL YAHYA SEKARANG
Kitab Injil Yahya yang digunakan oleh gereja-gereja Kristian pada masa ini juga membayangkan tentang kedatangan Nabi Akhir Zaman itu. Dalam fasal 16 ayat 12, 13, 14, 15, 16 dan 17 kitab tersebut Nabi Isa telah menegaskan kepada murid-muridnya, katanya:
"Dart hal hukuman sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan. Maka ada lagi banyak perkara-perkara yang hendak kukatakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada boleh kamu menanggung dia. Melainkan apabila ia pun datang, iaitu Roh Kebenaran, maka ia akan membawa kamu pada jalan segala kebenaran, kerana tiada dengar kelak iaitu akan dikatakannya, dan dikhabarkannya kelak kepadamu perkara-perkara yang akan datang. Maka ia akan memuliakan aku kerana dtambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepada kamu (manusia kemudian). Barang sesuatu yang ada kepada Bapa (Tuhan Bapa) iaitu semuanya aku punya, itulah sebabnya aku sudah berkata bahawa diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu (manusia kemudian). Lagi seketika maka tiada kamu akan memandang aku lagi, kemudian seketika lagi kamu akan memandang aku pula.
(Injil Yahya 16: 12-17)
Kesimpulan ayat-ayat di atas bolehlah seperti berikut:
"Darihal hukuman sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan. Maka ada lagi banyak perkara yang hendak kukatakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada boleh kamu menanggung dia. Melainkan apabila ia pun datang, iaitu Roh Kebenaran, maka ia akan membawa kamu (manusia kemudian) pada jalan segala kebenaran. Ayat ini menghuraikan bahawa Roh Kebenaran yang dikatakan datang tadi akan melanjutkan kerja-kerja Nabi Isa.
2. "Kerana tiada Ia akan berkata-kata daripada kuasa dirlnya sendiri melainkan barang yang didengrnya kelak iaitu akan dikatakannya, dan dikhabarkannya kelak kepadamu (manusia kemudian) perkara-perkara yang akan datang . Umumnya ayat ini menyatakan yang Roh Kebenaran yang akan muncul itu akan menerangkan kepada seluruh manusia perkara-perkara yang diwahyukan oleh Tuhan terhadapnya (barang yang didengarkan kelak), dan akan menerangkan perkara-perkara yang akan datang seumpamanya tentang Hari Qiamat dan sebagamnya.
3. "Maka Ia akan memuliakan aku kerana diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu (manusIa kemudian) . Ayat ini membayangkan bahawa Roh Kebenaran itu akan memberI kemuliaan kepada Nabi Isa kerana ia akan menerima keterangan-keterangan tentangnya daripada Tuhan untuk umatnya sebagai contoh tauladan dan ajaran-aj arannya. Mengikut ajaran-ajaran Kristian sekarang, Nabi Isa adalah penjelmaan Tuhan di muka bumi ini atau Nabi Isa itu adalah Tuhan Anak (The Son of God), sebab itulah ayat Injil di atas menyatakan, "Barang yang ada kepada Bapa (Tuhan Bapa) iaitu semuanya aku punya, itulah sebabnya aku sudah berkata bahawa diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu (manusia kemudian) . Ayat ini boleh ditafsirkan bahawa apa yang ada pada Tuhan Bapa (Allah) terdapat juga Tuhan Anak (Isa), dan ini bermakna bahawa ajaran-ajaran Tuhan Bapa (Allah) juga.
4. Lagi seketika maka tiada kamu akan memandang aku lagi, kemudian seketika lagi kamu akan memandang aku pula. Ayat ini membayangkan bahawa Nabi Isa selepas daripada menyatakan kenyataan-kenyataan itu akan lenyap, tetapi kemudian akan menjelma di dunia ini.
Dan kenyataan-kenyataan dan tafsiran-tafsiran di atas menunjukkan dengan jelas bahawa Roh Kebenaran yang dikatakan akan menyambung usaha-usaha Nabi Isa tersebut, tidak salah kalau dikatakan seorang Pesuruh Allah atau Rasulullah, kerana tugas-tugas yang dibayangkannya adalah tugas seorang Rasul. Roh Kebenaran itu tidaklah menyeleweng kalau dikatakan Nabi Muhammad, kerana bayangan-bayangan yang tersebut di dalam ayat tersebut kemudiannya telah menjadi kenyataan apabila Nabi Muhammad lahir. Cuma yang agak berbeza yang juga mungkin boleh menimbulkan salah faham ialah ayat, "Barang sesuatu yang ada kepada Bapa (Tuhan Bapa) iaitu semuanya aku punya, itulah sebabnya aku sudah berkata bahawa diambilnya kelak perkaraku lalu dikhabarkannya kepadamu. Ayat ini harus telah menenima perubahan bagi menyesuaikan dengan konsep tritung gal (trinity) agama Knistian. Huraian ayat ini telah pun dijelaskan di atas.
KITAB INJIL BARNABA
Kitab Injil Barnaba ini ialah salah sebuah kitab Injil yang telah dibatalkan pengesahannya oleh padri-padri Kristian dalam satu persidangan tidak lama dahulu, kerana isi kitab Injil tersebut tidak jauh perbezaannya dengan kitab suci al-Quran, banyak menyebut atau sekurang-kurangnya membayangkan tentang ketibaan Nabi Muhammad sebagai Nabi Akhir Zaman di antaranya kenyataan-kenyataan dan bayangan-bayangan (Khabar Gembira) tentang ketibaan Nabi Muhammad itu adalah seperti yang disenaraikan di bawah ini:
"Sesungguhnya telah datang Nabi-Nabi semuanya melainkan seorang Rasul yang akan datang sesudahku (Isa) nanti.
2. "Jesus Christ (Isa) berkata, Janganlah bergoncang hati kamu (murid-murid Isa) dan janganlah kamu takut, kerana bukan aku menjadikan kamu, tetapi Tuhan (Allah) yang men] adikan kamu. Adapun tentang diriku sesungguhnya aku datang untuk menyediakan jalan bagi Utusan Tuhan (Rasulullah) yang akan datang membawa kelepasan bagi dunia. Tetapi awas kamu ditipu orang kerana akan datang beberapa banyak Nabi dusta, mereka mengambil perkataanku dan mengaturkan Injilku.
Ketika itu berkata Andraus, "Wahai Guruku, sebutkanlah bagi kami satu tanda supaya kami (manusia kemudian) kenal akan dia. Maka jawab Isa, "Sesungguhnya dia tidak datang pada masa kamu ini tetapi ia akan datang kelak berbilang tahun selepas masa kamu, iaitu di waktu dirosakkan orang Injilku dan hampir tidak didapati lagi tiga puluh orang mukmin (pengikut-pengikut Isa yang tulen). Di waktu itulah Tuhan (Allah) merahmati dunia ini, maka diutus-Nya-lah Rasul-Nya yang tetap, awan putih di atas kepalanya mengenal akan dia salah seorang pilihan Tuhan (Allah) dan dialah yang akan menzahirkan kepada dunia. Dan ia akan datang dengan kekuatan yang besar untuk menewaskan orang-orang jahat dan ia akan menghapuskan penyembahan berhala dari dunia ini.
Sesungguhnya aku menyukai yang demikian, kerana dengan perantaraannya akan diterangkan dan dimuliakan orang akan Tuhan (Allah) dan Ia menyatakan kebenaranku. Dan ia akan menghukum sekalian orang yang berkata bahawa aku orang yang lebih besar daripada manusia (sama dengan Tuhan).
3. Satu rombongan Yahudi telah datang menemui Isa mereka bertanya tentang Nabi yang akan dibangkitkan di akhir zaman nanti. Maka Isa berkata, "Tuhan (Allah) telah menjadikan Nabi di akhir zaman dan telah meletakkan dalam sebuah qandil' daripada cahaya dan menamakannya Muhammad'. Berkata ia, Wahai Muhammad, sabarlah. Lantaran engkaulah aku jadikan makhluk yang banyak dan aku anugerahkan untuk engkau semuanya. Barangsiapa yang rela kepada engkau maka rela pula kepadanya dan barangsiapa yang marahkan engkau maka aku terlepas daripadanya.
(Injil Barnaba, 97).
4. Bertanya murid-murid (murid-murid Isa), "Wahai Guru. Siapakah gerangannya laki-laki itu yang engkau (Isa) katakan yang akan datang ke alam ini? Menjawab Isa dengan perasaan gembiranya, "Sebenamya itulah "Muhammad Rasulullah . Dia datang ke alam ini untuk berbuat balk di kalangan manusia dengan membawa rahmat yang banyak, seperti mana hujan mencurah bumi yang mengeluarkan buah-buahan sesudah menempuh kemarau panjang. Maka dia merupakan awan putih yang dipenuhi rahmat Tuhan, iaitu rahmat yang dicurahkan Tuhan (Allah) terhadap orang mukmin laksana huj an.
(Injil Bamaba, 163)
5. Nabi Isa berkata kepada murid-muridnya, tatkala manusia memanggil aku Tuhan (Allah) dan Tuhan Anak (Anak Allah) aku tidak ada lagi di dalam alam mi. Tuhan (Allah) mengolok-olokkan manusia di alam ini dengan kematian Yahuda. Mereka beriktikad bahawa akulah yang mati tersalib itu, supaya tidak lagi syaitan mengolok-lokkan aku di hari Qiamat nanti. Aku tetapkan begini selamanya hingga datang "Muhammad Rasulullah . Apabila Muhammad datang terbukalah rahsia tipuan ini bagi mereka yang beriman dengan agama Tuhan (Allah).
(Injil Bamaba, 220: 19 - 20)
6. Dalam Injil Barnaba itu juga Nabi Isa pemah berkata, "Nabi Adam pemah melihat di udara satu tulisan La ilaha illallah wa Muhammad darRasulullah,' Maka Adam berkata kepada Tuhan (Allah); Aku bersyukur kepada Engkau wahai Tuhanku kerana Engkau telah jadikan aku, dan berilah kepada aku apakah maknanya, "Muhammad dar Rasulullah itu? Tuhan (Allah) menjawab, "Selamat datang engkau wahai hamba-Ku Adam. Sesungguhnya aku katakan kepada engkau adalah mula pertamanya manusia yang aku jadikan dan tulisan yang engkau lihat ini sebenamya itulah anak engkau yang akan datang ke alam ini sesudah beberapa tahun nanti. Dia akan menjadi UtusanKu (Rasul-Ku). Kerananyalah Aku jadikan segalanya. Apabila dia datang kepada alam. Adalah dirinya itu terletak di dalam satu tempat yang indah, kira-kira 60,000 tahun sebelum aku jadikan engkau.
7. Di lembaran laIn kitab Injil Barnaba itu Nabi Isa pemah berkata, "Di waktu Nabi Adam keluar daripada syurga (bersama-sama Hawa) ia nampak tulisan di atas pintu syurga. "La ilaha illalLah wa Muhamma dar Rasulullah. Sebagaimana yang telah dinyatakan di atas tadi ketibaan Nabi Muhammad adalah sebagai mentaksid atau untuk membaiki penyelewengan yang terdapat di dalam agama Nasrani (Knistian) dan juga agama Yahudi, di samping untuk mempenlengkapkan lagi ajaran-ajaran yang diwahyukan kepada Rasul-Rasul yang terdahulu danipadanya sesuai bagi seluruh manusia dan sepanjang zaman. Nabi Muhammad telah membawa agama Islam sebagai agama yang benar, agama yang diredai oleh Allah dan agama yang menyelamatkan manusia daripada ajaran-ajanan agama yang telah menyeleweng daripada asal.
oleh Mohd Jamil Mukmin
Injil Barnaba: Rantai Penghubung Antara Kristian & Islam
Barnaba ialah seorang Hawari unggul yang disepakati sebagai sahabat Nabi 'Isa 'alaihissalam.
Para ilmuwan dan golongan ahli falsafah Kristian sependapat menyatakan bahawa penulis-penulis Injil tidak pernah mengenali Nabi 'Isa 'alaihissalam secara peribadi. Mereka tidak pernah mendengar ucapan Baginda dan tidak pernah menemani Baginda dalam siri-siri penjelajahan dakwah Baginda. Mereka adalah golongan asing bagi Nabi 'Isa 'alaihissalam kecuali Barnaba.
Selain itu, para ilmuwan ini turut sependapat bahawa Injil yang empat (Mark, Matthew, Luke & John) pada permulaannya ditulis dalam bahasa Yunani. Sebuah bahasa asing bagi Nabi 'Isa 'alaihissalam yang bertutur dalam bahasa Aramia Mesir. Ini adalah kerana Baginda pernah menjejakkan kaki di Mesir ketika kecil dan menetap di negara itu sehingga berusia 12 tahun.
Begitu juga, Injil yang empat ini tidak pernah menikmati perlindungan atau pemeliharaan gereja sepanjang kurun pertama Masihi dan selepas kurun ini ia terdedah pula kepada perubahan, pengubahsuaian dan penyelewengan.
