Kecuali para ulama salaf, masih sedikit yang mengetahui arti dari Ramadhan dan datangnya perintah tentang puasa. Bagaimana sejarahnya?
Dalam kehidupan masyarakat khususnya kaum muslimin secara umum memang tidak aneh kaitannya Ramadhan itu dengan pelaksanaan amal ibadah yang bernama puasa. Namun masih sedikit yang mengetahui arti dari Ramadhan dan perintah puasa itu dalam meyakinkan dari hikmah kedua kata yang saling terkait itu sendiri yang tidak dapat dipisahkan. Terkecuali bagi mereka (kaum muslimin) yang menimba ilmu dari berbagai sumber para ulama salaf (terdahulu) yang penuh keikhlasan dan semangat jihadnya tak terputus karena demi materi semata. Sebaiknya alangkah sangat agung dalam keyakinan masyarakat awam (umum) untuk mengetahui hal itu. Kenapa kedua kata itu saling mengait dan tidak dapat dipisahkan? Karena perintah itu merupakan amaliyah individu bersifat perintah yang wajib dilaksanakan yang belum tentu orang lain dapat mengetahuinya, maka penegasannya pun datang langsung dari Sang Maha Pencipta agar seseorang itu benar-benar mangamalkannya. Jika tidak, Allah jualah Yang Maha Mengetahui terhadap amaliyah seseorang, Allah SWT berfirman:
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [QS 2 Al-Baqarah: ayat 185]
Sebaiknya kita semak dari kalimat-kalimat ayat ini. Di dalam ayat ini ada kata Ramadhan yang berasal dari akar kata dasar r – m – dl, atau dalam huruf Arab terdiri dari huruf ra – mim – dlad asal kata (madli) ra-mi-dla yang berarti “panas” atau “panas yang menyengat”. Kata itu berkembang –sebagaimana biasa terjadi dalam struktur bahasa Arab– dan bisa diartikan “menjadi panas, atau sangat panas”, atau dima’nai “hampir membakar”. Jika orang Arab mengatakan Qad Ramidla Yaumunâ, maka itu berarti “hari telah menjadi sangat panas”.
Ar-Ramadlu juga bisa diartikan “panas yang diakibatkan sinar matahari”. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Ramadhan itu adalah salah satu nama Allah SWT. Dalam hal ini kalau melihat dari ayat tersebut di atas tidaklah mungkin diartikan nama Allah, karena pendapat ini memang lemah dan tidak memiliki argumentasi literal.
Itulah singkat dari pengartian istilah bulan Ramadhan diambil dari kalimat ramidla –yarmadlu, yang berarti “panas atau keringnya mulut dikarenakan rasa haus”. Keterangan-keterangan tentang lafadz Ramadhan ini disampaikan oleh Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Qadir Al-Razi (w. 721 H.) dalam kamus Mukhtarush Shihhah dan Muhammad bin Mukarram bin Mandzur Al-Mashrî (630 – 711 H.), yang terkenal dengan sebutan Ibnu Mandzur, dalam karya monumentalnya, Lisanul ‘Arab.
Sedangkan kata puasa dalam bahasa Arab disebut Shiyâm atau Shaum –keduanya sama-sama kata dasar dari kata kerja Sha-wa-ma–, yang secara etimologis berarti menahan dan tidak bepergian dari satu tempat ke tempat lain (Al-Syaukani, 1173 – 1255 H., Fathul-Qadîr). Shiyâm atau Shaum merupakan qiyâm bilâ ‘amal, yang berarti ‘beribadah tanpa bekerja’. Dikatakan ‘tanpa bekerja’ karena puasa itu sendiri bebas dari gerakan-gerakan (harakât), baik gerakan itu berupa; berdiri, berjalan, makan, minum dan sebagainya. Sehingga, Ibnu Durayd –sebagaimana dinukil dalam Al-Alusi– mengatakan bahwa segala sesuatu yang diam dan tidak bergerak, berarti sesuatu itu Shiyâm (sedang berpuasa).
Selain itu, puasa juga sebagaimana disebutkan di atas, berarti ‘menahan’ dari sesuatu pekerjaan. Dan ‘sesuatu’ perintah itu telah ditentukan oleh syari’at. Pemahaman intinya dalam syari’at, puasa memiliki pengertian tersendiri. Makna puasa yang “menahan” ini juga terlihat jelas tatkala jika menelusuri sejarah bahasa shiyâm atau Shaum.
Oleh Ibnu Mandzur, pakar sejarah bahasa Arab yang hampir tiada duanya, dalam hasil pelacakannya atas asal-muasal kata, mendefinisikan Shaum sebagai “hal meninggalkan makan, minum, menikah dan berbicara”. Definisi ini adalah definisi paling asli dan shahih dalam sejarah bahasa Arab. Juga cocok dengan keterangan Al-Qur’an, misalnya; pada kisah Sayyidah Maryam saat menjawab cemoohan-cemoohan orang-orang kepadanya.
”Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (QS 19 Maryam: ayat 26) Kata ‘puasa’ yang dimaksud Sayyidah Maryam pada ayat ini adalah “menahan untuk tidak bicara”.
Mengenai kata sifat ‘menahan’ menjadi titik atau letak perbedaan antara puasa dengan amal ibadah yang lainnya. Jenis apapun amal ibadah seseorang, pasti akan dapat diketahui dari sisi dhahir atau luarnya, seperti shalat, haji dan sebagainya. Tetapi, untuk mengamalkan puasa tidak bisa diketahui dan tidak bisa diperlihatkan dengan gerakan-gerakan dzahir atau fisik jenis apapun. Pantas jika Nabi Muhammad saw bersabda bahwa satu-satunya ibadah yang tidak bisa dicampuri adalah riya’ –memperlihatkan kebaikan tertentu– adalah dengan jalan puasa.
Jika memperhatikan dari keterangan-keterangan Ibnu Mandzur dan Al-Razi tersebut di atas, baik tentang arti dari Ramadhan maupun puasa, ada indikasi bahwa seolah-olah turunnya syari’at puasa, saling terkait dan bersamaan waktunya dengan kelahiran dalam bulan Ramadhan. Dalam keyakinan ilmiyahnya bisa dibenarkan, dikarenakan kedua kata itu memiliki relasi arti yang dekat dan saling bersentuhan, yaitu sama-sama ‘panas’ atau ‘kering’ yang disebabkan ‘berpuasa’.
Secara awam, ada sebuah pertanyaan yang sifatnya umum; sejak kapan pastinya bulan Ramadhan itu ada, dan sejak kapan pastinya puasa Ramadhan disyari’atkan, sehingga kedua perkataan itu mengaitkan syari’at dengan inti ma’nanya sebagai “panas, kering atau haus”? Dan sejak kapan puasa diberlakukan kepada umat manusia? Bagaimana pula dengan puasa-puasa terdahulu yang dilakukan tidak di bulan Ramadhan? Beberapa pertanyaan ini akan, insya Allah akan dibahas dengan menelaah kembali ayat Al-Qur’an yang menyangkut syari’at untuk melakukan puasa.
Di dalam ayat Al-Qur’an, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan ibadah puasa adalah terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 183 – 184, yang artinya, ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.” Ayat ini turun tanpa sebab tertentu, sebagaimana terjadi pada kebanyakan ayat-ayat ahkam –ayat yang berkenaan dengan hukum–, yang turun setelah ada peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi pada Nabi Muhammad saw atau para shahabat.
Kandungan ayat-ayat dalam surah Al-Baqarah ini adalah surah yang turun ketika Nabi Muhammad saw di Madinah (Madani) sebagai disebutkan sebuah informasi yang menyatakan “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”.
Pemahaman dari ayat ini di antaranya ada dua persoalan pokok yang menjadi bahan perbedaan pendapat di antara para ulama, khususnya para mufassir. Perbedaan pertama menyangkut kalimat “sebagaimana diwajibkan”. Ini menjadi persoalan karena munculnya pertanyaan; apakah kesamaan berpuasa yang diwajibkan atas kaum “sebelum kamu” adalah puasa di bulan Ramadhan, atau (kedua) kesamaan itu hanya meliputi hal syari’at berpuasa saja, sedangkan waktunya berada di bulan lain.
Titik utama dari persoalan ini, perbedaan timbul di antara dua pendapat. Yang pertama, dimotori oleh Sa’id bin Jabir ra (w. 95 H), yang cenderung mengartikan hukum tasybih (penyerupaan atau penyamaan) itu hanya pada kewajiban berpuasanya saja, dan tidak meliputi berapa lama dan pada bulan apa berpuasa. Pendapat ini berdasar pada realitas sejarah dimana masyarakat Jahiliyah masih mengenali syari’at tersebut, walaupun telah menjadi ‘sejarah’ serta tidak dilakukan di bulan Ramadhan yang sudah dikenal.
Bisa jadi pendapat ini menyandarkan kepada salah satu firman Allah SWT tentang bermacam-macamnya syari’at bagi masing-masing umat manusia, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu --maksudnya: umat Nabi Muhammad saw dan umat-umat yang sebelumnya--, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” [QS 5 Al-Maa’idah: ayat 48].
Dan pendapat yang kedua lebih terfokus pemahaman pada lamanya hari berpuasa dan bulan yang diwajibkannya berpuasa. Pendapat kedua ini mengarahkan perhatiannya kepada ayat selanjutnya pada surah Al-Baqarah ayat 184, yang berbunyi, “(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.” [ayyâman ma’dûdât]. Dengan demikian, secara global ulama kelompok ini berpendapat bahwa puasa Ramadhan sebagaimana kaum muslimin melakukan selama ini telah diwajibkan kepada umat-umat yang terdahulu.
Dasar pendapat ini tentu banyaknya riwayat yang menjelaskan tentang hal itu, yang antara lain sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar ra (w. 73 H), sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Katsir (701 – 774 H) yang dalam tafsirnya memuat, bahwa Nabi saw bersabda “Puasa bulan Ramadhan telah diwajibkan oleh Allah SWT atas umat sebelum kamu”.
Keterangan pada pendapat yang kedua ini masih terjadi ikhtilaf (perbedaan), apakah selama “beberapa hari yang tertentu” [ayyâman ma’dûdât] berpuasa —yang diwajibkan pada kaum dahulu itu— adalah berupa sebulan penuh dalam Ramadhan atau bulan-bulan lainnya?
Terhadap pendapat yang kedua ini, intinya memuat ikhtilaf dua pendapat, pertama menyatakan bahwa puasa yang disyari’atkan pada ummat terdahulu adalah berupa puasa selama tiga hari pada setiap bulan. Abdullah bin ‘Abbas sa (w. 69 H) mengatakan, ”Syari’at sebelumnya adalah puasa tiga hari setiap bulan, lalu syari’at ini di-nasakh dengan syari’at yang baru, melalui surah Al-Baqarah ayat 185” (Tafsîr Zâdl Mashîr). Pendapat yang kedua mengklaim bahwa “hari-hari tertentu” yang dimaksud adalah bulan Ramadhan itu sendiri. Jadi, pada bulan Ramadhan jugalah umat-umat dahulu diwajibkan berpuasa.
Al-Suday menyatakan bahwa orang-orang Nasrani sebenarnya telah memiliki syari’at puasa di bulan Ramadhan, tetapi karena mereka merasakan berat, maka mereka kemudien merubahnya dengan berpuasa di waktu antara musim dingin dan musim panas, serta menambah beberapa hari. Beberapa hari tambahan itu dengan perincian masing-masing sepuluh hari sebelum dan sesudah bulan yang disepakati ulama mereka. Sehingga, mereka berpuasa selama lima puluh hari. Ibnu Jarir (224 – 310 H) secara lebih berani meyakini seyakin-yakinnya adanya syari’at puasa di bulan Ramadhan bagi Nasrani (Tafsîr ath-Thabari).
Sedangkan agamawan Yahudi, yang juga memiliki syari’at puasa di bulan Ramadhan, menggantinya dengan puasa sehari dalam setahun. Hal itu, dalam informasi yang dimiliki Syihabuddin Al-Âlusi (w. 1270 H), penulis Tafsîr Ruhul Ma’âni, merupakan klaimnya bahwa hari itu adalah hari tenggelamnya Fir’aun dan tentaranya di laut Merah.
Perbedaan kedua –dalam menelaah ayat syari’at puasa itu– adalah tentang siapa yang dimaksud dengan “orang-orang sebelum kamu”. Pendapat pertama mengatakan yang dimaksud adalah orang-orang ”ahlul kitâb”, yaitu mereka-mereka yang masih berpegang kepada kitab agama-agama sebelum Islam (Yahudi dan Nasrani). Pendapat kedua menyebutkan kaum Nasranilah yang dimaksud ayat itu. Sedangkan pendapat yang ketiga mengatakan bahwa ayat itu memaksudkan seluruh umat-umat manusia sebelum umat Muhammad saw.
Dalam kitab Perjanjian, salah satunya di Ezra 8:21, memang diinformasikan secara indikatif adanya syari’at puasa dalam Kristen, tetapi tidak secara terperinci disebutkan apa yang dimaksud dengan puasa, selama berapa lama dan diwajibkan pada bulan apa. “Kemudien di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami”. Sampai saat ini di antaranya belum ditemukan keterangan-keterangan lain di kitab Perjanjian yang menerangkan lebih jauh tentang puasa tersebut.
Selain itu dalam konteks sejarah yang lain, syari’at puasa nampaknya benar-benar menjadi syari’at setiap ummat. Sayyidah ‘Aisyah radliyallaau ’anha menceritakan –seperti yang diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah– bahwa orang-orang Quraisy biasa menjalankan puasa di bulan ‘Asyura, walaupun sehari saja. Namun sejak diutusnya Nabi Muhammad saw, puasa dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Puasa di bulan ‘Asyura masih disyari’atkan tetapi berada dalam status sunnah.
Juga masih ada riwayat lain yang menerangkan tentang syari’at puasa pada ummat dahulu. Ad-Dlahâk, dalam riwayat Ibnu Abi Hatim mengatakan, bahwa puasa pertama kali disyari’atkan di zaman Nabi Nuh ’alaihis salam, dan masih tetap berlangsung hingga zaman nabi Muhammad saw. Syihabuddin Al-Alusi (w. 1270 H), penulis Tafsir Ruhul Ma’âni, dengan dasar hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar itu, lebih percaya bahwa puasa Ramadhan disyari’atkan sejak Nabi Adam ’alaihis salam. Az-Zamakhsari (467 – 538 H) melalui telaahnya atas asal usul bulan Ramadhan juga menegaskan bahwa puasa adalah amal ibadah yang sudah lama [‘Ibaadah Qadiimah].
Dengan melihat dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Umar dan beberapa riwayat lain serta melihat proses turunnya syari’at yang tanpa diawali sebab-sebab tertentu serta beberapa hal lain –yang semuanya telah disinggung di atas, nampak jelas bahwa “puasa pada bulan Ramadhan” telah disyari’atkan kembali kepada manusia – tidak hanya kepada ummat Muhammad saw– setelah sebelumnya dibelokkan oleh umat-umat terdahulu.
Hal ini mafhumnya lebih bisa diterima karena kemunculan Nabi Muhammad saw adalah meluruskan dan memperkuat kembali syari’at-syari’at dari Allah yang –sebagaimana difirmankan di dalam Al-Qur’an– telah ditahrif atau diselewengkan oleh umat-umat terdahulu. Demi pelurusan dan penguatan syari’at pada era Islam saat ini berkembang melahirkan dugaan dari para sarjana Barat, bahwa syari’at agama Islam tidaklah murni melainkan mengadopsi dari agama-agama sebelumnya. Inilah yang akhirnya banyak kaum muslim terjebak dalam pemurtadan oleh pemahaman Barat.
Ikhwal mengenai kata Ramadhan, sebagaimana tersurat dalam hadits Nabi saw di atas –riwayat Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu anhu– dan juga surat Al-Baqarah ayat 185, dirasa istilah itu mengikuti budaya Arab yang sudah mengenal tradisi ber-Ramadhan. Yang maksudnya adalah, ketika Al-Qur’an atau Nabi Muhammad saw menyebut kata Ramadhan, masyarakat sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Bahkan dalam konteks struktur bahasa Arab, kata ini sudah menjadi Ism ghoiri munsharif. Yang artinya dan maksud kata itu sudah cukup terkenal dan tidak perlu lagi mengikuti qaidah-qaidah gramatikal bahasa Arab.
Inti dari singkat penjelasan di atas adalah bisa difahami dan memastikan pula bahwa bulan Ramadhan itu ada, setidaknya sejak syari’at puasa diturunkan kepada ummat manusia. Karena, arti Ramadhan itu sendiri adalah waktu dan/atau keadaan suatu hal dimana seseorang merasakan panas, mulut terasa kering dan tenggorokan terasa haus, yang dikarenakan sedang berpuasa. Sehingga dengan sendirinya dan secara otomatis, bulan atau waktu dimana orang melakukan puasa disebut bulan atau waktu Ramadhan, yaitu saat yang panas, kering dan haus.
Demikianlah sekedar telaahan untuk menambah pengetahuan bahwa syari’at puasa memang sudah menjadi syari’at bagi setiap ummat manusia. Dan di antara sekian macam syari’at, hanya ibadah puasa merupakan ibadah kontemplatif. Hal ini bisa dibenarkan, karena dalam sebuah hadits Qudsy, Allah SWT telah berfirman, “Seluruh amal ibadah anak-anak keturunan Adam diperuntukkan kepada pelakunya, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa adalah untukKu, dan Aku mengganjar karenanya”. Sehingga dengan pernyataan Allah SWT itu, Imam al-Qurthubi (627 – 671 H) dalam tafsirnya mengatakan bahwa ‘puasa merupakan (komunikasi) rahasia antara hamba dengan Tuhannya’. Sudah selayaknya sangat bisa diterima jika Shuhuf-nya Ibrahim ‘alaihis salam, Taurat untuk Musa ‘alaihis salam, Injîl untuk Isa ‘alaihis salam dan Al-Qur’an pun turun pertama kali pada bulan Ramadhan, bulan saat para pembebas sedang berkontemplasi. [M. Masdum Muharram, penulis sekarang di Riyad/www.hidayatullah.com]
Selasa, September 02, 2008
Jumaat, Ogos 29, 2008
Adab-adab Berpuasa
1. Bahwasanya wajib bagi seorang muslim untuk berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Allah semata, bukan karena riya`, sum’ah, taqlid kepada manusia, mengikuti keluarganya atau penduduk negerinya bahkan wajib baginya bahwa yang membawanya berpuasa adalah keimanannya bahwasanya Allah telah mewajibkan puasa tersebut kepadanya dan mengharap pahala di sisi-Nya dalam melaksanakan puasa tersebut. Demikian juga shalat malam di bulan Ramadhan (shalat tarawih -pent), hendaklah bagi seorang muslim untuk mengerjakannya karena penuh keimanan dan mengharap pahala kepada-Nya, karena inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala kepada Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa yang shalat di malam harinya (shalat tarawih) karena iman dan mengharap pahala kepada-Nya maka diampuni dosanya yang telah lalu dan barangsiapa yang shalat malam bertepatan dengan datangnya lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala kepada-Nya maka diampuni dosanya yang telah lalu.”
2. Termasuk adab terpenting dalam berpuasa adalah membiasakan diri kita bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan- larangan-Nya, sesuai dengan firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah:183)
Sesuai pula dengan sabda Nabi:
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhariy no.1903)
3. Menjauhi apa yang diharamkan Allah berupa kebohongan, mencela, mencaci, menipu, khianat, melihat sesuatu yang haram seperti melihat lawan jenisnya yang bukan mahramnya, mendengarkan hal yang haram seperti musik, nyanyian, mendengarkan ghibah, ucapan dusta dan sejenisnya, serta perbuatan haram lainnya yang harus dijauhi oleh orang yang sedang berpuasa dan selainnya, akan tetapi terhadap orang yang puasa lebih dikuatkan perintahnya.
4. Memperbanyak shadaqah, amal kebaikan, berbuat baik kepada orang lain, terutama di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan tatkala Jibril menjumpainya untuk bertadarrus Al-Qur`an. (Lihat HR. Al-Bukhariy no.1902)
5. Makan sahur dan mengakhirkannya, sesuai sabda Nabi: “Makan sahurlah kalian karena di dalam sahur ada barakah.” (HR. Al-Bukhariy no.1923 dan Muslim no.1095)
6. Berbuka puasa dengan ruthab (kurma yang sudah matang), jika tidak didapatkan boleh dengan tamr (kurma yang belum sampai ruthab), jika itupun tidak diperoleh maka dengan air, menyegerakan berbuka tatkala telah jelas benar tenggelamnya matahari, berdasarkan sabda Nabi: “Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.” (Muttafaqun ‘alaih dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idiy)
2. Termasuk adab terpenting dalam berpuasa adalah membiasakan diri kita bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan- larangan-Nya, sesuai dengan firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah:183)
Sesuai pula dengan sabda Nabi:
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhariy no.1903)
3. Menjauhi apa yang diharamkan Allah berupa kebohongan, mencela, mencaci, menipu, khianat, melihat sesuatu yang haram seperti melihat lawan jenisnya yang bukan mahramnya, mendengarkan hal yang haram seperti musik, nyanyian, mendengarkan ghibah, ucapan dusta dan sejenisnya, serta perbuatan haram lainnya yang harus dijauhi oleh orang yang sedang berpuasa dan selainnya, akan tetapi terhadap orang yang puasa lebih dikuatkan perintahnya.
4. Memperbanyak shadaqah, amal kebaikan, berbuat baik kepada orang lain, terutama di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan tatkala Jibril menjumpainya untuk bertadarrus Al-Qur`an. (Lihat HR. Al-Bukhariy no.1902)
5. Makan sahur dan mengakhirkannya, sesuai sabda Nabi: “Makan sahurlah kalian karena di dalam sahur ada barakah.” (HR. Al-Bukhariy no.1923 dan Muslim no.1095)
6. Berbuka puasa dengan ruthab (kurma yang sudah matang), jika tidak didapatkan boleh dengan tamr (kurma yang belum sampai ruthab), jika itupun tidak diperoleh maka dengan air, menyegerakan berbuka tatkala telah jelas benar tenggelamnya matahari, berdasarkan sabda Nabi: “Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.” (Muttafaqun ‘alaih dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idiy)
Bersahur
Amalan bangun sahur ini membezakan antara puasa orang Islam dengan puasa orang Yahudi dan Nasrani (ahli kitab). Hal ini disebut dalam sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang bermaksud :
“Perbezaan di antara puasa kami dengan puasa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ialah adanya makan sahur.”
Sahur adalah satu rahmat dan berkat yang dikurniakan Allah ke atas umat Islam. Anjuran bersahur itu dapat dilihat lagi dalam hadis Nabi bermaksud:
“Makanlah sahur, sekalipun dengan seteguk air.” (Hadis riwayat Ibnu Hibban)
Hadis tadi menunjukkan kepentingan bersahur kepada orang yang berpuasa walaupun makan atau minum dengan sedikit saja sekalipun dengan hanya seteguk air. Dalam hadis lain, kelebihan ke atas orang yang bersahur itu ialah seperti sabda Rasulullah bermaksud:
“Sesungguhnya Allah dan malaikatnya mengucapkan selawat (berdoa dan memohon daripada Allah akan keampunan dan keredaan) ke atas orang yang bersahur.” (Hadis riwayat At-Tabrani).
“Perbezaan di antara puasa kami dengan puasa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ialah adanya makan sahur.”
Sahur adalah satu rahmat dan berkat yang dikurniakan Allah ke atas umat Islam. Anjuran bersahur itu dapat dilihat lagi dalam hadis Nabi bermaksud:
“Makanlah sahur, sekalipun dengan seteguk air.” (Hadis riwayat Ibnu Hibban)
Hadis tadi menunjukkan kepentingan bersahur kepada orang yang berpuasa walaupun makan atau minum dengan sedikit saja sekalipun dengan hanya seteguk air. Dalam hadis lain, kelebihan ke atas orang yang bersahur itu ialah seperti sabda Rasulullah bermaksud:
“Sesungguhnya Allah dan malaikatnya mengucapkan selawat (berdoa dan memohon daripada Allah akan keampunan dan keredaan) ke atas orang yang bersahur.” (Hadis riwayat At-Tabrani).
Selamat Berpuasa
Do'a malaikat Jibril menjelang Ramadhan " "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
* Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri;
* Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali.
Dapatkah kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat , dan dilakukan pada hari Jumaat.
Oleh itu SAYA TERLEBIH DAHULU MEMOHON MAAF jika saya ada berbuat kesalahan, baik yang tidak di sengaja maupun yang di sengaja , semoga kita dapat menjalani ibadah puasa.
* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
* Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri;
* Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali.
Dapatkah kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat , dan dilakukan pada hari Jumaat.
Oleh itu SAYA TERLEBIH DAHULU MEMOHON MAAF jika saya ada berbuat kesalahan, baik yang tidak di sengaja maupun yang di sengaja , semoga kita dapat menjalani ibadah puasa.
Khamis, Ogos 28, 2008
Apa itu Tadharru'?
Tadharru' ialah kehinaan yang amat dan rasa rendah diri yang disebabkan oleh hilangnya harapan dan terpapar apabila seseorang itu sampai ke destinasi terakhirnya.
Tadharru' adalah satu bentuk penyembahan yang di gunakan oleh seorang mukmin semasa dalam keadaan yang terdesak,krisis, dan kecemasan atau menehadapi kebuntuan dalam sesuatu perkara.
Sifat ini akan membuang sifat ego,angkuh,bangga diri yang menutup hati kita.ianya menunjukkan keikhlasan kita untuk memohon pertolongan terhadap Allah s.w.t dan menyedarkan kembali bahawa hanya padaNya tempat kita bergantung.
Ia juga menyedarkan kita bahawa kita hanyalah insan yang `kotor' di sisiNya dan memerlukan pertolongan dariNya.
Keadaan ini di gambarkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dengan menyebut, " Bayangkan seorang lelaki yang sedang hanyut di tengah2 lautan dan apa yang dia ada hanyalah sekeping kayu yang masih menjadi tempat pautannya.
Lelaki tersebut menjadi semakin lemah dan ombak lautan yang masin semakin menariknya kearah maut. Bayangkan lelaki tersebut dengan matanya yang penuh mengharap dengan penuh terdesak melihat ke langit menangis sekuat-kuatnya" Ya tuhan,ya tuhan!!"
Bayangkan betapa terdesaknya lelaki tersebut dan betapa ikhlasnya dia memohon bantuan dari Allah s.w.t.
Allah s.w.t. maha pemurah lagi maha penyayang.Kadangkal a apabila kita terleka,alpa dan hanyut dari jalan yang lurus,Allah s.w.t. meletakkan kita dalam situasi yang amat terdesak supaya kita menyedari kelemahan kita dan kembali kepadaNya untuk mencari perlindungan dan meminta pertolongan. Oleh itu,musibah yang menimpa orang islam sebenarnya adalah untuk menyedarkan kita supaya kembali semula kepada Allah s.w.t.
Jadi,adakah kita sedari akan mesej-mesej yang disampaikan Allah?
Contohnya, kejadian tsunami.Adakah umat islam sedar bahawa musibah ini merupakan mesej dari Allah s.w.t. untuk menyedarkan bahawa kita sudah jauh dariNya.
Secara individual pula,kadangkala kita mendapat keputusan peperiksaan yang kurang memuaskan,kehilanga n wang,dirompak dan sebagainya,adakah kita sedar bahawa ia adalah mesej dari Allah untuk kembali kepadaNya?
Inilah satu tahap kehinaan yang kita harus cuba mencapainya ketika mana kita berdoa kepada Allah s.w.t agar membantu kita dan ummah.
Marilah kita sama-sama merayu kepadaNya seperti mana Nabi Yunus a.s berdoa kepada Allah ketika mana baginda terperangkap di dalam perut ikan Nun.
Sedangkan rasul yang berkedudukan tinggi dan dijamin syurga bagi mereka memohon pertolongan Allah dalam keadaan yang penuh tadharru',apatah lagi kita insan biasa yang sering tidak terlepas dari melakukan dosa..
Tadharru' adalah satu bentuk penyembahan yang di gunakan oleh seorang mukmin semasa dalam keadaan yang terdesak,krisis, dan kecemasan atau menehadapi kebuntuan dalam sesuatu perkara.
Sifat ini akan membuang sifat ego,angkuh,bangga diri yang menutup hati kita.ianya menunjukkan keikhlasan kita untuk memohon pertolongan terhadap Allah s.w.t dan menyedarkan kembali bahawa hanya padaNya tempat kita bergantung.
Ia juga menyedarkan kita bahawa kita hanyalah insan yang `kotor' di sisiNya dan memerlukan pertolongan dariNya.
Keadaan ini di gambarkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dengan menyebut, " Bayangkan seorang lelaki yang sedang hanyut di tengah2 lautan dan apa yang dia ada hanyalah sekeping kayu yang masih menjadi tempat pautannya.
Lelaki tersebut menjadi semakin lemah dan ombak lautan yang masin semakin menariknya kearah maut. Bayangkan lelaki tersebut dengan matanya yang penuh mengharap dengan penuh terdesak melihat ke langit menangis sekuat-kuatnya" Ya tuhan,ya tuhan!!"
Bayangkan betapa terdesaknya lelaki tersebut dan betapa ikhlasnya dia memohon bantuan dari Allah s.w.t.
Allah s.w.t. maha pemurah lagi maha penyayang.Kadangkal a apabila kita terleka,alpa dan hanyut dari jalan yang lurus,Allah s.w.t. meletakkan kita dalam situasi yang amat terdesak supaya kita menyedari kelemahan kita dan kembali kepadaNya untuk mencari perlindungan dan meminta pertolongan. Oleh itu,musibah yang menimpa orang islam sebenarnya adalah untuk menyedarkan kita supaya kembali semula kepada Allah s.w.t.
Jadi,adakah kita sedari akan mesej-mesej yang disampaikan Allah?
Contohnya, kejadian tsunami.Adakah umat islam sedar bahawa musibah ini merupakan mesej dari Allah s.w.t. untuk menyedarkan bahawa kita sudah jauh dariNya.
Secara individual pula,kadangkala kita mendapat keputusan peperiksaan yang kurang memuaskan,kehilanga n wang,dirompak dan sebagainya,adakah kita sedar bahawa ia adalah mesej dari Allah untuk kembali kepadaNya?
Inilah satu tahap kehinaan yang kita harus cuba mencapainya ketika mana kita berdoa kepada Allah s.w.t agar membantu kita dan ummah.
Marilah kita sama-sama merayu kepadaNya seperti mana Nabi Yunus a.s berdoa kepada Allah ketika mana baginda terperangkap di dalam perut ikan Nun.
Sedangkan rasul yang berkedudukan tinggi dan dijamin syurga bagi mereka memohon pertolongan Allah dalam keadaan yang penuh tadharru',apatah lagi kita insan biasa yang sering tidak terlepas dari melakukan dosa..
Kisah Ucapan Laillahaillallah
Bila hamba Allah mengucapkan Laillahaillallah maka keluarlah dari mulutnya yang menggucapkan perkataan yang mulia itu seekor burung hijau. Maka burung hijau akan naik ke Arasy Allah dan berkicauanlah burung-burung tadi dibawah Arasy.
Melihat kejadian itu malaikat yang menjaga Arasy Allah memerintahkan kepada burung-burung tadi supaya diam tetapi tidak dipatuhi oleh mereka. Oleh kerana arahan yang diberi tidak patuhi,malaikat yang menjaga Arasy mengadap Allah SWT menceritakan kejadian itu.
Maka Allah memerintahkan malaikat tersebut supaya memberitahu burung-burung supaya diam. Apabila perintah itu diberitahu kepada mereka.
Maka berkatalah burung-burung itu... "wahai malaikat yang menjaga Arasy Allah, kami boleh mendiamkan diri kami tetapi dengan satu permintaan".
Bertanya malaikat "Apakah permintaan itu?". Berkata burung-burung itu"
Jika Allah ampunkan dosa-dosa orang yang mengucapkan kalimah Lailahaillallah sehingga terciptanya aku,barulah aku akan tidak membuat bising disini". Berkata malaikat itu "baiklah aku akan sampaikan kepada Allah". Beredarlah malaikat dan menyembah Allah dan disampaikan permintaan tadi kepada Allah. Maka Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang menerima permintaan tersebut.