Majalah Times bertarikh 30 Disember 1974 telah menerbitkan sebuah artikel bertajuk (Sampai Bila Hakikat Injil Akan Muncul) yang menyebut:
Anda mampu untuk meminta naskhah Injil secara percuma yang mengandungi 50 000 kesalahan. Naskhah-naskhah ini telah dicetak beberapa kali dan ia turut disiarkan menerusi majalah Christian Awakening bertarikh 8 September 1957. Tidak hairan jika kita mendapat maklumat bahawa terdapat 4000 teks berbahasa Yunani bagi sebuah Injil sahaja!
Cadoux menerusi buku beliau yang berjudul (The Life Of Christ) menyebut:
Kita menemui sebuah teks yang memiliki tabiat yang berbeza dan pelbagai. Kita tidak mungkin boleh menjadikannya sebagai pegangan dan kita tidak boleh merasa tenang untuk menjadikannya sebagai sumber yang dipercayai ketika kita ingin mengisi ruang-ruang kosong daripada sumber-sumber lain dalam Injil yang empat. Kerana itu, kita menemui unsur keraguan yang membunuh; menjadikan kita terhenti ketika itu juga. Kita menyatakan bahawa tugas itu mengecewakan. Sebagaimana kontradiksi sejarah yang terkandung dalam Injil yang empat serta beberapa perkara mustahil dalam sebahagian yang lain telah digunakan untuk menyokong hujah-hujah yang mereka gunakan dalam penceritaan kisah hidup Jesus Christ. Namun begitu, kesemua perkara mustahil dan kontradiksi sejarah ini telah dipatahkan oleh fakta-fakta lain. Oleh itu, perbincangan dan perkara-perkara yang meragukan mengenainya masih kekal menjadi tumpuan.
Pope Gilaseus I yang dilantik pada tahun 492 Masihi telah mengeluarkan senarai Injil-injil yang perlu dihapuskan. Kesemuanya berjumlah 270 buah antaranya Injil Barnaba. Injil-injil ini dibuang ke laut secara berperingkat selama lima tahun. Tiada siapa yang mengetahui rahsia penghapusan Injil-injil ini sedangkan mereka mendakwa Injil-injil ini adalah wahyu Tuhan!
Gereja Konstantinople juga pernah menyaksikan lukisan Arius (Patrick Alexandaria) yang dibunuh sekitar tahun 335 Masihi kerana beliau menyeru kepada ajaran Tauhid. Begitu juga Pope Honorius I yang dilantik pada tahun 625 hingga 678 Masihi telah dijatuhkan hukuman bunuh kerana seruannya kepada fahaman Tauhid. Peristiwa tersebut berlaku pada tahun 682 Masihi mengikut ketetapan Majlis Gereja Konstantinople bertujuan untuk memerangi golongan penganut ajaran Tauhid ketika itu. Pope Honorius I hidup pada zaman perutusan Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam. Beliau melihat terdapat persamaan yang besar antara risalah Islam dengan apa yang diseru oleh Arius sebelum itu. Beliau turut berpandangan bahawa antara Islam dan Kristian perlu wujud jambatan penghubung yang menghubungkan kedua-dua agama ini. Menerusi pidato-pidatonya, beliau menyokong mazhab 'Satu Kehendak' atau 'Satu Fikiran'. Mengenai perkara ini beliau berkata, "Jika Allah memiliki tiga kehendak atau tiga fikiran, natijahnya akan mengundang kepada kacau bilau. Tabiat juga menegaskan bahawa Tuhan hanya Satu." Secara rasmi, tidak ada sesiapa pun yang berani mengemukakan pandangan sebegini selama tiga kurun sehingga Pope Honorius I dihukum bunuh.
Pada tahun 314 Masihi, satu persidangan diadakan di Antokia. Persidangan tersebut menyatakan sokongan terhadap ajaran Tauhid dan menganggapnya sebagai tafsiran sebenar bagi agama Kristian. Resolusi ini turut disokong menerusi perhimpunan lain yang diadakan di Sirmium pada tahun 351 Masihi. Natijah daripada resolusi tersebut, ajaran Tauhid yang diseru oleh Arius berkembang luas dan menjadi agama majoriti penganut Kristian sehingga St. Jerome menulis pada tahun 359 Masihi dengan menyebut bahawa, "Dunia seluruhnya bergembira kerana menganut ajaran Arius."
Ensiklopedia Britanica, jilid sebelas, halaman 663 menyebut bahawa ajaran Tauhid berterusan menjadi pegangan Gereja Konstantinople sehingga tarikh kematian Pope Honorius I. Golongan Kristian yang menganut fahaman ini pula merupakan golongan yang memegang jawatan-jawatan tertinggi di gereja. Ini merupakan bukti kewujudan teks-teks ketuhanan yang menyokong bahawa ajaran Tauhid adalah risalah Nabi 'Isa 'alaihissalam.
Kisah Injil Barnaba.
Injil Barnaba tidak dijadikan pegangan oleh gereja sebagaimana Injil-injil yang lain. Namun, gereja Alexandaria mengiktiraf Injil ini dan menganggapnya sebagai sumber yang dipercayai sehingga tahun 325 Masihi. Iranaeus (130-200 M) telah menulis sebuah risalah untuk menyokong ajaran Tauhid yang murni serta menyanggah tindakan Paul yang memasukkan ajaran-ajaran paganisme Rom dan falsafah-falsafah Plato ke dalam agama Kristian. Dalam risalah ini, beliau menyebut dalil-dalil yang kebanyakannya dipetik daripada Injil Barnaba. Ini menunjukkan bahawa Injil Barnaba sememangnya tersebar luas pada kurun pertama, kedua dan ketiga Masihi.
Ini bererti Injil Barnaba telah ditulis dan didapati sebelum kedatangan Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam. Injil ini juga disenaraikan oleh Pope Gilaseus I antara 270 buah Injil yang diharamkan pembacaannya dan perlu dibakar. Perintah ini dikeluarkan pada penghujung kurun kelima Masihi. Ini menandakan bahawa Injil Barnaba semenjak kemunculannya telah melalui era yang panjang. Injil Barnaba menceritakan tentang Nabi 'Isa 'alaihissalam bermula daripada kelahiran Baginda sehingga hari Baginda diangkat ke langit. Ia juga turut merakamkan perbincangan antara Barnaba dan Nabi 'Isa 'alaihissalam serta beberapa pidato yang disampaikan oleh Nabi 'Isa 'alaihissalam. Walaupun pihak gereja tidak mengiktiraf Injil Barnaba, ia tetap tersebar di kalangan para ilmuwan Eropah. Mereka menjadikannya sebagai bahan kajian serta memberi perhatian penuh terhadapnya. Keengkaran pihak gereja tidak mampu menghalang mereka daripada berbuat demikian. Mereka sepakat menyatakan bahawa Barnaba adalah seorang yang suci, utusan dan pegangan dalam dakyah Kristian yang pertama. Beliau juga adalah salah seorang Hawari Nabi 'Isa 'alaihissalam yang mendapat keistimewaan berdamping dengan Baginda dalam suka dan duka. Barnaba adalah hujah golongan Kristian dan merupakan orang yang mendapat ilham menurut kepercayaan mereka.
Naskhah Tertua Injil Barnaba.
Para sejarawan sepakat menyatakan bahawa naskhah tertua Injil Barnaba yang pernah ditemui adalah naskhah yang ditulis dalam bahasa Itali. Ia ditemui oleh Kremer, salah seorang penasihat diraja Rusia pada tahun 1709 Masihi. Naskhah itu kemudiannya dipindahkan ke istana kerajaan di Vienna bersama buku-buku yang lain milik penasihat tersebut pada tahun 1738 Masihi. Naskhah ini adalah asal kepada salinan-salinan Injil Barnaba yang ditulis dalam versi bahasa-bahasa yang lain. Akan tetapi, pada awal kurun kelapan Masihi terdapat sebuah naskhah berbahasa Sepanyol yang telah ditranslisasikan ke bahasa Inggeris oleh seorang orientalis bernama Sail. Namun begitu, tiada maklumat yang diperolehi mengenai naskhah tersebut dan terjemahannya kecuali sedikit sahaja yang didedahkan oleh Dr. Houit. Golongan sejarawan turut mengesahkan bahawa naskhah berbahasa Itali adalah naskhah yang serupa berbahasa Sepanyol. Dalam naskhah itu, seorang paderi berbangsa Latin yang bernama Faramino telah disebut. Faramino telah berkata menerusi prakata naskhah tersebut bahawa beliau telah menemui beberapa risalah yang ditulis Iranaeus. Di antaranya terdapat sebuah risalah yang mengandungi kecaman terhadap Paul. Kecaman-kecaman tersebut menggunakan dalil-dalil yang dipetik daripada Injil Barnaba. Ini mendorong beliau untuk mencari Injil Barnaba. Faramino akhirnya mendapat apa yang dihajatinya ketika beliau menjadi salah seorang paderi kanan Pope Sactase V. Beliau menemui Injil ini di dalam perpustakaan milik Pope tersebut. Faramino telah menelitinya dan akhirnya memeluk Islam.
Oleh itu, naskhah tertua yang dikenal pasti setakat ini adalah naskhah Itali yang ditemui pada awal kurun ke-18. Naskhah ini ditemui dalam suasana Kristian yang murni. Maka tiada di sana andaian bahawa ia mengalami unsur-unsur kemasukan asing. Orang yang pertama menemuinya adalah seorang pemimpin tertinggi agama Kristian dan beliau menyimpannya di dalam perpustakaan peribadinya. Kemudian ianya didedahkan oleh seorang paderi. Setelah sekian lama berpindah tangan, akhirnya ia sampai ke tangan seorang penasihat diraja beragama Kristian yang kemudiannya berpindah pula ke istana kerajaan di Vienna. Naskhah ini dinisbahkan kepada Barnaba. Hanya ada seorang Barnaba. Beliau sememangnya memiliki kedudukan tertinggi dalam agama Kristian. Maka kewujudan Injil Barnaba sebenarnya adalah sesuatu yang tidak asing di kalangan paderi-paderi Kristian sebagaimana yang disaksikan oleh sejarah dan dinyatakan menerusi prakata-prakata naskhah tersebut. Injil Barnaba sememangnya terkenal dan tersebar luas sebelum perutusan Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam selama lebih daripada dua kurun. Inilah satu-satunya Injil yang mengandungi maklumat terperinci mengenai Taurat. Penulisnya (Barnaba) telah memberikan perhatian yang menakjubkan terhadap lembaran-lembaran Perjanjian Lama dan hampir-hampir kita tidak menemui yang semisalnya di kalangan kelompok Kristian.
Barnaba Memberi Berita Gembira Tentang Perutusan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam.
Perlu disebutkan di sini bahawa Injil Barnaba telah menyebut nama Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam secara terang-terangan sebanyak lebih kurang 30 kali, iaitu lebih banyak daripada sebutan nama Baginda di dalam al Quran! Di sini kami sertakan sebahagian teks daripada Injil Barnaba yang menyebut nama Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam sebagai contoh sahaja:
1) Pada fasal 42, bilangan 10-11:
Ketika para pemimpin mengutuskan dukun-dukun Levi dan sebahagian penulis untuk bertanya kepada Nabi 'Isa: Lantas ketika itu 'Isa bersabda, " Saya adalah suara nyaring bagi golongan Yahudi. Saya bertempik: Sediakan jalan buat utusan Tuhan yang telah dicatat di dalam Asyiya'."
Dalam fasal yang sama, bilangan 13 menyebut:
'Isa menjawab, "Sesungguhnya ayat-ayat yang ditunjukkan Allah dengan tangan saya ini membuktikan bahawa saya berbicara menurut kehendak Allah. Saya bukan orang yang kamu sangkakan itu kerana saya sendiri tidak layak untuk merungkai tali capal Rasulullah yang kamu namakan sebagai Messiah itu. Baginda dicipta sebelum saya dan akan datang selepas saya[1]. Baginda akan datang dengan Kalam Kebenaran dan agamanya tiada penghujung.
2) Fasal 44, bilangan 19-31:
Kerana itu saya mengatakan kepada kamu bahawa Rasulullah itu indah dan menggembirakan semua makhluk Allah tidak lama lagi kerana Baginda dihiasi dengan roh Kefahaman dan Mesyuarat. Roh Hikmah dan Kekuatan. Roh Takut dan Kasih Sayang. Roh Ketelitian dan Keseimbangan. Roh Kasih Sayang dan Rahmat. Roh Keadilan dan Ketaqwaan. Roh Kelembutan dan Kesabaran. Dengan roh-roh ini, Baginda mengambilnya daripada Allah tiga kali ganda nikmat yang dikurniakan buat makhluk seluruhnya. Alangkah bahagianya zaman yang padanya Baginda datang ke alam ini. Percayalah kerana saya telah melihatnya. Saya telah mempersembahkan salam hormat ke hadrat-nya sebagaimana setiap Nabi juga telah melihatnya. Kerana Allah mengurniakan kepada mereka Nubuwwah dengan roh-nya. Ketika melihat-nya, saya merasa bangga sambil berkata, "Muhammad! Semoga Allah bersama-mu. Semoga Dia menjadikan saya layak untuk merungkai tali capal-mu." Jika saya mengucapkan begini, maka saya layak menjadi seorang Nabi yang agung dan orang suci Allah.