Malaikat pun pergi berjumpa dengan burung-burung itu dan mengatakan bahawa Allah telah menerima permintaan mereka. Maka dengan segera mereka tidak membuat bising dan mereka bergantungan diArasy Allah sambil berzikir dan memohon keampunan untuk orang yang mengucap Lailahaillallah tadi sehingga hari kiamat.
Oleh itu kita manusia sepatutnya tidak telepaskan peluang yang diberi oleh Allah itu. dengan hanya mengucap kalimat yang disukai oleh Allah maka balasannya berterusan hingga hari kiamat. Maha Suci Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Melihat kejadian itu malaikat yang menjaga Arasy Allah memerintahkan kepada burung-burung tadi supaya diam tetapi tidak dipatuhi oleh mereka. Oleh kerana arahan yang diberi tidak patuhi,malaikat yang menjaga Arasy mengadap Allah SWT menceritakan kejadian itu.
Maka Allah memerintahkan malaikat tersebut supaya memberitahu burung-burung supaya diam. Apabila perintah itu diberitahu kepada mereka.
Maka berkatalah burung-burung itu... "wahai malaikat yang menjaga Arasy Allah, kami boleh mendiamkan diri kami tetapi dengan satu permintaan".
Bertanya malaikat "Apakah permintaan itu?". Berkata burung-burung itu"
Jika Allah ampunkan dosa-dosa orang yang mengucapkan kalimah Lailahaillallah sehingga terciptanya aku,barulah aku akan tidak membuat bising disini". Berkata malaikat itu "baiklah aku akan sampaikan kepada Allah". Beredarlah malaikat dan menyembah Allah dan disampaikan permintaan tadi kepada Allah. Maka Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang menerima permintaan tersebut.
Malaikat pun pergi berjumpa dengan burung-burung itu dan mengatakan bahawa Allah telah menerima permintaan mereka. Maka dengan segera mereka tidak membuat bising dan mereka bergantungan diArasy Allah sambil berzikir dan memohon keampunan untuk orang yang mengucap Lailahaillallah tadi sehingga hari kiamat.
Oleh itu kita manusia sepatutnya tidak telepaskan peluang yang diberi oleh Allah itu. dengan hanya mengucap kalimat yang disukai oleh Allah maka balasannya berterusan hingga hari kiamat. Maha Suci Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Cara Memakai Cincin
Nasihat Nabi Muhammad Saw. kepada Saidina Ali kw. sesudah Saidina Ali berkahwin dengan Siti Fatimah iaitu anakanda kesayangan Nabi Muhammad Saw. Nabi Saw. berpesan kepada Saidina Ali iaitu, kalau memakai cincin pakailah di jari
1] jari manis
2] jari kelingking (anak jari)
dan jangan memakai pada jari
1] jari tengah
2] jari telunjuk
Nabi Muhammad saw. melarang kerana memakai cincin pada jari telunjuk dan jari tengah adalah meniru cara berhias kaum yang dilaknat oleh Allah iaitu kaum yang derhaka dizaman Nabi Lut a.s.
Perhatian : Cara memakai cincin adalah termasuk lelaki ataupun perempuan. Muslimin dan Muslimat, sila nasihatkan kawan-kawan dan juga saud ara-mara ataupun anak-anak tentang kaedah yang betul untuk berhias di dalam syariat Islam, kalau tidak sia-sia saja kita mendapat laknat dari Allah Swt. Nabi saw.. memakai cincin dan kalau kita memakai cincin dengan niat mengikut sunnah Nabi saw. dapatlah kita pahala.
Wallahu a'lam
1] jari manis
2] jari kelingking (anak jari)
dan jangan memakai pada jari
1] jari tengah
2] jari telunjuk
Nabi Muhammad saw. melarang kerana memakai cincin pada jari telunjuk dan jari tengah adalah meniru cara berhias kaum yang dilaknat oleh Allah iaitu kaum yang derhaka dizaman Nabi Lut a.s.
Perhatian : Cara memakai cincin adalah termasuk lelaki ataupun perempuan. Muslimin dan Muslimat, sila nasihatkan kawan-kawan dan juga saud ara-mara ataupun anak-anak tentang kaedah yang betul untuk berhias di dalam syariat Islam, kalau tidak sia-sia saja kita mendapat laknat dari Allah Swt. Nabi saw.. memakai cincin dan kalau kita memakai cincin dengan niat mengikut sunnah Nabi saw. dapatlah kita pahala.
Wallahu a'lam
Terperangkap di pusara ibu
" Hairan saya melihat beberapa orang kampung berkumpul di kedai pada tengah hari itu. 1 September 1994. Serius mereka berbual hingga dahi berkerut-kerut. Lepas seorang bercerita yang lain menggeleng-gelengkan kepala.
Pasti ada sesuatu yang 'besar' sedang mereka bincangkan, kata saya di dalam hati. Setelah enjin motosikal dimatikan, saya berjalan ke arah mereka.
" Bincang apa tu? Serius aku tengok," saya menyapa.
" Haaa...Din, kau tak pergi tengok budak perempuan tak boleh keluar dari
kubur emak dia? " kata Jaimi, kawan saya.
" Budak perempuan? Tak boleh keluar dari kubur? Aku tak faham bah," jawab saya. Memang saya tak faham kerana lain benar apa yang mereka katakan itu.
"Macam ni," kata Jaimi, lalu menyambung, " di kubur kat kampung Batu 10 tu, ada seorang budak perempuan tolong kebumikan emak dia, tapi lepas itu dia pula yang tak boleh keluar dari kubur tu. Sekarang ni orang tengah nak keluarkan dia... tapi belum boleh lagi ".
" Kenapa jadi macam tu? " saya bertanya supaya Jaimi bercerita lebih mendalam. Patutlah serius sangat mereka berbual..
Jaimi memulakan ceritanya. Kata beliau, memandangkan semalam adalah hari kelepasan semperna Hari Kebangsaan, budak perempaun berumur belasan tahun itu meminta wang daripada ibunya untuk keluar bersama kawan-kawan ke Bandar Sandakan. Bagaimana pun, ibunya yang sudah berusia dan sakit pula enggan memberikannya wang.
" Bukannya banyak, RM 20 aja mak! " gadis itu membentak.
" Mana emak ada duit. Mintak dengan bapa kamu," jawab ibunya perlahan.
Sambil itu dia mengurut kakinya yang sengal. Sudah bertahun-tahun dia mengidap darah
tinggi,lemah jantung dan kencing manis.
" Maaak... kawan-kawan semuanya keluar. Saya pun nak jalan jugak," kata gadis itu.
" Yalah, mak tau... tapi mak tak ada duit," balas ibunya.
" RM 20 aja! " si gadis berkata.
" Tak ada," jawab ibunya.
" Emak memang kedekut! " si gadis mula mengeluarkan kata-kata keras.
" Bukan macam tu ta..." belum pun habis ibunya menerangkan, gadis tersebut menyanggah, katanya,
" Ahhh...sudahlah emak! Saya tak mau dengar! "
" Kalau emak ada du... " ibunya menyambung , tapi belum pun habis kata-katanya, si gadis memintas lagi, katanya ;
" kalau abang, boleh, tapi kalau saya minta duit, mesti tak ada! "
Serentak dengan itu, gadis tersebut menyepak ibunya dan menolaknya ke pintu. Si ibu jatuh ke lantai.
" Saida.. Sai.. dddaaa.." katanya perlahan sambil mengurut dada. Wajahnya berkerut menahan sakit.
Gadis tersebut tidak menghiraukan ibunya yang terkulai di lantai. Dia sebaliknya masuk ke bilik dan berkurung tanda protes. Di dalam bilik, dibalingnya bantal dan selimut ke dinding. Dan sementara di luar, suasana sunyi sepi.
Hampir sejam kemudian, barulah gadis tersebut keluar. Alangkah terkejutnya dia kerana ibunya tidak bergerak lagi. Bila dipegang ke pergelangan tangan dan bawah leher, tidak ada lagi nadi berdenyut.
Si gadis panik. Dia meraung dan menangis memanggil ibunya,tapi tidak bersahut. Meraung si gadis melihat mayat ibunya itu. Melalui jiran-jiran, kematian wanita itu diberitahu kepada bapa gadis yang bekerja di luar.
Jaimi menyambung ceritanya; " Mak cik tu dibawa ke kubur pukul 12.30 tadi. Pada mulanya tak ada apa-apa yang pelik, tapi bila mayatnya nak dimasukkan ke dalam kubur, ia jadi berat sampai dekat 10 orang pun tak terdaya nak masukkannya ke dalam kubur. Suaminya sendiri pun tak dapat bantu."
"Tapi bila budak perempuan tu tolong, mayat ibunya serta-merta jadi ringan. Dia seorang pun boleh angkat dan letak mayat ibunya di tepi kubur."
Kemudian gadis berkenaan masuk ke dalam kubur untuk menyambut jenazah ibunya. Sekali lagi beramai-ramai penduduk kampung mengangkat mayat tersebut dan menyerahkannya kepada gadis berkenaan.
Tanpa bersusah payah, gadis itu memasukkan mayat ibunya ke dalam lahad. Namun apabila dia hendak memanjat keluar dari kubur tersebut, tiba-tiba kakinya tidak boleh di angkat. Ia seperti dipaku ke tanah. Si gadis mula cemas.
" Kenapa ni ayah? " kata si gadis. Wajahnya serta-merta pucat lesi. "Apa pasal," Si ayah bertanya.
" Kaki Saida ni.. tak boleh angkat! " balas si gadis yang kian cemas.
Orang ramai yang berada di sekeliling kubur mula riuh. Seorang demi seorang menjenguk untuk melihat apa yang sedang berlaku.
" Ayah, tarik tangan saya ni. Kaki saya terlekat... tak boleh nak naik," gadis tersebut menghulurkan tangan ke arah bapanya.
Si bapa menarik tangan anaknya itu, tetapi gagal. Kaki gadis tersebut melekat kuat ke tanah. Beberapa orang lagi dipanggil untuk menariknya keluar, juga tidak berhasil.
" Ayah...kenapa ni??!! Tolonglah Saida, ayah.." si gadis menangis memandang ayah dan adik-beradiknya yang bertinggung di pinggir kubur.
Semakin ramai orang berpusu ke pinggir kubur. Mereka cuba menariknya beramai-ramai namun sudah ketentuan Allah, kaki si gadis tetap terpasak di tanah. Tangisannya bertambah kuat.
" Tolong saya ayah, tolong saya...kenapa jadi macam ni ayah? " kata si gadis
sambil meratap.
" Itulah, kamu yang buat emak sampai dia meninggal. Sekarang, ayah pun tak tau nak buat macam mana," jawab si ayah selepas gagal mengeluarkan anaknya itu.
Dia menarik lagi tangan gadis yang berada di dalam kubur tapi tidak berganjak walau seinci pun. Kakinya tetap terpahat ke tanah.
" Emak...ampunkan Saida emak, ampunkan Saida..." gadis itu menangis. Sambil itu dipeluk dan dicium jenazah kiblat. Air matanya sudah tidak boleh diempang lagi.
" Maafkan Saida emak, maafkan , Saida bersalah, Saida menyesal... Saida menyesal.. Ampunkan Saida emak," dia menangis lagi sambil memeluk jenazah ibunya yang telah kaku.
Kemudian gadis itu menghulurkan lagi tangannya supaya boleh di tarik keluar. Beramai-ramai orang cuba mengeluarkannya namun kecewa. Apabila terlalu lama mencuba tetapi gagal, imam membuat keputusan bahawa kubur tersebut perlu dikambus.
" Kita kambus sedikit saja, sampai mayat ibunya tak dapat dilihat lagi. Kita tak boleh biarkan mayatnya macam tu aja... kalau hujan macam mana?" kata imam kepada bapa gadis berkenaan.
" Habis anak saya ?" tanya si bapa.
" Kita akan terus cuba tarik dia keluar. Kita buat dua-dua sekali, mayat isteri awak disempurnakan, anak awak kita selamatkan," balas imam.
Lelaki berkenaan bersetuju. Lalu seperti yang diputuskan,upacara pengebumian terpaksa diteruskan sehingga selesai, termasuk talkinnya. Bagaimana pun kubur dikambus separas lutut gadis saja, cukup untuk menimbus keseluruhan jenazah ibunya.
Yang menyedihkan, ketika itu si gadis masih di dalam kubur. Bila talkin dibaca, dia menangis dan meraung kesedihan. Sambil itu dia meminta ampun kepada ibunya dengan linangan air mata. Selesai upacara itu, orang ramai berusaha lagi menariknya keluar. Tapi tidak berhasil.
"Bila dah lama sangat, aku balik kejap untuk makan. Dah lapar sangat. Lepas itulah aku singgah ke kedai ni. Lepas ni aku nak ke kubur lagi. Nak tengok apa yang terjadi," kata Jaimi.
"Aku pun nak pergilah," kata saya. Lalu kami semua menunggang motosikal masing-masing menuju ke kubur.
Kami lihat orang ramai sudah berpusu-pusu di sana. Beberapa buah kereta polis juga kelihatan di situ. Saya terus berjalan pantas menuju kubur yang dimaksudkan dan berusaha menyusup ke celah-celah orang ramai yang sedang bersesak-sesak.
Setelah penat berusaha, akhirnya saya berjaya sampai kebarisan paling hadapan. Malangnya saya tidak dapat melihat gadis tersebut kerana di depan kami telah dibuat kepungan tali. Kubur itu pula beberapa puluh meter daripada kami dan terlindung oleh kubur serta pokok-pokok rimbun. Di dalam kepungan itu, anggota-anggota polis berkawal dengan senjata masing-masing.
Nasib saya memang baik hari itu. Dua tiga orang daripada polis berkenaan adalah kenalan saya.
"Pssstt...Raie. ..Raie..Psstt, " saya memanggil, Raie yang perasan saya memanggilnya mengangkat tangan.
" Boleh aku tengok budak tu? " saya bertanya sebaik saja dia datang ke arah saya.
" Mana boleh. Keluarga dia aja yang boleh," jawabnya perlahan-lahan seperti berbisik. Sambil itu dia menjeling ke kiri dan kanan, khuatir ada orang yang tahu.
" Sekejap aja. Bolehlah..." saya memujuk.
Alhamdulillah, setelah puas dipujuk dia mengalah. Tanpa berlengah, saya menyusup perlahan-lahan dan berjalan beriringan dengan Raie, seolah-olah tidak melakukan apa-apa kesalahan. Namun demikian dada saya berdebar kencang. Pertama, risau & takut dihalau keluar. Kedua, tidak sabar hendak melihat apa yang sedang berlaku kepada gadis berkenaan.
Selepas meredah kubur-kubur yang bertebaran, akhirnya saya sampai ke pusara yang dimaksudkan. Di pinggir kubur itu berdiri dua tiga orang polis memerhatikan kedatangan saya.
Raie mendekati mereka dan berbisik-bisik. Mungkin dia merayu supaya saya tidak dihalau. Alhamdulillah, saya lihat seorang polis yang berpangkat mengangguk-angguk. Raie terus memanggil saya lalu memuncungkan bibirnya ke arah sebuah kubur.
Bila dijenguk kedalam, dada saya serta-merta terasa sebak. Saya lihat gadis berkenaan sedang duduk di atas tanah kubur sambil menangis teresak-esak. Sebentar kemudian dia memegang tanah berhampiran lahad dan merintih;
"Emak... ampunkanlah Saida, Saida sedar, saida derhaka pada emak, Saida menyesal,
Saida menyesal.."
Selepas mengesat air jernih yang terus berjejeran daripada mata yang bengkak, gadis tersebut menangis lagi memohon keampunan daripada arwah ibunya. " Emak...lepaskanlah kaki saya ni. Ampunkan saya, lepaskan saya," Ditarik-tariknya kaki yang melekat di tanah namun tidak berhasil juga.
Saya lihat bapa dan adik-beradiknya menangis, di pinggir kubur. Nyata mereka sendiri tidak tahu apa lagi yang hendak dibuat untuk menyelamatkan gadis berkenaan.
" Sudahlah tu Saida...makanlah sikit nak ," rayu bapanya sambil menghulurkan sepinggan nasi juga segelas air. Si gadis tersebut langsung tidak mengendahkan. Malah memandang ke atas pun tidak. Dia sebaliknya terus meratap meminta ampun daripada arwah ibunya.
Hampir menitis air mata saya melihat Saida. Tidak saya sangka, cerita datuk dan nenek tentang anak derhaka kini berlaku di depan mata.
Begitu besar kekuasaan Allah. Memang betullah kata para alim ulama, dosa menderhakai ibu bapa akan di balas 'tunai'.
Malangnya saya tidak dapat lama di sana. 10 - 15 minit saja kerana Raie memberitahu, pegawainya mahu saya berbuat demikian. Mahu tidak mahu, terpaksalah saya meninggalkan kubur tersebut. Sambil berjalan kedengaran lagi Saida menangis dan meratap " Ampunkan saya emak, ampunkan saya, Ya Allah, lepaskanlah kakiku ini, aku bertaubat, aku insaf..."
Lantas saya menoleh buat kali terakhir. Saya lihat bapa Saida dan adik beradiknya sedang menarik tangan gadis itu untuk dibawa keluar, tapi seperti tadi, tidak berhasil. Saya lihat seorang polis mengesatkan air matanya.
Semakin lama semakin ramai orang berhimpun mengelilingi perkuburan itu. Beberapa kereta polis datang dan anggotanya berkawal di dalam kepungan lengkap dengan senjata masing-masing. Wartawan dan jurugambar berkerumun datang untuk membuat liputan tetapi tidak dibenarkan. Mereka merayu bermacam-macam cara, namun demi kebaikan keluarga gadis, permintaan itu terpaksa ditolak.
Matahari kian terbenam, akhirnya tenggelam dan malam merangkak tiba. Saida masih begitu. Kaki terlekat di dalam kubur ibunya sementara dia tidak henti-henti meratap meminta keampunan. Saya pulang ke rumah dan malam itu tidak dapat melelapkan mata. Suara tangisannya terngiang-ngiang di telinga saya.
Saya diberitahu, sejak siang, tidak ada secebis makanan mahupun minuman masuk ke tekaknya. Seleranya sudah mati. Bapa dan adik beradiknya masih tetap di sisi kubur membaca al-Quran, Yassin dan berdoa. Namun telah disebutkan Allah, menderhaka terhadap ibu bapa adalah dosa yang sangat besar. Saida tetap tidak dapat dikeluarkan.
Embun mula menitis. Saida kesejukan pula. Dengan selimut yang diberi oleh bapanya dia berkelubung. Namun dia tidak dapat tidur. Saida menangis dan merayu kepada Allah supaya mengampunkan dosanya.
Begitulah yang berlaku keesokannya. Orang ramai pula tidak susut mengerumuni perkuburan itu. Walaupun tidak dapat melihat gadis berkenaan tapi mereka puas jika dapat bersesak-sesak dan mendengar orang-orang bercerita.
Setelah empat atau lima hari terperangkap, akhirnya Saida meninggal dunia. Mungkin kerana terlalu lemah dan tidak tahan di bakar kepanasan matahari pada waktu siang dan kesejukan di malam hari. Mungkin juga kerana tidak makan dan minum. Atau mungkin juga kerana terlalu sedih sangat dengan apa yang dilakukannya.
Allah Maha Agung...sebaik Saida menghembuskan nafas terakhir, barulah tubuhnya dapat di keluarkan. Mayat gadis itu kemudian disempurnakan seperti mayat-mayat lain.
Kuburnya kini di penuhi lalang. Di bawah redup daun kelapa yang melambai-lambai, tiada siapa tahu di situ bersemadi seorang gadis yang derhaka.
Pasti ada sesuatu yang 'besar' sedang mereka bincangkan, kata saya di dalam hati. Setelah enjin motosikal dimatikan, saya berjalan ke arah mereka.
" Bincang apa tu? Serius aku tengok," saya menyapa.
" Haaa...Din, kau tak pergi tengok budak perempuan tak boleh keluar dari
kubur emak dia? " kata Jaimi, kawan saya.
" Budak perempuan? Tak boleh keluar dari kubur? Aku tak faham bah," jawab saya. Memang saya tak faham kerana lain benar apa yang mereka katakan itu.
"Macam ni," kata Jaimi, lalu menyambung, " di kubur kat kampung Batu 10 tu, ada seorang budak perempuan tolong kebumikan emak dia, tapi lepas itu dia pula yang tak boleh keluar dari kubur tu. Sekarang ni orang tengah nak keluarkan dia... tapi belum boleh lagi ".
" Kenapa jadi macam tu? " saya bertanya supaya Jaimi bercerita lebih mendalam. Patutlah serius sangat mereka berbual..
Jaimi memulakan ceritanya. Kata beliau, memandangkan semalam adalah hari kelepasan semperna Hari Kebangsaan, budak perempaun berumur belasan tahun itu meminta wang daripada ibunya untuk keluar bersama kawan-kawan ke Bandar Sandakan. Bagaimana pun, ibunya yang sudah berusia dan sakit pula enggan memberikannya wang.
" Bukannya banyak, RM 20 aja mak! " gadis itu membentak.
" Mana emak ada duit. Mintak dengan bapa kamu," jawab ibunya perlahan.
Sambil itu dia mengurut kakinya yang sengal. Sudah bertahun-tahun dia mengidap darah
tinggi,lemah jantung dan kencing manis.
" Maaak... kawan-kawan semuanya keluar. Saya pun nak jalan jugak," kata gadis itu.
" Yalah, mak tau... tapi mak tak ada duit," balas ibunya.
" RM 20 aja! " si gadis berkata.
" Tak ada," jawab ibunya.
" Emak memang kedekut! " si gadis mula mengeluarkan kata-kata keras.
" Bukan macam tu ta..." belum pun habis ibunya menerangkan, gadis tersebut menyanggah, katanya,
" Ahhh...sudahlah emak! Saya tak mau dengar! "
" Kalau emak ada du... " ibunya menyambung , tapi belum pun habis kata-katanya, si gadis memintas lagi, katanya ;
" kalau abang, boleh, tapi kalau saya minta duit, mesti tak ada! "
Serentak dengan itu, gadis tersebut menyepak ibunya dan menolaknya ke pintu. Si ibu jatuh ke lantai.
" Saida.. Sai.. dddaaa.." katanya perlahan sambil mengurut dada. Wajahnya berkerut menahan sakit.
Gadis tersebut tidak menghiraukan ibunya yang terkulai di lantai. Dia sebaliknya masuk ke bilik dan berkurung tanda protes. Di dalam bilik, dibalingnya bantal dan selimut ke dinding. Dan sementara di luar, suasana sunyi sepi.
Hampir sejam kemudian, barulah gadis tersebut keluar. Alangkah terkejutnya dia kerana ibunya tidak bergerak lagi. Bila dipegang ke pergelangan tangan dan bawah leher, tidak ada lagi nadi berdenyut.
Si gadis panik. Dia meraung dan menangis memanggil ibunya,tapi tidak bersahut. Meraung si gadis melihat mayat ibunya itu. Melalui jiran-jiran, kematian wanita itu diberitahu kepada bapa gadis yang bekerja di luar.
Jaimi menyambung ceritanya; " Mak cik tu dibawa ke kubur pukul 12.30 tadi. Pada mulanya tak ada apa-apa yang pelik, tapi bila mayatnya nak dimasukkan ke dalam kubur, ia jadi berat sampai dekat 10 orang pun tak terdaya nak masukkannya ke dalam kubur. Suaminya sendiri pun tak dapat bantu."
"Tapi bila budak perempuan tu tolong, mayat ibunya serta-merta jadi ringan. Dia seorang pun boleh angkat dan letak mayat ibunya di tepi kubur."
Kemudian gadis berkenaan masuk ke dalam kubur untuk menyambut jenazah ibunya. Sekali lagi beramai-ramai penduduk kampung mengangkat mayat tersebut dan menyerahkannya kepada gadis berkenaan.
Tanpa bersusah payah, gadis itu memasukkan mayat ibunya ke dalam lahad. Namun apabila dia hendak memanjat keluar dari kubur tersebut, tiba-tiba kakinya tidak boleh di angkat. Ia seperti dipaku ke tanah. Si gadis mula cemas.
" Kenapa ni ayah? " kata si gadis. Wajahnya serta-merta pucat lesi. "Apa pasal," Si ayah bertanya.
" Kaki Saida ni.. tak boleh angkat! " balas si gadis yang kian cemas.
Orang ramai yang berada di sekeliling kubur mula riuh. Seorang demi seorang menjenguk untuk melihat apa yang sedang berlaku.
" Ayah, tarik tangan saya ni. Kaki saya terlekat... tak boleh nak naik," gadis tersebut menghulurkan tangan ke arah bapanya.
Si bapa menarik tangan anaknya itu, tetapi gagal. Kaki gadis tersebut melekat kuat ke tanah. Beberapa orang lagi dipanggil untuk menariknya keluar, juga tidak berhasil.
" Ayah...kenapa ni??!! Tolonglah Saida, ayah.." si gadis menangis memandang ayah dan adik-beradiknya yang bertinggung di pinggir kubur.
Semakin ramai orang berpusu ke pinggir kubur. Mereka cuba menariknya beramai-ramai namun sudah ketentuan Allah, kaki si gadis tetap terpasak di tanah. Tangisannya bertambah kuat.
" Tolong saya ayah, tolong saya...kenapa jadi macam ni ayah? " kata si gadis
sambil meratap.
" Itulah, kamu yang buat emak sampai dia meninggal. Sekarang, ayah pun tak tau nak buat macam mana," jawab si ayah selepas gagal mengeluarkan anaknya itu.
Dia menarik lagi tangan gadis yang berada di dalam kubur tapi tidak berganjak walau seinci pun. Kakinya tetap terpahat ke tanah.
" Emak...ampunkan Saida emak, ampunkan Saida..." gadis itu menangis. Sambil itu dipeluk dan dicium jenazah kiblat. Air matanya sudah tidak boleh diempang lagi.
" Maafkan Saida emak, maafkan , Saida bersalah, Saida menyesal... Saida menyesal.. Ampunkan Saida emak," dia menangis lagi sambil memeluk jenazah ibunya yang telah kaku.
Kemudian gadis itu menghulurkan lagi tangannya supaya boleh di tarik keluar. Beramai-ramai orang cuba mengeluarkannya namun kecewa. Apabila terlalu lama mencuba tetapi gagal, imam membuat keputusan bahawa kubur tersebut perlu dikambus.
" Kita kambus sedikit saja, sampai mayat ibunya tak dapat dilihat lagi. Kita tak boleh biarkan mayatnya macam tu aja... kalau hujan macam mana?" kata imam kepada bapa gadis berkenaan.
" Habis anak saya ?" tanya si bapa.
" Kita akan terus cuba tarik dia keluar. Kita buat dua-dua sekali, mayat isteri awak disempurnakan, anak awak kita selamatkan," balas imam.
Lelaki berkenaan bersetuju. Lalu seperti yang diputuskan,upacara pengebumian terpaksa diteruskan sehingga selesai, termasuk talkinnya. Bagaimana pun kubur dikambus separas lutut gadis saja, cukup untuk menimbus keseluruhan jenazah ibunya.
Yang menyedihkan, ketika itu si gadis masih di dalam kubur. Bila talkin dibaca, dia menangis dan meraung kesedihan. Sambil itu dia meminta ampun kepada ibunya dengan linangan air mata. Selesai upacara itu, orang ramai berusaha lagi menariknya keluar. Tapi tidak berhasil.
"Bila dah lama sangat, aku balik kejap untuk makan. Dah lapar sangat. Lepas itulah aku singgah ke kedai ni. Lepas ni aku nak ke kubur lagi. Nak tengok apa yang terjadi," kata Jaimi.
"Aku pun nak pergilah," kata saya. Lalu kami semua menunggang motosikal masing-masing menuju ke kubur.
Kami lihat orang ramai sudah berpusu-pusu di sana. Beberapa buah kereta polis juga kelihatan di situ. Saya terus berjalan pantas menuju kubur yang dimaksudkan dan berusaha menyusup ke celah-celah orang ramai yang sedang bersesak-sesak.
Setelah penat berusaha, akhirnya saya berjaya sampai kebarisan paling hadapan. Malangnya saya tidak dapat melihat gadis tersebut kerana di depan kami telah dibuat kepungan tali. Kubur itu pula beberapa puluh meter daripada kami dan terlindung oleh kubur serta pokok-pokok rimbun. Di dalam kepungan itu, anggota-anggota polis berkawal dengan senjata masing-masing.
Nasib saya memang baik hari itu. Dua tiga orang daripada polis berkenaan adalah kenalan saya.
"Pssstt...Raie. ..Raie..Psstt, " saya memanggil, Raie yang perasan saya memanggilnya mengangkat tangan.
" Boleh aku tengok budak tu? " saya bertanya sebaik saja dia datang ke arah saya.
" Mana boleh. Keluarga dia aja yang boleh," jawabnya perlahan-lahan seperti berbisik. Sambil itu dia menjeling ke kiri dan kanan, khuatir ada orang yang tahu.
" Sekejap aja. Bolehlah..." saya memujuk.
Alhamdulillah, setelah puas dipujuk dia mengalah. Tanpa berlengah, saya menyusup perlahan-lahan dan berjalan beriringan dengan Raie, seolah-olah tidak melakukan apa-apa kesalahan. Namun demikian dada saya berdebar kencang. Pertama, risau & takut dihalau keluar. Kedua, tidak sabar hendak melihat apa yang sedang berlaku kepada gadis berkenaan.
Selepas meredah kubur-kubur yang bertebaran, akhirnya saya sampai ke pusara yang dimaksudkan. Di pinggir kubur itu berdiri dua tiga orang polis memerhatikan kedatangan saya.
Raie mendekati mereka dan berbisik-bisik. Mungkin dia merayu supaya saya tidak dihalau. Alhamdulillah, saya lihat seorang polis yang berpangkat mengangguk-angguk. Raie terus memanggil saya lalu memuncungkan bibirnya ke arah sebuah kubur.
Bila dijenguk kedalam, dada saya serta-merta terasa sebak. Saya lihat gadis berkenaan sedang duduk di atas tanah kubur sambil menangis teresak-esak. Sebentar kemudian dia memegang tanah berhampiran lahad dan merintih;
"Emak... ampunkanlah Saida, Saida sedar, saida derhaka pada emak, Saida menyesal,
Saida menyesal.."
Selepas mengesat air jernih yang terus berjejeran daripada mata yang bengkak, gadis tersebut menangis lagi memohon keampunan daripada arwah ibunya. " Emak...lepaskanlah kaki saya ni. Ampunkan saya, lepaskan saya," Ditarik-tariknya kaki yang melekat di tanah namun tidak berhasil juga.
Saya lihat bapa dan adik-beradiknya menangis, di pinggir kubur. Nyata mereka sendiri tidak tahu apa lagi yang hendak dibuat untuk menyelamatkan gadis berkenaan.
" Sudahlah tu Saida...makanlah sikit nak ," rayu bapanya sambil menghulurkan sepinggan nasi juga segelas air. Si gadis tersebut langsung tidak mengendahkan. Malah memandang ke atas pun tidak. Dia sebaliknya terus meratap meminta ampun daripada arwah ibunya.
Hampir menitis air mata saya melihat Saida. Tidak saya sangka, cerita datuk dan nenek tentang anak derhaka kini berlaku di depan mata.
Begitu besar kekuasaan Allah. Memang betullah kata para alim ulama, dosa menderhakai ibu bapa akan di balas 'tunai'.
Malangnya saya tidak dapat lama di sana. 10 - 15 minit saja kerana Raie memberitahu, pegawainya mahu saya berbuat demikian. Mahu tidak mahu, terpaksalah saya meninggalkan kubur tersebut. Sambil berjalan kedengaran lagi Saida menangis dan meratap " Ampunkan saya emak, ampunkan saya, Ya Allah, lepaskanlah kakiku ini, aku bertaubat, aku insaf..."
Lantas saya menoleh buat kali terakhir. Saya lihat bapa Saida dan adik beradiknya sedang menarik tangan gadis itu untuk dibawa keluar, tapi seperti tadi, tidak berhasil. Saya lihat seorang polis mengesatkan air matanya.