3) Fasal 97, bilangan 13-18:
'Isa menjawab, "Nama Messiah itu menakjubkan! Kerana Allah sendiri yang menamakan-nya begitu ketika Dia mencipta-nya dan meletakkan-nya di kawasan keindahan langit. Allah berfirman: Muhammad! Sabar sebentar kerana Aku ingin mencipta Syurga dan alam kerana-mu dan mencipta segolongan besar manusia untuk Ku hadiahkan pada-mu, supaya sesiapa yang mengucap berkat pada-mu maka dia akan diberkati dan sesiapa yang melaknat-mu maka dia akan dilaknat kembali. Apabila Aku mengutus-mu ke dunia ini, Aku jadikan engkau sebagai Rasul-Ku yang akan membebaskan umat manusia. Ucapan-mu benar sehingga langit dan bumi merasa lemah namun iman-mu tidak akan lemah selama-lamanya.
Sesungguhnya nama-nya yang berkat itu ialah Muhammad."
Ketika itu, orang ramai meninggikan suara sambil berkata, "Ya Allah! Utuslah kepada kami Rasul kami. Ya Muhammad! Datanglah segera untuk bebaskan dunia ini."
4) Fasal 112, bilangan 14-19:
Saya yakin sesiapa yang menjual saya, akan dibunuh dengan nama saya. Kerana Allah akan mengangkat saya dari bumi ini dan Dia akan mengubah rupa pengkhianat itu sehingga manusia menyangka dia adalah saya. Apabila dia mati dalam keadaan yang buruk, saya akan berada dalam keburukan itu untuk tempoh yang lama di dunia ini. Namun, apabila Muhammad Rasulullah yang suci datang, maka lenyaplah keburukan itu daripada saya. Allah akan melakukannya kerana saya mengakui kebenaran Messiah yang akan mengurniakan saya ganjaran ini iaitu Baginda akan memberitahu bahawa saya masih hidup dan saya berlepas diri daripada keburukan si pengkhianat itu.
5) Fasal 220, bilangan 17-21:
'Isa menjawab, "Barnaba! Percayalah pada saya bahawa Allah akan membalas setiap kesalahan walaupun kecil dengan balasan yang besar kerana Allah bencikan kesalahan. Oleh itu, ketika bonda dan para pengikut saya yang setia mencintai saya dengan kasih yang mendalam lantas Allah ingin membalas mereka dengan kesedihan di waktu ini agar mereka tidak dibalas dengan neraka Jahim. Bila manusia mula memanggil saya sebagai Tuhan dan putera Tuhan sedangkan saya tidak terbabit langsung dalam hal ini di dunia. Maka Allah ingin mencemuh manusia dengan sebab saya di dunia ini, lalu Dia mematikan Yahuza supaya manusia menyangka bahawa saya yang mati di palang salib agar dengan ini syaitan tidak mampu mencemuh saya di akhirat kelak. Ini akan berterusan sehingga datangnya Muhammad Rasulullah. Apabila Baginda datang, Baginda akan menyingkap pemalsuan ini bagi mereka yang beriman kepada syariat Allah."
Setelah selesai mengemukakan jawapan ini, 'Isa berdoa, "Tuhan kami! Engkau Maha Adil kerana bagi-Mu jualah Kemuliaan dan Keagungan tanpa penghujung."
Nota: Dipetik daripada majalah al Tibyan, tahun keempat, bilangan 47, bulan Jamadil Akhir 1429 H (Jun 2008 M). Saya (Humair) menterjemahkannya berserta sedikit olahan dan tambahan berupa nota kaki. Segala puji bagi Allah yang memperlihatkan kebenaran agama-Nya. Benarlah firman Allah Ta'ala mafhumnya:
Dia (Allah) jualah yang mengutuskan Rasul-Nya (Muhammad) dengan petunjuk dan agama yang benar supaya ia mengatasi agama-agama kesemuanya walaupun orang-orang musyrik membencinya. [al Saff: 9]
[1] Ini seakan-akan ayat yang disebut di dalam surah al Soff ayat 6 mafhumnya:
Dan (ingatlah) ketika 'Isa putera Maryam berkata, "Bani Israil! Saya adalah Rasulullah yang diutuskan kepada kamu sebagai pembenar terhadap kitab Taurat yang muncul sebelum saya serta pembawa berita gembira tentang seorang Rasul yang akan datang selepas saya bernama Ahmad.."
Oleh: Muhammad Abdul Syafi al Qusi.
Para ilmuwan dan golongan ahli falsafah Kristian sependapat menyatakan bahawa penulis-penulis Injil tidak pernah mengenali Nabi 'Isa 'alaihissalam secara peribadi. Mereka tidak pernah mendengar ucapan Baginda dan tidak pernah menemani Baginda dalam siri-siri penjelajahan dakwah Baginda. Mereka adalah golongan asing bagi Nabi 'Isa 'alaihissalam kecuali Barnaba.
Selain itu, para ilmuwan ini turut sependapat bahawa Injil yang empat (Mark, Matthew, Luke & John) pada permulaannya ditulis dalam bahasa Yunani. Sebuah bahasa asing bagi Nabi 'Isa 'alaihissalam yang bertutur dalam bahasa Aramia Mesir. Ini adalah kerana Baginda pernah menjejakkan kaki di Mesir ketika kecil dan menetap di negara itu sehingga berusia 12 tahun.
Begitu juga, Injil yang empat ini tidak pernah menikmati perlindungan atau pemeliharaan gereja sepanjang kurun pertama Masihi dan selepas kurun ini ia terdedah pula kepada perubahan, pengubahsuaian dan penyelewengan.
Majalah Times bertarikh 30 Disember 1974 telah menerbitkan sebuah artikel bertajuk (Sampai Bila Hakikat Injil Akan Muncul) yang menyebut:
Anda mampu untuk meminta naskhah Injil secara percuma yang mengandungi 50 000 kesalahan. Naskhah-naskhah ini telah dicetak beberapa kali dan ia turut disiarkan menerusi majalah Christian Awakening bertarikh 8 September 1957. Tidak hairan jika kita mendapat maklumat bahawa terdapat 4000 teks berbahasa Yunani bagi sebuah Injil sahaja!
Cadoux menerusi buku beliau yang berjudul (The Life Of Christ) menyebut:
Kita menemui sebuah teks yang memiliki tabiat yang berbeza dan pelbagai. Kita tidak mungkin boleh menjadikannya sebagai pegangan dan kita tidak boleh merasa tenang untuk menjadikannya sebagai sumber yang dipercayai ketika kita ingin mengisi ruang-ruang kosong daripada sumber-sumber lain dalam Injil yang empat. Kerana itu, kita menemui unsur keraguan yang membunuh; menjadikan kita terhenti ketika itu juga. Kita menyatakan bahawa tugas itu mengecewakan. Sebagaimana kontradiksi sejarah yang terkandung dalam Injil yang empat serta beberapa perkara mustahil dalam sebahagian yang lain telah digunakan untuk menyokong hujah-hujah yang mereka gunakan dalam penceritaan kisah hidup Jesus Christ. Namun begitu, kesemua perkara mustahil dan kontradiksi sejarah ini telah dipatahkan oleh fakta-fakta lain. Oleh itu, perbincangan dan perkara-perkara yang meragukan mengenainya masih kekal menjadi tumpuan.
Pope Gilaseus I yang dilantik pada tahun 492 Masihi telah mengeluarkan senarai Injil-injil yang perlu dihapuskan. Kesemuanya berjumlah 270 buah antaranya Injil Barnaba. Injil-injil ini dibuang ke laut secara berperingkat selama lima tahun. Tiada siapa yang mengetahui rahsia penghapusan Injil-injil ini sedangkan mereka mendakwa Injil-injil ini adalah wahyu Tuhan!
Gereja Konstantinople juga pernah menyaksikan lukisan Arius (Patrick Alexandaria) yang dibunuh sekitar tahun 335 Masihi kerana beliau menyeru kepada ajaran Tauhid. Begitu juga Pope Honorius I yang dilantik pada tahun 625 hingga 678 Masihi telah dijatuhkan hukuman bunuh kerana seruannya kepada fahaman Tauhid. Peristiwa tersebut berlaku pada tahun 682 Masihi mengikut ketetapan Majlis Gereja Konstantinople bertujuan untuk memerangi golongan penganut ajaran Tauhid ketika itu. Pope Honorius I hidup pada zaman perutusan Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam. Beliau melihat terdapat persamaan yang besar antara risalah Islam dengan apa yang diseru oleh Arius sebelum itu. Beliau turut berpandangan bahawa antara Islam dan Kristian perlu wujud jambatan penghubung yang menghubungkan kedua-dua agama ini. Menerusi pidato-pidatonya, beliau menyokong mazhab 'Satu Kehendak' atau 'Satu Fikiran'. Mengenai perkara ini beliau berkata, "Jika Allah memiliki tiga kehendak atau tiga fikiran, natijahnya akan mengundang kepada kacau bilau. Tabiat juga menegaskan bahawa Tuhan hanya Satu." Secara rasmi, tidak ada sesiapa pun yang berani mengemukakan pandangan sebegini selama tiga kurun sehingga Pope Honorius I dihukum bunuh.
Pada tahun 314 Masihi, satu persidangan diadakan di Antokia. Persidangan tersebut menyatakan sokongan terhadap ajaran Tauhid dan menganggapnya sebagai tafsiran sebenar bagi agama Kristian. Resolusi ini turut disokong menerusi perhimpunan lain yang diadakan di Sirmium pada tahun 351 Masihi. Natijah daripada resolusi tersebut, ajaran Tauhid yang diseru oleh Arius berkembang luas dan menjadi agama majoriti penganut Kristian sehingga St. Jerome menulis pada tahun 359 Masihi dengan menyebut bahawa, "Dunia seluruhnya bergembira kerana menganut ajaran Arius."
Ensiklopedia Britanica, jilid sebelas, halaman 663 menyebut bahawa ajaran Tauhid berterusan menjadi pegangan Gereja Konstantinople sehingga tarikh kematian Pope Honorius I. Golongan Kristian yang menganut fahaman ini pula merupakan golongan yang memegang jawatan-jawatan tertinggi di gereja. Ini merupakan bukti kewujudan teks-teks ketuhanan yang menyokong bahawa ajaran Tauhid adalah risalah Nabi 'Isa 'alaihissalam.
Kisah Injil Barnaba.
Injil Barnaba tidak dijadikan pegangan oleh gereja sebagaimana Injil-injil yang lain. Namun, gereja Alexandaria mengiktiraf Injil ini dan menganggapnya sebagai sumber yang dipercayai sehingga tahun 325 Masihi. Iranaeus (130-200 M) telah menulis sebuah risalah untuk menyokong ajaran Tauhid yang murni serta menyanggah tindakan Paul yang memasukkan ajaran-ajaran paganisme Rom dan falsafah-falsafah Plato ke dalam agama Kristian. Dalam risalah ini, beliau menyebut dalil-dalil yang kebanyakannya dipetik daripada Injil Barnaba. Ini menunjukkan bahawa Injil Barnaba sememangnya tersebar luas pada kurun pertama, kedua dan ketiga Masihi.
Ini bererti Injil Barnaba telah ditulis dan didapati sebelum kedatangan Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam. Injil ini juga disenaraikan oleh Pope Gilaseus I antara 270 buah Injil yang diharamkan pembacaannya dan perlu dibakar. Perintah ini dikeluarkan pada penghujung kurun kelima Masihi. Ini menandakan bahawa Injil Barnaba semenjak kemunculannya telah melalui era yang panjang. Injil Barnaba menceritakan tentang Nabi 'Isa 'alaihissalam bermula daripada kelahiran Baginda sehingga hari Baginda diangkat ke langit. Ia juga turut merakamkan perbincangan antara Barnaba dan Nabi 'Isa 'alaihissalam serta beberapa pidato yang disampaikan oleh Nabi 'Isa 'alaihissalam. Walaupun pihak gereja tidak mengiktiraf Injil Barnaba, ia tetap tersebar di kalangan para ilmuwan Eropah. Mereka menjadikannya sebagai bahan kajian serta memberi perhatian penuh terhadapnya. Keengkaran pihak gereja tidak mampu menghalang mereka daripada berbuat demikian. Mereka sepakat menyatakan bahawa Barnaba adalah seorang yang suci, utusan dan pegangan dalam dakyah Kristian yang pertama. Beliau juga adalah salah seorang Hawari Nabi 'Isa 'alaihissalam yang mendapat keistimewaan berdamping dengan Baginda dalam suka dan duka. Barnaba adalah hujah golongan Kristian dan merupakan orang yang mendapat ilham menurut kepercayaan mereka.
Naskhah Tertua Injil Barnaba.