Semakin lama semakin ramai orang berhimpun mengelilingi perkuburan itu. Beberapa kereta polis datang dan anggotanya berkawal di dalam kepungan lengkap dengan senjata masing-masing. Wartawan dan jurugambar berkerumun datang untuk membuat liputan tetapi tidak dibenarkan. Mereka merayu bermacam-macam cara, namun demi kebaikan keluarga gadis, permintaan itu terpaksa ditolak.
Matahari kian terbenam, akhirnya tenggelam dan malam merangkak tiba. Saida masih begitu. Kaki terlekat di dalam kubur ibunya sementara dia tidak henti-henti meratap meminta keampunan. Saya pulang ke rumah dan malam itu tidak dapat melelapkan mata. Suara tangisannya terngiang-ngiang di telinga saya.
Saya diberitahu, sejak siang, tidak ada secebis makanan mahupun minuman masuk ke tekaknya. Seleranya sudah mati. Bapa dan adik beradiknya masih tetap di sisi kubur membaca al-Quran, Yassin dan berdoa. Namun telah disebutkan Allah, menderhaka terhadap ibu bapa adalah dosa yang sangat besar. Saida tetap tidak dapat dikeluarkan.
Embun mula menitis. Saida kesejukan pula. Dengan selimut yang diberi oleh bapanya dia berkelubung. Namun dia tidak dapat tidur. Saida menangis dan merayu kepada Allah supaya mengampunkan dosanya.
Begitulah yang berlaku keesokannya. Orang ramai pula tidak susut mengerumuni perkuburan itu. Walaupun tidak dapat melihat gadis berkenaan tapi mereka puas jika dapat bersesak-sesak dan mendengar orang-orang bercerita.
Setelah empat atau lima hari terperangkap, akhirnya Saida meninggal dunia. Mungkin kerana terlalu lemah dan tidak tahan di bakar kepanasan matahari pada waktu siang dan kesejukan di malam hari. Mungkin juga kerana tidak makan dan minum. Atau mungkin juga kerana terlalu sedih sangat dengan apa yang dilakukannya.
Allah Maha Agung...sebaik Saida menghembuskan nafas terakhir, barulah tubuhnya dapat di keluarkan. Mayat gadis itu kemudian disempurnakan seperti mayat-mayat lain.
Kuburnya kini di penuhi lalang. Di bawah redup daun kelapa yang melambai-lambai, tiada siapa tahu di situ bersemadi seorang gadis yang derhaka.
Rabu, Ogos 27, 2008
Korban dan Aqiqah
Ibadah Korban
Ibadat korban merupakan suatu ibadat yang sangat digalakkan di dalam Islam, khususnya bagi mereka yang berkemampuan dari segi kewangan. Ibadat korban telah disyariatkan oleh Allah pada tahun kedua Hijrah.
Firman Allah S.W.T:
“Sesungguhnya kami (Allah) telah memberi engkau (wahai Muhamad) kebaikan yang banyak. Maka Sembahyanglah* engkau kerana Tuhanmu dan sembelihlah (korbanmu)”. (Surah Al-Kautsar Ayat 1-2).
Sembahyang yang dimaksudkan di dalam ayat di atas ialah sembahyang sunat hari raya korban ( Aidil Adha).
Hukum
Hukumnya Sunat Muakkad(dituntut). Adapun bagi mereka yang bernazar, hukumnya wajib. Bagi mereka yang berkemampuan Makruh meninggalkan amalan ini. Wajib hukumnya kepada Rasulullah berdasarkan hadis:
“Diwajibkan ke atas ku melaksanakan ibadat korban namun ia merupakan satu amalan sunat bagi kamu”. (Riwayat Imam Tirmizi)
Maksud Korban
Menyembelih binatang ternakan yang terdiri daripada unta, lembu, kambing dan kibas yang sampai umur* pada hari raya korban (Aidil Adha) iaitu pada 10 Zulhijjah selepas sembahyang sehingga gelincir matahari hari terakhir tasyrik iaitu 13 Zulhijjah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.
Umur binatang yang boleh dikorbankan:
Unta 5 thn ke atas – 7 bahagian.
Lembu, kerbau 2 thn ke atas – 7 bahagian.
Kambing 2 thn ke atas- 1 bahagian.
Biri-biri, kibas 1 ½ thn- 1 bahagian.
Ditegah berkorban dengan binatang yang cacat, berpenyakit, patah anggotanya dan
terlalu kurus. Sunat-sunat ketika menyembelih binatang korban:-
1. Membaca Basmalah
2. Selawat ke atas nabi
3. Menghadap kiblat
4. Bertakbir
5. Berdoa supaya diterima ibadah korban itu.
Nota:
a) Daging korban yang diniat nazar oleh orang yang bernazar, hendaklah di sedekahkan semuanya.
b) 1/3 daripada daging korban sunat boleh dimakan oleh mereka yang berkorban dan selebihnya disedekahkan kepada fakir miskin, boleh juga disedekahkan kepada orang kaya mengikut mazhab Syafie. Mereka yang melakukan ibadat korban disunatkan menyaksikan penyembelihan binatang korban tersebut seperti mana sabda Rasulullah maksudnya:
“Wahai Fatimah! Berdirilah di sisi korban mu dan saksikanlah, sesungguhnya titisan
darahnya yang pertama itu pengampun bagi mu atas dosa-dosa yang telah lalu”.
(Riwayat Bazzar dan Ibnu Hibban).
# Menyaksikan sendiri perlaksanaan korban tidak termasuk dalam syarat-syarat ibadat korban.
# Imam Khatib Syarbini di dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj menyatakan, disunatkan
bagi mereka yang melaksanakan korban untuk menyembelih sendiri binatang korban
tersebut, sekiranya tidak mampu disunatkan bagi mereka untuk menyaksikan penyembelihan itu.
Aqiqah
Maksudnya ialah menyembelih kambing atau binatang ternakan seperti biri-biri,
kibas untuk anak yang baru lahir khususnya pada hari yang ketujuh kelahirannya atau
selewat-lewatnya sebelum baligh.
Hukumnya sunat muakkad.
Antara dalilnya ialah Hadis Rasulullah s.a.w.:
Dari Samirah, katanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Setiap anak itu digadaikan
dengan aqiqahnya. Disembelih untuknya pada hari ketujuhnya, diberi nama dan dicukur kepalanya. (HR Ashabus Sunan)
Syarat-syarat Aqiqah
a) Dari sudut umur binatang Aqiqah & korban sama sahaja.
b) Sembelihan aqiqah dipotong mengikut sendinya dengan tidak memecahkan tulang sesuai dengan tujuan aqiqah itu sebagai “Fida’” (mempertalikan ikatan diri anak dengan Allah swt).
c) Sunat dimasak dan diagih atau dijamu fakir dan miskin, ahli keluarga, jiran tetangga dan saudara mara. Berbeza dengan daging korban, sunat diagihkan daging yang
belum dimasak.
d) Anak lelaki disunatkan aqiqah dengan dua ekor kambing dan seekor untuk anak perempuan kerana mengikut sunnah Rasulullah.
‘Aisyah Radhiallahu ‘anha katanya: Maksudnya: "Afdhal bagi anak lelaki dua ekor kambing yang sama keadaannya dan bagi anak perempuan seekor kambing. Dipotong anggota-anggota (binatang) dan jangan dipecah-pecah tulangnya." (Hadis riwayat al-Hakim)
Bila tempoh aqiqah?
Disunatkan melakukan aqiqah pada hari ketujuh kelahiran anak, sebagaimana yang
terkandung di dalam hadis riwayat al-Baihaqi dari Aisyah. Berikut ini adalah beberapa pendapat ulamak mengenainya:
Kata Imam al-Rafi’i dan selainnya, aqiqah tidak luput (kesunnahannya) sebab habis
tempoh tujuh hari.
Al-Mawardi pula berkata, bahawa aqiqah selepas hari ketujuh dianggap sebagai qadhak.
Al-Syairazi berkata di dalam al-Muhazzab, jika melakukan aqiqah selepas hari ketujuh
atau sebelumnya, iaitu selepas kelahiran anak, maka itu sudah memadai (dibolehkan). Dan tidak boleh melakukan aqiqah sebelum kelahiran anak.
Imam al-Nawawi berkata, tidak luput kesunahan aqiqah dengan melewatkannya melebihi tujuh hari, tetapi disunatkan tidak melewatkannya sehingga anak itu mencecah usia baligh.
Ibadat korban merupakan suatu ibadat yang sangat digalakkan di dalam Islam, khususnya bagi mereka yang berkemampuan dari segi kewangan. Ibadat korban telah disyariatkan oleh Allah pada tahun kedua Hijrah.
Firman Allah S.W.T:
“Sesungguhnya kami (Allah) telah memberi engkau (wahai Muhamad) kebaikan yang banyak. Maka Sembahyanglah* engkau kerana Tuhanmu dan sembelihlah (korbanmu)”. (Surah Al-Kautsar Ayat 1-2).
Sembahyang yang dimaksudkan di dalam ayat di atas ialah sembahyang sunat hari raya korban ( Aidil Adha).
Hukum
Hukumnya Sunat Muakkad(dituntut). Adapun bagi mereka yang bernazar, hukumnya wajib. Bagi mereka yang berkemampuan Makruh meninggalkan amalan ini. Wajib hukumnya kepada Rasulullah berdasarkan hadis:
“Diwajibkan ke atas ku melaksanakan ibadat korban namun ia merupakan satu amalan sunat bagi kamu”. (Riwayat Imam Tirmizi)
Maksud Korban
Menyembelih binatang ternakan yang terdiri daripada unta, lembu, kambing dan kibas yang sampai umur* pada hari raya korban (Aidil Adha) iaitu pada 10 Zulhijjah selepas sembahyang sehingga gelincir matahari hari terakhir tasyrik iaitu 13 Zulhijjah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.
Umur binatang yang boleh dikorbankan:
Unta 5 thn ke atas – 7 bahagian.
Lembu, kerbau 2 thn ke atas – 7 bahagian.
Kambing 2 thn ke atas- 1 bahagian.
Biri-biri, kibas 1 ½ thn- 1 bahagian.
Ditegah berkorban dengan binatang yang cacat, berpenyakit, patah anggotanya dan
terlalu kurus. Sunat-sunat ketika menyembelih binatang korban:-
1. Membaca Basmalah
2. Selawat ke atas nabi
3. Menghadap kiblat
4. Bertakbir
5. Berdoa supaya diterima ibadah korban itu.
Nota:
a) Daging korban yang diniat nazar oleh orang yang bernazar, hendaklah di sedekahkan semuanya.
b) 1/3 daripada daging korban sunat boleh dimakan oleh mereka yang berkorban dan selebihnya disedekahkan kepada fakir miskin, boleh juga disedekahkan kepada orang kaya mengikut mazhab Syafie. Mereka yang melakukan ibadat korban disunatkan menyaksikan penyembelihan binatang korban tersebut seperti mana sabda Rasulullah maksudnya:
“Wahai Fatimah! Berdirilah di sisi korban mu dan saksikanlah, sesungguhnya titisan
darahnya yang pertama itu pengampun bagi mu atas dosa-dosa yang telah lalu”.
(Riwayat Bazzar dan Ibnu Hibban).
# Menyaksikan sendiri perlaksanaan korban tidak termasuk dalam syarat-syarat ibadat korban.
# Imam Khatib Syarbini di dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj menyatakan, disunatkan
bagi mereka yang melaksanakan korban untuk menyembelih sendiri binatang korban
tersebut, sekiranya tidak mampu disunatkan bagi mereka untuk menyaksikan penyembelihan itu.
Aqiqah
Maksudnya ialah menyembelih kambing atau binatang ternakan seperti biri-biri,
kibas untuk anak yang baru lahir khususnya pada hari yang ketujuh kelahirannya atau
selewat-lewatnya sebelum baligh.
Hukumnya sunat muakkad.
Antara dalilnya ialah Hadis Rasulullah s.a.w.:
Dari Samirah, katanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Setiap anak itu digadaikan
dengan aqiqahnya. Disembelih untuknya pada hari ketujuhnya, diberi nama dan dicukur kepalanya. (HR Ashabus Sunan)
Syarat-syarat Aqiqah
a) Dari sudut umur binatang Aqiqah & korban sama sahaja.
b) Sembelihan aqiqah dipotong mengikut sendinya dengan tidak memecahkan tulang sesuai dengan tujuan aqiqah itu sebagai “Fida’” (mempertalikan ikatan diri anak dengan Allah swt).
c) Sunat dimasak dan diagih atau dijamu fakir dan miskin, ahli keluarga, jiran tetangga dan saudara mara. Berbeza dengan daging korban, sunat diagihkan daging yang
belum dimasak.
d) Anak lelaki disunatkan aqiqah dengan dua ekor kambing dan seekor untuk anak perempuan kerana mengikut sunnah Rasulullah.
‘Aisyah Radhiallahu ‘anha katanya: Maksudnya: "Afdhal bagi anak lelaki dua ekor kambing yang sama keadaannya dan bagi anak perempuan seekor kambing. Dipotong anggota-anggota (binatang) dan jangan dipecah-pecah tulangnya." (Hadis riwayat al-Hakim)
Bila tempoh aqiqah?
Disunatkan melakukan aqiqah pada hari ketujuh kelahiran anak, sebagaimana yang
terkandung di dalam hadis riwayat al-Baihaqi dari Aisyah. Berikut ini adalah beberapa pendapat ulamak mengenainya:
Kata Imam al-Rafi’i dan selainnya, aqiqah tidak luput (kesunnahannya) sebab habis
tempoh tujuh hari.
Al-Mawardi pula berkata, bahawa aqiqah selepas hari ketujuh dianggap sebagai qadhak.
Al-Syairazi berkata di dalam al-Muhazzab, jika melakukan aqiqah selepas hari ketujuh
atau sebelumnya, iaitu selepas kelahiran anak, maka itu sudah memadai (dibolehkan). Dan tidak boleh melakukan aqiqah sebelum kelahiran anak.
Imam al-Nawawi berkata, tidak luput kesunahan aqiqah dengan melewatkannya melebihi tujuh hari, tetapi disunatkan tidak melewatkannya sehingga anak itu mencecah usia baligh.
Meninggal Tanpa Sempat Ganti Puasa
Seseorang yang mati sebelum sempat menggantikan puasanya yang tertinggal, maka hukumnya tertakluk kepada perincian di bawah;
a) Jika sebelum kematiannya ia tidak berkesempatan langsung atau tidak berkemampuan sepanjang hayatnya untuk menggantikan puasa yang tertinggal kerana ditimpa sakit yang berterusan atau keuzuran lain, maka ia tidaklah berdosa dan gugurlah tuntutan ganti itu darinya kerana kegagalan mengganti itu bukanlah dari kelalaiannya.
b) Namun jika sebelum kematiannya ia mempunyai cukup masa dan kemampuan untuk mengganti puasa yang tertinggal, tetapi ia tidak menggantinya –kerana lalai atau menangguh-nangguh-, maka dalam hal ini disunatkan ahli keluarganya berpuasa bagi pihaknya. Sabda Nabi s.a.w. (bermaksud); “Sesiapa mati dan tertanggung atas dirinya qadha puasa, maka walinya (ahli keluarganya) hendaklah berpuasa untuknya” (Riwayat Imam Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Daud dari Aisyah r.a.).
Dan harus orang lain (yang bukan ahli keluarganya) seperti kawannya untuk berpuasa bagi pihaknya dengan syarat mendapat izin dari ahli keluarganya atau dengan wasiat darinya sebelum kematiannya. Jika kawannya itu berpuasa bagi pihaknya tanpa izin dari ahli keluarganya atau tanpa wasiat darinya, maka tidak diterima oleh Syara’ puasa tersebut sebagai gantian baginya.
c) Jika tidak ada yang berpuasa bagi pihaknya, hendaklah dikeluarkan fidyah (iaitu dengan memberi makan orang miskin dengan kadar secupak beras) bagi setiap hari yang ia tinggalkan. Fidyah ini wajib dikeluarkan dari harta peninggalannya dan merupakan hutang Allah yang tertanggung ke atasnya selagi belum dikeluarkan. Jika ia tidak meninggalkan harta, harus dikeluarkan oleh orang lain yang bersimpati dengannya. Sabda Rasulullah s.a.w. (bermaksud); “Sesiapa mati dan tertanggung atas dirinya qadha puasa bulan Ramadhan maka hendaklah diberi makan bagi pihaknya seorang miskin bagi setiap hari (yang ditinggalkannya)” (Riwayat Imam Tirmizi dari Ibnu Umar r.a.). Berkata Ibnu 'Abbas r.a.; “Jika seorang lelaki sakit dalam bulan Ramadhan, kemudian mati tanpa sempat menggantikan puasanya, maka hendaklah diberi makan (kepada orang miskin) bagi pihaknya dan tidak wajib qadha atasnya. Jika tertanggung atasnya nazar, maka hendaklah nazar itu dibayar/ditunaikan oleh wali (keluarganya)” (Riwayat Imam Abu Daud).
Tambahan;
1. Hukum bagi puasa nazar dan kaffarah adalah sama dengan puasa Ramadhan. Jadi seorang yang mati meninggalkan puasa nazar atau puasa kaffarah, walinya boleh memilih sama ada membayar fidyah atau berpuasa bagi pihaknya. (Lihat; al-Majmu’, jil. 6, hlm. 394)
2. Jika seorang itu meninggalkan puasa selama sebulan Ramadhan (yakni 30 hari) dan ia mati tanpa sempat mengqadha’nya, lalu walinya memberi keizinan kepada 30 orang untuk berpuasa bagi pihaknya dan mereka berpuasa serentak pada satu hari, adakah ia dikira? Menurut Imam al-Hasan al-Basri –sebagaimana yang disebut oleh Imam Bukhari dalam sohehnya-; ia adalah dikira. Pendapat ini dipersetujui oleh Imam Nawawi. (Lihat; al-Majmu’, jil. 6, hlm. 394)
3. Orang yang masih hidup tidak harus sesiapa pun berpuasa untuknya sama ada ia lemah (tidak berdaya berpuasa) atau kuat (yakni mampu berpuasa) (Lihat; al-Majmu’, jil. 6, hlm. 394)
4. Orang yang mati dengan menanggung solat atau iktikaf, tidak boleh walinya melakukan solat atau iktikaf itu bagi pihaknya. Begitu juga, fidyah tidak akan menggugurkan solat atau iktikaf yang tertanggung atas dirinya itu. Inilah pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’ie. (Lihat; al-Majmu’, jil. 6, hlm. 394)
a) Jika sebelum kematiannya ia tidak berkesempatan langsung atau tidak berkemampuan sepanjang hayatnya untuk menggantikan puasa yang tertinggal kerana ditimpa sakit yang berterusan atau keuzuran lain, maka ia tidaklah berdosa dan gugurlah tuntutan ganti itu darinya kerana kegagalan mengganti itu bukanlah dari kelalaiannya.
b) Namun jika sebelum kematiannya ia mempunyai cukup masa dan kemampuan untuk mengganti puasa yang tertinggal, tetapi ia tidak menggantinya –kerana lalai atau menangguh-nangguh-, maka dalam hal ini disunatkan ahli keluarganya berpuasa bagi pihaknya. Sabda Nabi s.a.w. (bermaksud); “Sesiapa mati dan tertanggung atas dirinya qadha puasa, maka walinya (ahli keluarganya) hendaklah berpuasa untuknya” (Riwayat Imam Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Daud dari Aisyah r.a.).
Dan harus orang lain (yang bukan ahli keluarganya) seperti kawannya untuk berpuasa bagi pihaknya dengan syarat mendapat izin dari ahli keluarganya atau dengan wasiat darinya sebelum kematiannya. Jika kawannya itu berpuasa bagi pihaknya tanpa izin dari ahli keluarganya atau tanpa wasiat darinya, maka tidak diterima oleh Syara’ puasa tersebut sebagai gantian baginya.
c) Jika tidak ada yang berpuasa bagi pihaknya, hendaklah dikeluarkan fidyah (iaitu dengan memberi makan orang miskin dengan kadar secupak beras) bagi setiap hari yang ia tinggalkan. Fidyah ini wajib dikeluarkan dari harta peninggalannya dan merupakan hutang Allah yang tertanggung ke atasnya selagi belum dikeluarkan. Jika ia tidak meninggalkan harta, harus dikeluarkan oleh orang lain yang bersimpati dengannya. Sabda Rasulullah s.a.w. (bermaksud); “Sesiapa mati dan tertanggung atas dirinya qadha puasa bulan Ramadhan maka hendaklah diberi makan bagi pihaknya seorang miskin bagi setiap hari (yang ditinggalkannya)” (Riwayat Imam Tirmizi dari Ibnu Umar r.a.). Berkata Ibnu 'Abbas r.a.; “Jika seorang lelaki sakit dalam bulan Ramadhan, kemudian mati tanpa sempat menggantikan puasanya, maka hendaklah diberi makan (kepada orang miskin) bagi pihaknya dan tidak wajib qadha atasnya. Jika tertanggung atasnya nazar, maka hendaklah nazar itu dibayar/ditunaikan oleh wali (keluarganya)” (Riwayat Imam Abu Daud).
Tambahan;
1. Hukum bagi puasa nazar dan kaffarah adalah sama dengan puasa Ramadhan. Jadi seorang yang mati meninggalkan puasa nazar atau puasa kaffarah, walinya boleh memilih sama ada membayar fidyah atau berpuasa bagi pihaknya. (Lihat; al-Majmu’, jil. 6, hlm. 394)
2. Jika seorang itu meninggalkan puasa selama sebulan Ramadhan (yakni 30 hari) dan ia mati tanpa sempat mengqadha’nya, lalu walinya memberi keizinan kepada 30 orang untuk berpuasa bagi pihaknya dan mereka berpuasa serentak pada satu hari, adakah ia dikira? Menurut Imam al-Hasan al-Basri –sebagaimana yang disebut oleh Imam Bukhari dalam sohehnya-; ia adalah dikira. Pendapat ini dipersetujui oleh Imam Nawawi. (Lihat; al-Majmu’, jil. 6, hlm. 394)
3. Orang yang masih hidup tidak harus sesiapa pun berpuasa untuknya sama ada ia lemah (tidak berdaya berpuasa) atau kuat (yakni mampu berpuasa) (Lihat; al-Majmu’, jil. 6, hlm. 394)
4. Orang yang mati dengan menanggung solat atau iktikaf, tidak boleh walinya melakukan solat atau iktikaf itu bagi pihaknya. Begitu juga, fidyah tidak akan menggugurkan solat atau iktikaf yang tertanggung atas dirinya itu. Inilah pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’ie. (Lihat; al-Majmu’, jil. 6, hlm. 394)
Solat Sunat Terawih
Apa itu solat Terawih?
Solat Terawih adalah solat yang dilakukan pada setiap malam di bulan Ramadhan selepas menunaikan solat Isyak dan sebelum solat witir. Ia disunatkan kepada kaum lelaki dan juga wanita.
Solat Terawih sentiasa dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan baginda menggalakkan kaum muslimin supaya mengerjakannya. Begitu juga, para sahabat dan tabi’in selepas baginda. Ia adalah antara syi’ar di bulan Ramadhan yang mempunyai fadhilat yang amat besar di sisi Allah. Di dalam hadis soheh, Rasulullah s.a.w. bersabda;
“Sesiapa mengerjakan qiyam Ramadhan kerana imannya kepada Allah dan kerana mengharapkan pahala dariNya, akan diampunkan dosanya yang lalu”. (Riwayat Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasai dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a.)
Maksud qiyam Ramadhan di dalam hadis di atas ialah menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah. Menurut ulamak, secara khususnya qiyam Ramadhan terhasil dengan mengerjakan solat Terawih iaitu solat sunat yang disyari’atkan khusus dalam bulan Ramadhan. Namun secara umumnya segala jenis ibadah yang dilakukan pada malam-malam Ramadhan dengan niat untuk menghidupkan malam-malam itu sama ada ibadah itu berupa solat sunat, bacaan al-Quran, berzikir, menuntut ilmu dan sebagainya, semuanya dapat dianggap sebagai qiyam Ramadhan.
Bilangan Rakaat Solat Terawih
Segolongan ulamak berpendapat; bilangan rakaat solat Terawih ialah 11 rakaat termasuk witir. Mereka berdalilkan hadis dari Saidatina ‘Aisyah yang menceritakan;
“Rasululllah s.a.w. tidak pernah menunaikan solat sama ada di bulan Ramadhan atau bulan lainnya melebihi dari 11 rakaat”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)
Jumhur ulamak-ulamak mazhab Imam Syafi’ie, Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal berpandangan; bilangan rakaat solat Terawih ialah 20 rakaat tidak termasuk witir. Mereka berhujjah dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dan lainnya dengan isnad yang soheh dari sahabat yang bernama as-Saib bin Yazid r.a. (السائب بن يزيد) yang menceritakan;
“Umat Islam pada zaman Umar menunaikan solat Terawih di bulan Ramadhan 20 rakaat”.
Begitu juga, Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatta’ dari Yazid bin Ruman;
“Orang ramai menunaikan solat Terawih pada zaman Umar bin al-Khattab sebanyak 23 rakaat (iaitu 20 rakaat Terawih dan 3 rakaat Witir)”.
Bagi Imam Malik; solat Terawih ialah 36 rakaat tidak termasuk witir. Beliau berhujjah dengan amalan penduduk Madinah. Berkata Imam Nafi’; “Aku mendapati orang ramai menghidupkan malam Ramadhan dengan (mengerjakan solat) 39 rakaat, mereka berwitir dengan tiga rakaat darinya”.
Jadi dalam mengerjakan solat Terawih ini terdapat keluasan bagi umat Islam. Mereka boleh memilih sama ada ingin mengerjakan 11 rakaat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi s.a.w., atau 23 rakaat sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin di zaman Umar r.a. atau mengerjakan 39 rakaat sebagaimana amalan penduduk Madinah.
Berkata Syeikh Mahmud Khattab as-Subki dalam kitabnya ad-Din al-Khalis; “Beramal sebagaimana yang dikerjakan pada zaman Nabi s.a.w., Abu Bakar r.a. dan awal pemerintahan Umar r.a. adalah lebih utama dan lebih baik iaitu dikerjakan solat Terawih sebanyak lapan atau sepuluh rakaat tidak termasuk witir. Yang afdhal berikutnya ialah menunaikannya sebanyak dua puluh rakaat sebagaimana yang diamalkan di hujung pemerintahan Umar r.a. dan pada zaman pemerintahan Usman dan Ali r.a.. Qiyam Ramadhan (yakni solat Terawih) adalah ibadah yang digalakkan (yakni sunat) dan tidak terdapat nas dari Syarak yang membataskan bilangan rakaatnya. Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah bersabda;
“Hendaklah kamu berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Khulafak yang mendapat petunjuk (selepasku). Berpegang lah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kamu…”. (Riwayat Imam Muslim dan Abu Daud dari Abi Najih al-‘Irbadh bin Sariyah r.a.)
Jamaah Solat Terawih
Jumhur ulamak berpandangan; menunaikan solat Terawih di Masjid secara berjamaah adalah lebih baik dari mengerjakannya di rumah sendirian kerana solat secara berjamaah adalah salah satu dari syi’ar Islam sebagaimana solat hari raya dan juga kerana banyak pahalanya di mana ia melebihi dari solat sendirian sebanyak 27 darjat.
Para zaman Nabi s.a.w., para sahabat baginda mengerjakannya secara berjamaah di Masjid. Malah Nabi s.a.w. juga turut berjamaah bersama mereka walaupun diperingkat awalnya sahaja iaitu selama tiga malam. Sama halnya pada zaman Khulafak ar-Rasyidin iaitu solat Terawih dikerjakan berjamaah di masjid.
Imam Muslim meriwayatkan dari Saidatina Aisyah r.a. yang menceritakan:
“Rasulullah s.a.w. keluar pada satu malam (di bulan Ramadhan) ke masjid, lalu menunaikan solat (yakni solat qiyam Ramadhan atau Terawih). Beberapa lelaki (yang kebetulan berada di dalam masjid) ikut sama bersolat dengan baginda. (Besoknya) orang ramai bercakap-cakap tentang hal itu menyebabkan lebih ramai yang berkumpul di masjid (pada malam kedua). Rasulullah s.a.w. keluar pada malam kedua (untuk menunaikan solat) dan orang ramai turut bersolat dengan baginda. (Besoknya) orang ramai menyebut-nyebut lagi hal itu, menyebabkan semakin ramai yang datang ke masjid pada malam ketiga. Rasulullah s.a.w, keluar lagi (pada malam ketiga untuk menunaikan solat) dan orang ramai turut bersolat dengan baginda. Pada malam ke empat, (semakin ramai yang datang) sehingga masjid menjadi sempit sehingga tidak dapat menampung orang ramai. Namun pada malam ke empat itu Rasulullah tidak keluar. Walaupun beberapa lelaki melaungkan “as-Solah!”, baginda tetap tidak keluar. Sehinggalah (apabila menjelang subuh) barulah baginda keluar untuk menunaikan solat subuh. Selesai mengerjakan solat subuh, baginda mengadap orang ramai dan berucap kepada mereka; ‘Sesungguhnya aku mengetahui keadaan kamu malam tadi. Namun (aku sengaja tidak keluar untuk mengerjakan solat bersama kamu kerana) aku bimbang akan difardhukan ke atas kamu solat malam, lalu kamu tidak mampu mengerjakannya’”. (Riwayat Imam Muslim)
Sebahagian ulamak mazhab Syafi’ie dan Maliki berpendapat; mengerjakan solat Terawih di rumah adalah lebih baik kerana Rasulullah s.a.w. bersabda;
“Tunaikanlah solat wahai sekelian manusia di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya solat yang paling baik ialah solat yang dikerjakan oleh seseorang di rumahnya kecuali solat fardhu”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Tsabit r.a.)
Sebahagian ulamak yang lain pula membuat perincian bagi masalah ini untuk menghimpun antara hadis-hadis di atas di mana menurut mereka; jika sekiranya seorang muslim itu penghafal al-Quran dan tidak ada sebarang gangguan (di rumah) yang akan menghalangnya dari solat terawikh serta ia tidak rasa khuatir akan lumpuh solat di Masjid tanpa kehadirannya, maka baginya solat di rumah adalah lebih utama. Namun jika dikhutiri perkara-perkara tersebut berlaku, maka solat di Masjid adalah lebih utama.
Bacaan di dalam Solat Terawih
Disunatkan memanjangkan bacaan al-Quran di dalam solat terawih, begitu juga di di dalam solat-solat yang lain sama ada solat fardhu atau sunat. Ini kerana Rasulullah s.a.w. bersanda;
“Solat yang paling baik ialah yang lama berdirinya” (HR Imam Ahmad dan Muslim dari Jabir r.a.).
Maksud lama berdiri itu ialah; memanjangkan bacaan al-Quran di dalam solat kerana tempat bacaan al-Quran di dalam solat ialah ketika kita berdiri (sebelum ruku’).[1]
Namun jika kita menjadi imam hendaklah mengambil kira keadaan makmum di belakang kita. Janganlah keterlaluan memanjangkan bacaan hingga menyusahkan makmum di belakang kerana ada di antara mereka yang dhaif, tua, sakit, sibuk dan sebagainya. Sebaliknya hendaklah dipendekkan bacaan sesuai dengan keadaan makmum itu.
Sabda Nabi s.a.w.;
“Jika seseorang dari kamu menunaikan solat dengan orang ramai (yakni menjadi imam kepada mereka), hendaklah ia meringankan solatnya kerana di kalangan mereka itu ada yang dhaif/lemah, sakit dan tua. Tetapi jika ia menunaikan solat seorang diri, maka perpanjangkanlah solatnya mengikut yang ia kehendaki” (HR Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.).
Namun perlu diingatkan; maksud memendekkan bacaan bukanlah dengan terlalu pendek seperti membaca satu ayat yang pendek umpamanya membaca “سبح اسم ربك الأعلى”, kemudian terus ruku’. Sekurang-kurangnya ialah dengan membaca satu surah yang pendek seperti surah al-Kausar, al-Kafirun, al-Ikhlas dan seumpamanya atau membaca tiga ayat yang menyamai panjang surah-surah pendek itu atau membaca satu ayat panjang yang menyamainya.