Para sejarawan sepakat menyatakan bahawa naskhah tertua Injil Barnaba yang pernah ditemui adalah naskhah yang ditulis dalam bahasa Itali. Ia ditemui oleh Kremer, salah seorang penasihat diraja Rusia pada tahun 1709 Masihi. Naskhah itu kemudiannya dipindahkan ke istana kerajaan di Vienna bersama buku-buku yang lain milik penasihat tersebut pada tahun 1738 Masihi. Naskhah ini adalah asal kepada salinan-salinan Injil Barnaba yang ditulis dalam versi bahasa-bahasa yang lain. Akan tetapi, pada awal kurun kelapan Masihi terdapat sebuah naskhah berbahasa Sepanyol yang telah ditranslisasikan ke bahasa Inggeris oleh seorang orientalis bernama Sail. Namun begitu, tiada maklumat yang diperolehi mengenai naskhah tersebut dan terjemahannya kecuali sedikit sahaja yang didedahkan oleh Dr. Houit. Golongan sejarawan turut mengesahkan bahawa naskhah berbahasa Itali adalah naskhah yang serupa berbahasa Sepanyol. Dalam naskhah itu, seorang paderi berbangsa Latin yang bernama Faramino telah disebut. Faramino telah berkata menerusi prakata naskhah tersebut bahawa beliau telah menemui beberapa risalah yang ditulis Iranaeus. Di antaranya terdapat sebuah risalah yang mengandungi kecaman terhadap Paul. Kecaman-kecaman tersebut menggunakan dalil-dalil yang dipetik daripada Injil Barnaba. Ini mendorong beliau untuk mencari Injil Barnaba. Faramino akhirnya mendapat apa yang dihajatinya ketika beliau menjadi salah seorang paderi kanan Pope Sactase V. Beliau menemui Injil ini di dalam perpustakaan milik Pope tersebut. Faramino telah menelitinya dan akhirnya memeluk Islam.
Oleh itu, naskhah tertua yang dikenal pasti setakat ini adalah naskhah Itali yang ditemui pada awal kurun ke-18. Naskhah ini ditemui dalam suasana Kristian yang murni. Maka tiada di sana andaian bahawa ia mengalami unsur-unsur kemasukan asing. Orang yang pertama menemuinya adalah seorang pemimpin tertinggi agama Kristian dan beliau menyimpannya di dalam perpustakaan peribadinya. Kemudian ianya didedahkan oleh seorang paderi. Setelah sekian lama berpindah tangan, akhirnya ia sampai ke tangan seorang penasihat diraja beragama Kristian yang kemudiannya berpindah pula ke istana kerajaan di Vienna. Naskhah ini dinisbahkan kepada Barnaba. Hanya ada seorang Barnaba. Beliau sememangnya memiliki kedudukan tertinggi dalam agama Kristian. Maka kewujudan Injil Barnaba sebenarnya adalah sesuatu yang tidak asing di kalangan paderi-paderi Kristian sebagaimana yang disaksikan oleh sejarah dan dinyatakan menerusi prakata-prakata naskhah tersebut. Injil Barnaba sememangnya terkenal dan tersebar luas sebelum perutusan Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam selama lebih daripada dua kurun. Inilah satu-satunya Injil yang mengandungi maklumat terperinci mengenai Taurat. Penulisnya (Barnaba) telah memberikan perhatian yang menakjubkan terhadap lembaran-lembaran Perjanjian Lama dan hampir-hampir kita tidak menemui yang semisalnya di kalangan kelompok Kristian.
Barnaba Memberi Berita Gembira Tentang Perutusan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam.
Perlu disebutkan di sini bahawa Injil Barnaba telah menyebut nama Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam secara terang-terangan sebanyak lebih kurang 30 kali, iaitu lebih banyak daripada sebutan nama Baginda di dalam al Quran! Di sini kami sertakan sebahagian teks daripada Injil Barnaba yang menyebut nama Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam sebagai contoh sahaja:
1) Pada fasal 42, bilangan 10-11:
Ketika para pemimpin mengutuskan dukun-dukun Levi dan sebahagian penulis untuk bertanya kepada Nabi 'Isa: Lantas ketika itu 'Isa bersabda, " Saya adalah suara nyaring bagi golongan Yahudi. Saya bertempik: Sediakan jalan buat utusan Tuhan yang telah dicatat di dalam Asyiya'."
Dalam fasal yang sama, bilangan 13 menyebut:
'Isa menjawab, "Sesungguhnya ayat-ayat yang ditunjukkan Allah dengan tangan saya ini membuktikan bahawa saya berbicara menurut kehendak Allah. Saya bukan orang yang kamu sangkakan itu kerana saya sendiri tidak layak untuk merungkai tali capal Rasulullah yang kamu namakan sebagai Messiah itu. Baginda dicipta sebelum saya dan akan datang selepas saya[1]. Baginda akan datang dengan Kalam Kebenaran dan agamanya tiada penghujung.
2) Fasal 44, bilangan 19-31:
Kerana itu saya mengatakan kepada kamu bahawa Rasulullah itu indah dan menggembirakan semua makhluk Allah tidak lama lagi kerana Baginda dihiasi dengan roh Kefahaman dan Mesyuarat. Roh Hikmah dan Kekuatan. Roh Takut dan Kasih Sayang. Roh Ketelitian dan Keseimbangan. Roh Kasih Sayang dan Rahmat. Roh Keadilan dan Ketaqwaan. Roh Kelembutan dan Kesabaran. Dengan roh-roh ini, Baginda mengambilnya daripada Allah tiga kali ganda nikmat yang dikurniakan buat makhluk seluruhnya. Alangkah bahagianya zaman yang padanya Baginda datang ke alam ini. Percayalah kerana saya telah melihatnya. Saya telah mempersembahkan salam hormat ke hadrat-nya sebagaimana setiap Nabi juga telah melihatnya. Kerana Allah mengurniakan kepada mereka Nubuwwah dengan roh-nya. Ketika melihat-nya, saya merasa bangga sambil berkata, "Muhammad! Semoga Allah bersama-mu. Semoga Dia menjadikan saya layak untuk merungkai tali capal-mu." Jika saya mengucapkan begini, maka saya layak menjadi seorang Nabi yang agung dan orang suci Allah.
3) Fasal 97, bilangan 13-18:
'Isa menjawab, "Nama Messiah itu menakjubkan! Kerana Allah sendiri yang menamakan-nya begitu ketika Dia mencipta-nya dan meletakkan-nya di kawasan keindahan langit. Allah berfirman: Muhammad! Sabar sebentar kerana Aku ingin mencipta Syurga dan alam kerana-mu dan mencipta segolongan besar manusia untuk Ku hadiahkan pada-mu, supaya sesiapa yang mengucap berkat pada-mu maka dia akan diberkati dan sesiapa yang melaknat-mu maka dia akan dilaknat kembali. Apabila Aku mengutus-mu ke dunia ini, Aku jadikan engkau sebagai Rasul-Ku yang akan membebaskan umat manusia. Ucapan-mu benar sehingga langit dan bumi merasa lemah namun iman-mu tidak akan lemah selama-lamanya.
Sesungguhnya nama-nya yang berkat itu ialah Muhammad."
Ketika itu, orang ramai meninggikan suara sambil berkata, "Ya Allah! Utuslah kepada kami Rasul kami. Ya Muhammad! Datanglah segera untuk bebaskan dunia ini."
4) Fasal 112, bilangan 14-19:
Saya yakin sesiapa yang menjual saya, akan dibunuh dengan nama saya. Kerana Allah akan mengangkat saya dari bumi ini dan Dia akan mengubah rupa pengkhianat itu sehingga manusia menyangka dia adalah saya. Apabila dia mati dalam keadaan yang buruk, saya akan berada dalam keburukan itu untuk tempoh yang lama di dunia ini. Namun, apabila Muhammad Rasulullah yang suci datang, maka lenyaplah keburukan itu daripada saya. Allah akan melakukannya kerana saya mengakui kebenaran Messiah yang akan mengurniakan saya ganjaran ini iaitu Baginda akan memberitahu bahawa saya masih hidup dan saya berlepas diri daripada keburukan si pengkhianat itu.
5) Fasal 220, bilangan 17-21:
'Isa menjawab, "Barnaba! Percayalah pada saya bahawa Allah akan membalas setiap kesalahan walaupun kecil dengan balasan yang besar kerana Allah bencikan kesalahan. Oleh itu, ketika bonda dan para pengikut saya yang setia mencintai saya dengan kasih yang mendalam lantas Allah ingin membalas mereka dengan kesedihan di waktu ini agar mereka tidak dibalas dengan neraka Jahim. Bila manusia mula memanggil saya sebagai Tuhan dan putera Tuhan sedangkan saya tidak terbabit langsung dalam hal ini di dunia. Maka Allah ingin mencemuh manusia dengan sebab saya di dunia ini, lalu Dia mematikan Yahuza supaya manusia menyangka bahawa saya yang mati di palang salib agar dengan ini syaitan tidak mampu mencemuh saya di akhirat kelak. Ini akan berterusan sehingga datangnya Muhammad Rasulullah. Apabila Baginda datang, Baginda akan menyingkap pemalsuan ini bagi mereka yang beriman kepada syariat Allah."
Setelah selesai mengemukakan jawapan ini, 'Isa berdoa, "Tuhan kami! Engkau Maha Adil kerana bagi-Mu jualah Kemuliaan dan Keagungan tanpa penghujung."
Nota: Dipetik daripada majalah al Tibyan, tahun keempat, bilangan 47, bulan Jamadil Akhir 1429 H (Jun 2008 M). Saya (Humair) menterjemahkannya berserta sedikit olahan dan tambahan berupa nota kaki. Segala puji bagi Allah yang memperlihatkan kebenaran agama-Nya. Benarlah firman Allah Ta'ala mafhumnya:
Dia (Allah) jualah yang mengutuskan Rasul-Nya (Muhammad) dengan petunjuk dan agama yang benar supaya ia mengatasi agama-agama kesemuanya walaupun orang-orang musyrik membencinya. [al Saff: 9]
[1] Ini seakan-akan ayat yang disebut di dalam surah al Soff ayat 6 mafhumnya:
Dan (ingatlah) ketika 'Isa putera Maryam berkata, "Bani Israil! Saya adalah Rasulullah yang diutuskan kepada kamu sebagai pembenar terhadap kitab Taurat yang muncul sebelum saya serta pembawa berita gembira tentang seorang Rasul yang akan datang selepas saya bernama Ahmad.."
Oleh: Muhammad Abdul Syafi al Qusi.
Barnaba Menyebut Tentang Rasul Terakhir
"Segala puji bagi Allah kerana-Nya kita masih mengecapi kemanisan iman sehingga ke hari ini. Nikmat Iman dan Islam inilah yang telah dianugerahkan oleh Yang Maha Esa bersama kemegahan syurga yang dijanjikan oleh Allah Taala.
Ketahuilah !! Islam akan sentiasa menyeberangi medan dalam menentang kebatilan yang diwujudkan dengan pelbagai bentuk dan keupayaan. Kronologi pertembungan antara kebenaran dengan kebatilan merupakan kisah silam yang akan berterusan sehingga munculnya hari kiamat. Hal ini dibuktikan melalui sabda Rasulullah salallahualaihi wasalam;
"..Akan sentiasa ada kumpulan dari kalangan umatku yang bangkit menegakkan kebenaran, mereka tidak sekali merasa mudharat kepada sesiapa yang menentang mereka sehingga datang janji Allah (sama ada mati syahid atau memperolehi kemenangan). ."
Memandangkan Islam yang merupakan agama penutup dalam edaran hubungan perutusan langit dan bumi, maka ia terdedah kepada lebih banyak musuh dan serangan. Kesamaran dan salah faham sengaja diwujudkan untuk menentang Islam telah wujud sejak sekian lamanya. Ancaman musuh-musuh Islam ini tidak berubah melainkan dalam tekniknya yang dipintal secara ilmiah. Walau bagaimanapun, pemikir-pemikir Islam sentiasa bertungkus-lumus melaksanakan tangunggjawab dalam menangani kekeruhan yang dilakukan oleh mereka. Bagaimanapun, musuh-musuh Islam ini terlebih dahulu melakukan kesesatan terhadap agama asal mereka. Contohnya apa yang berlaku kepada penganut agama Kristian, di kalangan mereka berani mengarang dengan mengubah suai kandungan nas asal kitab-kitab Injil demi kepentingan mereka sendiri. Memang mereka menggunakan bahan-bahan tradisional, tetapi mereka tidak teragak-agak untuk menambah dan menguranginya. Hal ini diakui oleh sejarawan Ahmad Syalabi dengan mengatakan bahawa Paul, Luke dan John (Yuhana) mengubah ajaran yang sebenar dibawa oleh Nabi Isa alaihissalam.
4 jenis injil yang diimani penganut Kristian seperti injil Paul, Luke, Matthew (Matius) dan John. Sebelum ini ia tidak dianggap suci oleh penganut Kristian, sehinggalah keempat-empat Injil ini diwartakan oleh Canon (hukum gereja). Pada awalnya ia adalah ibarat karangan biasa kerana mereka boleh mengubah untuk melanggar isi kandungannya. Perubahan terus berlaku di dalam kandungan Injil ini dan ia terbukti jika semakan perbandingan dibuat terhadap masnuskrip- manuskrip yang awal. Bagaimanapun kemunculan Injil Barnaba (Evangile Barnabas) yang pada mulanya dirahsiakan akhirnya menggugat dunia Kristian. Mengapa jadi begitu? Pada tahun 1907 edisi bahasa Sepanyol diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Lonsdale Ragg dan Isterinya, Laura Ragg dan kemudiannya diterbitkan oleh Oxford University dengan berjudul 'The Gospel of Barnabas'. Setahun kemudiannya iaitu 1908, seorang arkeologi Arab pula iaitu Dr. Khalil Sa`adah menterjemahkannya ke dalam bahasa Arab.
Injil Barnaba adalah satu-satunya injil tunggal yang ditulis oleh salah seorang 'hawariyy' jamaknya 'hawariyyun' (gelaran para sahabat Isa alaihissalam yang setia) bernama Barnaba. Diriwayatkan, Barnaba pernah bersama Isa alaihissalam selama 3 tahun membantunya menyampaikan ajarannya dan ia berbeza 4 tokoh penulis-penulis injil yang telah disebutkan (Paul, Matthew, Luke dan John) kerana para penulisnya tidak pernah bersama Isa alaihissalam. Barnaba hidup bersama Isa alaihissalam dan secara tidak langsung beliau memiliki maklumat yang terpercaya mengenai ajaran Isa alaihissalam. Walau bagaimanapun, kebenaran yang dibawa oleh Barnaba disekat oleh Paus Pius Glasius I yang menduduki takhta kerajaan Rom pada tahun 492 Masihi, di mana Glasius mengeluarkan perintah larangan membaca kitab Barnaba secara public. Jika diperhatikan tahun Glasius melakukan larangan tersebut, ini bererti kewujudan injil Barnaba sudah lama ada sebelum kedatangan Muhammad salallahualaihi wasalam.
Oleh kerana kebenaran injil Barnaba menggugat pegangan yang selama ini menjadi lidah rasmi penganut Kristian terhadap ajaran triniti, maka injil Barnaba ditolak bermati-matian dengan dakwaan mereka bahawa ia adalah ciptaan ilmuan-ilmuan Islam dari Universiti al Azhar. Sedangkan ulama Islam ketika itu antaranya seperti Imam Sayyid Redha al Husaini hanya menaqalkan apa yang telah direkodkannya di dalam bahasa Itali. Apa gunanya ilmuan Islam seperti Imam Sayyid Redha melakukan gerakan penulisan injil Barnaba, padahal umat Islam sendiri telah memiliki hujjah paling konkrit & paling muktabar yang disampaikan daripada mukjizat Nabi Muhammad di dunia & di akhirat iaitu al Quranul Karim. Kemuliaan al Quranul Karim adalah dalil yang mutawatir paling berhak berdepan dengan kesesatan ajaran Kristian Nasrani.
Bagaimanapun sebagai tanda kekuasaan Allah, injil Barnaba yang pada mulanya dirahsiakan pihak gereja akhirnya ditemui semula pada tahun 1709 dan penemuannya terus sahaja dibawa ke Vienna, Austria. Penemuan ini telah membuatkan tokoh pendeta besar ketika itu, Laten Framino memeluk agama Islam. Persoalannya, mengapa pihak gereja menolak injil Barnaba? Tidak syak lagi ia adalah disebabkan beberapa perkara dari isinya yang merupakan justifikasi terhadap agama Islam, iaitu;
1) Barnaba menolak ketuhanan Isa (Jesus) al Masih dan menolak dakwaan bahawa ia anak Allah. Lantas menegaskan di sini bahawa Nabi Isa adalah seorang utusan Allah sebagaimana Rasul-Rasul yang lain. Hal ini dijelaskan dalam fasal ke-112;
".. (Nabi Isa alaihissalam) berkata sambil menangis; ..Wahai Barnaba, wajibku jelaskan kepadamu dengan rahsia-rahsia yang besar. Wajiblah di atas engkau menyebarkannya ke seluruh alam setelah aku pergi (meninggalkan dunia).."
Mendengar reaksi Nabi Isa alaihissalam, lalu Barnaba turut menangis sambil berkata;
"..Wahai manusia suci Nabi Allah, tidak ada kebaikannya tuan memperbanyakkan tangisan.."
Jawab Isa alaihissalam;
"..Ku katakan kepadamu bahawa aku ini jika tidak dipanggil sebagai Tuhan tentulah aku dibawa ke syurga ketika aku meninggalkan dunia ini. Tetapi sekarang aku tidak akan ke sana sehingga ke hari pembalasan. Maka dari itu, dapatlah engkau melihat sejauh manakah aku mesti menangis.."
Selain itu, turut berlaku pada satu malam, Nabi Isa bersama kumpulan hawariyyun berkumpul. Lalu Isa alaihi salam berkata kepada mereka sebagaimana yang disebut pada fasal ke-72;
"..Jangan kamu gementar dan jangan merasa takut kerana bukanlah aku yang menciptakan kamu bahkan Allah yang menciptakan kamu dan Dia-lah yang akan menjaga kamu. Adapun kerjaku (kekhususanku) ialah datang menyediakan jalan bagi Rasulullah yang akan datang membawa keselamatan bagi dunia ini. Tetapi berhati-hatilah dari tertipu kerana akan datang ramai nabi-nabi dusta (palsu). Mereka akan mengambil kata-kataku (ajaranku) dan menajiskan injilku.."
2) Barnaba menegaskan bahawa anak yang menjadi azam Nabi Ibrahim untuk menyembelihnya ialah Nabi Ismail dan bukannya Nabi Ishaq. Hal ini dijelaskan oleh Barnaba dalam fasal ke-44;
"..Sebenarnya wajib di atasmu melakukan sesuatu demi kecintaan kepada Allah. Jawab Ibrahim; ..Inilah dia hamba Allah bersedia untuk melakukan segala apa yang dikehendaki Allah.. Maka ketika itu Allah berfirman kepada Ibrahim, firman-Nya; ..Bawalah putera sulungmu iaitu Ismail dan naiklah ke bukit untuk engkau persembahkan sebagai sembelihan korban.. Maka bagaimanakah boleh terjadi Ishaq sebagai putera sulung sedangkan ketika ia dilahirkan, Nabi Ismail telah berusia 7 tahun.."
3) Barnaba menyebut bahawa 'al Masih' (Messiah) yang menjadi penantian penganut-penganut Kristian yang sebenarnya adalah Nabi Muhammad. Hal ini dijelaskan oleh Barnaba dalam fasal ke-44;
"..Alangkah bahagianya masa yang akan datang muncul di dalam dunia ini. Percayalah kepadaku sesungguhnya aku telah melihatnya dan telah aku berikan penghoramatan kepadanya sebagaimana yang layaknya dilihat oleh setiap Nabi. Kerana itu, Allah mengurniakan mereka (para Nabi) roh kenabian. Dan ketika aku melihatnya, penuhlah aku dengan kemuliaannya lantas aku berkata; ..Wahai Muhammad, Allah akan bersamamu dan semoga aku menjadi orang yang layak melorongkan perjalanan kasutmu.."
Hal ini turut dijelaskan dalam fasal ke-112;
"..Manakala ketibaan Muhammad Rasulullah yang suci itu akan menghilangkan keaibanku ini yang (Allah) kurniaankan kepadaku sebagai ganjaran supaya orang tahu bahawa aku hidup dan aku berlepas diri (suci) daripada buruknya kematian itu.."
Salah seorang dari golongan hawariyyun iaitu sahabat Isa alaihissalam bernama Andrew (Andereous-dalam ejaan Arab) pernah bertanya mengenai alamat-alamat yang dapat diketahui siapakah gerangannya Nabi itu, katanya pada fasal ke-72;
"..Tuan guru, sebutkanlah tanda-tanda (alamat kenabiannya) agar kami mengetahuinya. ."
Lalu dijawab oleh Isa alaihissalam;
"..Sesungguhnya dia tidak akan datang pada zaman kamu, tetapi ia akan datang selepas kamu beberapa tahun ketika mana injilku dibatalkan dan hampir-hampir sahaja tidak terdapat 30 orang yang beriman. Allah merahmati alam ini lalu ia mengutuskan Rasul-Nya yang ada di atas kepalanya sentiasa dinaungi awan putih. Dia dikenali sebagai seorang pilihan Allah dan ia akan dinyatakan untuk alam ini dan akan datang dengan kekuatan yang hebat ke atas orang jahat dan akan menghapuskan penyembahan berhala di dunia ini.."
4) Pada catatan Barnaba, beliau menyebut bahawa Nabi Isa tidak dibunuh dan disalib tetapi yang sebenarnya disalib ialah Yahuza yang diserupakan Allah akan wajahnya dengan wajah Nabi Isa alaihissalam. Hal ini dijelaskan dalam fasal ke-112;
"..Ketahuilah wahai Barnaba bahawa menjadi kewajipan untuk berjaga- jaga dan aku akan terjual (diserah kepada tentera Rom) dengan salah seorang muridku berharga 30 keping wang. Di atas hal ini aku yakin bahawa orang yang akan menjual aku itu akan terbunuh dengan namaku kerana Allah akan membawaku dari bumi dan akan mengubah pandangan si pengkhianat itu sehingga setiap orang yang melihatnya akan menyangka dia itu adalah aku.."
Hal ini turut dijelaskan di dalam fasal ke-216;
"..Maka Allah yang Maha Ajaib telah mendatangkan perkara yang ajaib. Tiba-tiba Yahuza berubah suara dalam percakapan, wajahnya menjadi seperti Isa (Jesus) sehingga kami menganggap dia itu Isa. Adapun dia (Yahuza) selepas mengejutkan kami (dari lena) mencari-cari di manakah tuan guru (Isa untuk diserahkan kepada tentera Rom). Oleh sebab itu kami merasa hairan lalu kami menjawab; ..Engkaulah wahai tuan guru kami. Adakah tuan melupai kami sekarang ?? Lalu dia (Yahuza yang diserupakan seperti Jesus) dengan tersenyum berkata; ..Adakah kamu mangli sehingga tidak mengenal Yahuza al Isqaryuti (Judas Iscariot).. ?? "
Firman Allah Taala;
"..Dan ucapan mereka (orang kafir);..Sesungguhn ya kami telah membunuh al Masih, Isa putera Maryam Rasulullah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.."-Surah an Nisa':157, al Quranul Karim
Apabila Rasulullah salallahualaihi wasalam melancarkan dakwah keesaan Tuhan, ini bererti Baginda menentang kepercayaan syirik jahiliyyah sama ada dalam bentuk triniti (Tuhan bapa+anak+roh al quddus) atau trimuti (Brahma, Vishnu, Shira) dan apa jua bentuk kesyirikkan. Sekiranya penganut Kristian menuhankan Isa (Jesus) kerana dilahirkan tanpa bapa, maka mereka perlu menuhankan Adam juga kerana ia dilahirkan tanpa ibu dan bapa. Adapun segala keajaiban yang berlaku kepada 2 orang Nabi ini menunjukkan betapa Maha Tingginya kekuasaan, keagungan dan keilmuan Allah Taala. Firman Allah Taala;
"..Sesungguhnya perumpamaan penciptaan Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah mencipta Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya;.. Jadilah !! maka jadilah ia.."-al Imran:59, al Quranul Karim
Berdasarkan keterangan injil Barnaba di atas tadi, nyatalah Nabi yang diutuskan itu telahpun lahir iaitu Nabi Muhammad salallahualaihi wasalam dan kami hanyalah umat akhir zaman yang bekerja untuk kebenaran agama ajarannya sekalipun dibenci oleh orang yang membenci. Seterusnya di dalam Fasal ke 222 , iaitu fasal terakhir dari kitab tersebut Barnaba telah petanda halangan-halangan yang akan dilakukan terhadap risalah dakwah yang benar;
"..Bertebaranlah para murid di seluruh Israel dan lain-lain negeri. Adapun kebenaran yang dibenci oleh syaitan maka ia akan sentiasa ditindas oleh kebatilan sebagaimana hal (keadaannya) selalu adalah (dilakukan) segolongan daripada kelompok-kelompok yang jahat mendakwa mereka adalah murid-murid (Isa alaihissalam) . Mereka menyebarkan bahawa Jesus (Isa alaihi salam) itu anak Allah dan yang termasuk golongan yang menipu itu adalah Paulus. Adapun kami menyebarkan dengan apa yang telahku (Barnaba) tulis kepada orang-orang yang takutkan Allah supaya mereka terselamat di hari akhirat dari pembalasan Allah. Amin (semoga dimakbulkan) .."
Akhir perutusan ini pembaca hendaklah mengetahui bahawa kedatangan Islam ke dunia bukanlah bagi mengubah kepercayaan manusia kepada Tuhan yang sudah sedia dipercayai oleh mereka. Sebaliknya bagi membetulkan kepercayaan yang salah kepada kepercayaan yang sebenarnya. Islam menyeru dan mengajar manusia bahawa Tuhan hanya satu (esa). Konsep keesaan Tuhan inilah menjadi asas penting dan utama dalam perutusan nabi-nabi dan rasul-rasul sejak zaman Nabi Adam hinggalah zaman Nabi Muhammad sallahualaihi wasalam. WAllahua'lam
Ketahuilah !! Islam akan sentiasa menyeberangi medan dalam menentang kebatilan yang diwujudkan dengan pelbagai bentuk dan keupayaan. Kronologi pertembungan antara kebenaran dengan kebatilan merupakan kisah silam yang akan berterusan sehingga munculnya hari kiamat. Hal ini dibuktikan melalui sabda Rasulullah salallahualaihi wasalam;
"..Akan sentiasa ada kumpulan dari kalangan umatku yang bangkit menegakkan kebenaran, mereka tidak sekali merasa mudharat kepada sesiapa yang menentang mereka sehingga datang janji Allah (sama ada mati syahid atau memperolehi kemenangan). ."