Sumber: http://fiqh-am.blogspot.com/
Solat Terawih adalah solat yang dilakukan pada setiap malam di bulan Ramadhan selepas menunaikan solat Isyak dan sebelum solat witir. Ia disunatkan kepada kaum lelaki dan juga wanita.
Solat Terawih sentiasa dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan baginda menggalakkan kaum muslimin supaya mengerjakannya. Begitu juga, para sahabat dan tabi’in selepas baginda. Ia adalah antara syi’ar di bulan Ramadhan yang mempunyai fadhilat yang amat besar di sisi Allah. Di dalam hadis soheh, Rasulullah s.a.w. bersabda;
“Sesiapa mengerjakan qiyam Ramadhan kerana imannya kepada Allah dan kerana mengharapkan pahala dariNya, akan diampunkan dosanya yang lalu”. (Riwayat Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasai dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a.)
Maksud qiyam Ramadhan di dalam hadis di atas ialah menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah. Menurut ulamak, secara khususnya qiyam Ramadhan terhasil dengan mengerjakan solat Terawih iaitu solat sunat yang disyari’atkan khusus dalam bulan Ramadhan. Namun secara umumnya segala jenis ibadah yang dilakukan pada malam-malam Ramadhan dengan niat untuk menghidupkan malam-malam itu sama ada ibadah itu berupa solat sunat, bacaan al-Quran, berzikir, menuntut ilmu dan sebagainya, semuanya dapat dianggap sebagai qiyam Ramadhan.
Bilangan Rakaat Solat Terawih
Segolongan ulamak berpendapat; bilangan rakaat solat Terawih ialah 11 rakaat termasuk witir. Mereka berdalilkan hadis dari Saidatina ‘Aisyah yang menceritakan;
“Rasululllah s.a.w. tidak pernah menunaikan solat sama ada di bulan Ramadhan atau bulan lainnya melebihi dari 11 rakaat”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)
Jumhur ulamak-ulamak mazhab Imam Syafi’ie, Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal berpandangan; bilangan rakaat solat Terawih ialah 20 rakaat tidak termasuk witir. Mereka berhujjah dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dan lainnya dengan isnad yang soheh dari sahabat yang bernama as-Saib bin Yazid r.a. (السائب بن يزيد) yang menceritakan;
“Umat Islam pada zaman Umar menunaikan solat Terawih di bulan Ramadhan 20 rakaat”.
Begitu juga, Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatta’ dari Yazid bin Ruman;
“Orang ramai menunaikan solat Terawih pada zaman Umar bin al-Khattab sebanyak 23 rakaat (iaitu 20 rakaat Terawih dan 3 rakaat Witir)”.
Bagi Imam Malik; solat Terawih ialah 36 rakaat tidak termasuk witir. Beliau berhujjah dengan amalan penduduk Madinah. Berkata Imam Nafi’; “Aku mendapati orang ramai menghidupkan malam Ramadhan dengan (mengerjakan solat) 39 rakaat, mereka berwitir dengan tiga rakaat darinya”.
Jadi dalam mengerjakan solat Terawih ini terdapat keluasan bagi umat Islam. Mereka boleh memilih sama ada ingin mengerjakan 11 rakaat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi s.a.w., atau 23 rakaat sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin di zaman Umar r.a. atau mengerjakan 39 rakaat sebagaimana amalan penduduk Madinah.
Berkata Syeikh Mahmud Khattab as-Subki dalam kitabnya ad-Din al-Khalis; “Beramal sebagaimana yang dikerjakan pada zaman Nabi s.a.w., Abu Bakar r.a. dan awal pemerintahan Umar r.a. adalah lebih utama dan lebih baik iaitu dikerjakan solat Terawih sebanyak lapan atau sepuluh rakaat tidak termasuk witir. Yang afdhal berikutnya ialah menunaikannya sebanyak dua puluh rakaat sebagaimana yang diamalkan di hujung pemerintahan Umar r.a. dan pada zaman pemerintahan Usman dan Ali r.a.. Qiyam Ramadhan (yakni solat Terawih) adalah ibadah yang digalakkan (yakni sunat) dan tidak terdapat nas dari Syarak yang membataskan bilangan rakaatnya. Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah bersabda;
“Hendaklah kamu berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Khulafak yang mendapat petunjuk (selepasku). Berpegang lah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kamu…”. (Riwayat Imam Muslim dan Abu Daud dari Abi Najih al-‘Irbadh bin Sariyah r.a.)
Jamaah Solat Terawih
Jumhur ulamak berpandangan; menunaikan solat Terawih di Masjid secara berjamaah adalah lebih baik dari mengerjakannya di rumah sendirian kerana solat secara berjamaah adalah salah satu dari syi’ar Islam sebagaimana solat hari raya dan juga kerana banyak pahalanya di mana ia melebihi dari solat sendirian sebanyak 27 darjat.
Para zaman Nabi s.a.w., para sahabat baginda mengerjakannya secara berjamaah di Masjid. Malah Nabi s.a.w. juga turut berjamaah bersama mereka walaupun diperingkat awalnya sahaja iaitu selama tiga malam. Sama halnya pada zaman Khulafak ar-Rasyidin iaitu solat Terawih dikerjakan berjamaah di masjid.
Imam Muslim meriwayatkan dari Saidatina Aisyah r.a. yang menceritakan:
“Rasulullah s.a.w. keluar pada satu malam (di bulan Ramadhan) ke masjid, lalu menunaikan solat (yakni solat qiyam Ramadhan atau Terawih). Beberapa lelaki (yang kebetulan berada di dalam masjid) ikut sama bersolat dengan baginda. (Besoknya) orang ramai bercakap-cakap tentang hal itu menyebabkan lebih ramai yang berkumpul di masjid (pada malam kedua). Rasulullah s.a.w. keluar pada malam kedua (untuk menunaikan solat) dan orang ramai turut bersolat dengan baginda. (Besoknya) orang ramai menyebut-nyebut lagi hal itu, menyebabkan semakin ramai yang datang ke masjid pada malam ketiga. Rasulullah s.a.w, keluar lagi (pada malam ketiga untuk menunaikan solat) dan orang ramai turut bersolat dengan baginda. Pada malam ke empat, (semakin ramai yang datang) sehingga masjid menjadi sempit sehingga tidak dapat menampung orang ramai. Namun pada malam ke empat itu Rasulullah tidak keluar. Walaupun beberapa lelaki melaungkan “as-Solah!”, baginda tetap tidak keluar. Sehinggalah (apabila menjelang subuh) barulah baginda keluar untuk menunaikan solat subuh. Selesai mengerjakan solat subuh, baginda mengadap orang ramai dan berucap kepada mereka; ‘Sesungguhnya aku mengetahui keadaan kamu malam tadi. Namun (aku sengaja tidak keluar untuk mengerjakan solat bersama kamu kerana) aku bimbang akan difardhukan ke atas kamu solat malam, lalu kamu tidak mampu mengerjakannya’”. (Riwayat Imam Muslim)
Sebahagian ulamak mazhab Syafi’ie dan Maliki berpendapat; mengerjakan solat Terawih di rumah adalah lebih baik kerana Rasulullah s.a.w. bersabda;
“Tunaikanlah solat wahai sekelian manusia di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya solat yang paling baik ialah solat yang dikerjakan oleh seseorang di rumahnya kecuali solat fardhu”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Tsabit r.a.)
Sebahagian ulamak yang lain pula membuat perincian bagi masalah ini untuk menghimpun antara hadis-hadis di atas di mana menurut mereka; jika sekiranya seorang muslim itu penghafal al-Quran dan tidak ada sebarang gangguan (di rumah) yang akan menghalangnya dari solat terawikh serta ia tidak rasa khuatir akan lumpuh solat di Masjid tanpa kehadirannya, maka baginya solat di rumah adalah lebih utama. Namun jika dikhutiri perkara-perkara tersebut berlaku, maka solat di Masjid adalah lebih utama.
Bacaan di dalam Solat Terawih
Disunatkan memanjangkan bacaan al-Quran di dalam solat terawih, begitu juga di di dalam solat-solat yang lain sama ada solat fardhu atau sunat. Ini kerana Rasulullah s.a.w. bersanda;
“Solat yang paling baik ialah yang lama berdirinya” (HR Imam Ahmad dan Muslim dari Jabir r.a.).
Maksud lama berdiri itu ialah; memanjangkan bacaan al-Quran di dalam solat kerana tempat bacaan al-Quran di dalam solat ialah ketika kita berdiri (sebelum ruku’).[1]
Namun jika kita menjadi imam hendaklah mengambil kira keadaan makmum di belakang kita. Janganlah keterlaluan memanjangkan bacaan hingga menyusahkan makmum di belakang kerana ada di antara mereka yang dhaif, tua, sakit, sibuk dan sebagainya. Sebaliknya hendaklah dipendekkan bacaan sesuai dengan keadaan makmum itu.
Sabda Nabi s.a.w.;
“Jika seseorang dari kamu menunaikan solat dengan orang ramai (yakni menjadi imam kepada mereka), hendaklah ia meringankan solatnya kerana di kalangan mereka itu ada yang dhaif/lemah, sakit dan tua. Tetapi jika ia menunaikan solat seorang diri, maka perpanjangkanlah solatnya mengikut yang ia kehendaki” (HR Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.).
Namun perlu diingatkan; maksud memendekkan bacaan bukanlah dengan terlalu pendek seperti membaca satu ayat yang pendek umpamanya membaca “سبح اسم ربك الأعلى”, kemudian terus ruku’. Sekurang-kurangnya ialah dengan membaca satu surah yang pendek seperti surah al-Kausar, al-Kafirun, al-Ikhlas dan seumpamanya atau membaca tiga ayat yang menyamai panjang surah-surah pendek itu atau membaca satu ayat panjang yang menyamainya.
Sumber: http://fiqh-am.blogspot.com/
7 Keajaiban Berdasarkan Al-Quran dan Hadith
Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Namun sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib, kerana di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?
Memang tujuh keajaiban lain belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:
Haiwan Berbicara di Akhir Zaman
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul haiwan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Haiwan ini akan keluar di akhir zaman ketika rosaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon khabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Haiwan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]
Haiwan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang
keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]
Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bertutur,
“Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Adalah dahulu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan
mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]
Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Dulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang kurma itu pun merintih. Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya sambil
mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]
Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya
bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,
Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku
sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].
Pengaduan Seekor Unta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan haiwan pun memilikinya. Oleh kerana itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada haiwan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam mengungkapkan perasaannya.
Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang
hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor unta. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, maka unta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke
punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah unta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik unta ini, unta ini milik siapa?”
Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Unta itu milikku, wahai Rasulullah”.
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, kerana ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]
Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup biasa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Angkatlah tangan kalian, kerana kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahawa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh wanita
itu, maka ia pun dibunuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]
Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]
Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiksyen tentang haiwan-haiwan yang berbicara dengan haiwan yang lain. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada haiwan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Haiwan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,
“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut:
Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa kerana (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).
Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 46
Memang tujuh keajaiban lain belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:
Haiwan Berbicara di Akhir Zaman
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul haiwan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Haiwan ini akan keluar di akhir zaman ketika rosaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon khabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Haiwan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]
Haiwan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang
keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]
Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bertutur,
“Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Adalah dahulu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan
mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]
Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Dulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang kurma itu pun merintih. Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya sambil
mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]
Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya
bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,
Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku
sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].
Pengaduan Seekor Unta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan haiwan pun memilikinya. Oleh kerana itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada haiwan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam mengungkapkan perasaannya.
Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang
hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor unta. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, maka unta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke
punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah unta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik unta ini, unta ini milik siapa?”
Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Unta itu milikku, wahai Rasulullah”.
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, kerana ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]
Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup biasa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Angkatlah tangan kalian, kerana kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahawa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh wanita
itu, maka ia pun dibunuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]
Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]
Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiksyen tentang haiwan-haiwan yang berbicara dengan haiwan yang lain. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada haiwan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Haiwan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,
“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut:
Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa kerana (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).
Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 46
Kedatangan Dajjal, Imam Al-Mahdi dan Nabi Isa a.s.
1. Dajjal
Dajjal adalah seorang manusia biasa, ia dinamakan demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebathilan atau dikarenakan ia menyembunyikan kekufurannya di hadapan manusia dengan kedustaan dan tipu dayanya terhadap mereka. Ada sejumlah hadits yang menjelaskan tentang sifat-sifat Dajjal
a. Dalam Sahih Bukhori diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW pernah memberikan khutbah di hadapan para sahabatnya, lalu beliau menyebutkan Dajjal. Beliau bersabda:
dajjal
“Aku benar-benar akan memperingatkan kalian tentang Dajjal. Tidak ada seorang nabi melainkan ia pernah memperingatkan kaumnya tentang masalah tersebut. Tetapi aku akan mengatakan kepada kalian suatu ucapan yang belum pernah dikatakan oleh seorang nabi pun sebelumku. Dia itu (Dajjal) picak (bermata sebelah) sedangkan Alloh tidaklah picak” (Sahih Jami’ shogir 3495/ Al-Bany)
b. Hadits lainnya adalah :
Dari Ibnu Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ” Ketika aku sedang tidur aku mengelilingi di Ka’bah?… (beliau menyebutkan bahwasanya ia melihat Nabi Isa bin Maryam, kemudian melihat Dajjal dan menyebutkan sifat-sifatnya). Ibnu Umar berkata: Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang besar tubuhnya, berwarna merah, rambutnya pendek, matanya picak, seakan-akan matanya itu buah anggur yang mengambang, Mereka berkata: “Ini adalah Dajjal, manusia yang paing menyerupainya adalah Ibnu Quthn seorang laki-laki dari Bani Khuza’ah (Sahih Bukhori 13/90 dan Muslim 2/237).
c. Hadits lainnya adalah :
Dari Nawwas bin Sam’an RA, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda berkaitan sifat Dajjal: “Dia itu seorang pemuda, rambutnya pendek, matanya mengambang, seakan-akan aku menyerupakannya denga Abdul ‘izz bin Qathn” (Sahih Muslim 18/65)
Dan ia dinamakan dengan Masihid Dajjal karena salah satu matanya, yaitu mata kanannya tertutup (picak). Ia akan keluar pada saat kaum muslimin sedang memiliki kekuatan besar dan keluarnya dia adalah untuk mengalahkan kekuatan tersebut.
dajjal
d. Hadits lainnya adalah hadits yang menjeaslkan bahwa tertulis di antara dua matanya “Kaafir” atau “Kafara” sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW:
Sesungguhnya di antara kedua matanya tertulis kaafir” (HR Bukhori 13/91 dan Muslim 18/59)
Keluarnya Dajjal merupakan salah satu tanda kiamat kubro. Sebelum Dajjal keluar, manusia diuji dengan kemarau dan kelaparan, serta tidak turunnya hujan dan matinya pepohonan.
e. Hadits lainnya menjelaskan tentang Dajjal yang akan keluar dari arah timur tepatnya dari negri Khurosan atau Syihristaan. Kemudia ia akan mengembara ke seluruh penjuru bumi. Ia akan memasuki setiap negeri kecuali Makkah dan Madinah karena para malaikan menjaganya.
Dari Abu Bakar ash-Shidiq RA ia berkata: Rasulullah SAW menceritakan kepada kami tentang Dajjal, beliau bersabda: “Dajjal akan keluar dari negeri sebelah timur yang disebut Khurosan” (Tirmidzy 6/495)
Dari Fatimah bin Qais RA; Dajjal berkata: “Maka aku keluar dan aku menelusuri seluruh negeri, aku tidak meninggalkan suatu negeri kecuali aku telah tinggal di dalamnya selam 40 hari. Kecuali kota Makkah dan Madinah. Keua kota tersebut diharamkan bagiku. Setiap kali aku akan memasuki salah satu dari keduanya. Seorang malaikat akan menghalangiku dengan pedang terhunus. Dan di setiap pelosok negeri tersebut ada malaikat yang menjaganya” (Shohih Muslim 18/83)
f. Hadits lainnya menjelaskan diantara shifat Dajjal lainnya yaitu ia akan mengaku dirinya sebagai tuhan dan ia akan melakukan hal-hal yang aneh untuk membenarkan pengakuannya dan menarik orang-orang agar menjadi pengikutnya.
Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang mendengar tentang kedatangan Dajjal, hendaklah ia menjauhinya. Demi Alloh sesungguhnya seseorang akan mendatanginya dan ia menyangka bahwa dirinya seorang yang beriman, lalu ia mengikutinya yang dapat menimbulkan berbagai syubuhaat” (Sahih Jami’ shogir 6301/ Al-Bany)
g. Dalam hadits lainnya dijelaskan bahwa
Dajjal tersebut akan datang sambil membawa neraka dan surga. Surganya adalah neraka, dan nerakanya adalah surga, dan ia memiliki sungai yang penuh dengan air, gunung dari roti. Ia kan menyuruh langit untuk merunkan hujan, mak hujan pun turun dan menyuruh bumi untuk menumbuhkan beraneka macam tumbuhan maka tumbuhlah tanaman tersebut. Dan ia kan menempuh perjalan dengan cepat, secepat air hujan yang ditiup angin, dan keanehan-keanehan lainnya (HR Muslim 18/65-66)
Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Akan tetap ada dari umatku yang berjuang dalam haq dan eksis terus hingga hari kiamat. Kemudian Nabi Isa bin Maryam turun. Lalu pemimpin umat Islam saat iu berkata kepada Nabi Isa,”Kemarilah dan jadilah imam dalam shalat kami”. Namun Nabi Isa menjawab,”Tidak, kalian menjadi peminpin di antara kalian sendiri . Sebagai bentuk pemuliaan Allah atas umat ini”.
Rasulullah SAW bersabda,”Nabi Isa masih tetap tinggal di bumi hingga terbunuhnya Dajjal selama 40 tahun, lalu Allah mewafatkannya dan dishalatkan jenazahnya oleh umat Islam. (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hiban, Al-Hakim dan dishahihkan oleh az-Zahabi)
2. Imam Mahdi
Ada banyak hadits yang menerangkan sosok Al-Mahdi itu dan merupakan kewajiban kita untuk mempercayainya sesuai dengan apa yang kita terima dari Rasulullah SAW, tanpa menafsirkan, mentakwilkan atau menolaknya.
Al-Mahdi menurut hadits-hadits yang kita terima adalah sosok manusia yang Allah akan turunkan di akhir zaman, meksi tidak ada riwayat yang memastikan kapan kejadian itu. Selain itu, dijelaskan bahwa beliau adalah merupakan ahli bait Rasulullah SAW.
Untuk memastikan apakah dia benar Al-Mahdi yang dimaksud, ada ciri-ciri yang telah disebutkan, yang paling penting diantaranya adalah bahwa beliau akan mengisi bumi ini dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan kerusakan.
Diantara hadits itu antara lain :
Dari Ibnu Mas`ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila tidak kekal dunia ini kecuali sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu hingga Dia mengutus seseorang dari aku atau dari ahli baitku, namanya sesuai dengan namaku dan nama ayahnya sesuai dengan nama ayahku. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan dan qisth sebagaimana dunia ini sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan al-Juur. (HR. At-Tirmizy dalam kitab Fitan dan haditsnya hasan shahih).
Dijelaskan bahwa kedatangan Al-Mahdi ini sebelum turunnya Nabi Isa as. yang akan memberi petunjuk kepada banyak manusia dan menegakkan hujjah Allah SWT.
Dari Ali bin Abi Tholib Ra ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: ” Al-Mahdi dari golongan kami, Ahlul Bait, Allah memperbaikinya dalam satu malam” ( (Musnad Ahmad 2/58 dan sunan Ibnu Majah 2/1367. Hadis ini ditashih oleh Al-Bani dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shogir 6/22)
3. Nabi Isa
Diantara tanda-tanda datangnya hari kiamat kubro adalah turnnya Nabi Isa as. Beliau akan menjadi muslimin atau bagian dari umat Islam, menghancurkan salib dan menghancurkan berhala. Karena risalah yang beliau bawa adalah risalah yang bersumber dari Allah juga.
Namun turunnya beliau bukan sebagai nabi lagi karena setelah diangkatnya Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir, maka tidak ada lagi nabi yang turun ke bumi dengan membawa risalah dari langit.
Karena itu Nabi Isa kedudukannya bukan sebagai Nabi lagi, tapi bagian dari umat Islam ini, berkitab suci Al-Quran, mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat menghadap ka’bah, puasa Ramadhan, berhaji ke Mekkah dan menjalankan syariat Islam yang kita terapkan saat itu.
Semua keteragan itu kita dapatkan dari hadits-hatis Rasulullah yang sampai kepada kita, antara lain:
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, Nyaris akan turun kepada kalian putera Maryam (Nabi Isa as) menjadi hakim yang adil, menghancurkan salib dan membunuh babi dan memungut jizyah dan memenuhi harta … HR Muslim dalam kitab Iman bab turunnya Isa)
Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Akan tetap ada dari umatku yang berjuang dalam haq dan eksis terus hingga hari kiamat. Kemudian Nabi Isa bin Maryam turun. Lalu pemimpin umat Islam saat iu berkata kepada Nabi Isa,”Kemarilah dan jadilah imam dalam shalat kami”. Namun Nabi Isa menjawab,”Tidak, kalian menjadi peminpin di antara kalian sendiri . Sebagai bentuk pemuliaan Allah atas umat ini”.
Rasulullah SAW bersabda,”Nabi Isa masih tetap tinggal di bumi hingga terbunuhnya Dajjal selama 40 tahun, lalu Allah mewafatkannya dan dishalatkan jenazahnya oleh umat Islam. (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hiban, Al-Hakim dan dishahihkan oleh az-Zahabi)
Untuk lebih dalamnya pembahasan ini, silahkan merujuk pada kitab An-Nihayah karya Ibnu Katsir. Juga buku Asyrotus-Saa’ah (Tanda-tanda kiamat) karangan Yusuf bin Abdulloh bin Yusuf Al Wabil serta An-Nihayah Fil Fitan Wal malahim (fitnah dan huru hara) karya Ibnu Katsir.
**Taken From Syariahonline and Eramuslim**
Dajjal adalah seorang manusia biasa, ia dinamakan demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebathilan atau dikarenakan ia menyembunyikan kekufurannya di hadapan manusia dengan kedustaan dan tipu dayanya terhadap mereka. Ada sejumlah hadits yang menjelaskan tentang sifat-sifat Dajjal
a. Dalam Sahih Bukhori diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW pernah memberikan khutbah di hadapan para sahabatnya, lalu beliau menyebutkan Dajjal. Beliau bersabda:
dajjal
“Aku benar-benar akan memperingatkan kalian tentang Dajjal. Tidak ada seorang nabi melainkan ia pernah memperingatkan kaumnya tentang masalah tersebut. Tetapi aku akan mengatakan kepada kalian suatu ucapan yang belum pernah dikatakan oleh seorang nabi pun sebelumku. Dia itu (Dajjal) picak (bermata sebelah) sedangkan Alloh tidaklah picak” (Sahih Jami’ shogir 3495/ Al-Bany)
b. Hadits lainnya adalah :
Dari Ibnu Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ” Ketika aku sedang tidur aku mengelilingi di Ka’bah?… (beliau menyebutkan bahwasanya ia melihat Nabi Isa bin Maryam, kemudian melihat Dajjal dan menyebutkan sifat-sifatnya). Ibnu Umar berkata: Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang besar tubuhnya, berwarna merah, rambutnya pendek, matanya picak, seakan-akan matanya itu buah anggur yang mengambang, Mereka berkata: “Ini adalah Dajjal, manusia yang paing menyerupainya adalah Ibnu Quthn seorang laki-laki dari Bani Khuza’ah (Sahih Bukhori 13/90 dan Muslim 2/237).
c. Hadits lainnya adalah :
Dari Nawwas bin Sam’an RA, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda berkaitan sifat Dajjal: “Dia itu seorang pemuda, rambutnya pendek, matanya mengambang, seakan-akan aku menyerupakannya denga Abdul ‘izz bin Qathn” (Sahih Muslim 18/65)
Dan ia dinamakan dengan Masihid Dajjal karena salah satu matanya, yaitu mata kanannya tertutup (picak). Ia akan keluar pada saat kaum muslimin sedang memiliki kekuatan besar dan keluarnya dia adalah untuk mengalahkan kekuatan tersebut.
dajjal
d. Hadits lainnya adalah hadits yang menjeaslkan bahwa tertulis di antara dua matanya “Kaafir” atau “Kafara” sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW:
Sesungguhnya di antara kedua matanya tertulis kaafir” (HR Bukhori 13/91 dan Muslim 18/59)
Keluarnya Dajjal merupakan salah satu tanda kiamat kubro. Sebelum Dajjal keluar, manusia diuji dengan kemarau dan kelaparan, serta tidak turunnya hujan dan matinya pepohonan.
e. Hadits lainnya menjelaskan tentang Dajjal yang akan keluar dari arah timur tepatnya dari negri Khurosan atau Syihristaan. Kemudia ia akan mengembara ke seluruh penjuru bumi. Ia akan memasuki setiap negeri kecuali Makkah dan Madinah karena para malaikan menjaganya.
Dari Abu Bakar ash-Shidiq RA ia berkata: Rasulullah SAW menceritakan kepada kami tentang Dajjal, beliau bersabda: “Dajjal akan keluar dari negeri sebelah timur yang disebut Khurosan” (Tirmidzy 6/495)
Dari Fatimah bin Qais RA; Dajjal berkata: “Maka aku keluar dan aku menelusuri seluruh negeri, aku tidak meninggalkan suatu negeri kecuali aku telah tinggal di dalamnya selam 40 hari. Kecuali kota Makkah dan Madinah. Keua kota tersebut diharamkan bagiku. Setiap kali aku akan memasuki salah satu dari keduanya. Seorang malaikat akan menghalangiku dengan pedang terhunus. Dan di setiap pelosok negeri tersebut ada malaikat yang menjaganya” (Shohih Muslim 18/83)
f. Hadits lainnya menjelaskan diantara shifat Dajjal lainnya yaitu ia akan mengaku dirinya sebagai tuhan dan ia akan melakukan hal-hal yang aneh untuk membenarkan pengakuannya dan menarik orang-orang agar menjadi pengikutnya.
Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang mendengar tentang kedatangan Dajjal, hendaklah ia menjauhinya. Demi Alloh sesungguhnya seseorang akan mendatanginya dan ia menyangka bahwa dirinya seorang yang beriman, lalu ia mengikutinya yang dapat menimbulkan berbagai syubuhaat” (Sahih Jami’ shogir 6301/ Al-Bany)
g. Dalam hadits lainnya dijelaskan bahwa
Dajjal tersebut akan datang sambil membawa neraka dan surga. Surganya adalah neraka, dan nerakanya adalah surga, dan ia memiliki sungai yang penuh dengan air, gunung dari roti. Ia kan menyuruh langit untuk merunkan hujan, mak hujan pun turun dan menyuruh bumi untuk menumbuhkan beraneka macam tumbuhan maka tumbuhlah tanaman tersebut. Dan ia kan menempuh perjalan dengan cepat, secepat air hujan yang ditiup angin, dan keanehan-keanehan lainnya (HR Muslim 18/65-66)
Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Akan tetap ada dari umatku yang berjuang dalam haq dan eksis terus hingga hari kiamat. Kemudian Nabi Isa bin Maryam turun. Lalu pemimpin umat Islam saat iu berkata kepada Nabi Isa,”Kemarilah dan jadilah imam dalam shalat kami”. Namun Nabi Isa menjawab,”Tidak, kalian menjadi peminpin di antara kalian sendiri . Sebagai bentuk pemuliaan Allah atas umat ini”.
Rasulullah SAW bersabda,”Nabi Isa masih tetap tinggal di bumi hingga terbunuhnya Dajjal selama 40 tahun, lalu Allah mewafatkannya dan dishalatkan jenazahnya oleh umat Islam. (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hiban, Al-Hakim dan dishahihkan oleh az-Zahabi)
2. Imam Mahdi
Ada banyak hadits yang menerangkan sosok Al-Mahdi itu dan merupakan kewajiban kita untuk mempercayainya sesuai dengan apa yang kita terima dari Rasulullah SAW, tanpa menafsirkan, mentakwilkan atau menolaknya.
Al-Mahdi menurut hadits-hadits yang kita terima adalah sosok manusia yang Allah akan turunkan di akhir zaman, meksi tidak ada riwayat yang memastikan kapan kejadian itu. Selain itu, dijelaskan bahwa beliau adalah merupakan ahli bait Rasulullah SAW.
Untuk memastikan apakah dia benar Al-Mahdi yang dimaksud, ada ciri-ciri yang telah disebutkan, yang paling penting diantaranya adalah bahwa beliau akan mengisi bumi ini dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan kerusakan.
Diantara hadits itu antara lain :
Dari Ibnu Mas`ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila tidak kekal dunia ini kecuali sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu hingga Dia mengutus seseorang dari aku atau dari ahli baitku, namanya sesuai dengan namaku dan nama ayahnya sesuai dengan nama ayahku. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan dan qisth sebagaimana dunia ini sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan al-Juur. (HR. At-Tirmizy dalam kitab Fitan dan haditsnya hasan shahih).
Dijelaskan bahwa kedatangan Al-Mahdi ini sebelum turunnya Nabi Isa as. yang akan memberi petunjuk kepada banyak manusia dan menegakkan hujjah Allah SWT.
Dari Ali bin Abi Tholib Ra ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: ” Al-Mahdi dari golongan kami, Ahlul Bait, Allah memperbaikinya dalam satu malam” ( (Musnad Ahmad 2/58 dan sunan Ibnu Majah 2/1367. Hadis ini ditashih oleh Al-Bani dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shogir 6/22)
3. Nabi Isa
Diantara tanda-tanda datangnya hari kiamat kubro adalah turnnya Nabi Isa as. Beliau akan menjadi muslimin atau bagian dari umat Islam, menghancurkan salib dan menghancurkan berhala. Karena risalah yang beliau bawa adalah risalah yang bersumber dari Allah juga.
Namun turunnya beliau bukan sebagai nabi lagi karena setelah diangkatnya Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir, maka tidak ada lagi nabi yang turun ke bumi dengan membawa risalah dari langit.
Karena itu Nabi Isa kedudukannya bukan sebagai Nabi lagi, tapi bagian dari umat Islam ini, berkitab suci Al-Quran, mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat menghadap ka’bah, puasa Ramadhan, berhaji ke Mekkah dan menjalankan syariat Islam yang kita terapkan saat itu.
Semua keteragan itu kita dapatkan dari hadits-hatis Rasulullah yang sampai kepada kita, antara lain:
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, Nyaris akan turun kepada kalian putera Maryam (Nabi Isa as) menjadi hakim yang adil, menghancurkan salib dan membunuh babi dan memungut jizyah dan memenuhi harta … HR Muslim dalam kitab Iman bab turunnya Isa)
Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Akan tetap ada dari umatku yang berjuang dalam haq dan eksis terus hingga hari kiamat. Kemudian Nabi Isa bin Maryam turun. Lalu pemimpin umat Islam saat iu berkata kepada Nabi Isa,”Kemarilah dan jadilah imam dalam shalat kami”. Namun Nabi Isa menjawab,”Tidak, kalian menjadi peminpin di antara kalian sendiri . Sebagai bentuk pemuliaan Allah atas umat ini”.
Rasulullah SAW bersabda,”Nabi Isa masih tetap tinggal di bumi hingga terbunuhnya Dajjal selama 40 tahun, lalu Allah mewafatkannya dan dishalatkan jenazahnya oleh umat Islam. (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hiban, Al-Hakim dan dishahihkan oleh az-Zahabi)
Untuk lebih dalamnya pembahasan ini, silahkan merujuk pada kitab An-Nihayah karya Ibnu Katsir. Juga buku Asyrotus-Saa’ah (Tanda-tanda kiamat) karangan Yusuf bin Abdulloh bin Yusuf Al Wabil serta An-Nihayah Fil Fitan Wal malahim (fitnah dan huru hara) karya Ibnu Katsir.
**Taken From Syariahonline and Eramuslim**
Langgan:
Catatan (Atom)