Memandangkan Islam yang merupakan agama penutup dalam edaran hubungan perutusan langit dan bumi, maka ia terdedah kepada lebih banyak musuh dan serangan. Kesamaran dan salah faham sengaja diwujudkan untuk menentang Islam telah wujud sejak sekian lamanya. Ancaman musuh-musuh Islam ini tidak berubah melainkan dalam tekniknya yang dipintal secara ilmiah. Walau bagaimanapun, pemikir-pemikir Islam sentiasa bertungkus-lumus melaksanakan tangunggjawab dalam menangani kekeruhan yang dilakukan oleh mereka. Bagaimanapun, musuh-musuh Islam ini terlebih dahulu melakukan kesesatan terhadap agama asal mereka. Contohnya apa yang berlaku kepada penganut agama Kristian, di kalangan mereka berani mengarang dengan mengubah suai kandungan nas asal kitab-kitab Injil demi kepentingan mereka sendiri. Memang mereka menggunakan bahan-bahan tradisional, tetapi mereka tidak teragak-agak untuk menambah dan menguranginya. Hal ini diakui oleh sejarawan Ahmad Syalabi dengan mengatakan bahawa Paul, Luke dan John (Yuhana) mengubah ajaran yang sebenar dibawa oleh Nabi Isa alaihissalam.
4 jenis injil yang diimani penganut Kristian seperti injil Paul, Luke, Matthew (Matius) dan John. Sebelum ini ia tidak dianggap suci oleh penganut Kristian, sehinggalah keempat-empat Injil ini diwartakan oleh Canon (hukum gereja). Pada awalnya ia adalah ibarat karangan biasa kerana mereka boleh mengubah untuk melanggar isi kandungannya. Perubahan terus berlaku di dalam kandungan Injil ini dan ia terbukti jika semakan perbandingan dibuat terhadap masnuskrip- manuskrip yang awal. Bagaimanapun kemunculan Injil Barnaba (Evangile Barnabas) yang pada mulanya dirahsiakan akhirnya menggugat dunia Kristian. Mengapa jadi begitu? Pada tahun 1907 edisi bahasa Sepanyol diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Lonsdale Ragg dan Isterinya, Laura Ragg dan kemudiannya diterbitkan oleh Oxford University dengan berjudul 'The Gospel of Barnabas'. Setahun kemudiannya iaitu 1908, seorang arkeologi Arab pula iaitu Dr. Khalil Sa`adah menterjemahkannya ke dalam bahasa Arab.
Injil Barnaba adalah satu-satunya injil tunggal yang ditulis oleh salah seorang 'hawariyy' jamaknya 'hawariyyun' (gelaran para sahabat Isa alaihissalam yang setia) bernama Barnaba. Diriwayatkan, Barnaba pernah bersama Isa alaihissalam selama 3 tahun membantunya menyampaikan ajarannya dan ia berbeza 4 tokoh penulis-penulis injil yang telah disebutkan (Paul, Matthew, Luke dan John) kerana para penulisnya tidak pernah bersama Isa alaihissalam. Barnaba hidup bersama Isa alaihissalam dan secara tidak langsung beliau memiliki maklumat yang terpercaya mengenai ajaran Isa alaihissalam. Walau bagaimanapun, kebenaran yang dibawa oleh Barnaba disekat oleh Paus Pius Glasius I yang menduduki takhta kerajaan Rom pada tahun 492 Masihi, di mana Glasius mengeluarkan perintah larangan membaca kitab Barnaba secara public. Jika diperhatikan tahun Glasius melakukan larangan tersebut, ini bererti kewujudan injil Barnaba sudah lama ada sebelum kedatangan Muhammad salallahualaihi wasalam.
Oleh kerana kebenaran injil Barnaba menggugat pegangan yang selama ini menjadi lidah rasmi penganut Kristian terhadap ajaran triniti, maka injil Barnaba ditolak bermati-matian dengan dakwaan mereka bahawa ia adalah ciptaan ilmuan-ilmuan Islam dari Universiti al Azhar. Sedangkan ulama Islam ketika itu antaranya seperti Imam Sayyid Redha al Husaini hanya menaqalkan apa yang telah direkodkannya di dalam bahasa Itali. Apa gunanya ilmuan Islam seperti Imam Sayyid Redha melakukan gerakan penulisan injil Barnaba, padahal umat Islam sendiri telah memiliki hujjah paling konkrit & paling muktabar yang disampaikan daripada mukjizat Nabi Muhammad di dunia & di akhirat iaitu al Quranul Karim. Kemuliaan al Quranul Karim adalah dalil yang mutawatir paling berhak berdepan dengan kesesatan ajaran Kristian Nasrani.
Bagaimanapun sebagai tanda kekuasaan Allah, injil Barnaba yang pada mulanya dirahsiakan pihak gereja akhirnya ditemui semula pada tahun 1709 dan penemuannya terus sahaja dibawa ke Vienna, Austria. Penemuan ini telah membuatkan tokoh pendeta besar ketika itu, Laten Framino memeluk agama Islam. Persoalannya, mengapa pihak gereja menolak injil Barnaba? Tidak syak lagi ia adalah disebabkan beberapa perkara dari isinya yang merupakan justifikasi terhadap agama Islam, iaitu;
1) Barnaba menolak ketuhanan Isa (Jesus) al Masih dan menolak dakwaan bahawa ia anak Allah. Lantas menegaskan di sini bahawa Nabi Isa adalah seorang utusan Allah sebagaimana Rasul-Rasul yang lain. Hal ini dijelaskan dalam fasal ke-112;
".. (Nabi Isa alaihissalam) berkata sambil menangis; ..Wahai Barnaba, wajibku jelaskan kepadamu dengan rahsia-rahsia yang besar. Wajiblah di atas engkau menyebarkannya ke seluruh alam setelah aku pergi (meninggalkan dunia).."
Mendengar reaksi Nabi Isa alaihissalam, lalu Barnaba turut menangis sambil berkata;
"..Wahai manusia suci Nabi Allah, tidak ada kebaikannya tuan memperbanyakkan tangisan.."
Jawab Isa alaihissalam;
"..Ku katakan kepadamu bahawa aku ini jika tidak dipanggil sebagai Tuhan tentulah aku dibawa ke syurga ketika aku meninggalkan dunia ini. Tetapi sekarang aku tidak akan ke sana sehingga ke hari pembalasan. Maka dari itu, dapatlah engkau melihat sejauh manakah aku mesti menangis.."
Selain itu, turut berlaku pada satu malam, Nabi Isa bersama kumpulan hawariyyun berkumpul. Lalu Isa alaihi salam berkata kepada mereka sebagaimana yang disebut pada fasal ke-72;
"..Jangan kamu gementar dan jangan merasa takut kerana bukanlah aku yang menciptakan kamu bahkan Allah yang menciptakan kamu dan Dia-lah yang akan menjaga kamu. Adapun kerjaku (kekhususanku) ialah datang menyediakan jalan bagi Rasulullah yang akan datang membawa keselamatan bagi dunia ini. Tetapi berhati-hatilah dari tertipu kerana akan datang ramai nabi-nabi dusta (palsu). Mereka akan mengambil kata-kataku (ajaranku) dan menajiskan injilku.."
2) Barnaba menegaskan bahawa anak yang menjadi azam Nabi Ibrahim untuk menyembelihnya ialah Nabi Ismail dan bukannya Nabi Ishaq. Hal ini dijelaskan oleh Barnaba dalam fasal ke-44;
"..Sebenarnya wajib di atasmu melakukan sesuatu demi kecintaan kepada Allah. Jawab Ibrahim; ..Inilah dia hamba Allah bersedia untuk melakukan segala apa yang dikehendaki Allah.. Maka ketika itu Allah berfirman kepada Ibrahim, firman-Nya; ..Bawalah putera sulungmu iaitu Ismail dan naiklah ke bukit untuk engkau persembahkan sebagai sembelihan korban.. Maka bagaimanakah boleh terjadi Ishaq sebagai putera sulung sedangkan ketika ia dilahirkan, Nabi Ismail telah berusia 7 tahun.."
3) Barnaba menyebut bahawa 'al Masih' (Messiah) yang menjadi penantian penganut-penganut Kristian yang sebenarnya adalah Nabi Muhammad. Hal ini dijelaskan oleh Barnaba dalam fasal ke-44;
"..Alangkah bahagianya masa yang akan datang muncul di dalam dunia ini. Percayalah kepadaku sesungguhnya aku telah melihatnya dan telah aku berikan penghoramatan kepadanya sebagaimana yang layaknya dilihat oleh setiap Nabi. Kerana itu, Allah mengurniakan mereka (para Nabi) roh kenabian. Dan ketika aku melihatnya, penuhlah aku dengan kemuliaannya lantas aku berkata; ..Wahai Muhammad, Allah akan bersamamu dan semoga aku menjadi orang yang layak melorongkan perjalanan kasutmu.."
Hal ini turut dijelaskan dalam fasal ke-112;
"..Manakala ketibaan Muhammad Rasulullah yang suci itu akan menghilangkan keaibanku ini yang (Allah) kurniaankan kepadaku sebagai ganjaran supaya orang tahu bahawa aku hidup dan aku berlepas diri (suci) daripada buruknya kematian itu.."
Salah seorang dari golongan hawariyyun iaitu sahabat Isa alaihissalam bernama Andrew (Andereous-dalam ejaan Arab) pernah bertanya mengenai alamat-alamat yang dapat diketahui siapakah gerangannya Nabi itu, katanya pada fasal ke-72;
"..Tuan guru, sebutkanlah tanda-tanda (alamat kenabiannya) agar kami mengetahuinya. ."
Lalu dijawab oleh Isa alaihissalam;
"..Sesungguhnya dia tidak akan datang pada zaman kamu, tetapi ia akan datang selepas kamu beberapa tahun ketika mana injilku dibatalkan dan hampir-hampir sahaja tidak terdapat 30 orang yang beriman. Allah merahmati alam ini lalu ia mengutuskan Rasul-Nya yang ada di atas kepalanya sentiasa dinaungi awan putih. Dia dikenali sebagai seorang pilihan Allah dan ia akan dinyatakan untuk alam ini dan akan datang dengan kekuatan yang hebat ke atas orang jahat dan akan menghapuskan penyembahan berhala di dunia ini.."
4) Pada catatan Barnaba, beliau menyebut bahawa Nabi Isa tidak dibunuh dan disalib tetapi yang sebenarnya disalib ialah Yahuza yang diserupakan Allah akan wajahnya dengan wajah Nabi Isa alaihissalam. Hal ini dijelaskan dalam fasal ke-112;
"..Ketahuilah wahai Barnaba bahawa menjadi kewajipan untuk berjaga- jaga dan aku akan terjual (diserah kepada tentera Rom) dengan salah seorang muridku berharga 30 keping wang. Di atas hal ini aku yakin bahawa orang yang akan menjual aku itu akan terbunuh dengan namaku kerana Allah akan membawaku dari bumi dan akan mengubah pandangan si pengkhianat itu sehingga setiap orang yang melihatnya akan menyangka dia itu adalah aku.."
Hal ini turut dijelaskan di dalam fasal ke-216;
"..Maka Allah yang Maha Ajaib telah mendatangkan perkara yang ajaib. Tiba-tiba Yahuza berubah suara dalam percakapan, wajahnya menjadi seperti Isa (Jesus) sehingga kami menganggap dia itu Isa. Adapun dia (Yahuza) selepas mengejutkan kami (dari lena) mencari-cari di manakah tuan guru (Isa untuk diserahkan kepada tentera Rom). Oleh sebab itu kami merasa hairan lalu kami menjawab; ..Engkaulah wahai tuan guru kami. Adakah tuan melupai kami sekarang ?? Lalu dia (Yahuza yang diserupakan seperti Jesus) dengan tersenyum berkata; ..Adakah kamu mangli sehingga tidak mengenal Yahuza al Isqaryuti (Judas Iscariot).. ?? "
Firman Allah Taala;
"..Dan ucapan mereka (orang kafir);..Sesungguhn ya kami telah membunuh al Masih, Isa putera Maryam Rasulullah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.."-Surah an Nisa':157, al Quranul Karim
Apabila Rasulullah salallahualaihi wasalam melancarkan dakwah keesaan Tuhan, ini bererti Baginda menentang kepercayaan syirik jahiliyyah sama ada dalam bentuk triniti (Tuhan bapa+anak+roh al quddus) atau trimuti (Brahma, Vishnu, Shira) dan apa jua bentuk kesyirikkan. Sekiranya penganut Kristian menuhankan Isa (Jesus) kerana dilahirkan tanpa bapa, maka mereka perlu menuhankan Adam juga kerana ia dilahirkan tanpa ibu dan bapa. Adapun segala keajaiban yang berlaku kepada 2 orang Nabi ini menunjukkan betapa Maha Tingginya kekuasaan, keagungan dan keilmuan Allah Taala. Firman Allah Taala;
"..Sesungguhnya perumpamaan penciptaan Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah mencipta Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya;.. Jadilah !! maka jadilah ia.."-al Imran:59, al Quranul Karim
Berdasarkan keterangan injil Barnaba di atas tadi, nyatalah Nabi yang diutuskan itu telahpun lahir iaitu Nabi Muhammad salallahualaihi wasalam dan kami hanyalah umat akhir zaman yang bekerja untuk kebenaran agama ajarannya sekalipun dibenci oleh orang yang membenci. Seterusnya di dalam Fasal ke 222 , iaitu fasal terakhir dari kitab tersebut Barnaba telah petanda halangan-halangan yang akan dilakukan terhadap risalah dakwah yang benar;
"..Bertebaranlah para murid di seluruh Israel dan lain-lain negeri. Adapun kebenaran yang dibenci oleh syaitan maka ia akan sentiasa ditindas oleh kebatilan sebagaimana hal (keadaannya) selalu adalah (dilakukan) segolongan daripada kelompok-kelompok yang jahat mendakwa mereka adalah murid-murid (Isa alaihissalam) . Mereka menyebarkan bahawa Jesus (Isa alaihi salam) itu anak Allah dan yang termasuk golongan yang menipu itu adalah Paulus. Adapun kami menyebarkan dengan apa yang telahku (Barnaba) tulis kepada orang-orang yang takutkan Allah supaya mereka terselamat di hari akhirat dari pembalasan Allah. Amin (semoga dimakbulkan) .."
Akhir perutusan ini pembaca hendaklah mengetahui bahawa kedatangan Islam ke dunia bukanlah bagi mengubah kepercayaan manusia kepada Tuhan yang sudah sedia dipercayai oleh mereka. Sebaliknya bagi membetulkan kepercayaan yang salah kepada kepercayaan yang sebenarnya. Islam menyeru dan mengajar manusia bahawa Tuhan hanya satu (esa). Konsep keesaan Tuhan inilah menjadi asas penting dan utama dalam perutusan nabi-nabi dan rasul-rasul sejak zaman Nabi Adam hinggalah zaman Nabi Muhammad sallahualaihi wasalam. WAllahua'lam
Masjid: Pusat Dakwah dan Pemerintahan di Zaman Nabi (s.a.w.)
Masjid di zaman Rasulullah (s.a.w.) merupakan pusat kegiatan Jamaah Muslimin. Ia bukan setakat tempat beribadat dan sembahyang bahkan sebagai tempat beribadat, markaz ilmu, kelab sastera, parlimen, tempat perkenalan, tempat berkumpulnya rombongan-rombongan yang datang dari seluruh pelusuk Semenanjung Tanah Arab, tempat Rasulullah (s.a.w.) membuat pertemuan dengan mereka dan tempat Rasulullah (s.a.w.) menyampaikan khutbah dan tunjuk ajarnya tentang seluruh kehidupan sama ada urusan keagamaan, kemasyarakatn dan pentadbiran. Di dalam kehidupan Rasulullah (s.a.w.) tidak ada pemisahan di antara urusan agama (mengikut istilah orang sekarang) dan politik. Baginda tidak mempunyai satu tempat yang lain bagi politik dan permasalahannya selain daripada masjid. Masjid di zaman Rasulullah (s.a.w.) adalah markaz dakwah dan politik. Masjid Di Zaman Kegemilangan dan Zaman Kemuduran. Begitu juga di zaman Khulafa Ar Rashidin selepas Rasulullah (s.a.w). Masjid dijadikan sebagai tempat pelbagai aktiviti sama ada aktiviti politik dan sebagainya. Abu Bakar as-Siddiiq menyampaikan ucapan dasarnya yang pertama di masjid. Disinilah beliau menerangkan program politik atau strategi pemerintahannya. Beliau berkata:
“Wahai manusia! Aku dilantik memerintah kamu. Aku bukanlah orang yang paling layak dari kalangan kamu. Jika kamu melihat aku berada di atas jalan yang benar, bantulah aku. Jika aku menyeleweng, perbetulkanlah aku.”
Umar bin al-khattab juga menyampaikan ucapan dasarnya di masjid, beliau berkata:
“Wahai manusia! Sesiapa yang melihat aku menyeleweng, perbetulkan aku!” Lalu seoang makmum berkata: “Demi Allah, jika kami melihat kamu menyeleweng, kami akan memperbetulkannya dengan mata pedang kami!” Umar menjawab: “Alhamdulillah, syukur kepada Allah yang menjadikan di kalangan rakyat Umar, mereka yang akan membetulkan penyelewengan Umar dengan mata pedangnya.”
Masjid terus berfungsi di zaman sebaik-baik umat ini dan di zaman kegemilangannya. Tetapi ketika luputnya bintang tamadun Islam dan umat Islam menjadi mundur dalam segenap bidang kehidupan, fungsi masjid turut berubah. Masjid hanya dijadikan tempat menunaikan sembahyang sahaja. Khutbah yang diucapkan mati tidak bertenaga. Kerana ia bukan menyampaikan khutbah tetapi membaca khutbah. Tajuknya hanya berligar di sekitar zuhud di dunia, mengingati kematian, fitnah kubur, dan azab akhirat. Oleh kerana itu sewaktu ruh kebangkitan Islam mula meresapi tubuh umat ini, kita dapati sebahagian daripada khatib bercakap tentang permasalahan umat Islam, mengkritik suasana penyelewengan kehidupan umat, khususnya kezaliman pemerintah, kebisuan ulama dan kedinginan cendikiawan. Oleh itu kita dapati, setengah orang berkata: Khatib itu bercakap tentang politik…! Politik Yang Diterima dan Politik Yang Ditolak.
Saya tidak faham, kenapa ketika disebut kalimah ‘politik’, seolah-olah ia merupakan satu kehinaan atau jenayah?! Sedangkan ilmu politik adalah satu cabang ilmu yang paling mulia dan orang yang berkecimpung dalam bidang politik adalah mereka yang memikul satu tugas yang paling mulia. Yang peliknya lagi ialah sebahagian ahli politik sendiri yang bertanya:”Adakah harus menggunakan masjid untuk tujuan politik?” Sedangkan mereka bergelumang dalam politik daripada hujung rambut ke hujung kaki. Politik itu sendiri bukanlah perkara mungkar dan kotor, apabila ia mengikut garisan-garisan yang telah ditetapkan oleh prinsip-prinsip Islam dan berada di dalam lengkaran hukum dan nilai-nilainya.
Politik yang ditolak ialah politik ‘Micheavelli’ yang menyatakan matlamat menghalalkan cara, tidak beriltizam dengan akhlak serta nilai-nilai kebaikan dan mengenepikan halal dan haram. Manakala politik dengan maksud mentadbir urusan seluruh manusia dengan menjaga kepentingan mereka dan menghilangkan keburukan serta menegakkan keadilan di kalangan mereka, makia ia adalah selari dengan agama, bahkan ia adalah sebahagian daripada agama kita, kerana Islam itu adalah aqidah, ibadah, akhlak dan sistem hidup yang lengkap. Risalah masjid sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam yang sebenar tidak dapat digambarkan bahawa ianya boleh dipisahkan daripada politik dengan pengertiannya yang di atas.
Masjid diwujudkan untuk menangani seluruh permasalahan umat Islam dan setiap yang memberi kebaikan dalam urusan agama dan dunia mereka. Melalui masjidlah manusia mempelajari kebenaran, kebaikan, kelebihan di dalam seluruh kehidupan mereka, samada dari segi kerohanian, kebudayaan, sosial, ekonomi dan politik. Hal ini dikenali sebagai ‘an-nasiihah’, salah satu kewajiban Islam yang diketahui, di mana Nabi (s.a.w.) menjadikankannya sebagai seluruh agama sebagaiaman di dalam sabdanya yang bermaksud;
“Ad-Deen itu adalah nasihat…” Sahabat bertanya: “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Sabdanya: “Bagi Allah, Rasul, Kitab dan Imam Muslimin serta umat Islam seluruhnya.”
Ia juga termasuk dalam konteks berwasiat dengan kebenaran dan berpesan dengan kesabaran yang dijadikan oleh al-Quran sebagai syarat untuk mendapat keselamatan daripada kerugian di dunia dan akhirat. Firman Allah bermaksud
*( Al-Asr: 1-3): “Demi masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.”
Ia juga tergolong daripada amar-makruf dan nahi mungkar yang dijadikan oleh Allah Taala sebagai sebab utama kepada kebaikan umat ini. Firman Allah (s.w.t.): Maksudnya:
“Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik, dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji).” (Ali-Imran: 110).
Allah Taala juga menjadikannya salah satu daripada sifat asasi mukminin dan mukminat. Firman Allah (s.w.t.):Maksudnya:
“ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sesetengahnya menjadi penolong bagi sesetengahnya yang lain; mereka menyuruh berbuat kebaikan dan melarang daripada berbuat kejahatan dan mereka mendirikan sembahyang dan memberikan zakat serta ta’at kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itulah akan diberikan rahmat oleh Allah.”
Di dalam ayat di atas, Allah (s.w.t.) mendahulukan kefardhuan amar makruf dan nahi mungkar daipada kefarduan solat dan zakat, sedangkan kedua-duanya merupakan rukun Islam. Ini menunjukkan kepentingan kefardhuan amar-makruf nahi mungkar. Allah juga memberitakan kepada kita tentang laknat yang menimpa orang yang meninggalkan kewajipan ini di kalangan umat-umat yang terdahulu. FirmanNya: Maksudnya:
“Orang-orang kafir Yahudi dari bani Israel telah dilaknat (di dalam kitab-kitan Zabur dan Injil) melalui lidah nabi Daud dan nabi Isa bin Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka menderhaka dan menceroboh. Mereka sentiasa tidak berlarang-larangan (sesama sendiri)n dari perbuatan mungkar (derhaka dan ceroboh) yang mereka lakukan. Demi sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka lakukan.”
Melalui nasihat, berpesan dengan kebenaran dan amar makruf nahi mungkar, masjid berperanan di dalam memberi pengarahan terhadap urusan pentadbiran umat, memberi kesedaran kepada mereka tentang permasalahan hidup mati mereka dan mendedahkan kepada mereka tentang tipu daya musuh. Semenjak dahulu lagi masjid berperanan meniupkan semangat jihad fi sabilillah dan semangat menentang musuh yang menceroboh. Intifadhah yang diberkati, yang berlaku sekarang di bumi ambiyak ‘Palestin’ bermula dari masjid. Seruan pertamanya bergema dari menara azan. Pada permulaannya kebangkitan ini dinamakan sebagai kebangnkitan masjid. Begitu juga jihad di Afghanistan dan lain lain tempat lagi, masjid mempunyai peranannya yang tidak dapat dinafikan. Saya masih ingat pada tahun 1956 sewaktu permusuhan tiga serangkai ke atas Mesir, saya dijemput oleh Kementerian Wakaf yang menjadi menterinya pada masa itu ialah Syeikh Ahmad al-Baaquri untuk menyampaikan khutbah Jumaat di salah sebuah masjid terbesar di Bandar kaherah untuk menguatkan semangat orang ramai. Walaupiun ketika itu saya tidak dibenarkan berkhutbah, mengajar dan setiap aktiviti yang memberi pengaruh kepada umum., tetapi keadaan darurat ketika itu memaksa mereka meminta pertolongan saya. Kementerian wakaf dan ha ehwal masjid menyeru para khatibnya dari masa ke semasa supaya menyentuh dalam khutbah mereka tajuk-tajuk yang boleh menolong negara mencapai matlamatnya dan melaksanakan polisinya. Seperti bersederhana dalam melakukan penggunaan, menentang keganasan, memerangi pelampau, seruan ke arah kesatuan bangsa, kempen membasmi dadah…semuanya itu adalah dari lubuk politik.
Jadi apakah yang dimaksudkan dengan ‘tujuan-tujuan politik’ sebagaimana yang terdapat di dalam pertanyaan di atas? Difahami daripada soalan seumpama ini ialah politik pembangkang yang menentang kerajaan. Pada pendapat saya, politik yang berbentuk begini tidaklah ditegah secara mutlak dan tidak juga diharuskan secara mutlak. Yang ditegah ialah menyebut nama-nama orang tertentu dan pendetailan secara terperinci untuk mencerca, menjatuhkan maruah dan memaki hamun. Perkara seumpama ini tidak harus dilakukan di atas mimbar dan tidak harus juga mimbar dipergunakan untuk tujuan memburukkan nama orang dan untuk tujuan fanatik kepartian. Tetapi mimbar boleh digunakan untuk menyebut segala perkara yang melanggar syariat, walaupun ia merupakan polisi kerajaan.
Masjid didirikan untuk meneguhkan syariat Allah bukan untuk meyokong polisi mana-mana kerajaan. Ketika kerajaan bercanggah dengan syariat Allah, maka masjid mesti berada di saf syariat, bukan di saf kerajaan. Tidak harus sama sekali masjid ditegah daripada haknya yang tradisi, logik dan bersejarah ini; iaitu hak memberi kesedaran dan peringatan kepada umat daripada taghut-taghut yang tidak melaksanakan syariat Allah dan meghukumkannya mengikut hawa nafsu mereka atau tuan-tuan mereka yang sedikitpun tidak mempunyai kekuatan ketika berhadapan dxengan kekuatan Allah (s.w.t..)
Di sesetengah negara Islam, kerajaan mengeluarkan enakmen berhubung hukum kekeluargaan yang bercanggah dengan syariat Islam, lalu ulama bangkit menentangnya dan mengkritik di masjid-masjid, kerana media massa yang lain dikuasai oleh kerejaan. Tindakan kerajaan tersebut terhadap ulama-uama yang berani ialah hukum bunuh dan bakar! Perkara ini secara tepatnya berlaku di Somalia. Pemerintah menggunakan masjid sebagai trompet untuk mengembar-gemburkan polisinya. Apabila mereka mahu berdamai dengan Israel, maka mereka mengatakan bahwa perdamaian adalah satu kebaikan berdasarkan firman Allah (s.w.t): Maksudnya:
“Dan jika mereka (pihak musuh) cenderung kepada perdamaian, maka nengkau juga hendaklah cenderung kepadanya serta bertawakallah kepada Allah.” (Al-Anfaal: 61)
Ketika hubungan mereka dengan Israel menjadi tegang, maka mereka mengatakan bahawa bangsa Yahudi adalah musuh yang paling ketat kepada orang-orang yang beriman. Perdamaian dengan mereka adalah haram dan khianat. Demikianlah apa yang terjadi. Masjid tidak lagi menjadi lidah yang benar bagi risalah Islam, bahkjan ia menjadi agensi dakyah kepada polisi kerajaan. Keadaan ini menyebabkan masjid hilang fungsi dan pengaruhnya di dalam masyarakat dan dalam waktu yang sama ia juga menjatuhkan kemuliaan ulama dan pendakwah kepada jalan Allah. Kita memohon kepada Allah (s.w.t.) agar memberikan keselamatan kepada agama dan dunia kita
“Wahai manusia! Aku dilantik memerintah kamu. Aku bukanlah orang yang paling layak dari kalangan kamu. Jika kamu melihat aku berada di atas jalan yang benar, bantulah aku. Jika aku menyeleweng, perbetulkanlah aku.”
Umar bin al-khattab juga menyampaikan ucapan dasarnya di masjid, beliau berkata:
“Wahai manusia! Sesiapa yang melihat aku menyeleweng, perbetulkan aku!” Lalu seoang makmum berkata: “Demi Allah, jika kami melihat kamu menyeleweng, kami akan memperbetulkannya dengan mata pedang kami!” Umar menjawab: “Alhamdulillah, syukur kepada Allah yang menjadikan di kalangan rakyat Umar, mereka yang akan membetulkan penyelewengan Umar dengan mata pedangnya.”
Masjid terus berfungsi di zaman sebaik-baik umat ini dan di zaman kegemilangannya. Tetapi ketika luputnya bintang tamadun Islam dan umat Islam menjadi mundur dalam segenap bidang kehidupan, fungsi masjid turut berubah. Masjid hanya dijadikan tempat menunaikan sembahyang sahaja. Khutbah yang diucapkan mati tidak bertenaga. Kerana ia bukan menyampaikan khutbah tetapi membaca khutbah. Tajuknya hanya berligar di sekitar zuhud di dunia, mengingati kematian, fitnah kubur, dan azab akhirat. Oleh kerana itu sewaktu ruh kebangkitan Islam mula meresapi tubuh umat ini, kita dapati sebahagian daripada khatib bercakap tentang permasalahan umat Islam, mengkritik suasana penyelewengan kehidupan umat, khususnya kezaliman pemerintah, kebisuan ulama dan kedinginan cendikiawan. Oleh itu kita dapati, setengah orang berkata: Khatib itu bercakap tentang politik…! Politik Yang Diterima dan Politik Yang Ditolak.
Saya tidak faham, kenapa ketika disebut kalimah ‘politik’, seolah-olah ia merupakan satu kehinaan atau jenayah?! Sedangkan ilmu politik adalah satu cabang ilmu yang paling mulia dan orang yang berkecimpung dalam bidang politik adalah mereka yang memikul satu tugas yang paling mulia. Yang peliknya lagi ialah sebahagian ahli politik sendiri yang bertanya:”Adakah harus menggunakan masjid untuk tujuan politik?” Sedangkan mereka bergelumang dalam politik daripada hujung rambut ke hujung kaki. Politik itu sendiri bukanlah perkara mungkar dan kotor, apabila ia mengikut garisan-garisan yang telah ditetapkan oleh prinsip-prinsip Islam dan berada di dalam lengkaran hukum dan nilai-nilainya.
Politik yang ditolak ialah politik ‘Micheavelli’ yang menyatakan matlamat menghalalkan cara, tidak beriltizam dengan akhlak serta nilai-nilai kebaikan dan mengenepikan halal dan haram. Manakala politik dengan maksud mentadbir urusan seluruh manusia dengan menjaga kepentingan mereka dan menghilangkan keburukan serta menegakkan keadilan di kalangan mereka, makia ia adalah selari dengan agama, bahkan ia adalah sebahagian daripada agama kita, kerana Islam itu adalah aqidah, ibadah, akhlak dan sistem hidup yang lengkap. Risalah masjid sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam yang sebenar tidak dapat digambarkan bahawa ianya boleh dipisahkan daripada politik dengan pengertiannya yang di atas.
Masjid diwujudkan untuk menangani seluruh permasalahan umat Islam dan setiap yang memberi kebaikan dalam urusan agama dan dunia mereka. Melalui masjidlah manusia mempelajari kebenaran, kebaikan, kelebihan di dalam seluruh kehidupan mereka, samada dari segi kerohanian, kebudayaan, sosial, ekonomi dan politik. Hal ini dikenali sebagai ‘an-nasiihah’, salah satu kewajiban Islam yang diketahui, di mana Nabi (s.a.w.) menjadikankannya sebagai seluruh agama sebagaiaman di dalam sabdanya yang bermaksud;
“Ad-Deen itu adalah nasihat…” Sahabat bertanya: “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Sabdanya: “Bagi Allah, Rasul, Kitab dan Imam Muslimin serta umat Islam seluruhnya.”
Ia juga termasuk dalam konteks berwasiat dengan kebenaran dan berpesan dengan kesabaran yang dijadikan oleh al-Quran sebagai syarat untuk mendapat keselamatan daripada kerugian di dunia dan akhirat. Firman Allah bermaksud
*( Al-Asr: 1-3): “Demi masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.”
Ia juga tergolong daripada amar-makruf dan nahi mungkar yang dijadikan oleh Allah Taala sebagai sebab utama kepada kebaikan umat ini. Firman Allah (s.w.t.): Maksudnya:
“Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik, dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji).” (Ali-Imran: 110).
Allah Taala juga menjadikannya salah satu daripada sifat asasi mukminin dan mukminat. Firman Allah (s.w.t.):Maksudnya:
“ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sesetengahnya menjadi penolong bagi sesetengahnya yang lain; mereka menyuruh berbuat kebaikan dan melarang daripada berbuat kejahatan dan mereka mendirikan sembahyang dan memberikan zakat serta ta’at kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itulah akan diberikan rahmat oleh Allah.”
Di dalam ayat di atas, Allah (s.w.t.) mendahulukan kefardhuan amar makruf dan nahi mungkar daipada kefarduan solat dan zakat, sedangkan kedua-duanya merupakan rukun Islam. Ini menunjukkan kepentingan kefardhuan amar-makruf nahi mungkar. Allah juga memberitakan kepada kita tentang laknat yang menimpa orang yang meninggalkan kewajipan ini di kalangan umat-umat yang terdahulu. FirmanNya: Maksudnya:
“Orang-orang kafir Yahudi dari bani Israel telah dilaknat (di dalam kitab-kitan Zabur dan Injil) melalui lidah nabi Daud dan nabi Isa bin Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka menderhaka dan menceroboh. Mereka sentiasa tidak berlarang-larangan (sesama sendiri)n dari perbuatan mungkar (derhaka dan ceroboh) yang mereka lakukan. Demi sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka lakukan.”
Melalui nasihat, berpesan dengan kebenaran dan amar makruf nahi mungkar, masjid berperanan di dalam memberi pengarahan terhadap urusan pentadbiran umat, memberi kesedaran kepada mereka tentang permasalahan hidup mati mereka dan mendedahkan kepada mereka tentang tipu daya musuh. Semenjak dahulu lagi masjid berperanan meniupkan semangat jihad fi sabilillah dan semangat menentang musuh yang menceroboh. Intifadhah yang diberkati, yang berlaku sekarang di bumi ambiyak ‘Palestin’ bermula dari masjid. Seruan pertamanya bergema dari menara azan. Pada permulaannya kebangkitan ini dinamakan sebagai kebangnkitan masjid. Begitu juga jihad di Afghanistan dan lain lain tempat lagi, masjid mempunyai peranannya yang tidak dapat dinafikan. Saya masih ingat pada tahun 1956 sewaktu permusuhan tiga serangkai ke atas Mesir, saya dijemput oleh Kementerian Wakaf yang menjadi menterinya pada masa itu ialah Syeikh Ahmad al-Baaquri untuk menyampaikan khutbah Jumaat di salah sebuah masjid terbesar di Bandar kaherah untuk menguatkan semangat orang ramai. Walaupiun ketika itu saya tidak dibenarkan berkhutbah, mengajar dan setiap aktiviti yang memberi pengaruh kepada umum., tetapi keadaan darurat ketika itu memaksa mereka meminta pertolongan saya. Kementerian wakaf dan ha ehwal masjid menyeru para khatibnya dari masa ke semasa supaya menyentuh dalam khutbah mereka tajuk-tajuk yang boleh menolong negara mencapai matlamatnya dan melaksanakan polisinya. Seperti bersederhana dalam melakukan penggunaan, menentang keganasan, memerangi pelampau, seruan ke arah kesatuan bangsa, kempen membasmi dadah…semuanya itu adalah dari lubuk politik.
Jadi apakah yang dimaksudkan dengan ‘tujuan-tujuan politik’ sebagaimana yang terdapat di dalam pertanyaan di atas? Difahami daripada soalan seumpama ini ialah politik pembangkang yang menentang kerajaan. Pada pendapat saya, politik yang berbentuk begini tidaklah ditegah secara mutlak dan tidak juga diharuskan secara mutlak. Yang ditegah ialah menyebut nama-nama orang tertentu dan pendetailan secara terperinci untuk mencerca, menjatuhkan maruah dan memaki hamun. Perkara seumpama ini tidak harus dilakukan di atas mimbar dan tidak harus juga mimbar dipergunakan untuk tujuan memburukkan nama orang dan untuk tujuan fanatik kepartian. Tetapi mimbar boleh digunakan untuk menyebut segala perkara yang melanggar syariat, walaupun ia merupakan polisi kerajaan.
Masjid didirikan untuk meneguhkan syariat Allah bukan untuk meyokong polisi mana-mana kerajaan. Ketika kerajaan bercanggah dengan syariat Allah, maka masjid mesti berada di saf syariat, bukan di saf kerajaan. Tidak harus sama sekali masjid ditegah daripada haknya yang tradisi, logik dan bersejarah ini; iaitu hak memberi kesedaran dan peringatan kepada umat daripada taghut-taghut yang tidak melaksanakan syariat Allah dan meghukumkannya mengikut hawa nafsu mereka atau tuan-tuan mereka yang sedikitpun tidak mempunyai kekuatan ketika berhadapan dxengan kekuatan Allah (s.w.t..)
Di sesetengah negara Islam, kerajaan mengeluarkan enakmen berhubung hukum kekeluargaan yang bercanggah dengan syariat Islam, lalu ulama bangkit menentangnya dan mengkritik di masjid-masjid, kerana media massa yang lain dikuasai oleh kerejaan. Tindakan kerajaan tersebut terhadap ulama-uama yang berani ialah hukum bunuh dan bakar! Perkara ini secara tepatnya berlaku di Somalia. Pemerintah menggunakan masjid sebagai trompet untuk mengembar-gemburkan polisinya. Apabila mereka mahu berdamai dengan Israel, maka mereka mengatakan bahwa perdamaian adalah satu kebaikan berdasarkan firman Allah (s.w.t): Maksudnya:
“Dan jika mereka (pihak musuh) cenderung kepada perdamaian, maka nengkau juga hendaklah cenderung kepadanya serta bertawakallah kepada Allah.” (Al-Anfaal: 61)
Ketika hubungan mereka dengan Israel menjadi tegang, maka mereka mengatakan bahawa bangsa Yahudi adalah musuh yang paling ketat kepada orang-orang yang beriman. Perdamaian dengan mereka adalah haram dan khianat. Demikianlah apa yang terjadi. Masjid tidak lagi menjadi lidah yang benar bagi risalah Islam, bahkjan ia menjadi agensi dakyah kepada polisi kerajaan. Keadaan ini menyebabkan masjid hilang fungsi dan pengaruhnya di dalam masyarakat dan dalam waktu yang sama ia juga menjatuhkan kemuliaan ulama dan pendakwah kepada jalan Allah. Kita memohon kepada Allah (s.w.t.) agar memberikan keselamatan kepada agama dan dunia kita
Langgan:
Catatan (Atom)